Transaksi Online di Showroom Digital Auto2000 Digiroom


Transaksi di dealer resmi Toyota, Auto2000, mulai 2020 lebih praktis cukup klik bisa belanja online lewat ponsel pintar dari rumah. Pas banget saat harus jaga social distancing melawan Covid19, terobosan ini solutif buat keluarga. Kalau bingung, tenang ada Tasia yang bakal online siap bantu transaksi. 





Auto Family, begitu sebutan Auto2000 untuk pelanggan setianya, mulai Maret 2020 bisa akses website resmi www.auto2000.co.id yang berganti menjadi e-commerce website, Auto2000 Digiroom. Jadi dengan klik website e-commerce ini, kita bisa transaksi beli mobil baru, suku cadang, layanan servis kendaraan dan aksesoris resmi Toyota di Indonesia. Cocok nih buat kondisi saat ini, pun dalam kondisi normal cocok buat yang serba sibuk.Digiroom diklaim sebagai digital showroom Toyota pertama dan satu-satunya di Indonesia. Bukan hanya belanja otomotif secara online, platform ini berikan promo sesuai lokasi, bisa pilih metode pembayaran transfer, kartu kredit, atau leasing. Untuk proses administrasi, cukup pakai digital signature untuk tanda pemesanan kendaraan, bahkan bisa kirim dokumen via online. Serba digital banget kan. Proses transaksi juga pakai teknologi Optical Character Recognition. Jadi begitu registrasi pakai akun Google atau Facebook, dengan upload KTP maka form otomatis terisi. 




Kalau beli mobil lewat e-commerce ini, kita bisa tracking online, termasuk approval pengajuan kredit. Servis kendaraan juga bisa klik aja dari rumah, nah ini penting buat saya yang punya mobil tapi enggak bisa nyetir (alias selalu disetirin suami ke mana-mana). Untuk booking servis berkala di bengkel Auto2000 bisa pilih lokasi bengkel. Jadi sistem langsung cek mana bengkel yang siap terima permintaan layanan servis. Canggih kan Auto2000 Digiroom?

Untuk layanan THS-Auto2000 Home Service, pelanggan Toyota bisa servis kendaraan #DiRumahSaja. Bahkan lewat website bisa tracking posisi teknisi THS, status pekerjaan bengkel, THS, dan body repair, termasuk notifikasi begitu order sudah selesai. Lewat showroom digital ini, kita bisa juga booking layanan perbaikan bodi kendaraan Toyota. Buat yang hobi modifikasi kendaraan, pembelian suku cadang atau aksesoris sampai atur jadwal pemasangan di cabang Auto2000 juga bisa transaksi via www.auto2000.co.id. 

Dengan semua layanan ini, perawatan mobil keluarga jadi lebih mudah semua bisa dipesan dari rumah aja sambil work from home. Sebagai pengguna Toyota, saya kebantu banget meski belum trial layanannya tapi kabar baik ini dah bikin sumringah. Sudah waktunya servis berkala soalnya, dan biasanya hanya andalkan suami aja bawa mobil ke showroom. Sekarang semua bisa dikerjain mandiri tinggal klik aja di ponsel akses Auto2000 Digiroom.



Bagi yang mau beli mobil baru mencoba transaksi online lewat website Auto2000, ini ya tahapannya:

1. Masuk ke website Auto2000.co.id
2. Login menggunakan akun Facebook atau Google.
3. Melakukan window shoping dan memilih mobil yang tepat sesuai dengan kebutuhan
Andy.
4. Simulasi kredit lewat perusahaan leasing yang berkolaborasi dengan Auto2000 sehingga bisa disesuaikan dengan budget yang dimiliki.
5. Memasukkan kode promo untuk memperoleh keuntungan dari program promo yang
ditawarkan.
6. Submit dan upload dokumen yang dibutuhkan untuk syarat pembelian mobil baru Toyota, di antaranya KTP 
7. Memilih sistem pembayaran, dengan opsi transfer bank, virtual account, credit card, dan leasing.
8. Jika ingin test drive, bisa memilih opsi Test Drive dan menentukan waktu dan lokasi.
9. Sales Advisor Auto2000 terdekat dari lokasi yang ditentukan akan memproses transaksi lebih lanjut.
10. Bisa tracking status pembelian lewat situs Auto2000.co.id ini sehingga bisa mengatur waktu saat proses delivery.
11. Memberikan rating dan review setelah proses pembelian mobil selesai.





Oya banyak promo juga nih di e-commerce Auto2000 Digiroom, dan bisa beli mobil bekas berkualitas juga. Tanya Tasia aja kalau ada yang bikin penasaran yaa. Itu loh, chatbot otomotif pertama di Indonesia yang dirilis Auto2000 pada 2019 lalu. Tasia online terus buat bantu transaksi.


Harlah 7 Tahun Dahayu


Hari lahir. Bukan jadi tradisi di keluarga saya dan suami, pun keluarga kecil kami, merayakan hari lahir. Hanya karena anak semata wayang, Dahayu Hadiya Raji yang lahir 28 Februari 2013, keluarga kecil kami merayakan hari lahir spesial putri kesayangan. Meski begitu, Tuhan memberi waktu perayaan sampai usia 3 tahun. Pada 28 Februari 2016, dengan sangat sederhana, kami mensyukuri harlah Dahayu, kala itu.

