Pengalaman Suntik Vaksin Sebelum dan di Tengah Pandemi




Pandemi mengubah segala hal, tanpa kecuali, tak ada pilihan kecuali adaptasi. Persoalan kesehatan pribadi apalagi, banyak sekali adaptasi, tidak lagi bisa pakai pola lama. Contohnya saja, semakin sulit membedakan sakit flu biasa dengan gejala covid, adaptasinya adalah mau tidak mau harus tes untuk mengetahui kondisi tubuh. Tak ada jalan lain kecuali tes kesehatan untuk memastikan, sehat sebenar-benarnya sehat atau sehat "palsu" (bisa jadi merasa sehat padahal ada penyakit entah apa di tubuh). 

Pilihan lain adalah proteksi diri. Rasanya investasi paling berharga saat ini adalah investasi kesehatan. Jika tubuh dan pikiran sehat, bisa produktif bekerja, beribadah, beraktivitas apa pun itu pilihan hidup kita. Bagi saya, vaksin di tengah pandemi merupakan bentuk ikhtiar menjauhi diri dari penyakit serta mengurangi risiko penyakit, sekaligus investasi kesehatan.

Apalagi, pandemi membuat perjuangan bertahan menjaga imun termasuk hati yang gembira, semakin sulit. Bagaimana tidak, setiap orang tanpa kecuali, punya pergulatan hidup masing-masing. Bisa jadi tertimpa masalah sama beratnya sebelum pandemi, tapi di zaman pageblug ini semua terasa berbeda, butuh usaha lebih kuat mengatasi semua masalah yang pasti datang. Masih hidup masih akan ada terus masalah, bukan? Menjaga imun dengan bertahan tenang dalam situasi sesulit apa pun, sungguh perjuangan di masa pandemi.

Dengan segala ketentuanNYA yang datang ke keluarga inti saya dan suami, pun keluarga besar ayah ibu kami, sebelum dan di tengah pandemi, mau tidak mau kita dihadapi pilihan-pilihan. Untuk membuat pilihan perlu pengetahuan. Alhamdulillah, dalam perjalanan saya urusan kesehatan, selalu terpapar pengetahuan dari ahlinya, sehingga saat menjalani ujian sesungguhnya, Insya Allah mengambil keputusan terbaik.

Dulu, sebelum saya akhirnya menjalani ketentuanNYA memiliki anak lahir prematur, saya menjalani pekerjaan wartawan kesehatan dan gaya hidup sehat. Meski saat merawat anak kandung lahir prematur tidak selalu sama dengan teorinya, namun berbekal pengetahuan setidaknya bisa merawat maksimal meski ketetapanNYA berkata lain, anak kami berpulang di usia 3,5 tahun. Penyesalan, merasa bersalah, merasa kurang maksimal? ya ada perasaan-perasaan itu, saya manusia biasa bukan manusia super. Namun bukan lantas larut dalam kesedihan dan penyesalan, tidak juga berpura-pura tegar, semua berjalan seimbang dengan perjuangan. Satu hal yang kadang saya sesali namun selalu menegur diri sendiri untuk tidak larut dalam penyesalan, adalah vaksinasi tambahan yang belum lengkap untuk anak balita saya. Saya belum sempat memberikan hak kesehatan untuk anak saya, sebagai proteksi, berupa vaksin PCV. Vaksin ini di luar vaksinasi wajib anak yang sudah saya dan suami tuntaskan untuk Dahayu. Vaksin PCV ini tambahan dan sejak dulu kami merawat anak sekitar tahun 2013-2016 harga vaksin ini memang mahal. Faktor biaya menjadi alasan utama kami belum vaksinasi. Proteksi lain menjadi cara perlindungan dari risiko penyakit, seperti higienitas, fisioterapi, dan asupan makanan. Meski sudah ikhtiar maksimal, takdirNYA berkata lain. Anak kami yang berkebutuhan khusus dengan berbagai masalah fisiknya, dugaan cerebral palsy (CP) ringan, memberikan kebahagiaan kehidupan 3,5 tahun, atas izinNYA. 

Pengalaman ini yang membuat saya enggak main-main dengan kesehatan. Saya termasuk yang rajin cek kesehatan secara berkala dan percaya ahli medis untuk menjelaskan kondisi fisik jika ada keluhan. Saya juga percaya herbal dan berbagai cara natural menjaga kesehatan tubuh/fisik bahkan kesehatan mental. Berusaha seimbang medis dan non-medis dalam menyikapi penyakit, menjadi pilihan saya dengan berbagai riwayat kesehatan. 




VAKSINASI
Soal vaksinasi/imunisasi bukan perkara baru buat saya pribadi. Saya tidak akan membahas vaksinasi anak/bayi. Proteksi kesehatan di masa pandemi juga berlaku untuk orang dewasa yang lebih bisa mengontrol dan peka dengan sinyal tubuhnya. Kepekaan sinyal tubuh sebenarnya kunci utama, mengkhawatirkan kesehatan dan mencari solusi tanpa khawatir berlebihan atau overthinking yang justru akan memperburuk kesehatan diri. Intinya berusaha bertahan berjuang seimbang dalam segala hal, tidak meremehkan tidak juga menyikapi berlebihan. 

Vaksin pertama yang dokter suntikkan ke tubuh saya adalah HPV dengan suntikan ketiga (terakhir) pada Maret 2018. Edukasi dan pengalaman pribadi bisa baca tulisan saya. Kenapa vaksin HPV? Saya bisa bilang petunjuk semesta membawa saya mendapatkan pengalaman ini. 

Pertama kalinya saya tes IVA, dan yang paling mendebarkan dari setiap kali pemeriksaan sebenarnya bukan pada proses periksanya tapi saat menunggu hasil dan analisa dokter. Hasilnya, saya diduga radang serviks. Beberapa hari setelahnya masih berusaha mencerna dan menimbang, kenapa bisa? Ada yang salah dengan hubungan seksual dengan suami kah? Atau ada yang salah dengan kebiasaan berkaitan dengan organ intim? Saya cari lagi ilmunya, bahkan dari artikel kesehatan yang dulu pernah saya tulis sendiri. Sebenarnya banyak faktor jika ada satu saja diagnosa penyakit. Tidak terburu-buru memutuskan sesuatu, berusaha kontrol diri sebaiknya, tidak meremehkan tapi tidak juga terlalu khawatir. Cara berpakaian misal penggunaan celana dalam kurang higienis, terlalu ketat, bisa saja menimbulkan banyak gangguan organ intim perempuan yang memang sangat sensitif. Kita tidak bisa sekadar mengira-ngira namun screening awal diri sendiri menjadi penting untuk mengakui kesalahan merawat diri. Selanjutnya serahkan kepada ahlinya, saya memilih tes papsmear ke dokter. 

