4 Kali Pijat Relaksasi Selama Pandemi




Pijat refleksi dan relaksasi seluruh badan menjadi ritual rutin Duoraji untuk melemaskan otot-otot yang tegang setelah lelah bekerja atau bepergian. Bahkan saat saya masih bekerja di media dahulu kala, ritual ini wajib dilakukan sebulan sekali. Pandemi COVID-19 mengubah semua kebiasaan, apalagi interaksi terapis sangat sulit dihindari untuk perawatan tubuh semacam ini.

Dua tahun pertama pandemi, saya sama sekali tidak berani menjajal perawatan tubuh meski spa langganan menerapkan protokol kesehatan ketat. Lagipula, layanan spa menjadi salah satu yang terdampak aturan pembatasan aktivitas di masa pandemi. Meskipun saya tahu betul beberapa tempat sudah sejak lama mempraktikkan pemakaian masker pada terapisnya saking jarak interaksinya sangat dekat dengan pelanggan. Namun tetap saja berada di satu ruangan minimal satu jam bersama orang bukan serumah, masih was-was rasanya. 

Saat pandemi mulai mereda, aturan PPKM juga longgar, serta vaksinasi sudah sampai pada level booster tetap saja saya masih khawatir. Maklum, sejak pandemi tahun kedua kami kembali ke rumah orangtua, satu rumah untuk menjaga keduanya yang semakin sepuh, jadi satgas keluarga. Kami sangat membatasi interaksi di luar rumah demi kesehatan bersama. Terlalu besar risikonya kalau kami santai dan terlampau longgar.

Memasuki pandemi tahun ketiga, setelah semakin banyak fasilitas publik mewajibkan karyawannya vaksinasi, penerapan protokol ketat menjadi nilai jual usaha jasa, pelan-pelan Duoraji adaptasi. Masih agak khawatir karena prinsip saya, vaksinasi dua dosis terpenuhi namun kalau suka kelayapan tanpa batas dan tidak pernah swab, siapa yang tahu kondisi karyawan sehat atau terinfeksi? 

Kalau gejala menurut saya sulit mendeteksinya, bahkan bisa dimanipulasi, sakit tapi bilang sehat atau setidaknya merasa sehat. Senjata adaptasi saya adalah berpikir baik dan menjaga prokes pribadi setidaknya dengan tidak melepas masker di mana pun di area publik. Selain itu, badan yang mulai terasa enggak karuan karena hampir tiga tahun tidak pijat, mengalahkan semua rasa khawatir itu. Kami butuh relaksasi tubuh dengan body massage. 

Selama pandemi setidaknya empat kali Duoraji pijat relaksasi di Jakarta dan Bandung.  Tentunya di tempat langganan kami dan itu pun kami screening lagi dengan juga mencari informasi dari pengalaman teman yang sudah kembali pijat di situasi yang berbeda ini.

Ini destinasi spa pilihan Duoraji:

1.  Cozy Spa Radio Dalam Jakarta Selatan

Mengenal Cozy Spa dari pusatnya di Bali, bertemu dengan dua perempuan hebat pemilik usaha jasa favorit ini, bikin saya enggak bisa pindah ke lain hati. Sewaktu masih menjalani profesi wartawan dengan ritme kerja luar biasa padat, pijat di Cozy selalu sukses menjadi terapi tubuh mengembalikan stamina. Setelahnya pun saya dan suami selalu happy jika bisa luangkan waktu bersama di Cozy Radio Dalam Jakarta, yang ternyata kepemilikannya pasangan pengusaha Yoris Sebastian dan Istri. 

Body Massage di Cozy sejak sebelum pandemi sudah sangat menekankan prokes dan menghargai privasi. Teknik pijatan yang khas bertujuan untuk pemulihan stamina terbukti berhasil di tubuh kami. Suasana serba toska yang jadi ciri khasnya, akuarium yang menenangkan, gemericik air sejak menunggu di lobby, serta pelayanan yang sangat menghargai me time bikin betah berlama-lama. Sesudah 1,5 jam perawatan tubuh, selalu segar dan bikin bahagia. Tak terkecuali di masa pandemi, Cozy Spa menjadi pilihan yang bikin nyaman dan aman, karena memang sudah lama mempraktikkan higienitas dalam pelayanannya.