Saya dan suami tak pernah menyesali. Oh, seandainya saat itu kita buat perayaan besar yang berkesan, akan jadi kenangan indah bersamanya. Tidak! kami menolak berkata seandainya. Pun dari kajian yang pernah kutemukan saat ngaji online, mengucapkan seandainya itu justru mengingkari ketentuanNYA. 

Perayaan kecil harlah Dahayu 3 tahun kala itu justru penuh makna. Saya, suami dan keluarganya, bapak mertua, adik ipar berkumpul di resto cepat saji di Sarinah Thamrin. Sebenarnya saya, Dahayu dan ayahnya sedang menghadiri kegiatan sosial, kampanye publik penyakit langka di area CFD Sudirman Thamrin Jakarta. Sungguh bermakna, karena justru di hari lahir Dahayu, kami mencerna kebaikan dari para pejuang kehidupan. Kesulitan tumbuh kembang yang Dahayu alami, pun kesusahan yang #duoraji rasakan, seperti tidak ada artinya. Harlah Dahayu selalu memberi makna mendalam. Pun di hari yang sama, kami sekeluarga bertemu teman kantor lama. Kami berkumpul sederhana saja, berbagi bahagia, tanpa sekat. Kebersamaan yang utama, itu saja seakan pesan Dahayu hari itu.

Tuhan beri waktu 3,5 tahun bersama malaikatku Dahayu. Di tahun yang sama, tepatnya 6 Agustus 2016, Dahayu meninggal dunia, berpulang kepada pemiliknya. 



Saya tidak pernah tahu rasanya merayakan harlah anak 4 tahun, 5 tahun, 6 tahun dan tak terasa, pada 2020 Dahayu 7 tahun jika masih hidup bersama di dunia fana. Saya pun tak tahu rasanya anak bersekolah TK dan SD. Dahayu belum bersekolah formal, namun ayah ibunya semoga sudah menjadi madrasah di rumah untuknya. Semoga Dahayu masih menghapal surat pendek setelah kami beri bekal hapalan Al Fatihah. Dahayu fasih sekali membaca 7 ayat Al Fatihah. 

Kadang, saya dan suami bersenda gurau. Dahayu sedang apa di sana yaa? Dia sekolah enggak yaa? Tanyaku. Suami biasanya menjawab, "Sekolah lah, dia bebas pilih sekolah apa aja, belajar sama siapa aja." Baiklah, mari imani itu, biar waras bahagia meski kami beda dunia. 

Dahayu sering datang lewat mimpi. Pelukan hangat seringkali kudapati darinya. Rasanya bahagia dan bikin hariku biasanya jadi ceria setiap kali Dahayu datang lewat bunga tidur malam harinya. Kalau sedang gundah dan rindu tak tertahankan, ziarah makam Dahayu jadi penghibur hati. Meski tetap terasa perih namun lega rasanya, karena Tuhan kembali ingatkan, Hey, manusia lemah tiada daya, berserahlah dan pikirkan kematian akan datang kapan saja, tak kuasa manusia mencegahnya, ingatlah kepada Tuhanmu hey manusia, jangan sombong, jangan sibuk dengan urusan dunia yang membawamu ke dalam kemunduran adab. Mendekatlah kepada Tuhanmu hey manusia, selagi masih ada nafas dan panjang usia. Berbuat baiklah dan terus perbaiki diri, jangan sibuk kejar dunia fana.

Itu hebatnya Dahayu, malaikatku. Setiap kali kunjungi makamnya, rasa dan pikiran itu yang kudapati. Mengisi jiwa, menata hati, bertahan dan terus berjuang untuk hidup baik dalam ridhaNya, sampai waktunya berkumpul kembali, semoga, nanti.

DAHAYU BERSAMA KAKEK NENEK, AYAH IBU, PENGASUH MBOK TETEH, OM 


Harlah 7 tahun Dahayu, masih dengan rasa yang sama. Masih dengan pengharapan sama. Masih dengan pedih dan rindu yang sama. Imbang sudah, pada 2020 ini, 3,5 tahun sudah kami tidak bersama setelah sebelumnya 3,5 tahun hidup di dunia bersama dengan perjuangan hebat dan perjalanan indah. 

Tuhan Maha Baik
Tuhan Maha Adil

Dahayu datang, pun pergi, membawa pesan mulia, tentang mendekatNYA, memperbaiki diri. Lihatlah, harlah 7 tahun Dahayu, ibunya dibimbingNYA menulis ini. Teruslah mengiringi ayah dan ibumu, Dahayu, bantu kami mendekatNYA, berakhir baik, husnul khotimah dan menjadi keluarga kembali di surgaNYA. Semoga. 

#CeritaIbu


Menyikapi Penyakit


Jujur, saya masih belajar soal menyikapi apa pun yang datang dalam kehidupan saya pribadi. Perihal kehidupan orang lain, apa yang terjadi pada hidup orang lain, jika saya mendengarnya sengaja atau tidak sengaja, cukup jadi pembelajaran sambil berusaha tidak menghakimi. 

Jujur, batasan sombong manusia itu tipis sekali, ketika mengomentari sesuatu atau menyikapi sesuatu dengan menuliskannya atau membicarakannya, bisa terlihat kadar sombong manusia. Bisa sangat terukur apakah dia seakan maha tahu paling benar, baik tersirat maupun jelas tersurat. Jadi, sebisa mungkin tidak menghakimi dan atau hati-hati bicara, menulis, berkomentar, buat saya, penting!

