Lebaran “Family Time” Bareng Keponakan Bikin Penasaran Smartphone Xiaomi


Sudah lebih dari tiga minggu sejak liburan lebaran yang waktunya banyak dihabiskan bersama keluarga termasuk keponakan. Banyak cerita dari family time saat liburan lebaran, salah satunya bahas gadget yang memang paling sering “nempel” di tangan kecuali waktunya ibadah, makan, bersalaman, dan saat ke kamar mandi.
Smartphone memang tak terpisahkan apalagi kalau fungsinya pun bukan sekadar alat komunikasi, tapi punya kepintaran lain seperti yang saya dapati dari Xiaomi.
Saya punya cerita soal smartphone dari liburan lebaran tahun ini. Sejak hari pertama lebaran, abang adik, keponakan yang memang sudah berusia remaja, paling muda pun sudah hampir lulus SD, smartphone memang tak lepas dari genggaman.

Smartphone aneka jenis di keluarga, paling sering dipakai foto bersama mengandalkan kamera utama dan selfie dengan kamera depan. Lalu posting di media sosial dengan foto yang sama namun beda gaya sesuai karakter masing-masing pengguna ponsel pintarnya. Biasanya kalau sudah tukar foto yang kami bahas adalah kualitas fotonya. Pujian seperti “fotonya bagus” bikin tambah meriah kebersamaan liburan lebaran. Alhasil jadi penasaran dengan smartphone yang jadi andalan.
Kamera di ponsel memang jadi pertimbangan utama, salah satu yang basic kalau memilih smartphone. Selain harga tentunya, yang memang sesuai kantong. Tapi ada yang unik  dan canggih bisa dibilang, dan saya baru tahu saat silaturahim ke rumah kakak.

Adalah keponakan saya, usia remaja dan usia SD, yang bikin saya kegirangan karena smartphone nya bisa berfungsi sebagai remote TV. Smartphone yang terkoneksi dengan smart TV.
Ceritanya, kami sedang asik menikmati makan siang hidangan khas Betawi, sayur asem, jengkol goreng, dan lauk pauk lainnya. Sambil ngobrol santai, diselingi bikin kuis kecil-kecilan, iseng ingin menyetel tayangan televisi. Mencari remote yang tak juga kelihatan, akhirnya keponakan inisiatif menggunakan smartphone Xiaomi untuk menyetel televisi. Rupanya segala tipe Xiaomi bisa berfungsi sebagai remote, asalkan terkoneksi dengan smart TV. Saya paling ketinggalan ternyata di antara para keponakan yang sudah lebih “canggih” secanggih ponsel pintarnya.
Lalu saya pun jadi penasaran dengan HP Xiaomi. Saya sudah kenal HP Xiaomi sejak lama meski belum memiliki satu pun tipenya. HP Xiaomi yang saya tahu dikenal karena kualitas kamera ponselnya. Saya punya teman blogger pengguna Xiaomi, yang bikin saya terkesima dengan hasil fotonya. Harga HP Xiaomi pun terbilang terjangkau.
Gara-gara HP Xiaomi bisa jadi remote TV, dan memang saya ketahui kameranya bagus, saya jadi penasaran cari tahu tipe dan harga. Cara paling praktis mencari info smartphone adalah lewat situs belanja online. Berhubung pernah mengikuti acara MatahariMall.com, dan sudah mengunduh aplikasinya, langsung saja berselancar di sana.

Hasilnya, HP Xiaomi Redmi Note 4 yang paling primadona di antara tipe HP Xiaomi lainnya, dalam penglihatan saya, dilihat dari tipe, fitur, dan harga tentunya. Harga HP Xiaomi Redmi Note 4 masih terjangkau untuk anggaran belanja smartphone saya.
Sebenarnya belum ada rencana membeli HP baru dalam waktu dekat sih, tapi HP Xiaomi memang jadi salah satu pilihan prioritas saya kalau berencana membeli handphone. Dengan harga HP Xiaomi Redmi Note 4 mulai Rp 2 Juta sampai Rp 2,5 Juta, memori hingga 32GB, kamera utama 16 MP, dan kamera depan 5MP juga dual SIM, bagi saya ini sudah jadi fitur dasar yang sepadan dengan harga.
Tapi memang ya, kalau sudah sekali saja buka situs belanja online, jadi makin penasaran. Saya jadi kepincut HP Xiaomi Redmi Note 3 Pro 5.5” LTE Dual SIM 16 GB – 32 GB. Selain pilihan warna body nya variatif untuk basic color seperti hitam, putih, gold, saya sih percaya harga enggak akan bohong. Harganya memang lebih tinggi dari harga HP Xiaomi Redmi Note 4, tapi saya jadi “kepincut”.
Sepertinya perlu “hangout” lagi bareng keponakan yang memang beberapa orang pengguna HP Xiaomi. Cari tahu langsung dari pengguna buat saya lebih bisa meyakinkan, selain baca artikel reviewer tentunya. Sambil cuci mata, dan bandingkan harga HP Xiaomi Redmi Note 4 di situs belanja online. Mudah-mudahan ada rejeki untuk beli HP baru, nanti.

