Ibu Bijak Pengendali Keuangan Keluarga


Siap menjadi ibu? Jangan dipikir mudah jadi ibu dari anak-anak kita dan istri dari pasangan yang kita pilih untuk hidup selamanya. Eh, tapi jangan juga jadi ketakutan atau khawatir enggak bisa jadi ibu yang baik. Tak ada manusia sempurna, pun tak ada perempuan sempurna, semua pasti punya kelemahannya.

Saya berani mengakui, kelemahan saya adalah disiplin mempraktikkan perencanaan keuangan. Jangan tanya sudah berapa kali saya ikuti talkshow dari para financial educator. Berkali-kali mengikuti edukasi keuangan atau financial literacy penting bagi saya, meski ilmunya dan teorinya sama saja, namun datang menghadiri kegiatan literasi finansial seperti memberikan pengingat sekaligus “wake up call” lalu refleksi diri, apa yang  salah dan kurang saya jalani.

Dalam beberapa kegiatan literasi finansial selalu menekankan pemeriksaan keuangan atau financial check up. Menulis ulang, lagi dan lagi, berapa pemasukan bulan dan pengeluaran rutinya. Lalu pembagian pengeluaran yang biasanya terdiri atas Sedekah (5%), Biaya Hidup (30%), Cicilan Utang (30%), Gaya Hidup (10%), Dana Darurat (10%), Investasi (15%).
Berkali-kali pembagian ini dibahas dalam edukasi finansial keluarga. Termasuk dalam program “Ibu Berbagi Bijak” Visa Financial Literacy Series Financial Check Up di Jakarta. Bersama Prita Gozie, Visa mengedukasi kaum ibu untuk lebih bijak mengelola keuangan terutama dalam keluarga.

IG/Twitter @wawaraji


Ilmu perencanaan keuangan ini memang penting dipahami kaum ibu karena mengurus keluarga dengan berapa pun penghasilan suami atau ditambah penghasilan istri, sungguh bukan perkara sepele.

Pencatatan pemasukan apalagi pengeluaran menjadi penting. Bagi yang suka berjibaku dengan aplikasi Excel, akan sangat memudahkan mengurus pemasukan dan pengeluaran, lebih tertata rapi. Bagi yang suka mencatat manual di buku silakan saja. Kalau kata Prita Gozie, apa pun caranya, pencatatan arus keuangan itu bisa membantu kita mengendalikan keuangan.

Selain mencatat pengeluaran dan pemasukan, bahkan kalau perlu simpan bon untuk memantau pengeluaran, yang juga penting adalah pembagian jatah pengeluaran. Banyak metodenya yang sudah sering disampaikan para financial educator.

Pernah dong mendengar sistem amplop? Biasanya kaum ibu yang belum mengikuti kelas literasi finansial pun sudah menjalani ini. Amplop bisa bermakna amplop dalam arti sebenarnya atau dompet. Jadi, bagi anggaran pengeluaran. Amplop/Dompet A untuk biaya hidup seperti listrik, air, pulsa, makan, transport, dll yang merupakan kebutuhan wajib atau biaya hidup, porsi idealnya 30 persen dari penghasilan rutin. Amplop berikutnya untuk kebutuhan lain seperti cicilan utang, sedekah, dana darurat yang perlu disiapkan apalagi untuk freelancer agar bisa “hidup” membiayai biaya hidup minimal tiga bulan ke depan, investasi seperti reksadana, deposito, logam mulia, lalu sisakan untuk gaya hidup, bahkan kalau perlu menekan gaya hidup seperti belanja tas, sepatu, ngopi di café dengan anggaran 10 persen maksimal dari penghasilan.

Cara lain adalah buka rekening di luar arus kas utama. Rekening belanja kerap disebut para financial educator. Siapkan rekening khusus di bank, hanya untuk belanja. Alokasikan dana maksimal 10 persen saja setiap bulan. Jika uang di rekening tersebut habis, maka kita tidak berhak belanja. Jangan pakai uang biaya hidup apalagi jatah bulanan untuk sedekah, hanya karena tergiur diskon di mal.

Kalau perlu ada rekening lain khusus untuk investasi, untuk dana darurat sehingga kita kaum ibu ini bisa lebih bijak mengendalikan keuangan keluarga.

Ilmu literasi finansial keluarga seperti ini sudah sangat sering disampaikan. Jujur, mempraktikkannya sungguh tak mudah, karena disiplin diri memang musuh terbesar kita, atau setidaknya saya pribadi.

Menekan gaya hidup agar semua pengeluaran on track, sungguh perjuangan apalagi dengan mobilitas tinggi dalam aktivitas harian kita, eh saya. Kalau kata Prita Gozie, korbankan gaya hidup bukan lantas menghilangkannya kok. Kita hanya perlu mengendalikan gaya hidup bukan tidak memiliki lifestyle sama sekali seperti ngopi di café sambil curhat sama sahabat misalnya. Perlu juga curhat kan supaya enggak depresi karena pengeluaran tak seimbang dengan pemasukan.

Karenanya, menurut saya, mengingatkan diri sendiri bersama pakar keuangan sungguh siraman rohani. Kita diingatkan lagi dan belajar lagi. Seperti saya belajar hal baru di Visa Financial Literacy Series bersama Prita Gozie, bahwa pemeriksaan keuangan perlu dilakukan setahun sekali, wajib!

Cek kembali seberapa sehat keuangan kita. Kalau aset bertambah 10 persen tandanya positif. Biasanya pemeriksaan keuangan tahunan ini dilakukan Januari di awal tahun, atau jika sudah punya anak usia sekolah, saat anak masuk sekolah sekitar bulan Maret.
Financial Check Up bisa dilakukan sendiri dengan parameter yang baik dan benar, pakai rumus yang sudah dijelaskan (30%+30%+5%+15%+10%+10%) juga bisa. Sudah disiplin kah kita menerapkannya? Atau kalau memang kondisi keuangan sudah sangat memprihatinkan, rasanya perlu juga minta bantuan financial educator.

