Mudik Sehat Bersama Pengemudi “HEBAT”

Mudik Sehat 


Mudik lebaran selalu menjadi tradisi tahunan masyarakat Indonesia yang menjadi perhatian banyak pihak. Tujuan utamanya tentu silaturahim terutama bagi para perantau yang rindu keluarga di kampung halaman.

Menjadi perhatian banyak pihak karena perihal mudik bukan semata soal perjalanan liburan. Mudik yang dilakukan serentak dalam periode beberapa pekan sebelum dan sesudah lebaran, membutuhkan persiapan.

Berbagai persiapan diperhatikan, mulai urusan infrastruktur seperti jalan raya, moda transportasi, pos keamanan dan kesehatan, hingga kesiapan fisik mental si pemudiknya.

Kalau negara sudah sebegitunya memperhatikan kebutuhan, maka kita selaku pemudik yang diperhatikan juga perlu berkontribusi. Sebisa mungkin persiapan yang baik akan mengurangi berbagai risiko saat mudik, mulai kesehatan hingga keselamatan, sampai akhirnya bisa berbagi bahagia bersama. Petugas yang bertugas bahagia jika semua sehat selamat, dan pemudik tentunya disambut hangat bahagia mereka yang sudah menunggu di kampung tercinta.

Seperti kalimat di sebuah iklan komersial TV yang kira-kira seperti ini bunyinya, “…karena ada yang tidak pulang demi kita pulang… bahagia adalah ketika kita memberi kebahagiaan…” Jadi jangan sia-siakan mereka yang sudah rela bertugas demi kebahagiaan kita pulang kampung. Pun keluarga di kampung yang sudah menunggu bahagia kita pulang sehat selamat.






Mudik Sehat Kelola Stress 


TIPS MUDIK SEHAT

Pada kesempatan “Ngabuburit Sehat Bersama Menkes” di Terminal Kampung Rambutan 5 Juni 2018, Menteri Kesehatan RI, Nila F Moeloek kembali mengingatkan pemudik melalui lintas komunitas. Harapannya pesan sehat ini menyebar luas melalui komunitas dan kita bisa saling mengingatkan.

Bisa disebut mudik sehat kalau memenuhi 15 poin ini:

1. Siap fisik yang sehat dan prima sebelum mudik;

2. Periksa kondisi kelayakan kendaraan;

3. Tidak meminum obat-obatan atau minuman yang menyebabkan kantuk sebelum dan selama mengemudi;

4. Beristirahat selama 15 menit setiap telah mengemudi selama 4 jam;

5. Jangan paksakan mengemudi bila sudah lelah atau mengantuk;

6. Disiplin dan patuh rambu lalu lintas;

7. Kendalikan kecepatan kendaraan pada kondisi jalanan rusak, bergelombang, saat hujan, dan cuaca buruk;

8. Kendaraan tidak melebihi muatan yang layak;

9. Gunakan masker dan lindungi diri dari polusi udara;

10. Jangan mengkonsumsi makanan atau minuman yang diberikan oleh orang yang tidak dikenal;

11. Cuci tangan pakai sabun dan air mengalir sebelum makan;

12. Konsumsi makanan dan minuman yang sehat;

13. Buang sampah pada tempatnya;

14. Tidak buang air kecil/besar sembarangan, gunakan toilet yang tersedia;

15. Bila sakit, manfaatkan pos kesehatan terdekat.


Sederhana bukan pesannya? Rasanya setiap pemudik bisa menjalankan pesan mudik sehat ini. Langkah kecil misal membuang sampah di tong sampah setiap kali berhenti di rest area misalnya, ini sudah menjadi langkah sehat. Bayangkan ribuan pemudik menjaga kebersihan, penyakit menjauh karena semua pengguna jalan berperilaku bersih dan sehat.

Mudik sehat bisa diwujudkan dengan tidak menyepelekan kebiasaan sederhana seperti yang dituliskan di 15 pesan mudik sehat. Kalau berperilaku sehat sepanjang perjalanan mudik, pulang kampung bahagia dengan fisik sehat bukan jadi sakit atau membawa penyakit.


PENGEMUDI HEBAT

Nah, mudik sehat juga penting dipraktikkan pengemudi. Terutama pengemudi kendaraan umum seperti bus mudik misalnya. Pesan ini disampaikan saat Ngabuburit Sehat yang juga dihadiri drg Kartini Rustandi, MKes, Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga Kementerian Kesehatan RI






Gerakan Mengemudi Sehat perlu ditularkan sepanjang mudik. Kita butuh pengemudi HEBAT yakni 


Hindari berkendara saat kondisi tubuh tidak sehat, mengantuk dan kelelahan

Enyahkan asap rokok dan alkohol terutama jika akan berkendara

Beri pertolongan segera bila terjadi kecelakaan

Ayo makan sehat, minum air putih dan cukup istirahat

Taati peraturan



Pengemudi HEBAT juga menyiapkan kendaraan dalam kondisi terbaik, siap fisik mental dan kendaraan, tahu kapan harus istirahat dengan mengutamakan keselamatan diri. Pastikan juga cukup istirahat sebelum perjalanan mudik sehingga bisa fokus saat berkendara, dan selalu taat aturan siap selamat. 








