Cerita Duoraji Part 3: Jeda Perjalanan Panjang

Mini Camper Duoraji Agustus 2021


Semestinya, Cerita Duoraji berseri ini tuntas pada April 2021, diakhiri dengan kabar bahagia, saya hamil ketiga di usia 39 tahun (satu bulan  jelang 40 tahun). Seri Cerita Duoraji Part 1 dan Part 2 memang saling berkait dan berujung pada bagian menggembirakan setelah penantian panjang dengan berbagai kondisi kesehatan menyertai dan pertanyaan apakah saya bisa hamil lagi? Rencana mengakhiri Cerita Duoraji dengan Part 3 melalui berita kehamilan, gagal. Sungguh rencana manusia lemah tiada daya, semesta bekerja dengan caraNYA. Tugas manusia menjalani dengan penerimaan lahir batin. Pada 24 April, saya harus kuret karena kehamilan tidak berkembang. 

Saya menerima tenang, dengan tentunya ada masa sunyi ketika tangis meledak dan pelukan pasangan untuk menenangkan diri, untuk kemudian sadar diri, inilah takdir saya. TakdirNYA demikian, Duoraji menerima dengan keberserahan sekaligus senyuman bahagia, karena setidaknya salah satu pertanyaan kami terjawab bahwa saya bisa hamil lagi. 

Secara medis sangat bisa dijelaskan terkait keguguran kedua di kehamilan ketiga ini. Saya ini memiliki kekentalan darah yang sudah terkonfirmasi melalui pemeriksaan hematologi sejak 2011. Kehamilan pertama pun tidak berhasil karena kondisi kesehatan ini. Kehamilan kedua dengan persiapan lebih matang berhasil, bertahan sampai delapan bulan dengan kondisi kelahiran prematur akibat pendarahan plasenta previa. Dahayu lahir dengan perjuangan dan perjalanan panjang, hingga takdirNYA kembali kami terima dibarengi aliran kekuatanNYA, anak semata wayang kami meninggal usia 3,5 tahun pada Sabtu, 6 Agustus 2016. 

Sungguh saya kesulitan melanjutkan Cerita Duoraji. Butuh waktu empat bulan hingga akhirnya saya melanjutkan cerita ini, saat ini. Itu pun butuh jeda karena memang Duoraji berhenti, menepi dari perjalanan panjang. Saya kehilangan alur cerita, merasa tidak menemukan lagi karena perhentian yang cukup lama. Apakah kami benar-benar berhenti? Ini ceritanya.


Berpindah Takdir 



Sejatinya kita hidup hanya berpindah dari takdir satu ke takdir lain. TakdirNYA, Duoraji berhasil menjalani kehamilan di tengah pandemi, hanya bertahan 7 minggu saja rasa bahagia luar biasa. Maklum, Satto suami saya sudah berusia 40 tahun, saya 39 jelang 40 tahun. Lalu situasi pandemi tidak selalu mudah, risiko kehamilan dengan COVID-19 juga menjadi momok mengerikan. Namun karena memang aktivitas dibatasi, Duoraji lebih banyak di rumah, kami bisa lebih fit dan cukup waktu beristirahat. Bisa jadi karena kami juga merasa lebih rileks, tenang, tidak berburu waktu dengan pekerjaan, dan takdirNYA, saya hamil. 

Takdir saya di masa pandemi ini pun mendapatkan kepercayaan besar bekerja sebagai tim komunikasi publik mengurus diseminasi informasi penanganan COVID-19. Sungguh pekerjaan mulia, buat saya, yang sangat menyita waktu dan perhatian. Namun karena WFH semua jadi lebih menenangkan, mengingat saya harus menjaga diri dan keluarga dengan orangtua lansia belum vaksinasi karena kondisi kesehatannya. 

Duoraji juga berdagang dim sum ayam dengan membangun merek Kukus Rebus/KUBUS di tahun kedua pandemi. Melanjutkan usaha Duoraji di tahun pertama pandemi menjadi reseller Gula Batu khas Jogja yang kami sebut Gula Batu Sumiah sebagai merek dagangnya. Belum layak sepertinya menyebut bisnis, karena memang kami reseller jualan online dan buka gerai di depan rumah orangtua. Tahun kedua pandemi, orangtua saya meminta anak perempuan satu-satunya ini kembali ke rumah kelahiran. Orangtua semakin renta, barangkali kondisi pandemi semakin membuat keduanya khawatir. Alih-alih terpisah rumah beberapa meter saja, akhirnya kami putuskan bersama, tinggal satu atap dengan satu bagian kecil ruang privasi Duoraji, semacam apartemen studio di lantai yang sama versi landed house. Selesai sudah nasib Duoraji yang beberapa kali pindah kontrak rumah sejak rumah pertama kami jual sepeninggal Dahayu. Kami menetap di kabin Duoraji satu atap dengan orangtua saya. 

Dengan kesibukan yang Duoraji ciptakan di tengah pandemi, pun amanah pekerjaan berkat rekomendasi teman baik dari perjalanan karier masa lampau, lalu saya berhasil hamil, itu adalah hadiah indah. Duoraji bersyukur karenanya, bahagia karena bukan tidak mungkin kehamilan di usia ini dengan berbagai masalah kesehatan saya sebagai penyintas TB paru, memiliki ACA tinggi yang berisiko keguguran berulang. Kesibukan baru sejak April 2021 adalah konsultasi ke dr Bob Ichsan Masri, SpOG yang menjadi perantara Tuhan menyelamatkan saya dan Dahayu, pada persalinan 2013 silam, dari risiko kematian akibat plasenta previa. 

Perjalanan panjang sukacita dengan segala duka dan luka menyertai di tengah pandemi, menemukan titik cerah kehamilan yang harus berakhir dengan kuretase. Inilah takdir Duoraji, terimalah. Apakah berhenti? Sebelum nafas berhenti, tidak ada perjalanan yang terhenti namun kami memang menepi memberi jarak untuk melindungi diri dari energi negatif. Memberi waktu dan mengisi kembali tanki cinta kami, agar tidak terjerumus menyalahkan apa pun di luar diri. Pasca keguguran, Duoraji kembali menggeluti usaha mandiri, mengurus komunitas kesayangan Bloggercrony, dan bekerja profesional sebagai tim komunikasi publik. 

Itu semua menguras waktu, pikiran, tenaga, energi, pun keuangan. Tuhan selalu baik, perihal keuangan selama pandemi, Duoraji merasa cukup meski kalau diukur standar berkecukupan para pakar, kami lemah sekali posisinya karena tidak punya dana darurat di masa sulit ini. Merasa cukup dan kebutuhan terpenuhi baik, dengan satu-satunya investasi sejak dahulu kala, Logam Mulia, dan harta produktif mobil, laptop, ponsel pintar, cukup. Usaha rumahan yang Duoraji geluti bisa menghasilkan untuk hidup berdua. Penghasilan dari bekerja 10 bulan juga mencukupi pun berkontibusi untuk keluarga besar, secukupnya. Berusaha merasa cukup, tetap ikhtiar sekuatnya dengan segala akal budi serta kreativitas yang Tuhan beri kepada Duoraji, dan berpindah lagi ke takdir lainnya. Itulah cara Duoraji bertahan di pandemi. 