2. Zen Bandung

Sejujurnya masih ada rasa cemas untuk memilih layanan pijat di masa pandemi. Rekomendasi dari teman baik di Jakarta yang menjajal Zen Jakarta bikin kami percaya. Alih-alih mencoba layanan di ibu kota, kami justru menikmati pijatan ala Zen sewaktu di Bandung. Suasana nyaman sudah dimulai sejak tahapan membersihkan kaki dengan air hangat. Saat memasuki ruang pijat juga sangat privat dengan pemisahan ruangan bersekat bukan sekadar gorden saja. Pilihan pijatan dan rempah yang digunakan bikin makin betah berlama-lama. Sejujurnya saya lupa berapa lama durasi pijatan. Namun pelayanan di masa pandemi yang bikin tenang lantaran semua karyawannya menyatakan secara terbuka sudah vaksinasi, dan memakai masker, kami nyaman membeli layanan pijatan di sini. 

3. Totok Aura Dian Kenanga Jakarta Selatan

Teknik totok yang satu ini memang sudah menjadi pilihan Duoraji sejak mengenal Totok Aura Dian Kenanga sejak tahun 2010-2011. Saya paling suka totok aura wajah yang bukan hanya bikin rileks namun menghaluskan kulit wajah yang butuh perhatian ekstra. Namun sejak pandemi, saya agak berhati-hati memilih perawatan ini. Namun sungguh rasa rindu dimanjakan dengan totok aura tubuh bikin Duoraji tak sangguh menunda lagi datang menikmati layanan di sini. Prokes dengan memakai masker sebenarnya bukan hal baru di tempat ini. Jadi di masa pandemi sudah dipastikan prokes aman. Hanya saja saya memang masih membatasi totok aura wajah dan memilih hanya bagian tubuh saja. 

4. Kokuo FX Sudirman

Di masa pandemi, prokes nomor satu bagi kami. Namun saking membutuhkan refleksiologi, kami tak bisa menahan diri untuk tidak mampir ke Kokuo di mal kesayangam FX Sudirman. Ternyata prosedur pandemi berbeda dengan sebelumnya. Makin nyamanlah kami di dalamnya. Ada sekat pembatas antara pelanggan dan terapis. Berhubung layanannya refleksi dengan tetap berbusana, kami merasa aman-aman saja. Menikmati waktu untuk istirahat sambil dipijat sungguh kenikmatan tiada tara. Suasana area pijat yang dibuat minim cahaya membuat kami seakan “menghilang” sejenak padahal sedang berada di tengah kota di sebuah mal yang sibuk. 

Itu dia empat pilihan body massage Duoraji semasa pandemi, yang bikin nyaman serta merasa aman, memanjakan tubuh dan membuatnya rileks berujung rasa bahagia sesudahnya.


Jenjang Karier Tingkatkan Taraf Hidup OYPMK Berdaya

 

Penyandang disabilitas termasuk Orang yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) masih menghadapi stigma dalam masyarakat termasuk dunia kerja.  Keraguan akan kemampuan hingga kekhawatiran material dari faktor kesehatan menjadi penghambat penyandang disabilitas termasuk OYPMK dalam mencari kerja untuk meningkatkan taraf hidupnya. Meski begitu, dengan kerja keras dan sikap terbuka serta memposisikan diri setara mampu seperti manusia lainnya, OYPMK Berdaya Mahdis Mustafa membuktikan, jenjang karier tersedia dan bisa diraihnya. 

OYPMK Berdaya, Mahdis Mustafa berdomisili di Makassar membuktikan bagaimana upayanya sembuh dari kusta, bekerja keras meningkatkan taraf hidup, menepis stigma membawanya pada kesempatan berkarier hingga level supervisor. 