Kenapa urusan berhati-hati dalam menyikapi sesuatu jadi sangat serius buat saya? Barangkali karena orientasi hidup saya berbeda. Begini rasanya kalau separuh jiwamu sudah pergi berpulang mendahuluimu, bertemu Allah SWT sang pencipta. Saya berusaha kuat dalam iman, meyakini saya tidak berhak marah dan sedih berlebihan dengan kepergian Dahayu, anak semata wayang. Saya berusaha kuat dalam iman meyakini, Dahayu milik Allah, anak itu titipan bukan? Ketika pemiliknya mengambilnya, apa hak saya untuk marah atau sedih tak berkesudahan? Apakah saya tidak sedih? Tentu sedih, pada waktunya, dan hanya saya dan suami yang paham rasanya dan kapan itu terjadi, tak perlu jadi konsumsi publik. 

Barangkali, karena saya yakini dalam iman, anak saya bersama Allah di surga, saya jadi punya orientasi baru, hidup untuk mendapat berkahNya, hidup sesuai apa yang disukainya (ini pun terus berusaha memaknai apa dan bagaimana cara mengetahui bahwa Allah suka dan ridha atas apa yang saya lakukan di bumiNYA). Hidup meninggalkan kebaikan dan hal baik, sebisa mungkin menghindari konflik dan permusuhan. Kalau pun saya dimusuhi, berusaha menerima dan memaafkan.  Berusaha sekuat iman untuk tidak marah dan bermusuhan, dan atau membenci yang membuat Allah marah dengan sikap saya yang tidak mencerminkan akhlak terbaik ajaran Nabi Muhammad. 

Seserius itu ya dalam bersikap? Iya. Saya ingin hidup berakhir husnul khotimah, dan itu butuh usaha. Berusaha tidak terbawa arus netizen yang kadang bikin amarah dan benci membuncah, berusaha sabar dan tidak berbawa arus post truth saat informasi banyak sekali terdistorsi. Berusaha kuat dalam iman tidak terjebak dalam debat kusir dan atau perselisihan asumsi dan perang persepsi di dunia maya, adalah cara-cara yang saya pilih dalam rangka mencapai ridhaNya, supaya Allah ridha atas saya, dan doa saya bertemu kesayangan di surga, dikabulkannya. Jadi saya pamrih? Sebisa mungkin semua dijalani ikhlas, namun rindu menggebu saya kepada anak yang pernah dititipkan, menjadi motivasi tersendiri. Coba berpikir baik, bahwa inilah cara Allah membalikkan hati, untuk saya terus berusaha sekuat iman berbuat baik dan atau berpikir baik atas apa pun yang terjadi dalam hidup saya. 




Sampai di sini, harusnya sudah jelas kenapa saya suka sekali menulis isi pikiran yang berusaha positif dan memaknai segalanya dengan mencari hikmah kebaikan dari apa pun yang saya jalani. Mungkin sebagian orang berpikir, saya sok suci atau berlagak baik positif. Sesuai nilai hidup saya, pikiran seperti itu saya abaikan. Terus berusaha berpikir baik atas apa pun persepsi orang. Saya percaya, tulisan yang dibuat dengan hati, punya roh dan semangatnya akan sampai kepada pembacanya. 

Saya cuma mau bilang, saya sedang melatih diri untuk selalu berpikir baik atas apa pun yang terjadi dalam hidup. Dengan begitu, saya hidup waras, setelah berpisah selamanya dengan anak semata wayang. 

Termasuk berpikir baik tentang penyakit. Sebelumnya saya pernah menulis Menyikapi Kematian. Bahwa kematian adalah bagian dari hidup dan sudah menjadi takdir yang harus diimani. Beruntung saya terpapar ilmu dari para guru yang membuat kehidupan beragama saya sangat menyenangkan. Setelah buku Nikmatnya Kematian oleh Prof Dr Quraish Shihab, saya terpapar ilmu Gus Baha dari Youtube yang juga menyikapi kematian dengan sangat ramah. Bahwa hidup dan mati sudah diurus diatur oleh Allah. Kita bisa hidup karena Allah. Lalu kita mati ya kenapa harus khawatir, semua sudah diatur dan diurus oleh Allah. Kenapa harus khawatir bagaimana keluarga nanti kalau kita mati? Lha wong hidup susah senang saja sudah diurus Allah kok, lha kalau kita mati, ada Allah yang akan mengatur segalanya untuk kita dan keluarga yang ditinggalkan. Sulit untuk memahaminya kalau tidak belajar konteks penuh. Intinya, mati itu pasti dan untuk apa khawatir mati? 

Lantas apa saya tidak takut mati? Saya takut mati kalau bekal saya belum cukup dan dosa saya belum sepenuhnya diampuni. Pun dengan ketakutan itu, saya berserah, kalau pun Allah tentukan saya mati, ya sudah, terima. Lha sudah mati kok, ya mau apa, tiada daya.  Serahkan segalanya kepada Allah yang Maha Tahu. 

Terkait mati, ada hubungannya dengan penyakit? Saya selalu meyakini meninggalnya Dahayu, anakku semata wayang, melalui sakit dan perawatan RS 6 hari, adalah cara Allah mengambil milikNya. Kalau tiba-tiba mati, mungkin saya akan lebih shock. Melalui penyakit dan sakit beberapa hari, yang sebenarnya terbilang tiba-tiba saja sakit, dan meninggal dengan proses yang sangat mengiris hati jika mengingatnya, ya memang sudah takdir dan jalan Allah demikian adanya, tiada daya. 

