Bedanya Piknik Bareng Milenial






“Gangguan psikologis terjadi karena hormon stress meningkat, ini sebabnya bukan cuma karena kurang "piknik" kakak tapi karena KURANG GERAK”

Nah saya dan suami dapati keduanya, piknik akhir pekan bersama temen milenial menggabungkan bergerak dan "piknik" alias kabur dua hari ke luar kota. Jelas, tujuannya rileksasi biar sehat mental. Setuju dong kalau punya waktu untuk membahagiakan diri sendiri itu penting. Biar gak bikin stres baru, sengaja perjalanan "piknik" ke Cirebon bersama suami Satto Raji bersama dua milenial Bowo dan Imawan, gak pake rincian perjalanan. 

Ini cerita lawas perjalanan kami sebelum pandemi melanda.  Kami janjian tanggal 6 Juli 2019 di Gatot Subroto pukul 07:00 pagi. Mobil Duoraji si Ayang (Agya Kesayangan) Dayu, siap mengantar jemput semua yang duduk di kursi belakang. 

Ayang Dayu tiba di Gatot Subroto pukul 07:30 pagi. Terlambat 30 menit untungnya dimaklumi sama duo milenial yang tetap sumringah saat penjemputan. Kami pun meluncur ke Cirebon dengan beberapa kali terjebak macet meski sudah berusaha cari jalan alternatif “mengakali” tol yang macet.

Tidak ada itinerary, tapi yang pasti saya menyampaikan niatan, wajib ke Masjid Raya dan Ziarah Makan Sunan Gunung Jati. Duo milenial tak menampik bahkan mau ikutan. Mereka tentu punya rencana sendiri tapi itu pun enggak pakai perencanaan.




“Ke mana kaki kita melangkah ajah” prinsip pikniknya begitu aja. Tapi ada satu yang jelas direncanakan jauh hari karena harus reservasi, hotel. Alhamdulillah Duoraji punya jatah voucher hotel Batiqa Cirebon hasil ngeblog. Nah, Bowo juga punya satu hasil pemenang lomba blog Batiqa Hotel. Jauh hari booking tanggal dan terwujudlah 6-7 Juli 2019 kami menginap nyaman di Batiqa Cirebon.

Lantas ke mana saja selama di Cirebon? Tanpa perencanaan yang bikin pening, Duoraji dan Duomilenial prinsipnya mau wisata kuliner, wisata sejarah, jelajah masjid. Semuanya didapati selama dua hari di Cirebon diantar Ayang Dayu ke mana pun kami mau.

Kalau Duomilenial sih hari pertama sempat jalan ke peninggalan sejarah semacam tempat peristirahatan kerajaan, dan hunting foto lah mereka. Lalu hari kedua ikutan CFD kesiangan. Setelah sarapan di hotel, jam 8 menuju CFD Cirebon, sampai lokasi dah nyaris bubaran haha. CFD harusnya sampai jam 10 tapi satu jam sebelumnya sudah mulai sepi. Lumayan gerak lah ya duomilenial, BAGUS! Kalau Duoraji sihh santai aja nonton film King Arthur di kamar. Eh, malah dapet kejutan dari duomilenial, nanti ah ceritanya di ujung aja. 

Nah, mulai deh terasa bedanya piknik bareng milenial muda di sini ya. Sebenarnya saya masih masuk milenial dari tahun lahir tapi sudah menuju gen X, sedangkan Satto fix Gen X (padahal cuma beda setahun). Saat menjelajah kota baru, traveler milenial lebih suka eksplorasi bisa jadi karena cari spot foto juga ya hahaha. Pokoknya harus punya foto kece di setiap tempat yang didatanginya. Bergerak dan ngonten jelas membedakan banget cara kami plesiran. Salut sih dengan energinya dan selalu ketemu tempat kece dan berhasil bikin konten menarik dari setiap sudut kota. Terasa banget ya Duoraji makin renta, mager dan gak segitunya antusias ngonten padahal kalau lihat hasil fotonya ya ngiri juga. Emang beda yaaa cara piknik milenial tuh. 






oya, Ini destinasi kami berempat di Cirebon:

1. Kuliner Cirebon

Empal gentong selalu identik dengan Cirebon dan memang makanan itu yang pertama muncul di kepala. Begitu di Cirebon, warung makan dengan tulisan besar EMPAL GENTONG memang ada di mana-mana terutama di jalan protokol. Berhubung kelaparan, jam tiga sore sampai di Cirebon langsung buka aplikasi peta cari Empal Gentong. Sambil menuju ke lokasi sebelum ke hotel, malah nemu tempat makan yang parkiran luas, bersih,nyaman.

Checked! Empat gentong mengisi perut tiga lelaki, saya makan nasi ayam aja berhubung diet daging.