Semesta membawa saya ke RS Siloam Karawaci dengan promo pemeriksaan papsmear di sana dan vaksinasi. Vaksin HPV tidak sembarang diberikan. Saya melewati tahapan konsul dokter, papsmear dan menunggu hasilnya beberapa hari, analisa hasil, dan ketika hasil papsmear baik lanjut vaksinasi HPV terjadwal tiga kali suntikan dengan tahapan dan pemantauan dokter.

Satu vaksin sudah disuntikkan ke tubuh dengan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi atau KIPI normal saja, lengan terasa kebas beberapa saat. Saya tetap bisa beraktivitas bahkan melanjutkan kerja terbang ke luar kota sehari setelah vaksin. 

Vaksin di tengah pandemi lain ceritanya. 

Perubahan informasi dan kebijakan kesehatan yang cepat sekali berubah di masa pandemi, bukan hal yang aneh buat saya. Saya bisa sangat paham kenapa para ahli beberapa kali harus merevisi informasi kesehatan. Virus corona yang menjadi sumber penyakit COVID-19 ini sesuatu yang baru, semua belajar mengalahkannya dengan ilmu pengetahuan dan berbagai cara adaptasi pandemi. 

Saya mengikuti sekali kasus COVID-19 sejak di Wuhan. Berempati terhadap kesusahan warga dunia yang terkena pandemi. Sampai akhirnya virus yang tadinya sangat jauh ini tiba di Indonesia. Semua rencana berubah, semua keadaan berbalik, segalanya berubah cepat sekali. Kita dipaksa sesuatu yang maha dahsyat ciptaanNYA yang semestinya membuat kita cukup sadar diri, kita lemah tiada daya namun bukan lantas menyerah dan menyalahkan keadaan saja. 

Vaksin menjadi salah satu solusi di masa pandemi. Sejak isu vaksin COVID-19 masih jadi wacana, saya sudah ikuti update informasinya. Awalnya vaksin COVID-19 setelah melewati tahapan uji klinis, hanya boleh untuk usia tertentu dan banyak catatan kondisi yang belum bisa mendapatkan suntikan vaksin. Secara umur, saya masih masuk ketegori penerima namun kondisi saya saat itu, sekitar Januari 2021, baru tiga bulan sembuh TB Paru membuat saya masih memonitor kondisi sambil menunggu update vaksinasi. 

Mengetahui hal itu, saya hanya berharap mereka yang aman menerima vaksinasi, bisa sukarela mendapatkan suntikan vaksin gratis dan melindungi kami yang belum bisa divaksin. Saya mencari cara lain berikhtiar melindungi diri dari risiko penyakit di masa pandemi. 

Saya riset kecil-kecilan dan hasil ikut webinar bersama vaksinolog Indonesia, dr Dirga, menambah pengetahuan soal vaksinasi di masa pandemi. Hasilnya, saya meyakinkan diri sendiri dan memastikan keamanaannya untuk kondisi saya sebagai penyintas TB Paru. Saya memilih Imuni untuk vaksinasi influensa dan thyphoid. 

Kenapa saya pilih dua vaksinasi itu di tengah pandemi? Saya memahami kondis fisik dan riwayat penyakit pribadi. Selain konsultasi gratis via online dengan dokter dari Imuni, saya juga meyakini vaksinasi menjadi cara saya bertahan di masa pandemi COVID-19 ini. Saya ini rentan sekali terpapar dengan pengalaman sakit TB Paru yang menyerang imun dan pernafasan, saya paham sekali betapa kesakitannya penderita penyakit sesak nafas, disertai batuk, keringat yang mengalir, itu sudah saya rasakan saat dirawat seminggu di RS Pelni karena TB Paru November 2019. Lanjut pengobatan satu tahun sampai akhirnya dokter spesialis paru di RS Aminah menyatakan saya sudah tuntas pengobatan pada November 2020.

Saya juga paham kondisi diri. Sebelum dokter memvonis saya TB Paru, saya pernah sakit dengan gejala sejenis. Sesak nafas parah saat terkena flu. Masalah pernafasan memang jadi riwayat penyakit saya, termasuk asma ringan dan sempat sesak nafas parah ketika sedang bekerja di Palembang di tengah kabut asap. Saya sudah mengikhlaskan diri saat terkena sesak nafas karena kabut asap di Palembang dan kondisi imun melemah. Sempat saya katakan kepada diri sendiri, aku berserah kepadaMU ya Allah kalaupun saya harus berakhir di kota ini, sendiri, tanpa orang kesayangan. Bukan bermaksud berlebihan, karena serangan sesak nafas itu benar-benar di luar dugaaan. Terjadi saat saya di bandara hendak pulang ke Jakarta. Saya berjalan sekuatnya ke klinik bandara, dengan kondisi hidung tersumbat, seperti flu berat yang terjadi tiba-tiba saja, lalu muntah, batuk, dan akhirnya diberikan nebulizer oleh petugas klinik bandara dengan sigap dan ramah.  Saya dirujuk ke RS terdekat di Palembang, lalu diobservasi cek jantung dan suntik alergi. Saat dokter baik hati menyatakan saya aman terbang, saya dibolehkan kembali ke bandara dan pulang ke Jakarta. Dokter menyarankan sebaiknya saya pulang daripada memilih tetap berada di Palembang saat kabut asap dan kondisi udara sedang buruk. Bismillah, saya pulang dan tiba di Jakarta tak berapa lama bertemu suami tercinta. Saya masih hidup. 

Pengalaman sesak nafas karena udara buruk dan flu berat, membuat saya berpikir harus vaksinasi influensa. Keputusan tepat dengan langkah tepat menyerahkan kepada ahlinya, vaksinasi influensa yang direkomendasikan WHO di masa pandemi, bersama IMUNI saya vaksinasi Januari 2021. 