Selamat Mudik Sehat! Selamat menyambung silaturahim dengan fisik sehat dan hati bahagia.

Cara Kreatif Sedekah Ngider Berbagi Bahagia untuk Anak Yatim


Sedekah itu membahagiakan, percaya jangan? Lebih membahagiakan lagi kalau bisa ajak orang lain bersedekah untuk berbagai bahagia dengan anak yatim.

Saya merasakan kebahagiaan ini bersama teman-teman Pejuang Ngider dari Yayasan Sedekah Ngider di Ramadan hari ke-18, tepatnya 3 Juni 2018. 




Pejuang Ngider adalah sebutan anggota komunitas Sedekah Ngider, kalangan muda yang bergerak dari remaja masjid dan bertransformasi menjadi komunitas berbagi. Komunitas yang mengawali ide kreatif dari obrolan di grup chat ini mewujudkan gagasan menjadi aksi nyata. Berdiri sejak 3 April 2016, komunitas ini kemudian berhasil melegalisasi organisasi menjadi yayasan pada 5 Maret 2018.

Sedekah Ngider kini memiliki 70 anggota tersebar di sepuluh kota, terus berkembang dari awalnya 13 orang termasuk pendirinya, Taufik Ari. Sebagai info, kebanyakan anggotanya 90 persen perempuan dan kebanyakan lajang. Jadi, buat para pria muda yang ingin berkegiatan positif, bermanfaat dunia akhirat, dan mencari pasangan dari komunitas bersedekah ini, rasanya komplit ya semua bisa didapat. 




Kembali ke kegiatan Sedekah Ngider di bulan puasa. Ramadan memang selalu menjadi momen tepat untuk berbagi. Meski bersedekah bisa kapan saja, semua pasti meyakini, sedekah di bulan Ramadan sungguh keutamaan dan tak heran banyak yang berlomba ingin berbagi.

Momentum yang selalu jadi lebih istimewa apalagi jika berbagi dengan anak yatim. Mengelus kepala anak yatim saja sudah melegakan hati apalagi bisa membahagiakan mereka.

Ini kali pertama Sedekah Ngider menggelar kegiatan sedekah dengan cara beda. Kegiatan yang diberi judul Belanja dan Santunan Bareng Yatim ini melibatkan 30 anak yatim dari Kampung Sedekah wilayah RW 09 Ciracas. Wilayah tersebut dipilih karena memang menjadi basis binaan termasuk sekretariat Yayasan Sedekah Ngider. 








Hasil donasi yang terkumpul dalam dua bulan disalurkan kepada anak yatim lewat kegiatan belanja dan pemberian santunan di Carefour Taman Mini Square.

Belanja selalu menyenangkan dan kebahagiaan inilah yang ingin dibagi bersama anak yatim. Setiap anak didampingi kakak Pejuang Ngider untuk membelanjakan uang senilai Rp 300.000 dalam waktu 30-45 menit.

Sebagian anak membelanjakan seluruh uang, bahkan kadang melebihi anggaran meski selisihnya tak banyak. Beruntung pihak hypermarket berbaik hati, saya mendapati langsung supervisornya menambahkan uang anak tersebut. Sebagian anak lagi menyisakan uangnya, dengan sengaja atau tidak. Bagi anak yatim yang uang belanjanya masih bersisa, mereka berhak membawa pulang uang tersebut.

Anak-anak yatim peserta Sedekah Ngider ini bebas membelanjakan uang dengan beberapa catatan. Mereka wajib belanja alat tulis untuk kebutuhan sekolah, tidak boleh membeli barang pecah belah, dan belanja dengan tetap peduli kebutuhan bersama di keluarganya bukan hanya memenuhi keinginan pribadi. 




Ya! Kegiatan Sedekah Ngider kali ini memang mengajarkan anak yatim belanja untuk peduli. Mereka belajar mengelola uang sekaligus menumbuhkan kepedulian dalam keluarga. Siapa tak senang diberi uang belanja? Namun bagaimana kesenangan tidak mengalahkan kepedulian itulah yang sedang dilatih Sedekah Ngider untuk anak yatim di bulan Ramadan ini.

