Krim Wajah Sakura Collagen Samarkan Kerutan




Menyadari pentingnya merawat kulit dengan skincare takkan bisa memberi hasil baik kalau tidak konsisten menjalankan. Itu sebab saya sangat percaya kalau perawatan kulit itu butuh waktu dan proses.

Sejak lama saya sudah menyadari pentingnya merawat kulit. Bahkan sejak remaja, saya berkali-kali mencoba produk perawatan kulit. Mulai dari yang paling sederhana yakni pelembab. Makin dewasa saya makin sadar pentingnya merawat diri. Pelembab wajah hingga penggunaan kosmetik dekoratif jadi perhatian berikutnya.

Ada masa ketika saya bermasalah dengan kulit berjerawat yang sangat parah. Bahkan harus berpindah dokter kulit untuk mendapatkan perawatan terbaik. Sampai akhirnya saya hamil dan melahirkan semua masalah kulit wajah saya menghilang begitu saja. Namun bekas jerawat takkan bisa hilang kecuali saya melakukan perawatan lebih ekstra.

Menggunakan pelembab wajah selalu jadi perawatan kulit paling sederhana yang saya lakukan terus menerus. Bahkan bedak wajah saja saya tidak terlalu jadikan pilihan namun urusan pelembab itu paling utama buat saya.

Krim pelembab wajah menjadi perawatan kulit paling dasar yang menurut saya mesti dilakoni setiap perempuan. Sahabat saya, Make Up Artist, Mila namanya selalu menjadi pengingat terhebat. Mila selalu bilang jangan lupa pakai pelembab karena bisa memproteksi kulit dari paparan polusi dan semacam menjadi proteksi dari kotoran seperti debu langsung terkena kulit wajah.

Saya selalu mengikuti anjurannya dan krim pelembab wajah tak pernah lewat dari ritual perawatan kulit harian. Benar saja, pelembab memang jadi penangkal paling ampuh kalau diaplikasikan rutin ke wajah dan tentu saja dibarengi kelola stres yang baik ya kalau mau bebas kerutan. Maklum, pekerjaan dengan mobilitas dan tantangan tinggi bisa bikin stres bukan hanya pikiran tapi juga kulit. Belum lagi efek dari terpapar radiasi dari gadget yang jadi "senjata" pekerjaan saya. Kulit wajah butuh proteksi dan yang paling mudah adalah rutin dan rajin mengoles krim pelembab setiap hari. 



Nah, pilihan berikutnya yang harus saya perhatikan adalah produknya. Sebulan terakhir saya mencoba produk skincare, krim anti-aging yang membantu menyamarkan kerutan. Namanya Cream Anti Age’s Sakura Collagen dengan tekstur lembut, wangi natural, dan warna merah muda terinspirasi Sakura, sesuai namanya.

Sejak membuka kemasan Sakura Collagen saya kepincut dengan tekstur dan warna lembutnya. Wanginya pun tak menusuk hidung, ini penting buat saya karena jadi merasa nyaman mengaplikasikannya ke wajah. Kalau krim perawatan kulit terlalu menusuk aromanya saya merasa agak ngeri menggunakannya ke wajah. Memang saya butuh samarkan kerutan yang mulai muncul di usia hampir 40 tahun ini, namun bukan berarti saya asal pakai skincare. Kerutan harus tersamarkan namun produk skincare juga bikin nyaman hati senang.

Kandungan kolagen dan ekstrak sakura pada krim pelembab ini, bagi saya, terbukti meremajakan kulit. Setelah sebulan pemakaian tidak ada keluhan sama sekali dan beberapa kali berjerawat karena kurang tidur, kulit saya seperti meregenerasi lebih baik. Tidak lantas menghilangkan jerawat namun kulit jadi seperti memperbaiki dirinya lebih baik. 



Soal kerutan, ini saya harus membuktikannya lebih lama. Semoga makin tersamarkan yaa kerutan yang makin nampak itu. Namun yang pasti saya percaya kalau konsisten merawat kulit dengan krim wajah, pasti akan ada hasil dan efeknya.

Kalau kulit wajah lebih sehat, jadi percaya diri tampil tanda dan dengan riasan. Saya percaya, sebagus apa pun aplikasi make up dekoratif kalau kulit kurang terawat hasilnya jadi kurang maksimal. Saya sih masih harus lebih rutin merawat kulit karena kadang masih suka malas berlama-lama dengan ritual perawatan kulit wajah. Namun dengan rutin menggunakan krim pelembab Sakura Collagen bikin saya tenang karena kulit tetap cerah.