Nah, saya cerita acak aja ya. Kuliner lain di Cirebon adalah NASI JAMBLANG. Paling tenar di Cirebon adalah NASI JAMBLANG BANG DOEL. Makan malam lah kami di sana jam 8. Sayangnya lauknya dah makin menipis pilihannya dan antrian masih panjang. Saking penasarannya Bowo dan Imawan yasudah makan aja lah. Padahal di samping kanan ada Nasi Jamblang Fitri, varian lauk masih lengkap dengan alas daun jati dan enggak sepadat antrian Bang Doel. Checked dan NOTED! Untuk Nasi Jamblang.

Saking enggak ingin ribet dengan perencanaan dan browsing sana sini, akhirnya kami ikuti saran resepsionis hotel untuk makan di kawasan masjid raya atau balai kota. Makan seketemunya aja. Kami juga enggak tanya ke warga Cirebon yang kami kenal. Semaunya kaki melangkah aja pokoknya. Ini juga serunya piknik bareng milenial, menyanggupi spontanitas kami. 

Akhirnya kami makan dekat Masjid Raya At Taqwa Cirebon, ada Sego Jagung Pecel Sayur. Hhhmm buat saya sego jagung agak kurang masuk lidah. Mungkin perlu cari pembandingnya atau coba tiwul atau lainnya pengganti nasi. Lagi diet nasi ceritanya. Checked sego jagung di Cirebon.

Jalan kaki santai sedikit lah untuk ke tempat kuliner ini, jalan kaki dari parkiran mobil maksudnya, haha. Sampai di sini, Duoraji dan Duomilenial MASIH SAMA, sama-sama jalan kaki ke tujuan yang sama. Belum ada bedanya. eh ada, Bedanya, Duomilenial selalu foto dan update medsos. Kalau yang ini beda umur kali ya, kebutuhan eksistensi Duoraji beda sama Duomilenial haha. Beneran, mereka selalu polanya begitu, rela diemin makanan beberapa saat sampai Instastory terposting. Baiklahhhh.


2. Wisata Sejarah

Keraton Kasepuhan Cirebon dan Makam Sunan Gunung Jati jadi destinasi utamanya. Duoraji kalau plesiran selalu menyempatkan ziarah. Nah bisa punya teman milenial dalam perjalanan yang menerima kebiasaan ini rasanya makin luar biasa. 

Meski Bowo enggak begitu paham wisata ziarah tapi mau belajar dan adaptasi gaya Duoraji. Tanpa bermaksud menanamkan apa pun, semata kami hanya ingin menelusuri sejarah Islam masuk Nusantara. 


3. Jelajah Masjid

Setiap perjalanan Duoraji senantiasa menyempatkan ke masjid untuk shalat tentunya dan jelajah masjid di kota tujuan. Beruntung teman milenial dalam perjalanan kali ini nyaman aja dan memilih ikut ketimbang punya agenda sendiri. 

Masjid Attaqwa Kota Cirebon jadi destinasi kami. Seperti biasa para pelancong milenial ini juaranya mendokumentasikan perjalanan. Selalu nemu sudut menarik dan konten ciamik. 

Bagi saya milenial di ujung tanduk, memang cukup ketinggalan energi mengimbangi Bowo dan Imawan hehehe. Tapi bepergian dengan keduanya meninggalkan kesan istimewa. 




Ah, pandemi menghentikan semua bentuk perjalanan macam ini. Jadi, biarlah cerita ini jadi pengingatnya sekaligus merekam jejak serunya piknik bareng milenial di Kota Cirebon. 

Terima kasih teman perjalanan seru, Bowo dan Imawan. Semoga bisa mengulangi lagi dengan cerita baru ya. 


3 Kisah Bahagia Pernikahan yang Disegerakan Tanpa Tergesa-gesa

Ilustrasi wedding decor Kalosa Project



Berita pernikahan yang membahagiakan banyak orang termasuk warganet dengan berbagai opininya, bikin linimasa syahdu 13 hari terakhir. Tepatnya antara 25 Mei 2022 hingga 6 Juni 2022, ada tiga pernikahan figur publik yang tanpa gembar-gembor berlebihan di ranah maya, namun seperti menggebrak begitu beritanya muncul di linimasa pada hari H.

Menariknya, mereka sosok inspiratif yang punya karakter khas dengan beberapa kesamaannya, menurut saya, menghargai privasi dan nilai pernikahan. Persamaan lainnya, ketiga pasangan ini menyegerakan hal baik, pernikahan, tanpa tergesa-gesa karena latar kisahnya menunjukkan bagaimana hubungan pasangan kekasih ini terawat dengan indah dan menyehatkan (healthy relationship).