Berhenti menepi bagi Duoraji sebatas memberi lebih banyak waktu untuk diri sendiri. Barangkali takdir kami, sebagai anak, pasangan tanpa anak, pendiri komunitas, pekerja kreatif mandiri, sebagai adik/kakak, tidak pernah bisa hidup semata untuk diri sendiri. Memberi jeda dan jarak kepada semua hal di luar diri kami, adalah bentuk berhenti menepi versi Duoraji. Mencari kesenangan untuk diri sendiri, dengan sedikit mengurangi perhatian kepada siapa pun di luar kami. Banyak caranya, saya akan cerita beberapa di antaranya, nanti. 

Mei 2021, genap sudah 40 tahun usia saya. Tidak ada perayaan khusus, namun dua sahabat saya menciptakan momen pertemuan terbatas dengan segala standar prokes yang saya jaga sekuatnya. Semua baik-baik saja sampai Juni, hingga tiba waktunya Juli, jelang 41 tahun Satto Raji. Inilah takdir kami, menerima dengan tenang menjadi kunci kewarasan jiwa. 






Juli 2021, sejak awal bulan hingga Agustus berakhir, sungguh bukan perkara mudah untuk Duoraji. Satu keluarga beda rumah yang bersebelahan dengan rumah orangtua saya, terkonfirmasi COVID-19 positif total 5 penghuninya. Peran saya sebagai adik perempuan, dengan pendamping suami yang luar biasa, mengurus segala keperluan isoman. Namun coronavirus ini sungguh pelik, semakin sering terpapar terutama di lingkungan yang sedang tidak sehat, semakin mudah virus ini masuk ke tubuh yang rentan. Rentan karena kondisi tidak fit, kelelahan fisik mental, juga karena memang terlalu banyak virus yang berpindah dari manusia satu ke manusia lainnya. Saya terpapar, terkonfirmasi COV+ di hari lahir Satto, 10 Juli. Sungguh bukan hadiah hari lahir yang menyenangkan, namun apa pun kehendakNYA atas kami, tiada daya. 

Suami baik-baik saja, tidak terkonfirmasi positif, baiklah inilah Takdir Saya. Segera memikirkan solusi, fokus pada apa yang paling aman dilakukan, bukan lagi memikirkan kenapa dan kok bisa? Fokus pada solusi selalu jadi cara Duoraji menyikapi segala peristiwa yang dihadapkan kepada kami di depan mata. Duoraji mengasingkan diri, lebih dari 14 hari. Berpisah rumah, demi menjaga aman semua. Pun begitu, Satto ikut terpapar bersama saya, dan satu abang kesayangan di rumah beda lantai tinggalnya, ikut terpapar terkonfirmasi dengan testing swab antigen. Kami memberi jarak dengan semua urusan dunia, jeda, berhenti sejenak, menyembuhkan diri dengan kepasrahan tingkat tinggi kepada sang pengatur hidup. 

Kami hidup lebih dari 20 hari dan terus memantau kondisi hingga hari ke-40 sejak awal terkonfirmasi. Memberi jeda dan jarak, pun saya memutuskan berhenti bekerja meski kesempatan melanjutkan berkontribusi masih ada. Saya berhenti dari rutinitas pekerjaan selama 40 hari, semua berjalan baik dengan adaptasi, pun kesengajaan, saya memberi jeda untuk diri. Ada dua hal yang selama ini hanya muncul di mimpi bunga tidur saya, lalu terwujud di masa jeda. Kedua hal itu adalah kuliah pascasarjana dan berkelana dengan mobil Ayang Dayu (Agya Kesayangan Dahayu) dengan mini camper ala Duoraji, Safari Nusantara kami menyebutnya. 

Mini camper Ayang Dayu barangkali menjadi simbol perjalanan panjang kami, pun mewakili momen saat kami berhenti menepi, memberi waktu untuk diri sendiri, berusaha waras lahir batin menjalani segala takdirNYA. Pandemi, tak mudah untuk semua. Setiap kita pasti punya cerita,  tidak perlu membandingkan tak usah menyalahkan. Jalani dan akuilah, kita manusia lemah tak berdaya. Ikhtiar lahir batin, dimampukan bertahan dengan urusan remeh temeh dunia, pun selalu dalam pemeliharaanNYA apa pun kehendak Dia atas kita.

Nanti lagi berbagi cerita, tentang jeda diri ikhtiar lahir batin dengan mini camper Duoraji Safari, pun perjuangan kami isoman COVID-19. Sekarang, terpisah ruang dan waktu, mari kita menikmati secangkir teh atau kopi, mensyukuri hidup hari ini. Tetap sehat, ikhtiar lahir batin, semoga kita bertahan seterusnya melewati pandemi yang  sulit untuk semua, tanpa kecuali. 



















Perjalanan Masih Panjang? Cerita Duoraji Part 2

 


Duoraji, penamaan ini sebenarnya penggabungan dua nama akhir pasangan menikah Santo RAchmawan (Satto Raji nama bekennya) dan Wardah FajRI (RAJI). Meski menikahnya 13 tahun silam (Juli 2008 sampai tulisan ini dibuat), sejujurnya penamaan Duoraji itu resmi dipopulerkan sejak kami berduaan menjalani garis perjalanan yang DIA tetapkan, setelah anak kedua kami meninggal, 6 Agustus 2016 (anak pertama keguguran 2,5 bulan kandungan). Saya lebih suka menuliskannya Duoraji bukan Duo Raji, anggaplah ini merek atau keyword untuk menyingkat penyebutan Wawa dan Satto RAJI. 

Pun usia pernikahan belasan tahun, sejatinya sebagai pasangan mulai kenal, memutuskan jadi kekasih, putus nyambung dengan drama dan ujian, lalu akhirnya Bersama sampai menikah, itu sudah berjalan 21 tahun (sejak 2000). Tapi baiklah, mari kita awali Cerita Duoraji sejak menikah saja. Sudah membaca Cerita Duoraji Part 1 tentang pernikahan? Ini cerita lanjutannya.

Cerita Duoraji – Pengantin Baru

Sah sebagai pasangan halal, perjalanan ini berawal 6 Juli 2008. Saat itu saya masih berpindah-pindah kerja, mengejar impian pekerjaan sebagai jurnalis sesuai bidang ilmu saya di IISIP Jakarta. Loh, bukannya bertemu pasangan di Budi Luhur? Iya saya, bertemu Satto di teater Budi Luhur lebih tepatnya, organisasi seni kampus yang membuat saya jatuh cinta dengan pria kelahiran Sukabumi, keturunan Malang, Jawa Timur, perpaduan Semarang, Jawa Tengah, karena air matanya. 

Kok air mata? Saya terenyuh melihat akting Satto saat Latihan teater KLOSET BULU, teater kampus yang pernah dipimpin Satto sebagai ketua. Saat itu, di depan halaman ruang kelas, area terbuka, dekat lapangan basket, kami anggota teater Latihan rutin. Ketua dan pelatih kami saat itu, Irvan Candranaya, mengharuskan kami berakting menangis dengan memunculkan kesedihan. Satto juaranya, entah dari mana dia membayangkan kesedihan sehingga air matanya mengalir natural. Saya terenyuh, itu saja. Lalu jatuh cinta dan makin cinta karena mulai memperhatikan perilaku dan karakternya. Beda, unik, enggak biasa, percaya diri dengan segala kekurangannya. Bukan sosok bujang kampus yang perlente, necis, bahkan posturnya saja enggak ideal, tapi entah kenapa saya melihat beda dalam dirinya, dan jatuh cinta sampai saat ini. 