Produk krim wajah anti-aging dari PT Meiji Indonesia ini bisa didapatkan di Ranch Market & Farmers Market, juga di mal ternama. Kalau mau praktis bisa juga belanja online di Lazada. Harganya Rp 160.000 untuk ukuran 10gr dan Rp 400.000 untuk ukuran 30gr. 

Kalau beruntung, kamu juga bisa dapati harga promo, sering-sering saja pantau akun resmi Sakura Collagen di @sakura_collagen_id

Nah, kalau sudah coba bagi deh ceritanya. Buktikan kalau  rutin merawat kulit bukan hanya wajah jadi cerah alami tapi kerutan jadi tak datang lebih dini.

Film Koki-Koki Cilik Jadi “Mood Booster” di Penghujung Liburan Sekolah



Film anak selalu dirindukan orangtua, dan tetap menjadi pilihan anak-anak. Sayangnya tak banyak pilihan film anak di layar bioskop, termasuk film Indonesia. Maka ketika film anak muncul dan berkualitas, rasanya seperti anugerah bahkan mood booster. 


Film anak berkualitas bukan hanya bisa mengusir rindu namun membahagiakan. Inilah yang saya rasakan usai menonton film terbaru produksi MNC Pictures, yang pertama kalinya memproduksi film anak berjudul “Koki-Koki Cilik”. 

Rilis saat liburan lebaran dan sekolah, dan tayang 5 Juli 2018 di penghujung waktu jelang masuk kembali ke sekolah, film “Koki Koki Cilik” ibarat mood booster. 

Sejak awal film diputar, penonton dimanjakan dengan suasana liburan kreatif edukatif Cooking Camp ala Koki-Koki Cilik, di area perkemahan yang sejuk dengan pepohonan hijau, udara segar, menyatu dengan alam. Anak-anak peserta Cooking Camp ala Koki-Koki Cilik ini pun begitu antusias “mukim” di hutan perkemahan. Anak-anak menjadi dirinya seutuhnya, bermain sepeda, bergerak leluasa di alam terbuka, berlari-larian bermain dengan teman sebaya, dan tentu saja menjalani hobi mereka memasak, meski ada juga yang hobi sejatinya adalah, makan. 

Membayangkan di dunia nyata ada Cooking Camp seperti ini sungguh menyegarkan pikiran. Film Koki-Koki Cilik seperti sedang membangkitkan kembali semangat. Semangat untuk menggapai cita-cita, menjalani dan menggeluti hobi, berteman dan berkompetisi dengan sehat. Termasuk menginspirasi kegiatan liburan sekolah anak yang menyegarkan dan menyalurkan energi juga bakat anak secara positif. Seandainya Cooking Camp ala Koki-Koki Cilik ini nyata ada, sungguh menjadi wadah edukatif kreatif menyegarkan untuk anak dan orangtua. 

Saya sebagai pengikut garis keras review film non spoiler, tentu tidak akan membahas apa isi film ini. 

Pastinya, selama 1,5 jam menonton film ini di bioskop, saya sumringah. Senyum hingga tawa, sedikit saja haru atau sedih, lebih banyak menyenangkan hati. Alhasil saya merasa segar usai menonton film anak ini. Barangkali karena memang saya begitu menantikan film anak, demi tontonan baik untuk anak zaman now yang perlu mendapat pembelajaran kreatif tentang akhlak, etiket, karakter dan kompetisi sehat. 

Bullying tetap digambarkan film ini namun secukupnya, bukan untuk “mencontohkan” tapi seperti mengingatkan, bahwa akan tetap ada anak yang jahat. Bagaimana menyikapi teman yang energinya negatif lebih terasa digambarkan film ini. Sosok itu adalah Oliver (Patrick Milligan) anak pemilik restoran ternama peserta Cooking Camp, didukung teman-temannya Ben dan Jody yang diperankan kakak beradik Cole Gribble dan Clay Gribble. Oliver melakukan segala cara agar salah satu kandidat terbaik Cooking Camp, Bima (Farras Fatik), tokoh utama film ini, gagal dalam kompetisi memasak. 