Meski memang harus membayar jasa keuangan, tapi kalau sangat perlu untuk menyehatkan keuangan kenapa tidak? Apalagi kalau sudah menyangkut utang piutang.
Dalam buku Saku Ibu Bijak oleh Visa disebutkan di bab3: Utang Piutang. Ilmu penting yang harus dikuasai kaum ibu agar lebih bijak mengendalikan keuangan.

Saya ringkas yaaa  ilmunya. Dijelaskan bahwa yang namanya utang di dunia itu ada banyak jenisnya. Paling umum adalah pinjaman pribadi, utang modal ke bank, utang biaya sekolah, KPR, kredit kendaraan bermotor. Kalau utang perseorangan biasanya untuk urusan biaya sekolah anak, kartu kredit, liburan dan lainnya.

Nah dalam rumus, sudah dijelaskan biaya utang ini hanya boleh maksimal 30% dari pemasukan, kalau mau dikategorikan sehat keuangannya. Kalau lebih besar dari itu, yaaaa silakan analisa sendiri saja.

Buku Saku Ibu Bijak dri Visa ini juga memberikan tipsnya. Namun yang perlu dipahami dari utang adalah prinsipnya utang harus dilunasi sesegera mungkin agar tidak menjadi beban di kemudian hari. Jika jumlahnya besar seperti KPR, penting untuk membuat perencanaan pembayaran utang yang terstruktur dan sistematis.

Ilmu baru yang saya dapati dari buku saku Ibu Bijak dari Visa ini adalah cara terbebas dari utang yakni dengan menggabungkan semua utang sehingga bisa terkontrol berapa sisa utang dan kapan harus melunasi, serta konseling utang dan hak nasabah.

Hak nasabah saya pahami sebagai utang kita terkait KPR, kredit motor/mobil, kartu kredit. Nah, kita sebagai nasabah punya hak loh. Pemberi kredit tidak ada hak menekan kita yang berutang apalagi jika urusannya dengan bank. Penagihan utang yang fair adalah salah satu hukum di bank yang akan melindungi nasabah. Kita punya hak mengajukan keberatan apabila penagih utang sudah mulai intimidatif, tindak kriminal, ancaman, kalimat kasar, menggunakan koneksi palsu, berkomunikasi di tempat dan waktu yang tidak biasa, berkomunikasi lewat pihak ketiga tanpa persetujuan debitur.

Kalau sudah tidak nyaman, segera hubungi langsung pihak bank kalau perlu datang langsung ke kantor. Konsultasikan dengan financial planner juga bisa untuk membantu.
Ilmu ini penting setidaknya buat saya yang masih berutang kendaraan roda empat.  Yuk ah, lebih bijak lagi mengelola keuangan, supaya keluarga tak terbebani dengan masalah keuangan lantaran kita kurang melek finansial. Belajar literasi finansial memang menyelamatkan setidaknya menjadi pengingat kita yang seringkali lupa.

 
Twitter/IG @wawaraji


Menjadi Ibu, Bersiap untuk Perjalanan “Extraordinary” dari Hamil Hingga Menyusui


Setiap perempuan dilahirkan untuk bersiap dengan perjalanan menakjubkan, menjadi ibu. Apa dan bagaimana pun perjalanannya, yang pasti akan berbeda dan takkan persis sama, perempuan pasti menjadi ibu. Bahkan ketika pun perempuan belum hamil, melahirkan, menyusui, merawat anaknya sendiri, dia sudah menjadi ibu, dengan naluri keibuannya menjadi pengasuh dan pengasih untuk orang lain di sekitarnya. Terlebih lagi perempuan yang dititipkan amanah menjadi ibu dari anak yang dikandung, dilahirkan dan disusui sampai tumbuh dan berkembang optimal.

Saya selalu percaya, perempuan dilahirkan untuk selalu siap menjalani berbagai tantangan dalam siklus hidupnya. Sejak kecil, remaja, dewasa hingga berusia matang, siklus hidup perempuan membentuk dirinya menjadi sosok kuat menjalankan satu peran besar dalam hidupnya, menjadi ibu.

Demi mempersiapkan perempuan menjadi ibu, banyak hal yang memang harus perempuan perhatikan.  Dari urusan kebiasaan, perawatan fisik, sikap mental, sampai urusan nutrisi dari makanan yang masuk ke dalam tubuh.

Namun seperti saya katakan di awal, setiap perempuan punya perjalanan masing-masing yang berbeda satu dengan lainnya. Menyeimbangkan dan mempersiapkan segalanya agar bisa menjadi ibu optimal dengan perjalanan “extraordinary”, menjadi urusan penting perempuan. Berbekal pendapat/nasehat orang tua, juga diperkaya dengan pengetahuan dan wawasan yang perlu terus perempuan tambah dari lingkarannya, support systemnya.

Selalu ada hal yang harus diperhatikan lebih jeli oleh kalangan perempuan di berbagai siklus hidupnya. Misalnya saja, saat mulai haid, sebaiknya perempuan resik merawat diri. Perawatan area reproduksi yang baik dengan kebiasaan baik, sejak muda, akan mempengaruhi kesehatan reproduksinya di kemudian hari. Lalu ketika mulai dewasa apalagi tumbuh lebih matang dan mulai bersiap memikirkan berumahtangga, apalagi semakin mendekati pernikahan, banyak lagi yang dipersiapkan, fisik mental. Pun ketika menikah dan berencana punya anak, semakin kompleks lagi persiapannya. Perempuan mau tak mau harus memahami kondisi tubuhnya, kebutuhan fisiknya, lebih peka dengan dirinya, dan harus cerdas menjaga dirinya, karena dari rahim perempuan lah akan lahir (atas izinNYA), generasi baru yang kualitasnya bergantung dari seberapa siap perempuan menjadi ibu.

