UMKM Berdaya Saing Tinggi dan Bertumbuh Kuat Bersama UMi


Ibu adalah madrasah bagi keluarga, sumber pendidikan dasar yang menjadi bekal bertumbuh, bertahan, berdaya di berbagai tahapan kehidupan anggota keluarga. Sebagian keluarga memilih sebutan Umi untuk sosok ibu yang menguatkan membawa keberkahan dalam perjalanan kehidupan. Kekuatan Ibu/Umi inilah yang pertama kali terbayangkan di kepala saya begitu mendengar program pembiayaan UMi (Ultra Mikro) dari Pusat Investasi Pemerintah (PIP) sebagai Badan Layanan Umum pelaksana koordinasi dana yang bertanggungjawab kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan RI. Kekuatan Umi dalam Usaha Mikro (UMKM) juga semakin menegaskan ketika saya bersama kaum ibu dari Induk Koperasi An-Nisa, meneguhkan niat menuntut ilmu demi bekal perjalanan berwirausaha, dari webinar sosialisasi Pembiayaan UMi pada 16 Oktober 2021 melalui aplikasi zoom.



Semangat berdaya dari kaum perempuan terasa kuat dari pertemuan virtual tersebut. Saya yang masih banyak belajar menjadi entrepreneur, meskipun sedikit paham ilmu pemasaran digital melalui media sosial dan kerap membagi pengalaman bersama para perempuan pelaku usaha mikro, mendapatkan satu lagi suntikan semangat berdaya dengan adanya perhatian dan bekal perjalanan di dunia wirausaha, dengan dukungan pemerintah melalui UMi. Layaknya perhatian ibu kepada anaknya, pendampingan dan pengasuhan yang tiada batas, adalah peran yang UMi jalankan bersama UMKM dan jejaring komunitas juga koperasi yang menaungi para pelaku usaha mikro. Kesan itulah yang saya dapati langsung dari webinar bersama kaum ibu anggota koperasi binaan Muslimat NU.

Pengalaman saya berwirausaha bidang fotografi, sejak masa lajang saat kuliah tahun 2000 berlanjut menjadi usaha bersama pasangan yang kemudian menjadi suami, berproses hingga belasan puluhan tahun mengalami pasang surut dan berbagai tantangan. Ilmu berwirausaha terus berkembang dan kami lahap terus menerus, salah satunya pemasaran digital yang justru kemudian mempertemukan saya dengan banyak perempuan pelaku usaha mikro dalam sesi pelatihan. Hasrat mengembangkan usaha kembali bergelora menyaksikan bagaimana para perempuan berjuang dengan berbagai cara dan daya beserta segala keterbatasannya. Semakin banyak perjumpaan dengan perempuan pelaku UMKM, saya semakin meyakini bahwa penting memiliki kemampuan berpromosi termasuk di media sosial saat digitalisasi semakin menjadi kebutuhan untuk UMKM. Namun, masalah klasik pelaku usaha mikro selalu sama, keterbatasan modal dan akses pembiayaan.


Sesi Mengajar OFFLINE Duoraji Couplepreneur 

Sesi Mengajar Online Inkubasi UMKM Sispreneur Sisternet XL Axiata Mencontohkan Produk Duoraji Store

Usaha saya dan suami, yang kami kuatkan justru di masa pandemi COVID-19 dengan konsep Duoraji Store (online store melalui media sosial) selalu saja dihadapkan dengan persoalan modal, atau suntikan dana untuk menambah stok produk. Ketika pemasaran digital bukan lagi jadi persoalan utama buat kami yang memiliki kecukupan literasi digital, usaha mikro selalu saja terhambat modal usaha. Kemampuan untuk berkembang pesat terkendala pendanaan adalah sebagian masalah klasik usaha ultra mikro. Usaha mampu bertahan menjadi pencapaian jangka pendek untuk usaha mikro yang berangkat dari modal kecil. Memutar otak agar usaha tetap bertahan, cash flow lancar, hasil penjualan masih mencukupi untuk modal produksi, sedikit profit untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, menjadi tantangan tersendiri.

Maka ketika datang kepada kami, para pelaku usaha ultra mikro, fasilitator yang menaungi, mendampingi, mengasuh, bahkan memberikan jalan keluar pendanaan usaha, rasanya seperti berkelimpahan angin segar. Seperti kasih ibu kepada anaknya, yang memberikan semangat untuk terus tumbuh dan berkembang. Banyak cara saat ini untuk usaha mikro mendapatkan berbagai akses untuk mengembangkan usahanya. Pastinya, akses pengetahuan strategi bisnis, pemasaran termasuk pemasaran digital, pengaturan finansial, peningkatan kapasitas produksi, hingga mentoring dan inkubasi, sangat mudah didapatkan melalui berbagai saluran, luring maupun daring. Kelas online melalui berbagai platfom digital seperti grup whatsapp, webinar, makin membludak di masa pandemi COVID-19 di mana pembatasan mobilitas masyarakat mengharuskan semua kegiatan menjadi serba virtual. Sebagai pelaku usaha mikro yang juga pernah menjadi fasilitator pemasaran digital untuk UMKM, saya bersyukur atas semua kemudahan tersebut. Namun, kembali kepada masalah utama dalam usaha mikro, akses pendanaan dan pola pembiayaan yang selalu saja menjadi batu sandungan.

