Mini Camper Pemula Safari Nusantara Duoraji

mini camper SND puncak halimun
Mini Camper SND di Puncak Halimun


Pandemi COVID-19 benar-benar mengubah banyak sisi hidup saya dan pasangan, sebut kami Duoraji. Hampir dua tahun sudah, pandemi menghantam warga dunia, tanpa kecuali. Jadi kalau soal adaptasi kebiasaan baru, hantaman lahir batin kesehatan dan ekonomi, perubahan kebiasaan besar-besaran baik yang dampaknya positif maupun negatif, kita tidak ada bedanya, meski mungkin tingkatannya enggak selalu sama.

Sesusahnya kita, masih banyak yang lebih susah, semudahnya pun kita hidup tanpa banyak drama di pandemi ini, masih ada langit di atas langit, mungkin masih banyak juga yang hidupnya terasa normal tanpa beban berarti di pandemi ini. Apa pun itu, pelajaran penting dari pandemi adalah, merasa cukup dan fokus pada rasa syukur masih bisa hidup serta menikmati sisa hidup sampai detik ini.

Jauh sebelum akhirnya Duoraji kebagian giliran terkonfirmasi positif COVID-19 pada pertengahan Juli 2021, jauh sebelum kami nonton film biopic penerang jiwa yang bikin nangis parah "Clouds", tepatnya sejak anak semata wayang kami meninggal dunia di usia balita, kami melanjutkan anugerah hidup dengan berusaha menelusuri jalan kewarasan jiwa, merdeka jiwa, menikmati hidup dengan apa pun kondisi yang semesta gariskan untuk Duoraji. Semakin menjadi di masa pandemi, terutama setelah akhirnya kami yang sudah vaksin COVID-19 dua kali suntik dan taat prokes bahkan jadi satgas keluarga serta komunitas, pada akhirnya menepi memberi jeda untuk diri, isolasi 14 hari dengan coronavirus bersarang di tubuh kami.

Kami selamat, gejala ringan, isoman aman, sembuh, terkonfirmasi secara medis kondisi fisik saya dalam status aman. Hidup pasca COVID-19 seperti diingatkan lagi jalan terang dalam kesunyian, dengan diberikan ketenangan, kenikmatan, dan lebih menikmati kehidupan, yang mungkin berbeda jalan dengan orang kebanyakan.

mini camper SND parkir masjid Attaawun Puncak
Mini Camper SND Parkir Masjid Attaawun Puncak Jawa Barat, Indonesia 



Pengalaman batin ini menjadi pemantik kenapa akhirnya Safari Nusantara Duoraji dengan mini camper Ayang Dayu (Agya Kesayangan Dahayu), terwujud tepat 17 Agustus 2021. Inilah cara Duoraji merdeka jiwa, ikhtiar waras lahir batin, menikmati hidup tanpa harus menunggu sekarat untuk memerdekakan jiwa, dengan kondisi apa pun segala kekurangannya, kesehatan dan ekonomi. Kami ingin bahagia tanpa beban standar hidup orang lain.

Duoraji menemukan bahagia dari Mini Camper bersama Ayang Dayu, mencari parkiran di perbukitan, lembah, atau tepian sungai. Cukup lima hari dalam sebulan menyediakan waktu bersafari, menikmati udara segar di 1-2 destinasi mensyukuri hidup di alam Indonesia Raya. Seperti SND Hari ke-1 sd 5 bersafari di tiga titik di Bogor Jawa Barat: Parkir Masjid Attaawun Puncak, Tumbuhejo, Puncak Halimun. Berlanjut SND Hari ke-6 sd 7 di Cibuluh, Bogor, Jawa Barat Indonesia.

Jika tiba waktunya nanti, tunggu Duoraji di kota lain, bersafari menelusuri Wonderland Indonesia. Menunggu waktu dan segalanya lebih stabil di masa pandemi atau sudah menjadi endemi kah? Impian berkendara keliling nusantara sudah tersimpan lama dengan rapi di benak kami, hanya saja belum berani mewujudkannya. Pandemi memang mengubah segalanya, apalagi bagi penyintas COVID-19 yang punya pengalaman batin tersendiri. Bisa hidup sehat itu anugerah, dan mungkin sudah waktunya kini, bertahap merajut silaturahmi  melalui mini camper. 

Sebutlah kami mini camper pemula karena memang mengawali segalanya dari satu modal utama, mobil pribadi dengan pengendara sang juara ya suami tercinta. Tanpa perencanaan terlalu seksama seperti yang selalu saya lakukan setiap kali akan melakukan sesuatu, mini camper SND berjalan apa adanya, instan dan tanpa banyak pertimbangan. Lakukan saja dengan apa yang kami punya. Justru dari perjalanan lima hari pertama, kami mulai merinci kebutuhan dengan segala kekurangan yang sebenarnya enggak terlalu mendesak. Artinya, jika pun segala keperluan itu belum bisa terpenuhi, SND tetap akan berjalan normal saja hanya memang belum ideal. Tanpa membebani diri apalagi berambisi, kami menikmati saja semesta bekerja. Begitulah kalau melakukan sesuatu dengan bahagia dan tenang-tenang saja, semesta menunjukkan keajaibannya. Setelah 40 hari, Satto menyiapkan alas kasur dari kayu packaging mesin kopi, pemberian teman baik di kedai kopi langganan, thanks mas Acho! Berlanjut merapikan mobil dan segala perlengkapan yang dibutuhkan. Kurang dari 2 bulan (40 hari ditambah beberapa hari berikutnya) berbagai wish list mini camper, ajaibnya, terpenuhi. SND punya tenda, dua kursi lipat, flysheet, carrier, nesting, sampai gorden yang meskipun belum terpasang setidaknya sudah siap menutupi jendela mobil demi privasi saat tidur di dalam mobil saat camping. Saat ini SND sedang melengkapi roofrack supaya penataan barang di dalam mobil dalam posisi berkendara, lebih nyaman dan aman. Semoga semesta merestui. 


