Jenjang Karier Tingkatkan Taraf Hidup OYPMK Berdaya

 

Penyandang disabilitas termasuk Orang yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) masih menghadapi stigma dalam masyarakat termasuk dunia kerja.  Keraguan akan kemampuan hingga kekhawatiran material dari faktor kesehatan menjadi penghambat penyandang disabilitas termasuk OYPMK dalam mencari kerja untuk meningkatkan taraf hidupnya. Meski begitu, dengan kerja keras dan sikap terbuka serta memposisikan diri setara mampu seperti manusia lainnya, OYPMK Berdaya Mahdis Mustafa membuktikan, jenjang karier tersedia dan bisa diraihnya. 

OYPMK Berdaya, Mahdis Mustafa berdomisili di Makassar membuktikan bagaimana upayanya sembuh dari kusta, bekerja keras meningkatkan taraf hidup, menepis stigma membawanya pada kesempatan berkarier hingga level supervisor. 

Mahdis mengawali kariernya sebagai cleaning service sejak dalam masa pengobatan kusta di Rumah Sakit di Makassar. Setelah sembuh, Mahdis mendapatkan kepercayaan dari perusahaan outsource cleaning service untuk bekerja dan berpindah kontrak dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. Hingga akhirnya, perusahaan tempatnya bekerja menunjuk Mahdis dengan kompetensinya, memimpin tim menjadi supervisor di perusahaan outsource cleaning service. Kini Mahdis Mustafa menjabat sebagai SPV cleaning service, PT.Azaretha Hana Megatrading.  


Pada kesempatan berbagi di Ruang Publik KBR (27 Juli 2022), bekerja sama dengan NLR Indonesia, bersama penyiar Rizal Wijaya, Mahdis berbagi kisahnya. Pria asal Makassar ini mengaku menerima diagnosis kusta pada 2010 dan menjalani pengobatan di rumah sakit. Dalam keadaan terpuruk, keterbatasan biaya, ditambah stigma yang tinggi terhadap penyandang kusta, Mahdis tidak menyerah. Ia menawarkan diri kepada pihak Rumah Sakit tempatnya dirawat untuk melakukan pekerjaan kebersihan area perawatannya sendiri, tanpa digaji. 

“Saya membersihkan ruangan sendiri supaya ada kegiatan,” katanya.

Mahdis kemudian melamar pekerjaan dengan membuka dirinya kepada pihak HRD perusahaan bahwa dirinya adalah OYPMK. Dengan begitu perusahaan yang menerimanya bekerja telah memahami situasi sejak awal. Alih-alih ditolak, Mahdis justru mendapatkan peluang kerja sebagai cleaning service dengan kontrak satu tahun. Setiap tahun Mahdis melamar kembali, menambah pengalaman kerjanya dan terus memperbaiki portofolionya.  Kerja keras Mahdis berbuah kesempatan dari perusahaan yang mempercayakan posisi supervisor cleaning service kepadanya, untuk sebuah Rumah Sakit di Makassar.

“Saya membawahi dua tim, satu tim kebersihan di gedung, satu tim di taman dan halaman Rumah Sakit”, akunya.

Mahdis mengakui, OYMPK memang memiliki keterbatasan fisik terutama saat masa pengobatan enam bulan hingga satu tahun. Menurutnya OYPMK dianggap tidak berpendidikan dan tidak memiliki keterampilan mumpuni. Namun, di balik semua situasi tersebut, sepanjang ada ruang dan kesempatan untuk OYPMK berdaya dan berkarier, berbagai hambatan bisa dihadapi. 

“Sepanjang diberi ruang kesempatan semua bisa selagi bisa berusaha, mau mencari kerja dan mau belajar,” ujarnya.

Menurutnya kebanyakan OYPMK mengalami kendala jenjang pendidikan karena pengobatan kusta menghambat proses belajar. Pun ada OYPMK yang berpendidikan tinggi, umumnya publik tidak mengetahui statusnya sebagai OYPMK. 


Peran pemerintah dan masyarakat sama pentingnya dalam mengakhiri stigma yang menyulitkan OYPMK berdaya. 