Kapasitas saya sebagai pendiri komunitas blogger dan pegiat media sosial, di mana anggotanya sebagian kecil juga adalah pelaku usaha mikro (BloggerPreneur istilah dalam Komunitas Bloggercrony Indonesia) juga berhadapan dengan fakta bahwa modal usaha menjadi isu penting yang tak selalu mudah menemukan solusinya. Bahkan akses informasi terhadap pembiayaan UMKM juga menjadi tantangan tersendiri. Maka ketika penyedia program aktif menjemput bola, menyentuh langsung UMKM, memberikan kabar gembira tentang akses pendanaan usaha ultra mikro, ini adalah sumber harapan dan semangat untuk terus bergerak, bertumbuh dan meningkatkan kapasitas manusia dan produksi, lebih berdaya saing tinggi dan kuat berdaya di tengah gelombang pasar UMKM.

UMi dari PIP




Berkenalan dengan UMi perlu diawali dengan mengenal Pusat Investasi Pemerintah (PIP) yang merupakan unit organisasi bidang pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah di bawah naungan Direktur Jenderal Perbendaharaan yang bertanggungjawab kepada Menteri Keuangan. Secara fungsi, PIP bertugas seperti skema Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum atau BLU. Melalui BLU PIP inilah UMKM mendapatkan akses koordinasi dana pembiayaan Ultra Mikto (UMi) dengan fasilitas maksimal Rp 10 Juta tentunya dengan syarat dan ketentuan berlaku.


Syarat utama yang harus dipenuhi UMKM sebagai debitur adalah tidak dapat mengakses pembiayaan perbankan dan program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Ketentuan lainnya, dalam rangka memudahkan dan mempercepat penyaluran, UMi disalurkan melalui Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB) dengan pola langsung/one step atau two step melalui linkage koperasi/lembaga keuangan mikro. PIP berkoordinasi dengan sejumlah lembaga untuk penyaluran UMi, di antaranya: PT Pegadaian (Persero), PT Bahana Artha Ventura, serta PT Permodalan Nasional Madani (Persero). Sumber pendanaan berasal dari APBN, hibah serta kerjasama pendanaan dan investasi.



Belajar dari pengalaman pribadi membangun kewirausahaaan, juga kesempatan mendampingi UMKM melalui berbagai program baik komunitas maupun kolaborasi dengan pihak swasta, hingga akhirnya bertemu dengan UMi, saya menaruh harapan besar panjang umur kebaikan menyertai UMi. Bagaimana pun akses permodalan, pembiayaan, selain inkubasi menambah kompetensi UMKM, merupakan kebutuhan dasar UMKM untuk bangkit. Pengetahuan tentang UMi yang saya dapati dari webinar menambah semangat bangkit lagi, dan menjadi kabar baik yang diteruskan dari komunitas ke komunitas untuk terus bertumbuh dengan dukungan PIP melalui program UMi ini.



INKUBASI UMI

Pembiayaan menjadi program utama PIP melalui skema UMi. Meski begitu pendampingan melalui inkubasi UMKM menjadi bentuk perhatian lain yang juga digencarkan. PIP memulai program inkubasi UMi di Jawa Timur dan Jawa Barat, tentunya dengan fondasi kuat. Peningkatan kapasitas manusia dan kualitas usaha para pelaku UMKM Jawa Timur dan Jawa Barat menjadi awal dari program inkubasi usaha ultra mikro. Bertajuk "Bersama Sahabat - UMi Bangkit", inkubasi ini bermaksud menguatkan ekosistem UMi dan tentunya membantu debitur UMi bertahan dan bangkit di masa pandemi. Jawa Timur dan Jawa Barat terpilih dikarenakan kedua wilayah ini memiliki potensi dan performa debitur yang baik.

Program inkubasi UMi berlangsung maksimal empat bulan, melibatkan 55 debitur, bekerja sama dengan lembaga inkubator yakni Pusat Inkubator Bisnis Oorange Universitas Padjajaran - Jawa Barat, dan Badan Inovasi dan Inkubator Wirausaha Universitas Brawijaya (BIIW-UB) - Jawa Timur. Debitur peserta Inkubasi UMi terbagi menjadi 4 kluster yaitu kuliner/pangan, agribisnis, retail, dan fashion/kriya. Setiap lima debitur akan didampingi oleh satu orang mentor dan dimonitor setiap minggu. Secara total terdapat 11 mentor terlibat dalam program inkubasi UMi.

Dalam siaran pers, Direktur Utama Pusat Investasi Pemerintah (PIP), Ririn Kadariyah mengatakan program ini juga bermaksud mengembangkan debitur di area klaster yang akan menjadi acuan percontohan Kampung UMi di masa mendatang. Selayaknya inkubasi, program ini berisi pelatihan dan pendampingan peningkatan pengetahuan usaha, perbaikan kualitas produk, legalitas usaha dan legalitas produk, pemasaran digital, manajemen keuangan. Pendampingan yang dilakukan termasuk mengkaji pentingnya faktor legalitas bagi usaha ultra mikro, izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan Halal MUI yang menjamin standar keamanan dan kesehatan produk dari para debitur.

Selain pemilihan mentor yang kompeten, materi inkubasi juga ditentukan melihat perkembangan usaha UMKM di Indonesia dan dirancang untuk penguatan terhadap pelaku usaha mikro dalam menjawab berbagai tantangan yang dihadapinya. Dr. Rivani, S.IP., MM., DBA selaku Direktur Pusat Inkubator Bisnis Oorange Universitas Padjajaran menyebutkan lima faktor penghambat UMKM yaitu:
- Permodalan
- SDM
- Kualitas Produk
- Legalitas
- Pemasaran

Harapannya, program inkubasi UMi ini mentransfer pengetahuan baru kepada para peserta (para debitur terpilih) untuk menaikkan level usahanya. Selain itu, tentu saja dengan kompetensi UMKM yang baik, pelaku usaha mikro bertumbuh dan mampu menggerakkan ekonomi daerah. UMKM yang terus bertumbuh akan meningkatkan serapan tenaga kerja, yang kemudian berdampak luas terhadap ekonomi keluarga, daerah, dan tentunya negara.