Cara kreatif berbagi bahagia kalau kata saya. Kegiatan ini menambah satu lagi aksi kreatif nyata dari Sedekah Ngider. Setelah sebelumnya Sedekah Ngider rutin sebulan sekali melakukan tujuh kegiatan sekaligus yakni pemeriksaan kesehatan gratis, santunan, tabligh akbar, lomba edukasi, kampung belanja syariah, gerakan cinta masjid dan berbagi nasi bungkus.

Berbagai kegiatan berbagi yang dijalankan rutin dan kompak dengan para Pejuang Ngider inilah yang membuat banyak donor percayakan dananya. Termasuk donor dari luar negeri yang rutin menyalurkan dana karena inisiatif kalangan muda kreatif di Sedekah Ngider. 





Kebaikan yang dilakukan setulus hati pada akhirnya menggaet banyak kepercayaan. Termasuk dukungan dari berbagai pihak yang mengajukan diri bergabung salah satunya pesinetron Adhitya Putri, Duta Sedekah Ngider Indonesia.

Berbagi bahagia memang selalu menyenangkan dan mengisi jiwa. Semoga saja Sedekah Ngider makin banyak mendapatkan dana dari para pemberi sedekah. Amanah yang terjaga baik akan memberi hasil baik apalagi jika dilakukan dengan cara kreatif. 




Terima kasih Sedekah Ngider melibatkan blogger influencer dari BloggerCrony Community untuk kegiatan membahagiakan di bulan Ramadan. Silaturahim yang berawal baik semoga bisa menjemput kebaikan lain di masa mendatang. Bergandengan tangan agar semakin luas jangkauan Sedekah Ngider berbagi bahagia terutama kepada anak yatim.

Bagi yang ingin menjadi bagian dari gerakan ini, bisa berdonasi melalui rekening bank BCA 6825180501 an Elisa Suko Rachmaryani atau rekening Mandiri Syariah 7705777057 an Yayasan Sedekah Ngider Indonesia.

Informasi lebih lengkap bisa didapati di www.sedekahngider.com juga akun media sosial Instagram @sedekahngider Fanpage dan Youtube Channel Sedekah Ngider. 




#BeraniSedekah





Film “Lima” untuk Millenial Memaknai Pancasila




Tepat 1 Juni 2018, Hari Lahir Pancasila, film “Lima” tayang di bioskop nasional. Mengawali penayangannya, film yang diproduseri oleh Lola Amaria ini muncul dalam pemberitaan terkait batasan usia. Kalau pihak rumah produksi mengkategorikan 13+,  lain lagi dengan Lembaga Sensor Film yang akhirnya menentukan kategori umur mulai 17 tahun.  

Kalau menurut saya sih, film ini cocok menjadi edukasi anak usia sekolah SD sekalipun. Namun memang ada dua adegan yang mungkin menjadi kekhawatiran jika dipertontonkan kepada usia belia.

Setelah menonton film “Lima” di hari pertama penayangannya, bersama komunitas BloggerCrony Community, yang mendapat kesempatan nobar dari Shopback, saya bisa memahami batasan usia itu. Namun saya juga bisa memahami mengapa Lola Amaria menginginkan film ini ditonton usia muda.

Ada pesan ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, kebijaksanaan, dan persatuan yang disampaikan melalui sebuah keluarga dalam film “Lima”. Pesan yang menurut saya perlu dipikirkan bagaimana caranya bisa mengena ke kaum muda.

Menyampaikan pesan melalui film, bagi saya, menjadi saluran efektif dan kreatif. Pun pada akhirnya penonton dibatasi usianya, saya yakin film “Lima” yang karakternya lebih masuk ke kategori “festival film” alih-alih film populer, akan tetap bisa menemukan takdirnya.

Film “Lima” bisa menjadi alat komunikasi di sekolah-sekolah tentang Pancasila. Sesuai dengan momen peluncuran film ini di Hari Lahir Pancasila. Bahkan film ini bisa menjadi pemantik diskusi. Seperti halnya kami beberapa blogger yang usai menonton, akhirnya jadi diskusi, pada bagian mana dari film yang merepresentasikan nilai-nilai dasar negara, Pancasila.

Baiklah, ini cara saya memaknai Pancasila dari film “Lima” semoga enggak jadi spoiler ya. Saya penganut review film no spoiler kok. Soal dua adegan yang menurut saya akhirnya membatasi usia penonton, akan coba saya kulik juga di sini.

LIMA
Film “Lima” diawali dengan persoalan agama dalam sebuah keluarga.  Tentang keluarga yang terdiri dari lima orang, ayah (almarhum) dan ibu, mereka beda keyakinan, serta tiga anak (yang juga beda keyakinan). 