Sejak itu, saya melihat penyakit dengan perspektif berbeda. Penyakit (sama seperti musibah) bukan hukuman, tapi maknai dengan penggugur dosa. Yakini bahwa sakit dan penyakit yang datang itu, jika diterima dengan sabar, tiada daya, serahkan urusan kepadaNya sambil terus berusaha sembuh dengan perantara dokter dan obat, adalah bagian dari penggugur dosa. Keyakinan ini membuat hati saya senang pikiran tenang. Kenapa?


Saya sangat sadar diri, dosa masa lalu saya teramat banyak. Entah bagaimana cara mengetahui bahwa Allah sudah mengampuni. Berusaha sabar atas musibah, atas penyakit, atas masalah yang datang menghantam, berusaha memaaafkan orang yang menyakiti dan berusaha membangun relasi positif, semoga menjadi cara penghapusan dosa. 

Namun tentu saja, penyakit adalah peringatan bahwa ada sikap lalai dari manusia atas tubuhnya. Kurang baik dalam memelihara badan dan kesehatan. Kurang memberi hak tubuh untuk beristirahat, makan, dan ketidakmampuan mengelola stres yang menganggu pikiran sehingga akhirnya menggerogoti kesehatan fisik. Ini jelas peringatan untuk diperbaiki bukan disesali dan atau dijadikan penyesalan yang hanya akan memperburuk kondisi mental. Penyakit juga harus dipahami faktor risikonya, sekaligus jadi peringatan. Bahwa ada faktor eksternal yang menyebabkan penyakit itu datang menjadi ketentuanNya atas kita. Bisa karena genetik, bisa karena faktor risiko dari lingkungan yang tidak sehat dan ini semestinya menjadi perhatian bersama untuk hidup sehat secara komunal. Penyakit datang selain karena ketentuanNya, tentu banyak faktor risikonya. Kenali, pahami, dan perbaiki. Sekali lagi perbaiki, bukan untuk menyalahkan kondisi dan menyesalinya. 

Penyakit utamanya adalah ujian kesabaran. Kalau bersabar dengan penyakit yang ditentukan terjadi pada kita, bersabarlah. Menerima dan bersabar dengan prosesnya, dengan pengobatannya, dengan ikhtiar sembuh lewat perantara medis. Juga menjadi kesempatan istirahat dan menjalin lagi hubungan batin kepadaNya. 

Jadi, kalau ada yang mengaitkan penyakit sebagai "hukuman" atau "bayaran semesta" karena kesalahan yang diperbuat dalam urusannya dengan relasi manusia (padahal bisa jadi orang sakit itu sudah berbuat sebaiknya kepada sesama), karena kita bekerja dengan perhitungan dan atau tidak melakukan pekerjaan dengan dedikasi tinggi, ikhlas maksimal (padahal bisa jadi orang sakit itu sudah sangat maksimal yang akhirnya jadi sakit). Alihkan saja pikiran, bukankah penyakit juga ditentukan oleh Tuhan terjadi atas seseorang dengan banyak tujuan? Kalau ada pernyataan seperti ini, sikapi baik saja. Jangan menyalahkan diri sendiri karena sakit itu sendiri sudah butuh kekuatan sabar luar biasa menjalaninya, jangan tambahkan dengan menyalahkan atau menyesali diri. Ambil baiknya saja, agar tidak menjadi manusia sombong yang merasa sudah berbuat baik, sudah bekerja baik, tidak punya kesalahan, tidak punya dosa. 

Sakit dan penyakit sungguh membawa ujian kesabaran maha dahsyat. Belum lagi harus bersabar dengan penyakit dan pengobatannya. Orang sakit juga harus bersabar dengan banyak persepsi manusia lain yang menyertai, bahkan membaca, mendengar, bahkan menerima langsung pernyataan-pernyataan dan atau nasihat-nasihat, yang seakan menuduhkan kesalahan pada si sakit. 

Bersabar dalam sakit sungguh ujian kehidupan sebenarnya. Bersabar bukan hanya dengan penyakit dan pengobatannya, tapi bersabar dengan respons orang-orang yang kadang merasa paling benar dan ucapannya adalah yang paling tepat disampaikan, di hadapan orang sakit sekali pun. 

Empati boleh jadi makin mati. Namun tak perlu menyesali kondisi pun menyalahkan orang lain. Biarkan dan maklumi, jadikan respons manusia sebagai ujian sabar saat sakit. Ketika lolos dengan kesabaran maha dahsyat ini, semoga harapan Allah ridha atas kita, terkabul. Harapannya, berakhir dalam keadaan baik, berpikir baik, menerima dengan baik, kembali kepadaNya dengan cara baik. Bukankah itu makna husnul khotimah? Karena sakit dan penyakit, bisa saja menjadi jalan menuju Nya. Bagaimana menyikapi sakit dan penyakit, akan mementukan akhir perjalanan hidup kita. 

Jadi, terima kasih kepada siapa pun yang menguji kesabaran lewat perkataan. Melalui ucapan-ucapan dan sikap itulah, ujian kesabaran sakit menjadi semakin besar. Jika mampu melampaui, dengan keberserahan dan berpikir baik atas apa pun yang Allah datangkan kepada kita, semoga penyakit membawa faedah terbaik. 

Jika penyakit menjadi jalan menuju kematian, maka dengan bersabar dan berpikir baik atas ketentuan Allah atas kita lewat penyakit, apa pun itu, semoga doa husnul khotimah, dikabulkanNya. Berakhir baik lewat penyakit yang Tuhan berikan sebagai ketentuanNya, karena bersabar dan menyerahkan urusan dengan terus berusaha berpikir baik dan positif, serta berprasangka baik terhadap siapa pun termasuk kepada Allah yang menentukan seseorang sakit dengan apa pun penyakitnya, dan berakhir untuk berpulang lewat sakitnya. 