Tak Sekadar Konflik Cinta Sahabat Sejati di Filosofi Kopi 2


Setuju dong kalau bicara cinta maknanya universal. Cinta bukan hanya urusan kemesraan berpasangan, cinta juga menyentuh hubungan persahabatan, kecintaan akan profesi, kecintaan akan hasil dari profesi seperti barista dengan kopi racikannya.

Cinta dan konfliknya dihadirkan dalam film drama Filosofi Kopi 2, yang menurut saya, disampaikan dengan drama yang tidak berlebihan atau saya menyebutnya no overshared drama. Atau kalau mau dibikin bahasa sederhananya, enggak “sinetron” tanpa bermaksud menyatakan semua sinetron tak bermutu meski kebanyakan begitu.



Film Filosofi Kopi 2, bagi saya, sukses mengadaptasi bahkan jauh mengembangkannya menjadi cerita menarik dan kuat dari karakter novel Filosofi Kopi karya Dee atau Dewi Lestari, berkat arahan sutradara Angga Dwimas Sasongko. Sutradara muda multitalenta yang saya “kepoin” sejak Festival Film Pendek Indonesia Kompas TV, dengan Angga sebagai jurinya. Kata Angga yang ditemui saat Special Screening bersama Plaza Indonesia di Jakarta, 5 Juli 2017, FilKop 2 adalah film ke delapannya.



Film sekuel tentang duo sahabat pemilik kedai kopi Filosofi Kopi, Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto) memiliki cerita yang kuat, dan alur yang matang. Saya, jujur, menikmati salah satu film Indonesia yang turut meramaikan studio bioskop sepanjang Juni – Juli 2017 ini.  Barangkali karena saya memang sudah memiliki novel perdananya sejak 2006, lalu menonton film Filosofi Kopi (pertama), sayangnya di televisi. Lalu berlanjut berkesempatan hadir menjadi bagian dari komunitas BloggerCrony bersama 30 blogger lainnya yang beruntung bisa menyaksikan film sebelum tayang untuk umum, bersama Plaza Indonesia dan Visinema Pictures.




Cerita di novel, sama kuatnya dengan cerita di film pertama, meski ada beberapa modifikasi di versi filmnya. Saya pikir wajar saja, karena film perlu membangun emosi penonton dengan cara film, bukan cara novel. Bagi saya, film drama yang layak rekomendasi adalah film yang bercerita tentang kehidupan yang tak jauh dari realita, dekat dengan kita sebagai penontonnya, logis, dan membawa pesan secukupnya tidak kebanyakan, tapi bermakna.

Saya mendapatkannya dari FilKop 1 terutama dengan latar kopi “Tiwus” dan kuatnya persahabatan Ben dan Jody, yang sewajarnya, terasa nyata.

Lanjut ke Filosofi Kopi 2, layaknya perjalanan hidup, tentunya dinamis. Kalau dulunya hanya tentang persahabatan, kali ini ada perasaan cinta pasangan. Selayaknya kehidupan dua sahabat pria, lalu hadir sosok-sosok perempuan inspiratif yang memang menarik, sah saja percikan cinta muncul. Konflik cinta inilah yang hadir namun tidak dihadirkan membabi buta dalam film Filosofi Kopi 2. Kekuatan hubungan sahabat, kecintaan akan profesi, cinta pada pekerjaan yang dijalani penuh gelora jiwa sebagai barista dan pengusaha kedai kopi, bercampur menjadi konflik cinta di Filosofi Kopi 2.




Kehadiran Brie (Nadine Alexandra – Puteri Indonesia 2010) sebagai barista muda dan Luna Maya (Tarra) yang menjadi investor baru Filosofi Kopi 2, memang membawa konflik tersendiri. Alur cerita dan akting yang natural dari keduanya, bikin saya masih bisa menikmati film penuh “perang rasa” ini. Tenang saja, suasana yang dimunculkan bukan kisah cinta cengeng bikin “mewek”. Bagaimana dua pria bersahabat menyelesaikan konflik rasa cinta ini, apik “dimainkan” Angga D Sasongko dan dituliskan para penulis skenario (termasuk Angga), Jenny Jusuf dan Irfan Ramly.