Sungguh tak mudah menjadi ibu. Tantangannya tak bisa dianggap sepele. Barangkali secara naluriah, bisa saja, bahkan sangat bisa, semua perempuan menjadi ibu, diawali dari menjadi istri lalu bertumbuh secara alami menjadi ibu. Namun, menjadi ibu dengan kualitas seperti apa, baik dari segi kesehatan fisik yang pastinya berdampak pada anak, pun secara mental yang berdampak pada psikis dan kemampuan anak, akan kembali kepada kemampuan perempuan mempersiapkan dirinya dengan baik.

Tantangan menjadi ibu semakin besar, apalagi jika mengalami berbagai hal di luar perkiraan. Bisa saja saat hamil, melahirkan, menyusui, merawat anak. Semua siklus hidup ibu ini bisa sangat unik, berbeda, dan masing-masing ada tantangannya. Hanya dengan kesiapan ibu, support system yang baik, dan wawasan yang terus bertambah dan ditambah, perempuan bisa setidaknya menjawab tantangan lebih baik lagi.
Perjuangan dan perjalanan “Extraordinary” menjadi ibu saya yakini akan dialami setiap perempuan. Bagaimana pun kondisi dan situasinya.

Rupanya apa yang saya yakini ini, juga tertuang dalam hasil studi. Ketika apa yang saya yakini itu dikuatkan oleh riset yang melibatkan sembilan kelompok ibu (ibu rumah tangga, profesional, pekerja, wirausaha), saya jadi punya pembenaran.

Adalah Fonterra Brands Indonesia dengan Anmum lewat studi  2017 bertajuk “Tantangan yang Dialami Ibu Hamil dan Menyusui Indonesia”  membeberkan faktanya. Studi ini menyebutkan ibu pada umumnya mengalami tantangan fisik dan psikis di masa kehamilan dan menyusui. Andriani Ganeswari, Corporate Communications Manager Fonterra Brands Indonesia menyampaikan hasil studi ini. 




Fonterra lewat studi ini membuktikan bahwa ibu hamil mengalami tantangan umum seperti morning sickness dan kelelahan. Tantangan lainnya adalah kesehatan mental seperti kecemasan, stres, gejala depresi, perubahan mood bahkan sampai masa menyusui, dan bahkan baby blues juga post partum depression.

Studi ini juga mengungkap fakta bahwa kaum ibu sangat membutuhkan support system, berharap suami dan anggota keluarga proaktif memberikan dukungan, termasuk menyediakan informasi yang bermanfaat untuk ibu dalam menangani perubahan fisik dan psikis.

Dengan berbagai tantangan menjadi ibu, terutama saat hamil, melahirkan, menyusui, sudah semestinya perempuan mempersiapkan diri dengan berbagai pengetahuan. Menjadi perempuan cerdas yang mampu membawa, menjaga, memelihara diri adalah langkah awalnya. Untuk kemudian perempuan jadi paham bagaimana seharusnya dia mempersiapkan dirinya fisik mental, demi kebaikan di masa depan.

Fakta perjalanan “Extraordinary” menjadi ibu inilah yang juga ingin disampaikan Anmum Indonesia. Bukan lantas “menakuti” perempuan untuk nantinya mengalami perjalanan penuh tantangan besar. Justru Anmum Indonesia lewat kampanye terbarunya “Celebrate The Extraordinary” menjadi pengingat dan penyemangat, juga memotivasi perempuan, calon ibu dengan semua lingkaran pendukungnya. Perempuan tetap harus merayakan perjalanan luarbiasanya menjadi ibu, takkan bisa tergambarkan bagaimana menakjubkannya menjadi ibu. Kisah perjalanan dua ibu yang diangkat oleh Anmum Indonesia saat peluncuran kampanye “Celebrate The Extraordinary” sudah sangat mewakili.



Pesannya jelas, bahwa menjadi ibu butuh perjuangan dan umumnya ibu akan berjuang maksimal untuk anaknya. Maka rayakanlah perjalanan “extraordinary” dengan mempersiapkan segalanya lebih baik, dengan pengetahuan yang lebih matang.

Dalam temu media dan blogger di Jakarta, sekaligus merayakan Pekan ASI Dunia, Anmum Indonesia, membantu mempersiapkan perempuan menjadi ibu. Banyak kisah dan pengetahuan medis diberikan, membuka wawasan dan memberikan inspirasi.


Bersama ibu "Extraordinary" Cynthia Lamusu dan Febria Silaen dari Mothers On Mission

Hadir Cynthia Lamusu bersama suami Surya Saputra, yang kita tahu perjalanannya luar biasa menjadi orangtua. Program anak dengan bayi tabung, lalu melahirkan anak kembar prematur. Sungguh saya bisa memahami tantangan besar pasangan selebriti ini.

Bagaimana berjuang memberikan ASI, dan pada akhirnya tak bisa Cynthia berikan kepada anak laki-lakinya karena kondisi. Bagaimana harus mencari dan memberikan donor ASI sebagai langkah terbaik untuk anak. Juga bagaimana merawat bayi prematur yang membutuhkan perhatian ekstra dan tak biasa. Saya bisa merasakan tantangannya, karena saya dan suami pun mengalami kondisi hampir sama, melahirkan anak prematur yang akhirnya membutuhkan donor ASI. Bagaimana kami berjuang memastikan bayi minum ASI yang baik, berkualitas baik, dan bagaimana menjaga nutrisi ibu terpenuhi demi anak yang masih sangat bergantung pada nutrisi ibunya yang diberikan dari ASI.Perjuangan yang berat namun membahagiakan, saya sangat bisa merasakan apa yang diceritakan Cynthia dalam sesi bincang-bincang bersama blogger.