Mini Camper SND Tumbuhejo Sentul Bogor, Jawa Barat, Indonesia 

mini camper SND puncak halimun



Sempat terpikir oleh kami, bisa jadi mini camper ini masa percobaan untuk campervanlife hidup masa depan Duoraji. Keinginan memiliki rumah mini konsep RISHA masih ada, dan mungkin akan berwujud bentuknya berdiri di lahan milik orangtua. Entahlah, pasangan yang belum punya anak (lagi) setelah 3 kehamilan yang sudah berlalu, menemukan bahagia bersafari, tanpa batas ruang dan waktu, memelihara hubungan dengan alam raya, berkenalan dengan orang baru tempat kami singgah sementara. Bukankah hidup memang hanya persinggahan saja?

Menjadi berbeda memang tak selalu mudah, namun kami menemukan tenang bahagia karenanya. Hidup bukan soal membandingkan diri, saling mendahului, apalagi menetapkan standar orang lain ke diri sendiri. Mungkin ini pesan semesta yang sedang diberikan kepada Duoraji melalui SND. 

Nanti lagi, lanjut cerita 4 titik destinasi SND dalam 7 hari. Bersiap untuk nanti melanjutkan safari menambah jumlah hari perjalanan Duoraji. Selamat menikmati sisa hari, jangan lupa seruput kopi atau teh. 




Menjadi Guru Virtual di Tengah Pandemi




Hari ini, Jumat 23 September 2021, istimewa dan membuat hati bahagia. Jiwa terisi penuh seakan semesta memberi tiada henti, apa yang saya cita-citakan dan usahakan dengan segala ikhtiar lahir batin. Selesai sudah tugas dua hari, mentoring 3 kelas 4-6, lebih dari 200 siswa SD Embun Pagi Islamic School. Kelas menulis Jurnal Pribadi dalam Festival Literasi. Semesta raya menjawab ucapan baik semasa kecil, ingin menjadi guru. 

Mengucap dan menyimpan rapi cita-cita jadi guru sejak usia belia. Perjalanan hidup membawa saya, Wardah Fajri dipanggil Wawa (tanpa N ya), justru menggali penggalaman literasi dari berbagai cara. Bisa jadi itu cara semesta mempersiapkan diri sampai waktunya tiba, menjadi guru/pengajar/pendidik/mentor/fasilitator kelas virtual era pandemi. 

Butuh waktu dan perjalanan panjangnya nikmat sekali, suka dan duka, semua dijalani dengan menyeimbangkan sekuatnya ikhtiar lahir dan batin, ilmu dan pengalaman, praktisi dan kepakaran. 

Pelajaran penting yang saya tanamkan dari perjalanan panjang itu adalah jangan pernah mendahului takdir, dan percayalah kesabaran berproses akan membawa hasil yang sungguh nikmat. Biarlah semesta bekerja, lihatlah bagaiamana semesta mendukung dan memberi segala yang selama ini terpelihara dalam jiwa, dengan segala lika liku menyertainya.

Kebahagiaan hari Jumat ini datang dariNYA melalui perantara teman sebaya yang baik hatinya, Ririn Rosaline. Kami, tanpa banyak bicara memiliki misi tak terucap yang sama,  bahagia ketika kami bisa menularkan pengalaman literasi sejak dini. Kalau kak Ririn usia SD sudah menulis dan mempublikasikan tulisannya di media lokal. Saya SD masih sebatas menulis di buku diary (yang bergembok dan yang gak dikunci), sampai akhirnya SMP/MTs mewakili sekolah MTsN 13 ikut lomba mengarang tentang menabung, mewakili sekolah meraih juara dua, tingkat MTs se-DKI Jakarta dibawah naungan Departemen Agama kala itu. Sungkem saya untuk ibu guru Suamah guru Bahasa Indonesia.

Sejak kecil saya ternyata sudah merintis jadi penulis. Ketika dewasa muda dengan kegalauannya saya seperti diberi hidayah arah dengan memilih kuliah komunikasi.  Perjalanan profesi sejatinya dimulai dari sarjana ilmu Jurnistik IISIP Jakarta. Ikhtiar berlanjut dengan pekerjaan reporter menjadi wartawan yang tidaklah mudah dan butuh waktu mewujudkannya. 

Profesi wartawan yang harus dijalani dari nol. Bekerja di perusahaan penerbitan yang sedang merangkak, belum juga bisa lancar berjalan, namun membawa pengalaman berharga bahwa segala sesuatu memang harus dilatih dengan kerja keras. Tidak mudah jalan saya menjadi wartawan. Mulai merintis dari reporter majalah hobi dan seluler, naik kelas menjadi wartawan ekonomi di surat kabar berbahasa Inggris, dan mencapai karier tertinggi (buat saya) menjadi jurnalis media online di Kompas Group. 

Pilihan pribadi menjadi pekerja kreatif mandiri membawa saya beralih menjadi pegiat literasi digital mulai dari blogger, pegiat medsos, sampai saat ini berani menyebut diri Praktisi Komunikasi Digital sebagai profesi. Lain waktu saya cerita lagi ya soal literasi digital, Komunitas Bloggercrony Indonesia dan saya sebagai praktisi di dunia digital. 

Semoga sedikit ilmu dan pengalaman ini bisa menjadi warisan pengetahuan yang ada manfaatnya. Karena hidup sejatinya hanya menyiapkan bekal pulang, meninggalkan pengetahuan yang sudah sempat saya bagikan, Alhamdulillah. 

Kalau dulu di Lembata, NTT sempat mengajar menulis siswa SMP.  Bertahun-tahun kemudian mendapat kabar salah satu murid berada di Jakarta menjadi pekerja media TV namanya Jefri Kevin dan sekarang aktif sebagai youtuber. Semoga kali ini, di kelas Festival Literasi EPIA, muncul bakat belia  yang nantinya menjadi penulis hebat di bidangnya. Amin. 

Saya belum (lagi) melahirkan anak biologis, namun hadirnya anak-anak ini dalam Cerita Duoraji, mengobati rindu dan memberi bahagia, doa anak-anak terhadap gurunya semoga mengalir, kini dan nanti. 

Salam bahagia dari guru virtual tanpa gelar M.Pd yg Insya Allah dimampukan meraih gelar M.Ikom.

Selamat menikmati hari ini, mari seruput kopi. 