Hubungan pasangan kekasih yang melalui perjalanan percintaan kemudian diresmikan dalam pernikahan, tanpa terumbar atau terekspos berlebihan di media sosial pun sebelumnya. Peresmian hubungan dalam ikatan pernikahan berjalan sempurna dengan perencanaan yang enggak main-main dan mengesankan setidaknya di mata warganet seperti saya. Menyegerakan niat baik tanpa tergesa-gesa, kata saya mengutip konten media sosial dari sebuah komunitas Pre Marriage Talk yang mengkampanyekan pernikahan semestinya harus dengan persiapan. Menurut saya, ketiga pasangan ini sudah sangat siap lahir batin untuk menikah dan mewujudkan pernikahan impiannya.


Sumber: akun medsos @mastercorbuzier @sabrinachairunnisa


Saat menulis ini, saya baru saja terpapar informasi di linimasa, Deddy Corbuzier akhirnya alhamdulillah menikah dengan kekasihnya Sabrina Chairunnisa. Siapa sih rakyat Indonesia yang enggak mengikuti kiprah om Deddy apalagi dengan konten Youtubenya yang selalu sukses viral. Jujur, saya mengikuti keduanya, baik om Deddy dan kak Sabrina melalui media sosialnya. Pasangan yang unik dan berkarakter menurut saya, keduanya berkiprah di media sosial dengan konten informatif di ranahnya masing-masing. Kalau om Deddy sering menyerempet isu panas nasional, kalau kak Sabrina asik dengan dunia perempuan juga sesekali opininya cukup tajam di ranah sosial.

Keduanya influencer sejati menurut saya. Salah satu investasi Deddy Corbuzier di bisnis kesehatan berhasil mempengaruhi saya mencoba produknya untuk membantu diet memperbaiki metabolisme tubuh. Saya percaya produknya karena reputasi Corbuzier, tipikal investor yang punya value bukan sekadar terbawa arus menggiurkan. Jadi, berita menikahnya pasangan ini bikin senyum-senyum ikut bahagia, dan ikutan berkomentar “Alhamdulillah, congrats yaaa”.



Tiga hari sebelumnya tepatnya 3 Juni 2022, pasangan muda menikah dengan didahului press conference virtual melalui wedding media partner Bridestory. Pasangan ini memiliki latar keluarga yang super unik, harmonis, tentu dengan berbagai cerita perjalanan yang tak biasa dan menarik perhatian publik. Keluarga pasangan ini mengajarkan tentang hubungan yang sehat dan terpelihara, dalam sebuah keluarga. Pernikahan mempertemukan kembali semuanya, yang saya yakini di luar momen istimewa ini mereka juga kerap bersama. Sungguh dari mereka kita bisa belajar bahwa kebahagiaan bisa diciptakan bersama keluarga apa pun perjalanan yang menyertainya.




Pernikahan Eva Celia dan Demas Narawangsa, disaksikan dengan pendampingan kedua ayah Eva, Indra Lesmana dan Michael Villarreal serta tentunya ibu kandungnya Sophia Latjuba. Tak hanya itu, seluruh keluarga hadir bahkan berfoto bersama dengan indahnya, para istri dari mantan suami Sophia, serta keluarga besarnya. Meski mungkin sesi foto adalah hal lumrah dalam perayaan pernikahan, entah kenapa saya merasakan cinta di antara mereka. Semua orang merayakan kebahagiaan Eva dan Demas. Bahkan akun media sosial Sophia tak berhenti memposting momen keluarga yang bahagia ini. Satu hal yang juga menjadikan keluarga ini makin berkarakter kuat adalah konsep pernikahan yang mewakili kepribadian terbuka sekaligus menunjukkan kecintaannya akan Indonesia. Setelah ritual pernikahan di gereja dengan busana pengantin perempuan yang tak biasa menurut saya, kemudian dilanjutkan dengan busana adat yang mewakili nusantara berkonsep Bhineka Tunggal Ika. Bahkan busana pengantin lelaki dan perempuan saja tidak sama alias mewakili daerah berbeda. Unik, menarik, berkarakter merepresentasikan keluarga musisi dan aktor/aktris ini.



Satu lagi pernikahan aktris, musisi, penulis, pengusaha, duta G20, yang menyebut dirinya sebagai storyteller, siapa lagi kalau bukan Maudy Ayunda yang menikah dengan teman kuliahnya asal Korea Selatan. Kabar pernikahannya melalui media sosial mengejutkan dan trending di Twitter berhari-hari. Saat warganet ramai dan berisik, Maudy memposting satu per satu konten di akun Instagramnya perjalanan momen istimewanya. Diawali dengan foto kebersamaan keduanya yang rasanya itu bagian dari dari konsep prewedding Maudy dan Jesse. 

Maudy sukses membuat warganet se-Indonesia penasaran dengan sosok lelaki pilihannya yang kemudian resmi dinyatakan sebagai suaminya. Storyteller sejati yang bercerita melalui media sosial tentang proses pernikahan dan momen istimewanya. Alur maju mundur dalam postingan media sosialnya bikin warganet, setidaknya saya, makin penasaran dan menikmati kisah cintanya. Bagaimana proses kenal, pacaran, melamar, hingga prosesi pernikahan yang mengusung adat Jawa.