Layaknya film, jagoan menang dan yang jahat kalah. Ini terjadi di awal bagian akhir film. Oliver terbukti melakukan kecurangan, mengecewakan chef Grant (Ringgo Agus Rahman) dan tentunya ibunya. Si jahat pulang dan kalah. Bagi saya ini mengajarkan kebaikan kepada anak, jangan takut untuk jujur karena alam semesta akan mendukung dengan menghadirkan teman baik dan kebenaran akan terungkap. Bima yang sudah bersiap pulang akibat tipu daya Oliver, justru melesat hingga final mengalah demi Audrey (Chloe X) sang juara bertahan Cooking Camp. 

Kok mengalah? Ah nonton saja langsung bagaimana keseruan persahabatan tulus Bima dengan Niki, Melly, Key, Kevin, dan Alva. Juga bagaimana kompetisi memasak Bima dan Audrey begitu menyenangkan, memasak menjadi kegiatan yang terasa mudah dan bisa dilakukan siapa saja termasuk anak-anak. Keduanya berhasil memainkan peran sebagai koki cilik. 

Bima yang bermimpi membuka restoran mewujudkan impian bapaknya, juga punya perjalanan bersejarah di Cooking Camp. Pertemuan rahasianya dengan Rama (Morgan Oey), mantan chef ternama yang menjadi cleaning service di Cooking Camp, juga membawa banyak pesan baik untuk anak-anak. 

Semua pesan disampaikan natural dan mengalir oleh sang sutradara Ifa Isfansyah dengan penulis naskah Vera Varidia dan produser kreatif Lukman Sardi. 

Keceriaan anak-anak tergambarkan natural dan selayaknya anak-anak. Konflik utama tentang perjuangan Bima terasa kuat dan utuh, dari awal hingga akhir film. Meski begitu konflik lain dari perjalanan Audrey tersampaikan kuat tanpa mendominasi kisah utama tentang Bima. 

Lalu siapakah pemenang sejati kompetisi memasak di Cooking Camp, apakah Audrey atau Bima? Yuk ke bioskop bareng keluarga. 




Kalau pun mau nonton bareng teman sebaya, bagi usia SD tetap ada pendampingan orang dewasa yaa. Film keluarga ini menjadi pamungkas liburan sekolah yang menyegarkan. Jadi pembangkit semangat jelang masuk sekolah nanti. Bakal jadi cerita seru di sekolah sambil bertanya, “eh kamu suka masak apa?” atau “Eh kamu suka makan apa?” 

Pasalnya, salah satu keseruan lain film ini bikin jadi ingin belajar masak, selain jadi ingin makan enak seperti masakan para koki-koki cilik yang tergambarkan kenikmatannya.

Jadi kapan mau ke bioskop? Mulai 5 Juli 2018 ya! Jangan lupa.



Mudik Sehat Bersama Pengemudi “HEBAT”

Mudik Sehat 


Mudik lebaran selalu menjadi tradisi tahunan masyarakat Indonesia yang menjadi perhatian banyak pihak. Tujuan utamanya tentu silaturahim terutama bagi para perantau yang rindu keluarga di kampung halaman.

Menjadi perhatian banyak pihak karena perihal mudik bukan semata soal perjalanan liburan. Mudik yang dilakukan serentak dalam periode beberapa pekan sebelum dan sesudah lebaran, membutuhkan persiapan.

Berbagai persiapan diperhatikan, mulai urusan infrastruktur seperti jalan raya, moda transportasi, pos keamanan dan kesehatan, hingga kesiapan fisik mental si pemudiknya.

Kalau negara sudah sebegitunya memperhatikan kebutuhan, maka kita selaku pemudik yang diperhatikan juga perlu berkontribusi. Sebisa mungkin persiapan yang baik akan mengurangi berbagai risiko saat mudik, mulai kesehatan hingga keselamatan, sampai akhirnya bisa berbagi bahagia bersama. Petugas yang bertugas bahagia jika semua sehat selamat, dan pemudik tentunya disambut hangat bahagia mereka yang sudah menunggu di kampung tercinta.

Seperti kalimat di sebuah iklan komersial TV yang kira-kira seperti ini bunyinya, “…karena ada yang tidak pulang demi kita pulang… bahagia adalah ketika kita memberi kebahagiaan…” Jadi jangan sia-siakan mereka yang sudah rela bertugas demi kebahagiaan kita pulang kampung. Pun keluarga di kampung yang sudah menunggu bahagia kita pulang sehat selamat.