Dibantu sahabat sekaligus senior teater saya Bang Iwan (rebex panggilannya), saya utarakan rasa, curhat lebih tepatnya. Semua berjalan natural saja sampai akhirnya Satto menyatakan ingin menjadi pasangan saya saat duduk bersama di depan gerbang kampus, di bawah patung Raden Gupolo (penjaga candi) yang menjadi ikon kampus Budi Luhur di depan pintu masuknya. 

Sejak itu, kami resmi pacaran, ya kami berpacaran layaknya anak muda dimabuk cinta, sampai drama ujian memisahkan ketika saya pindah kuliah ke IISIP Jakarta. Sebentar saja terpisah karena saya terjaring aliran mengatasnamakan negara Islam. Boleh dibilang, Satto malaikat penyelamat. Saya berhenti dari gerakan itu dan kembali hidup normal, diawali genggaman tangan dengan beban stigma dari para perekrut, saya dianggap kelompok itu sebagai kafir dan akan masuk neraka, kesulitan hidup menyertai dan tidak akan tenang selamat (dengan tujuan menakuti dan kembali “melawan NKRI” bersama mereka). Akhir cerita pemudi tersesat saat itu diselamatkan cinta sosok lelaki yang enggak pernah menghakimi sejak dulu hingga kini. Satto hanya merangkul, mendengarkan, dan selalu siap mendampingi saya kapan saja. 

Singkat cerita, sejoli menjadi pasutri. Duoraji menikmati masa pengantin baru, sangat menikmati. Inilah masa ketika Duoraji bisa mewujudkan impian hidup bersama, satu atap, susah senang bersama. Kami boyong peralatan rumah tangga seadanya, sesuai anggaran demi memenuhi syarat ketentuan menikah versi orangtua saya, keluar dari rumah Kreo. Ranjang dari kayu mahoni, serba hitam, lengkap dengan lemari dan meja rias, peralatan masak yang dibeli sendiri juga hadiah pernikahan, mengisi rumah kontrakan di Bintaro. Rumah petak kontrak yang sudah kami sewa sebelum menikah. Bahkan teman dekat saya, sesama mantan jurnalis sebuah harian berbahasa Inggris (yang terpaksa bubar dalam waktu sangat singkat), membantu membuatkan hantaran pernikahan cantik di rumah kontrakan. Hanya dua minggu di rumah Kreo setelah sah menikah, kami mulai perjalanan Duoraji, mandiri sesuai impian kami membangun keluarga. 

Pekerjaan freelance Duoraji, urusan EO kegiatan Lembaga Negara, menjadi ladang pencarian masa pengantin baru. Berganti-ganti pekerjaan dan tempat tinggal selama dua tahun. Tiga kontrakan dan pekerjaan freelance media monitoring Maverick, sampai relawan Komnas Perempuan dilakukan, mengalir saja, menikmati tanpa mengeluh atau mengadukan keadaaan ke keluarga.  Rumah kontrakan Bintaro, Kostrad Petukangan, Bekasi (bersebrangan Kemang Pratama), dijabani dengan berupaya mencari pekerjaan terbaik. Mendukung pasangan Satto yang berkesempatan kerja kantoran, berdasi, di Cibitung membuat Duoraji memutuskan tinggal mengontrak di Bekasi, dekat dengan mertua saya dan tidak terlalu jauh dari tempat kerja pasangan. 

Saya tidak bisa diam, aktif menjadi relawan Unit Pengaduan Rujukan Komnas Perempuan (2009) menjadi kesibukan kala itu. Semua menjadi lebih mudah karena Duoraji bersama, satu atap, dan sah pasangan halal yang mencari peruntungan di Jabodetabek. Manusia berencana, Tuhan Maha Tahu. Pekerjaan berdasi Satto Raji berakhir dalam tiga bulan saja. Rasanya seperti tafsir mimpi almarhuma mama mertua, yang bermimpi Satto jatuh dari tempat tinggi. Apa pun itu, semua atas izinNYA, kami jalani apa adanya. Bersiap dengan tantangan berikutnya, apa pun yang DIA gariskan atas kami, para pejuang kehidupan. 

Tahun 2010, teman kantor lama (atasan lebih tepatnya), mbak Dini kontak tiba-tiba setelah dua tahun tidak bersua. Menawarkan pekerjaan sebagai jurnalis media online di Kompas.com kanal Kompas Female. Sempat berpikir, apakah saya menyanggupi pekerjaan media online? Bismillah memulai perjalanan, dan hidup Duoraji berubah. Mbak Dini adalah redaktur saya sewaktu sempat menjajal menjadi reporter majalah Forsel Kompas Gramedia Majalah di Jalan Panjang. Dua tahun kemudian, kami menjadi tim di Kompas Female Palmerah Selatan. Impian menjadi jurnalis, di grup media terbesar di Indonesia, sah! Pekerjaan idaman tercapai setelah menikah. 

Bekerja maksimal, melewati masa percobaan dengan dibandingkan bersama sahabat saya Golda (wartawan TV), berjuang bersama menunggu keputusan siapakah terpilih menjadi karyawan kontrak Kompas Female. Saya tidak lebih baik dari Golda, kami terus berteman dan saling menyemangati, hingga akhirnya saya terpilih. Garis Golda adalah pekerja media TV, dia sukses di sana, saya mengikuti kisahnya termasuk pernikahan dan kelahiran anaknya. Ah, jadi kangen. 

Tekun menjaga integritas dan bersabar tangguh dengan segala tantangan dan prosesnya, menjadi kunci saya bertahan 6 tahun di KCM dan Kompasiana. Semoga reputasi saya baik-baik saja, meninggalkan kesan baik dari perjuangan karyawan kontrak selama dua tahun hingga akhirnya menjadi BIRU, tanda untuk karyawan tetap Kompas Gramedia Group. Banyak perubahan hidup dan tentunya perjuangan tiada akhir Duoraji. Setidaknya saya boleh berbangga sekaligus terharu, karena setelah setahun memutuskan berhenti sebagai pekerja media, saat masa terendah saya, KCM dan kawan-kawan di sana masih ingat dan peduli, datang menghibur hati, saat anak saya Dahayu, meninggal di usia 3,5 tahun pada Agustus 2016.

Keputusan meninggalkan pekerjaan media yang membutuhkan waktu dan perhatian ekstra, semua karena fokus keluarga. Saya tak merasa sanggup harus membagi waktu bekerja dengan Dahayu saat itu yang membutuhkan terapi untuk diagnosis delay developmentnya. Saya mengukur diri sekaligus gelisah memiliki karier dan anak usia 2 tahun yang belum bisa berdiri sendiri apalagi berjalan. Mana yang saya pilih? Saya memilih Dahayu. Terapi jadi tujuan utamanya. 