Pernikahan dengan adat Jawa pada 25 Mei 2022 mendominasi cerita di awal, kemudian berlanjut dengan perhelatan yang lebih intimate dengan konsep lebih modern di Uluwatu, Bali. Benar-benar storyteller sejati, fans dan siapa pun yang penasaran dengan cerita pernikahan Maudy, terpuaskan dengan hanya mengikuti media sosialnya. Tetap terasa privasinya namun tidak tertutup apalagi menutupi diri. Berkarakter dan inspirasinya jadi melebar ke mana-mana, termasuk timeline hidupnya Maudy yang banyak bikin kaum muda insecure, work life love balance. Padahal, hidup bukan saling mendahului dan selalu punya perjalanannya masing-masing bukan? Setidaknya tiga pernikahan figur publik ini menunjukkan setiap orang punya cerita dengan perjalanan hidupnya yang tidak lebih baik satu dari lainnya, semuanya baik kalau percaya itulah ketetapanNYA.

Sebagai rakyat jelata, warganet yang merangkum semua cerita ini dari media sosial, saya ikut berbahagia dan mendoakan keberkahan pernikahan ketiga pasangan figur publik kesayangan Indonesia. Happy Blessed Wedding!

Salam Hangat dari Tangerang

Juni, 2022

 


Menjadi Saksi Transformasi Sarinah




Minggu, 5 Juni 2022 niatnya mau rebahan aja di rumah setelah malamnya kelayapan sama suami sampai jam dua pagi. Ternyata hasrat keluar rumah masih tinggi. Akhirnya ikut menemani Satto Raji ke hotel di Mangga Dua Jakarta Pusat, produksi konten medsos untuk Kalosa Project Wedding Decoration.


Hanya butuh waktu 30 menit untuk produksi konten yang nantinya Satto edit untuk konten Reels dan Tik Tok. Asik banget kan pekerjaannya? Thanks to couplepreneur Tari dan Wawan yang percaya sama kami untuk digital marketingnya.


Alasan kenapa saya “maksa” ikut motret karena sesudahnya masih banyak waktu luang bersama pasangan. Hit and run aja, mau ke mana, mau apa. Kami melewati Pos Bloc tapi harus vallet parking, batal deh. Lanjut ke arah Thamrin, sempat terpikir ke Masjid Sunda Kelapa (lagi) karena butuh tempat shalat maghrib dan makan berhubung perut mulai keroncongan. Tapi berubah lagi pikiran berhubung sudah niat isi emoney untuk parkir di Sarinah. Akhirnya Duoraji menuju Sarinah yang meriah yaaa di Minggu Malam ternyata. 





Selalu asik menikmati jalan raya jantung kota Jakarta di hari libur, santai gitu, ramai tapi terasa beda kalau melewatinya di hari kerja. Warga Jakarta seperti menikmati kotanya di akhir pekan untuk sedikit relaksasi dari hiruk pikuk urusan cari cuan di Ibu Kota. Sebagai warga Tangerang yang mainnya lebih sering ke Jakarta, kami sih ikut menikmati seluruh fasilitas publiknya.


Mendekati pintu masuk parkir Sarinah, kami melewati beberapa hotel bintang empat yang kami rekomendasikan kalau ada urusan pekerjaan di Jakarta. Lebih karena lokasinya yang strategis dan memungkinkan pelancong jalan kaki menelusuri jantung kota Jakarta dan menikmati sensasinya, selain kulineran tentu saja. Sepanjang jalan MH Thamrin lalu jalan KH Wahid Hasyim berjejer hotel rekomendasi Duoraji. Sebut saja Four Points by Sheraton Jakarta, Ashley Hotel, Ibis Thamrin Jakarta, Artotel, dan ternyata setelah dua tahun pandemi enggak pernah mengunjungi kawasan Sarinah, ada hotel Dafam berdampingan dengan hotel nyeni terkeceh yang sejujurnya belum pernah saya inapi hanya sempat singgah menghadiri undangan event dahulu kala. 


Memasuki parkiran Sarinah, infrastrukturnya tertata rapi dan kini semi indoor alias ada atapnya (kecuali bagian rooftop ya). Setiap lantai parkir ada toilet yang rapi bersih, ada tangga untuk yang mau olah fisik alih-alih pakai lift. Di lantai satu parkiran ada musolah, kecil tapi rapi dan ber-AC. Cukup nyaman buat saya yang biasanya parkir di area ini berdekatan dengan pembuangan sampah (Sarinah dahulu kala). 