Cerita Duoraji Part 3: Jeda Perjalanan Panjang

Mini Camper Duoraji Agustus 2021


Semestinya, Cerita Duoraji berseri ini tuntas pada April 2021, diakhiri dengan kabar bahagia, saya hamil ketiga di usia 39 tahun (satu bulan  jelang 40 tahun). Seri Cerita Duoraji Part 1 dan Part 2 memang saling berkait dan berujung pada bagian menggembirakan setelah penantian panjang dengan berbagai kondisi kesehatan menyertai dan pertanyaan apakah saya bisa hamil lagi? Rencana mengakhiri Cerita Duoraji dengan Part 3 melalui berita kehamilan, gagal. Sungguh rencana manusia lemah tiada daya, semesta bekerja dengan caraNYA. Tugas manusia menjalani dengan penerimaan lahir batin. Pada 24 April, saya harus kuret karena kehamilan tidak berkembang. 

Saya menerima tenang, dengan tentunya ada masa sunyi ketika tangis meledak dan pelukan pasangan untuk menenangkan diri, untuk kemudian sadar diri, inilah takdir saya. TakdirNYA demikian, Duoraji menerima dengan keberserahan sekaligus senyuman bahagia, karena setidaknya salah satu pertanyaan kami terjawab bahwa saya bisa hamil lagi. 

Secara medis sangat bisa dijelaskan terkait keguguran kedua di kehamilan ketiga ini. Saya ini memiliki kekentalan darah yang sudah terkonfirmasi melalui pemeriksaan hematologi sejak 2011. Kehamilan pertama pun tidak berhasil karena kondisi kesehatan ini. Kehamilan kedua dengan persiapan lebih matang berhasil, bertahan sampai delapan bulan dengan kondisi kelahiran prematur akibat pendarahan plasenta previa. Dahayu lahir dengan perjuangan dan perjalanan panjang, hingga takdirNYA kembali kami terima dibarengi aliran kekuatanNYA, anak semata wayang kami meninggal usia 3,5 tahun pada Sabtu, 6 Agustus 2016. 

Sungguh saya kesulitan melanjutkan Cerita Duoraji. Butuh waktu empat bulan hingga akhirnya saya melanjutkan cerita ini, saat ini. Itu pun butuh jeda karena memang Duoraji berhenti, menepi dari perjalanan panjang. Saya kehilangan alur cerita, merasa tidak menemukan lagi karena perhentian yang cukup lama. Apakah kami benar-benar berhenti? Ini ceritanya.


Berpindah Takdir 



Sejatinya kita hidup hanya berpindah dari takdir satu ke takdir lain. TakdirNYA, Duoraji berhasil menjalani kehamilan di tengah pandemi, hanya bertahan 7 minggu saja rasa bahagia luar biasa. Maklum, Satto suami saya sudah berusia 40 tahun, saya 39 jelang 40 tahun. Lalu situasi pandemi tidak selalu mudah, risiko kehamilan dengan COVID-19 juga menjadi momok mengerikan. Namun karena memang aktivitas dibatasi, Duoraji lebih banyak di rumah, kami bisa lebih fit dan cukup waktu beristirahat. Bisa jadi karena kami juga merasa lebih rileks, tenang, tidak berburu waktu dengan pekerjaan, dan takdirNYA, saya hamil. 

Takdir saya di masa pandemi ini pun mendapatkan kepercayaan besar bekerja sebagai tim komunikasi publik mengurus diseminasi informasi penanganan COVID-19. Sungguh pekerjaan mulia, buat saya, yang sangat menyita waktu dan perhatian. Namun karena WFH semua jadi lebih menenangkan, mengingat saya harus menjaga diri dan keluarga dengan orangtua lansia belum vaksinasi karena kondisi kesehatannya. 

Duoraji juga berdagang dim sum ayam dengan membangun merek Kukus Rebus/KUBUS di tahun kedua pandemi. Melanjutkan usaha Duoraji di tahun pertama pandemi menjadi reseller Gula Batu khas Jogja yang kami sebut Gula Batu Sumiah sebagai merek dagangnya. Belum layak sepertinya menyebut bisnis, karena memang kami reseller jualan online dan buka gerai di depan rumah orangtua. Tahun kedua pandemi, orangtua saya meminta anak perempuan satu-satunya ini kembali ke rumah kelahiran. Orangtua semakin renta, barangkali kondisi pandemi semakin membuat keduanya khawatir. Alih-alih terpisah rumah beberapa meter saja, akhirnya kami putuskan bersama, tinggal satu atap dengan satu bagian kecil ruang privasi Duoraji, semacam apartemen studio di lantai yang sama versi landed house. Selesai sudah nasib Duoraji yang beberapa kali pindah kontrak rumah sejak rumah pertama kami jual sepeninggal Dahayu. Kami menetap di kabin Duoraji satu atap dengan orangtua saya. 

Dengan kesibukan yang Duoraji ciptakan di tengah pandemi, pun amanah pekerjaan berkat rekomendasi teman baik dari perjalanan karier masa lampau, lalu saya berhasil hamil, itu adalah hadiah indah. Duoraji bersyukur karenanya, bahagia karena bukan tidak mungkin kehamilan di usia ini dengan berbagai masalah kesehatan saya sebagai penyintas TB paru, memiliki ACA tinggi yang berisiko keguguran berulang. Kesibukan baru sejak April 2021 adalah konsultasi ke dr Bob Ichsan Masri, SpOG yang menjadi perantara Tuhan menyelamatkan saya dan Dahayu, pada persalinan 2013 silam, dari risiko kematian akibat plasenta previa. 

Perjalanan panjang sukacita dengan segala duka dan luka menyertai di tengah pandemi, menemukan titik cerah kehamilan yang harus berakhir dengan kuretase. Inilah takdir Duoraji, terimalah. Apakah berhenti? Sebelum nafas berhenti, tidak ada perjalanan yang terhenti namun kami memang menepi memberi jarak untuk melindungi diri dari energi negatif. Memberi waktu dan mengisi kembali tanki cinta kami, agar tidak terjerumus menyalahkan apa pun di luar diri. Pasca keguguran, Duoraji kembali menggeluti usaha mandiri, mengurus komunitas kesayangan Bloggercrony, dan bekerja profesional sebagai tim komunikasi publik. 