Saat saya bekerja sebagai jurnalis media online, Satto bekerja sebagai fotografer dan guru fotografi. Penghasilan kami mencukupi untuk mencicil rumah di Nuansa Asri, Cinangka, Sawangan Depok meski kami lebih mudah menyebutnya Pondok Cabe. Impian Duoraji kembali berwujud, tinggal dalam satu atap rumah sendiri, membangun keluarga, memiliki anak dan pekerjaan yang stabil. Duoraji menikmati masa keluarga mandiri dengan Mbok dan Teteh selalu setia membantu keluarga kecil yang hidup sederhana ini. Berkendaraan motor peninggalan orangtua, sementara tetangga hidup mapan dengan rumah dan kendaraan mobilnya.Duoraji bahagia, bersyukur, dan menikmati udara segar Cinangka bersama Dahayu yang bisa duduk berdiri dengan bantuan ayah ibunya, berkat terapi rutin fisioterapi delay development. 

Cerita bahagia ini tak panjang, harus berakhir dengan pontang-panting berkarier, bergantian mengatur jadwal menjaga anak di rumah, lantaran kehilangan semua pengasuh (yang memutuskan pulang kampung mengurus keluarganya). Saya pernah cerita sepenggal kisah Cerita Ibu tentang perjuangan membagi perhatian karier dan keluarga ini. 

Saya tak sanggup. Duoraji memutuskan menumpang sementara di rumah orangtua, menjual rumah hasil jerih payah, hingga akhirnya memutuskan tinggal di rumah kontrakan dekat rumah Kreo, dengan pengasuh orangtua beralih pekerjaan menjadi pengasuh Dahayu. ART di rumah kami, ibu Deti, sangat membantu Duoraji menyeimbangkan pekerjaan, karier dan anak semata wayang yang butuh perhatian khusus. Terapi berjalan normal, namun perkembangan Dahayu sampai usia 3,5 tahun belum juga bisa berjalan. Kognitifnya, Alhamdulillah. Dahayu lancar bicara bahkan sangat cerdas untuk usianya. Dahayu dengan mudahnya berekspresi bahkan mengoreksi kesalahan kata ibu Deti. Dahayu pernah bilang tiba-tiba, saat bersama berdua di rumah kontrakan Kreo, “Ibu, Ibu cantik deh”. 

Rumah sangat sederhana itu menyimpan banyak kenangan. Mulai tinggal di rumah kontrakan itu dengan mengambil keputusan besar, mengundurkan diri dari KG, meninggalkan karier dan pekerjaan stabil, demi anak. Duoraji memulai perjalanan baru, membangun Komunitas Bloggercrony bersama Anesa Nisa (kawan lama dari Kompasiana sesama mantan karyawan KG Palmerah). Tujuan kami sederhana, ingin berkegiatan dengan kemampuan dan relasi yang kami miliki, belajar bersama menjadi blogger, sama-sama bertumbuh sebagai blogger newbie, karena kami ini bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. 

Rumah kontrakan itu penuh kenangan, dan kutinggalkan karena tak sanggup membayangkan kebahagiaan bersama Dahayu di rumah kecil itu. Kakek Dahayu yang masih aktif ke musolah Kampung Kreo, sesekali mampir ke rumah kontrakan yang dilewatinya. Memanggil dengan suara beratnya, “Dayu…Dayu…”. Sekadar menyapa cucu yang membahagiakan hati dengan segala keterbatasannya. 

Dahayu meninggal dan Duoraji meninggalkan kenangan kebersamaan di setiap rumah yang Dahayu pernah singgah. Menjual rumah hasil jerih payah Duoraji, yang mulai dibangun saat Dahayu dalam kandungan. Rumah yang dimiliki Duoraji dengan segenap jiwa raga, menyiapkan segala sesuatunya dan menikmati makan nasi bungkus berdua di rumah yang kosong tanpa isi sama sekali. Sampai akhirnya rumah penuh perabotan termasuk hadiah-hadiah perkakas yang tak kami beli namun menjadi rejeki berkah rumah itu. 

Rumah dijual untuk menjadi benda produktif lain, Ayang Dayu (Agya Sayang milik Dahayu). Mobil putih city car sederhana menjadi awal perjalanan Duoraji dengan Dahayu, di rumah kontrakan Kreo. Perjalanan tak panjang, setahun saja Dahayu menikmati kendaraan pengganti rumah itu. Namun berkah menjadi pekerja mandiri, meninggalkan rutinitas pekerja kantoran adalah waktu terakhir bersama Dahayu  menjadi bermakna. Setahun kami berkelana, bahkan sempat membawa Dahayu  pulang kampung ke Malang berhari-hari. Dahayu menikmati kesederhanaan kampung Kemulan, Turen, Malang Selatan hingga ke laut Malang Selatan. Dahayu pamit ke leluhur ayahnya, sekitar sebulan setelahnya, Dahayu  berpulang selamanya. 

Dahayu jagoan cilik Duoraji, sempat berkelana ke Bandung, Semarang, Jogjakarta, hingga Malang. Anak kuat pintar cerdas yang belum sempat merasakan rasanya bisa berdiri dan berjalan tanpa bantuan ayah ibunya. Anak solehah yang sudah hafal Al Fatihah. Anak perempuan jagoan Ayah yang sangat fasih menyebut kata pertamanya “Ayah” di usia 11 bulan. Anak ibu yang sangat mencintai kakek nenek mbah dan ayah ibunya. Anak perempuan yang sangat dekat dengan ibunya, selalu memeluk dan mengucap cinta dengan tatapan mesra dan kata-kata indah tak pernah disangka. Allah mengajarkan Dahayu berkata meski belum sanggup memerintahkan otak agar kakinya berdiri dan berjalan mandiri.

Dahayu jagoan cilik Duoraji, meninggalkan cinta untuk semua kawan orangtuanya, bahkan mewarisi pertemanan baru sepeninggalnya. Dahayu boleh tak berdaya koma di ruang ICU Rumah Sakit, namun kekuatan cintanya dahsyat. Termasuk menghadirkan kekuatan Allah mengalir kepada orangtuanya, yang tetap waras sepeninggalnya, bertahun-tahun kemudian bertahan dalam iman dan keberserahan. 

Duoraji patah hati namun  berusaha waras menjalani ketentuanNYA. Satu permintaan di ruang ICU Rumah Sakit Agustus 2016 lalu. “Ya Allah, saya ridha ikhlas Dahayu pergi namun mohon berikan kekuatanMU kepada kami menjalani ini, kami mohon kuatkan kami, beri petunjukMU, aliri kekuatanMU, innalilahi wa inna ilaihi rojiun” La haula wa la quwwata illa billah, karena sungguh tanpa itu, kami takkan sanggup. Sepanjang pemakaman dan seterusnya, Allah kabulkan doa permohohan kekuatan itu. 

Rumah kontrakan yang Duoraji pernah tinggali bersama Dahayu terasa sempit. Setiap sudut mengingatkan Dahayu. Alhamdulillah berkat hubungan baik nenek Dahayu dan sahabat yang juga kerabat keluarga, Duoraji menempati rumah kontrakan baru dekat Musolah Mujahidin Kampung Kreo Selatan, terasa lega, luas dan mulai perjalanan baru sebagai DUORAJI. 