Tata letak Sarinah berubah 90 persen, masih ada yang tersisa atau memang sengaja tidak dibongkar seperti lift dari arah Djakarta Theater dan eskalator pertama di Indonesia yang sudah tidak difungsikan namun dipertahankan keberadaannya sejak 1966. Transformasi Sarinah bikin kagum geleng-geleng kepala dan adaptasi dengan perubahan zaman dan tren kekinian. Sejak pandemi COVID-19 yang saya pahami dari kebutuhan dan ketersediaan restoran/cafe adalah ruang terbuka hijau atau outdoor area yang teduh. Ini yang saya temui di Sarinah dengan banyak sekali area outdoor yang terkonsep baik untuk sekadar duduk-duduk santai, live music, atau spot foto untuk pengunjungnya update konten medsos tentunya. Menariknya, cara pemasaran Sarinah juga kekinian berbasis teknologi. Untuk bisa memasuki rooftop yang medsos friendly, pengunjung harus unduh aplikasi Sarinah. Petugas pintu masuk rooftop yang muda belia, menjaga ketat akses area terbuka dengan city view itu. Kalau belum bisa membuktikan sudah mengunduh aplikasi, mohon maaf tidak bisa masuk kak.


Kami skip bagian itu, sekadar tahu, sudahlah malas antri. Duoraji telusuri lantai demi lantai Sarinah yang kini bertransformasi menjadi destinasi wisata kota, kuliner, dan tentunya produk lokal yang mendapat perhatian istimewa. Karakter Sarinah sebagai destinasi belanja produk khas nusantara, suvenir khas Indonesia yang layak dijadikan suvenir untuk turis asing masih terjaga dengan baik. 


Sejak dahulu kala saya selalu nyaman berkeliling cuci mata di Sarinah, menikmati produk-produk lokal yang Indonesia banget. Dulu, Pasaraya dan Sarinah tempat mencari souvenir khas Indonesia. Sejak Pasaraya tiada, ya kini hanya Sarinah rasanya destinasi belanja andalan untuk oleh-oleh khas Indonesia. Selain juga tersedia produk fashion khas Indonesia seperti kebaya, tenun, maupun busana kekinian dengan sentuhan budaya nusantara.


Adanya toko Sari-Sari makin bikin Sarinah menjadi destinasi kuliner. Toko yang berpusat di Bandung ini buka di Sarinah. Aneka jajanan pasar bisa dibeli di sini, bisa dimakan langsung di area bersantai atau dibawa pulang, pun bisa menjadi oleh-oleh untuk teman, sahabat, kerabat, relasi yang sedang berkunjung ke Jakarta. Selebihnya banyak kedai kopi lokal dan ada kedai jamu kesukaan juga. Hadirnya kedai kopi lokal di Sarinah bikin Duoraji girang dan jadi magnet untuk nanti kembali lagi.


Namun kemeriahan Sarinah di Minggu malam bikin kami memilih tidak mampir ke satu kedai pun. Hampir tidak ada kursi kosong dan tidak cukup sabar untuk antri. Setelah berkeliling dan berfoto tentunya, kami memutuskan pulang. Dua jam 13 detik kami di Sarinah di Minggu malam, sholat Ashar dan Maghrib, menggunakan fasilitas toilet yang nyaman dan desain yang ciamik. Menikmati kota Jakarta dengan sensasi berbeda dari transformasi Sarinah. 


Menyenangkan menurut saya punya ikon kota yang berkarakter. Catatannya, produk lokal di Sarinah berkelas premium ya. Jika punya cukup anggaran belanja tentu saja kualitas produk sesuai harganya. Untuk destinasi kuliner, menurut saya tersedia semua kategori dari menengah sampai premium, jadi Sarinah kini bisa jadi destinasi lintas kelas. Pertemuan bisnis juga sangat mungkin dilakukan di Sarinah di beberapa restoran premium. Ada toko milik Kimia Farma juga di lantai dasar yang menjual produk kesehatan dan kecantikan, jadi kalau mendadak butuh produk kewanitaan, aman. Outlet money changer juga ada berdampingan apotek. Sayangnya satu outlet yang saya pernah datangi tidak lagi ada, toko resmi LM Antam tempat pernah bertransaksi 2012 silam. 


Sampai jumpa lagi Sarinah wajah baru 2022. Saya merasa nyaman meski biasanya agak kurang betah di lingkungan premium. Mungkin kentalnya budaya Indonesia yang terpelihara dan latar sejarah Sarinah yang masih dijaga bahkan dipopulerkan, juga adanya apresiasi terhadap pekerja seni dan kesenian, itu yang bikin saya pribadi betah berlama-lama. 


Semoga kerapihan dan kebersihannya terpelihara. Oya satu hal lagi yang bikin saya nyaman, meski banyak area terbuka dan anjuran untuk bermasker hanya untuk di ruang tertutup saja, saya masih berpapasan dengan lebih banyak pengunjung yang nyaman banget pakai masker sepertinya. Kami yang masih memakai masker di mana saja kecuali saat camping di gunung, merasa berada di lingkungan yang aman nyaman jadinya. 