Mudik Sehat Kelola Stress 


TIPS MUDIK SEHAT

Pada kesempatan “Ngabuburit Sehat Bersama Menkes” di Terminal Kampung Rambutan 5 Juni 2018, Menteri Kesehatan RI, Nila F Moeloek kembali mengingatkan pemudik melalui lintas komunitas. Harapannya pesan sehat ini menyebar luas melalui komunitas dan kita bisa saling mengingatkan.

Bisa disebut mudik sehat kalau memenuhi 15 poin ini:

1. Siap fisik yang sehat dan prima sebelum mudik;

2. Periksa kondisi kelayakan kendaraan;

3. Tidak meminum obat-obatan atau minuman yang menyebabkan kantuk sebelum dan selama mengemudi;

4. Beristirahat selama 15 menit setiap telah mengemudi selama 4 jam;

5. Jangan paksakan mengemudi bila sudah lelah atau mengantuk;

6. Disiplin dan patuh rambu lalu lintas;

7. Kendalikan kecepatan kendaraan pada kondisi jalanan rusak, bergelombang, saat hujan, dan cuaca buruk;

8. Kendaraan tidak melebihi muatan yang layak;

9. Gunakan masker dan lindungi diri dari polusi udara;

10. Jangan mengkonsumsi makanan atau minuman yang diberikan oleh orang yang tidak dikenal;

11. Cuci tangan pakai sabun dan air mengalir sebelum makan;

12. Konsumsi makanan dan minuman yang sehat;

13. Buang sampah pada tempatnya;

14. Tidak buang air kecil/besar sembarangan, gunakan toilet yang tersedia;

15. Bila sakit, manfaatkan pos kesehatan terdekat.


Sederhana bukan pesannya? Rasanya setiap pemudik bisa menjalankan pesan mudik sehat ini. Langkah kecil misal membuang sampah di tong sampah setiap kali berhenti di rest area misalnya, ini sudah menjadi langkah sehat. Bayangkan ribuan pemudik menjaga kebersihan, penyakit menjauh karena semua pengguna jalan berperilaku bersih dan sehat.

Mudik sehat bisa diwujudkan dengan tidak menyepelekan kebiasaan sederhana seperti yang dituliskan di 15 pesan mudik sehat. Kalau berperilaku sehat sepanjang perjalanan mudik, pulang kampung bahagia dengan fisik sehat bukan jadi sakit atau membawa penyakit.


PENGEMUDI HEBAT

Nah, mudik sehat juga penting dipraktikkan pengemudi. Terutama pengemudi kendaraan umum seperti bus mudik misalnya. Pesan ini disampaikan saat Ngabuburit Sehat yang juga dihadiri drg Kartini Rustandi, MKes, Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga Kementerian Kesehatan RI






Gerakan Mengemudi Sehat perlu ditularkan sepanjang mudik. Kita butuh pengemudi HEBAT yakni 


Hindari berkendara saat kondisi tubuh tidak sehat, mengantuk dan kelelahan

Enyahkan asap rokok dan alkohol terutama jika akan berkendara

Beri pertolongan segera bila terjadi kecelakaan

Ayo makan sehat, minum air putih dan cukup istirahat

Taati peraturan



Pengemudi HEBAT juga menyiapkan kendaraan dalam kondisi terbaik, siap fisik mental dan kendaraan, tahu kapan harus istirahat dengan mengutamakan keselamatan diri. Pastikan juga cukup istirahat sebelum perjalanan mudik sehingga bisa fokus saat berkendara, dan selalu taat aturan siap selamat. 








Selamat Mudik Sehat! Selamat menyambung silaturahim dengan fisik sehat dan hati bahagia.

Cara Kreatif Sedekah Ngider Berbagi Bahagia untuk Anak Yatim


Sedekah itu membahagiakan, percaya jangan? Lebih membahagiakan lagi kalau bisa ajak orang lain bersedekah untuk berbagai bahagia dengan anak yatim.

Saya merasakan kebahagiaan ini bersama teman-teman Pejuang Ngider dari Yayasan Sedekah Ngider di Ramadan hari ke-18, tepatnya 3 Juni 2018. 