Saat live streaming YouTube KBR, Agus Suprapto, DRG. M.Kes
(Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK RI) mengatakan literasi perlu ditingkatkan di masyarakat selain berbagai masalah lainnya yang harus ditangani bersama. 

Menurutnya penanganan OYPMK melibatkan lintas kementerian dan tidak hanya mengatasi klinis namun juga memfasilitasi peluang pekerjaan hingga menangani keluarga yang kontak erat serta proses kembalinya OYPMK kepada keluarga dan lingkungannya. 

Agus menyampaikan setiap daerah di Indonesia memiliki tantangan tersendiri dalam penanganan kusta. Faktor klinis masih menjadi isu di Jawa dan Bali, namun beda lagi kondisinya dengan Papua di mana masalah kusta lebih kepada pasien dengan alergi obat yang memperpanjang masa perawatannya. Kasus di Medan berbeda lagi, di mana perlunya perbaikan pemukiman. Belum lagi masalah sulitnya pengidap kusta untuk kembali ke keluarga karena berbagai faktor menyertainya.


Keharmonisan peran pemerintah bersama masyarakat mulai dari keluarga hingga lingkungan sekitar, juga pemberi kerja termasuk perusahaan/pihak swasta akan menentukan kualitas hidup OYPMK. Stigma tetap jadi musuh bersama, sambil menepisnya, memberi kesempatan yang setara bahkan membuka jenjang karier untuk OYPMK berdaya akan berdampak besar, seperti yang telah dibuktikan Mahdis Mustafa dengan kehidupannya.  

Arti Sukses dari Teman Ngulik Cerita


Kedai kopi yang menyajikan specialty coffee dengan barista yang rajin ikut kompetisi dan explorasi skill-nya, Ulik Coffee, punya tagline Teman Ngulik Cerita. Awalnya tagline ini seperti mewakili suasana nyaman di kedai nuansa modern  artistik (bagi saya), kita seperti punya "rumah" berbagi cerita dengan teman ngopi. Namun ada yang beda belakangan, dalam pengamatan pribadi saya sebagai pelanggan setianya. 

Ada satu sudut, di kedai kopi yang berlokasi di Jalan Ciledug Raya (dekat halte Transjakarta Adam Malik/Kampus Budi Luhur) ini, dihiasi tempelan kertas warna warni di wadah papan kayu, berisi cerita para pelanggannya. Ulik memberi ruang ekspresi dengan berganti topik tapi satu benang merahnya #temanngulikcerita

Saat saya berkunjung ke kedai (entah untuk keberapa kalinya), di bulan Juli tahun 2022, topiknya " Apa arti sukses buat kamu". Menarik membaca setiap kalimat yang ditulis tangan oleh pengunjung Ulik. Saya membacanya dan meringkas ceritanya di sini sekadar menuliskan perspektif sebagian pelanggan Ulik tentang sukses. 

Sukses dari sebagian pelanggan Ulik yang berbagi opini di ruang publik, nyatanya punya makna mendalam dan personal. Menikmati hidup dan memperbaiki diri menjadi arti sukses dari tulisan tangan sebagian pelanggan Ulik. Menarik, kedai kopi yang racikan Es Kopi Susu Gula Aren, Cappuccino, Piccolo, Affogato cocok dengan selera saya yaitu tidak kemanisan dengan citarasa kuat pada kopi, menurut saya memiliki pelanggan kaum muda mudi produktif, profesional muda dan atau mahasiswa. Saya memang tidak punya data, siapa dan usia berapa yang menulis arti sukses itu. Namun dari pengalaman saya dan suami (Duoraji) bolak balik ngopi di Ulik, pelanggannya kalangan milenial dan gen Z, sebagian kecil gen X dan jarang sekali boomer (sepengetahuan Duoraji setiap kali berkunjung). 

Menarik jika yang menulis arti sukses itu adalah benar kalangan muda. Saya sih senang karena berada di circle baik dan bijak, padahal tidak pernah jumpa langsung namun tulisan mewakili perjumpaan dengan orang-orang yang memiliki energi serupa.

Tulisan opini tentang sukses dari para pengunjung Ulik justru bikin pelanggan macam saya jadi makin betah. Punya tempat seruput kopi hitam favorit suami dan espresso-based coffee favorit saya, yang bisa jadi tempat kerja, dengan circle positif menambah value setidaknya loyalitas naik levelnya. 