Kami berdua, lagi, berusaha waras dan terus menjalani ketentuanNYA, sampai nanti waktunya tiba berkumpul lagi, semoga. Satu tahun Duoraji tinggal di rumah kontrakan baru sepeninggal Dahayu. Cerita Duoraji masih panjang, 4,5 tahun bertahan waras dan berjuang menjadi lebih baik, sebagai pekerja mandiri berduaan bagai pengantin baru lagi, tanpa anak semata wayang, malaikat Duoraji yang sudah bahagia di surgaNYA, Dahayu bersama kakaknya. Ayah ibunya masih berjuang dalam perjalanan di bumi. 


Seri Cerita Duoraji berlanjut….

Perjalanan Masih Panjang? Cerita Duoraji Part 1

 


Duoraji, penamaan ini sebenarnya penggabungan dua nama akhir pasangan menikah Santo RAchmawan (Satto Raji nama bekennya) dan Wardah FajRI, RAJI. Meski menikahnya 13 tahun silam (Juli 2008), sejujurnya penamaan Duoraji itu resmi dipopulerkan sejak kami berduaan menjalani garis perjalanan yang DIA tetapkan, setelah anak kedua kami meninggal, 6 Agustus 2016 (anak pertama keguguran 2,5 bulan kandungan). Saya lebih suka menuliskannya Duoraji bukan Duo Raji, anggaplah ini merek atau keyword untuk menyingkat penyebutan Wawa dan Satto, RAJI.

Usia pernikahan belasan tahun, namun sejatinya sebagai pasangan mulai kenal hingga memutuskan jadi kekasih, putus nyambung dengan drama dan ujian, lalu akhirnya bersama sampai menikah, itu baru berjalan 21 tahun (sejak 2000). Tapi baiklah, mari kita awali Cerita Duoraji sejak menikah saja.

Ohya, tulisan ini bukan tips pernikahan. Sungguh, saya merasa miskin ilmu soal pernikahan. Bercermin dari ayah (85 th) dan ibu (80 th), yang usia pernikahannya Alhamdulillah lebih dari 60 tahun hidup berdampingan dengan 7 anak  (dari 8 yang dilahirkan). Saya sebagai anak perempuan satu-satunya di keluarga besar Achmad Sanusi bin Syuaib dan Sumiah binti H. Usman, warga asli Kreo Selatan, Kota Tangerang, sekarang Banten yang dulu pernah jadi warga Jawa Barat. Banyak kebaikan dari keduanya yang saya cerna dan coba terapkan dalam pernikahan, tentunya disesuaikan relasi kekinian (karena banyak juga pola relasi suami istri yang mereka jalani kurang relevan dengan kondisi sekarang). 

Orangtua saya bukan manusia sempurna, banyak kurangnya, namun bagi saya, ayah ibu contoh teladan utama yang terdekat. Tentu role model utama kami adalah junjungan nabi besar Muhammad SAW, manusia pilihan yang sempurna. Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad.

Saya memilih menulis Cerita Duoraji (biasanya menulis Cerita Ibu dan sudah lama sekali vakum), di bulan Ramadan 1442H/2021M, karena tergerak dari hati. Jelang 13 tahun pernikahan (angka favorit Satto Raji) dan di usia 40 tahun Satto serta jelang 40 tahun Wawa. Cerita hidup dimulai (lagi) usia 40 katanya. Selain karena lebih punya banyak waktu lantaran larangan ini itu dari pasangan dan ayah yang ikut-ikutan menjaga. Menjaga dari apa? Mari mulai ceritanya, bakal panjang dan pertanyaan ini belum terjawab di Part 1 dari cerita berseri ini. 


Cerita Duoraji – Pernikahan

Santo dan Wawa menikah di tanggal cantik hari Minggu, 6-7-8 (6 Juli 2008) di Kreo Selatan, rumah orangtua tepatnya aula majelis taklim ibu, Darussaadah. Akad nikah dan resepsi semua berlangsung di aula hasil perjuangan ayah ibu sebelum saya dilahirkan. 

Pernikahan satu-satunya anak perempuan yang seperti perayaan sekali selamanya, juga dipersiapkan maksimal oleh ayah ibu saya. Tentunya kemandirian Duoraji menyertai, sejujurnya saat belum ramai endorsement media sosial saat ini, 13 tahun lalu Duoraji sudah optimasi kekuatan konten dan relasi sebagai endorsement pernikahan. Bedanyaaaaa, kami tidak menerima GRATIS namun penghematan dan kebaikan relasi pekerjaan menulis sungguh membantu terselenggaranya pernikahan impian versi Duoraji.

Mungkin berlebihan kalau saya bilang pernikahan Duoraji sederhana. Kami paham apa itu pernikahan sederhana. Sejak tahun 2000 berkenalan dan berpacaran (ya, kami berpacaran semasa kuliah di Budi Luhur), kami enggak hanya sekadar jadi bucin. Duoraji mungkin memang sudah digariskan jadi couplepreneur bahkan sebelum istilah itu menjadi populer. Sejak bersama sebagai sejoli, hari-hari kami diisi kuliah, organisasi kampus, teater, fotografi, foya-foya ala anak muda kalangan pas-pasan, dan bisnis fotografi pernikahan.

Jadi, kalau pernikahan Duoraji disebut sederhana, memang agak berlebihan. Pekerjaan Duoraji tahun 2000 adalah membantu memotret akad nikah dan resepsi pernikahan, pasangan yang anggarannya seadanya namun ingin punya rekaman momen bersejarah dalam hidupnya. Kami paham seperti apa pernikahan sederhana dari perjalanan motret kawinan ala Duoraji kala itu.

Pernikahan Duoraji kental dengan nuansa Betawi, suku asli saya dan keluarga, berbalut nuansa religi. Urusan konsep pernikahan tentu hak saya yang punya sedikit impian pernikahan, dengan tetap mendengarkan kemauan harapan keluarga terutama orangtua.

Duoraji menabung dari hasil bekerja dengan segala ketidakpastiannya. Maklum, kami menikah saat pekerjaan belum ajeg, belum dikatakan sukses versi orang kebanyakan, namun kami bekerja sejak kuliah mencukupi kebutuhan kami di luar pemberian orangtua.

Dengan penyesuaian anggaran pernikahan, hubungan baik dengan relasi pekerjaan yang kebetulan berkaitan dengan dunia pernikahan membuat kami setidaknya bisa mewujudkan impian hari istimewa dengan banyak penyesuaian tentunya. Pelaminan bambu bertabur bunga, baju pengantin yang tak biasa (hitam ungu warna favorit saat itu), banyak kurangnya karena terbatas anggaran Duoraji tapi kami sumringah Bahagia menikmati hasil jerih payah. Tata rambut dan rias (saat itu belum berhijab), tentunya kuserahkan ke sahabatku MUA yang paham banget karakterku, Mila pemilik Mila Salon Jatibening. Bukan tata rias kebanyakan saat itu karena sangat simpel minimalis bahkan ada tamu di kampungku bilang, ala artis, suka dan ingin seperti itu saat menikah nanti (wow kami jadi inspirasi).

Keluarga Malang, Jawa Timur yang kental dari garis pasanganku, Satto, tentunya tetap diakomodasi. Organ tunggal dengan penyanyi yang siap menghibur dengan song list campur sari, bikin suasana Betawi dan Jawa berpadu seperti Duoraji menyatu. Duoraji juga sudah menyiapkan song list, Bossanova Java. Alangkah tak kuasanya pengantin yang sibuk haha hihi dengan tamu, ketika songlist tiba-tiba berubah jadi dangdutan, khas pernikahan warga Betawi. Wassalam dan pasrah saja, yang penting semua bahagia. Fokus utama saya kala itu, berbahagia di pelaminan menyambut tamu sekitar 500 undangan (Duoraji only). 