Lain lagi kisah Maria Leonnyta Sastra Wijaya, ibu pejuang ASI. ASI perahnya berlimpah dan memenuhi lemari es/freezer di rumahnya. Namun bukan berarti semua didapatkan tanpa perjuangan. Kekuatan pikiran dan kemauan kuat ibu demi memberikan terbaik untuk anaknya, menjadi cerita dari perjalanan Maria.

Cerita mereka makin menguatkan pesan bahwa berjuang memberikan yang terbaik untuk anak, berbekal pengetahuan yang baik, adalah tantangan terbesar ibu. Tanpa support system yang baik, tantangan bisa saja dilampaui namun penuh dengan perjuangan luar biasa. Kalau support system berjalan baik, maka ringanlah langkah ibu, dan hasilnya saya yakin akan lebih optimal. Misal ASI lebih lancar, ibu sehat fisik dan psikis, sehingga menurunkan kebahagian, ketenangan, kebaikan untuk si kecil.

Kehadiran para ibu hebat memang melengkapi kampanye “Celebrate The Extraordinary” dari Anmum Indonesia ini. Namun tak lengkap jika mombloggers berkumpul tanpa mencerna informasi dari pakar. Hadir Dr dr Ali Sungkar SpOG (K) Ketua Perkumpulan Perinatologi Indonesia dan Anggota Dewan Penasehat Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia DKI Jakarta.




Catatan penting dari dr Ali buat saya adalah, 1000 hari pertama anak adalah masa sangat penting, dan kembali kepada ibu yang melahirkannya. Seribu hari pertama bukan hanya dimulai saat hamil apalagi lahir, tapi sudah bisa dipersiapkan sebelum hamil.

Nutrisi yang baik untuk calon ibu, saat menjalankan program hamil, lalu berlanjut jaga nutrisi saat hamil, sampai melahirkan, pun saat menyusui akan berdampak pada masa depan anak. Salah satu kebutuhan nutrisi ibu hamil bisa didapati dari susu. Anmum Materna mengandung nutrisi makro dan mikro dengan Ganglioside (GA) dan DHA. 




Tercukupinya nutrisi ibu sejak menjadi calon ibu, menjadi urusan penting. Anmum Indonesia melihat kebutuhan ini dengan inovasi susu bernutrisi untuk mendukung masa kehamilan dan menyusui, memberi pesan bahwa nutrisi penting jadi perhatian ibu dalam perjalanan “motherhood” nya. Dukungan yang diberikan Anmum dilengkapi dengan hadirnya susu kehamilan (Anmum Materna) dan susu saat menyusui (Anmum Lacta) dengan rasa cokelat yang manisnya pas dilidah.




Semoga dengan berbagai dukungan dari lingkarannya, support system, semakin banyak ibu bahkan calon ibu yang bisa mengoptimalkan kesehatan dirinya. Tentunya ibu sehat dengan nutrisi baik, akan berdampak baik untuk janin dalam kandungan, juga bayi yang mendapatkan ASI untuk tumbuh kembang optimal.

Selamat merayakan perjalanan ibu yang “Extraordinary”!

Modifikasi "Lifestyle", Tantangan Sehat dengan Superfood Herbilogy


Rumus makan sehat dengan seimbangkan 3J: Jumlah, Jenis, Jadwal, sudah berkali-kali disampaikan dalam berbagai diskusi kesehatan. Namun memang praktik tak semudah mendengarkan teorinya. Paham sih kalau kita harus memastikan asupan harian tetap seimbang, namun godaan jenis makanan yang merusak niat makan sehat memang terlalu besar dan kuat “memborbardir” setiap harinya. Adalah tantangan untuk bisa konsisten menjalankan rumus makan sehat.

Kalau bicara godaan makanan, sebut saja gorengan yang sudah sangat jelas mudah mendatangkan penyakit, apalagi bagi penderita kolesterol tinggi seperti saya. Sadar kalau gorengan mengundang bahaya, namun tetap saja makanan yang sangat mudah menggoda selera dengan beragam bentuknya ini, masih saja tak terelakkan. Akhirnya, penyakit kolesterol kambuh, badan menjadi tak sehat dan kembali berobat. Padahal kalau saja bisa mencegah kolesterol tinggi, saya tak perlu mengeluarkan uang untuk berobat, belum lagi harus mengalami gangguan kebugaran sebagai efek kolesterol tinggi.

Itu kalau kita bicara makanan gorengan, masih banyak lagi jenis makanan lain yang merusak niatan mengubah kebiasaan makan. Lalu soal jumlah, kalau dihitung dalam sehari, porsi makanan sehat rasanya masih kalah jumlah dengan makanan yang mengundang risiko penyakit. Karbohidrat misalnya, dalam sehari, kalau saya sih masih lebih banyak daripada serat (sayur dan buah) misalnya. Artinya asupan harian masih belum seimbang. Dari rumus 3J, barangkali hanya “jadwal” yang masih bisa saya atur dan konsisten jaga.



Nah, ternyata rumus 3J tak cukup. Saya mendapatkan satu rumus lagi saat ikuti talkshow kesehatan bersama Herbilogy yang menghadirkan dokter spesialis gizi, Dr dr Samuel Oetoro, MS, SpGK. Dr Samuel menyebutkan 4J yakni Jumlah, Jenis, Jadwal, dan Jurus Masak.