Bagaimana tidak? Ketika kita memiliki circle yang memaknai sukses bukan sekadar materi dan pengakuan, tapi lebih kepada menghadirkan diri mensyukuri hidup, menikmati aktivitas produktif, memahami bahwa segalanya berproses ada waktunya punya timeline masing-masing, kegigihan untuk terus meningkatkan kualitas diri, mengalahkan rasa takut, berdaya dan mengupayakan diri menjadi lebih baik dari kemarin, itu rasanya berkah. Lingkaran yang diberkati kalau kata saya.  

Setidaknya ada orang-orang sepemikiran yang datang ke kedai yang sama. Bisa jadi pilihan kopinya beda. Kalau ternyata pilihan kopinya sama, makin bahagia rasanya. Tak kenal tapi serasa dikumpulkan semesta dalam ruang yang sama. 


Bagi saya tagline Ulik, Teman Berbagi Cerita sukses menyatukan pertemanan tanpa pertemuan fisik namun dipertemukan lewat tulisan yang saling menguatkan. 

Kalau kamu, apa arti sukses itu? 

Jakarta, Juli 2022

Satpam BCA Paling Ramah Plus Multitasking


Pertengahan Juni 2022, Duoraji mencatatkan perjalanan bersejarah yang bisa jadi adalah jawaban doa. Melunasi utang jadi doa Duoraji yang prosesnya sungguh menguras segalanya. Tak apa yang penting bebas utang terutama utang yang sudah bertahun-tahun baru sempat dibereskan.  

Kali ini berurusan dengan bank perkara kartu kredit yang digunakan zaman membeli rumah pertama dan hidup mandiri membangun keluarga kecil di Cinangka, Sawangan, Depok 2013 silam. Kisahnya panjang, namun yang paling berkesan dari bank ini adalah keramahan satpam BCA yang multitasking.

Sebelum cerita pak satpam, saya harus berbagi latar belakangnya.  Jadi, penggunaan kartu kredit hingga proses penutupannya terjadi saat saya masih bekerja dan tercatat sebagai pekerja tetap di media ternama di Jakarta. Sementara suami, bekerja sebagai guru kontrak ekskul fotografi di sekolah internasional di Tangerang. Kami memutuskan menempati rumah yang kami beli dengan KPR pada 2012, tepat tiga bulan setelah saya melahirkan putri kesayangan (alm Dahayu). 

Sejak itulah, kami berumahtangga dengan segala kesulitan disertai kemudahannya, kebahagiaan, kemandirian, benar-benar hidup utuh selayaknya keluarga muda kala itu.  Urusan ekonomi keluarga sungguh perjuangan dan jujur kartu kredit sangat membantu saat itu. Bukan hanya untuk mengisi rumah namun juga kebutuhan terapi anak dan segala urusan rumah tangga. 

Semua terkendali dengan tentunya pekerjaan tetap kami memungkinkan semua perencanaan keuangan berjalan sesuai prediksi. Namun jalan hidup berubah begitu kami mengambil keputusan besar, saya mengundurkan diri bekerja pada 2015, memilih menjadi pekerja mandiri pada awal 2016, dengan niatan lebih banyak waktu untuk anak terutama memastikan terapinya baik.  Meski akhirnya kami tunduk pada takdir, Agustus 2016 Dahayu meninggal dunia.  Berusaha waras menerima segala ketentuanNYA adalah fokus Duoraji sejak itu. 

Langkah awal setelah berdiam diri di masa kedukaan, yang kami lakukan adalah membereskan utang. Mau tidak mau kami mencari solusi agar utang CC tuntas. Kami menemukan jalan dengan pihak ketiga, firma hukum yang memfasilitasi pelunasan CC dengan metode cicilan. Dengan segala perjuangannya, pun dengan kesulitan finansial di saat kami memutuskan bekerja mandiri, satu per satu cicilan pelunasan CC tuntas. Sebagai informasi kami terlilit utang 3 CC dari 3 bank berbeda dengan masing-masing tunggakan Rp 5 juta. Sebenarnya tidak terlalu besar karena memang kami sangat mengerem keinginan, menggunakannya karena benar-benar kedaruratan. Sesuai janji saya kepada diri sendiri saat awal membuka CC, hanya menggunakan untuk kebutuhan darurat. Meski tentunya darurat itu relatif sekali kadarnya. 

