Menyikapi Penyakit


Jujur, saya masih belajar soal menyikapi apa pun yang datang dalam kehidupan saya pribadi. Perihal kehidupan orang lain, apa yang terjadi pada hidup orang lain, jika saya mendengarnya sengaja atau tidak sengaja, cukup jadi pembelajaran sambil berusaha tidak menghakimi. 

Jujur, batasan sombong manusia itu tipis sekali, ketika mengomentari sesuatu atau menyikapi sesuatu dengan menuliskannya atau membicarakannya, bisa terlihat kadar sombong manusia. Bisa sangat terukur apakah dia seakan maha tahu paling benar, baik tersirat maupun jelas tersurat. Jadi, sebisa mungkin tidak menghakimi dan atau hati-hati bicara, menulis, berkomentar, buat saya, penting!

Kenapa urusan berhati-hati dalam menyikapi sesuatu jadi sangat serius buat saya? Barangkali karena orientasi hidup saya berbeda. Begini rasanya kalau separuh jiwamu sudah pergi berpulang mendahuluimu, bertemu Allah SWT sang pencipta. Saya berusaha kuat dalam iman, meyakini saya tidak berhak marah dan sedih berlebihan dengan kepergian Dahayu, anak semata wayang. Saya berusaha kuat dalam iman meyakini, Dahayu milik Allah, anak itu titipan bukan? Ketika pemiliknya mengambilnya, apa hak saya untuk marah atau sedih tak berkesudahan? Apakah saya tidak sedih? Tentu sedih, pada waktunya, dan hanya saya dan suami yang paham rasanya dan kapan itu terjadi, tak perlu jadi konsumsi publik. 

Barangkali, karena saya yakini dalam iman, anak saya bersama Allah di surga, saya jadi punya orientasi baru, hidup untuk mendapat berkahNya, hidup sesuai apa yang disukainya (ini pun terus berusaha memaknai apa dan bagaimana cara mengetahui bahwa Allah suka dan ridha atas apa yang saya lakukan di bumiNYA). Hidup meninggalkan kebaikan dan hal baik, sebisa mungkin menghindari konflik dan permusuhan. Kalau pun saya dimusuhi, berusaha menerima dan memaafkan.  Berusaha sekuat iman untuk tidak marah dan bermusuhan, dan atau membenci yang membuat Allah marah dengan sikap saya yang tidak mencerminkan akhlak terbaik ajaran Nabi Muhammad. 

Seserius itu ya dalam bersikap? Iya. Saya ingin hidup berakhir husnul khotimah, dan itu butuh usaha. Berusaha tidak terbawa arus netizen yang kadang bikin amarah dan benci membuncah, berusaha sabar dan tidak berbawa arus post truth saat informasi banyak sekali terdistorsi. Berusaha kuat dalam iman tidak terjebak dalam debat kusir dan atau perselisihan asumsi dan perang persepsi di dunia maya, adalah cara-cara yang saya pilih dalam rangka mencapai ridhaNya, supaya Allah ridha atas saya, dan doa saya bertemu kesayangan di surga, dikabulkannya. Jadi saya pamrih? Sebisa mungkin semua dijalani ikhlas, namun rindu menggebu saya kepada anak yang pernah dititipkan, menjadi motivasi tersendiri. Coba berpikir baik, bahwa inilah cara Allah membalikkan hati, untuk saya terus berusaha sekuat iman berbuat baik dan atau berpikir baik atas apa pun yang terjadi dalam hidup saya. 




Sampai di sini, harusnya sudah jelas kenapa saya suka sekali menulis isi pikiran yang berusaha positif dan memaknai segalanya dengan mencari hikmah kebaikan dari apa pun yang saya jalani. Mungkin sebagian orang berpikir, saya sok suci atau berlagak baik positif. Sesuai nilai hidup saya, pikiran seperti itu saya abaikan. Terus berusaha berpikir baik atas apa pun persepsi orang. Saya percaya, tulisan yang dibuat dengan hati, punya roh dan semangatnya akan sampai kepada pembacanya. 

Saya cuma mau bilang, saya sedang melatih diri untuk selalu berpikir baik atas apa pun yang terjadi dalam hidup. Dengan begitu, saya hidup waras, setelah berpisah selamanya dengan anak semata wayang. 

Termasuk berpikir baik tentang penyakit. Sebelumnya saya pernah menulis Menyikapi Kematian. Bahwa kematian adalah bagian dari hidup dan sudah menjadi takdir yang harus diimani. Beruntung saya terpapar ilmu dari para guru yang membuat kehidupan beragama saya sangat menyenangkan. Setelah buku Nikmatnya Kematian oleh Prof Dr Quraish Shihab, saya terpapar ilmu Gus Baha dari Youtube yang juga menyikapi kematian dengan sangat ramah. Bahwa hidup dan mati sudah diurus diatur oleh Allah. Kita bisa hidup karena Allah. Lalu kita mati ya kenapa harus khawatir, semua sudah diatur dan diurus oleh Allah. Kenapa harus khawatir bagaimana keluarga nanti kalau kita mati? Lha wong hidup susah senang saja sudah diurus Allah kok, lha kalau kita mati, ada Allah yang akan mengatur segalanya untuk kita dan keluarga yang ditinggalkan. Sulit untuk memahaminya kalau tidak belajar konteks penuh. Intinya, mati itu pasti dan untuk apa khawatir mati? 

Lantas apa saya tidak takut mati? Saya takut mati kalau bekal saya belum cukup dan dosa saya belum sepenuhnya diampuni. Pun dengan ketakutan itu, saya berserah, kalau pun Allah tentukan saya mati, ya sudah, terima. Lha sudah mati kok, ya mau apa, tiada daya.  Serahkan segalanya kepada Allah yang Maha Tahu. 

Terkait mati, ada hubungannya dengan penyakit? Saya selalu meyakini meninggalnya Dahayu, anakku semata wayang, melalui sakit dan perawatan RS 6 hari, adalah cara Allah mengambil milikNya. Kalau tiba-tiba mati, mungkin saya akan lebih shock. Melalui penyakit dan sakit beberapa hari, yang sebenarnya terbilang tiba-tiba saja sakit, dan meninggal dengan proses yang sangat mengiris hati jika mengingatnya, ya memang sudah takdir dan jalan Allah demikian adanya, tiada daya. 