PEMBIAYAAN SKEMA UMI

Selain pemilihan mentor dan materi dalam program inkubasi UMi, PIP bersama mitra juga menyeleksi debitur yang menjadi peserta pendampingan dan pelatihan. Kriteria debitur peserta inkubasi UMi di antaranya:
- Memiliki usaha di level ultra mikro yang siap untuk dikembangkan
- Bersedia mengikuti seluruh tahapan program inkubasi bersama dengan mentor
- Belum pernah mengikuti program serupa dari lembaga atau instansi manapun

Selama pandemi, PIP memberikan bantuan subsidi bunga dan bantuan untuk pelaku usaha mikro. Lantas bagaimana cara untuk menjadi debitur pembiayaan UMi itu sendiri? Para pelaku usaha mikro bisa mendapatkan pinjaman UMi dengan syarat memiliki Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan sudah atau akan melakukan usaha dengan level usaha yang masih di bawah yaitu ultra mikro. 

Inilah yang dialami langsung oleh ibu Nonoy pelaku usaha Sorabi Jaya di Jawa Barat. Berdasarkan informasi dari rekannya mengenai program pinjaman UMi di masa pandemi, ibu Nonoy mendapatkan solusi dari masalah permodalan yang membuat usahanya terhambat. Pinjaman UMi membantu usaha ibu Nonoy untuk suntikan modal sehingga usaha sorabinya mampu memenuhi kebutuhan hidup harian dan biaya sekolah. Tak hanya itu, Ibu Nonoy juga menjadi debitur yang memenuhi kriteria peserta pelatihan/pendampingan inkubasi UMi. Pengetahuan yang didapatinya dari program inkubasi UMi menjadi satu lagi suntikan modal penting untuk menambah pengetahuan dalam mengembangkan usahanya. Harapan ibu Nonoy, usaha sorabi dikenal lebih banyak orang/pelanggan dan usaha mikronya terus berkembang berbekal ilmu pengetahuan dan bantuan permodalan dari PIP melalui UMi.


Usaha Sorabi Ibu Nonoy di Jawa Barat (Doc. PIP) 

Ibu Nonoy di Jawa Barat merupakan salah satu penerima manfaat program UMi dari PIP menjangkau pelaku usaha mikro. Berdasarkan data (sumber: PIP), hingga 5 Oktober 2021, pembiayaan UMi telah menjangkau 498 Kota/Kabupaten di Indonesia. Total 4,9 juta debitur terbantu melalui program ini untuk mengembangkan usaha ultra mikro, dengan total penyaluran pembiayaan Rp 16,3 triliun. Sebaran debitur terbanyak di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Sumatra Utara. Jumlah debitur di kota lainnya diharapkan terus bertumbuh di atas 200.000 debitur menyusul lima wilayah dengan cakupan terbanyak.


grafik dalam satuan ribuan 


Sebagai warga Banten yang masih tercatat jumlah debitur di bawah 200.000 debitur, saya berharap program pembiayaan ultra mikro dari PIP melalui skema UMi panjang umur, menebar jaring manfaat lebih luas lagi. Cerita dan senyum sumringah Ibu Nonoy semakin menular kepada para pelaku usaha ultra mikro lainnya, untuk bisa bertahan dan bangkit di masa sulit pandemi COVID-19. Semoga.


Informasi Pembiayaan UMi dari PIP visit https://pip.kemenkeu.go.id/id/




Ngekos Sehari Saat Jenuh WFH Tapi Butuh Privasi Paket Hemat





Ini cerita Duoraji yang tertunda dari tahun lalu, persisnya pertengahan November 2021. Setelah drama kecil di rumah orangtua, saya memutuskan keluar rumah ikut suami bekerja. Sebenarnya banyak alasan memberi jarak dengan rumah orangtua, saya butuh PRIVASI dan mulai JENUH WFH, ditambah lagi sudah dua pekan Duoraji "LDR"-an, butuh aja berduaan. Meski menurut suami, berlebihan bilang LDR karena hanya ditinggal pekerjaan pemotretan 3 hari 2 malam di Cikarang. Dengan dana terbatas alias berhemat, ide yang muncul di kepala adalah sewa kosan seharian, sambil menunggu suami pulang. Misi utamanya supaya bisa bekerja di ruang privasi tapi enggak boros dibandingkan di cafe (lagipula seharian di cafe yang sama kalau gak repeat order ya malu kalau saya mah). 

Omong-omong perkara LDR, mungkin benar kata suami yang menganggap saya berlebihan pisah kamar tiga hari. Jujur saya enggak kuat kalau harus LDR karena enggak bisa berkomunikasi dengan baik. Saya salut kepada pasangan menikah yang bertahan LDR baik karena pilihan atau memang mau tidak mau dijalankan karena tugas negara misalnya. 

Nah, akibat "LDR" inilah, saat suami lanjut bekerja di pekan kedua dengan lokasi di Jakarta, akhirnya saya ikut suami pergi bekerja pagi-pagi, menembus jalan raya di hari kerja jadi nostalgia masa-masa berkarier pekerjaan kantoran dahulu kala. Tiba di lokasi, tentu saja saya memisahkan diri, mencari kedai kopi di lobby gedung pemotretan, mengerjakan pekerjaan saya sendiri, work from anywehere. 

Lalu apa yang terjadi ketika pagi-pagi ngopi dan sarapan sehat roti tuna? Saya sakit perut dan toilet hanya ada di dalam gedung. Sebenarnya enggak masalah bolak balik gedung meski harus dua kali scan aplikasi Peduli Lindungi sebagai prosedur kesehatan pandemi, tapi saya memilih pindah tempat kerja. Pindah ke mana? Ini dia cerita ngekos sehari. 