Dokumentasi Sarinah Februari 2018 jepretan pribadi






Jakarta, Juni 2022.

Nakes Blusukan Vaksinasi COVID-19 Lansia Terbukti Melindungi Keluarga

 


Kekebalan kelompok atau herd immunity terbukti jadi kunci pengendalian pandemi COVID-19. Salah satu caranya ya vaksinasi COVID-19 agar semakin banyak yang kebal virus dan penyebarannya terhambat sehingga fasilitas kesehatan enggak kebanjiran pasien yang sakit berbarengan. 


Bolehlah berargumen coronavirus ini biasa aja, seperti flu, bisa sembuh, tidak ada yang salah dengan pendapat itu. Namun, sejak awal nakes sudah mengedukasi bahwa penularannya yang amat sangat cepat jika tidak diimbangi dengan kekuatan sistem imun baik alami maupun bantuan ikhtiar vaksinasi, jika banyak orang sakit dalam waktu berbarengan dengan berbagai penyebab penularannya (longgarnya protokol kesehatan, imunitas yang rendah atau menurun karena banyak faktor gaya hidup juga penyakit bawaan/komorbid, serta mobilitas dan interaksi yang memungkinkan virus berpindah), inilah yang jadi sumber masalahnya.


Faskes kolaps, nakes kewalahan, obat-obatan terpakai dalam waktu bersaman dalam jumlah besar, alat kesehatan dan ruang rawat tak memadai karena harus difungsikan bersamaan untuk banyak orang dalam waktu bersamaan. Itu masalah besarnya dan itulah sebabnya kampanye prokes tak hentinya disuarakan berulang. 


Vaksinasi saya yakini sangat berperan untuk mengurangi kekacauan itu. Ini terjadi di keluarga saya sendiri. Pun ketika akhirnya ibu saya terpapar virus, atas izinNYA tentu saja, semata rahmatNYA, semoga menjadi orang terakhir yang terinfeksi setelah sebelumnya anak cucunya terkonfirmasi Covid+ dalam waktu berbeda dan bergantian fasenya. Ayah dan kakak tertua saya, yang semuanya berkategori lansia, berusia di atas 60 tahun, orangtua saya keduanya berusia 80-an, bisa jadi terinfeksi namun tidak bergejala serius dan tidak terkonfirmasi dengan pengetesan swab (bahkan antigen pun). 


Ayah dan kakak pertama saya yang tinggal serumah, sudah vaksinasi hingga dosis kedua. Ajakan vaksinasi sudah digaungkan di rumah, dengan saya dan suami sebagai juru kampanyenya. Namun memang tidak mudah memberikan pemahaman dan keyakinan, di saat lingkungan tidak semuanya menerima kebijakan bahkan manfaat vaksinasi.


Hoaks dan misinformasi seputar vaksin sungguh kuat sekali menyebar di lingkungan keluarga, lebih kuat dari virusnya. Kemudian semesta mengatur segalanya, pihak berwenang dari Kecamatan dan Puskesmas blusukan mendatangi lansia ke rumah, yang belum suntik dosis pertama dan kedua, didampingi pihak kepolisian. Beruntung keluarga saya mematuhi pihak berwenang, dan lansia di rumah terlindungi vaksin Sinovac.


Hanya tersisa ibu saya yang belum vaksinasi karena merasa tidak yakin dengan komorbidnya, hipertensi, kesulitan berjalan, obesitas, dan penyakit bawaan lainnya. Ibu, satu-satunya lansia di rumah yang belum vaksinasi. Kami imani, ibu akan baik-baik saja, selalu menjaga prokes, membatasi aktivitas pertemuan dengan orang lain yang mobilitasnya tinggi, segala ikhtiar dilakukan menjaga benteng terakhir di rumah.


Bisa dibilang, rumah kami 90 persen terlindungi vaksin COVID-19, ditambah lagi hampir semua personel adalah penyintas COVID-19, perlindungan vaksin dan booster alami sudah didapati. Begitu kebijakan booster dosis ketiga bergulir, per akhir April 80 persen penghuni rumah sudah menerima vaksin booster. 






Saya, suami dan adik yang memang sering kontak dengan orangtua, sudah booster sejak awal 2022. Di sinilah fakta yang membuktikan keyakinan saya betapa herd immunity itu terjadi. Maret 2022 ibu saya terinfeksi COVID-19, bergejala berat dengan komorbid hipertensi, diabetes, dan kekentalan darah berdasarkan hasil pemeriksaan lab. Meski terinfeksi dan sakit berat, dengan segala ikhtiar dan atas rahmatNYA, ibu sembuh dan virus yang menginfeksi tidak berlama-lama di tubuhnya, jumlahnya sedikit dan status negatif COVID didapatkan hanya dalam hitungan hari sejak pertama terdeteksi. 