Mahdis mengawali kariernya sebagai cleaning service sejak dalam masa pengobatan kusta di Rumah Sakit di Makassar. Setelah sembuh, Mahdis mendapatkan kepercayaan dari perusahaan outsource cleaning service untuk bekerja dan berpindah kontrak dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. Hingga akhirnya, perusahaan tempatnya bekerja menunjuk Mahdis dengan kompetensinya, memimpin tim menjadi supervisor di perusahaan outsource cleaning service. Kini Mahdis Mustafa menjabat sebagai SPV cleaning service, PT.Azaretha Hana Megatrading.  


Pada kesempatan berbagi di Ruang Publik KBR (27 Juli 2022), bekerja sama dengan NLR Indonesia, bersama penyiar Rizal Wijaya, Mahdis berbagi kisahnya. Pria asal Makassar ini mengaku menerima diagnosis kusta pada 2010 dan menjalani pengobatan di rumah sakit. Dalam keadaan terpuruk, keterbatasan biaya, ditambah stigma yang tinggi terhadap penyandang kusta, Mahdis tidak menyerah. Ia menawarkan diri kepada pihak Rumah Sakit tempatnya dirawat untuk melakukan pekerjaan kebersihan area perawatannya sendiri, tanpa digaji. 

“Saya membersihkan ruangan sendiri supaya ada kegiatan,” katanya.

Mahdis kemudian melamar pekerjaan dengan membuka dirinya kepada pihak HRD perusahaan bahwa dirinya adalah OYPMK. Dengan begitu perusahaan yang menerimanya bekerja telah memahami situasi sejak awal. Alih-alih ditolak, Mahdis justru mendapatkan peluang kerja sebagai cleaning service dengan kontrak satu tahun. Setiap tahun Mahdis melamar kembali, menambah pengalaman kerjanya dan terus memperbaiki portofolionya.  Kerja keras Mahdis berbuah kesempatan dari perusahaan yang mempercayakan posisi supervisor cleaning service kepadanya, untuk sebuah Rumah Sakit di Makassar.

“Saya membawahi dua tim, satu tim kebersihan di gedung, satu tim di taman dan halaman Rumah Sakit”, akunya.

Mahdis mengakui, OYMPK memang memiliki keterbatasan fisik terutama saat masa pengobatan enam bulan hingga satu tahun. Menurutnya OYPMK dianggap tidak berpendidikan dan tidak memiliki keterampilan mumpuni. Namun, di balik semua situasi tersebut, sepanjang ada ruang dan kesempatan untuk OYPMK berdaya dan berkarier, berbagai hambatan bisa dihadapi. 

“Sepanjang diberi ruang kesempatan semua bisa selagi bisa berusaha, mau mencari kerja dan mau belajar,” ujarnya.

Menurutnya kebanyakan OYPMK mengalami kendala jenjang pendidikan karena pengobatan kusta menghambat proses belajar. Pun ada OYPMK yang berpendidikan tinggi, umumnya publik tidak mengetahui statusnya sebagai OYPMK. 


Peran pemerintah dan masyarakat sama pentingnya dalam mengakhiri stigma yang menyulitkan OYPMK berdaya. 

Saat live streaming YouTube KBR, Agus Suprapto, DRG. M.Kes
(Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK RI) mengatakan literasi perlu ditingkatkan di masyarakat selain berbagai masalah lainnya yang harus ditangani bersama. 

Menurutnya penanganan OYPMK melibatkan lintas kementerian dan tidak hanya mengatasi klinis namun juga memfasilitasi peluang pekerjaan hingga menangani keluarga yang kontak erat serta proses kembalinya OYPMK kepada keluarga dan lingkungannya. 

Agus menyampaikan setiap daerah di Indonesia memiliki tantangan tersendiri dalam penanganan kusta. Faktor klinis masih menjadi isu di Jawa dan Bali, namun beda lagi kondisinya dengan Papua di mana masalah kusta lebih kepada pasien dengan alergi obat yang memperpanjang masa perawatannya. Kasus di Medan berbeda lagi, di mana perlunya perbaikan pemukiman. Belum lagi masalah sulitnya pengidap kusta untuk kembali ke keluarga karena berbagai faktor menyertainya.