Itu semua menguras waktu, pikiran, tenaga, energi, pun keuangan. Tuhan selalu baik, perihal keuangan selama pandemi, Duoraji merasa cukup meski kalau diukur standar berkecukupan para pakar, kami lemah sekali posisinya karena tidak punya dana darurat di masa sulit ini. Merasa cukup dan kebutuhan terpenuhi baik, dengan satu-satunya investasi sejak dahulu kala, Logam Mulia, dan harta produktif mobil, laptop, ponsel pintar, cukup. Usaha rumahan yang Duoraji geluti bisa menghasilkan untuk hidup berdua. Penghasilan dari bekerja 10 bulan juga mencukupi pun berkontibusi untuk keluarga besar, secukupnya. Berusaha merasa cukup, tetap ikhtiar sekuatnya dengan segala akal budi serta kreativitas yang Tuhan beri kepada Duoraji, dan berpindah lagi ke takdir lainnya. Itulah cara Duoraji bertahan di pandemi. 

Berhenti menepi bagi Duoraji sebatas memberi lebih banyak waktu untuk diri sendiri. Barangkali takdir kami, sebagai anak, pasangan tanpa anak, pendiri komunitas, pekerja kreatif mandiri, sebagai adik/kakak, tidak pernah bisa hidup semata untuk diri sendiri. Memberi jeda dan jarak kepada semua hal di luar diri kami, adalah bentuk berhenti menepi versi Duoraji. Mencari kesenangan untuk diri sendiri, dengan sedikit mengurangi perhatian kepada siapa pun di luar kami. Banyak caranya, saya akan cerita beberapa di antaranya, nanti. 

Mei 2021, genap sudah 40 tahun usia saya. Tidak ada perayaan khusus, namun dua sahabat saya menciptakan momen pertemuan terbatas dengan segala standar prokes yang saya jaga sekuatnya. Semua baik-baik saja sampai Juni, hingga tiba waktunya Juli, jelang 41 tahun Satto Raji. Inilah takdir kami, menerima dengan tenang menjadi kunci kewarasan jiwa. 






Juli 2021, sejak awal bulan hingga Agustus berakhir, sungguh bukan perkara mudah untuk Duoraji. Satu keluarga beda rumah yang bersebelahan dengan rumah orangtua saya, terkonfirmasi COVID-19 positif total 5 penghuninya. Peran saya sebagai adik perempuan, dengan pendamping suami yang luar biasa, mengurus segala keperluan isoman. Namun coronavirus ini sungguh pelik, semakin sering terpapar terutama di lingkungan yang sedang tidak sehat, semakin mudah virus ini masuk ke tubuh yang rentan. Rentan karena kondisi tidak fit, kelelahan fisik mental, juga karena memang terlalu banyak virus yang berpindah dari manusia satu ke manusia lainnya. Saya terpapar, terkonfirmasi COV+ di hari lahir Satto, 10 Juli. Sungguh bukan hadiah hari lahir yang menyenangkan, namun apa pun kehendakNYA atas kami, tiada daya. 

Suami baik-baik saja, tidak terkonfirmasi positif, baiklah inilah Takdir Saya. Segera memikirkan solusi, fokus pada apa yang paling aman dilakukan, bukan lagi memikirkan kenapa dan kok bisa? Fokus pada solusi selalu jadi cara Duoraji menyikapi segala peristiwa yang dihadapkan kepada kami di depan mata. Duoraji mengasingkan diri, lebih dari 14 hari. Berpisah rumah, demi menjaga aman semua. Pun begitu, Satto ikut terpapar bersama saya, dan satu abang kesayangan di rumah beda lantai tinggalnya, ikut terpapar terkonfirmasi dengan testing swab antigen. Kami memberi jarak dengan semua urusan dunia, jeda, berhenti sejenak, menyembuhkan diri dengan kepasrahan tingkat tinggi kepada sang pengatur hidup. 

Kami hidup lebih dari 20 hari dan terus memantau kondisi hingga hari ke-40 sejak awal terkonfirmasi. Memberi jeda dan jarak, pun saya memutuskan berhenti bekerja meski kesempatan melanjutkan berkontribusi masih ada. Saya berhenti dari rutinitas pekerjaan selama 40 hari, semua berjalan baik dengan adaptasi, pun kesengajaan, saya memberi jeda untuk diri. Ada dua hal yang selama ini hanya muncul di mimpi bunga tidur saya, lalu terwujud di masa jeda. Kedua hal itu adalah kuliah pascasarjana dan berkelana dengan mobil Ayang Dayu (Agya Kesayangan Dahayu) dengan mini camper ala Duoraji, Safari Nusantara kami menyebutnya. 

Mini camper Ayang Dayu barangkali menjadi simbol perjalanan panjang kami, pun mewakili momen saat kami berhenti menepi, memberi waktu untuk diri sendiri, berusaha waras lahir batin menjalani segala takdirNYA. Pandemi, tak mudah untuk semua. Setiap kita pasti punya cerita,  tidak perlu membandingkan tak usah menyalahkan. Jalani dan akuilah, kita manusia lemah tak berdaya. Ikhtiar lahir batin, dimampukan bertahan dengan urusan remeh temeh dunia, pun selalu dalam pemeliharaanNYA apa pun kehendak Dia atas kita.

Nanti lagi berbagi cerita, tentang jeda diri ikhtiar lahir batin dengan mini camper Duoraji Safari, pun perjuangan kami isoman COVID-19. Sekarang, terpisah ruang dan waktu, mari kita menikmati secangkir teh atau kopi, mensyukuri hidup hari ini. Tetap sehat, ikhtiar lahir batin, semoga kita bertahan seterusnya melewati pandemi yang  sulit untuk semua, tanpa kecuali. 



















Perjalanan Masih Panjang? Cerita Duoraji Part 2

 


Duoraji, penamaan ini sebenarnya penggabungan dua nama akhir pasangan menikah Santo RAchmawan (Satto Raji nama bekennya) dan Wardah FajRI (RAJI). Meski menikahnya 13 tahun silam (Juli 2008 sampai tulisan ini dibuat), sejujurnya penamaan Duoraji itu resmi dipopulerkan sejak kami berduaan menjalani garis perjalanan yang DIA tetapkan, setelah anak kedua kami meninggal, 6 Agustus 2016 (anak pertama keguguran 2,5 bulan kandungan). Saya lebih suka menuliskannya Duoraji bukan Duo Raji, anggaplah ini merek atau keyword untuk menyingkat penyebutan Wawa dan Satto RAJI. 