WFA di Kosan Seharian 
Saat ngopi dan sarapan di kedai kopi sebuah gedung perkantoran, pikiran melayang dan mendarat di Marketplace. Pikiran saya saat itu, enggak mungkin sih seharian di kedai kopi ini, jadi ke mana lagi ya yang hemat karena jajan di kedai ini dah lumayan mengurangi jatah belanja saya. Lantaran ingin berhemat, dipikir-pikir daripada ke cafe atau kedai kopi untuk makan siang yang bisa merangkap jadi tempat bekerja, kenapa gak check in hotel murah meriah ajah. Tiba-tiba perut bergejolak, sebelum benar-benar tak tertahankan langsung aja berpikir cepat. Setelah pilah-pilih, itung-itung, dan mulai pakai feeling tempat mana yang cocok dari segi harga, lokasi, rute, dan biaya transporasi ke tempat tujuan, akhirnya memilih hyegiene verified guest house di Patal Senayan. Jaraknya dekat dari lokasi pemotretan suami di Wisma 46 Jakarta. Jadi, hitung ongkos taksi, cukup 20.000 rupiah sudah termasuk tips. 

Berhubung sakit perut tak tertahankan, mampir sebentar di pom bensin terdekat. Sambil beli cemilan di minimarket untuk persiapan WFA di Guest House. Tiba di tujuan, berubah lagi rencana karena masih pagi belum waktunya check in, dan tidak ada ruang kerja di lobby. Baiklah, nambah biaya supaya bisa langsung masuk kamar, total biaya Rp 250.000 untuk kos seharian. Kenapa seharian, enggak bermalam? Niatnya bermalam, namun ternyata harus reservasi di awal untuk jatah parkir mobil. Alhasil, pulang deh agak malam, biar enggak merasa rugi (padahal sih ya rugi sih). 

Masuk kamar, nyaman bersih, lumayan lahhh untuk privasi dan WFA cari suasana beda dari rumah (maklum serumah dengan orangtua sepuh dan jatah kamar macam apartemen studio ruang gerak terbatas ajah). Mulai buka laptop, kerja, dan menikmati bisingnya lalu lintas jalan raya dan pemandangan menara sebuah gedung mantan kantor media ternama. 


Perut mulai lapar, berhubung berada di daerah yang enggak asing buat saya, keluar kamar jalan kaki mencari nasi padang. Ketemu dengan mudah, bungkus, jajan lagi di minimarket, balik ke kamar kosan. Nikmatnya makan sendirian dan camilan aman. Lanjut kerja, sampai akhirnya suami menjemput di malam hari. 

Kalau dihitung, pengeluaran seharian. WFA dari pagi sampai malam, dengan ruang kerja yang aman karena sendirian (maklum pandemi saya agak overthinking kalau di keramaian), total Rp 350.000 di pusat kota Jakarta. Masih boros sih kalau buat saya, tapi hemat dibandingkan check-in hotel low budget pun, atau daripada seharian berpindah beberapa cafe untuk WFA. Saya masih bisa berhemat dengan cara ini, ditambah lagi gak khawatir ketemu banyak orang. Benar-benar bekerja tenang dengan privasi, sendiri, dan bisa rebahan, serta suasana seperti anak kosan yang lagi WFH. 

Menurut saya sih, di Jakarta kita bisa memilih mau memilih lifestyle seperti apa, berapa pun anggaran harian, bisa kok menikmati apa yang kita suka sesuai selera dan kemampuan loh ya. Kebutuhan makan yang enggak menghabiskan uang banyak juga bisa, karena warteg tersebar di mana-mana, nasi padang Rp 10.000 juga ada, yang penting enggak lapar. Hotel sederhana sampai mewah juga ada, jadi ya semua balik ke pilihan pribadi dan sesuaikan kemampuan pastinya. Mencari kesenangan enggak harus mahal, saya sih sedang berlatih hidup seperti itu ya. Selain memang bukan orang kaya, enggak punya banyak uang, tapi cukup dan selalu dicukupkanNYA. Pas mau sedikit kelayapan, pas cukup uang, jadi memang ya perlu berhemat juga  supaya bisa lebih sering kelayapan dengan beragam caranya.

Nanti, kalau ada cerita seru (mudah-mudahan terasa serunya), boleh ya cerita lagi. Sambil baca, jangan lupa seruput teh atau kopi, toss ahh. 




 





Mini Camper Pemula Safari Nusantara Duoraji

mini camper SND puncak halimun
Mini Camper SND di Puncak Halimun


Pandemi COVID-19 benar-benar mengubah banyak sisi hidup saya dan pasangan, sebut kami Duoraji. Hampir dua tahun sudah, pandemi menghantam warga dunia, tanpa kecuali. Jadi kalau soal adaptasi kebiasaan baru, hantaman lahir batin kesehatan dan ekonomi, perubahan kebiasaan besar-besaran baik yang dampaknya positif maupun negatif, kita tidak ada bedanya, meski mungkin tingkatannya enggak selalu sama.

Sesusahnya kita, masih banyak yang lebih susah, semudahnya pun kita hidup tanpa banyak drama di pandemi ini, masih ada langit di atas langit, mungkin masih banyak juga yang hidupnya terasa normal tanpa beban berarti di pandemi ini. Apa pun itu, pelajaran penting dari pandemi adalah, merasa cukup dan fokus pada rasa syukur masih bisa hidup serta menikmati sisa hidup sampai detik ini.