Virus yang dilemahkan oleh sistem imun, baik alami (karena keluarga pernah terinfeksi) maupun imun yang terbentuk dari vaksin, membantu proses penyembuhan ibu. Sakit berat yang butuh waktu sebulan untuk pulih lebih karena komorbid yang menyertai. Penanganan home care dengan dokter umum, spesialis paru, spesialis penyakit dalam, perawat medis 13hari dan caregiver 2 hari, tabung oksigen enam kubik dua unit serta oksigen satu kubik sebanyak empat buah menemani kami selama sebulan penuh. 


Sampai di sini, saya semakin meyakini vaksinasi bekerja baik melindungi setidaknya mengurangi risiko perberatan hingga kematian, untuk mereka yang belum vaksin karena berbagai kondisinya. Kita yang vaksin, sudah berikhtiar memberikan perlindungan kepada mereka yang secara kondisi medis belum memungkinkan vaksinasi. Tentu saja berkali-kali saya tegaskan, semua terjadi atas izin dan rahmatNYA. Tiada daya. 


Keluarga kami selamat dari penyakit COVID-19 yang jujur berhasil menguras energi, waktu, biaya. Saya dan suami tidak menyangkal itu. Kami yang berjuang mencegah, kemudian terpapar, lalu merawat yang sakit, berikhtiar maksimal dengan vaksinasi dan menjaga prokes, setidaknya adalah perjuangan kami di masa pandemi.


Entah apa jadinya kalau nakes tidak blusukan memastikan lansia tervaksinasi. Tiada yang bisa mewakili rasa syukur kami, senyuman sumringah dan hati yang lega, menyertai perjuangan pandemi ketika semesta bekerja dengan caraNYA. 


Terima kasih kepada seluruh jajaran yang menjalankan tugasnya blusukan menyuntikkan vaksin dari rumah ke rumah. Terutama memastikan lansia terpenuhi tiga dosisnya. Kekebalan kelompok sangat bisa terbukti kuat dimulai dari rumah sendiri.


Barangkali ini semakin terbukti di musim mudik lebaran 2022. Ketika booster menjadi syarat praktis mudik, dan izin mudik sudah diberikan pemerintah, serta kerinduan besar kumpul keluarga dan melanjutkan kembali tradisi mudik lebaran, atas izinNYA, semua terlindungi dan herd immunity meluas dari rumah ke rumah, melindungi keluarga Indonesia. 


Saya belum bisa menemukan riset yang membuktikan apakah booster mudik berdampak terhadap kekebalan kelompok dan menurunnya risiko penularan dan infeksi virus? Yang pasti tes COVID-19 makin minim, satu-satunya cara yang bisa menunjukkan apakah terinfeksi atau tidak, bukan lagi lagi keharusan saat ini. Semoga saja semua sehat, pandemi menjadi endemi, dan kalau saya sih siap booster lagi jika memang diperlukan, karena vaksinasi terbukti ampuh melindungi dan membantu sistem imun berkerja optimal, selain tentunya tak terbantahkan menjaga imunitas dengan pola makan dan pola hidup yang sehat, menjadi ikhtiar utamanya. 



Kekuatan Hati Itu Semata RahmatNYA Atas Prasangka Baik Kita




Foto Ilustrasi Doc. Wardah Fajri


Menyaksikan di linimasa bagaimana keluarga bapak Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bersama ibu Atalia, kuat hati menjalani takdirNYA, menerima ketentuanNYA, berpisah di dunia nyata tanpa perpisahan yang lazim dengan anak lelaki sulung, pedih tanpa mampu berkata-kata. Meski tak semua orang pernah mengalami kejadian yang persis sama, terasa sekali kiriman doa dan harapan dari warganet, tulus dengan empati mendalam. Begitulah orang baik menerima kembali balasan kebaikannya, tunai di dunia, dan semua semata karena rahmatNYA. 

Kasih sayang dan kekuatan Allah SWT mengalir deras sederas arus sungai Aare, saya imani, adalah hadiah Tuhan atas keberserahan tulus keluarga yang sedang berduka.Saya pada awalnya tidak mengikuti timeline berita kepedihan keluarga Kang Emil (panggilan akrabnya). Bukan karena tidak mau peduli, tapi karena saya menyiapkan diri, memastikan apakah sanggup mengikuti perkembangan beritanya. 

Pelan-pelan, saya susuri timeline media sosial, beruntung saya dipertemukan konten-konten no hoaks dan penuh dengan prasangka baik dari setiap postingannya. Saya juga memilih hanya mengikuti beberapa akun resmi yang terus menerus mengirim doa juga ikhtiar rasional dalam proses pencarian Eril.