Bukan Wawa namanya kalau enggak detil tanya sana sini. Sebelum suntik vaksin influensa, saya beberapa kali pakai aplikasi chat konsul dengan dokter IMUNI. Bersyukur dokter konsulnya informatif dan ramah, saya merasa cukup terinformasi. Terutama tentang apakah riwayat penyakit saya cukup aman untuk suntik vaksin insfluensa dan thyphoid? Saat itu kolesterol saya tinggi, apakah aman? Maklum, baru pertama kali vaksin jadi masih butuh penguatan hati. Semua terjawab lewat konsul online. Selanjutnya ikuti saja petunjuk vaksinasi di IMUNI tentunya dengan pendaftaran, penjadwalan dan pembayaran dong. 

Kekurangan saya saat vaksin influensa dan thyphoid adalah kurang makan. Saya merasa agak kelinyengan setelah vaksin, bukan karena vaksinasinya tapi karena jam makan siang saat suntik. Jadi saran saya, brunch aja kalau jadwal suntiknya tepat waktunya makan siang. Dokter vaksinator dengan sabar menunggu 30 menit setelah suntik untuk memastikan aman. Memang aman dan tidak ada keluhan sama sekali dalam 30 menit sampai 3 hari, sepekan bahkan berbulan-bulan kemudian. 

Oya, saya memilih vaksin thyphoid juga karena riwayat tipes berulang (2-3 kali) dengan dua kali opname. Cukup rasanya opname karena tipes. Meski begitu vaksinasi bukan lantas bikin imortal atau sama sekali tidak akan sakit. Kalau salah jaga pola hidup dan pola makan ya sakit akan tetap datang. Namun setidaknya, vaksinasi meringankan penyakit atau mengurangi kesakitan. Semoga sih sehat saja. 

Saya cukup lama mengendapkan tulisan ini. Sampai saya mempublikasikan ini, sudah tiga bulan lebih, apakah ada dampak vaksinasi? Tidak ada efek samping yang ada saya merasa terlindungi meski akhirnya flu menyerang imun juga. Kena juga deh flu, pikir saya. Lantas apa artinya vaksin tidak bekerja? Jangan dulu menyimpulkan begitu. Banyak faktor kenapa imun kalah dengan flu meski kekebalan tubuh sudah disiapkan lewat imunisasi. 

Yang pasti, flu yang saya alami di pandemi hanya gejala ringan dan terjadi dalam satu pekan. Setelah itu sisa batuk saja. Saya merasa flu tidak seberat sebelum vaksinasi. Pernafasan saya aman terkendali. Pilek hidung mampet dan gejala flu lainnya tidak disertai demam dan sembuh lebih cepat. Saya merasa di sinilah vaksin bekerja.

Lalu bagaimana dengan vaksin COVID-19? Hhmm cerita enggak yaaaaa.... saya tunda ceritanya beberapa waktu lagi yaaaa. 









Solutif! Bekerja dan Belajar Daring dengan smartfren Unlimited Bisa Semua

Adaptasi kebiasaan baru di masa pandemi bikin semua orang belajar banyak hal baru. Berhubung mobilitas dibatasi selama pandemi, aktivitas di rumah jadi bergantung dengan internet. Termasuk saya, yang enggak bisa diam di rumah dan sangat mengandalkan internet untuk beraktivitas termasuk cari referensi dan hiburan tentunya lewat Youtube. Selama pandemi saya juga menemukan solusi berinternet Unlimited Bisa Semua.

Siapa yang enggak kenal Youtube? Platform berbagi video ini, sampai tahun 2019 kemarin masih merajai dari segi pengguna. Wajar aja sih, semua ada di Youtube, dari belajar masak,edit video, fotografi, benerin laptop sampai tutorial buka tutup botol juga ada.

Kalau saya, sejak masa pandemi ini jadi sering akses Youtube mencari referensi mengenai internet marketing sampai dengerin ceramah kyai yang kajiannya bikin hati adem. Biasanya jelang istirahat malam, saya dan pak suami suka dengerin bareng sambil ngobrol santai. Tapi, aktivitas ini bikin saya khawatir karena beberapa kali saya perhatikan, pak suami jelang tengah malam malah sering buka Youtube. Di luar waktu itu, lebih suka googling atau bersosial media.

Ternyata, pak suami memanfaatkan gratis akses Youtube yang diberikan providernya dari jam 00.00 sd 06.00. Dia bilang, sayang kalau enggak dipakai, udah dikasih gratis. Tapi kegiatan seperti ini justru mengganggu jam biologis kita, dan waktu istirahat. Beda soal saat Ramadhan misalnya, memang waktu tersebut kita terjaga untuk menanti sahur.

Saya mulai berpikir mencari solusi supaya aktivitas daring tetap berjalan normal dan menyehatkan, bukan malah mendatangkan risiko gangguan fisik. Apalagi setelah setengah perjalanan pandemi, kebutuhan kuota internet menjadi hal wajib. Kenapa? Karena aktivitas bisnis dan pekerjaan mulai bergeliat setelah 4-5 bulan pertama masa pandemi kita semua patuh karantina, selain memang PSBB masih ketat.

Semua kegiatan bisnis beralih ke digital yang membutuhkan jaringan internet. Proses belajar mengajar pun berlangsung secara daring baik yang formal maupun informal. Termasuk pelatihan yang makin marak di masa pandemi dengan format serba virtual. Sistem belajar pelatihan online dominan memperhatikan video berisi materi dari narasumber. Rata-rata ada 10-13 video materi yang berdurasi 7 sd 10 menit yang bisa kita lihat dan pelajari. Dan kita bisa mengakses video tersebut berulangkali sampai kita benar-benar paham.

Momen ini membuat saya makin gencar mencari solusi beraktivitas daring selama di rumah aja. Salah satu caranya adalah menyeleksi provider yang paling mumpuni. Syarat utamanya tentu jaringan kuat di area rumah saya, kuota besar dan harga terjangkau. Sebenarnya saya ada niat untuk menggunakan ISP, tapi berhubung perusahaan yang kami inginkan jaringannya belum masuk ke area tempat tinggal kami, rencana ini tertunda.


smartfren unlimited semua aplikasi www.wawaraji.com 



Akhirnya saya dan suami coba mencari provider dengan paket harga yang masuk akal. Kebutuhan internet saya terbilang besar dan mengharuskan jaringan stabil. Selain saya butuh internet untuk mengikuti beberapa kelas online, saya harus bekerja secara daring sebagai narasumber pelatihan online dan produser webinar selama lima bulan terakhir.

Begini gambaran pekerjaannya. Mulai Agustus sampai Oktober, saya harus memfasilitasi pelatihan daring untuk UMKM di 4 wilayah di Indonesia. Semua serba virtual dan dua kali seminggu, dengan waktu sekitar delapan jam per harinya, saya nonstop menggunakan laptop, smartphone dan tentunya internet. Rutinitas ini berlangsung selama tiga bulan, coba hitung berapa banyak kuota internet yang saya konsumsi?