Pun usia pernikahan belasan tahun, sejatinya sebagai pasangan mulai kenal, memutuskan jadi kekasih, putus nyambung dengan drama dan ujian, lalu akhirnya Bersama sampai menikah, itu sudah berjalan 21 tahun (sejak 2000). Tapi baiklah, mari kita awali Cerita Duoraji sejak menikah saja. Sudah membaca Cerita Duoraji Part 1 tentang pernikahan? Ini cerita lanjutannya.

Cerita Duoraji – Pengantin Baru

Sah sebagai pasangan halal, perjalanan ini berawal 6 Juli 2008. Saat itu saya masih berpindah-pindah kerja, mengejar impian pekerjaan sebagai jurnalis sesuai bidang ilmu saya di IISIP Jakarta. Loh, bukannya bertemu pasangan di Budi Luhur? Iya saya, bertemu Satto di teater Budi Luhur lebih tepatnya, organisasi seni kampus yang membuat saya jatuh cinta dengan pria kelahiran Sukabumi, keturunan Malang, Jawa Timur, perpaduan Semarang, Jawa Tengah, karena air matanya. 

Kok air mata? Saya terenyuh melihat akting Satto saat Latihan teater KLOSET BULU, teater kampus yang pernah dipimpin Satto sebagai ketua. Saat itu, di depan halaman ruang kelas, area terbuka, dekat lapangan basket, kami anggota teater Latihan rutin. Ketua dan pelatih kami saat itu, Irvan Candranaya, mengharuskan kami berakting menangis dengan memunculkan kesedihan. Satto juaranya, entah dari mana dia membayangkan kesedihan sehingga air matanya mengalir natural. Saya terenyuh, itu saja. Lalu jatuh cinta dan makin cinta karena mulai memperhatikan perilaku dan karakternya. Beda, unik, enggak biasa, percaya diri dengan segala kekurangannya. Bukan sosok bujang kampus yang perlente, necis, bahkan posturnya saja enggak ideal, tapi entah kenapa saya melihat beda dalam dirinya, dan jatuh cinta sampai saat ini. 

Dibantu sahabat sekaligus senior teater saya Bang Iwan (rebex panggilannya), saya utarakan rasa, curhat lebih tepatnya. Semua berjalan natural saja sampai akhirnya Satto menyatakan ingin menjadi pasangan saya saat duduk bersama di depan gerbang kampus, di bawah patung Raden Gupolo (penjaga candi) yang menjadi ikon kampus Budi Luhur di depan pintu masuknya. 

Sejak itu, kami resmi pacaran, ya kami berpacaran layaknya anak muda dimabuk cinta, sampai drama ujian memisahkan ketika saya pindah kuliah ke IISIP Jakarta. Sebentar saja terpisah karena saya terjaring aliran mengatasnamakan negara Islam. Boleh dibilang, Satto malaikat penyelamat. Saya berhenti dari gerakan itu dan kembali hidup normal, diawali genggaman tangan dengan beban stigma dari para perekrut, saya dianggap kelompok itu sebagai kafir dan akan masuk neraka, kesulitan hidup menyertai dan tidak akan tenang selamat (dengan tujuan menakuti dan kembali “melawan NKRI” bersama mereka). Akhir cerita pemudi tersesat saat itu diselamatkan cinta sosok lelaki yang enggak pernah menghakimi sejak dulu hingga kini. Satto hanya merangkul, mendengarkan, dan selalu siap mendampingi saya kapan saja. 

Singkat cerita, sejoli menjadi pasutri. Duoraji menikmati masa pengantin baru, sangat menikmati. Inilah masa ketika Duoraji bisa mewujudkan impian hidup bersama, satu atap, susah senang bersama. Kami boyong peralatan rumah tangga seadanya, sesuai anggaran demi memenuhi syarat ketentuan menikah versi orangtua saya, keluar dari rumah Kreo. Ranjang dari kayu mahoni, serba hitam, lengkap dengan lemari dan meja rias, peralatan masak yang dibeli sendiri juga hadiah pernikahan, mengisi rumah kontrakan di Bintaro. Rumah petak kontrak yang sudah kami sewa sebelum menikah. Bahkan teman dekat saya, sesama mantan jurnalis sebuah harian berbahasa Inggris (yang terpaksa bubar dalam waktu sangat singkat), membantu membuatkan hantaran pernikahan cantik di rumah kontrakan. Hanya dua minggu di rumah Kreo setelah sah menikah, kami mulai perjalanan Duoraji, mandiri sesuai impian kami membangun keluarga. 

Pekerjaan freelance Duoraji, urusan EO kegiatan Lembaga Negara, menjadi ladang pencarian masa pengantin baru. Berganti-ganti pekerjaan dan tempat tinggal selama dua tahun. Tiga kontrakan dan pekerjaan freelance media monitoring Maverick, sampai relawan Komnas Perempuan dilakukan, mengalir saja, menikmati tanpa mengeluh atau mengadukan keadaaan ke keluarga.  Rumah kontrakan Bintaro, Kostrad Petukangan, Bekasi (bersebrangan Kemang Pratama), dijabani dengan berupaya mencari pekerjaan terbaik. Mendukung pasangan Satto yang berkesempatan kerja kantoran, berdasi, di Cibitung membuat Duoraji memutuskan tinggal mengontrak di Bekasi, dekat dengan mertua saya dan tidak terlalu jauh dari tempat kerja pasangan. 

Saya tidak bisa diam, aktif menjadi relawan Unit Pengaduan Rujukan Komnas Perempuan (2009) menjadi kesibukan kala itu. Semua menjadi lebih mudah karena Duoraji bersama, satu atap, dan sah pasangan halal yang mencari peruntungan di Jabodetabek. Manusia berencana, Tuhan Maha Tahu. Pekerjaan berdasi Satto Raji berakhir dalam tiga bulan saja. Rasanya seperti tafsir mimpi almarhuma mama mertua, yang bermimpi Satto jatuh dari tempat tinggi. Apa pun itu, semua atas izinNYA, kami jalani apa adanya. Bersiap dengan tantangan berikutnya, apa pun yang DIA gariskan atas kami, para pejuang kehidupan. 