Keharmonisan peran pemerintah bersama masyarakat mulai dari keluarga hingga lingkungan sekitar, juga pemberi kerja termasuk perusahaan/pihak swasta akan menentukan kualitas hidup OYPMK. Stigma tetap jadi musuh bersama, sambil menepisnya, memberi kesempatan yang setara bahkan membuka jenjang karier untuk OYPMK berdaya akan berdampak besar, seperti yang telah dibuktikan Mahdis Mustafa dengan kehidupannya.  

Arti Sukses dari Teman Ngulik Cerita


Kedai kopi yang menyajikan specialty coffee dengan barista yang rajin ikut kompetisi dan explorasi skill-nya, Ulik Coffee, punya tagline Teman Ngulik Cerita. Awalnya tagline ini seperti mewakili suasana nyaman di kedai nuansa modern  artistik (bagi saya), kita seperti punya "rumah" berbagi cerita dengan teman ngopi. Namun ada yang beda belakangan, dalam pengamatan pribadi saya sebagai pelanggan setianya. 

Ada satu sudut, di kedai kopi yang berlokasi di Jalan Ciledug Raya (dekat halte Transjakarta Adam Malik/Kampus Budi Luhur) ini, dihiasi tempelan kertas warna warni di wadah papan kayu, berisi cerita para pelanggannya. Ulik memberi ruang ekspresi dengan berganti topik tapi satu benang merahnya #temanngulikcerita

Saat saya berkunjung ke kedai (entah untuk keberapa kalinya), di bulan Juli tahun 2022, topiknya " Apa arti sukses buat kamu". Menarik membaca setiap kalimat yang ditulis tangan oleh pengunjung Ulik. Saya membacanya dan meringkas ceritanya di sini sekadar menuliskan perspektif sebagian pelanggan Ulik tentang sukses. 

Sukses dari sebagian pelanggan Ulik yang berbagi opini di ruang publik, nyatanya punya makna mendalam dan personal. Menikmati hidup dan memperbaiki diri menjadi arti sukses dari tulisan tangan sebagian pelanggan Ulik. Menarik, kedai kopi yang racikan Es Kopi Susu Gula Aren, Cappuccino, Piccolo, Affogato cocok dengan selera saya yaitu tidak kemanisan dengan citarasa kuat pada kopi, menurut saya memiliki pelanggan kaum muda mudi produktif, profesional muda dan atau mahasiswa. Saya memang tidak punya data, siapa dan usia berapa yang menulis arti sukses itu. Namun dari pengalaman saya dan suami (Duoraji) bolak balik ngopi di Ulik, pelanggannya kalangan milenial dan gen Z, sebagian kecil gen X dan jarang sekali boomer (sepengetahuan Duoraji setiap kali berkunjung). 

Menarik jika yang menulis arti sukses itu adalah benar kalangan muda. Saya sih senang karena berada di circle baik dan bijak, padahal tidak pernah jumpa langsung namun tulisan mewakili perjumpaan dengan orang-orang yang memiliki energi serupa.

Tulisan opini tentang sukses dari para pengunjung Ulik justru bikin pelanggan macam saya jadi makin betah. Punya tempat seruput kopi hitam favorit suami dan espresso-based coffee favorit saya, yang bisa jadi tempat kerja, dengan circle positif menambah value setidaknya loyalitas naik levelnya. 

Bagaimana tidak? Ketika kita memiliki circle yang memaknai sukses bukan sekadar materi dan pengakuan, tapi lebih kepada menghadirkan diri mensyukuri hidup, menikmati aktivitas produktif, memahami bahwa segalanya berproses ada waktunya punya timeline masing-masing, kegigihan untuk terus meningkatkan kualitas diri, mengalahkan rasa takut, berdaya dan mengupayakan diri menjadi lebih baik dari kemarin, itu rasanya berkah. Lingkaran yang diberkati kalau kata saya.  