Sejak itu, saya melihat penyakit dengan perspektif berbeda. Penyakit (sama seperti musibah) bukan hukuman, tapi maknai dengan penggugur dosa. Yakini bahwa sakit dan penyakit yang datang itu, jika diterima dengan sabar, tiada daya, serahkan urusan kepadaNya sambil terus berusaha sembuh dengan perantara dokter dan obat, adalah bagian dari penggugur dosa. Keyakinan ini membuat hati saya senang pikiran tenang. Kenapa?


Saya sangat sadar diri, dosa masa lalu saya teramat banyak. Entah bagaimana cara mengetahui bahwa Allah sudah mengampuni. Berusaha sabar atas musibah, atas penyakit, atas masalah yang datang menghantam, berusaha memaaafkan orang yang menyakiti dan berusaha membangun relasi positif, semoga menjadi cara penghapusan dosa. 

Namun tentu saja, penyakit adalah peringatan bahwa ada sikap lalai dari manusia atas tubuhnya. Kurang baik dalam memelihara badan dan kesehatan. Kurang memberi hak tubuh untuk beristirahat, makan, dan ketidakmampuan mengelola stres yang menganggu pikiran sehingga akhirnya menggerogoti kesehatan fisik. Ini jelas peringatan untuk diperbaiki bukan disesali dan atau dijadikan penyesalan yang hanya akan memperburuk kondisi mental. Penyakit juga harus dipahami faktor risikonya, sekaligus jadi peringatan. Bahwa ada faktor eksternal yang menyebabkan penyakit itu datang menjadi ketentuanNya atas kita. Bisa karena genetik, bisa karena faktor risiko dari lingkungan yang tidak sehat dan ini semestinya menjadi perhatian bersama untuk hidup sehat secara komunal. Penyakit datang selain karena ketentuanNya, tentu banyak faktor risikonya. Kenali, pahami, dan perbaiki. Sekali lagi perbaiki, bukan untuk menyalahkan kondisi dan menyesalinya. 

Penyakit utamanya adalah ujian kesabaran. Kalau bersabar dengan penyakit yang ditentukan terjadi pada kita, bersabarlah. Menerima dan bersabar dengan prosesnya, dengan pengobatannya, dengan ikhtiar sembuh lewat perantara medis. Juga menjadi kesempatan istirahat dan menjalin lagi hubungan batin kepadaNya. 

Jadi, kalau ada yang mengaitkan penyakit sebagai "hukuman" atau "bayaran semesta" karena kesalahan yang diperbuat dalam urusannya dengan relasi manusia (padahal bisa jadi orang sakit itu sudah berbuat sebaiknya kepada sesama), karena kita bekerja dengan perhitungan dan atau tidak melakukan pekerjaan dengan dedikasi tinggi, ikhlas maksimal (padahal bisa jadi orang sakit itu sudah sangat maksimal yang akhirnya jadi sakit). Alihkan saja pikiran, bukankah penyakit juga ditentukan oleh Tuhan terjadi atas seseorang dengan banyak tujuan? Kalau ada pernyataan seperti ini, sikapi baik saja. Jangan menyalahkan diri sendiri karena sakit itu sendiri sudah butuh kekuatan sabar luar biasa menjalaninya, jangan tambahkan dengan menyalahkan atau menyesali diri. Ambil baiknya saja, agar tidak menjadi manusia sombong yang merasa sudah berbuat baik, sudah bekerja baik, tidak punya kesalahan, tidak punya dosa. 

Sakit dan penyakit sungguh membawa ujian kesabaran maha dahsyat. Belum lagi harus bersabar dengan penyakit dan pengobatannya. Orang sakit juga harus bersabar dengan banyak persepsi manusia lain yang menyertai, bahkan membaca, mendengar, bahkan menerima langsung pernyataan-pernyataan dan atau nasihat-nasihat, yang seakan menuduhkan kesalahan pada si sakit. 

Bersabar dalam sakit sungguh ujian kehidupan sebenarnya. Bersabar bukan hanya dengan penyakit dan pengobatannya, tapi bersabar dengan respons orang-orang yang kadang merasa paling benar dan ucapannya adalah yang paling tepat disampaikan, di hadapan orang sakit sekali pun. 

Empati boleh jadi makin mati. Namun tak perlu menyesali kondisi pun menyalahkan orang lain. Biarkan dan maklumi, jadikan respons manusia sebagai ujian sabar saat sakit. Ketika lolos dengan kesabaran maha dahsyat ini, semoga harapan Allah ridha atas kita, terkabul. Harapannya, berakhir dalam keadaan baik, berpikir baik, menerima dengan baik, kembali kepadaNya dengan cara baik. Bukankah itu makna husnul khotimah? Karena sakit dan penyakit, bisa saja menjadi jalan menuju Nya. Bagaimana menyikapi sakit dan penyakit, akan mementukan akhir perjalanan hidup kita. 

Jadi, terima kasih kepada siapa pun yang menguji kesabaran lewat perkataan. Melalui ucapan-ucapan dan sikap itulah, ujian kesabaran sakit menjadi semakin besar. Jika mampu melampaui, dengan keberserahan dan berpikir baik atas apa pun yang Allah datangkan kepada kita, semoga penyakit membawa faedah terbaik. 

Jika penyakit menjadi jalan menuju kematian, maka dengan bersabar dan berpikir baik atas ketentuan Allah atas kita lewat penyakit, apa pun itu, semoga doa husnul khotimah, dikabulkanNya. Berakhir baik lewat penyakit yang Tuhan berikan sebagai ketentuanNya, karena bersabar dan menyerahkan urusan dengan terus berusaha berpikir baik dan positif, serta berprasangka baik terhadap siapa pun termasuk kepada Allah yang menentukan seseorang sakit dengan apa pun penyakitnya, dan berakhir untuk berpulang lewat sakitnya. 

Jika sembuh, maka penyakit akan menjadikan kita manusia yang naik kelas lagi. Allah yang mengangkat penyakit sekaligus derajat si orang sakit, karena bersabar, berpikir dan berprasangka baik, serta menyerahkan segala urusan kepadaNya dengan tetap ikhtiar tentunya. 