Ketika bisnis dan persahabatan dihadapkan pada pilihan dan fakta-fakta yang mengguncang jiwa, bagaimana Ben dan Jody menjalaninya, bagi saya bisa dinikmati tanpa berlebihan di film ini. Layaknya drama, tentu ada sisi emosional yang ditonjolkan, dan alur yang berjalan lambat. Namun dengan arahan sutradara, pemilihan karakter dan peran yang tepat dengan sosok tepat, juga soundtrack musik yang harmonis dengan adegan, serta lagi-lagi cerita yang kuat, konflik dan drama dalam Filosofi Kopi 2 buat saya masih disampaikan dengan mulus.

Ciri khas film tentang Ben dan Jody yang saya rasakan masih dipertahankan sejak film pertama 2015 lalu adalah perjalanan dalam arti sebenarnya. Filosofi Kopi mengajak kita menikmati keindahan nusantara dan kebun kopi di berbagai daerah di Indonesia. Kalau sebelumnya Ijen, Lampung, lalu bergeser ke Toraja. Filosofi Kopi punya misi dari filmnya, bukan hanya berkisah tentang konflik bisnis, sahabat, profesi, keluarga, juga pasangan, tapi mengantarkan kita lebih mencintai produk lokal, kopi dari petani, atau kalau saya pernah ngobrol dengan teman pemilik kedai kopi adalah produk kopi berbasis komunitas kopi Indonesia.

Bagaimana biji kopi dari petani lokal diolah, melibatkan anak muda, hingga menghasilkan rasa dan aroma dalam secangkir kopi yang nikmat, ini yang berhasil diangkat dalam sebuah film. Bahkan tak berhenti di film Filosofi Kopi 2, namun berlanjut ke komunitas sesungguhnya. Salah satunya kedai kopi Filosofi Kopi di Melawai yang menang asli ada. Penonton yang membeli tiket pada 13 Juli 2017 nanti pun berhak atas secangkir kopi, gratis, dengan menukarkan tiket ke kedai kopi di selatan Jakarta ini. Dengan membeli tiket menonton di bioskop, penonton Filosofi Kopi 2 juga berarti sudah berkontribusi untuk kebun kopi di Merapi. Satu tiket sama nilainya dengan satu benih biji kopi di Merapi.

Kalau saya ikuti cara reviewer film lain dalam menilai sebuah film, dengan memberi angka, maka saya akan memberi angka 4 dari 5. Namun buat saya, angka itu bisa berubah tergantung selera film kita, bagi yang tak suka drama, mungkin beda lagi angkanya. Latar belakang reviewer juga berdampak atas munculnya angka. Kalau tidak terlalu suka film Indonesia, angka barangkali bisa lebih kecil dari itu. Jadi, silakan datang ke bioskop dan beri penilaian versi Anda sendiri. Lalu tukarkan tiket dengan secangkir kopi di kedai Filosofi Kopi Melawai. Ajak teman karena sepi rasanya kalau sendirian di tengah keramaian. Dan sebaiknya tak usah mencari colokan, dan berlama-lama di meja, karena kasihan pelanggan lain yang juga ingin menikmati kopi di kedai yang berlatar Sahabat Sejati Ben dan Jody ini.





Sutradara : Angga Dwimas Sasongko

Penulis Skenario : Jenny Jusuf, Irfan Ramly, Angga Dwimas Sasongko
Produser : Anggia Kharisma, Chicco Jerikho, Rio Dewanto
Co Produser : Handoko Hendroyono, Ajeng Parameswari, Nurita Anandia, Ridla An-Nuur.
Cast : Chicco Jerikho, Rio Dewanto, Luna Maya, Nadine Alexandra, Ernest Prakasa, Tio Pakusadewo, Joko Anwar, Whani Darmawan, Aufa Dien Assagaf, Muhammad Aga, Westny Dj, Melissa Karim. 

Mudik Sehat Perjalanan Selamat Silaturahim Tambah Berkah




Pulang kampung rasanya bukan hanya milik masyarakat Indonesia terutama saat Lebaran. Bahkan di Tiongkok sana, saat Imlek, para pekerja di kota besar berbondong-bondong pulang ke kampung halamannya. Berdesakan di berbagai fasilitas umum seperti bandara, terminal, stasiun, pelabuhan sudah pemandangan umum. Pun di jalan raya yang tak pernah sepi pengendara sepanjang mudik. Pulang kampung menjadi salah satu cara masyarakat komunal untuk berkumpul, silaturahim, bersama keluarga yang sehari-harinya tak selalu bersama.