Pejuang Ngider adalah sebutan anggota komunitas Sedekah Ngider, kalangan muda yang bergerak dari remaja masjid dan bertransformasi menjadi komunitas berbagi. Komunitas yang mengawali ide kreatif dari obrolan di grup chat ini mewujudkan gagasan menjadi aksi nyata. Berdiri sejak 3 April 2016, komunitas ini kemudian berhasil melegalisasi organisasi menjadi yayasan pada 5 Maret 2018.

Sedekah Ngider kini memiliki 70 anggota tersebar di sepuluh kota, terus berkembang dari awalnya 13 orang termasuk pendirinya, Taufik Ari. Sebagai info, kebanyakan anggotanya 90 persen perempuan dan kebanyakan lajang. Jadi, buat para pria muda yang ingin berkegiatan positif, bermanfaat dunia akhirat, dan mencari pasangan dari komunitas bersedekah ini, rasanya komplit ya semua bisa didapat. 




Kembali ke kegiatan Sedekah Ngider di bulan puasa. Ramadan memang selalu menjadi momen tepat untuk berbagi. Meski bersedekah bisa kapan saja, semua pasti meyakini, sedekah di bulan Ramadan sungguh keutamaan dan tak heran banyak yang berlomba ingin berbagi.

Momentum yang selalu jadi lebih istimewa apalagi jika berbagi dengan anak yatim. Mengelus kepala anak yatim saja sudah melegakan hati apalagi bisa membahagiakan mereka.

Ini kali pertama Sedekah Ngider menggelar kegiatan sedekah dengan cara beda. Kegiatan yang diberi judul Belanja dan Santunan Bareng Yatim ini melibatkan 30 anak yatim dari Kampung Sedekah wilayah RW 09 Ciracas. Wilayah tersebut dipilih karena memang menjadi basis binaan termasuk sekretariat Yayasan Sedekah Ngider. 








Hasil donasi yang terkumpul dalam dua bulan disalurkan kepada anak yatim lewat kegiatan belanja dan pemberian santunan di Carefour Taman Mini Square.

Belanja selalu menyenangkan dan kebahagiaan inilah yang ingin dibagi bersama anak yatim. Setiap anak didampingi kakak Pejuang Ngider untuk membelanjakan uang senilai Rp 300.000 dalam waktu 30-45 menit.

Sebagian anak membelanjakan seluruh uang, bahkan kadang melebihi anggaran meski selisihnya tak banyak. Beruntung pihak hypermarket berbaik hati, saya mendapati langsung supervisornya menambahkan uang anak tersebut. Sebagian anak lagi menyisakan uangnya, dengan sengaja atau tidak. Bagi anak yatim yang uang belanjanya masih bersisa, mereka berhak membawa pulang uang tersebut.

Anak-anak yatim peserta Sedekah Ngider ini bebas membelanjakan uang dengan beberapa catatan. Mereka wajib belanja alat tulis untuk kebutuhan sekolah, tidak boleh membeli barang pecah belah, dan belanja dengan tetap peduli kebutuhan bersama di keluarganya bukan hanya memenuhi keinginan pribadi. 




Ya! Kegiatan Sedekah Ngider kali ini memang mengajarkan anak yatim belanja untuk peduli. Mereka belajar mengelola uang sekaligus menumbuhkan kepedulian dalam keluarga. Siapa tak senang diberi uang belanja? Namun bagaimana kesenangan tidak mengalahkan kepedulian itulah yang sedang dilatih Sedekah Ngider untuk anak yatim di bulan Ramadan ini.

Cara kreatif berbagi bahagia kalau kata saya. Kegiatan ini menambah satu lagi aksi kreatif nyata dari Sedekah Ngider. Setelah sebelumnya Sedekah Ngider rutin sebulan sekali melakukan tujuh kegiatan sekaligus yakni pemeriksaan kesehatan gratis, santunan, tabligh akbar, lomba edukasi, kampung belanja syariah, gerakan cinta masjid dan berbagi nasi bungkus.

Berbagai kegiatan berbagi yang dijalankan rutin dan kompak dengan para Pejuang Ngider inilah yang membuat banyak donor percayakan dananya. Termasuk donor dari luar negeri yang rutin menyalurkan dana karena inisiatif kalangan muda kreatif di Sedekah Ngider. 





Kebaikan yang dilakukan setulus hati pada akhirnya menggaet banyak kepercayaan. Termasuk dukungan dari berbagai pihak yang mengajukan diri bergabung salah satunya pesinetron Adhitya Putri, Duta Sedekah Ngider Indonesia.