Setelah tuntas pekerjaan kelas online di Oktober, lanjut pekerjaan yang juga menggunakan platform digital sebagai produser webinar. Target pekerjaan daring kali ini merancang dan supervisi penyelenggaraan webinar yang berlangsung setiap hari Senin, Rabu, Jumat, dan Sabtu. Rata-rata dua kali webinar per hari dengan satu webinar durasinya dua jam.

Saya benar-benar butuh Unlimited Bisa Semua. Ya, bisa 24 jam, bisa di semua aplikasi tanpa dibatasi, bisa di semua lokasi karena pekerjaan saya juga mobile, dan bisa untuk semua orang.

Syekh Ali Jaber Kembali KepadaNYA Meninggalkan Cinta



Jelang satu tahun pandemi, begitu banyak kabar duka lara. Sesekali masih ada selipan kabar bahagia dan penuh harapan, namun tak bisa dipungkiri rasanya lebih banyak kabar kesedihan, kepedihan, kehilangan, kedukaan selama masa pageblug.  Bisa bertahan waras sehat sampai titik ini adalah anugerah. Bersyukur dan berusaha menerima serta beradaptasi semaksimalnya, adalah bentuk perjuangan untuk bertahan. 

Ujian bertahan ternyata hadir lagi di awal 2021, setelah peristiwa menyesakkan jatuhnya pesawat Sriwijaya Air Penerbangan SJ182 dengan berbagai kisah inspiratif kedua pilot beda keyakinan yang cinta Tuhan, lalu datang berita yang membuat airmata kembali mengalir. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, Syekh Ali Jaber meninggal dunia pada Kamis, 14 Januari 2021 di RS Islam Yarsi, setelah PCR negatif covid dalam perawatan medis. Tiada daya. 

"Ya Allah" , suami saya mengucap ketika saya bersiap berangkat ke tempat kerja. Sambil memandangi laptop berusaha mencari informasi lebih lengkap, suami berucap, "Syekh Ali Jaber meninggal".

Saya diam beberapa detik dan hanya sanggup mengucap nama Allah. 

Lalu air mata keluar begitu saja tak sanggup menahannya, tidak bisa berkata banyak. Bingung, kehilangan panutan, kehilangan sumber ilmu AlQuran, sumber ilmu cinta dan kasih sayang, sumber ilmu Islam damai dan nilai kemuliaan agama yang saya yakini dihadirkan dengan penuh kedamaian kasih sayang, cinta dalam setiap dakwah beliau. Teringat ajaran Syekh Ali Jaber, ucapkan Alhamdulillah sebelum Inna Lillah saat mendapatkan musibah. Ya Rabb, sungguh saya manusia tiada daya, tak sanggup meneladaninya, tak kuasa menyebut Alhamdulillah. Meskipun saat itu saya sangat meyakini, Syekh Ali Jaber tersenyum bahagia bertemu Allah dan semoga dikumpulkan dalam surgaNYA bersama Rasulullah, teladan mulia yang teramat dicintainya dan dirindukannya.

Sepanjang hari saya ikuti berita wafatnya Syekh Ali Jaber. Sungguh beliau meninggalkan cinta umatnya bahkan siapa pun lintas keyakinan yang pernah terpapar ceramahnya, mengakui, dakwah beliau penuh damai dan cinta kasih. Ya Rabb, inilah keteladanan yang kami butuhkan saat ini, di tengah gemburan amarah dan kebencian. Cinta yang disebarkan melalui dakwah, pun ditinggalkan almarhum begitu terasa di linimasa. Ungkapan duka dan lihatlah status WA teman, keluarga, rekan, sahabat sebagian besar memasang berita duka dari Yayasan Syekh Ali Jaber, kehilangan mendalam yang menyentuh setiap hati insan tanpa kecuali. 

Cinta Syekh Ali Jaber kepada Allah dan Rasulullah, terasa mengalir dari setiap kata dalam dakwahnya. Jamaah yang menyimak kajiannya, langsung maupun melalui saluran digital, akan tersentuh hatinya, mendapatkan pesan cinta yang diteladani dan dicontohkannya. Islam damai penuh kasih sayang, pengasih, berprasangka baik, perbuatan dan sikap baik seorang mukmin bukan hanya disampaikan lewat kata, namun dicontohkan langsung dari perbuatan beliau. Ingin meniru Rasulullah menjadi tujuan hidupnya, benar-benar meniru secara penuh terutama akhlak Rasulullah. Ini selalu menjadi pengingat umat, dan beliau tidak sekadar berkata namun menunjukkan sikap sesuai teladan mulia.

Jujur, saya dan suami bukan murid apalagi santri sejati yang sudah baik amal ibadahnya. Saya dan suami juga bukan pengikut pengajian rutin yang rajin menghadiri majelis ilmu. Kami baru mulai intens mengikuti kajian selama pandemi, secara daring. Youtube menjadi sarana yang mempertemukan kami lebih intens dengan para kiayi dan habib pilihan kami. Pandemi membuat kami lebih banyak mengkaji dan mengikuti kajian daring.

Kajian daring yang pada akhirnya membawa kami mengikuti dakwah Syekh Ali Jaber. Dakwah penyejuk hati menyirami jiwa menguatkan iman dalam damai dan penuh rasa kasih sayang. Kami seperti menemukan kesejukan dan nyaman mempelajari Islam lebih mendalam. Lalu kami bagikan kebahagiaan ini kepada ayah ibu sepuh, yang sangat merindukan pengajian. Pandemi membuat ayah (83 th) dan ibu (75 tahun) yang selalu rutin menghadiri majelis taklim, harus menahan diri di rumah demi menjaga diri dari risiko terpapar virus dari aktivitas berkumpul di luar rumah, tanpa masker, tanpa jaga jarak, tanpa batasan jumlah orang dan durasi pertemuan lebih dari 15 menit. 

Kami hadirkan Syekh Ali Jaber di rumah, melalui layar kaca, dari Youtube kapan pun ayah ibu butuh mendengarkan kajian. Kami duduk menyimak dan hati sejuk setelah mendengarkan dakwah Syekh Ali Jaber. Bagi ayah dan ibu yang sudah memiliki dasar ilmu, setiap dakwah Syekh Ali Jaber seperti pengingat ajaran para guru keduanya. Ayah ibu seperti nostalgia dengan ajaran kemuliaan para guru keduanya di masa lampau, guru ngaji di kampung yang sederhana dan menanamkan keteguhan iman dengan cara santun dan sejuk.