Fitur Baru MTix Bikin Nonton Makin Nyaman

Penikmat film yang gemar nonton di bioskop pasti paham rasanya kehabisan tiket atau tempat duduk favorit. Apalagi saat berburu tiket nonton film favorit yang lagi hits. Rasanya seperti kecolongan lantaran kalah cepat dengan yang lainnya.

Cepat dapat tiket nonton, cepat pilih kursi kesayangan, jadi urusan penting. Supaya kesenangan cari hiburan di bioskop jadi enggak terganggu.

Konon katanya, urusan serba cepat dan praktis jadi ciri khasnya Gen Z, generasi yang lebih muda lagi setelah milenial. Tapi soal film, tak kenal usia, saya yang sudah super milenial pun butuh yang serba cepat dan praktis.

Saya dan pasangan hobi nonton film di bioskop. Nonton di Cinema XXI selalu masuk dalam daftar we time. Kami punya daftar Cinema XXI favorit dan bergantian mendatanginya untuk nonton film pilihan.

Pernah, saat mau nonton film yang memang sedang hits, kami kehabisan tiket di jam dan bioskop pilihan. Alhasil, kami harus menunggu lain hari dan akhirnya menonton di masa akhir tayang. Sejak itu, saya unduh aplikasi MTix supaya memudahkan jika lain kali mau pesan tiket dan enggak ketinggalan momen nonton film. Terbilang terlambat pakai aplikasi MTix sebenarnya, karena MTix sudah lahir sejak 2006.

Namun memang sejak mengunduh aplikasi MTix, saya belum banyak memanfaatkan layanan dan fiturnya. Nah inilah bedanya saya dengan Gen Z. Kalau Gen Z pastinya sudah autoklik segala fitur di MTix yang memudahkan pemesanan tiket nonton.

Faktanya, menurut Cinema XXI, pembelian tiket online trennya meningkat sampai dengan 2019. Transaksi tiket online Cinema XXI mencapai lebih dari 40 persen, dan naik dua kali lipat dibanding tahun lalu.

FITUR BARU MTIX

Fakta lain dan terbaru dari Cinema XXI yang saya dapati langsung dari sumbernya adalah dua fitur baru, yang bikin urusan nonton jadi makin praktis.

Pada 13 November 2019 di Jakarta, Cinema XXI meluncurkan dua fitur baru MTix yakni e-voucher dan pembelian F & B. Bertajuk Next Gen M-Tix To Infini-Z and Beyond, terasa sekali semangat muda XXI.

Lagi-lagi, Gen Z dan Milenal memang jadi sasaran utama. Maklum dua generasi ini paling banyak, mencapai lebih dari 60 persen penduduk Indonesia, lho. Tapi tetap saja sebagai generasi super milenial penikmat film dan penggemar nonton di bioskop,saya enggak mau ketinggalan.

Jadi, fitur baru MTix ini menambah lagi faktor kenyamanan pelanggan setia Cinema XXI. E-voucher menjadi bentuk benefit yang bikin hati senang. Gimana enggak? Banyak penawaran yang bikin hemat. Saya beruntung mendapatkan e-voucher. Salah satunya, e-voucher Gratis 2 Tiket Nonton hanya dengan satu kali transaksi di bioskop Cinema XXI mana saja.




Menurut Naning Yuliningtyas, Head of Promotion Cinema XXI, e-voucher juga akan memudahkan partner dalam memberikan loyalty program. Seperti Citibank dan BCA yang selama ini sudah bermitra memberikan benefit voucher nonton kepada pelanggan setianya, jadi lebih praktis dengan e-voucher, selain juga memudahkan karena ada notifikasi berkala untuk masa berlakunya. e-voucher juga jadi salah satu cara go green untuk para penikmat film seperti pengakuan Handoko Tjung.

Nah, fitur baru lainnya yang enggak kalah seru adalah pembelian F & B melalui MTix. Makin mudah, praktis, cepat karena semua sudah dipesan online melalui aplikasi MTix. Setelah pesan tiket bisa langsung pesan makanan minuman dan saat tiba di bioskop langsung ambil di pick up point. Secara bertahap layanan ini bisa didapati di 130 dari total 200 lokasi bioskop.

Apa lagi terobosan Cinema XXI? Menurut Dewinta Hutagaol Head of Corporate Communication Brand Management dengan merangkul teknologi digital, aplikasi MTix dengan fitur baru ini menjadi cara untuk merespons kebutuhan generasi milenial dan Gen Z.

Ke depannya akan ada poins redemption bekerja sama dengan rekanan potensial, melalui integrasi sistem Application Programming Interface. Ini akan jadi pengembangan MTix ke depan dan semakin banyak lagi benefit untuk para penikmat film yang membeli tiket online melalui aplikasi MTix.


Menarik nih, menunggu terobosan digital berikutnya dari MTix. Sementara menunggu, saya enggak sabar mau pesan tiket nonton online, enggak lagi antri demi cari hiburan di bioskop.

Darurat Kabut Asap, Sesak Nafas Saat Terpapar di Palembang



Entah bagaimana bisa bertahan beraktivitas keseharian di kota dengan status udara buruk Darurat Kabut Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (kahutla). Saya tak berani untuk sekadar membayangkannya saja. Bayi dan anak, orangtua lansia, juga mereka yang memiliki riwayat penyakit pernafasan, entah apa jadinya. Ini nyata, cerita versi saya, terkena serangan asma mendadak sesak nafas, setelah terpapar asap di ruang terbuka sekitar 2-3 jam selagi bertugas urusan pekerjaan di Palembang. 

Ya! Palembang. Saya tidak sedang berada di Riau, Pekanbaru yang terkena dampak langsung Darurat Kabut Asap akibat kahutla. Kota Palembang terpapar kabut asap yang tak hanya membuat langitnya terlihat putih tanpa awan biru, tapi juga udara yang terhirup berbau tajam. Bahkan Kompas.com menuliskan status kualitas udara di Palembang masuk kategori bahaya. Status ini tercatat satu hari (15/9) setelah saya terkena serangan asma saat sedang bertugas di Palembang. 