Jika sembuh, maka penyakit akan menjadikan kita manusia yang naik kelas lagi. Allah yang mengangkat penyakit sekaligus derajat si orang sakit, karena bersabar, berpikir dan berprasangka baik, serta menyerahkan segala urusan kepadaNya dengan tetap ikhtiar tentunya. 









Fitur Baru MTix Bikin Nonton Makin Nyaman

Penikmat film yang gemar nonton di bioskop pasti paham rasanya kehabisan tiket atau tempat duduk favorit. Apalagi saat berburu tiket nonton film favorit yang lagi hits. Rasanya seperti kecolongan lantaran kalah cepat dengan yang lainnya.

Cepat dapat tiket nonton, cepat pilih kursi kesayangan, jadi urusan penting. Supaya kesenangan cari hiburan di bioskop jadi enggak terganggu.

Konon katanya, urusan serba cepat dan praktis jadi ciri khasnya Gen Z, generasi yang lebih muda lagi setelah milenial. Tapi soal film, tak kenal usia, saya yang sudah super milenial pun butuh yang serba cepat dan praktis.

Saya dan pasangan hobi nonton film di bioskop. Nonton di Cinema XXI selalu masuk dalam daftar we time. Kami punya daftar Cinema XXI favorit dan bergantian mendatanginya untuk nonton film pilihan.

Pernah, saat mau nonton film yang memang sedang hits, kami kehabisan tiket di jam dan bioskop pilihan. Alhasil, kami harus menunggu lain hari dan akhirnya menonton di masa akhir tayang. Sejak itu, saya unduh aplikasi MTix supaya memudahkan jika lain kali mau pesan tiket dan enggak ketinggalan momen nonton film. Terbilang terlambat pakai aplikasi MTix sebenarnya, karena MTix sudah lahir sejak 2006.

Namun memang sejak mengunduh aplikasi MTix, saya belum banyak memanfaatkan layanan dan fiturnya. Nah inilah bedanya saya dengan Gen Z. Kalau Gen Z pastinya sudah autoklik segala fitur di MTix yang memudahkan pemesanan tiket nonton.

Faktanya, menurut Cinema XXI, pembelian tiket online trennya meningkat sampai dengan 2019. Transaksi tiket online Cinema XXI mencapai lebih dari 40 persen, dan naik dua kali lipat dibanding tahun lalu.

FITUR BARU MTIX

Fakta lain dan terbaru dari Cinema XXI yang saya dapati langsung dari sumbernya adalah dua fitur baru, yang bikin urusan nonton jadi makin praktis.

Pada 13 November 2019 di Jakarta, Cinema XXI meluncurkan dua fitur baru MTix yakni e-voucher dan pembelian F & B. Bertajuk Next Gen M-Tix To Infini-Z and Beyond, terasa sekali semangat muda XXI.

Lagi-lagi, Gen Z dan Milenal memang jadi sasaran utama. Maklum dua generasi ini paling banyak, mencapai lebih dari 60 persen penduduk Indonesia, lho. Tapi tetap saja sebagai generasi super milenial penikmat film dan penggemar nonton di bioskop,saya enggak mau ketinggalan.

Jadi, fitur baru MTix ini menambah lagi faktor kenyamanan pelanggan setia Cinema XXI. E-voucher menjadi bentuk benefit yang bikin hati senang. Gimana enggak? Banyak penawaran yang bikin hemat. Saya beruntung mendapatkan e-voucher. Salah satunya, e-voucher Gratis 2 Tiket Nonton hanya dengan satu kali transaksi di bioskop Cinema XXI mana saja.




Menurut Naning Yuliningtyas, Head of Promotion Cinema XXI, e-voucher juga akan memudahkan partner dalam memberikan loyalty program. Seperti Citibank dan BCA yang selama ini sudah bermitra memberikan benefit voucher nonton kepada pelanggan setianya, jadi lebih praktis dengan e-voucher, selain juga memudahkan karena ada notifikasi berkala untuk masa berlakunya. e-voucher juga jadi salah satu cara go green untuk para penikmat film seperti pengakuan Handoko Tjung.

Nah, fitur baru lainnya yang enggak kalah seru adalah pembelian F & B melalui MTix. Makin mudah, praktis, cepat karena semua sudah dipesan online melalui aplikasi MTix. Setelah pesan tiket bisa langsung pesan makanan minuman dan saat tiba di bioskop langsung ambil di pick up point. Secara bertahap layanan ini bisa didapati di 130 dari total 200 lokasi bioskop.

Apa lagi terobosan Cinema XXI? Menurut Dewinta Hutagaol Head of Corporate Communication Brand Management dengan merangkul teknologi digital, aplikasi MTix dengan fitur baru ini menjadi cara untuk merespons kebutuhan generasi milenial dan Gen Z.

Ke depannya akan ada poins redemption bekerja sama dengan rekanan potensial, melalui integrasi sistem Application Programming Interface. Ini akan jadi pengembangan MTix ke depan dan semakin banyak lagi benefit untuk para penikmat film yang membeli tiket online melalui aplikasi MTix.


Menarik nih, menunggu terobosan digital berikutnya dari MTix. Sementara menunggu, saya enggak sabar mau pesan tiket nonton online, enggak lagi antri demi cari hiburan di bioskop.