Setelah melewati proses panjang, akhirnya 2 CC kami selesai pelunasan dan penutupannya. Bahkan asisten firma hukum yang mendampingi kami, memberikan apresiasinya, bahwa kami tipikal pasangan yang bertanggungjawab dan memenuhi kewajiban dengan baik. Menurutnya, banyak pihak berutang yang meski sudah dibantu pelunasan dengan cicilan, tetap “lupa utangnya” dan tidak selesai juga urusannya. 

Tersisa satu lagi CC BCA yang belum lunas tunggakannya. Bertahun-tahun tidak juga selesai sampai pandemi menghantam dan semua pekerjaan berhenti sementara.  Pihak bank maupun collection tidak ada yang menghubungi dan seperti tenggelam begitu saja. Kami sempat berpikir apakah karena pandemi ini adalah bentuk pemakluman? Sampai akhirnya 2021 saya hubungi HALO BCA dan dinyatakan data saya sudah tidak ada. Antara senang tapi tetap gelisah, setidaknya buat saya yang merasa masih ada utang. 

Setahun berlalu kami tidak menindaklanjuti, sampai pada awal 2022, kami  membuat keputusan besar memutuskan pengajuan kredit dan lolos BI Checking. Ajaib, saya berpikir apakah ini hadiah ulang tahun dari semesta?

Kejujuran saya yang membuat kami terhubung kembali dengan BCA pada 2022. Saya bilang ke penyedia kredit kalau ada yang belum beres dengan CC BCA saya dan bingung harus mengurus ke mana. Akhirnya, meski BI Checking aman, kami tetap harus mengurus CC BCA ini. Tanya teman, kami datang ke Plaza Chase Sudirman, ternyata bagian collection CC BCA sudah pindah ke BSD. Baiklah kami datangi langsung di hari yang sama. Di sinilah kisah satpam ramah dimulai. 

Benar adanya komentar netizen terutama Twitter yang mengakui keramahan satpam BCA. Sejak tiba di Plaza Chase, saya sudah merasakan langsung bagaimana satpam BCA membantu dan menjelaskan dengan sangat santun dan sama sekali tidak meninggalkan kesan formalitas belaka. Kami diarahkan menuju ke BSD untuk menyelesaikan urusan utang CC yang tertunda lama (meski sebenarnya BCA tidak pernah menagih). 

Tak lama kami tiba di BSD, syukurlah kantor masih buka. Di lobby gedung sudah disambut dan diarahkan ke tujuan di lantai 6. Bahkan petugas lainnya tak seramah pak satpam. Tiba di lantai 6 kembali bertemu pak satpam lainnya. Lagi-lagi kami dipersilahkan menunggu sambil berkali-kali satpam menelepon ke petugas collection. Kami tidak terburu-buru tapi justru pak satpam yang tak enak hati. Kami dipersilahkan menunggu di ruangan kecil yang lebih nyaman dengan jendela kaca memperlihatkan pemandangan hijau BSD. 

Setelah cukup lama menunggu, petugas collection mendatangi dan menyelesaikan urusan kami. Kami mengisi formulir pengajuan diskon dan selanjutnya diarahkan ke pak satpam untuk informasi teknis pembayaran. Sampai di sini kami terkesima. Luar biasa pak satpam harus menjelaskan kepada kami cara pembayaran. 

Rupanya sudah ada format pembayaran di selembar kertas yang ditunjukkan pak satpam. Sebenarnya sederhana saja, mungkin petugas collection sedang sibuk sehingga tak bisa menjelaskan cara sederhana itu. Mungkin juga memang pak satpam baik hati yang multitasking sudah diberi tugas tersebut. Baiklah, kami pahami caranya, menunggu email konfirmasi diskon pelunasan, nanti lakukan pembayaran bisa di gedung yang sama (teller lantai dasar) dan mendapatkan surat keterangan pelunasan. 