Benar saja, tidak salah saya menakar diri, karena sungguh mengikuti perkembangannya seperti membuka kembali kenangan yang sudah tertata rapi dalam hati berkat rahmat Allah SWT. Satu postingan yang saya merasa sangat terhubung adalah ungkapan cinta dan empati dari Najwa Shihab, yang pernah mengalami rasanya kehilangan anak. Saya juga belum lama tahu kalau Najwa Shihab terpisah dunia dengan anak perempuannya. Tentunya tak ada yang bisa dibandingkan, meski saya dan suami juga punya kenangan hanya 3,5 tahun saja bersama anak perempuan Dahayu, rasanya pasti takkan persis sama.

Jadi, sungguh tak mudah mengikuti linimasa perihal keterpisahan orangtua dan anak atas takdirNYA. Tidak mudah namun bukan lantas tidak bisa. 

Sungguh, kami Duoraji imani, selama hati terhubung kuat kepada pemilik jiwa, segala yang berat tetap tidak lantas ringan rasanya namun ada ketenangan dalam keberserahan kepadaNYA. Iman, Islam, Ihsan yang kuat menyertai komitmen berprasangka baik atas apa pun yang Allah SWT tetapkan atas kita, hambaNYA yang tiada daya, sungguh menjadi penyelamat jiwa untuk setidaknya tetap waras, tegar, tidak menyalahkan siapa pun dan apa pun. Adalah keberkahan atas izinNYA ketika kemudian  melanjutkan hidup dengan dimampukanNYA menebar pesan kebaikan yang sesungguhnya semua itu terjadi juga atas RAHMAT ALLAH SWT.

Allah SWT akan mengizinkan hambaNYA memiliki kekuatan hati, semata karena keberserahan tulus, berprasangka baik atas apa pun yang TUHAN MAU ATAS KITA, meyakini apa pun yang terjadi adalah yang terbaik menurutNYA meski jauh dari kenyamanan apalagi kemauan manusia. Dengan kerendahan hati serendah-rendahnya manusia bersimpuh tunduk hanya kepada Allah, memohon ampunan, memohon kekuatan, memohon keikhlasan dan penyertaan TUHAN atas setiap langkah yang dilakukan selama masih diberikan kesempatan hidup. Saat manusia memaksimalkan kesabaran dan keberserahannya, saat itulah Allah Swt menunjukkan kuasaNYA, rahmatNYA turun ke jiwa manusia yang DIA kehendaki untuk menyikapi kepedihan dengan ketenangan dan ketegaran.

Saya sangat mengimani proses pergulatan batin yang menyertakan Tuhan ini adalah rahmatNya atas kita yang berusaha keras berpikir dan berprasangka baik atas segala ketetapan sang pemilik jiwa. Cukuplah pasangan dan orang-orang terdekat kesayangan yang tahu persis, bagaimana dialog Duoraji dengan Tuhan terjadi, di Rumah Sakit tempat anak kami terbaring koma di ICU 2016 silam hingga akhirnya kami menggendong langsung tanpa keranda, anak perempuan kami yang terbujur kaku berselimutkan kain putih, lalu kami makamkan tanda perpisahan raga selamanya. Dialog jiwa inilah yang menguatkan, tentunya dengan kekuatan doa keluarga, kerabat, sahabat, kawan, relasi, rekan, bahkan orang asing yang terpapar cerita kami di linimasa. Orang asing yang kemudian menjadi sahabat dalam kebaikan atas rahmatNYA.

Sungguh saya tidak menemukan kata yang tepat setiap kali membagikan postingan media sosial dari peristiwa pedih di Sungai Aare. Satu dua kata saja bisa saya ketik, jari-jari saya kaku, hati saya beku, namun ingin rasanya membagi empati sekadar untuk menunjukkan kami peduli. 

Kata-kata yang bisa saya tuliskan hanyalah mengulangi lagi doa-doa kami dahulu kala, kuatkanlah ya Allah. 

Saya tidak sedang mengatakan “Bisa saya pahami rasanya”, karena sesungguhnya tidak ada rasa yang sama persis bagi para orangtua yang berpisah dengan anaknya, berbeda dunia. Barangkali satu rasa yang sama, kehilangan, namun itu pun tidak bisa dibanding-bandingkan. Jari-jari ini hanya bisa menuliskan komentar: ikut mendoakan keselamatan, semoga keluarga dikuatkan (oleh Allah Swt).

Dari hati terdalam, doa kami menyertai (mengulangi kembali doa yang kami pernah dan selalu kami panjatkan): aliri kekuatanMU, kami terima kehendakMU, berilah petunjukMU untuk kami bisa menjalani sisa hidup dengan penyertaanMU selamanya, kumpulkan pertemukan selimuti kami dengan orang-orang saleh yang Engkau Ridhai, kuatkan Iman, Islam dan Ihsan kami. Kuatkanlah, kami mohon, ya Tuhanku. Kami Ikhlas (dan berusaha berlatih keikhlasan, sepanjang nafas berhembus), kuatkanlah.  




Tangerang, Banten

3 Juni 2022