Mudik Lebaran di Indonesia selalu jadi tradisi tahunan yang memang bikin kangen. Saya merasakan nikmatnya mudik ke Malang, tanah leluhur suami (meski bukan tanah kelahirannya), tahun 2016 lalu. Mudik di hari kedua Lebaran dengan perjalanan berkendara roda empat, lebih dari dua puluh jam karena banyak istirahat di Masjid.

Lebaran 2017 kami memutuskan berlebaran di kampung halaman saya, di Kota Tangerang, yang lokasinya sangat dekat dengan Jakarta. Meski begitu, mengikuti aktivitas mudik teman-teman melalui linimas, juga menonton berita TV seputar mudik, sungguh pemandangan khas Lebaran di Indonesia.

Mendapati berita dari layar kaca, masih saja ada musibah seputar mudik. Mulai perempuan pingsan saat antrian di pelabuhan sangat padat, balita yang tewas dari kecelakaan motor sementara kedua orangtuanya selamat, satu keluarga yang selamat dari kecelakaan motor (bapak, ibu yang sedang hamil dan anak usia tujuh).

Inilah yang sudah diingatkan pemerintah jauh hari perihal mudik. Mempersiapkan diri lebih baik, juga memberikan solusi seperti mudik gratis yang diadakan berbagai pihak, pemerintah dan swasta. Solusi mudik gratis menjadi salah satu cara mengurangi pemudik dengan kendaraan roda dua yang lebih berisiko. Namun, keinginan besar untuk mudik dengan berbagai cara, ditambah lagi barangkali kuota mudik gratis tak sebanding dengan besarnya jumlah pemudik, tetap saja masih ada warga yang tak kebagian kemudahan, dan memilih berbagai cara untuk mudik.

Mudik Sehat
Kalau sudah begitu kondisinya, mau tak mau, mudik memang harus dipersiapkan matang. Pastikan kondisi badan sehat. Memiliki kondisi tubuh sehat bugar memang tak bisa didapatkan dalam waktu singkat. Karenanya kebiasaan hidup sehat, perlu jadi perhatian kembali bagi kita. Badan sehat belum tentu bugar. Untuk bisa sehat bugar, kebiasaan hidup sehat menjadi tantangan bagi kita semua yang harus terus dicapai. Sehingga saat melakukan perjalanan jauh, seperti mudik, sehat fisik mental. Kalau mudik sehat, silaturahim pun membawa lebih banyak berkah dan keselamatan. Saat di perjalanan aman terkendali, saat di kampung pun badan sehat rasa bahagia, tidak jadi merepotkan orang lain dengan sakit.

Anjuran hidup sehat lewat GERMAS (gerakan masyarakat hidup sehat) sudah digaungkan pemerintah, dan terus diingatkan oleh Kementerian Kesehatan RI. Berkali-kali melalui berbagai kampanye kesehatan, GERMAS digaungkan.

Kunci GERMAS adalah makan buah dan sayur setiap hari, aktivitas fisik rutin dan teratur, cek kesehatan berkala.

Jujur, saya masih berjuang mempraktikkan tiga kunci hidup sehat, meski hanya tiga, pada praktiknya sungguh tak mudah. Saya masih kesulitan soal olahraga. Olahraga yang paling sesuai untuk saya, dengan berbagai latar kondisi fisik dan penyakit (Asma dan pernah radang sendi), maka berenang satu-satunya olahraga yang paling aman untuk saya. Namun memang butuh waktu khusus untuk berenang, karena olahraga ini mengandalkan fasilitas renang, bukan olahraga “gratis” yang bisa dilakukan kapan saja seperti jalan kaki atau jogging.

Anjuran ini kembali diingatkan Kementerian Kesehatan RI jauh hari sebelum mudik. Tujuannya agar warga bisa mudik sehat, bugar dalam perjalanan sehingga terhindar dari berbagai risiko perjalanan seperti kelelahan, mudah mengantuk yang bikin tidak fokus, dan yang terparah kecelakaan.

Kementerian Kesehatan RI bersama Pusat Promosi Kesehatan (Puspromkes) sengaja mengadakan kegiatan membaur bersama warga di RPTRA KALIJODO dan Ngobrol Bareng Blogger di waktu bersamaan.