Jurus masak juga sangat menentukan sehat tidaknya makanan yang kita makan setiap harinya. Kalau tadi saya bicara gorengan sudah jelas aneka jenis makanan dimasak dengan cara digoreng, yang sebenarnya berisiko untuk kesehatan saya.  Masak makanan dengan rebus/kukus sebenarnya paling tepat untuk saya, namun sungguh bukan perkara mudah untuk saya bisa konsisten mengasup makanan serba rebusan. Namun setidaknya, saya bisa mengurangi cara masak menggoreng dengan tidak memasak makanan dalam rendaman minyak. Cara paling aman adalah dengan tumisan, menggunakan sedikit saja minyak.
Soal jurus masak ini memang satu tantangan lagi yang harus saya patahkan demi mengubah pola makan lebih sehat. Saya ingat betul Dr Samuel menyebutkan dua kata yang paling mengena saat sesi talkshow kesehatan bersama bloggers di Jakarta, yakni “Modifikasi Lifestyle”.

Pada akhirnya, jika memang ingin hidup lebih sehat, maka harus terima tantangan untuk memodifikasi gaya hidup, termasuk memodifikasi pola makan. Apalagi gangguan kesehatan sudah mulai mengintai. Saya sudah memperingati diri sendiri, untuk segera mengubah pola hidup setidaknya memodifikasi, karena kalau dihitung indeks massa tubuh, saya masuk kategori obesitas.

Dalam pemeriksaan kesehatan bersama Kementerian Kesehatan RI dalam suatu acara kesehatan di Lombok, beberapa hari sebelum kegiatan Herbilogy, dokter sudah menyebutkan saya termasuk kategori obesitas.

Saya harus olahraga rutin minimal 30 menit per hari, ringan saja seperti jalan kaki, atau bisa modifikasi dengan berenang seminggu sekali. Hal lain adalah disiplin mengubah pola makan. Dalam satu piring, harus dibagi empat porsi: karbohidrat, protein (nabati/hewani), serat (buah dan sayur). Kurangi karbohidrat dan perbanyak serat.

Perlahan saya terima semua tantangan modifikasi pola makan dan aktivitas fisik ini. Namun ternyata memang tak selalu berhasil terutama untuk asupan makanan. Selagi berproses memodifikasi gaya hidup, saya “dipertemukan” dengan Herbilogy.

Awalnya saya tak begitu paham apa itu Herbilogy. Saya memang tak terlalu percaya dengan suplemen makanan dengan iming-iming kesehatan. Saya termasuk tipe konvensional yang hanya percaya makanan alami dan mengubah pola makan dengan disiplin tinggi.




Meski begitu, saya berusaha menyerap informasi dari Debora Gondokusumo, owner dan penggagas Herbilogy. Debora yang terlihat sehat bugar dengan tubuh ideal dalam kondisi fisik hamil sembilan bulan, menjelaskan apa bedanya Herbilogy.

Upayanya menciptakan Herbilogy dengan bantuan teknologi canggih adalah caranya mencari solusi praktis, aman, sehat, alami untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan keluarga dan ibu, seperti daya tahan tubuh,  nafsu makan anak, kesehatan kulit, gangguan metabolisme, kelancaran ASI, kesehatan janin dan berbagai masalah kesehatan lainnya dalam keluarga.  

Berkat teknologi canggih, Debora bisa menciptakan ekstrak tanaman, alami, berupa bubuk superfood yang dapat dikonsumsi setiap hari. Sumber superfood Herbilogy pun berasal dari tanah Indonesia, tanaman lokal, yang diproses tanpa mengurangi manfaatnya namun justru memaksimalkan manfaat zat aktif dalam tanaman, untuk diolah menjadi bubuk superfood yang praktis dikonsumsi kapan saja.

Apa sih Herbilogy? Herbilogy merupakan makanan super (superfood) extract powder pertama di Indonesia, sebagai bahan tambahan imbang nutrisi untuk melengkapi menu makan, solusi praktis bagi mereka yang ingin wujudkan hidup sehat dan alami. Herbilogy 100 persen alami karena tidak menggunakan pengawet, pewarna, perasa, pemanis tambahan atau bahan kimiawi lainnya. Dengan kemasan modern, Herbilogy diproses dengan Good Manufacturing Practices (GMP) memenuhi standar minimum industri makanan dan kemasan, sesuai keamanan pangan, kualitas dan ketentuan hukum. Herbilogy sudah memperoleh sertifikasi Halal MUI dan BPOM sebagai jaminan keamanan konsumsi.

Penjelasan Debora mengenai Herbilogy, ditambah paparan Dr Samuel, bagi saya menjawab persoalan pribadi untuk modifikasi pola hidup menjadi lebih sehat. Dalam catatan saya, superfood memiliki therapeutic effect yang berfungsi baik untuk tubuh. Superfood merupakan satu jenis makanan yang diekstraksi zat aktifnya dan akan memberikan efek menyehatkan bagi tubuh. Makanan super ini tetap menjadi makanan bukan obat, namun dengan penggunaan rutin, setidaknya dalam satu bulan terus menerus dikonsumsi, maka efeknya akan terasa di tubuh.

Menyerap berbagai informasi superfood ini, ditambah dengan paparan “mengerikan” dari risiko penyakit akibat kegemukan dan obesitas, saya makin semangat menantang diri sendiri.

Selain sudah mulai tantangan modifikasi pola makan, dengan membagi empat porsi seimbang setiap kali makan lengkap, lalu mulai menerapkan 4J (setidaknya berproses untuk terus menyempurnakannya), saya ingin membuktikan kekuatan superfood ini.
Tantangan terbesarnya adalah, Jurus Masak. Saya harus lebih rajin memasak sendiri di rumah supaya asupan bisa terkontrol. Kalau pun belum berhasil memasak rutin makanan harian, setidaknya saya harus kembalikan kebiasaan lama, membuat jus sayur dan buah. Hal paling sederhana yang bisa kita lakukan di rumah bukan? Membuat jus buah dan sayur, nah makin sempurna dengan campuran bubuk superfood Herbilogy.