Pak satpam BCA menjelaskan dengan rinci dan jelas. Kami pamit meninggalkan tempatnya bertugas, dilepas dengan keramahan yang terasa sampai menuju parkiran. 

Saya dan suami berkelakar, benar adanya pak satpam BCA paling ramah, multitasking juga yaa perkara cara bayar harus dijelaskan juga olehnya. Sehat ya pak, semangat bertugas demi keluarga. Semoga bebas utang seperti kami yang merdeka dan lega, hari itu. 






Dukung Penyandang Disabilitas Siap Bekerja di Sektor Formal

RUANG PUBLIK KBR


Perhelatan olahraga Asian Para Games 2018 boleh jadi membawa dampak luas untuk penyandang disabilitas. Kepedulian dan pemahaman publik terhadap hak disabilitas dan asas keadilan penyandang disabilitas untuk diperlakukan setara, terlihat nyata di ajang Para Games. Kita menyaksikan sendiri bagaimana atlet penyandang disabilitas mampu berkiprah di berbagai cabang olahraga. Bukan hanya itu, saya pun menyaksikan sendiri kawan penyandang disabilitas yang berprofesi sebagai fotografer ikut mendokumentasikan ajang olahraga Para Games ini. Artinya, penyandang disabilitas memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk berkiprah di sektor formal, bukan hanya informal atau pekerja mandiri/wirausaha. 

Talkshow Ruang Publik KBR live streaming di YouTube Berita KBR yang dipersembahkan oleh NLR Indonesia, pada 30 Juni 2022 kembali menambah pemahaman mengenai tantangan para penyandang disabiltas. Topik kali ini mengenai Rehabilitasi Sosial yang Terintegrasi untuk OYPMK & Disabilitas Siap Bekerja. Menghadirkan dua narasumber, Sumiatun S.Sos, M.Si dari Direktorat Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Kemensos RI dan Tety Sianipar selaku Direktur Program Kerjabilitas, talk show yang dipandu penyiar Ines Nirmala membuka lagi mata untuk kita lebih memberi ruang berdaya untuk penyandang disabilitas termasuk OYPMK (Orang Yang Pernah Mengalami Kusta).




Stigma masih menjadi akar masalah bagi penyandang disabilitas untuk berdaya bekerja di sektor formal. Pada akhirnya sektor informal seperti wirausaha menjadi pilihan yang paling nyaman untuk penyandang disabilitas. Stigma berakar dari ketidaktahuan dan atau kekurangpahaman berbagai pihak terkait potensi dan kompetensi penyandang disabilitas. Padahal, penyandang disabilitas memiliki kemampuan bekerja di sektor formal terlebih lagi bagi yang menuntaskan pendidikan sarjana inklusif di perguruan tinggi nasional. 

Tety menyebutkan sejumlah perusahaan ritel telah mempekerjakan penyandang disabilitas yang memiliki kompetensi di sektor formal. Minimarket dan hotel disebutnya sebagai sektor ritel yang memberikan hak bekerja setara terhadap penyandang disabilitas. 

“Stigma masyarakat bahwa disabilitas tidak bisa bekerja, tidak bisa keluar rumah. Kebanyakan meragukan bukan diskriminasi. Perusahaan tidak punya pemahaman bahwa disabilitas bisa bekerja,” lanjut Tety.



Ketidakpahaman ini juga yang membuat perusahaan ragu merekrut penyandang disabilitas, bahkan beberapa di antaranya tidak tahu kalau bisa menyerap tenaga kerja disabilitas lulusan sarjana. Faktanya, universitas ternama di Indonesia memiliki program inklusi yang memberikan hak pendidikan kepada penyandang disabilitas untuk meraih gelar S1, sebut saja UIN Jogjakarta dan Universitas Brawijaya Malang.

Selain adanya perusahaan ritel yang juga memiliki karyawan penyandang disabilitas, fakta lain yang perlu diketahui perusahaan adalah tingginya produktivitas dengan lingkungan bekerja heterogen di mana penyandang disabilitas termasuk di dalamnya. Sebuah penelitian di luar negeri, kata Tety, melaporkan bahwa ketika disabilitas masuk lingkungan kerja, kondisinya menjadi lebih beragam dan tingkat produktivitas meningkat serta relasinya semakin kuat. 