Tahun 2010, teman kantor lama (atasan lebih tepatnya), mbak Dini kontak tiba-tiba setelah dua tahun tidak bersua. Menawarkan pekerjaan sebagai jurnalis media online di Kompas.com kanal Kompas Female. Sempat berpikir, apakah saya menyanggupi pekerjaan media online? Bismillah memulai perjalanan, dan hidup Duoraji berubah. Mbak Dini adalah redaktur saya sewaktu sempat menjajal menjadi reporter majalah Forsel Kompas Gramedia Majalah di Jalan Panjang. Dua tahun kemudian, kami menjadi tim di Kompas Female Palmerah Selatan. Impian menjadi jurnalis, di grup media terbesar di Indonesia, sah! Pekerjaan idaman tercapai setelah menikah. 

Bekerja maksimal, melewati masa percobaan dengan dibandingkan bersama sahabat saya Golda (wartawan TV), berjuang bersama menunggu keputusan siapakah terpilih menjadi karyawan kontrak Kompas Female. Saya tidak lebih baik dari Golda, kami terus berteman dan saling menyemangati, hingga akhirnya saya terpilih. Garis Golda adalah pekerja media TV, dia sukses di sana, saya mengikuti kisahnya termasuk pernikahan dan kelahiran anaknya. Ah, jadi kangen. 

Tekun menjaga integritas dan bersabar tangguh dengan segala tantangan dan prosesnya, menjadi kunci saya bertahan 6 tahun di KCM dan Kompasiana. Semoga reputasi saya baik-baik saja, meninggalkan kesan baik dari perjuangan karyawan kontrak selama dua tahun hingga akhirnya menjadi BIRU, tanda untuk karyawan tetap Kompas Gramedia Group. Banyak perubahan hidup dan tentunya perjuangan tiada akhir Duoraji. Setidaknya saya boleh berbangga sekaligus terharu, karena setelah setahun memutuskan berhenti sebagai pekerja media, saat masa terendah saya, KCM dan kawan-kawan di sana masih ingat dan peduli, datang menghibur hati, saat anak saya Dahayu, meninggal di usia 3,5 tahun pada Agustus 2016.

Keputusan meninggalkan pekerjaan media yang membutuhkan waktu dan perhatian ekstra, semua karena fokus keluarga. Saya tak merasa sanggup harus membagi waktu bekerja dengan Dahayu saat itu yang membutuhkan terapi untuk diagnosis delay developmentnya. Saya mengukur diri sekaligus gelisah memiliki karier dan anak usia 2 tahun yang belum bisa berdiri sendiri apalagi berjalan. Mana yang saya pilih? Saya memilih Dahayu. Terapi jadi tujuan utamanya. 

Saat saya bekerja sebagai jurnalis media online, Satto bekerja sebagai fotografer dan guru fotografi. Penghasilan kami mencukupi untuk mencicil rumah di Nuansa Asri, Cinangka, Sawangan Depok meski kami lebih mudah menyebutnya Pondok Cabe. Impian Duoraji kembali berwujud, tinggal dalam satu atap rumah sendiri, membangun keluarga, memiliki anak dan pekerjaan yang stabil. Duoraji menikmati masa keluarga mandiri dengan Mbok dan Teteh selalu setia membantu keluarga kecil yang hidup sederhana ini. Berkendaraan motor peninggalan orangtua, sementara tetangga hidup mapan dengan rumah dan kendaraan mobilnya.Duoraji bahagia, bersyukur, dan menikmati udara segar Cinangka bersama Dahayu yang bisa duduk berdiri dengan bantuan ayah ibunya, berkat terapi rutin fisioterapi delay development. 

Cerita bahagia ini tak panjang, harus berakhir dengan pontang-panting berkarier, bergantian mengatur jadwal menjaga anak di rumah, lantaran kehilangan semua pengasuh (yang memutuskan pulang kampung mengurus keluarganya). Saya pernah cerita sepenggal kisah Cerita Ibu tentang perjuangan membagi perhatian karier dan keluarga ini. 

Saya tak sanggup. Duoraji memutuskan menumpang sementara di rumah orangtua, menjual rumah hasil jerih payah, hingga akhirnya memutuskan tinggal di rumah kontrakan dekat rumah Kreo, dengan pengasuh orangtua beralih pekerjaan menjadi pengasuh Dahayu. ART di rumah kami, ibu Deti, sangat membantu Duoraji menyeimbangkan pekerjaan, karier dan anak semata wayang yang butuh perhatian khusus. Terapi berjalan normal, namun perkembangan Dahayu sampai usia 3,5 tahun belum juga bisa berjalan. Kognitifnya, Alhamdulillah. Dahayu lancar bicara bahkan sangat cerdas untuk usianya. Dahayu dengan mudahnya berekspresi bahkan mengoreksi kesalahan kata ibu Deti. Dahayu pernah bilang tiba-tiba, saat bersama berdua di rumah kontrakan Kreo, “Ibu, Ibu cantik deh”. 

Rumah sangat sederhana itu menyimpan banyak kenangan. Mulai tinggal di rumah kontrakan itu dengan mengambil keputusan besar, mengundurkan diri dari KG, meninggalkan karier dan pekerjaan stabil, demi anak. Duoraji memulai perjalanan baru, membangun Komunitas Bloggercrony bersama Anesa Nisa (kawan lama dari Kompasiana sesama mantan karyawan KG Palmerah). Tujuan kami sederhana, ingin berkegiatan dengan kemampuan dan relasi yang kami miliki, belajar bersama menjadi blogger, sama-sama bertumbuh sebagai blogger newbie, karena kami ini bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. 

Rumah kontrakan itu penuh kenangan, dan kutinggalkan karena tak sanggup membayangkan kebahagiaan bersama Dahayu di rumah kecil itu. Kakek Dahayu yang masih aktif ke musolah Kampung Kreo, sesekali mampir ke rumah kontrakan yang dilewatinya. Memanggil dengan suara beratnya, “Dayu…Dayu…”. Sekadar menyapa cucu yang membahagiakan hati dengan segala keterbatasannya. 

Dahayu meninggal dan Duoraji meninggalkan kenangan kebersamaan di setiap rumah yang Dahayu pernah singgah. Menjual rumah hasil jerih payah Duoraji, yang mulai dibangun saat Dahayu dalam kandungan. Rumah yang dimiliki Duoraji dengan segenap jiwa raga, menyiapkan segala sesuatunya dan menikmati makan nasi bungkus berdua di rumah yang kosong tanpa isi sama sekali. Sampai akhirnya rumah penuh perabotan termasuk hadiah-hadiah perkakas yang tak kami beli namun menjadi rejeki berkah rumah itu. 