Berbagi bahagia memang selalu menyenangkan dan mengisi jiwa. Semoga saja Sedekah Ngider makin banyak mendapatkan dana dari para pemberi sedekah. Amanah yang terjaga baik akan memberi hasil baik apalagi jika dilakukan dengan cara kreatif. 




Terima kasih Sedekah Ngider melibatkan blogger influencer dari BloggerCrony Community untuk kegiatan membahagiakan di bulan Ramadan. Silaturahim yang berawal baik semoga bisa menjemput kebaikan lain di masa mendatang. Bergandengan tangan agar semakin luas jangkauan Sedekah Ngider berbagi bahagia terutama kepada anak yatim.

Bagi yang ingin menjadi bagian dari gerakan ini, bisa berdonasi melalui rekening bank BCA 6825180501 an Elisa Suko Rachmaryani atau rekening Mandiri Syariah 7705777057 an Yayasan Sedekah Ngider Indonesia.

Informasi lebih lengkap bisa didapati di www.sedekahngider.com juga akun media sosial Instagram @sedekahngider Fanpage dan Youtube Channel Sedekah Ngider. 




#BeraniSedekah





Film “Lima” untuk Millenial Memaknai Pancasila




Tepat 1 Juni 2018, Hari Lahir Pancasila, film “Lima” tayang di bioskop nasional. Mengawali penayangannya, film yang diproduseri oleh Lola Amaria ini muncul dalam pemberitaan terkait batasan usia. Kalau pihak rumah produksi mengkategorikan 13+,  lain lagi dengan Lembaga Sensor Film yang akhirnya menentukan kategori umur mulai 17 tahun.  

Kalau menurut saya sih, film ini cocok menjadi edukasi anak usia sekolah SD sekalipun. Namun memang ada dua adegan yang mungkin menjadi kekhawatiran jika dipertontonkan kepada usia belia.

Setelah menonton film “Lima” di hari pertama penayangannya, bersama komunitas BloggerCrony Community, yang mendapat kesempatan nobar dari Shopback, saya bisa memahami batasan usia itu. Namun saya juga bisa memahami mengapa Lola Amaria menginginkan film ini ditonton usia muda.

Ada pesan ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, kebijaksanaan, dan persatuan yang disampaikan melalui sebuah keluarga dalam film “Lima”. Pesan yang menurut saya perlu dipikirkan bagaimana caranya bisa mengena ke kaum muda.

Menyampaikan pesan melalui film, bagi saya, menjadi saluran efektif dan kreatif. Pun pada akhirnya penonton dibatasi usianya, saya yakin film “Lima” yang karakternya lebih masuk ke kategori “festival film” alih-alih film populer, akan tetap bisa menemukan takdirnya.

Film “Lima” bisa menjadi alat komunikasi di sekolah-sekolah tentang Pancasila. Sesuai dengan momen peluncuran film ini di Hari Lahir Pancasila. Bahkan film ini bisa menjadi pemantik diskusi. Seperti halnya kami beberapa blogger yang usai menonton, akhirnya jadi diskusi, pada bagian mana dari film yang merepresentasikan nilai-nilai dasar negara, Pancasila.

Baiklah, ini cara saya memaknai Pancasila dari film “Lima” semoga enggak jadi spoiler ya. Saya penganut review film no spoiler kok. Soal dua adegan yang menurut saya akhirnya membatasi usia penonton, akan coba saya kulik juga di sini.

LIMA
Film “Lima” diawali dengan persoalan agama dalam sebuah keluarga.  Tentang keluarga yang terdiri dari lima orang, ayah (almarhum) dan ibu, mereka beda keyakinan, serta tiga anak (yang juga beda keyakinan). 

Dari kisah mereka, saya menangkap banyak pesan.  Jujur, pesan paling kentara adalah betapa sulitnya hidup dalam keluarga beda keyakinan, lebih kepada bagaimana persepsi orang di luar rumah atas keluarga. Jika pun dalam keluarga damai dan saling menghargai, lain halnya dengan lingkungan yang memiliki persepsi masing-masing. Selalu ada friksi pun sampai pada menguburkan jenazah almarhumah, ibu yang muslim apakah boleh dimakamkan oleh anak yang non muslim.