Sejak itu, ayah ibu selalu minta dipasangkan saluran Youtube Syekh Ali Jaber di waktu senggang mereka selepas ibadah individual. Saluran dakwah digital Syekh Ali Jaber memang dirancang selang-seling, ceramah dan murotal. Rumah makin sejuk mendengarkan lantunan ayat Al Quran dari syekh keturunan dan berasal dari Madinah, yang sengaja memilih pindah ke Indonesia dan mendapat kewarganegaraan di NKRI. 

Dengan alasan ingin mendukung orangtua mendengarkan kajian Syekh Ali Jaber, saya dan suami memutuskan memasang wifi rumah. Beberapa minggu terakhir, dakwah Syekh Ali Jaber makin menghangatkan rumah kami. 

Banyak kisah yang saya dengar melalui saluran dakwah digital Syekh Ali Jaber. Bagaimana beliau menjelaskan bahwa ternyata leluhurnya selain keturunan Madinah juga ada yang berasal dari Lombok, NTB, Indonesia. Itu sebab dalam dakwahnya, beliau pernah berkata, bercita-cita jika Allah menetapkan beliau meninggal di Madinah, berharap dimakamkan di Madinah. Namun jika Allah menetapkan beliau meninggal di Indonesia, bercita-cita dimakamkan di Lombok. Beliau sangat mencintai negerinya, tempat tinggalnya saat ini untuk berdakwah, Indonesia. 

Isi dakwahnya silakan simak channel Youtube Official Syekh Ali Jaber, dan rasakan bagaimana kasih sayang mengalir lembut ke dalam sanubari. 


Bagaimana beliau membela negeri, ulama dan umaro bersinergi, mengedukasi warga dan umat terkait penanganan covid-19, mencontohkan bagaimana memaafkan orang yang berbuat jahat menusuk lengannya, menjadi kesan dan pesan yang dihadirkan Tuhan mengenai keteladanan Islami, melalui Syekh Ali Jaber. 

Ya Allah, kabar duka 14 Januari 2021 sungguh kehilangan besar. Allah kembali menghadirkan ujian kesabaran negeri ini dengan pulangnya satu lagi ulama pemersatu umat. 

Kamis siang, saya harus berusaha keras menghentikan air mata saat harus menuju tempat kerja. Saya berusaha menyampaikan dengan tegar berita duka ke ibu saya, namun tak kuasa. Saya hanya menitipkan doa ke ibu, doakan Syekh Ali Jaber, guru kita. Semoga beliau berkenan menerima kami sebagai muridnya, meski tak pernah bertemu tatap muka. 

Semoga Allah merahmati beliau dan menguatkan hati umat serta keluarga yang Insya Allah ridha dan memberi contoh baik kepada kami, manusia yang masih butuh banyak bimbingan para guru mulia. 

Tak sanggup lagi saya menuliskan kehilangan. Semoga Allah SWT menguatkan kita dalam iman menghadapi akhir zaman, dengan satu  per satu ulama berpulang. Semoga kita selalu mendapat hidayahNYA, mendapat petunjukNYA jalan orang-orang terdahulu yang diridhaiNYA. Bimbinglah kami Ya Rabb melalui guru yang mulia, Man Ana, apalah kami tanpa guru. 




Kerja di Rumah Tanpa Batas UNLIMITED 24 Jam di Semua Aplikasi




Sudah berapa lama menahan diri di rumah saja? Kalau saya sih lumayan lama bahkan sebelum pandemi karena kondisi kesehatan yang mengharuskan saya membatasi aktivitas.  Begitu pandemi “memaksa” setiap orang swa karantina, jujur saya semakin terbiasa berdiam diri dan bekerja di rumah. Justru pandemi melahirkan banyak ide kegiatan dan pekerjaan daring, tentu saja mengandalkan internet.  Berbekal paket data di ponsel pintar, banyak pekerjaan virtual yang menyelamatkan dari kejenuhan semasa pandemi ini. 

Jenuh tentu menjadi masalah selama pandemi yang akhirnya membuat banyak orang beradaptasi dan mengubah kebiasaan. Biasanya bekerja di kantor atau sesekali di kedai kopi, saat ini kita beradaptasi work from home. Pekerjaan jadi lebih ringan dan menyenangkan, dan tentu saja berjalan lancar dengan pendukung yang baik.  Paket data internet salah satunya.  Kok paket data? Enggak boros? 

Enggak, karena saya hanya berdua dengan suami di rumah dengan pekerjaan daring masing-masing. Kalau dihitung, boleh jadi pengeluaran internet akan sama besarnya kalau kami menggunakan provider internet. Alasan lain yang membuat kami nyaman internetan dengan paket data adalah, nyaris enggak ada gangguan berarti yang bikin emosi. Tahu dong, masa pandemi saat semua orang WFH dan SFH, sempat viral keluhan pengguna internet ke layanan provider internet. Sekalipun ada gangguan internet dengan paket data, minim sekali, bagi kami.

Pilihan paket internet yang tepat, adaptasi kebiasaan baru yang cepat, membuat WFH semasa pandemi makin menantang. Jujur, saya sempat kebingungan dan merasa gaptek dengan segala cara kerja daring yang lebih menuntut banyak kemampuan baru di masa pandemi. Sebut saja, meeting melalui video conference, bahkan menjadi host webinar. 

Berkat dukungan internet yang mumpuni, pekerjaan daring jadi serba mudah. Saya jadi belajar hal baru mulai event virtual bareng komunitas yang saya dirikan lima tahun lalu,  bersama anggota di beberapa daerah di Indonesia.  Pekerjaan virtual kemudian makin membutuhkan banyak fasilitas pendukung teknis lainnya. Seperti webcam agar tampilan visual maksimal, headset supaya audio makin jernih, lampu demi tampilan lebih baik saat membawakan materi di kelas daring.

Setelah semua alat pendukung terpenuhi, satu hal yang paling penting terjaga kestabilannya adalah koneksi internet. Tantangan bekerja online di era pandemic ini adalah jaringan internet yang aman dan bikin nyaman. Saya pun berani menerima peluang pekerjaan daring seperti kelas online, moderator event, hingga pelatihan yang membutuhkan waktu panjang berinteraksi di ranah virtual. Koneksi internet tentunya faktor pendukung kerja yang utama di era digital masa pandemi.