Dari kisah mereka, saya menangkap banyak pesan.  Jujur, pesan paling kentara adalah betapa sulitnya hidup dalam keluarga beda keyakinan, lebih kepada bagaimana persepsi orang di luar rumah atas keluarga. Jika pun dalam keluarga damai dan saling menghargai, lain halnya dengan lingkungan yang memiliki persepsi masing-masing. Selalu ada friksi pun sampai pada menguburkan jenazah almarhumah, ibu yang muslim apakah boleh dimakamkan oleh anak yang non muslim.

Saya tidak akan dan tidak mau terjebak pada perbedaan persepsi. Seperti apa kata Pancasila, pertama, KETUHANAN YANG MAHA ESA, saya memaknai, setiap orang berhak memilih apa pun keyakinannya. Setiap warga negara Indonesia berhak hidup dengan apa pun pilihan agamanya. Tugas kita di muka bumi adalah saling menghargai dan tidak menghakimi. Persoalan ada keinginan untuk mengajak orang kesayangan kepada keyakinan yang kita yakini paling benar, boleh saja, namun tanpa paksaan.

Saya punya role model, di agama saya, Nabi Muhammad SAW, yang berjuang sekuat tenaga dengan penuh kasih dan damai untuk mengajak pada kebenaran yang diyakini. Semua berjalan dengan penuh kasih, bukan hujatan dan bahkan beliau cukup mendoakan ketika sudah kehabisan cara mengajak pada apa yang diyakini sebagai kebenaran. 
Pada akhirnya, saya memaknai film “Lima” sedang mengajarkan kita untuk terus belajar, menggali ilmu, bukan sekadar meyakini sesuatu karena “katanya”.  

Seperti  dalam keluarga di film “Lima” ini, ketika Aryo, anak non muslim dalam memakamkan ibunya yang muslim. Saya perlu belajar lagi banyak hal bahkan tentang agama saya. Tak perlu mendebatkan keputusan anak perempuan sulung di keluarga ini, Fara, yang akhirnya mengizinkan Aryo turun ke liang lahat.

“Biar dosa kami yang tanggung,” kata Fara ketika akhirnya Aryo yang memakai kalung salibnya turun ke liang lahat memakamkan ibunya.

Kedua, KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB, pesan ini disampaikan secara kontradiktif. Terkait fakta yang kerap kita temui di masyarakat. Adi, anak bungsu di keluarga dalam film “Lima” ini, adalah siswa SMA yang memiliki seorang teman pelaku bully. Teman Adi ini digambarkan penuh dengan kemarahan.  Selain melampiaskan dengan merokok, teman Adi ini juga kerap mudah terpancing emosi.

Adi yang tengah berduka sepeninggal ibunya, sepulang sekolah singgah ke kediaman teman (atau mungkin studio musik atau toko musik) untuk bermain alat musik kesukaannya, piano.  Diskusi yang meresapi pikiran Adi terjadi di sana. Dalam perjalanan pulang ke rumah, Adi dihadapkan pada kondisi yang menguji sikapnya. Adi terjebak dalam pengejaran maling oleh warga yang main hakim sendiri kepada si maling tanpa beri ampun,  apalagi kesempatan membela diri.

Teman Adi, yang kebetulan ada di lokasi, terlibat dalam aksi main hakim sendiri hingga menghabisi nyawa orang lain. Sebagai saksi, Adi memilih tidak diam dan melaporkan apa yang dilihatnya.

Kalau saja warga memaknai sila kedua Pancasila, bukan aksi penuh emosi dan luapan kemarahan yang terjadi menyikapi dugaan pencurian. Bukankah siapa pun yang bersalah, punya kesempatan membela dirinya? Buktikan kesalahan melalui ranah hukum bukan main hakim sendiri. Apalagi jika ternyata perkaranya bukan hal besar, si korban diduga mencuri buku untuk adiknya.

Ketiga, PERSATUAN INDONESIA, pesan ini disampaikan lebih kuat di film “Lima”. Fara, si sulung dalam keluarga adalah atlet yang berprofesi sebagai pelatih renang. Dua muridnya, orang Indonesia beda suku, punya potensi yang sama untuk bisa bertanding sebagai atlet nasional dan masuk Pelatnas. Fara pasang badan untuk satu kandidat yang berkualitas. Namun kepentingan kalangan elit punya pilihan lain. Kata pribumi dan non pribumi menjadi sumber konflik.

Jika banyak orang Indonesia seperti Fara, yang katanya idealis, melawan praktik korup, Indonesia bakal maju. Pernyataan ini yang disampaikan Fara dengan tegas di depan atasannya. Memilih atlet yang kurang kompeten hanya karena dia dianggap pribumi, hal konyol bagi Fara. Bukankah seharusnya kompetensi lebih utama dalam membela nama Indonesia di panggung kompetisi olahraga dunia? Itu kalau tujuannya adalah membela negara, bukan membela kepentingan sekelompok orang demi eksistensi, ego atau urusan uang.