Setidaknya ada orang-orang sepemikiran yang datang ke kedai yang sama. Bisa jadi pilihan kopinya beda. Kalau ternyata pilihan kopinya sama, makin bahagia rasanya. Tak kenal tapi serasa dikumpulkan semesta dalam ruang yang sama. 


Bagi saya tagline Ulik, Teman Berbagi Cerita sukses menyatukan pertemanan tanpa pertemuan fisik namun dipertemukan lewat tulisan yang saling menguatkan. 

Kalau kamu, apa arti sukses itu? 

Jakarta, Juli 2022

Satpam BCA Paling Ramah Plus Multitasking


Pertengahan Juni 2022, Duoraji mencatatkan perjalanan bersejarah yang bisa jadi adalah jawaban doa. Melunasi utang jadi doa Duoraji yang prosesnya sungguh menguras segalanya. Tak apa yang penting bebas utang terutama utang yang sudah bertahun-tahun baru sempat dibereskan.  

Kali ini berurusan dengan bank perkara kartu kredit yang digunakan zaman membeli rumah pertama dan hidup mandiri membangun keluarga kecil di Cinangka, Sawangan, Depok 2013 silam. Kisahnya panjang, namun yang paling berkesan dari bank ini adalah keramahan satpam BCA yang multitasking.

Sebelum cerita pak satpam, saya harus berbagi latar belakangnya.  Jadi, penggunaan kartu kredit hingga proses penutupannya terjadi saat saya masih bekerja dan tercatat sebagai pekerja tetap di media ternama di Jakarta. Sementara suami, bekerja sebagai guru kontrak ekskul fotografi di sekolah internasional di Tangerang. Kami memutuskan menempati rumah yang kami beli dengan KPR pada 2012, tepat tiga bulan setelah saya melahirkan putri kesayangan (alm Dahayu). 

Sejak itulah, kami berumahtangga dengan segala kesulitan disertai kemudahannya, kebahagiaan, kemandirian, benar-benar hidup utuh selayaknya keluarga muda kala itu.  Urusan ekonomi keluarga sungguh perjuangan dan jujur kartu kredit sangat membantu saat itu. Bukan hanya untuk mengisi rumah namun juga kebutuhan terapi anak dan segala urusan rumah tangga. 

Semua terkendali dengan tentunya pekerjaan tetap kami memungkinkan semua perencanaan keuangan berjalan sesuai prediksi. Namun jalan hidup berubah begitu kami mengambil keputusan besar, saya mengundurkan diri bekerja pada 2015, memilih menjadi pekerja mandiri pada awal 2016, dengan niatan lebih banyak waktu untuk anak terutama memastikan terapinya baik.  Meski akhirnya kami tunduk pada takdir, Agustus 2016 Dahayu meninggal dunia.  Berusaha waras menerima segala ketentuanNYA adalah fokus Duoraji sejak itu. 

Langkah awal setelah berdiam diri di masa kedukaan, yang kami lakukan adalah membereskan utang. Mau tidak mau kami mencari solusi agar utang CC tuntas. Kami menemukan jalan dengan pihak ketiga, firma hukum yang memfasilitasi pelunasan CC dengan metode cicilan. Dengan segala perjuangannya, pun dengan kesulitan finansial di saat kami memutuskan bekerja mandiri, satu per satu cicilan pelunasan CC tuntas. Sebagai informasi kami terlilit utang 3 CC dari 3 bank berbeda dengan masing-masing tunggakan Rp 5 juta. Sebenarnya tidak terlalu besar karena memang kami sangat mengerem keinginan, menggunakannya karena benar-benar kedaruratan. Sesuai janji saya kepada diri sendiri saat awal membuka CC, hanya menggunakan untuk kebutuhan darurat. Meski tentunya darurat itu relatif sekali kadarnya. 