Kondisi udara buruk sudah menjadi kekhawatiran warga setempat. Obrolan dengan beberapa pengemudi taksi memberikan saya banyak fakta, tentang bagaimana warga Palembang bertahan terpapar asap. Melihat teman-teman saya di Palembang sehat dan semangat beraktivitas, awalnya saya tidak melihat kekhawatiran bagaimana dampak kabut asap. Namun saya sempat sekadar bertanya ke teman saya, Nina, kenapa belum banyak yang pakai masker? Saya pun tidak memakai masker saat berada di ruang terbuka sekitar pukul 15:00 – 17:00 pada 13 September 2019. 

Sebenarnya tanda awal udara buruk sudah muncul saat penerbangan keberangkatan dari Soekarno-Hatta ke Palembang tertunda satu jam. Jarak pandang hanya 500 meter, kurang dari standar minimal 1000 meter untuk maskapai Citilink. Kabut asap jadi penyebab berkurangnya jarak pandang yang membuat penerbangan tertunda. 

Ketika akhirnya mendarat di Palembang, saya juga belum melihat tanda-tanda serius. Hanya saja cuaca memang terasa panas, lebih karena musim kemarau panjang, katanya. Pengemudi taksi yang saya tumpangi sempat membuka jendela mobil untuk mencontohkan kepada saya bau asap tajam. Saya tak punya kekhawatiran apa pun. Meski memang lelah belum tidur lantaran saya sengaja mengambil jam terbang paling pagi pukul 06:00 WIB. Semua berjalan normal-normal saja. 

Aktivitas saya di Palembang pun lebih banyak di dalam ruangan, dan atau di dalam kendaraan, semuanya ber-AC. Sampai pada waktunya saya bersama teman baik, Nina, menyempatkan ke ruang terbuka. Saya minta ditemani menelusuri river side dekat jembatan Ampera, mengambil foto dengan latar jembatan Ampera, lalu ke ikon Palembang terbaru ikan Belida, juga museum sultan Mahmud Badaruddin, setelah sebelumnya mampir berpose di depan tugu nol kilometer dan masjid agung. 




Saya hitung, sekitar 2-3 jam berada di ruang terbuka tanpa masker namun kacamata selalu saya pakai. Entah, saya tak ingin melepas kacamata saya. Selanjutnya saya kembali beraktivitas di dalam ruangan dan di hotel. Keesokan paginya pun dari hotel menuju venue event, saya menggunakan mobil nyaris tidak terpapar udara terbuka. Semua berjalan normal, baik-baik, fisik saya juga baik meski mungkin tidak terlalu fit karena lelah saja bukan karena sedang sakit. 

Selesai urusan pekerjaan, saya dan seorang rekan kerja, mbak Astri, makan siang di restoran dekat bandara, lagi-lagi di ruang tertutup ber-AC. Semua baik, bahkan kami lahap menikmati makan pindang Belida. Kami kenyang dan memang terasa mengantuk.

SHOCK SESAK NAFAS
Saya memutuskan berlama-lama di bandara pada 14 September 2019, sejak pukul 15:00 sampai jadwal penerbangan saya pukul 20:00, untuk (rencananya) bekerja. Namun yang terjadi justru tak pernah saya bayangkan, shock dan berusaha menenangkan diri, sampai saya pasrah. 

Sekitar pukul 15:30 saat saya dan rekan kerja menunggu waktu check in di ruang tunggu, tiba-tiba saya merasa kurang sehat. Rasanya seperti masuk angin terasa tak nyaman di punggung bagian tengah, saya mulai bersin, pilek, tiba-tiba hidung tersumbat. Terasa seperti masuk angin, saya coba atasi dengan minum jamu tolak angin cair. Biasanya badan terasa hangat dan agak baikan, namun kali ini gagal. Tiba-tiba terasa pilek dan hidung tersumbat, saya pamit ke rekan kerja untuk ke toilet membuang cairan seperti pilek. Namun di dalam toilet yang terasa adalah hidung makin tersumbat, saya sulit nafas. Kepala mulai berat dan pusing. Saya berjalan dari toilet sambil berpikir, saya harus ke klinik bandara. Sepanjang berjalan kaki, saya mulai bernafas dari mulut, sambil memastikan di mana lokasi poliklinik bandara dan meminta bantuan untuk informasikan ke rekan kerja saya kalau saya di klinik bandara. 

Sambil menjelaskan kondisi saya kepada petugas kesehatan klinik bandara, saya meminta pertolongan pertama, pemasangan oksigen. Setelah menjelaskan bahwa saya terkena sesak nafas, asma kambuh, saya memang punya riwayat asma namun sejak kecil sampai usia 38 tahun baru sekali (setahun lalu) saya terkena serangan dan mendapatkan perawatan nebulizer. Ini adalah kali kedua saya menerima perawatan oksigen dan nebu akibat serangan asma mendadak. Saat terapi nebu, dua kali saya muntah. Saya masih kesulitan bernafas dari hidung, sumbatan terasa sangat kuat. 

Saya bernafas dari mulut sampai akhirnya terapi nebu selesai, dan saya dirujuk ke UGD RS Myria, rumah sakit terdekat dari bandara untuk pengobatan lanjutan. Sebelum proses terapi oksigen dan nebu, petugas kesehatan memeriksakan detak jantung. Detak jantung per menit saya sempat melemah, dari 80 menjadi 97 setelah terapi nebu. Mata saya pun bengkak, ini salah satu ciri kalau saya terpapar debu. Mata saya sangat sensitif dan jika terinfeksi langsung membengkak. Namun ini hanya terjadi pada mata kanan saya. Bisa jadi kalau tidak melindungi dengan kacamata sebelumnya, bisa lebih parah dampaknya. 

Itu kronologisnya, namun yang saya rasakan sesungguhnya saat itu adalah PASRAH. Saya sudah menyerahkan urusan kepadaNYA. Sungguh serangan asma dengan sesak nafas tiba-tiba, dan saya ditemani rekan kerja dan petugas kesehatan, saat sedang di bandara, adalah situasi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Saya PASRAH, menenangkan diri sambil terapi obat lewat nebulizer. PASRAH sambil berdoa, apa pun yang terjadi saya serahkan sepenuhnya kepada Allah, sesak nafas saya, bagaimana saya jadinya saat sedang jauh dari keluarga. Barangkali terkesan drama, namun sungguh saya harus menenangkan diri dengan kondisi yang tak disangka, sesak nafas dengan serangan asma mendadak dan nyaris gagal terbang pulang. 