Jauh sebelum akhirnya Duoraji kebagian giliran terkonfirmasi positif COVID-19 pada pertengahan Juli 2021, jauh sebelum kami nonton film biopic penerang jiwa yang bikin nangis parah "Clouds", tepatnya sejak anak semata wayang kami meninggal dunia di usia balita, kami melanjutkan anugerah hidup dengan berusaha menelusuri jalan kewarasan jiwa, merdeka jiwa, menikmati hidup dengan apa pun kondisi yang semesta gariskan untuk Duoraji. Semakin menjadi di masa pandemi, terutama setelah akhirnya kami yang sudah vaksin COVID-19 dua kali suntik dan taat prokes bahkan jadi satgas keluarga serta komunitas, pada akhirnya menepi memberi jeda untuk diri, isolasi 14 hari dengan coronavirus bersarang di tubuh kami.

Kami selamat, gejala ringan, isoman aman, sembuh, terkonfirmasi secara medis kondisi fisik saya dalam status aman. Hidup pasca COVID-19 seperti diingatkan lagi jalan terang dalam kesunyian, dengan diberikan ketenangan, kenikmatan, dan lebih menikmati kehidupan, yang mungkin berbeda jalan dengan orang kebanyakan.

mini camper SND parkir masjid Attaawun Puncak
Mini Camper SND Parkir Masjid Attaawun Puncak Jawa Barat, Indonesia 



Pengalaman batin ini menjadi pemantik kenapa akhirnya Safari Nusantara Duoraji dengan mini camper Ayang Dayu (Agya Kesayangan Dahayu), terwujud tepat 17 Agustus 2021. Inilah cara Duoraji merdeka jiwa, ikhtiar waras lahir batin, menikmati hidup tanpa harus menunggu sekarat untuk memerdekakan jiwa, dengan kondisi apa pun segala kekurangannya, kesehatan dan ekonomi. Kami ingin bahagia tanpa beban standar hidup orang lain.

Duoraji menemukan bahagia dari Mini Camper bersama Ayang Dayu, mencari parkiran di perbukitan, lembah, atau tepian sungai. Cukup lima hari dalam sebulan menyediakan waktu bersafari, menikmati udara segar di 1-2 destinasi mensyukuri hidup di alam Indonesia Raya. Seperti SND Hari ke-1 sd 5 bersafari di tiga titik di Bogor Jawa Barat: Parkir Masjid Attaawun Puncak, Tumbuhejo, Puncak Halimun. Berlanjut SND Hari ke-6 sd 7 di Cibuluh, Bogor, Jawa Barat Indonesia.

Jika tiba waktunya nanti, tunggu Duoraji di kota lain, bersafari menelusuri Wonderland Indonesia. Menunggu waktu dan segalanya lebih stabil di masa pandemi atau sudah menjadi endemi kah? Impian berkendara keliling nusantara sudah tersimpan lama dengan rapi di benak kami, hanya saja belum berani mewujudkannya. Pandemi memang mengubah segalanya, apalagi bagi penyintas COVID-19 yang punya pengalaman batin tersendiri. Bisa hidup sehat itu anugerah, dan mungkin sudah waktunya kini, bertahap merajut silaturahmi  melalui mini camper. 

Sebutlah kami mini camper pemula karena memang mengawali segalanya dari satu modal utama, mobil pribadi dengan pengendara sang juara ya suami tercinta. Tanpa perencanaan terlalu seksama seperti yang selalu saya lakukan setiap kali akan melakukan sesuatu, mini camper SND berjalan apa adanya, instan dan tanpa banyak pertimbangan. Lakukan saja dengan apa yang kami punya. Justru dari perjalanan lima hari pertama, kami mulai merinci kebutuhan dengan segala kekurangan yang sebenarnya enggak terlalu mendesak. Artinya, jika pun segala keperluan itu belum bisa terpenuhi, SND tetap akan berjalan normal saja hanya memang belum ideal. Tanpa membebani diri apalagi berambisi, kami menikmati saja semesta bekerja. Begitulah kalau melakukan sesuatu dengan bahagia dan tenang-tenang saja, semesta menunjukkan keajaibannya. Setelah 40 hari, Satto menyiapkan alas kasur dari kayu packaging mesin kopi, pemberian teman baik di kedai kopi langganan, thanks mas Acho! Berlanjut merapikan mobil dan segala perlengkapan yang dibutuhkan. Kurang dari 2 bulan (40 hari ditambah beberapa hari berikutnya) berbagai wish list mini camper, ajaibnya, terpenuhi. SND punya tenda, dua kursi lipat, flysheet, carrier, nesting, sampai gorden yang meskipun belum terpasang setidaknya sudah siap menutupi jendela mobil demi privasi saat tidur di dalam mobil saat camping. Saat ini SND sedang melengkapi roofrack supaya penataan barang di dalam mobil dalam posisi berkendara, lebih nyaman dan aman. Semoga semesta merestui. 


Mini Camper SND Tumbuhejo Sentul Bogor, Jawa Barat, Indonesia 

mini camper SND puncak halimun



Sempat terpikir oleh kami, bisa jadi mini camper ini masa percobaan untuk campervanlife hidup masa depan Duoraji. Keinginan memiliki rumah mini konsep RISHA masih ada, dan mungkin akan berwujud bentuknya berdiri di lahan milik orangtua. Entahlah, pasangan yang belum punya anak (lagi) setelah 3 kehamilan yang sudah berlalu, menemukan bahagia bersafari, tanpa batas ruang dan waktu, memelihara hubungan dengan alam raya, berkenalan dengan orang baru tempat kami singgah sementara. Bukankah hidup memang hanya persinggahan saja?

Menjadi berbeda memang tak selalu mudah, namun kami menemukan tenang bahagia karenanya. Hidup bukan soal membandingkan diri, saling mendahului, apalagi menetapkan standar orang lain ke diri sendiri. Mungkin ini pesan semesta yang sedang diberikan kepada Duoraji melalui SND. 