Setelah melewati proses panjang, akhirnya 2 CC kami selesai pelunasan dan penutupannya. Bahkan asisten firma hukum yang mendampingi kami, memberikan apresiasinya, bahwa kami tipikal pasangan yang bertanggungjawab dan memenuhi kewajiban dengan baik. Menurutnya, banyak pihak berutang yang meski sudah dibantu pelunasan dengan cicilan, tetap “lupa utangnya” dan tidak selesai juga urusannya. 

Tersisa satu lagi CC BCA yang belum lunas tunggakannya. Bertahun-tahun tidak juga selesai sampai pandemi menghantam dan semua pekerjaan berhenti sementara.  Pihak bank maupun collection tidak ada yang menghubungi dan seperti tenggelam begitu saja. Kami sempat berpikir apakah karena pandemi ini adalah bentuk pemakluman? Sampai akhirnya 2021 saya hubungi HALO BCA dan dinyatakan data saya sudah tidak ada. Antara senang tapi tetap gelisah, setidaknya buat saya yang merasa masih ada utang. 

Setahun berlalu kami tidak menindaklanjuti, sampai pada awal 2022, kami  membuat keputusan besar memutuskan pengajuan kredit dan lolos BI Checking. Ajaib, saya berpikir apakah ini hadiah ulang tahun dari semesta?

Kejujuran saya yang membuat kami terhubung kembali dengan BCA pada 2022. Saya bilang ke penyedia kredit kalau ada yang belum beres dengan CC BCA saya dan bingung harus mengurus ke mana. Akhirnya, meski BI Checking aman, kami tetap harus mengurus CC BCA ini. Tanya teman, kami datang ke Plaza Chase Sudirman, ternyata bagian collection CC BCA sudah pindah ke BSD. Baiklah kami datangi langsung di hari yang sama. Di sinilah kisah satpam ramah dimulai. 

Benar adanya komentar netizen terutama Twitter yang mengakui keramahan satpam BCA. Sejak tiba di Plaza Chase, saya sudah merasakan langsung bagaimana satpam BCA membantu dan menjelaskan dengan sangat santun dan sama sekali tidak meninggalkan kesan formalitas belaka. Kami diarahkan menuju ke BSD untuk menyelesaikan urusan utang CC yang tertunda lama (meski sebenarnya BCA tidak pernah menagih). 

Tak lama kami tiba di BSD, syukurlah kantor masih buka. Di lobby gedung sudah disambut dan diarahkan ke tujuan di lantai 6. Bahkan petugas lainnya tak seramah pak satpam. Tiba di lantai 6 kembali bertemu pak satpam lainnya. Lagi-lagi kami dipersilahkan menunggu sambil berkali-kali satpam menelepon ke petugas collection. Kami tidak terburu-buru tapi justru pak satpam yang tak enak hati. Kami dipersilahkan menunggu di ruangan kecil yang lebih nyaman dengan jendela kaca memperlihatkan pemandangan hijau BSD. 

Setelah cukup lama menunggu, petugas collection mendatangi dan menyelesaikan urusan kami. Kami mengisi formulir pengajuan diskon dan selanjutnya diarahkan ke pak satpam untuk informasi teknis pembayaran. Sampai di sini kami terkesima. Luar biasa pak satpam harus menjelaskan kepada kami cara pembayaran. 

Rupanya sudah ada format pembayaran di selembar kertas yang ditunjukkan pak satpam. Sebenarnya sederhana saja, mungkin petugas collection sedang sibuk sehingga tak bisa menjelaskan cara sederhana itu. Mungkin juga memang pak satpam baik hati yang multitasking sudah diberi tugas tersebut. Baiklah, kami pahami caranya, menunggu email konfirmasi diskon pelunasan, nanti lakukan pembayaran bisa di gedung yang sama (teller lantai dasar) dan mendapatkan surat keterangan pelunasan. 

Pak satpam BCA menjelaskan dengan rinci dan jelas. Kami pamit meninggalkan tempatnya bertugas, dilepas dengan keramahan yang terasa sampai menuju parkiran. 