Bagi saya yang tinggal di batas kota Jakarta dan Tangerang, sebenarnya tak sulit mendapatkan akses internet yang mumpuni. Namun urusan memilih operator telekomunikasi memang butuh teliti. Apalagi saat ini banyak sekali pilihan. Meski hampir semuanya memberikan penawaran terbaik, namun terbaik menurut provider belum tentu tepat untuk kita bukan?


Ini yang saya lakukan untuk memastikan enggak salah pilih provider yang mendukung kerja kreatif digital di rumah:

DETIL BACA INFORMASI

Setiap provider pasti punya keunggulan dan nilai jual. Tugas kita sebagai konsumen adalah membaca detil setiap informasi yang tersedia agar tak salah pilih apalagi kecewa setelah menentukan pilihan. Jangan hanya baca “bahasa iklan” dengan tulisan berukuran besar yang menarik perhatian. Justru, jeli teliti membaca keterangan atau informasi dengan ukuran tulisan yang lebih kecil karena biasanya informasi penting ada di sana.

SESUAIKAN KEBUTUHAN PRIBADI

Coba cek semua operator, kata kunci yang hits sekarang adalah UNLIMITED. Semua operator punya paket unlimited, tapi yang jadi pertanyaan, seberapa unlimited paket tersebut? Seperti apa syarat ketentuannya. 

Saking penasarannya saya kepoin satu-satu paket yang ada. Bukannya tercerahkan malah pusing sendiri, karena saya belum tahu apa yang dibutuhkan. Jadi saran saya, tentukan dulu apa yang kita mau  sebelum membandingkan. 

Kalau saya, sangat membutuhkan fleksibilitas layanan. Tidak hanya unlimited untuk membuka platform sosial media saja kalau quota utamanya sudah habis. Memangnya ada yang seperti itu? Ada dong, coba deh cek, jadi kalau kuota utamanya habis, yang bisa kita akses hanya WA, FB, IG, Youtube, Line, Tiwtter, dan beberapa aplikasi streaming music.

Lahh terus kalau saya mau browsing, untuk mencari referensi gimana dong, masa mau numpang wifi tetangga? Belum lagi kalau saya harus meeting online, waah ini sih enggak mungkin deh. Ada gak sih yang UNLIMITED 24 jam di semua aplikasi?

Belajar dari pengalaman selama internetan di masa pandemic, tahu enggak berapa besar kuota internet untuk satu jam meeting online melalu aplikasi zoom meeting?

Untuk mengunggah video, misal kita jadi pembicara, dalam satu jam butuh waktu kurang lebih 500MB. Nah, kalau interaksi dengan lawan bicara maka kuota yang kita pakai untuk mengunduh video lawan bicara selama satu  jam kurang lebih 500 MB. Jadi total 1 GB untuk satu jam, itu kalau komunikasi dua arah dan hanya berdua. Kebayang enggak kalau ada sepuluh orang dan semuanya mengaktifkan video? Hitung sendiri aja ya. Saran saya, jika memang tidak dibutuhkan, matikan saja video dan audio agar lebih irit kuota bagi Anda dan lawan bicara.

 


Setelah bolak-balik baca syarat dan keterangan paket unlimited dari lima  provider besar (ini beneran saya baca semua loh) dan sampai tulisan ini saya buat belum ada update terbaru perubahan paket, pilihan saya jatuh ke smartfren #UnlimitedBisaSemua, kenapa?

Alasannya karena #UnlimitedBisaSemua dari smartfren masih bisa dipakai browsing, enggak hanya akses sosial media saja. Istilahnya UNLIMITED 24 Jam di semua aplikasi. Selain itu smartfren #UnlimitedBisaSemua juga tidak terhambat disemua lokasi, dihari apapun selama 24 jam dan tentu saja cocok untuk digunakan semua orang.

Produk smartfren UNLIMITED juga punya skema yang unik. Dari informasi yang saya dapatkan, kuota smartfren UNLIMITED bukan aktif ketika kuota utama sudah habis, tapi sudah aktif dari awal. Setelah saya pelajari, saya ambil kesimpulan, #UnlimitedBisaSemua dari smartfren memberikan kuota  unlimited FUP (Fair Usage Policy) pemakaian wajar dalam satu hari sebesar 1GB. Kalau sudah lewat dari 1GB dalam sehari, kuota utama kita terpakai. Begitu seterusnya sampai 28 hari ke depan.

Harga paket dari smartfren UNLIMITED ini juga juara. Mulai dari Rp 100.000 untuk 30 GB, sampai yang termurah Rp 30.000 untuk 6 GB. Semua dengan skema unlimited yang sama. Gimana, kamu udah bandingin paket unlimited yang lain? Kalau saya sih nyaman pakai smartfren #UnlimitedBisaSemua  

Kalau masih bingung mengenai smartfren UNLIMITED cek langsung aja ke smartfren UNLIMITED buat kalian yang sudah menggunakan smartfren #UnlimitedBisaSemua kalian bisa makin untung karena ada kesempatan untuk dapetin CASHBACK 100% setiap pembelian pulsa atau paket data dimana saja, bikin sumringah deh.

Berjuang Semasa Pandemi Melawan Ego atau Virus?

Memasuki sepuluh bulan pandemi meruntuhkan banyak hal sekaligus memberikan pelajaran berharga. Salut untuk para pejuang apa pun latarnya, termasuk orang-orang yang selalu melihat sisi baik setiap masalah seberat apa pun itu, dan yakin selalu ada jalan keluar di tengah kesulitan. Namun ternyata, ada hal yang tidak runtuh meski pasukan coronavirus menyerang dari berbagai penjuru, yakni, ego!

Lihatlah mereka yang menyangkal Covid-19 dengan menolak memakai masker, merasa aman-aman saja berkerumun, malas cuci tangan pakai sabun. Soal ego ini sungguh "mengundang" energi negatif marasuk masuk pikiran. Kalau bukan karena berusaha ingin waras, rasanya emosi menanggapi sekelompok manusia egois ini. 

Kenapa egois? Ya karena memikirkan kenyamanan dirinya (merasa enggak nyaman pakai masker atau merasa baik-baik saja padahal belum tes covid juga untuk mencari fakta). Mereka yang tidak egois di masa pandemi menurut saya adalah individu atau sekelompok orang yang memikirkan orang lain, berempati terhadap siapa saja yang sedang berjuang, menjaga diri dan keluarganya, menjaga lingkaran kecil dan besarnya, dan menjaga komunitas untuk akhirnya secara tidak langsung dia sedang menjaga negerinya.