Menurut Tety, perusahaan di sektor formal perlu mendapatkan pemahaman mengenai disabilitas. Bagaimana cara penyebutannya dengan tidak lagi menggunakan sebutan cacat dan normal, etika berinteraksi dan perlakuan etis berkeadilan sesuai kemanusiaan. Inilah kemudian yang menjadi ranah Kerjabilitas sebagai inisiatif memfasilitasi penyandang disabilitas untuk berdaya dengan meningkatkan kompetensinya. “Kerjabilitas membantu penyandang disabilitas yang punya kompetensi, skill dan niat untuk masuk ke sektor formal,” lanjutnya. 

Kemampuan penyandang disabilitas untuk bekerja di sektor formal juga diakui Sumiatun. Kesempatan bekerja di sektor formal dapat terbuka lebar dengan menghilangkan stigma. 

“Kita harus hilangkan stigma, harus sadarkan masyarakat bahwa disabilitas memiliki potensi yang bisa dimaksimalkan untuk kemandirian dirinya sendiri,” katanya. 




Selain menghapus stigma, upaya nyata mendukung penyandang disabilitas untuk siap bekerja telah dilakukan pihak swasta maupun negara. Pemerintah melalui Kemensos RI memfasilitasi peningkatan kompetensi melalui program Atensi untuk pemenuhan hak disabilitas melalui rehabilitasi sosial penyandang disabilitas. Atensi atau Asistensi Rehabilitasi Sosial merupakan program untuk memulihkan dan mengembangkan kemampuan disabilitas agar dapat menjalankan fungsi sosialnya dengan bekal hardskill dan softskill. Tedapat 31 Balai/Sentra Terpadu Kemensos RI yang tersebar di Indonesia memfasilitasi penyandang disabilitas untuk mengikuti program Atensi ini. 

Baik negara maupun inisiatif lembaga seperti Kerjabilitas, telah bergerak memfasilitasi penyandang disabilitas untuk memaksimalkan potensi dirinya. Masyarakat semestinya bisa mengambil peran juga mendukung upaya ini dengan setidaknya menambah lagi literasi kesehatan untuk bisa menghapus stigma. Melawan stigma harus dilakukan bersama, karena inilah akar masalah dari perlakukan tidak setara terhadap penyandang disabilitas termasuk kesempatan bekerja.




Setidaknya pesan inilah yang saya tangkap dan selalu disampaikan NLR Indonesia bersama Ruang Publik KBR terutama terkait stigma OYPMK.  Saya pun mendapati pesan penting lewat ruang virtual ini bahwa OYPMK berhak mendapatkan kesempatan berkegiatan di ruang publik bukan dikucilkan. Kalimat ini terekam di memori saya sepanjang mengikuti talk show virtual, “Kusta Bukan Kutukan Bisa Disembuhkan.”

OYPMK masih mendapati perlakukan tidak setara karena pemahaman yang keliru mengenai penularan kusta dan stigma. Padahal penularan kusta tidak mudah. Orang sehat yang tinggal serumah dan berinteraksi dengan OYMPK juga tidak semudah itu bisa tertular apalagi jika terapi obat rivampisin dosis tunggal sudah dilakukan sesuai anjuran dokter. Apalagi penyakit kusta bisa disembuhkan dengan pengobatan tepat. Jadi harusnya tidak ada alasan untuk tidak menerima OYPMK di lingkungan apa pun termasuk pekerjaan formal.

Jika kita bisa mulai dari diri sendiri melawan stigma, berbagai upaya yang sudah dilakukan untuk memberikan peluang yang setara kepada penyandang difabilitas untuk bekerja, semoga bisa memberikan hasil lebih baik. Selain tentunya masih tetap dibutuhkan penegakan aturan mengenai hak disabilitas. 

Kebijakan dan inisiatif pemenuhan hak penyandang disabilitas, dibarengi kuatnya penegakan aturan  serta tingginya kesadaran masyarakat melawan stigma, rasanya menjadi impian setiap manusia yang ingin berdiri setara dengan hak yang tidak dibeda-bedakan, untuk bisa hidup maksimal.