Semua sudah dipersiapkan maksimal, tenda, pelaminan, baju pengantin, hiburan, MUA, undangan, hantaran semua Duoraji siapkan mandiri. Orangtua tentu ambil peran, mereka ingin semuanya berlangsung sesuai versinya. Katering untuk 1500 undangan (bisa jadi yang hadir lebih dari itu) urusan orangtua. 

Bahkan orangtua saya enggak mau kalah seru, mereka menghadirkan palang pintu menyambut calon mantu sebelum akad nikah dan satu lagi yang khas, Sohibul Hikayat. Tradisi lisan Betawi yang biasa dihadirkan saat pernikahan atau khitanan, pertunjukkan seni tradisional, dipesan khusus oleh ibu dalam kemasan seperti ceramah agama namun menghibur. Terbukti, teman kerja merasakan kehangatan dan hiburan Sohibul Hikayat ini.

Saudara sekandung dan kerabat dekat Duoraji juga enggak mau ketinggalan kalah seru, mereka menyiapkan seragam. Duoraji khusus menyediakan seragam penerima tamu ala none Betawi dan seragam saudara laki-laki ala Jampang jagoan Betawi. Semua sibuk dengan impian pernikahannya masing-masing, tugas saya memadukan semuanya agar setiap orang merasa dilibatkan untuk kebahagiaan bersama. Soal hasil, saya pasrahkan saja. Hari itu, Duoraji bahagia. SAH!

Bersambung...

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Pengalaman Suntik Vaksin Sebelum dan di Tengah Pandemi




Pandemi mengubah segala hal, tanpa kecuali, tak ada pilihan kecuali adaptasi. Persoalan kesehatan pribadi apalagi, banyak sekali adaptasi, tidak lagi bisa pakai pola lama. Contohnya saja, semakin sulit membedakan sakit flu biasa dengan gejala covid, adaptasinya adalah mau tidak mau harus tes untuk mengetahui kondisi tubuh. Tak ada jalan lain kecuali tes kesehatan untuk memastikan, sehat sebenar-benarnya sehat atau sehat "palsu" (bisa jadi merasa sehat padahal ada penyakit entah apa di tubuh). 

Pilihan lain adalah proteksi diri. Rasanya investasi paling berharga saat ini adalah investasi kesehatan. Jika tubuh dan pikiran sehat, bisa produktif bekerja, beribadah, beraktivitas apa pun itu pilihan hidup kita. Bagi saya, vaksin di tengah pandemi merupakan bentuk ikhtiar menjauhi diri dari penyakit serta mengurangi risiko penyakit, sekaligus investasi kesehatan.

Apalagi, pandemi membuat perjuangan bertahan menjaga imun termasuk hati yang gembira, semakin sulit. Bagaimana tidak, setiap orang tanpa kecuali, punya pergulatan hidup masing-masing. Bisa jadi tertimpa masalah sama beratnya sebelum pandemi, tapi di zaman pageblug ini semua terasa berbeda, butuh usaha lebih kuat mengatasi semua masalah yang pasti datang. Masih hidup masih akan ada terus masalah, bukan? Menjaga imun dengan bertahan tenang dalam situasi sesulit apa pun, sungguh perjuangan di masa pandemi.

Dengan segala ketentuanNYA yang datang ke keluarga inti saya dan suami, pun keluarga besar ayah ibu kami, sebelum dan di tengah pandemi, mau tidak mau kita dihadapi pilihan-pilihan. Untuk membuat pilihan perlu pengetahuan. Alhamdulillah, dalam perjalanan saya urusan kesehatan, selalu terpapar pengetahuan dari ahlinya, sehingga saat menjalani ujian sesungguhnya, Insya Allah mengambil keputusan terbaik.

Dulu, sebelum saya akhirnya menjalani ketentuanNYA memiliki anak lahir prematur, saya menjalani pekerjaan wartawan kesehatan dan gaya hidup sehat. Meski saat merawat anak kandung lahir prematur tidak selalu sama dengan teorinya, namun berbekal pengetahuan setidaknya bisa merawat maksimal meski ketetapanNYA berkata lain, anak kami berpulang di usia 3,5 tahun. Penyesalan, merasa bersalah, merasa kurang maksimal? ya ada perasaan-perasaan itu, saya manusia biasa bukan manusia super. Namun bukan lantas larut dalam kesedihan dan penyesalan, tidak juga berpura-pura tegar, semua berjalan seimbang dengan perjuangan. Satu hal yang kadang saya sesali namun selalu menegur diri sendiri untuk tidak larut dalam penyesalan, adalah vaksinasi tambahan yang belum lengkap untuk anak balita saya. Saya belum sempat memberikan hak kesehatan untuk anak saya, sebagai proteksi, berupa vaksin PCV. Vaksin ini di luar vaksinasi wajib anak yang sudah saya dan suami tuntaskan untuk Dahayu. Vaksin PCV ini tambahan dan sejak dulu kami merawat anak sekitar tahun 2013-2016 harga vaksin ini memang mahal. Faktor biaya menjadi alasan utama kami belum vaksinasi. Proteksi lain menjadi cara perlindungan dari risiko penyakit, seperti higienitas, fisioterapi, dan asupan makanan. Meski sudah ikhtiar maksimal, takdirNYA berkata lain. Anak kami yang berkebutuhan khusus dengan berbagai masalah fisiknya, dugaan cerebral palsy (CP) ringan, memberikan kebahagiaan kehidupan 3,5 tahun, atas izinNYA. 

Pengalaman ini yang membuat saya enggak main-main dengan kesehatan. Saya termasuk yang rajin cek kesehatan secara berkala dan percaya ahli medis untuk menjelaskan kondisi fisik jika ada keluhan. Saya juga percaya herbal dan berbagai cara natural menjaga kesehatan tubuh/fisik bahkan kesehatan mental. Berusaha seimbang medis dan non-medis dalam menyikapi penyakit, menjadi pilihan saya dengan berbagai riwayat kesehatan. 




VAKSINASI
Soal vaksinasi/imunisasi bukan perkara baru buat saya pribadi. Saya tidak akan membahas vaksinasi anak/bayi. Proteksi kesehatan di masa pandemi juga berlaku untuk orang dewasa yang lebih bisa mengontrol dan peka dengan sinyal tubuhnya. Kepekaan sinyal tubuh sebenarnya kunci utama, mengkhawatirkan kesehatan dan mencari solusi tanpa khawatir berlebihan atau overthinking yang justru akan memperburuk kesehatan diri. Intinya berusaha bertahan berjuang seimbang dalam segala hal, tidak meremehkan tidak juga menyikapi berlebihan. 

Vaksin pertama yang dokter suntikkan ke tubuh saya adalah HPV dengan suntikan ketiga (terakhir) pada Maret 2018. Edukasi dan pengalaman pribadi bisa baca tulisan saya. Kenapa vaksin HPV? Saya bisa bilang petunjuk semesta membawa saya mendapatkan pengalaman ini. 