PERAWATAN IGD
Keterbatasan perawatan di klinik bandara membawa saya akhirnya ke IGD RS, rumah sakit terdekat yang jaraknya lebih dari 2 km dari bandara. Pertolongan teman blogger di Palembang, Bimo, atas perintah suami saya, memudahkan segalanya. 

Setelah sesak nafas teratasi dengan nebulizer di klinik bandara, saya menuju RS dengan taksi. Setibanya di rumah sakit, saya jelaskan kondisi dan situasinya. Dokter sigap menanggapi dan saya dirawat dengan suntik dexa, termasuk pemeriksaan jantung. 

Dokter Romi RS Myria menjelaskan gamblang kondisi saya. Dia menyatakan saya aman terbang dan asma telah teratasi. Dokter meresepkan obat dan memeriksakan ulang atas permintaan saya, untuk memastikan semua baik dan saya bisa terbang pulang. Dokter Romi berpesan, di Jakarta sebaiknya saya periksakan ulang ke dokter spesialis penyakit dalam. 

Semua urusan perawatan di IGD, saya tak berdaya tanpa bantuan Bimo yang mengurusnya, termasuk pengambilan obat. Selain saya masih pusing dan lemas, saya masih berusaha menenangkan diri dan tidak beranjak dari ranjang perawatan IGD di rumah sakit. Semua administrasi selesai dengan BPJS. Saya tidak mengeluarkan uang apa pun lagi kecuali biaya taksi dan gojek. 

Saya memilih naik gojek ke bandara untuk mengejar waktu. Boarding 19:40 sementara 18:30 saya masih di rumah sakit. Barang-barang saya yang dititip di klinik bandara masih harus dibereskan. Tiba di bandara dengan status sudah check in awal (sebelum ke rumah sakit saya menjelaskan ke petugas check in situasinya agar bisa check in lebih cepat). Saya akhirnya bisa naik pesawat dan terbang pulang. 

Dua hari di Jakarta setelah serangan asma mendadak di Palembang, masih menyisakan kekhawatiran. Saya jalankan saran dr Romi untuk mendatangi dokter spesialis penyakit dalam. Dengan keluhan sakit pinggang luar biasa dan terkadang masih susah bernafas, akhirnya dokter berikan terapi obat. Paru saya dinyatakan aman, bersih. Asma juga tidak ada masalah serius. Hanya maag yang kambuh menjadi pemicu lainnya. Saya tidak perlu jalani rontgen atau terapi lainnya, cukup terapi obat saja dan kontrol seminggu ke depan (jika ada keluhan).

DAYA TAHAN TUBUH Kejadian serangan asma mendadak di Palembang lantaran terpapar kabut asap menyisakan banyak pertanyaan di kepala saya. Kenapa terjadi begitu tiba-tiba? Apa yang terjadi dengan tubuh saya? Segitu lemahnya kah atau memang situasinya sudah memburuk? 

Sisi lainnya, saya bersyukur teman-teman di Palembang sehat kuat menghadapi kabut asap seperti itu. Sementara saya, seorang pendatang yang hanya terpapar 2-3 jam saja sudah terkena dampak udara buruk akibat kabut asap. Bisa jadi tubuh saya sedang tidak siap dengan kondisi kabut asap pekat. Seseorang dengan riwayat penyakit pernafasan bisa sangat berisiko berada di kondisi seperti Palembang saat itu. 

Sambil pemulihan didampingi suami di rumah, satu per satu pertanyaan saya terjawab dari pemberitaan media televisi. Status udara buruk akibat kabut asap memang makin meluas. Riau, Pekanbaru paling parah terkena dampak langsung akibat kebakaran hutan dan lahan. Lalu kota lain mulai terpapar kabut asap seperti Jambi, Palembang, bahkan laporan dari teman-teman komunitas blogger BCC Nusantara, paparan kabut asap terasa di Kalimantan Timur, Sumatera Barat juga terpapar asap. 

Saya tak sanggup membayangkan warga setempat bertahan dengan udara buruk. Saya hanya bisa berdoa untuk kesehatan dan keselamatan mereka. Namun, saya juga tak bisa diam. Mencari tahu bagaimana risiko kesehatan dan bagaimana menjaga daya tahan tubuh menjadi perhatian. Kemudian, satu tayangan berita TV tentang peliputan dampak kabut asap di Pekanbaru menjawabnya. 

Wawancara reporter TV dengan salah seorang dokter spesialis paru di Pekanbaru menjawab penasaran saya. Bagaimana risiko kesehatan efek kabut asap? Bagaimana pola makan dan pola aktivitas yang dianjurkan? Semata karena saya peduli dengan mereka yang tinggal di sana, tak pantas membandingkan dengan diri sendiri yang terkena paparan sebentar saja sudah nyaris tak bisa bernafas. 

Dokter spesialis paru di Pekanbaru menyampaikan beberapa catatan penting untuk warga yang terkena dampak dan atau terpapar kabut asap. Menurutnya, asap ini terdiri dari gas dan partikel. Kandungan gas dalam asap menjadi racun bagi saluran nafas yang merusak sistem pertahanan paru. Ini bisa menimbulkan banyak penyakit. Sesak hebat, batuk hebat, hingga penyakit paru. Air yang tercemar asap juga bisa menimbulkan diare. Jadi jika tanda infeksi mulai terlihat segera berobat ke dokter. Sebagai antisipasi lakukan beberapa hal ini untuk warga yang terpapar apalagi yang terkena dampak langsung kabut asap:
  1. Gunakan masker N95 bukan masker hijau biasa saja.
  2. Pastikan cukup istirahat jangan bergadang.
  3. Minum air putih minimal 8 gelas sehari, ini wajib, dengan kondisi udara buruk
  4. Terus jaga dan tingkatkan daya tahan tubuh dengan asupan baik, banyak buah dan jangan kurangi makan.
  5. Pastikan perputaran udara di rumah bagus, pasang terus kipas angin dan atau AC, pastikan sirkulasi udara baik.