Rumah dijual untuk menjadi benda produktif lain, Ayang Dayu (Agya Sayang milik Dahayu). Mobil putih city car sederhana menjadi awal perjalanan Duoraji dengan Dahayu, di rumah kontrakan Kreo. Perjalanan tak panjang, setahun saja Dahayu menikmati kendaraan pengganti rumah itu. Namun berkah menjadi pekerja mandiri, meninggalkan rutinitas pekerja kantoran adalah waktu terakhir bersama Dahayu  menjadi bermakna. Setahun kami berkelana, bahkan sempat membawa Dahayu  pulang kampung ke Malang berhari-hari. Dahayu menikmati kesederhanaan kampung Kemulan, Turen, Malang Selatan hingga ke laut Malang Selatan. Dahayu pamit ke leluhur ayahnya, sekitar sebulan setelahnya, Dahayu  berpulang selamanya. 

Dahayu jagoan cilik Duoraji, sempat berkelana ke Bandung, Semarang, Jogjakarta, hingga Malang. Anak kuat pintar cerdas yang belum sempat merasakan rasanya bisa berdiri dan berjalan tanpa bantuan ayah ibunya. Anak solehah yang sudah hafal Al Fatihah. Anak perempuan jagoan Ayah yang sangat fasih menyebut kata pertamanya “Ayah” di usia 11 bulan. Anak ibu yang sangat mencintai kakek nenek mbah dan ayah ibunya. Anak perempuan yang sangat dekat dengan ibunya, selalu memeluk dan mengucap cinta dengan tatapan mesra dan kata-kata indah tak pernah disangka. Allah mengajarkan Dahayu berkata meski belum sanggup memerintahkan otak agar kakinya berdiri dan berjalan mandiri.

Dahayu jagoan cilik Duoraji, meninggalkan cinta untuk semua kawan orangtuanya, bahkan mewarisi pertemanan baru sepeninggalnya. Dahayu boleh tak berdaya koma di ruang ICU Rumah Sakit, namun kekuatan cintanya dahsyat. Termasuk menghadirkan kekuatan Allah mengalir kepada orangtuanya, yang tetap waras sepeninggalnya, bertahun-tahun kemudian bertahan dalam iman dan keberserahan. 

Duoraji patah hati namun  berusaha waras menjalani ketentuanNYA. Satu permintaan di ruang ICU Rumah Sakit Agustus 2016 lalu. “Ya Allah, saya ridha ikhlas Dahayu pergi namun mohon berikan kekuatanMU kepada kami menjalani ini, kami mohon kuatkan kami, beri petunjukMU, aliri kekuatanMU, innalilahi wa inna ilaihi rojiun” La haula wa la quwwata illa billah, karena sungguh tanpa itu, kami takkan sanggup. Sepanjang pemakaman dan seterusnya, Allah kabulkan doa permohohan kekuatan itu. 

Rumah kontrakan yang Duoraji pernah tinggali bersama Dahayu terasa sempit. Setiap sudut mengingatkan Dahayu. Alhamdulillah berkat hubungan baik nenek Dahayu dan sahabat yang juga kerabat keluarga, Duoraji menempati rumah kontrakan baru dekat Musolah Mujahidin Kampung Kreo Selatan, terasa lega, luas dan mulai perjalanan baru sebagai DUORAJI. 

Kami berdua, lagi, berusaha waras dan terus menjalani ketentuanNYA, sampai nanti waktunya tiba berkumpul lagi, semoga. Satu tahun Duoraji tinggal di rumah kontrakan baru sepeninggal Dahayu. Cerita Duoraji masih panjang, 4,5 tahun bertahan waras dan berjuang menjadi lebih baik, sebagai pekerja mandiri berduaan bagai pengantin baru lagi, tanpa anak semata wayang, malaikat Duoraji yang sudah bahagia di surgaNYA, Dahayu bersama kakaknya. Ayah ibunya masih berjuang dalam perjalanan di bumi. 


Seri Cerita Duoraji berlanjut….

Perjalanan Masih Panjang? Cerita Duoraji Part 1

 


Duoraji, penamaan ini sebenarnya penggabungan dua nama akhir pasangan menikah Santo RAchmawan (Satto Raji nama bekennya) dan Wardah FajRI, RAJI. Meski menikahnya 13 tahun silam (Juli 2008), sejujurnya penamaan Duoraji itu resmi dipopulerkan sejak kami berduaan menjalani garis perjalanan yang DIA tetapkan, setelah anak kedua kami meninggal, 6 Agustus 2016 (anak pertama keguguran 2,5 bulan kandungan). Saya lebih suka menuliskannya Duoraji bukan Duo Raji, anggaplah ini merek atau keyword untuk menyingkat penyebutan Wawa dan Satto, RAJI.

Usia pernikahan belasan tahun, namun sejatinya sebagai pasangan mulai kenal hingga memutuskan jadi kekasih, putus nyambung dengan drama dan ujian, lalu akhirnya bersama sampai menikah, itu baru berjalan 21 tahun (sejak 2000). Tapi baiklah, mari kita awali Cerita Duoraji sejak menikah saja.

Ohya, tulisan ini bukan tips pernikahan. Sungguh, saya merasa miskin ilmu soal pernikahan. Bercermin dari ayah (85 th) dan ibu (80 th), yang usia pernikahannya Alhamdulillah lebih dari 60 tahun hidup berdampingan dengan 7 anak  (dari 8 yang dilahirkan). Saya sebagai anak perempuan satu-satunya di keluarga besar Achmad Sanusi bin Syuaib dan Sumiah binti H. Usman, warga asli Kreo Selatan, Kota Tangerang, sekarang Banten yang dulu pernah jadi warga Jawa Barat. Banyak kebaikan dari keduanya yang saya cerna dan coba terapkan dalam pernikahan, tentunya disesuaikan relasi kekinian (karena banyak juga pola relasi suami istri yang mereka jalani kurang relevan dengan kondisi sekarang). 

Orangtua saya bukan manusia sempurna, banyak kurangnya, namun bagi saya, ayah ibu contoh teladan utama yang terdekat. Tentu role model utama kami adalah junjungan nabi besar Muhammad SAW, manusia pilihan yang sempurna. Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad.