Pertama kalinya saya tes IVA, dan yang paling mendebarkan dari setiap kali pemeriksaan sebenarnya bukan pada proses periksanya tapi saat menunggu hasil dan analisa dokter. Hasilnya, saya diduga radang serviks. Beberapa hari setelahnya masih berusaha mencerna dan menimbang, kenapa bisa? Ada yang salah dengan hubungan seksual dengan suami kah? Atau ada yang salah dengan kebiasaan berkaitan dengan organ intim? Saya cari lagi ilmunya, bahkan dari artikel kesehatan yang dulu pernah saya tulis sendiri. Sebenarnya banyak faktor jika ada satu saja diagnosa penyakit. Tidak terburu-buru memutuskan sesuatu, berusaha kontrol diri sebaiknya, tidak meremehkan tapi tidak juga terlalu khawatir. Cara berpakaian misal penggunaan celana dalam kurang higienis, terlalu ketat, bisa saja menimbulkan banyak gangguan organ intim perempuan yang memang sangat sensitif. Kita tidak bisa sekadar mengira-ngira namun screening awal diri sendiri menjadi penting untuk mengakui kesalahan merawat diri. Selanjutnya serahkan kepada ahlinya, saya memilih tes papsmear ke dokter. 

Semesta membawa saya ke RS Siloam Karawaci dengan promo pemeriksaan papsmear di sana dan vaksinasi. Vaksin HPV tidak sembarang diberikan. Saya melewati tahapan konsul dokter, papsmear dan menunggu hasilnya beberapa hari, analisa hasil, dan ketika hasil papsmear baik lanjut vaksinasi HPV terjadwal tiga kali suntikan dengan tahapan dan pemantauan dokter.

Satu vaksin sudah disuntikkan ke tubuh dengan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi atau KIPI normal saja, lengan terasa kebas beberapa saat. Saya tetap bisa beraktivitas bahkan melanjutkan kerja terbang ke luar kota sehari setelah vaksin. 

Vaksin di tengah pandemi lain ceritanya. 

Perubahan informasi dan kebijakan kesehatan yang cepat sekali berubah di masa pandemi, bukan hal yang aneh buat saya. Saya bisa sangat paham kenapa para ahli beberapa kali harus merevisi informasi kesehatan. Virus corona yang menjadi sumber penyakit COVID-19 ini sesuatu yang baru, semua belajar mengalahkannya dengan ilmu pengetahuan dan berbagai cara adaptasi pandemi. 

Saya mengikuti sekali kasus COVID-19 sejak di Wuhan. Berempati terhadap kesusahan warga dunia yang terkena pandemi. Sampai akhirnya virus yang tadinya sangat jauh ini tiba di Indonesia. Semua rencana berubah, semua keadaan berbalik, segalanya berubah cepat sekali. Kita dipaksa sesuatu yang maha dahsyat ciptaanNYA yang semestinya membuat kita cukup sadar diri, kita lemah tiada daya namun bukan lantas menyerah dan menyalahkan keadaan saja. 

Vaksin menjadi salah satu solusi di masa pandemi. Sejak isu vaksin COVID-19 masih jadi wacana, saya sudah ikuti update informasinya. Awalnya vaksin COVID-19 setelah melewati tahapan uji klinis, hanya boleh untuk usia tertentu dan banyak catatan kondisi yang belum bisa mendapatkan suntikan vaksin. Secara umur, saya masih masuk ketegori penerima namun kondisi saya saat itu, sekitar Januari 2021, baru tiga bulan sembuh TB Paru membuat saya masih memonitor kondisi sambil menunggu update vaksinasi. 

Mengetahui hal itu, saya hanya berharap mereka yang aman menerima vaksinasi, bisa sukarela mendapatkan suntikan vaksin gratis dan melindungi kami yang belum bisa divaksin. Saya mencari cara lain berikhtiar melindungi diri dari risiko penyakit di masa pandemi. 

Saya riset kecil-kecilan dan hasil ikut webinar bersama vaksinolog Indonesia, dr Dirga, menambah pengetahuan soal vaksinasi di masa pandemi. Hasilnya, saya meyakinkan diri sendiri dan memastikan keamanaannya untuk kondisi saya sebagai penyintas TB Paru. Saya memilih Imuni untuk vaksinasi influensa dan thyphoid. 

Kenapa saya pilih dua vaksinasi itu di tengah pandemi? Saya memahami kondis fisik dan riwayat penyakit pribadi. Selain konsultasi gratis via online dengan dokter dari Imuni, saya juga meyakini vaksinasi menjadi cara saya bertahan di masa pandemi COVID-19 ini. Saya ini rentan sekali terpapar dengan pengalaman sakit TB Paru yang menyerang imun dan pernafasan, saya paham sekali betapa kesakitannya penderita penyakit sesak nafas, disertai batuk, keringat yang mengalir, itu sudah saya rasakan saat dirawat seminggu di RS Pelni karena TB Paru November 2019. Lanjut pengobatan satu tahun sampai akhirnya dokter spesialis paru di RS Aminah menyatakan saya sudah tuntas pengobatan pada November 2020.

Saya juga paham kondisi diri. Sebelum dokter memvonis saya TB Paru, saya pernah sakit dengan gejala sejenis. Sesak nafas parah saat terkena flu. Masalah pernafasan memang jadi riwayat penyakit saya, termasuk asma ringan dan sempat sesak nafas parah ketika sedang bekerja di Palembang di tengah kabut asap. Saya sudah mengikhlaskan diri saat terkena sesak nafas karena kabut asap di Palembang dan kondisi imun melemah. Sempat saya katakan kepada diri sendiri, aku berserah kepadaMU ya Allah kalaupun saya harus berakhir di kota ini, sendiri, tanpa orang kesayangan. Bukan bermaksud berlebihan, karena serangan sesak nafas itu benar-benar di luar dugaaan. Terjadi saat saya di bandara hendak pulang ke Jakarta. Saya berjalan sekuatnya ke klinik bandara, dengan kondisi hidung tersumbat, seperti flu berat yang terjadi tiba-tiba saja, lalu muntah, batuk, dan akhirnya diberikan nebulizer oleh petugas klinik bandara dengan sigap dan ramah.  Saya dirujuk ke RS terdekat di Palembang, lalu diobservasi cek jantung dan suntik alergi. Saat dokter baik hati menyatakan saya aman terbang, saya dibolehkan kembali ke bandara dan pulang ke Jakarta. Dokter menyarankan sebaiknya saya pulang daripada memilih tetap berada di Palembang saat kabut asap dan kondisi udara sedang buruk. Bismillah, saya pulang dan tiba di Jakarta tak berapa lama bertemu suami tercinta. Saya masih hidup. 

Pengalaman sesak nafas karena udara buruk dan flu berat, membuat saya berpikir harus vaksinasi influensa. Keputusan tepat dengan langkah tepat menyerahkan kepada ahlinya, vaksinasi influensa yang direkomendasikan WHO di masa pandemi, bersama IMUNI saya vaksinasi Januari 2021. 