KAHUTLA
Saya sebenarnya tak ingin banyak komentar (karena minim fakta dan data) soal KAHUTLA dan atau hubungannya dengan perusahaan SAWIT yang tidak menjalankan TATA KELOLA DENGAN BAIK. Hanya saja, jangan juga menutup mata bahwa kabut asap jelas dihasilkan dari pembakaran hutan untuk kebutuhan pembukaan lahan. Lingkaran setan membahas soal ini sebenarnya, para pihak akan merasa punya pembenaran. Saya sepakat SAWIT BAIK dan perusahaan SAWIT ada juga yang BAIK dan sudah terbukti menafkahi atau menjadi pencarian atau mensejahterakan banyak orang. Namun, melihat dari satu sisi saja takkan adil. Bahwa ada para pihak yang TIDAK MENJALANKAN TATA KELOLA PERUSAHAAN PERKEBUNAN SAWIT DENGAN BAIK, ini patut dikritisi.

Saya juga tak ingin terjebak dalam lingkaran para pihak yang hanya menyalahkan pemerintah. Saya tidak dalam posisi membela pemerintah juga. Buang energi mencari salah siapa. Lalu mencari pembenaran atas persepsi personal. Saya tak mau terjebak dalam lingkaran kebencian itu.

Saya menuliskan ini semata ingin bercerita, lihatlah dampak kabut asap ini. Saya yang hanya terpapar sebentar, bisa jadi karena SAYA LEMAH, jadi mudah terkena penyakit. Bagaimana dengan saudara kita di sana? Sungguh saya tak sanggup membayangkannya. Saya cuma berdoa semoga mereka lebih kuat dari saya. Namun, doa saya dijawab fakta berbeda. Saat saya menuliskan ini, satu berita muncul di layar TV, seorang bayi meninggal dunia karena sesak nafas di Banyuasin, Sumatera Selatan. Saya dan dia menjadi korban asap, di daerah yang terapar kabut asap. Saya masih diberikan kesempatan hidup, sementara bayi mungil itu, dia sudah kembali pulang kepada pemiliknya. 

KAHUTLA semoga segera teratasi. Mohon para pihak sigap mengatasi. Semoga tak menjadi ISU YANG DIGORENG TERUS MENERUS, sampai lupa, bahwa KITA BISA melakukan sesuatu untuk saudara sebangsa. Saya (saat menulis ini) masih menunggu respons dari inisiatif ini, apakah komunitas bisa bergerak bersama? Namun rasanya tak perlu menunggu lagi. Lakukan apa yang KITA BISA. DONASI dan atau lakukan penggalangan dana, lewat saluran yang bisa kita percaya, bantu sebisanya. BloggerCare mode on! Mau bergerak bersama saya?!






Cari Solusi Finansial di 6 Booth Astra Financial GIIAS 2019

BOOTH ASTRA FINANCIAL GIIAS 2019 

Siapa punya tujuan finansial? Rencana sah saja tapi bagaimana mencapainya itu yang selalu jadi pertanyaan berikutnya. Solusi finansial seperti apa yang paling memudahkan dan sama-sama bikin nyaman? Mesti tambah wawasan biar enggak kudet (kurang update) untuk menjawabnya. Salah satu caranya bisa datang tambah literasi finansial pameran Astra Financial di 6 booth yang tersebar di pameran otomotif kenamaan, Gaikindo Indonesia International Auto Show atau GIIAS 2019 di ICE BSD City 18 -28 Juli 2019. 

Soal perencanaan dan solusi keuangan saya jadi ingat kelas literasi finansial yang pernah saya ikuti saat menjadi karyawan korporasi 2008 silam. Financial coach ternama saat itu meminta setiap peserta menuliskan 10 list tujuan finansial dalam jangka pendek hingga panjang. Tujuan menuliskan daftar tujuan finansial ini saya yakini sebagai cara memanggil semesta membantu kita mewujudkannya. Tentu saja dengan banyak cara ikhtiar maksimal lewat bekerja atau berbisnis. 

Benar saja, dari daftar tujuan finansial itu, dalam lima tahun sebagian tercapai. Salah satu daftarnya adalah memiliki rumah. Saya dan suami akhirnya bisa memenuhinya pada tahun 2012. Kemudian beli mobil baru, ternyata bisa terpenuhi pada 2016. Saya dan suami tidak punya cukup uang apalagi tabungan untuk membeli semuanya secara tunai. Solusi keuangan yang paling nyaman menurut kami adalah dengan kredit mobil murah. 

Khusus untuk mobil, kami memilih membeli sesuai kemampuan, kredit mobil Toyota Agya melalui pembiayaan TAF. Sisa setahun lagi kami membayar cicilan mobil kesayangan dan mobil pertama di keluarga saya. Bagi saya dan suami selama memudahkan dan sama-sama senang, semuanya jadi nyaman. Meski tak selalu mudah dalam membayar cicilan namun semua masih dalam kendali. Bayangkan, dengan solusi keuangan dengan kemudahan ini, saya dan suami bisa sangat produktif mencari nafkah dengan kendaraan kami. 

Solusi finansial lain yang juga memudahkan dan melegakan hati adalah asuransi mobil. Sejak awal membeli mobil dengan kredit kami masukkan item asuransi Garda Oto. Satu hal yang saya pikirkan adalah mobilitas kami sangat tinggi. Jalan raya bisa sangat ramah pun sebaliknya, kejam dan ketika datang waktunya keberuntungan sedang menjauh, apa saja bisa terjadi. Benar saja, sekian tahun berkendara baru sekali akhirnya di tahun 2019, mobil kesayangan yang kami sebut SI AYANG DAYU, ditabrak. Asuransi Garda Oto memudahkan klaim dan mobil yang remuk bagian depan ditangani baik keluar bengkel Auto 2000 jadi lebih cantik. 

6 BOOTH ASTRA FINANCIAL GIIAS 2019 
Pengalaman saya itu membuat saya jadi makin yakin kalau perencanaan dan solusi finansial sungguh membantu. Nah berhubung perkembangan solusi finansial juga ikuti era digital, mesti update terus informasinya. Ini dia yang bikin penasaran dengan booth Astra Financial di GIIAS 2019. 