Saya tergerak menulis tentang para pejuang pandemi, termasuk para penyintas yang selalu berjaga sekuatnya di medan perang Covid-19. Tulisan ini lahir dari perjalanan pribadi di masa pandemi, yang kisruh tapi berusaha utuh, lalu merasa terhubung dengan salah satu video iklan layanan masyarakat yang saya posting di akun Instagram pribadi @wardahfajri memeringati Hari Pahlawan 10 November 2020 lalu. 

Pesan video itu mewakili pikiran dan bahkan pengalaman pribadi selama pandemi. Isinya, setiap orang saat ini (di masa pandemi) sesungguhnya adalah pejuang. Bahkan boleh lah beberapa orang disebut pahlawan, sebut saja tenaga medis, tenaga kesehatan, paramedis, para kepala keluarga yang bertahan dan berjuang tanpa mengeluh, para pemimpin dan tokoh masyarakat termasuk tokoh agama yang BERUSAHA SEKUATNYA SERIUS MENGURUS masyarakat yang kadang masih abai dan lalai. 

Saya sering bilang, di medsos dan di grup komunitas, kita semua ini terdampak tanpa kecuali meski bisa jadi bentuk ujiannya tak selalu sama selama pandemi. Jadi, jangan pernah berpikir susah sendiri. Tak bisa dan tak usah membandingkan kesulitan satu dengan lainnya. Cukup menerima dan menyadari, kita semua susah dan berempati lah, bahklan mari bergandengan tangan kita saling menjaga. 

Coba kita telusuri satu per satu, siapa-siapa saja yang berjuang? Kalau punya cerita serupa, mari berbagi di kolom komentar. Saya yakin, banyak sekali dari kita yang menjadi pejuang saat ini dengan segala permasalahannya, beradaptasi dan bertahan, di tengah pandemi.

Bagi para guru dan murid yang harus adaptasi pembelajaran jarak jauh, itu pun kesulitan dan perjuangan. Belum lagi sebagian guru di yayasan tidak terfasilitasi dengan baik dan atau tidak mendapatkan jaminan finansial yang aman. Bahkan, lingkaran saya yang berprofesi sebagai guru, menyatakan mereka harus menerima konsekuensi pandemi yang memaksa semua belajar dari rumah, dengan pengurangan honor. Saya tidak pernah mengeluhkan ini, namun saya dan suami pun sebenarnya terdampak. Suami yang seorang guru fotografi kelas ekstra kurikuler sekolah internasional, juga tak jelas nasibnya, tidak di PHK namun tidak juga berlanjut kelasnya, berhenti begitu saja tanpa kejelasan sejak awal pandemi. Saya rasa banyak lagi kesulitan para guru di luar sana. Saya yakin hanya sebagian saja yang "memviralkan" kesulitannya, sementara lainnya berusaha menerima dan memikirkan solusi untuk bertahan. Setidaknya, ada orang-orang yang waras dan berpikir jernih mencari solusi hidup meski satu pintu rejeki tertutup karena kondisi wabah yang meruntuhkan banyak ekosistem buatan manusia.

Menjadi orangtua juga sulit, tanpa kecuali, baik orangtua bekerja atau pun orangtua penuh waktu di rumah. Pembelajaran jarak jauh menuntut orangtua menjadi guru dan tak semuanya siap dan menerima kondisi ini. Kakak ipar saya yang menjabat sebagai kepala sekolah TK bahkan harus putar otak berhadapan dengan orangtua murid yang memaksa anaknya tetap datang ke sekolah. Orangtua yang tak siap dengan adaptasi belajar dari rumah, ditambah lagi tidak percaya coronavirus itu nyata, ada dan berbahaya. Bukankah tujuan sekolah ditutup sementara, dan proses belajar mengajar beralih menjadi virtual, belajar dari rumah, itu ada tujuan menekan penyebaran virus? Tujuannya jelas melindungi diri, keluarga, komunitas dari berpindahnya virus dari manusia satu ke manusia lainnya. Kalau orangtua memaksa para guru meladeni pilihan sikapnya untuk tetap datang ke sekolah membawa anaknya dan minta guru mengajari seperti biasa, apa namanya kalau bukan egois? 

Butuh berapa banyak lagi bukti bahwa coronavirus ini nyata ada, bahwa penyakit Covid-19 ini enggak main-main? Tak cukup data menunjukkan pejuang kesehatan gugur di medan pertempuran melawan covid?

Tim Survey Mitigasi IDI menunjukkan data per 5 Desember 2020 (disampaikan Sekretaris Jenderal Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia, dr Lia G Partakusuma dalam Webinar KPCPEN ke-46) ada 190 kematian dokter di Indonesia selama pandemi.



Saya juga punya cerita soal perjuangan dokter paru. Sebagai info, adalah pasien seorang dokter paru di RS Swasta di perbatasan Jakarta dan Tangerang. Sejak November 2019 saya menerima diagnosis tegak dari dokter setelah melewati serangkaian pemeriksaan rontgen dan CT Scan bahwa saya terinfeksi TB Paru. Sejak November 2019 sd November 2020, saya menjalani pengobatan setahun dengan disiplin minum obat dan kontrol sebulan sekali ke RS bertemu dokter paru saya. Kenapa setahun? Karena saya alergi obat paru tertentu yang akhirnya atas konsultasi dokter, saya harus menyelesaikan pengobatan setahun lamanya. 

Salah satu pejuang di masa pandemi menurut saya adalah dokter, perawat, petugas kesehatan di rumah sakit, dan pasien yang harus kontrol demi memastikan kesehatannya ke rumah sakit dengan faktor risiko tinggi di tengah pandemi. Mau tahu rasanya ke rumah sakit, bertemu dokter paru, dengan kondisi penyakit paru saat ancaman covid makin nyata? Rasanya seperti tentara yang terjun ke medan perang, berusaha waspada, melindungi diri dan menjaga tak kena tembakan musuh. 

Itu saya, penyintas yang kini statusnya mantan pasien paru yang berisiko tinggi di masa pandemi. Sebagai orang awam, saya tahunya penyakit covid ini akan lebih parah kondisinya pada orang-orang dengan faktor risiko tinggi, penyakit bawaan apalagi paru yang kerap jadi sasaran tembak coronavirus. Saya kenal beberapa penyintas Covid-19 yang awalnya adalah perokok berat, terinfeksi dan terkonfirmasi positif Covid-19, berjuang dalam perawatan untuk kembali sehat dengan berusaha menyehatkan paru dan pernafasannya. Kabar baiknya mereka sembuh, dan berhenti merokok demi sehat pascacovid.