Saya memang belum banyak eksperimen aneka resep Herbilogy menggunakan lebih dari 10 varian Herbilogy yang bisa saya dapatkan di http://herbilogy.com/  selain di marketplace seperti Tokopedia dan Lazada, atau di outlet Kem Chick, Natural Farm dan lainnya.
Setidaknya saya mulai dari cara sederhana, membuat jus buah dengan campuran Herbilogy, untuk memvariasikan asupan buah harian. Kalau bosan makan buah potong segar, saya bisa minum jus tanpa gula dengan campuran Herbilogy. Selain bikin kenyang sehat, setidaknya saya bisa menambah asupan buah harian, dan perlahan mengurangi camilan yang bikin berat badan bertambah termasuk gorengan.

Resep Herbilogy ala Wawaraji ini berdasarkan kebutuhan saya untuk menambah energi sekaligus rileksasi. Melon saya yakini sebagai buah yang bisa menambah energi dengan manis alami dan kandungan air yang tinggi. Sedangkan Herbilogy Cinnamon yang saya pilih sebagai campuran jus tanpa air dan gula ini, mengandung zat aktif yang bisa membantu mengurangi kadar kolesterol dan aromanya diyakini mengurangi stress dan membantu rileksasi. Maklum, beberapa hari belakangan, saya banyak menghabiskan energi, beraktivitas dengan mobilitas tinggi, dan pekerjaan yang menguras pikiran dan tenaga. Hari Minggu waktunya bersantai dan menikmati segelas jus segar dengan Herbilogy. Sederhana saja resepnya sebagai langkah awal memulai modifikasi makanan harian.





Herbilogy Cinnamon "Relax Energize"
Potongan buah melon (jumlah sesuai selera)
2 sdt Herbilogy Cinnamon
Masukkan ke blender buah potong tanpa air (buah melon sudah mengandung banyak air) haluskan dengan blender ditambahkan 2 sdt Herbilogy Cinnamon.


Saya masih punya varian lain Herbilogy seperti Green Coffee, Pomegranatte  Peel, Cogon Grass, Rosella, Green Tea, yang siap dicampurkan dengan aneka resep rumahan. 

Tantangan modifikasi lifestyle bisa dimulai dari membuat aneka resep minuman dengan Herbilogy, selain tentunya mengatur pola makan dengan rumus 4J, dan menjalankan saran dokter untuk saya pribadi, yakni olahraga jalan kaki dan berenang.

Aneka resep dari Instagram @herbilogy ini bisa jadi inspirasinya

Nah kalau ini resep aneka minuman dengan Herbilogy saat blogger gathering dipandu Chef Eddrian Tjhia


Berbagai inspirasi resep Herbilogy bikin makin penasaran untuk kreasikan berbagai varian Herbilogy. Kalau saya sih lebih suka membuat aneka minuman sehat dengan buah-buahan, segar dan bikin kenyang sehat.




Pastinya, saya punya alasan kuat menjawab berbagai tantangan Herbilogy ini. Saya mau hidup sehat produktif dan mengurangi kegemukan atau obesitas. Pengalaman merawat ibu saya, di usia sepuhnya (77 tahun) dengan kondisi obesitas dan harus menjalani operasi batu empedu, juga berbagai cerita serangan stroke pada orang muda usia 30-an, saya makin prihatin urusan kesehatan tubuh ini.

Batu empedu merupakan salah satu risiko penyakit akibat kegemukan dan obesitas. Sedangkan stroke bisa berawal dari hipertensi juga penyakit lain seperti kolesterol tinggi tak bisa dianggap sepele. Setiap orang tentu punya alasan untuk memodifikasi pola hidupnya. Saya sudah punya alasan dan perlu terus menyemangati diri mewujudkan tantangan ini. Kalau kamu, apa yang membuatmu merasa harus segera memodifikasi lifestyle? Yuk berbagi dan saling menyemangati, karena saya pun pasti butuh semangat dari orang lain, karena sadar mengubah kebiasaan bukan perkara mudah.





Lebaran “Family Time” Bareng Keponakan Bikin Penasaran Smartphone Xiaomi


Sudah lebih dari tiga minggu sejak liburan lebaran yang waktunya banyak dihabiskan bersama keluarga termasuk keponakan. Banyak cerita dari family time saat liburan lebaran, salah satunya bahas gadget yang memang paling sering “nempel” di tangan kecuali waktunya ibadah, makan, bersalaman, dan saat ke kamar mandi.
Smartphone memang tak terpisahkan apalagi kalau fungsinya pun bukan sekadar alat komunikasi, tapi punya kepintaran lain seperti yang saya dapati dari Xiaomi.
Saya punya cerita soal smartphone dari liburan lebaran tahun ini. Sejak hari pertama lebaran, abang adik, keponakan yang memang sudah berusia remaja, paling muda pun sudah hampir lulus SD, smartphone memang tak lepas dari genggaman.

Smartphone aneka jenis di keluarga, paling sering dipakai foto bersama mengandalkan kamera utama dan selfie dengan kamera depan. Lalu posting di media sosial dengan foto yang sama namun beda gaya sesuai karakter masing-masing pengguna ponsel pintarnya. Biasanya kalau sudah tukar foto yang kami bahas adalah kualitas fotonya. Pujian seperti “fotonya bagus” bikin tambah meriah kebersamaan liburan lebaran. Alhasil jadi penasaran dengan smartphone yang jadi andalan.
Kamera di ponsel memang jadi pertimbangan utama, salah satu yang basic kalau memilih smartphone. Selain harga tentunya, yang memang sesuai kantong. Tapi ada yang unik  dan canggih bisa dibilang, dan saya baru tahu saat silaturahim ke rumah kakak.