Bedanya Piknik Bareng Milenial






“Gangguan psikologis terjadi karena hormon stress meningkat, ini sebabnya bukan cuma karena kurang "piknik" kakak tapi karena KURANG GERAK”

Nah saya dan suami dapati keduanya, piknik akhir pekan bersama temen milenial menggabungkan bergerak dan "piknik" alias kabur dua hari ke luar kota. Jelas, tujuannya rileksasi biar sehat mental. Setuju dong kalau punya waktu untuk membahagiakan diri sendiri itu penting. Biar gak bikin stres baru, sengaja perjalanan "piknik" ke Cirebon bersama suami Satto Raji bersama dua milenial Bowo dan Imawan, gak pake rincian perjalanan. 

Ini cerita lawas perjalanan kami sebelum pandemi melanda.  Kami janjian tanggal 6 Juli 2019 di Gatot Subroto pukul 07:00 pagi. Mobil Duoraji si Ayang (Agya Kesayangan) Dayu, siap mengantar jemput semua yang duduk di kursi belakang. 

Ayang Dayu tiba di Gatot Subroto pukul 07:30 pagi. Terlambat 30 menit untungnya dimaklumi sama duo milenial yang tetap sumringah saat penjemputan. Kami pun meluncur ke Cirebon dengan beberapa kali terjebak macet meski sudah berusaha cari jalan alternatif “mengakali” tol yang macet.

Tidak ada itinerary, tapi yang pasti saya menyampaikan niatan, wajib ke Masjid Raya dan Ziarah Makan Sunan Gunung Jati. Duo milenial tak menampik bahkan mau ikutan. Mereka tentu punya rencana sendiri tapi itu pun enggak pakai perencanaan.




“Ke mana kaki kita melangkah ajah” prinsip pikniknya begitu aja. Tapi ada satu yang jelas direncanakan jauh hari karena harus reservasi, hotel. Alhamdulillah Duoraji punya jatah voucher hotel Batiqa Cirebon hasil ngeblog. Nah, Bowo juga punya satu hasil pemenang lomba blog Batiqa Hotel. Jauh hari booking tanggal dan terwujudlah 6-7 Juli 2019 kami menginap nyaman di Batiqa Cirebon.

Lantas ke mana saja selama di Cirebon? Tanpa perencanaan yang bikin pening, Duoraji dan Duomilenial prinsipnya mau wisata kuliner, wisata sejarah, jelajah masjid. Semuanya didapati selama dua hari di Cirebon diantar Ayang Dayu ke mana pun kami mau.

Kalau Duomilenial sih hari pertama sempat jalan ke peninggalan sejarah semacam tempat peristirahatan kerajaan, dan hunting foto lah mereka. Lalu hari kedua ikutan CFD kesiangan. Setelah sarapan di hotel, jam 8 menuju CFD Cirebon, sampai lokasi dah nyaris bubaran haha. CFD harusnya sampai jam 10 tapi satu jam sebelumnya sudah mulai sepi. Lumayan gerak lah ya duomilenial, BAGUS! Kalau Duoraji sihh santai aja nonton film King Arthur di kamar. Eh, malah dapet kejutan dari duomilenial, nanti ah ceritanya di ujung aja. 

Nah, mulai deh terasa bedanya piknik bareng milenial muda di sini ya. Sebenarnya saya masih masuk milenial dari tahun lahir tapi sudah menuju gen X, sedangkan Satto fix Gen X (padahal cuma beda setahun). Saat menjelajah kota baru, traveler milenial lebih suka eksplorasi bisa jadi karena cari spot foto juga ya hahaha. Pokoknya harus punya foto kece di setiap tempat yang didatanginya. Bergerak dan ngonten jelas membedakan banget cara kami plesiran. Salut sih dengan energinya dan selalu ketemu tempat kece dan berhasil bikin konten menarik dari setiap sudut kota. Terasa banget ya Duoraji makin renta, mager dan gak segitunya antusias ngonten padahal kalau lihat hasil fotonya ya ngiri juga. Emang beda yaaa cara piknik milenial tuh. 






oya, Ini destinasi kami berempat di Cirebon:

1. Kuliner Cirebon

Empal gentong selalu identik dengan Cirebon dan memang makanan itu yang pertama muncul di kepala. Begitu di Cirebon, warung makan dengan tulisan besar EMPAL GENTONG memang ada di mana-mana terutama di jalan protokol. Berhubung kelaparan, jam tiga sore sampai di Cirebon langsung buka aplikasi peta cari Empal Gentong. Sambil menuju ke lokasi sebelum ke hotel, malah nemu tempat makan yang parkiran luas, bersih,nyaman.