Jadi bagi saya dan dokter paru, kondisi pandemi ini sungguh berat. Saya pernah berbincang ringan dengan dokter paru saat jadwal kontrol. Beliau menanyakan kabar dan kondisi covid di rumah. Saat itu saya masih bisa bilang, "Aman, Dok" karena memang belum ada yang terpapar bahkan lingkungan tempat tinggal masih zona hijau, itu di tiga bulan pertama pandemi. 

Barangkali dokter paru saya mulai kewalahan, beliau ingin berbagi rasa dan bercerita bahwa kondisinya tidak baik. Dokter dan perawat yang menggunakan APD lengkap dengan prokes ketat di rumah sakit, membuat saya luluh hati. Saya hanya bisa mendoakan dokter dan perawat semua sehat.

Saat saya menulis ini, saya tidak lagi bisa bilang aman. 

Warga makin kendor, makin abai, lengah dan kendor protokol kesehatan. Bahkan sebagian orang yang masih bertahan disiplin ketat memakai masker, membawa sanitizer ke mana saja, waspada saat harus keluar rumah, CTPS di mana saja, bertahan di rumah demi menjaga diri dan keluarga, jaga jarak dan jaga kontak, justru dianggap manusia aneh. Sebagian orang merasa sehat dan baik-baik saja, bahkan semakin banyak orang yang terang-terangan bilang, "Corona itu enggak ada, bohong aja itu". Tapi ketika ada keluarga yang terkonfirmasi positif, bahkan membuka pintu rumahnya saja dia tak berani, takut, membantu membawakan makanan untuk keluarga yang sedang isolasi mandiri saja, tidak berani. Lalu apa maksud perkatannya sebelumnya, covid tidak nyata? 

Saya melihat begitu banyak keegoisan manusia selama pandemi. Bisa saja saya juga egois tapi setidaknya saya mengikuti apa kata kiyai guru batin saya, bahwa mereka yang tidak pakai masker itu, egois! Tidak memikirkan keselamatan orang lain, karena bisa saja kita ini terinfeksi. 

Banyak sekali cerita kegoisan semasa pandemi. Termasuk mereka yang lantang bersuara covid tidak nyata namun ketika ada pemeriksaan tes covid, bergegas menjauh dan pergi tak kembali pulang beberapa saat. Takut tes covid, entah karena tak siap menerima hasilnya atau memang keras hati tidak percaya covid ada sehingga tidak merasa perlu pengetesan. Lalu, jika saja mereka terinfeksi, menolak tes medis untuk penegakkan diagnosa, dan bebas berkeliaran semaunya, berapa banyak lagi orang sehat atau orang berisiko yang terpapar lalu terinfeksi?

Bukan hanya orang sehat yang terinfeksi, namun tak pernahkah terpikirkan bagaimana nasib para nakes yang sudah berbulan-bulan bertugas, tidak pulang demi menjaga keluarga dari risiko terpapar? Bagaimana nasib rumah sakit yang semakin penuh pun Rumah Sakit Darurat Covid Wisma Atlet yang sempat "rehat" kemudian kedatangan pasien covid saat warga mulai lengah dan kendor prokes. 

Jadi, jangan bertanya kapan pandemi berakhir? Tak usah juga menuntut siapa-siapa, karena yang seharusnya dituntut adalah diri sendiri, menahan diri saat harus tetap teguh hati jaga jarak dan batasi mobilitas. Menuntut diri sendiri disiplin pakai masker sebagai senjata utama yang sederhana dari penyebaran virus. Menuntut diri sendiri setia cuci tangan pakai sabun kapan dan di mana saja demi menjaga tubuh bersih dan mengusir virus yang bisa dilemahkan dengan kebersihan fisik.

Setiap orang, tanpa kecuali, saat ini berjuang bertahan dengan kewarasannya masing-masing. 

Saya pun berusaha waras menjaga diri dan keluarga, saat salah satu anggota keluarga kami terinfeksi dan terkonfirmasi positif covid. Tak mudah menjalaninya karena begitu banyak ketidaktahuan dan simpang siur informasi. Berusaha menangkal misinformasi saat banyak orang menyangkal covid adalah perjuangan. Adaptasi kebiasaan baru memang tak mudah bahkan berat pada sekelompok orang. Namun inilah perjuangan sesungguhnya, mengedukasi diri dan menahan diri dari risiko terpapar, karena abai, lengah dan ketidaktahuan bahkan karena penolakan atas perubahan kebiasaan.

Pada akhirnya semua berjuang untuk waras. Belum lagi hantaman di sektor keuangan dan ekonomi keluarga, bisa menambah beban batin dan ketidakwarasan. Tak ada satu pun yang luput dan dampak wabah coronavirus ini. Hanya penerimaan dan jernih pikiran yang bisa menyelamatkan. Saya setuju apa kata Wanita Inspiratif Indonesia, Anne Avantie, yang berbagi pandangannya di Webinar KPCPEN ke-43. Katanya, kita ini harus bertahan dan berjuang melewati pandemi, buktikan kita mampu melewatinya sampai pada waktunya nanti kita bisa bercerita ke anak cucu. Dulu, ada masa pandemi, saat semua serba sulit dan kita bertahan, berjuang bersama, kuat dan berhasil melewatinya tanpa mengeluh dan menyalahkan. Jika kita bertahan dan menang melawan wabah, kuat sehat bertahan sampai nanti, ini adalah warisan berharga untuk masa mendatang. Kita bisa bercerita dan berbagi caranya, supaya generasi nanti, jika harus menghadapi wabah baru, menjadi manusia yang jauh lebih kuat. Itu saya simpulkan dari perkataan Anne Avantie.

Optimisme menjadi kunci bertahan kuat dan menang melawan wabah. Semua akan sia-sia kalau egoisme terpelihara tanpa sadar pun dengan sadar. Kita bisa memilih, mau mengambil peran sekecil apa pun, untuk memenangkan pertempuran atau setidaknya berjuang sekuatnya menjaga benteng pertahanan terkecil, rumah dan keluarga kita, dengan disiplin protokol kesehatan 3M, siap patuhi 3T dan 3H.



Semangat berjuang! Hati-hati dengan musuh jahat, EGO.