Saya dan suami berkelakar, benar adanya pak satpam BCA paling ramah, multitasking juga yaa perkara cara bayar harus dijelaskan juga olehnya. Sehat ya pak, semangat bertugas demi keluarga. Semoga bebas utang seperti kami yang merdeka dan lega, hari itu. 






Dukung Penyandang Disabilitas Siap Bekerja di Sektor Formal

RUANG PUBLIK KBR


Perhelatan olahraga Asian Para Games 2018 boleh jadi membawa dampak luas untuk penyandang disabilitas. Kepedulian dan pemahaman publik terhadap hak disabilitas dan asas keadilan penyandang disabilitas untuk diperlakukan setara, terlihat nyata di ajang Para Games. Kita menyaksikan sendiri bagaimana atlet penyandang disabilitas mampu berkiprah di berbagai cabang olahraga. Bukan hanya itu, saya pun menyaksikan sendiri kawan penyandang disabilitas yang berprofesi sebagai fotografer ikut mendokumentasikan ajang olahraga Para Games ini. Artinya, penyandang disabilitas memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk berkiprah di sektor formal, bukan hanya informal atau pekerja mandiri/wirausaha. 

Talkshow Ruang Publik KBR live streaming di YouTube Berita KBR yang dipersembahkan oleh NLR Indonesia, pada 30 Juni 2022 kembali menambah pemahaman mengenai tantangan para penyandang disabiltas. Topik kali ini mengenai Rehabilitasi Sosial yang Terintegrasi untuk OYPMK & Disabilitas Siap Bekerja. Menghadirkan dua narasumber, Sumiatun S.Sos, M.Si dari Direktorat Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Kemensos RI dan Tety Sianipar selaku Direktur Program Kerjabilitas, talk show yang dipandu penyiar Ines Nirmala membuka lagi mata untuk kita lebih memberi ruang berdaya untuk penyandang disabilitas termasuk OYPMK (Orang Yang Pernah Mengalami Kusta).




Stigma masih menjadi akar masalah bagi penyandang disabilitas untuk berdaya bekerja di sektor formal. Pada akhirnya sektor informal seperti wirausaha menjadi pilihan yang paling nyaman untuk penyandang disabilitas. Stigma berakar dari ketidaktahuan dan atau kekurangpahaman berbagai pihak terkait potensi dan kompetensi penyandang disabilitas. Padahal, penyandang disabilitas memiliki kemampuan bekerja di sektor formal terlebih lagi bagi yang menuntaskan pendidikan sarjana inklusif di perguruan tinggi nasional. 

Tety menyebutkan sejumlah perusahaan ritel telah mempekerjakan penyandang disabilitas yang memiliki kompetensi di sektor formal. Minimarket dan hotel disebutnya sebagai sektor ritel yang memberikan hak bekerja setara terhadap penyandang disabilitas. 

“Stigma masyarakat bahwa disabilitas tidak bisa bekerja, tidak bisa keluar rumah. Kebanyakan meragukan bukan diskriminasi. Perusahaan tidak punya pemahaman bahwa disabilitas bisa bekerja,” lanjut Tety.



Ketidakpahaman ini juga yang membuat perusahaan ragu merekrut penyandang disabilitas, bahkan beberapa di antaranya tidak tahu kalau bisa menyerap tenaga kerja disabilitas lulusan sarjana. Faktanya, universitas ternama di Indonesia memiliki program inklusi yang memberikan hak pendidikan kepada penyandang disabilitas untuk meraih gelar S1, sebut saja UIN Jogjakarta dan Universitas Brawijaya Malang.

Selain adanya perusahaan ritel yang juga memiliki karyawan penyandang disabilitas, fakta lain yang perlu diketahui perusahaan adalah tingginya produktivitas dengan lingkungan bekerja heterogen di mana penyandang disabilitas termasuk di dalamnya. Sebuah penelitian di luar negeri, kata Tety, melaporkan bahwa ketika disabilitas masuk lingkungan kerja, kondisinya menjadi lebih beragam dan tingkat produktivitas meningkat serta relasinya semakin kuat. 