Saya tidak akan dan tidak mau terjebak pada perbedaan persepsi. Seperti apa kata Pancasila, pertama, KETUHANAN YANG MAHA ESA, saya memaknai, setiap orang berhak memilih apa pun keyakinannya. Setiap warga negara Indonesia berhak hidup dengan apa pun pilihan agamanya. Tugas kita di muka bumi adalah saling menghargai dan tidak menghakimi. Persoalan ada keinginan untuk mengajak orang kesayangan kepada keyakinan yang kita yakini paling benar, boleh saja, namun tanpa paksaan.

Saya punya role model, di agama saya, Nabi Muhammad SAW, yang berjuang sekuat tenaga dengan penuh kasih dan damai untuk mengajak pada kebenaran yang diyakini. Semua berjalan dengan penuh kasih, bukan hujatan dan bahkan beliau cukup mendoakan ketika sudah kehabisan cara mengajak pada apa yang diyakini sebagai kebenaran. 
Pada akhirnya, saya memaknai film “Lima” sedang mengajarkan kita untuk terus belajar, menggali ilmu, bukan sekadar meyakini sesuatu karena “katanya”.  

Seperti  dalam keluarga di film “Lima” ini, ketika Aryo, anak non muslim dalam memakamkan ibunya yang muslim. Saya perlu belajar lagi banyak hal bahkan tentang agama saya. Tak perlu mendebatkan keputusan anak perempuan sulung di keluarga ini, Fara, yang akhirnya mengizinkan Aryo turun ke liang lahat.

“Biar dosa kami yang tanggung,” kata Fara ketika akhirnya Aryo yang memakai kalung salibnya turun ke liang lahat memakamkan ibunya.

Kedua, KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB, pesan ini disampaikan secara kontradiktif. Terkait fakta yang kerap kita temui di masyarakat. Adi, anak bungsu di keluarga dalam film “Lima” ini, adalah siswa SMA yang memiliki seorang teman pelaku bully. Teman Adi ini digambarkan penuh dengan kemarahan.  Selain melampiaskan dengan merokok, teman Adi ini juga kerap mudah terpancing emosi.

Adi yang tengah berduka sepeninggal ibunya, sepulang sekolah singgah ke kediaman teman (atau mungkin studio musik atau toko musik) untuk bermain alat musik kesukaannya, piano.  Diskusi yang meresapi pikiran Adi terjadi di sana. Dalam perjalanan pulang ke rumah, Adi dihadapkan pada kondisi yang menguji sikapnya. Adi terjebak dalam pengejaran maling oleh warga yang main hakim sendiri kepada si maling tanpa beri ampun,  apalagi kesempatan membela diri.

Teman Adi, yang kebetulan ada di lokasi, terlibat dalam aksi main hakim sendiri hingga menghabisi nyawa orang lain. Sebagai saksi, Adi memilih tidak diam dan melaporkan apa yang dilihatnya.

Kalau saja warga memaknai sila kedua Pancasila, bukan aksi penuh emosi dan luapan kemarahan yang terjadi menyikapi dugaan pencurian. Bukankah siapa pun yang bersalah, punya kesempatan membela dirinya? Buktikan kesalahan melalui ranah hukum bukan main hakim sendiri. Apalagi jika ternyata perkaranya bukan hal besar, si korban diduga mencuri buku untuk adiknya.

Ketiga, PERSATUAN INDONESIA, pesan ini disampaikan lebih kuat di film “Lima”. Fara, si sulung dalam keluarga adalah atlet yang berprofesi sebagai pelatih renang. Dua muridnya, orang Indonesia beda suku, punya potensi yang sama untuk bisa bertanding sebagai atlet nasional dan masuk Pelatnas. Fara pasang badan untuk satu kandidat yang berkualitas. Namun kepentingan kalangan elit punya pilihan lain. Kata pribumi dan non pribumi menjadi sumber konflik.

Jika banyak orang Indonesia seperti Fara, yang katanya idealis, melawan praktik korup, Indonesia bakal maju. Pernyataan ini yang disampaikan Fara dengan tegas di depan atasannya. Memilih atlet yang kurang kompeten hanya karena dia dianggap pribumi, hal konyol bagi Fara. Bukankah seharusnya kompetensi lebih utama dalam membela nama Indonesia di panggung kompetisi olahraga dunia? Itu kalau tujuannya adalah membela negara, bukan membela kepentingan sekelompok orang demi eksistensi, ego atau urusan uang.