Adalah keponakan saya, usia remaja dan usia SD, yang bikin saya kegirangan karena smartphone nya bisa berfungsi sebagai remote TV. Smartphone yang terkoneksi dengan smart TV.
Ceritanya, kami sedang asik menikmati makan siang hidangan khas Betawi, sayur asem, jengkol goreng, dan lauk pauk lainnya. Sambil ngobrol santai, diselingi bikin kuis kecil-kecilan, iseng ingin menyetel tayangan televisi. Mencari remote yang tak juga kelihatan, akhirnya keponakan inisiatif menggunakan smartphone Xiaomi untuk menyetel televisi. Rupanya segala tipe Xiaomi bisa berfungsi sebagai remote, asalkan terkoneksi dengan smart TV. Saya paling ketinggalan ternyata di antara para keponakan yang sudah lebih “canggih” secanggih ponsel pintarnya.
Lalu saya pun jadi penasaran dengan HP Xiaomi. Saya sudah kenal HP Xiaomi sejak lama meski belum memiliki satu pun tipenya. HP Xiaomi yang saya tahu dikenal karena kualitas kamera ponselnya. Saya punya teman blogger pengguna Xiaomi, yang bikin saya terkesima dengan hasil fotonya. Harga HP Xiaomi pun terbilang terjangkau.
Gara-gara HP Xiaomi bisa jadi remote TV, dan memang saya ketahui kameranya bagus, saya jadi penasaran cari tahu tipe dan harga. Cara paling praktis mencari info smartphone adalah lewat situs belanja online. Berhubung pernah mengikuti acara MatahariMall.com, dan sudah mengunduh aplikasinya, langsung saja berselancar di sana.

Hasilnya, HP Xiaomi Redmi Note 4 yang paling primadona di antara tipe HP Xiaomi lainnya, dalam penglihatan saya, dilihat dari tipe, fitur, dan harga tentunya. Harga HP Xiaomi Redmi Note 4 masih terjangkau untuk anggaran belanja smartphone saya.
Sebenarnya belum ada rencana membeli HP baru dalam waktu dekat sih, tapi HP Xiaomi memang jadi salah satu pilihan prioritas saya kalau berencana membeli handphone. Dengan harga HP Xiaomi Redmi Note 4 mulai Rp 2 Juta sampai Rp 2,5 Juta, memori hingga 32GB, kamera utama 16 MP, dan kamera depan 5MP juga dual SIM, bagi saya ini sudah jadi fitur dasar yang sepadan dengan harga.
Tapi memang ya, kalau sudah sekali saja buka situs belanja online, jadi makin penasaran. Saya jadi kepincut HP Xiaomi Redmi Note 3 Pro 5.5” LTE Dual SIM 16 GB – 32 GB. Selain pilihan warna body nya variatif untuk basic color seperti hitam, putih, gold, saya sih percaya harga enggak akan bohong. Harganya memang lebih tinggi dari harga HP Xiaomi Redmi Note 4, tapi saya jadi “kepincut”.
Sepertinya perlu “hangout” lagi bareng keponakan yang memang beberapa orang pengguna HP Xiaomi. Cari tahu langsung dari pengguna buat saya lebih bisa meyakinkan, selain baca artikel reviewer tentunya. Sambil cuci mata, dan bandingkan harga HP Xiaomi Redmi Note 4 di situs belanja online. Mudah-mudahan ada rejeki untuk beli HP baru, nanti.

Tak Sekadar Konflik Cinta Sahabat Sejati di Filosofi Kopi 2


Setuju dong kalau bicara cinta maknanya universal. Cinta bukan hanya urusan kemesraan berpasangan, cinta juga menyentuh hubungan persahabatan, kecintaan akan profesi, kecintaan akan hasil dari profesi seperti barista dengan kopi racikannya.

Cinta dan konfliknya dihadirkan dalam film drama Filosofi Kopi 2, yang menurut saya, disampaikan dengan drama yang tidak berlebihan atau saya menyebutnya no overshared drama. Atau kalau mau dibikin bahasa sederhananya, enggak “sinetron” tanpa bermaksud menyatakan semua sinetron tak bermutu meski kebanyakan begitu.



Film Filosofi Kopi 2, bagi saya, sukses mengadaptasi bahkan jauh mengembangkannya menjadi cerita menarik dan kuat dari karakter novel Filosofi Kopi karya Dee atau Dewi Lestari, berkat arahan sutradara Angga Dwimas Sasongko. Sutradara muda multitalenta yang saya “kepoin” sejak Festival Film Pendek Indonesia Kompas TV, dengan Angga sebagai jurinya. Kata Angga yang ditemui saat Special Screening bersama Plaza Indonesia di Jakarta, 5 Juli 2017, FilKop 2 adalah film ke delapannya.



Film sekuel tentang duo sahabat pemilik kedai kopi Filosofi Kopi, Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto) memiliki cerita yang kuat, dan alur yang matang. Saya, jujur, menikmati salah satu film Indonesia yang turut meramaikan studio bioskop sepanjang Juni – Juli 2017 ini.  Barangkali karena saya memang sudah memiliki novel perdananya sejak 2006, lalu menonton film Filosofi Kopi (pertama), sayangnya di televisi. Lalu berlanjut berkesempatan hadir menjadi bagian dari komunitas BloggerCrony bersama 30 blogger lainnya yang beruntung bisa menyaksikan film sebelum tayang untuk umum, bersama Plaza Indonesia dan Visinema Pictures.