Darurat Kabut Asap, Sesak Nafas Saat Terpapar di Palembang



Entah bagaimana bisa bertahan beraktivitas keseharian di kota dengan status udara buruk Darurat Kabut Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (kahutla). Saya tak berani untuk sekadar membayangkannya saja. Bayi dan anak, orangtua lansia, juga mereka yang memiliki riwayat penyakit pernafasan, entah apa jadinya. Ini nyata, cerita versi saya, terkena serangan asma mendadak sesak nafas, setelah terpapar asap di ruang terbuka sekitar 2-3 jam selagi bertugas urusan pekerjaan di Palembang. 

Ya! Palembang. Saya tidak sedang berada di Riau, Pekanbaru yang terkena dampak langsung Darurat Kabut Asap akibat kahutla. Kota Palembang terpapar kabut asap yang tak hanya membuat langitnya terlihat putih tanpa awan biru, tapi juga udara yang terhirup berbau tajam. Bahkan Kompas.com menuliskan status kualitas udara di Palembang masuk kategori bahaya. Status ini tercatat satu hari (15/9) setelah saya terkena serangan asma saat sedang bertugas di Palembang. 

Kondisi udara buruk sudah menjadi kekhawatiran warga setempat. Obrolan dengan beberapa pengemudi taksi memberikan saya banyak fakta, tentang bagaimana warga Palembang bertahan terpapar asap. Melihat teman-teman saya di Palembang sehat dan semangat beraktivitas, awalnya saya tidak melihat kekhawatiran bagaimana dampak kabut asap. Namun saya sempat sekadar bertanya ke teman saya, Nina, kenapa belum banyak yang pakai masker? Saya pun tidak memakai masker saat berada di ruang terbuka sekitar pukul 15:00 – 17:00 pada 13 September 2019. 

Sebenarnya tanda awal udara buruk sudah muncul saat penerbangan keberangkatan dari Soekarno-Hatta ke Palembang tertunda satu jam. Jarak pandang hanya 500 meter, kurang dari standar minimal 1000 meter untuk maskapai Citilink. Kabut asap jadi penyebab berkurangnya jarak pandang yang membuat penerbangan tertunda. 

Ketika akhirnya mendarat di Palembang, saya juga belum melihat tanda-tanda serius. Hanya saja cuaca memang terasa panas, lebih karena musim kemarau panjang, katanya. Pengemudi taksi yang saya tumpangi sempat membuka jendela mobil untuk mencontohkan kepada saya bau asap tajam. Saya tak punya kekhawatiran apa pun. Meski memang lelah belum tidur lantaran saya sengaja mengambil jam terbang paling pagi pukul 06:00 WIB. Semua berjalan normal-normal saja. 

Aktivitas saya di Palembang pun lebih banyak di dalam ruangan, dan atau di dalam kendaraan, semuanya ber-AC. Sampai pada waktunya saya bersama teman baik, Nina, menyempatkan ke ruang terbuka. Saya minta ditemani menelusuri river side dekat jembatan Ampera, mengambil foto dengan latar jembatan Ampera, lalu ke ikon Palembang terbaru ikan Belida, juga museum sultan Mahmud Badaruddin, setelah sebelumnya mampir berpose di depan tugu nol kilometer dan masjid agung. 




Saya hitung, sekitar 2-3 jam berada di ruang terbuka tanpa masker namun kacamata selalu saya pakai. Entah, saya tak ingin melepas kacamata saya. Selanjutnya saya kembali beraktivitas di dalam ruangan dan di hotel. Keesokan paginya pun dari hotel menuju venue event, saya menggunakan mobil nyaris tidak terpapar udara terbuka. Semua berjalan normal, baik-baik, fisik saya juga baik meski mungkin tidak terlalu fit karena lelah saja bukan karena sedang sakit. 

Selesai urusan pekerjaan, saya dan seorang rekan kerja, mbak Astri, makan siang di restoran dekat bandara, lagi-lagi di ruang tertutup ber-AC. Semua baik, bahkan kami lahap menikmati makan pindang Belida. Kami kenyang dan memang terasa mengantuk.

SHOCK SESAK NAFAS
Saya memutuskan berlama-lama di bandara pada 14 September 2019, sejak pukul 15:00 sampai jadwal penerbangan saya pukul 20:00, untuk (rencananya) bekerja. Namun yang terjadi justru tak pernah saya bayangkan, shock dan berusaha menenangkan diri, sampai saya pasrah. 

Sekitar pukul 15:30 saat saya dan rekan kerja menunggu waktu check in di ruang tunggu, tiba-tiba saya merasa kurang sehat. Rasanya seperti masuk angin terasa tak nyaman di punggung bagian tengah, saya mulai bersin, pilek, tiba-tiba hidung tersumbat. Terasa seperti masuk angin, saya coba atasi dengan minum jamu tolak angin cair. Biasanya badan terasa hangat dan agak baikan, namun kali ini gagal. Tiba-tiba terasa pilek dan hidung tersumbat, saya pamit ke rekan kerja untuk ke toilet membuang cairan seperti pilek. Namun di dalam toilet yang terasa adalah hidung makin tersumbat, saya sulit nafas. Kepala mulai berat dan pusing. Saya berjalan dari toilet sambil berpikir, saya harus ke klinik bandara. Sepanjang berjalan kaki, saya mulai bernafas dari mulut, sambil memastikan di mana lokasi poliklinik bandara dan meminta bantuan untuk informasikan ke rekan kerja saya kalau saya di klinik bandara. 