Bersatu untuk Indonesia, buang jauh-jauh ego pribadi atau urusan perut saja, pesan yang menjadi harapan. Semoga saja pelan-pelan karakter ini terbangun di kalangan muda yang memang jadi harapan bangsa.

Keempat, KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN DAN PERWAKILAN. Saya pribadi, dalam keluarga, diajarkan mengenai musyawarah. Karakter ini terbangun dan ketika akhirnya saya memimpin komunitas, musyawarah selalu menjadi cara mengambil keputusan. Bisa saja kita menjadi ototiter, yang memang terkesan tegas, namun kita tidak mendengarkan orang lain dan hanya memandang cara kita paling baik.

Musyarawah juga saya dapati dari role model saya, Nabi Muhammad SAW. Beliau selalu mendengarkan orang lain. Meski mungkin sudah membuat keputusan, beliau masih mendengarkan pendapat orang lain. Bahkan istrinya Khadijah, menjadi penasehat utama, selalu berbagi pendapat dan saling mendengarkan dengan pasangan hidupnya.

Kasus pencurian kakao oleh anak sulung bi Ijah (asisten rumah tangga keluarga Fara), ingin memberikan pesan ini. Beri kesempatan rakyat jelata membela diri di meja hijau. Pesan lainnya, jadilah penegak hukum yang punya jiwa musyawarah dan kebijaksanaan optimal.  Jangan urusan kecil jadi besar, urusan besar diperlakukan kecil bahkan menjadi tak berarti di meja persidangan.

Kelima, KEADILAN SOSIAL BAGI RAKYAT INDONESIA. Pesan ini masih samar bagi saya, hingga akhirnya obrolan di meja makan memberikan inspirasi. Sebenarnya kisah di persidangan bisa membawa pesan ini. Namun saya melihat hal lain dari keluarga Fara yang akhirnya memboyong keluarga bi Ijah, dengan dua anaknya tinggal satu rumah di Jakarta.
Saya jadi ingat pengasuh anak yang pernah bekerja untuk keluarga kami. Meski upah sudah dibayar layak, tinggal di rumah dengan perlakukan yang setara sebagai bagian dari keluarga, tetap saja mereka punya kehidupan yang susah di kampungnya.

Rasanya tak adil, ketika hidup enak di Jakarta, sementara ada anak yang susah payah di kampung. Kita sebagai pemberi kerja bukankah juga harus memikirkan mereka yang sudah membantu meringankan hidup kita di kota.

Rasa adil menjadi urusan bersama, bukan soal nasib. Kalau bi Ijah membantu keluarga Fara sampai sukses berkarier, lalu apa yang harus dilakukan keluarga Fara untuk anak-anak bi Ijah yang miskin? Keadilan adalah soal kita memperlakukan orang lain setara, dan berupaya semaksimal kita bisa membuat orang lain merasa hidupnya diselimuti rasa keadilan.

Jadi, masih ada yang meragukan lima dasar negara? Saya pikir pemimpin bangsa sudah sangat menyadari potensi perpecahan dari keberagaman di nusantara. Para pemimpin negara Indonesia juga sudah berupaya maksimal mencari dasar negara, untuk menjadi panduan bersama.  Panduan yang bukan sekadar dihapal, namun diterjemahkan dalam praktik hidup sebagai warga negara.  

Film “Lima” sedang mengingatkan lagi, kita, soal praktik nilai Pancasila. Itu, kata saya.

Oh ya soal dua adegan yang mungkin berujung pada pembatasan usia penonton. Adegan merokok yang menurut saya tak perlu ada, barangkali menjadi pertimbangan LSF. Saya sepakat soal pembatasan akses tayangan merokok ke kalangan muda.  Kalau adegan main hakim sendiri, menurut saya bisa menjadi bahan diskusi sebagai pembelajaran oleh millenials soal moral.

Sutradara film ini sudah berusaha menutupi aksi brutal dengan adegan simbolis. Namun memang film ini tipikal film pemantik diskusi usai menontonnya. Jadi tepat kalau dijadikan alat komunikasi edukasi nilai moral di kalangan siswa di sekolah. 

Setelah menonton, jadikan pesan film untuk bahan diskusi di sekolah misalnya, rasanya akan seru. Itu, kata saya.