Nanti lagi, lanjut cerita 4 titik destinasi SND dalam 7 hari. Bersiap untuk nanti melanjutkan safari menambah jumlah hari perjalanan Duoraji. Selamat menikmati sisa hari, jangan lupa seruput kopi atau teh. 




Menjadi Guru Virtual di Tengah Pandemi




Hari ini, Jumat 23 September 2021, istimewa dan membuat hati bahagia. Jiwa terisi penuh seakan semesta memberi tiada henti, apa yang saya cita-citakan dan usahakan dengan segala ikhtiar lahir batin. Selesai sudah tugas dua hari, mentoring 3 kelas 4-6, lebih dari 200 siswa SD Embun Pagi Islamic School. Kelas menulis Jurnal Pribadi dalam Festival Literasi. Semesta raya menjawab ucapan baik semasa kecil, ingin menjadi guru. 

Mengucap dan menyimpan rapi cita-cita jadi guru sejak usia belia. Perjalanan hidup membawa saya, Wardah Fajri dipanggil Wawa (tanpa N ya), justru menggali penggalaman literasi dari berbagai cara. Bisa jadi itu cara semesta mempersiapkan diri sampai waktunya tiba, menjadi guru/pengajar/pendidik/mentor/fasilitator kelas virtual era pandemi. 

Butuh waktu dan perjalanan panjangnya nikmat sekali, suka dan duka, semua dijalani dengan menyeimbangkan sekuatnya ikhtiar lahir dan batin, ilmu dan pengalaman, praktisi dan kepakaran. 

Pelajaran penting yang saya tanamkan dari perjalanan panjang itu adalah jangan pernah mendahului takdir, dan percayalah kesabaran berproses akan membawa hasil yang sungguh nikmat. Biarlah semesta bekerja, lihatlah bagaiamana semesta mendukung dan memberi segala yang selama ini terpelihara dalam jiwa, dengan segala lika liku menyertainya.

Kebahagiaan hari Jumat ini datang dariNYA melalui perantara teman sebaya yang baik hatinya, Ririn Rosaline. Kami, tanpa banyak bicara memiliki misi tak terucap yang sama,  bahagia ketika kami bisa menularkan pengalaman literasi sejak dini. Kalau kak Ririn usia SD sudah menulis dan mempublikasikan tulisannya di media lokal. Saya SD masih sebatas menulis di buku diary (yang bergembok dan yang gak dikunci), sampai akhirnya SMP/MTs mewakili sekolah MTsN 13 ikut lomba mengarang tentang menabung, mewakili sekolah meraih juara dua, tingkat MTs se-DKI Jakarta dibawah naungan Departemen Agama kala itu. Sungkem saya untuk ibu guru Suamah guru Bahasa Indonesia.

Sejak kecil saya ternyata sudah merintis jadi penulis. Ketika dewasa muda dengan kegalauannya saya seperti diberi hidayah arah dengan memilih kuliah komunikasi.  Perjalanan profesi sejatinya dimulai dari sarjana ilmu Jurnistik IISIP Jakarta. Ikhtiar berlanjut dengan pekerjaan reporter menjadi wartawan yang tidaklah mudah dan butuh waktu mewujudkannya. 

Profesi wartawan yang harus dijalani dari nol. Bekerja di perusahaan penerbitan yang sedang merangkak, belum juga bisa lancar berjalan, namun membawa pengalaman berharga bahwa segala sesuatu memang harus dilatih dengan kerja keras. Tidak mudah jalan saya menjadi wartawan. Mulai merintis dari reporter majalah hobi dan seluler, naik kelas menjadi wartawan ekonomi di surat kabar berbahasa Inggris, dan mencapai karier tertinggi (buat saya) menjadi jurnalis media online di Kompas Group. 

Pilihan pribadi menjadi pekerja kreatif mandiri membawa saya beralih menjadi pegiat literasi digital mulai dari blogger, pegiat medsos, sampai saat ini berani menyebut diri Praktisi Komunikasi Digital sebagai profesi. Lain waktu saya cerita lagi ya soal literasi digital, Komunitas Bloggercrony Indonesia dan saya sebagai praktisi di dunia digital. 

Semoga sedikit ilmu dan pengalaman ini bisa menjadi warisan pengetahuan yang ada manfaatnya. Karena hidup sejatinya hanya menyiapkan bekal pulang, meninggalkan pengetahuan yang sudah sempat saya bagikan, Alhamdulillah. 

Kalau dulu di Lembata, NTT sempat mengajar menulis siswa SMP.  Bertahun-tahun kemudian mendapat kabar salah satu murid berada di Jakarta menjadi pekerja media TV namanya Jefri Kevin dan sekarang aktif sebagai youtuber. Semoga kali ini, di kelas Festival Literasi EPIA, muncul bakat belia  yang nantinya menjadi penulis hebat di bidangnya. Amin. 

Saya belum (lagi) melahirkan anak biologis, namun hadirnya anak-anak ini dalam Cerita Duoraji, mengobati rindu dan memberi bahagia, doa anak-anak terhadap gurunya semoga mengalir, kini dan nanti. 

Salam bahagia dari guru virtual tanpa gelar M.Pd yg Insya Allah dimampukan meraih gelar M.Ikom.

Selamat menikmati hari ini, mari seruput kopi. 




Cerita Duoraji Part 3: Jeda Perjalanan Panjang

Mini Camper Duoraji Agustus 2021


Semestinya, Cerita Duoraji berseri ini tuntas pada April 2021, diakhiri dengan kabar bahagia, saya hamil ketiga di usia 39 tahun (satu bulan  jelang 40 tahun). Seri Cerita Duoraji Part 1 dan Part 2 memang saling berkait dan berujung pada bagian menggembirakan setelah penantian panjang dengan berbagai kondisi kesehatan menyertai dan pertanyaan apakah saya bisa hamil lagi? Rencana mengakhiri Cerita Duoraji dengan Part 3 melalui berita kehamilan, gagal. Sungguh rencana manusia lemah tiada daya, semesta bekerja dengan caraNYA. Tugas manusia menjalani dengan penerimaan lahir batin. Pada 24 April, saya harus kuret karena kehamilan tidak berkembang. 