Menurut Tety, perusahaan di sektor formal perlu mendapatkan pemahaman mengenai disabilitas. Bagaimana cara penyebutannya dengan tidak lagi menggunakan sebutan cacat dan normal, etika berinteraksi dan perlakuan etis berkeadilan sesuai kemanusiaan. Inilah kemudian yang menjadi ranah Kerjabilitas sebagai inisiatif memfasilitasi penyandang disabilitas untuk berdaya dengan meningkatkan kompetensinya. “Kerjabilitas membantu penyandang disabilitas yang punya kompetensi, skill dan niat untuk masuk ke sektor formal,” lanjutnya. 

Kemampuan penyandang disabilitas untuk bekerja di sektor formal juga diakui Sumiatun. Kesempatan bekerja di sektor formal dapat terbuka lebar dengan menghilangkan stigma. 

“Kita harus hilangkan stigma, harus sadarkan masyarakat bahwa disabilitas memiliki potensi yang bisa dimaksimalkan untuk kemandirian dirinya sendiri,” katanya. 




Selain menghapus stigma, upaya nyata mendukung penyandang disabilitas untuk siap bekerja telah dilakukan pihak swasta maupun negara. Pemerintah melalui Kemensos RI memfasilitasi peningkatan kompetensi melalui program Atensi untuk pemenuhan hak disabilitas melalui rehabilitasi sosial penyandang disabilitas. Atensi atau Asistensi Rehabilitasi Sosial merupakan program untuk memulihkan dan mengembangkan kemampuan disabilitas agar dapat menjalankan fungsi sosialnya dengan bekal hardskill dan softskill. Tedapat 31 Balai/Sentra Terpadu Kemensos RI yang tersebar di Indonesia memfasilitasi penyandang disabilitas untuk mengikuti program Atensi ini. 

Baik negara maupun inisiatif lembaga seperti Kerjabilitas, telah bergerak memfasilitasi penyandang disabilitas untuk memaksimalkan potensi dirinya. Masyarakat semestinya bisa mengambil peran juga mendukung upaya ini dengan setidaknya menambah lagi literasi kesehatan untuk bisa menghapus stigma. Melawan stigma harus dilakukan bersama, karena inilah akar masalah dari perlakukan tidak setara terhadap penyandang disabilitas termasuk kesempatan bekerja.




Setidaknya pesan inilah yang saya tangkap dan selalu disampaikan NLR Indonesia bersama Ruang Publik KBR terutama terkait stigma OYPMK.  Saya pun mendapati pesan penting lewat ruang virtual ini bahwa OYPMK berhak mendapatkan kesempatan berkegiatan di ruang publik bukan dikucilkan. Kalimat ini terekam di memori saya sepanjang mengikuti talk show virtual, “Kusta Bukan Kutukan Bisa Disembuhkan.”

OYPMK masih mendapati perlakukan tidak setara karena pemahaman yang keliru mengenai penularan kusta dan stigma. Padahal penularan kusta tidak mudah. Orang sehat yang tinggal serumah dan berinteraksi dengan OYMPK juga tidak semudah itu bisa tertular apalagi jika terapi obat rivampisin dosis tunggal sudah dilakukan sesuai anjuran dokter. Apalagi penyakit kusta bisa disembuhkan dengan pengobatan tepat. Jadi harusnya tidak ada alasan untuk tidak menerima OYPMK di lingkungan apa pun termasuk pekerjaan formal.

Jika kita bisa mulai dari diri sendiri melawan stigma, berbagai upaya yang sudah dilakukan untuk memberikan peluang yang setara kepada penyandang difabilitas untuk bekerja, semoga bisa memberikan hasil lebih baik. Selain tentunya masih tetap dibutuhkan penegakan aturan mengenai hak disabilitas. 

Kebijakan dan inisiatif pemenuhan hak penyandang disabilitas, dibarengi kuatnya penegakan aturan  serta tingginya kesadaran masyarakat melawan stigma, rasanya menjadi impian setiap manusia yang ingin berdiri setara dengan hak yang tidak dibeda-bedakan, untuk bisa hidup maksimal.