Checked! Empat gentong mengisi perut tiga lelaki, saya makan nasi ayam aja berhubung diet daging.

Nah, saya cerita acak aja ya. Kuliner lain di Cirebon adalah NASI JAMBLANG. Paling tenar di Cirebon adalah NASI JAMBLANG BANG DOEL. Makan malam lah kami di sana jam 8. Sayangnya lauknya dah makin menipis pilihannya dan antrian masih panjang. Saking penasarannya Bowo dan Imawan yasudah makan aja lah. Padahal di samping kanan ada Nasi Jamblang Fitri, varian lauk masih lengkap dengan alas daun jati dan enggak sepadat antrian Bang Doel. Checked dan NOTED! Untuk Nasi Jamblang.

Saking enggak ingin ribet dengan perencanaan dan browsing sana sini, akhirnya kami ikuti saran resepsionis hotel untuk makan di kawasan masjid raya atau balai kota. Makan seketemunya aja. Kami juga enggak tanya ke warga Cirebon yang kami kenal. Semaunya kaki melangkah aja pokoknya. Ini juga serunya piknik bareng milenial, menyanggupi spontanitas kami. 

Akhirnya kami makan dekat Masjid Raya At Taqwa Cirebon, ada Sego Jagung Pecel Sayur. Hhhmm buat saya sego jagung agak kurang masuk lidah. Mungkin perlu cari pembandingnya atau coba tiwul atau lainnya pengganti nasi. Lagi diet nasi ceritanya. Checked sego jagung di Cirebon.

Jalan kaki santai sedikit lah untuk ke tempat kuliner ini, jalan kaki dari parkiran mobil maksudnya, haha. Sampai di sini, Duoraji dan Duomilenial MASIH SAMA, sama-sama jalan kaki ke tujuan yang sama. Belum ada bedanya. eh ada, Bedanya, Duomilenial selalu foto dan update medsos. Kalau yang ini beda umur kali ya, kebutuhan eksistensi Duoraji beda sama Duomilenial haha. Beneran, mereka selalu polanya begitu, rela diemin makanan beberapa saat sampai Instastory terposting. Baiklahhhh.


2. Wisata Sejarah

Keraton Kasepuhan Cirebon dan Makam Sunan Gunung Jati jadi destinasi utamanya. Duoraji kalau plesiran selalu menyempatkan ziarah. Nah bisa punya teman milenial dalam perjalanan yang menerima kebiasaan ini rasanya makin luar biasa. 

Meski Bowo enggak begitu paham wisata ziarah tapi mau belajar dan adaptasi gaya Duoraji. Tanpa bermaksud menanamkan apa pun, semata kami hanya ingin menelusuri sejarah Islam masuk Nusantara. 


3. Jelajah Masjid

Setiap perjalanan Duoraji senantiasa menyempatkan ke masjid untuk shalat tentunya dan jelajah masjid di kota tujuan. Beruntung teman milenial dalam perjalanan kali ini nyaman aja dan memilih ikut ketimbang punya agenda sendiri. 

Masjid Attaqwa Kota Cirebon jadi destinasi kami. Seperti biasa para pelancong milenial ini juaranya mendokumentasikan perjalanan. Selalu nemu sudut menarik dan konten ciamik. 

Bagi saya milenial di ujung tanduk, memang cukup ketinggalan energi mengimbangi Bowo dan Imawan hehehe. Tapi bepergian dengan keduanya meninggalkan kesan istimewa. 




Ah, pandemi menghentikan semua bentuk perjalanan macam ini. Jadi, biarlah cerita ini jadi pengingatnya sekaligus merekam jejak serunya piknik bareng milenial di Kota Cirebon. 

Terima kasih teman perjalanan seru, Bowo dan Imawan. Semoga bisa mengulangi lagi dengan cerita baru ya.