Saya memilih menulis Cerita Duoraji (biasanya menulis Cerita Ibu dan sudah lama sekali vakum), di bulan Ramadan 1442H/2021M, karena tergerak dari hati. Jelang 13 tahun pernikahan (angka favorit Satto Raji) dan di usia 40 tahun Satto serta jelang 40 tahun Wawa. Cerita hidup dimulai (lagi) usia 40 katanya. Selain karena lebih punya banyak waktu lantaran larangan ini itu dari pasangan dan ayah yang ikut-ikutan menjaga. Menjaga dari apa? Mari mulai ceritanya, bakal panjang dan pertanyaan ini belum terjawab di Part 1 dari cerita berseri ini. 


Cerita Duoraji – Pernikahan

Santo dan Wawa menikah di tanggal cantik hari Minggu, 6-7-8 (6 Juli 2008) di Kreo Selatan, rumah orangtua tepatnya aula majelis taklim ibu, Darussaadah. Akad nikah dan resepsi semua berlangsung di aula hasil perjuangan ayah ibu sebelum saya dilahirkan. 

Pernikahan satu-satunya anak perempuan yang seperti perayaan sekali selamanya, juga dipersiapkan maksimal oleh ayah ibu saya. Tentunya kemandirian Duoraji menyertai, sejujurnya saat belum ramai endorsement media sosial saat ini, 13 tahun lalu Duoraji sudah optimasi kekuatan konten dan relasi sebagai endorsement pernikahan. Bedanyaaaaa, kami tidak menerima GRATIS namun penghematan dan kebaikan relasi pekerjaan menulis sungguh membantu terselenggaranya pernikahan impian versi Duoraji.

Mungkin berlebihan kalau saya bilang pernikahan Duoraji sederhana. Kami paham apa itu pernikahan sederhana. Sejak tahun 2000 berkenalan dan berpacaran (ya, kami berpacaran semasa kuliah di Budi Luhur), kami enggak hanya sekadar jadi bucin. Duoraji mungkin memang sudah digariskan jadi couplepreneur bahkan sebelum istilah itu menjadi populer. Sejak bersama sebagai sejoli, hari-hari kami diisi kuliah, organisasi kampus, teater, fotografi, foya-foya ala anak muda kalangan pas-pasan, dan bisnis fotografi pernikahan.

Jadi, kalau pernikahan Duoraji disebut sederhana, memang agak berlebihan. Pekerjaan Duoraji tahun 2000 adalah membantu memotret akad nikah dan resepsi pernikahan, pasangan yang anggarannya seadanya namun ingin punya rekaman momen bersejarah dalam hidupnya. Kami paham seperti apa pernikahan sederhana dari perjalanan motret kawinan ala Duoraji kala itu.

Pernikahan Duoraji kental dengan nuansa Betawi, suku asli saya dan keluarga, berbalut nuansa religi. Urusan konsep pernikahan tentu hak saya yang punya sedikit impian pernikahan, dengan tetap mendengarkan kemauan harapan keluarga terutama orangtua.

Duoraji menabung dari hasil bekerja dengan segala ketidakpastiannya. Maklum, kami menikah saat pekerjaan belum ajeg, belum dikatakan sukses versi orang kebanyakan, namun kami bekerja sejak kuliah mencukupi kebutuhan kami di luar pemberian orangtua.

Dengan penyesuaian anggaran pernikahan, hubungan baik dengan relasi pekerjaan yang kebetulan berkaitan dengan dunia pernikahan membuat kami setidaknya bisa mewujudkan impian hari istimewa dengan banyak penyesuaian tentunya. Pelaminan bambu bertabur bunga, baju pengantin yang tak biasa (hitam ungu warna favorit saat itu), banyak kurangnya karena terbatas anggaran Duoraji tapi kami sumringah Bahagia menikmati hasil jerih payah. Tata rambut dan rias (saat itu belum berhijab), tentunya kuserahkan ke sahabatku MUA yang paham banget karakterku, Mila pemilik Mila Salon Jatibening. Bukan tata rias kebanyakan saat itu karena sangat simpel minimalis bahkan ada tamu di kampungku bilang, ala artis, suka dan ingin seperti itu saat menikah nanti (wow kami jadi inspirasi).

Keluarga Malang, Jawa Timur yang kental dari garis pasanganku, Satto, tentunya tetap diakomodasi. Organ tunggal dengan penyanyi yang siap menghibur dengan song list campur sari, bikin suasana Betawi dan Jawa berpadu seperti Duoraji menyatu. Duoraji juga sudah menyiapkan song list, Bossanova Java. Alangkah tak kuasanya pengantin yang sibuk haha hihi dengan tamu, ketika songlist tiba-tiba berubah jadi dangdutan, khas pernikahan warga Betawi. Wassalam dan pasrah saja, yang penting semua bahagia. Fokus utama saya kala itu, berbahagia di pelaminan menyambut tamu sekitar 500 undangan (Duoraji only). 

Semua sudah dipersiapkan maksimal, tenda, pelaminan, baju pengantin, hiburan, MUA, undangan, hantaran semua Duoraji siapkan mandiri. Orangtua tentu ambil peran, mereka ingin semuanya berlangsung sesuai versinya. Katering untuk 1500 undangan (bisa jadi yang hadir lebih dari itu) urusan orangtua. 

Bahkan orangtua saya enggak mau kalah seru, mereka menghadirkan palang pintu menyambut calon mantu sebelum akad nikah dan satu lagi yang khas, Sohibul Hikayat. Tradisi lisan Betawi yang biasa dihadirkan saat pernikahan atau khitanan, pertunjukkan seni tradisional, dipesan khusus oleh ibu dalam kemasan seperti ceramah agama namun menghibur. Terbukti, teman kerja merasakan kehangatan dan hiburan Sohibul Hikayat ini.

Saudara sekandung dan kerabat dekat Duoraji juga enggak mau ketinggalan kalah seru, mereka menyiapkan seragam. Duoraji khusus menyediakan seragam penerima tamu ala none Betawi dan seragam saudara laki-laki ala Jampang jagoan Betawi. Semua sibuk dengan impian pernikahannya masing-masing, tugas saya memadukan semuanya agar setiap orang merasa dilibatkan untuk kebahagiaan bersama. Soal hasil, saya pasrahkan saja. Hari itu, Duoraji bahagia. SAH!

Bersambung...