Bersatu untuk Indonesia, buang jauh-jauh ego pribadi atau urusan perut saja, pesan yang menjadi harapan. Semoga saja pelan-pelan karakter ini terbangun di kalangan muda yang memang jadi harapan bangsa.

Keempat, KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN DAN PERWAKILAN. Saya pribadi, dalam keluarga, diajarkan mengenai musyawarah. Karakter ini terbangun dan ketika akhirnya saya memimpin komunitas, musyawarah selalu menjadi cara mengambil keputusan. Bisa saja kita menjadi ototiter, yang memang terkesan tegas, namun kita tidak mendengarkan orang lain dan hanya memandang cara kita paling baik.

Musyarawah juga saya dapati dari role model saya, Nabi Muhammad SAW. Beliau selalu mendengarkan orang lain. Meski mungkin sudah membuat keputusan, beliau masih mendengarkan pendapat orang lain. Bahkan istrinya Khadijah, menjadi penasehat utama, selalu berbagi pendapat dan saling mendengarkan dengan pasangan hidupnya.

Kasus pencurian kakao oleh anak sulung bi Ijah (asisten rumah tangga keluarga Fara), ingin memberikan pesan ini. Beri kesempatan rakyat jelata membela diri di meja hijau. Pesan lainnya, jadilah penegak hukum yang punya jiwa musyawarah dan kebijaksanaan optimal.  Jangan urusan kecil jadi besar, urusan besar diperlakukan kecil bahkan menjadi tak berarti di meja persidangan.

Kelima, KEADILAN SOSIAL BAGI RAKYAT INDONESIA. Pesan ini masih samar bagi saya, hingga akhirnya obrolan di meja makan memberikan inspirasi. Sebenarnya kisah di persidangan bisa membawa pesan ini. Namun saya melihat hal lain dari keluarga Fara yang akhirnya memboyong keluarga bi Ijah, dengan dua anaknya tinggal satu rumah di Jakarta.
Saya jadi ingat pengasuh anak yang pernah bekerja untuk keluarga kami. Meski upah sudah dibayar layak, tinggal di rumah dengan perlakukan yang setara sebagai bagian dari keluarga, tetap saja mereka punya kehidupan yang susah di kampungnya.

Rasanya tak adil, ketika hidup enak di Jakarta, sementara ada anak yang susah payah di kampung. Kita sebagai pemberi kerja bukankah juga harus memikirkan mereka yang sudah membantu meringankan hidup kita di kota.

Rasa adil menjadi urusan bersama, bukan soal nasib. Kalau bi Ijah membantu keluarga Fara sampai sukses berkarier, lalu apa yang harus dilakukan keluarga Fara untuk anak-anak bi Ijah yang miskin? Keadilan adalah soal kita memperlakukan orang lain setara, dan berupaya semaksimal kita bisa membuat orang lain merasa hidupnya diselimuti rasa keadilan.

Jadi, masih ada yang meragukan lima dasar negara? Saya pikir pemimpin bangsa sudah sangat menyadari potensi perpecahan dari keberagaman di nusantara. Para pemimpin negara Indonesia juga sudah berupaya maksimal mencari dasar negara, untuk menjadi panduan bersama.  Panduan yang bukan sekadar dihapal, namun diterjemahkan dalam praktik hidup sebagai warga negara.  

Film “Lima” sedang mengingatkan lagi, kita, soal praktik nilai Pancasila. Itu, kata saya.

Oh ya soal dua adegan yang mungkin berujung pada pembatasan usia penonton. Adegan merokok yang menurut saya tak perlu ada, barangkali menjadi pertimbangan LSF. Saya sepakat soal pembatasan akses tayangan merokok ke kalangan muda.  Kalau adegan main hakim sendiri, menurut saya bisa menjadi bahan diskusi sebagai pembelajaran oleh millenials soal moral.

Sutradara film ini sudah berusaha menutupi aksi brutal dengan adegan simbolis. Namun memang film ini tipikal film pemantik diskusi usai menontonnya. Jadi tepat kalau dijadikan alat komunikasi edukasi nilai moral di kalangan siswa di sekolah. 

Setelah menonton, jadikan pesan film untuk bahan diskusi di sekolah misalnya, rasanya akan seru. Itu, kata saya.










Puasa Rokok Menjauh dari Narkoba


Penggunaan narkoba berawal dari merokok. Pernyataan ini sudah sering disuarakan berbagai pihak yang peduli kesehatan dan mereka yang aktif memberantas narkoba. Puasa rokok semestinya bisa menjadi langkah awal untuk memotong rute kebiasaan merokok kepada penggunaan narkoba. Ramadan selalu menjadi momentum yang tepat melatih diri. 