Opening booth Astra Financial GIIAS 2019 ICE BSD CITY 


Astra Financial sudah dua tahun menjadi sponsor utama GIIAS. Hari pertama GIIAS 2019, Astra Financial meresmikan booth dengan acara meriah bersama MC Dian Sastro. Seluruh jajaran direktur hadir bahkan dibuka secara resmi oleh Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso. Turut hadir dalam pembukaan booth Astra Financial GIIAS 2019, Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto, Wakil Presiden Direktur Astra International Tbk Djony Bunarto Tjondro, Direktur PT Astra International Tbk Suparno Djasmin, juga hadir enam presiden direktur lembaga jasa keuangan (LJK) Astra Financial yang mendukung penuh event GIIAS 2019 ini, yaitu Ridha DM Wirakusumah - Presiden Direktur PermataBank; Siswadi - Chief Executive Officer (CEO) ACC; Margono Tanuwijaya – CEO FIFGROUP; Agus Prayitno - Presiden Direktur TAF; Rudy Chen – CEO Asuransi Astra; Auddie Wiranata - Presiden Direktur Astra Life. 

Jajaran Direktur Astra Financial 


Dalam sambutannya, Director in Charge Astra Financial Suparno Djasmin, mengatakan solusi finansial Astra Financial terutama di booth GIIAS serba digital. Bukan hanya games digital berhadiah menarik sepanjang GIIAS 2019 di main booth Astra Financial Hall 2, tapi juga layanan solusi finansial Astra Financial serba digital dengan aplikasi. 

Tak kenal maka tak sayang, Astra Financial merupakan Divisi Jasa Keuangan PT. Astra International Tbk dengan misi to be partner for Indonesian prosperity. Saat ini Astra Financial memiliki beragam lembaga jasa keuangan di bidang: Pembiayaan Otomotif, Pembiayaan Alat Berat, Perbankan, Asuransi Umum, Asuransi Jiwa, Modal Ventura, Dana Pensiun, dan Teknologi Keuangan.

Astra Financial terdiri dari 11 lembaga jasa keuangan: PermataBank, Astra Credit Companies (ACC), Federal International Finance (FIFGROUP), Toyota Astra Finance (TAF) , Surya Artha Nusantara Finance, Komatsu Astra Finance, Asuransi Astra (asuransi umum), Astra Life (asuransi jiwa), Astra Ventura, Astra Welab Digital Arta dan Dana Pensiun Astra.

Masih ada waktu untuk mencari solusi finansial di GIIAS 2019 apalagi pameran mobil baru ini memberikan banyak penawaran seru. Datang saja ke 6 booth Astra Financial yang tersebar di GIIAS 2019. Berburu kemudahan solusi pembiayaan, perbankan dan asuransi, siapa tahu ada penawaran Cicilan 0% dan Kredit mobil 0% juga. 

INI DIA PENAWARAN KHUSUS GIIAS dari ASTRA FINANCIAL: 




Hall 2 GIIAS: Main Booth Astra Financial
Banyak permainan seru di main booth Astra Financial di GIIAS 2019. Bagi yang beruntung bisa mendapatkan merchandise eksklusif dari Astra Financial. 

Menariknya lagi, Astra Financial di GIIAS 2019 bikin kegiatan seru I Care, I Share di main booth Astra Financial di GIIAS. Putra bungsu Presiden RI, Kaesang sudah ikutan loh “menulis” financial goals lewat games digital. Dari setiap goal yang pemain sampaikan akan dikonversikan dalam bentuk donasi untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat Tangerang.

Nusantara Hall GIIAS: Booth ACC dan TAF Nah selama GIIAS 2019, TAF dan ACC berikan program Bunga Spesial mulai dari 0% (Khusus tenor 1 tahun, DP 25% ADDM – Angsuran-Pertama dibayar di muka) dan hadiah langsung (iPhone XS, Apple Watch, Car Trunk) untuk setiap SPK Kendaraan. Potongan Rp 1 juta Biaya Admin juga tersedia. 

ACC sudah berpengalaman dalam layanan pembiayaan otomotif (mobil baru dan bekas) sejak 1982, dengan 75 kantor cabang di Indonesia. Sedangkan TAF melayani kredit mobil sejak 2006. Bagi yang mau beli mobil Toyota, Daihatsu dan Lexus, pembiayaan investasi dan modal kerja, bisa cari informasinya di booth TAF atau di 36 kantor cabangnya.

Hall 9 GIIAS: Booth FIFGROUP Di GIIAS, buat yang mau kredit motor, datang aja ke booth FIFGROUP. Selama GIIAS 2019, ada program Bunga 0% (tenor setahun) dan DP mulai dari 20% (berlaku hanya untuk Vario dan Beat Series) serta hemat angsuran hingga Rp 3,5 juta. Pengajuan Big Bike (melalui FIF) juga bisa dapatkan hadiah langsung iPhone XS, Apple Watch, dan hadiah lainnya. Lucky Draw Helm & Jaket keren ada di booth FIFGROUP.


Hall 7 GIIAS: Booth PermataBank Permata Tabungan Bebas
• Cashback 10% hingga Rp 500,000 per bulan
• Cashback 100% untuk transaksi pertama
• Gratis Tarik tunai di semua ATM Bank mana saja

Astra World PermataCard
• Cashback 10% di SPBU
• Cashback hingga Rp 500rb untuk aplikasi yang disetujui dan telah bertransaksi

Hall 10 GIIAS: Booth Asuransi Astra Gratis Gift Set untuk 150 pembeli tunai pertama asuransi komprehensif Garda Oto. Sebagai informasi, produk Asuransi Astra meliputi Garda Oto, Garda Motor, Garda Medika, HappyOne.id, asuransi komersil dan syariah.


Hall 2 GIIAS: Booth Astra Life Astra Life yang hadirkan Hamish Daud di GIIAS 2019 berikan special cash back program untuk pembelian asuransi jiwa individu, dan perlindungan jiwa untuk kredit kendaraan khusus nasabah TAF dan ACC. Special Cashback dan Customer rewards untuk pembelian produk Asuransi Jiwa.