Sambil menjelaskan kondisi saya kepada petugas kesehatan klinik bandara, saya meminta pertolongan pertama, pemasangan oksigen. Setelah menjelaskan bahwa saya terkena sesak nafas, asma kambuh, saya memang punya riwayat asma namun sejak kecil sampai usia 38 tahun baru sekali (setahun lalu) saya terkena serangan dan mendapatkan perawatan nebulizer. Ini adalah kali kedua saya menerima perawatan oksigen dan nebu akibat serangan asma mendadak. Saat terapi nebu, dua kali saya muntah. Saya masih kesulitan bernafas dari hidung, sumbatan terasa sangat kuat. 

Saya bernafas dari mulut sampai akhirnya terapi nebu selesai, dan saya dirujuk ke UGD RS Myria, rumah sakit terdekat dari bandara untuk pengobatan lanjutan. Sebelum proses terapi oksigen dan nebu, petugas kesehatan memeriksakan detak jantung. Detak jantung per menit saya sempat melemah, dari 80 menjadi 97 setelah terapi nebu. Mata saya pun bengkak, ini salah satu ciri kalau saya terpapar debu. Mata saya sangat sensitif dan jika terinfeksi langsung membengkak. Namun ini hanya terjadi pada mata kanan saya. Bisa jadi kalau tidak melindungi dengan kacamata sebelumnya, bisa lebih parah dampaknya. 

Itu kronologisnya, namun yang saya rasakan sesungguhnya saat itu adalah PASRAH. Saya sudah menyerahkan urusan kepadaNYA. Sungguh serangan asma dengan sesak nafas tiba-tiba, dan saya ditemani rekan kerja dan petugas kesehatan, saat sedang di bandara, adalah situasi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Saya PASRAH, menenangkan diri sambil terapi obat lewat nebulizer. PASRAH sambil berdoa, apa pun yang terjadi saya serahkan sepenuhnya kepada Allah, sesak nafas saya, bagaimana saya jadinya saat sedang jauh dari keluarga. Barangkali terkesan drama, namun sungguh saya harus menenangkan diri dengan kondisi yang tak disangka, sesak nafas dengan serangan asma mendadak dan nyaris gagal terbang pulang. 



PERAWATAN IGD
Keterbatasan perawatan di klinik bandara membawa saya akhirnya ke IGD RS, rumah sakit terdekat yang jaraknya lebih dari 2 km dari bandara. Pertolongan teman blogger di Palembang, Bimo, atas perintah suami saya, memudahkan segalanya. 

Setelah sesak nafas teratasi dengan nebulizer di klinik bandara, saya menuju RS dengan taksi. Setibanya di rumah sakit, saya jelaskan kondisi dan situasinya. Dokter sigap menanggapi dan saya dirawat dengan suntik dexa, termasuk pemeriksaan jantung. 

Dokter Romi RS Myria menjelaskan gamblang kondisi saya. Dia menyatakan saya aman terbang dan asma telah teratasi. Dokter meresepkan obat dan memeriksakan ulang atas permintaan saya, untuk memastikan semua baik dan saya bisa terbang pulang. Dokter Romi berpesan, di Jakarta sebaiknya saya periksakan ulang ke dokter spesialis penyakit dalam. 

Semua urusan perawatan di IGD, saya tak berdaya tanpa bantuan Bimo yang mengurusnya, termasuk pengambilan obat. Selain saya masih pusing dan lemas, saya masih berusaha menenangkan diri dan tidak beranjak dari ranjang perawatan IGD di rumah sakit. Semua administrasi selesai dengan BPJS. Saya tidak mengeluarkan uang apa pun lagi kecuali biaya taksi dan gojek. 

Saya memilih naik gojek ke bandara untuk mengejar waktu. Boarding 19:40 sementara 18:30 saya masih di rumah sakit. Barang-barang saya yang dititip di klinik bandara masih harus dibereskan. Tiba di bandara dengan status sudah check in awal (sebelum ke rumah sakit saya menjelaskan ke petugas check in situasinya agar bisa check in lebih cepat). Saya akhirnya bisa naik pesawat dan terbang pulang. 

Dua hari di Jakarta setelah serangan asma mendadak di Palembang, masih menyisakan kekhawatiran. Saya jalankan saran dr Romi untuk mendatangi dokter spesialis penyakit dalam. Dengan keluhan sakit pinggang luar biasa dan terkadang masih susah bernafas, akhirnya dokter berikan terapi obat. Paru saya dinyatakan aman, bersih. Asma juga tidak ada masalah serius. Hanya maag yang kambuh menjadi pemicu lainnya. Saya tidak perlu jalani rontgen atau terapi lainnya, cukup terapi obat saja dan kontrol seminggu ke depan (jika ada keluhan).

DAYA TAHAN TUBUH Kejadian serangan asma mendadak di Palembang lantaran terpapar kabut asap menyisakan banyak pertanyaan di kepala saya. Kenapa terjadi begitu tiba-tiba? Apa yang terjadi dengan tubuh saya? Segitu lemahnya kah atau memang situasinya sudah memburuk? 

Sisi lainnya, saya bersyukur teman-teman di Palembang sehat kuat menghadapi kabut asap seperti itu. Sementara saya, seorang pendatang yang hanya terpapar 2-3 jam saja sudah terkena dampak udara buruk akibat kabut asap. Bisa jadi tubuh saya sedang tidak siap dengan kondisi kabut asap pekat. Seseorang dengan riwayat penyakit pernafasan bisa sangat berisiko berada di kondisi seperti Palembang saat itu. 