Namun, perokok selalu punya alasan dan cara membela dirinya, apalagi komunitasnya mendukung, pun negara seakan “melindungi”.  Faktanya, industri rokok menjadi penyokong dana yang kuat lewat cukai. 

Saya termasuk yang terbiasa mendengar pernyataan tersebut, dan menganggap angin lalu. Pada akhirnya jadi tak peduli karena merasa lelah dengan para perokok yang entah harus disadarkan dengan cara apa lagi.

Beruntung suami saya tidak merokok dan bukan perokok. Namun kakak, ayah, lingkungan keluarga, bahkan teman dekat saya banyak yang merokok.

Saya bukan tipe yang bawel melarang mereka yang memilih merokok. Namun saya cenderung menghindar semaksimalnya, meski kadang kondisinya menyulitkan untuk menghindari asap rokok.

Bukan apa, saya menderita asma, jadi memang harus menjaga kondisi dari asap rokok yang menyiksa. Kalau di rumah orangtua, saya masih bisa “berteriak” untuk meminta dengan hormat kakak-kakak merokok di luar bukan di dalam rumah.

Apalagi dulu saat masih ada anak balita, saya punya kekuatan besar untuk meminta penghuni rumah menjauhkan anak saya dari asap rokok. Namun setelah anakku tiada, hilang sudah kekuatan itu dan saya memilih untuk tidak mendekat, menjauh, mengenyahkan asap rokok dari hidup saya.

Pada suatu kesempatan saya pernah mendapatkan fakta kesehatan, bahwa abu rokok menempel kuat di perabotan rumah tangga. Bisa menempel di gorden, sofa, bahkan tembok. Kalau menempel di baju masih bisa diselamatkan dengan mencuci bersih. Lalu bagaimana dengan tembok? Membayangkan bagaimana partikel kecil rokok itu menempel dan akhirnya menjadikan saya perokok pasif sungguh membuat saya gerah. 



Di bulan Ramadan, tepatnya 28 Mei 2018 di Jakarta, saya menghadiri Diskusi Publik diadakan LSM Komnas Pengendalian Tembakau, bertajuk Rokok dan Puasa, Murahnya Harga Rokok.

Saya mendapati lagi pesan itu bahwa partikel rokok menempel kuat di sekitar kita dan menjadikan kita perokok pasif.

Pesan lain yang begitu kuat mengena adalah pesan dari dokter jiwa, dokter narkoba, DR Adhi Wibowo Nurhidayat SpKj(K) MP, Psikiater dari RS Jiwa Soeharto Heerdjan, yang juga adalah Direktur Eksekutif Indonesia Neuroscience Institute (INI).

“Rokok itu bagian dari narkoba”, katanya tegas. Baik, begini penjelasannya.

Sifat rokok itu stimulan yang bisa mempengaruhi alam perasaan, bikin happy, enggak cepat capek, terjaga, menambah atensi sehingga bisa membuat perokok merasa lebih bisa berpikir dengan merokok.

Nikotin pada rokok memiliki adiksi yang kuat. Adiksi adalah kriteria yang juga didapati pada alkohol. Menurut DR Adhi, adiksi pada rokok lebih jahat daripada alkohol. Nikotin bahkan masuk rangking tiga di bawah kokain dan heroin.

Ketika seseorang secara rutin, minimal satu tahun, merokok maka dia masuk dalam kriteria ketergantungan. Nah, ketergantungan pada rokok ini masuk dalam kriteria narkoba.

Itu soal rokok bagian narkoba.

Penjelasan lainnya dari DR Adhi yang juga penting dicatat adalah kaitan rokok dengan kesehatan jiwa. Orang yang merokok kemungkinan besar mengalami gangguan jiwa. Sekitar 59% orang yang depresi akan “melarikan diri” ke rokok. Ini akan membawa pada kondisi lebih parah karena perokok 70-80 persen mengalami gangguan jiwa berat. Ini disampaikan DR Adhi yang berpengalaman 20 tahun sebagai dokter narkoba.

Paparan bahaya rokok ini barangkali tidak lantas bisa menyadarkan perokok untuk mulai berhenti merokok. Apalagi dengan harga rokok murah ditambah iklan di pinggir jalan hingga di layar kaca, seakan tak ada yang bisa menghentikannya.

Namun fakta ini barangkali bisa menjadi pertimbangan untuk perokok mulai stop merokok. Siapa pun yang merokok akan menurunkan kebiasaannya kepada anak. Faktor genetik ini angkanya tinggi, 75 % merokok akan diturunkan kepada anak.

Terbukti, di keluarga saya sendiri, ayah perokok berat dan menurun kepada lima anak laki-lakinya, saya dan adik laki-laki saya menjadi perokok pasif, terpapar asap rokok sepanjang hidup serumah. Kondisi kesehatan dan usia lansia yang akhirnya membuat ayah saya berhenti merokok. Di usia 82 tahun sekarang ini beliau akhirnya berhenti merokok.