Saya menerima tenang, dengan tentunya ada masa sunyi ketika tangis meledak dan pelukan pasangan untuk menenangkan diri, untuk kemudian sadar diri, inilah takdir saya. TakdirNYA demikian, Duoraji menerima dengan keberserahan sekaligus senyuman bahagia, karena setidaknya salah satu pertanyaan kami terjawab bahwa saya bisa hamil lagi. 

Secara medis sangat bisa dijelaskan terkait keguguran kedua di kehamilan ketiga ini. Saya ini memiliki kekentalan darah yang sudah terkonfirmasi melalui pemeriksaan hematologi sejak 2011. Kehamilan pertama pun tidak berhasil karena kondisi kesehatan ini. Kehamilan kedua dengan persiapan lebih matang berhasil, bertahan sampai delapan bulan dengan kondisi kelahiran prematur akibat pendarahan plasenta previa. Dahayu lahir dengan perjuangan dan perjalanan panjang, hingga takdirNYA kembali kami terima dibarengi aliran kekuatanNYA, anak semata wayang kami meninggal usia 3,5 tahun pada Sabtu, 6 Agustus 2016. 

Sungguh saya kesulitan melanjutkan Cerita Duoraji. Butuh waktu empat bulan hingga akhirnya saya melanjutkan cerita ini, saat ini. Itu pun butuh jeda karena memang Duoraji berhenti, menepi dari perjalanan panjang. Saya kehilangan alur cerita, merasa tidak menemukan lagi karena perhentian yang cukup lama. Apakah kami benar-benar berhenti? Ini ceritanya.


Berpindah Takdir 



Sejatinya kita hidup hanya berpindah dari takdir satu ke takdir lain. TakdirNYA, Duoraji berhasil menjalani kehamilan di tengah pandemi, hanya bertahan 7 minggu saja rasa bahagia luar biasa. Maklum, Satto suami saya sudah berusia 40 tahun, saya 39 jelang 40 tahun. Lalu situasi pandemi tidak selalu mudah, risiko kehamilan dengan COVID-19 juga menjadi momok mengerikan. Namun karena memang aktivitas dibatasi, Duoraji lebih banyak di rumah, kami bisa lebih fit dan cukup waktu beristirahat. Bisa jadi karena kami juga merasa lebih rileks, tenang, tidak berburu waktu dengan pekerjaan, dan takdirNYA, saya hamil. 

Takdir saya di masa pandemi ini pun mendapatkan kepercayaan besar bekerja sebagai tim komunikasi publik mengurus diseminasi informasi penanganan COVID-19. Sungguh pekerjaan mulia, buat saya, yang sangat menyita waktu dan perhatian. Namun karena WFH semua jadi lebih menenangkan, mengingat saya harus menjaga diri dan keluarga dengan orangtua lansia belum vaksinasi karena kondisi kesehatannya. 

Duoraji juga berdagang dim sum ayam dengan membangun merek Kukus Rebus/KUBUS di tahun kedua pandemi. Melanjutkan usaha Duoraji di tahun pertama pandemi menjadi reseller Gula Batu khas Jogja yang kami sebut Gula Batu Sumiah sebagai merek dagangnya. Belum layak sepertinya menyebut bisnis, karena memang kami reseller jualan online dan buka gerai di depan rumah orangtua. Tahun kedua pandemi, orangtua saya meminta anak perempuan satu-satunya ini kembali ke rumah kelahiran. Orangtua semakin renta, barangkali kondisi pandemi semakin membuat keduanya khawatir. Alih-alih terpisah rumah beberapa meter saja, akhirnya kami putuskan bersama, tinggal satu atap dengan satu bagian kecil ruang privasi Duoraji, semacam apartemen studio di lantai yang sama versi landed house. Selesai sudah nasib Duoraji yang beberapa kali pindah kontrak rumah sejak rumah pertama kami jual sepeninggal Dahayu. Kami menetap di kabin Duoraji satu atap dengan orangtua saya. 

Dengan kesibukan yang Duoraji ciptakan di tengah pandemi, pun amanah pekerjaan berkat rekomendasi teman baik dari perjalanan karier masa lampau, lalu saya berhasil hamil, itu adalah hadiah indah. Duoraji bersyukur karenanya, bahagia karena bukan tidak mungkin kehamilan di usia ini dengan berbagai masalah kesehatan saya sebagai penyintas TB paru, memiliki ACA tinggi yang berisiko keguguran berulang. Kesibukan baru sejak April 2021 adalah konsultasi ke dr Bob Ichsan Masri, SpOG yang menjadi perantara Tuhan menyelamatkan saya dan Dahayu, pada persalinan 2013 silam, dari risiko kematian akibat plasenta previa. 

Perjalanan panjang sukacita dengan segala duka dan luka menyertai di tengah pandemi, menemukan titik cerah kehamilan yang harus berakhir dengan kuretase. Inilah takdir Duoraji, terimalah. Apakah berhenti? Sebelum nafas berhenti, tidak ada perjalanan yang terhenti namun kami memang menepi memberi jarak untuk melindungi diri dari energi negatif. Memberi waktu dan mengisi kembali tanki cinta kami, agar tidak terjerumus menyalahkan apa pun di luar diri. Pasca keguguran, Duoraji kembali menggeluti usaha mandiri, mengurus komunitas kesayangan Bloggercrony, dan bekerja profesional sebagai tim komunikasi publik. 