Penasaran sama hadiah dan penawaran khusus sepanjang GIIAS? Intip infonya di Instagram Astra Financial karena siapa tahu kamu jadi pemenang harian yang selfie di main booth. Kalau selfie dan posting di Instagram jangan lupa hashtagnya ya.
#SenyumAstraFinancial
#AstraFinancial
#GIIASJAKARTA
#GIIAS2019

Pengalaman Paylater GOJEK Pinjol Darurat 100K


Ilustrasi Paylater Gojek by @wawaraji


Sebagai pengguna aplikasi GOJEK, kamu udah pernah pengalaman pakai paylater GOJEK belum? Atau belum tahu? Harusnya sih udah ya karena iklannya beredar kok.
Nah ini pengalaman paylater Gojek versi saya. Bisa dibilang paylater Gojek itu fitur yang terbilang baru. Pilihan payment yang biasanya hanya CASH atau GOPAY sekarang bertambah satu dengan PAYLATER. 

Bagi saya, PAYLATER GOJEK ini semacam pinjaman online atau pinjol dari GOJEK yang sebaiknya hanya dipakai dalam keadaan darurat, untuk user yang punya reputasi baik dalam urusan pinjam meminjam atau bukan penunggak. Kalau enggak begitu, fitur yang sebenarnya bisa memudahkan dalam keadaan terdesak ini bisa jadi membahayakan atau bahkan bumerang buat user atau Gojek sendiri. 

Meskipun power Gojek masih sangat kuat. Kalau ada penunggak yang enggak melakukan REPAYMENT, bisa aja Gojek tarik otomatis dari Gopay atau cara lainnya demi menagih si pengguna paylater. Eh tapi tenang, Paylater Gojek ini sudah terdaftar di OJK, jadi aman. 


Meski saya sudah melihat iklan televisi fitur paylater GOJEK ini sebelumnya, saya tidak berminat menggunakan. Sampai akhirnya datanglah situasi urgensi membuat saya punya pengalaman paylater Gojek.

Jadi ceritanya, suatu pagi hari saat saya harus mengurus event, berangkat sendirian dari rumah membawa dua tas besar untuk konsumsi peserta event, tanpa kendaraan pribadi menuju lokasi acara di BSD City. Bisa dibilang lumayan ribet sendiri dengan bawaan dan sambil harus tektokan memikirkan juga teknis pelaksanaan event. Sebenarnya semua sudah dipersiapkan sejak H-1 jadi bisa dikatakan cukup well-prepared.

Saya sudah merencanakan akan pesan Go Car untuk perjalanan 45 menit dari rumah ke Ice BSD City. Rencananya saya akan bayar cash saja layanan Go Car ini karena saldo Gopay nol. Lalu saat lihat isi dompet, jumlahnya terbatas, sementara saya sudah perhitungkan untuk tol dan jaga-jaga keperluan cash mendadak saat event. Berhubung berkejaran waktu, tak sempat ke ATM, mobile banking juga masih bermasalah gagal terus mau aktifkan (enggak usah tanya banknya apa yaaa), saya inginnya sayang-sayang uang cash untuk keperluan mendadak nanti.

Nah, saat buka aplikasi GOJEK ketemu lah dengan fitur payment paylater. Penasaran saya klik fitur itu dan transaksi pun berjalan. Saya bisa pesan Go Car, dengan ada saldo (balance) tertera 100K untuk paylater saya. Saat tertera ongkos kendaraan Rp 59K, saat perjalanan selesai, saldo paylater 100K berkurang menjadi sisa Rp 41K.  

Saya pikir ini jadi semacam pinjol 100K untuk saya dari GOJEK. Saya pikir oke juga untuk keperluan mendadak dan perlu sekali dicatat, HANYA DIPAKAI SAAT MEMANG URGENT dan punya kesanggupan bayar di belakang. 

Jadi, kalau pengalaman saya, nilai transaksi yang bisa saya lakukan hanya dengan saldo paylater maksimal 100K. Misalnya, kamu mau beli pulsa 100 ribu dengan GO-PULSA menggunakan fitur Paylater. Ini tidak akan bisa transaksi karena pembelian pulsa total 101.000 (termasuk biaya administrasi). Paling tidak kamu hanya beli pulsa 50K saja. Kebayang kan ya? 

Oya, kalau kasus saya, khusus untuk pemakaian Juli, transaksi dengan paylater maksimal saldo 100K ini tanpa dikenakan fee. Entah kalau pemakaian bulan lain ya dan apakah saldo akan bertambah atau tidak. Dari cerita beberapa teman sih saldo paylater di aplikasi Gojek ini berbeda setiap akunnya. Entah bagaimana pengaturannya oleh Gojek. Ada bagusnya kalau saya hanya mendapatkan saldo paylater Rp 100.000, supaya tidak tergiur juga beli ini itu dengan penundaan pembayaran. 

Saya pernah sekilas membaca, fitur paylater ini berlaku dalam sebulan. Dalam pemahaman saya, artinya dalam sebulan harus diselesaikan pembayaran "pinjol" tersebut. Kalau kasus saya sih, uang Rp59K yang harusnya untuk bayar GO CAR, jadi saya gunakan untuk urusan lain yang memang hanya bisa pakai cash. Event lancar, pulang malam dengan tenang karena semua beres, dan istirahat. Lalu esok harinya, pagi saya ke ATM isi GO PAY, langsung saja transaksi REPAYMENT pinjol saya, dan tuntas sudah utang ke GOJEK yang memudahkan di situasi darurat.





Pikir saya, fitur paylater ini memudahkan sekali untuk kondisi darurat. Apalagi sekarang semua serba cashless, kalau pas saldo gopay lagi kosong, waktu tak cukup untuk ke ATM, atau terkendala pakai mobile banking untuk transfer uang, paylater jadi solusi menurut saya. 

Urusan yang paling tinggi urgensinya dan bisa tertolong dengan paylater adalah transportasi, pulsa, listrik (bagi rumah tangga). Hanya saja penggunaan paylater ini juga enggak semestinya dijadikan alasan berutang.

Hati-hati juga segala kemudahan berkat teknologi jadi bikin mempermudah berutang, dan jangan sampai terlilit utang ya. Bayar dengan klik REPAYMENT dengan cukup mengisi saldo Gopay. Ingat! jangan jadi alasan berutang yaa.