Murahnya Rokok


Kalau perokok harus melawan kecanduan merokok, jika mau berhenti dan menyehatkan jiwanya, lain lagi bicara negara. Dr Abdillah Ahsan, Wakil Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, menyampaikan, negara pun kecanduan rokok. 

Pemerintah kecanduan penerimaan cukai rokok. Menurutnya, pemerintah harus mencari sumber pendanaan lain dari cukai. Misal menambah jenis barang yang dikenai cukai, bukan hanya alkohol dan rokok. Mencontoh negara lain yang punya 26 jenis barang terkena cukai.

Solusi lain kalau mau serius menyehatkan bangsa dari rokok adalah naikkan 100% cukai rokok. Pada akhirnya rokok tak lagi murah. Sebungkus rokok harganya menjadi Rp 50.000 misal, itu lebih efektif. Nah, syaratnya jeda harga jenis rokok satu dengan lainnya, jangan terlalu jauh. Jangan sampai rokok kretek harganya 50 ribu per bungkus, tapi rokok putih harganya jauh di bawah itu. Bikin harga rokok mahal bahkan untuk rokok termurah pun.

Puasa Rokok

Cara lain adalah pendekatan orang tersayang. Anak dan cucu yang paling ampuh membuat perokok merasa terasing. Contoh kisah seorang cucu yang menolak dipeluk kakeknya yang perokok, ampuh membuat sang kakek berhenti merokok atau setidaknya bertahap mengurangi. Sang cucu tak suka dipeluk kakek yang menurutnya bau mulut akibat rokok. Tak ada yang lebih mengiris hati dari keterasingan ketika orang tersayang menjauh karena rokok.

Kalau keterasingan masih juga belum ampuh, entah cara apa lagi untuk menghentikan kebiasaan merokok. 

Namun menurut saya, anak dan cucu memang menjadi alasan kuat. Ini terjadi pada ayah saya, yang kerap saya omeli karena masih merokok. Perhatian dan permintaan anak kepada ayah untuk tidak lagi merokok menjadi cara efektif. Setidaknya saya berhasil meski baru bisa menikmati keberhasilan beberapa tahun belakangan, dan itu pun masih dihadapkan rasa kangen merokok, karena kadang ayah saya masih bandel merokok. Kalau sudah seperti itu, cukup saya cemberut dan marah, biarlah kemudian ayah yang berpikir apakah masih mau merokok atau meninggalkannya, selamanya. 

Pada akhirnya semua kembali kepada niat untuk meninggalkan asap kelam rokok. Berawal dari puasa rokok untuk perlahan menjauh dari adiksi apalagi memicu pada penggunaan narkoba jenis lainnya yang makin berbahaya.

Jika sudah muncul niat kuat segala cara pasti akan dilakukan demi kesayangan. Salah satu cara yang bisa dicoba adalah terapi kecanduan rokok yang digagas oleh Fuad Baradja, Bidang Pendidikan & Pemberdayaan Masyarakat Komnas Pengendalian Tembakau. Tekniknya cukup unik berbasis akupuntur. Jika ingin tahu lebih lanjut bisa email ke fuadbaradja@yahoo.com 

 







Bebas Malaria, Minum Obat Ini Sebelum dan Saat Traveling



Berkumpul bersama pemerhati dan pembuat kebijakan kesehatan selalu menambah wawasan yang didukung data dan fakta akurat. Setiap kali mendapat informasi kesehatan selalu muncul kewaspadaan, apalagi jika dilengkapi paparan angka. Meski angkanya menimbulkan kekhawatiran, semangat untuk bisa menyebar informasi kesehatan tetap menyala. Termasuk menyebar informasi kesehatan kepada traveler, baik yang bepergian untuk liburan maupun pekerjaan.

Saya kembali mendapatkan pencerahan kesehatan dari Kementerian Kesehatan RI, melalui edukasi mengenai eliminasi Malaria. Pada bulan April 2018, Kemenkes RI menjalankan rangkaian kegiatan peringatan Hari Malaria Sedunia demi mencapai Indonesia bebas Malaria pada 2030. 




Dari kegiatan ini, saya dapati data pada 2017 yang menunjukkan bahwa 70 persen penduduk Indonesia tinggal di daerah bebas Malaria. Meski begitu, masih ada 10,7 juta penduduk Indonesia yang tinggal di daerah Endemis Menengah dan Tinggi Malaria.

Endemis Malaria Menengah tersebar di 37 Kabupaten/Kota di Indonesia, tersebar di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan Papua, namun jumlah terbanyak ada di Papua. 
Ada sekitar 5,8 juta penduduk Indonesia yang tinggal di daerah Endemis Menengah Malaria. 