Cerita di novel, sama kuatnya dengan cerita di film pertama, meski ada beberapa modifikasi di versi filmnya. Saya pikir wajar saja, karena film perlu membangun emosi penonton dengan cara film, bukan cara novel. Bagi saya, film drama yang layak rekomendasi adalah film yang bercerita tentang kehidupan yang tak jauh dari realita, dekat dengan kita sebagai penontonnya, logis, dan membawa pesan secukupnya tidak kebanyakan, tapi bermakna.

Saya mendapatkannya dari FilKop 1 terutama dengan latar kopi “Tiwus” dan kuatnya persahabatan Ben dan Jody, yang sewajarnya, terasa nyata.

Lanjut ke Filosofi Kopi 2, layaknya perjalanan hidup, tentunya dinamis. Kalau dulunya hanya tentang persahabatan, kali ini ada perasaan cinta pasangan. Selayaknya kehidupan dua sahabat pria, lalu hadir sosok-sosok perempuan inspiratif yang memang menarik, sah saja percikan cinta muncul. Konflik cinta inilah yang hadir namun tidak dihadirkan membabi buta dalam film Filosofi Kopi 2. Kekuatan hubungan sahabat, kecintaan akan profesi, cinta pada pekerjaan yang dijalani penuh gelora jiwa sebagai barista dan pengusaha kedai kopi, bercampur menjadi konflik cinta di Filosofi Kopi 2.




Kehadiran Brie (Nadine Alexandra – Puteri Indonesia 2010) sebagai barista muda dan Luna Maya (Tarra) yang menjadi investor baru Filosofi Kopi 2, memang membawa konflik tersendiri. Alur cerita dan akting yang natural dari keduanya, bikin saya masih bisa menikmati film penuh “perang rasa” ini. Tenang saja, suasana yang dimunculkan bukan kisah cinta cengeng bikin “mewek”. Bagaimana dua pria bersahabat menyelesaikan konflik rasa cinta ini, apik “dimainkan” Angga D Sasongko dan dituliskan para penulis skenario (termasuk Angga), Jenny Jusuf dan Irfan Ramly.

Ketika bisnis dan persahabatan dihadapkan pada pilihan dan fakta-fakta yang mengguncang jiwa, bagaimana Ben dan Jody menjalaninya, bagi saya bisa dinikmati tanpa berlebihan di film ini. Layaknya drama, tentu ada sisi emosional yang ditonjolkan, dan alur yang berjalan lambat. Namun dengan arahan sutradara, pemilihan karakter dan peran yang tepat dengan sosok tepat, juga soundtrack musik yang harmonis dengan adegan, serta lagi-lagi cerita yang kuat, konflik dan drama dalam Filosofi Kopi 2 buat saya masih disampaikan dengan mulus.

Ciri khas film tentang Ben dan Jody yang saya rasakan masih dipertahankan sejak film pertama 2015 lalu adalah perjalanan dalam arti sebenarnya. Filosofi Kopi mengajak kita menikmati keindahan nusantara dan kebun kopi di berbagai daerah di Indonesia. Kalau sebelumnya Ijen, Lampung, lalu bergeser ke Toraja. Filosofi Kopi punya misi dari filmnya, bukan hanya berkisah tentang konflik bisnis, sahabat, profesi, keluarga, juga pasangan, tapi mengantarkan kita lebih mencintai produk lokal, kopi dari petani, atau kalau saya pernah ngobrol dengan teman pemilik kedai kopi adalah produk kopi berbasis komunitas kopi Indonesia.

Bagaimana biji kopi dari petani lokal diolah, melibatkan anak muda, hingga menghasilkan rasa dan aroma dalam secangkir kopi yang nikmat, ini yang berhasil diangkat dalam sebuah film. Bahkan tak berhenti di film Filosofi Kopi 2, namun berlanjut ke komunitas sesungguhnya. Salah satunya kedai kopi Filosofi Kopi di Melawai yang menang asli ada. Penonton yang membeli tiket pada 13 Juli 2017 nanti pun berhak atas secangkir kopi, gratis, dengan menukarkan tiket ke kedai kopi di selatan Jakarta ini. Dengan membeli tiket menonton di bioskop, penonton Filosofi Kopi 2 juga berarti sudah berkontribusi untuk kebun kopi di Merapi. Satu tiket sama nilainya dengan satu benih biji kopi di Merapi.

Kalau saya ikuti cara reviewer film lain dalam menilai sebuah film, dengan memberi angka, maka saya akan memberi angka 4 dari 5. Namun buat saya, angka itu bisa berubah tergantung selera film kita, bagi yang tak suka drama, mungkin beda lagi angkanya. Latar belakang reviewer juga berdampak atas munculnya angka. Kalau tidak terlalu suka film Indonesia, angka barangkali bisa lebih kecil dari itu. Jadi, silakan datang ke bioskop dan beri penilaian versi Anda sendiri. Lalu tukarkan tiket dengan secangkir kopi di kedai Filosofi Kopi Melawai. Ajak teman karena sepi rasanya kalau sendirian di tengah keramaian. Dan sebaiknya tak usah mencari colokan, dan berlama-lama di meja, karena kasihan pelanggan lain yang juga ingin menikmati kopi di kedai yang berlatar Sahabat Sejati Ben dan Jody ini.





Sutradara : Angga Dwimas Sasongko

Penulis Skenario : Jenny Jusuf, Irfan Ramly, Angga Dwimas Sasongko
Produser : Anggia Kharisma, Chicco Jerikho, Rio Dewanto
Co Produser : Handoko Hendroyono, Ajeng Parameswari, Nurita Anandia, Ridla An-Nuur.
Cast : Chicco Jerikho, Rio Dewanto, Luna Maya, Nadine Alexandra, Ernest Prakasa, Tio Pakusadewo, Joko Anwar, Whani Darmawan, Aufa Dien Assagaf, Muhammad Aga, Westny Dj, Melissa Karim.