Itu semua menguras waktu, pikiran, tenaga, energi, pun keuangan. Tuhan selalu baik, perihal keuangan selama pandemi, Duoraji merasa cukup meski kalau diukur standar berkecukupan para pakar, kami lemah sekali posisinya karena tidak punya dana darurat di masa sulit ini. Merasa cukup dan kebutuhan terpenuhi baik, dengan satu-satunya investasi sejak dahulu kala, Logam Mulia, dan harta produktif mobil, laptop, ponsel pintar, cukup. Usaha rumahan yang Duoraji geluti bisa menghasilkan untuk hidup berdua. Penghasilan dari bekerja 10 bulan juga mencukupi pun berkontibusi untuk keluarga besar, secukupnya. Berusaha merasa cukup, tetap ikhtiar sekuatnya dengan segala akal budi serta kreativitas yang Tuhan beri kepada Duoraji, dan berpindah lagi ke takdir lainnya. Itulah cara Duoraji bertahan di pandemi. 

Berhenti menepi bagi Duoraji sebatas memberi lebih banyak waktu untuk diri sendiri. Barangkali takdir kami, sebagai anak, pasangan tanpa anak, pendiri komunitas, pekerja kreatif mandiri, sebagai adik/kakak, tidak pernah bisa hidup semata untuk diri sendiri. Memberi jeda dan jarak kepada semua hal di luar diri kami, adalah bentuk berhenti menepi versi Duoraji. Mencari kesenangan untuk diri sendiri, dengan sedikit mengurangi perhatian kepada siapa pun di luar kami. Banyak caranya, saya akan cerita beberapa di antaranya, nanti. 

Mei 2021, genap sudah 40 tahun usia saya. Tidak ada perayaan khusus, namun dua sahabat saya menciptakan momen pertemuan terbatas dengan segala standar prokes yang saya jaga sekuatnya. Semua baik-baik saja sampai Juni, hingga tiba waktunya Juli, jelang 41 tahun Satto Raji. Inilah takdir kami, menerima dengan tenang menjadi kunci kewarasan jiwa. 






Juli 2021, sejak awal bulan hingga Agustus berakhir, sungguh bukan perkara mudah untuk Duoraji. Satu keluarga beda rumah yang bersebelahan dengan rumah orangtua saya, terkonfirmasi COVID-19 positif total 5 penghuninya. Peran saya sebagai adik perempuan, dengan pendamping suami yang luar biasa, mengurus segala keperluan isoman. Namun coronavirus ini sungguh pelik, semakin sering terpapar terutama di lingkungan yang sedang tidak sehat, semakin mudah virus ini masuk ke tubuh yang rentan. Rentan karena kondisi tidak fit, kelelahan fisik mental, juga karena memang terlalu banyak virus yang berpindah dari manusia satu ke manusia lainnya. Saya terpapar, terkonfirmasi COV+ di hari lahir Satto, 10 Juli. Sungguh bukan hadiah hari lahir yang menyenangkan, namun apa pun kehendakNYA atas kami, tiada daya. 

Suami baik-baik saja, tidak terkonfirmasi positif, baiklah inilah Takdir Saya. Segera memikirkan solusi, fokus pada apa yang paling aman dilakukan, bukan lagi memikirkan kenapa dan kok bisa? Fokus pada solusi selalu jadi cara Duoraji menyikapi segala peristiwa yang dihadapkan kepada kami di depan mata. Duoraji mengasingkan diri, lebih dari 14 hari. Berpisah rumah, demi menjaga aman semua. Pun begitu, Satto ikut terpapar bersama saya, dan satu abang kesayangan di rumah beda lantai tinggalnya, ikut terpapar terkonfirmasi dengan testing swab antigen. Kami memberi jarak dengan semua urusan dunia, jeda, berhenti sejenak, menyembuhkan diri dengan kepasrahan tingkat tinggi kepada sang pengatur hidup. 

Kami hidup lebih dari 20 hari dan terus memantau kondisi hingga hari ke-40 sejak awal terkonfirmasi. Memberi jeda dan jarak, pun saya memutuskan berhenti bekerja meski kesempatan melanjutkan berkontribusi masih ada. Saya berhenti dari rutinitas pekerjaan selama 40 hari, semua berjalan baik dengan adaptasi, pun kesengajaan, saya memberi jeda untuk diri. Ada dua hal yang selama ini hanya muncul di mimpi bunga tidur saya, lalu terwujud di masa jeda. Kedua hal itu adalah kuliah pascasarjana dan berkelana dengan mobil Ayang Dayu (Agya Kesayangan Dahayu) dengan mini camper ala Duoraji, Safari Nusantara kami menyebutnya. 

Mini camper Ayang Dayu barangkali menjadi simbol perjalanan panjang kami, pun mewakili momen saat kami berhenti menepi, memberi waktu untuk diri sendiri, berusaha waras lahir batin menjalani segala takdirNYA. Pandemi, tak mudah untuk semua. Setiap kita pasti punya cerita,  tidak perlu membandingkan tak usah menyalahkan. Jalani dan akuilah, kita manusia lemah tak berdaya. Ikhtiar lahir batin, dimampukan bertahan dengan urusan remeh temeh dunia, pun selalu dalam pemeliharaanNYA apa pun kehendak Dia atas kita.

Nanti lagi berbagi cerita, tentang jeda diri ikhtiar lahir batin dengan mini camper Duoraji Safari, pun perjuangan kami isoman COVID-19. Sekarang, terpisah ruang dan waktu, mari kita menikmati secangkir teh atau kopi, mensyukuri hidup hari ini. Tetap sehat, ikhtiar lahir batin, semoga kita bertahan seterusnya melewati pandemi yang  sulit untuk semua, tanpa kecuali.