Sementara daerah Endemis Malaria tinggi kebanyakan ada di Papua, dengan sekitar 4,9 juta penduduk yang tinggal di daerah ini. Melihat kondisi ini, percepatan Bebas Malaria fokus pada wilayah ini, yakni provinsi Papua, Papua Barat dan NTT. 

Nyamuk anopheles menjadi penyebar Malaria. Parasit Malaria masuk ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk yang biasanya menggigit pada malam hari. Memberantas nyamuk bisa jadi cara eliminasi Malaria. Mengetahui siklus hidupnya bisa jadi pengetahuan dasar. 



Nyamuk hidup dalam 8-12 hari, diawali dengan telur yang siklus hidupnya berlangsung 1-2 hari, lalu jentik dengan siklus hidup 6-8 hari, kemudian pupa dalam 1-2 hari dan menjadi nyamuk dewasa.

Pantas saja tenaga kesehatan sering mengedukasi memberantas jentik nyamuk, dengan tidak membiarkan air menggenang dan memastikan lingkungan sehat atau cara lainnya. Masa hidup jentik nyamuk 6-8 hari memberikan manusia waktu untuk memberantas jentik sebelum menjadi nyamuk dewasa yang bisa menyebar penyakit.

Selain memberantas nyamuk, Malaria bisa dicegah dengan konsumsi obat. Nah, bagian ini penting diketahui bahkan dipahami para pejalan yang sering berpindah kota.

Bebas Malaria
Traveling belakangan sudah menjadi gaya hidup pun menjadi bagian dari pekerjaan dengan mobilitas tinggi tanpa batas. Kalangan milenial juga digital nomad yang produktif sangat mungkin menjelajah berbagai daerah di Indonesia. Gaya hidup ini mesti dibarengi pengetahuan bahkan menyangkut kesehatan.

Bagi pehobi traveling, keinginan untuk “menaklukkan” Papua pun daerah timur Indonesia lainnya, bisa jadi makin kuat. Semakin banyak destinasi eksotis yang seakan memanggil  untuk dikunjungi para pendatang. Saya pun tak menolak jika ada kesempatan menelusuri keindahan kawasan timur Indonesia.

Sah saja memiliki niatan jalan-jalan jelajah nusantara. Namun kita juga perlu bekali diri dengan pengetahuan tentang kesehatan dan kondisi suatu wilayah. Nah, apalagi bagi pekerja dengan mobilitas tinggi, yang mungkin saja melakukan perjalanan ke berbagai daerah di Indonesia.

Kalau berencana ke Papua atau NTT, pahami bahwa wilayah ini masih masuk daerah endemik Malaria Menengah dan Tinggi. 

Artinya, ketika kita berada di daerah endemik Malaria, pendatang akan rentan terkena Malaria. Lalu apakah penduduk setempat kebal? Bukan soal kebal atau tidak, namun sistem kekebalan tubuh pendatang dengan penduduk lokal jelas berbeda. Karenanya, wajib bagi para pendatang atau pejalan/traveler untuk mencegah Malaria pun penyebarannya.

Caranya, minum obat antimalaria sebelum bepergian, saat berada di wilayah endemik Malaria, dan ketika kembali ke tempat asal. 

Minum obat doxycycline 1x1 kapsul per hari. Mulai minum obat doxycycline dua hari sebelum berangkat ke daerah Malaria, minum rutin setiap hari sampai empat minggu setelah keluar dari lokasi tersebut. 

Bisa saja pendatang membawa pulang parasit namun tidak terdeteksi. Jadi, langkah pencegahan ini menjadi penting dan pastikan tubuh dalam keadaan fit saat melakukan perjalanan. 

Jadi, saat berkemas untuk melakukan perjalanan, liburan maupun pekerjaan, ke wilayah endemik Malaria, terutama yang masih tinggi di Papua dan NTT, pastikan obat 
doxycycline tak ketinggalan. Bahkan sudah mulai dikonsumsi dua hari sebelum keberangkatan. 


Jika menemukan ada gejala malaria segera cek darah. Segera cek darah jika muncul gejala demam selama di lokasi sampai sebulan setelah kembali dari daerah endemis.

Dengan persiapan perjalanan yang baik, risiko terkena Malaria bisa dihindari. Seperti dijelaskan sebelumnya, mulai dengan memahami faktor risiko hingga konsumsi obat untuk pencegahan serta melakukan kebiasaan di daerah endemis yang bisa menghindari risiko malaria. Beberapa kebiasaan di daerah endemis antara lain pakai pakaian serba panjang dan terang jika keluar malam, tidur dengan kelambu, pakai lotion antinyamuk.