Bukan Wawa namanya kalau enggak detil tanya sana sini. Sebelum suntik vaksin influensa, saya beberapa kali pakai aplikasi chat konsul dengan dokter IMUNI. Bersyukur dokter konsulnya informatif dan ramah, saya merasa cukup terinformasi. Terutama tentang apakah riwayat penyakit saya cukup aman untuk suntik vaksin insfluensa dan thyphoid? Saat itu kolesterol saya tinggi, apakah aman? Maklum, baru pertama kali vaksin jadi masih butuh penguatan hati. Semua terjawab lewat konsul online. Selanjutnya ikuti saja petunjuk vaksinasi di IMUNI tentunya dengan pendaftaran, penjadwalan dan pembayaran dong. 

Kekurangan saya saat vaksin influensa dan thyphoid adalah kurang makan. Saya merasa agak kelinyengan setelah vaksin, bukan karena vaksinasinya tapi karena jam makan siang saat suntik. Jadi saran saya, brunch aja kalau jadwal suntiknya tepat waktunya makan siang. Dokter vaksinator dengan sabar menunggu 30 menit setelah suntik untuk memastikan aman. Memang aman dan tidak ada keluhan sama sekali dalam 30 menit sampai 3 hari, sepekan bahkan berbulan-bulan kemudian. 

Oya, saya memilih vaksin thyphoid juga karena riwayat tipes berulang (2-3 kali) dengan dua kali opname. Cukup rasanya opname karena tipes. Meski begitu vaksinasi bukan lantas bikin imortal atau sama sekali tidak akan sakit. Kalau salah jaga pola hidup dan pola makan ya sakit akan tetap datang. Namun setidaknya, vaksinasi meringankan penyakit atau mengurangi kesakitan. Semoga sih sehat saja. 

Saya cukup lama mengendapkan tulisan ini. Sampai saya mempublikasikan ini, sudah tiga bulan lebih, apakah ada dampak vaksinasi? Tidak ada efek samping yang ada saya merasa terlindungi meski akhirnya flu menyerang imun juga. Kena juga deh flu, pikir saya. Lantas apa artinya vaksin tidak bekerja? Jangan dulu menyimpulkan begitu. Banyak faktor kenapa imun kalah dengan flu meski kekebalan tubuh sudah disiapkan lewat imunisasi. 

Yang pasti, flu yang saya alami di pandemi hanya gejala ringan dan terjadi dalam satu pekan. Setelah itu sisa batuk saja. Saya merasa flu tidak seberat sebelum vaksinasi. Pernafasan saya aman terkendali. Pilek hidung mampet dan gejala flu lainnya tidak disertai demam dan sembuh lebih cepat. Saya merasa di sinilah vaksin bekerja.

Lalu bagaimana dengan vaksin COVID-19? Hhmm cerita enggak yaaaaa.... saya tunda ceritanya beberapa waktu lagi yaaaa. 









Solutif! Bekerja dan Belajar Daring dengan smartfren Unlimited Bisa Semua

Adaptasi kebiasaan baru di masa pandemi bikin semua orang belajar banyak hal baru. Berhubung mobilitas dibatasi selama pandemi, aktivitas di rumah jadi bergantung dengan internet. Termasuk saya, yang enggak bisa diam di rumah dan sangat mengandalkan internet untuk beraktivitas termasuk cari referensi dan hiburan tentunya lewat Youtube. Selama pandemi saya juga menemukan solusi berinternet Unlimited Bisa Semua.

Siapa yang enggak kenal Youtube? Platform berbagi video ini, sampai tahun 2019 kemarin masih merajai dari segi pengguna. Wajar aja sih, semua ada di Youtube, dari belajar masak,edit video, fotografi, benerin laptop sampai tutorial buka tutup botol juga ada.

Kalau saya, sejak masa pandemi ini jadi sering akses Youtube mencari referensi mengenai internet marketing sampai dengerin ceramah kyai yang kajiannya bikin hati adem. Biasanya jelang istirahat malam, saya dan pak suami suka dengerin bareng sambil ngobrol santai. Tapi, aktivitas ini bikin saya khawatir karena beberapa kali saya perhatikan, pak suami jelang tengah malam malah sering buka Youtube. Di luar waktu itu, lebih suka googling atau bersosial media.

Ternyata, pak suami memanfaatkan gratis akses Youtube yang diberikan providernya dari jam 00.00 sd 06.00. Dia bilang, sayang kalau enggak dipakai, udah dikasih gratis. Tapi kegiatan seperti ini justru mengganggu jam biologis kita, dan waktu istirahat. Beda soal saat Ramadhan misalnya, memang waktu tersebut kita terjaga untuk menanti sahur.

Saya mulai berpikir mencari solusi supaya aktivitas daring tetap berjalan normal dan menyehatkan, bukan malah mendatangkan risiko gangguan fisik. Apalagi setelah setengah perjalanan pandemi, kebutuhan kuota internet menjadi hal wajib. Kenapa? Karena aktivitas bisnis dan pekerjaan mulai bergeliat setelah 4-5 bulan pertama masa pandemi kita semua patuh karantina, selain memang PSBB masih ketat.

Semua kegiatan bisnis beralih ke digital yang membutuhkan jaringan internet. Proses belajar mengajar pun berlangsung secara daring baik yang formal maupun informal. Termasuk pelatihan yang makin marak di masa pandemi dengan format serba virtual. Sistem belajar pelatihan online dominan memperhatikan video berisi materi dari narasumber. Rata-rata ada 10-13 video materi yang berdurasi 7 sd 10 menit yang bisa kita lihat dan pelajari. Dan kita bisa mengakses video tersebut berulangkali sampai kita benar-benar paham.

Momen ini membuat saya makin gencar mencari solusi beraktivitas daring selama di rumah aja. Salah satu caranya adalah menyeleksi provider yang paling mumpuni. Syarat utamanya tentu jaringan kuat di area rumah saya, kuota besar dan harga terjangkau. Sebenarnya saya ada niat untuk menggunakan ISP, tapi berhubung perusahaan yang kami inginkan jaringannya belum masuk ke area tempat tinggal kami, rencana ini tertunda.


smartfren unlimited semua aplikasi www.wawaraji.com 



Akhirnya saya dan suami coba mencari provider dengan paket harga yang masuk akal. Kebutuhan internet saya terbilang besar dan mengharuskan jaringan stabil. Selain saya butuh internet untuk mengikuti beberapa kelas online, saya harus bekerja secara daring sebagai narasumber pelatihan online dan produser webinar selama lima bulan terakhir.

Begini gambaran pekerjaannya. Mulai Agustus sampai Oktober, saya harus memfasilitasi pelatihan daring untuk UMKM di 4 wilayah di Indonesia. Semua serba virtual dan dua kali seminggu, dengan waktu sekitar delapan jam per harinya, saya nonstop menggunakan laptop, smartphone dan tentunya internet. Rutinitas ini berlangsung selama tiga bulan, coba hitung berapa banyak kuota internet yang saya konsumsi?

Setelah tuntas pekerjaan kelas online di Oktober, lanjut pekerjaan yang juga menggunakan platform digital sebagai produser webinar. Target pekerjaan daring kali ini merancang dan supervisi penyelenggaraan webinar yang berlangsung setiap hari Senin, Rabu, Jumat, dan Sabtu. Rata-rata dua kali webinar per hari dengan satu webinar durasinya dua jam.

Saya benar-benar butuh Unlimited Bisa Semua. Ya, bisa 24 jam, bisa di semua aplikasi tanpa dibatasi, bisa di semua lokasi karena pekerjaan saya juga mobile, dan bisa untuk semua orang.