Sambil pemulihan didampingi suami di rumah, satu per satu pertanyaan saya terjawab dari pemberitaan media televisi. Status udara buruk akibat kabut asap memang makin meluas. Riau, Pekanbaru paling parah terkena dampak langsung akibat kebakaran hutan dan lahan. Lalu kota lain mulai terpapar kabut asap seperti Jambi, Palembang, bahkan laporan dari teman-teman komunitas blogger BCC Nusantara, paparan kabut asap terasa di Kalimantan Timur, Sumatera Barat juga terpapar asap. 

Saya tak sanggup membayangkan warga setempat bertahan dengan udara buruk. Saya hanya bisa berdoa untuk kesehatan dan keselamatan mereka. Namun, saya juga tak bisa diam. Mencari tahu bagaimana risiko kesehatan dan bagaimana menjaga daya tahan tubuh menjadi perhatian. Kemudian, satu tayangan berita TV tentang peliputan dampak kabut asap di Pekanbaru menjawabnya. 

Wawancara reporter TV dengan salah seorang dokter spesialis paru di Pekanbaru menjawab penasaran saya. Bagaimana risiko kesehatan efek kabut asap? Bagaimana pola makan dan pola aktivitas yang dianjurkan? Semata karena saya peduli dengan mereka yang tinggal di sana, tak pantas membandingkan dengan diri sendiri yang terkena paparan sebentar saja sudah nyaris tak bisa bernafas. 

Dokter spesialis paru di Pekanbaru menyampaikan beberapa catatan penting untuk warga yang terkena dampak dan atau terpapar kabut asap. Menurutnya, asap ini terdiri dari gas dan partikel. Kandungan gas dalam asap menjadi racun bagi saluran nafas yang merusak sistem pertahanan paru. Ini bisa menimbulkan banyak penyakit. Sesak hebat, batuk hebat, hingga penyakit paru. Air yang tercemar asap juga bisa menimbulkan diare. Jadi jika tanda infeksi mulai terlihat segera berobat ke dokter. Sebagai antisipasi lakukan beberapa hal ini untuk warga yang terpapar apalagi yang terkena dampak langsung kabut asap:
  1. Gunakan masker N95 bukan masker hijau biasa saja.
  2. Pastikan cukup istirahat jangan bergadang.
  3. Minum air putih minimal 8 gelas sehari, ini wajib, dengan kondisi udara buruk
  4. Terus jaga dan tingkatkan daya tahan tubuh dengan asupan baik, banyak buah dan jangan kurangi makan.
  5. Pastikan perputaran udara di rumah bagus, pasang terus kipas angin dan atau AC, pastikan sirkulasi udara baik.

KAHUTLA
Saya sebenarnya tak ingin banyak komentar (karena minim fakta dan data) soal KAHUTLA dan atau hubungannya dengan perusahaan SAWIT yang tidak menjalankan TATA KELOLA DENGAN BAIK. Hanya saja, jangan juga menutup mata bahwa kabut asap jelas dihasilkan dari pembakaran hutan untuk kebutuhan pembukaan lahan. Lingkaran setan membahas soal ini sebenarnya, para pihak akan merasa punya pembenaran. Saya sepakat SAWIT BAIK dan perusahaan SAWIT ada juga yang BAIK dan sudah terbukti menafkahi atau menjadi pencarian atau mensejahterakan banyak orang. Namun, melihat dari satu sisi saja takkan adil. Bahwa ada para pihak yang TIDAK MENJALANKAN TATA KELOLA PERUSAHAAN PERKEBUNAN SAWIT DENGAN BAIK, ini patut dikritisi.

Saya juga tak ingin terjebak dalam lingkaran para pihak yang hanya menyalahkan pemerintah. Saya tidak dalam posisi membela pemerintah juga. Buang energi mencari salah siapa. Lalu mencari pembenaran atas persepsi personal. Saya tak mau terjebak dalam lingkaran kebencian itu.

Saya menuliskan ini semata ingin bercerita, lihatlah dampak kabut asap ini. Saya yang hanya terpapar sebentar, bisa jadi karena SAYA LEMAH, jadi mudah terkena penyakit. Bagaimana dengan saudara kita di sana? Sungguh saya tak sanggup membayangkannya. Saya cuma berdoa semoga mereka lebih kuat dari saya. Namun, doa saya dijawab fakta berbeda. Saat saya menuliskan ini, satu berita muncul di layar TV, seorang bayi meninggal dunia karena sesak nafas di Banyuasin, Sumatera Selatan. Saya dan dia menjadi korban asap, di daerah yang terapar kabut asap. Saya masih diberikan kesempatan hidup, sementara bayi mungil itu, dia sudah kembali pulang kepada pemiliknya. 

KAHUTLA semoga segera teratasi. Mohon para pihak sigap mengatasi. Semoga tak menjadi ISU YANG DIGORENG TERUS MENERUS, sampai lupa, bahwa KITA BISA melakukan sesuatu untuk saudara sebangsa. Saya (saat menulis ini) masih menunggu respons dari inisiatif ini, apakah komunitas bisa bergerak bersama? Namun rasanya tak perlu menunggu lagi. Lakukan apa yang KITA BISA. DONASI dan atau lakukan penggalangan dana, lewat saluran yang bisa kita percaya, bantu sebisanya. BloggerCare mode on! Mau bergerak bersama saya?!