Sambil membagikan takjil sehat, diiringi musik rasta, Puspromkes Kementerian Kesehatan RI mengajak warga lebih peduli pola hidup sehat. Selebaran yang informatif menjadi salah satu cara untuk mendidik warga. Ajakan hidup sehat dimulai dari keluarga seperti cuci tangan pakai sabun, menggunakan air bersih, menggunakan jamban sehat, tidak merokok, memberantas jentik seminggu sekali, dan berbagai anjuran hidup sehat lainnya.

Pesan penting Kementerian Kesehatan diwakili Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga, Kartini Rustandi, bersama H.R Deddy Kuswenda, M Kes selaku Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, serta perwakilan Dinas Kesehatan DKI Jakarta meliputi semua aspek mudik sehat. Mulai sehat dari warganya, juga para pengendara, dan berbagai fasilitas kesehatan pendukung selama mudik yang bisa digunakan maksimal.

Catatan pentingnya adalah pemerintah dari sektor kesehatan melakukan pengecekan dan pengawasan untuk pengemudi kendaraan umum seperti bus mendukung mudik sehat. Meski begitu, warga perlu aktif bertindak, jika menemukan tanda pengemudi yang tidak fit, segera laporkan ke posko kesehatan terdekat, posko kepolisian, di terminal dan fasilitas umum lainnya.

Pemudik sebaiknya menyimpan informasi kesehatan ini:

Layanan Emergency 119: Apabila pemudik mengalami kecelakaan atau yang bersifat darurat terkait pelayanan kesehatan dapat menghubungi layanan 119

Koordinasi pos layanan kesehatan: Puskesmas dan RS menjadi bagian layanan kesehatan yang dikoordinasikan oleh Dinas Kesehatan Provinsi, Kab/Kota

Jumlah Pos Layanan Kesehatan yang tersebar di 15 Provinsi terdiri dari:
913 Pos Kesehatan
2228 Puskemas
374 Rumah sakit
207 Kantor Kesehatan Pelabuhan

Ada 3.862 Pos Kesehatan di Jalur Mudik Lebaran terdiri dari:
Pos kesehatan Dinas Kesehatan sejumlah 3141 Pos Kesehatan yang terdiri dari Pos Kesehatan Lapangan dan Puskesmas

Pos Kesehatan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) sekitar 207 Pos Kesehatan

Rumah Sakit Rujukan berjumlah 374 Rumah Sakit

Layanan Emergency sekitar 104 PSC

Supaya mudik sehat, beberapa tips berikut pengalaman pribadi ini bisa diaplikasikan (disarikan dari promosi kesehatan Kemenkes RI):
1. Kondisi sehat
Pastikan pemudik dalam kondisi sehat, cek kesehatan menjadi penting, jika sudah dilakukan berkala akan lebih bagus lagi dampaknya.

Bukan hanya pemudik, kendaraan pun harus dipastikan sehat. Baik kendaraan pribadi maupun fasilitas umum seperti bus di terminal dan travel agent. Pastikan semua kendaraan sudah dalam kondisi layak dan siap pakai. Jika ada tanda kurang sehat, bagi pengguna kendaraan umum, keaktifan warga untuk melaporkan ke posko terdekat menjadi penting. Sayangnya, sepengetahuan saya, memang belum ada call center khusus pelaporan kendaraan umum atau pengemudi yang dicurigai “kurang sehat” ini.'

2. Cuci Tangan Pakai Sabun
Saya jadi ingat saat mudik tahun lalu, sabun cair selalu siap di dalam mobil, diletakkan di tempat yang mudah terjangkau. Kapanpun menemukan air, cuci tangan nomor satu, karena sepanjang perjalanan tangan pasti akan terpapar benda apa pun. Sebelum dan sesudah makan, juga setelah dari toilet, wajib cuci tangan pakai sabun, apa pun kondisinya. Jika perlu beli air mineral khusus untuk cuci tangan pakai sabun. Kalau pun kondisinya tidak memungkinkan, bawa gel pembersih tangan dan tisu basah, lakukan pembersihan yang maksimal, karena tangan sumber kuman penyakit.

3. Tidak menerima makanan dan minuman dari orang tak dikenal
Kebersamaan memang menjadi ciri khas masyarakat kita. Bahkan dengan orang belum dikenal saja, kita bisa sangat terbuka. Namun, waspada tetap perlu. Saat mudik dan bertemu dengan banyak orang, jika ada orang asing yang memberikan makanan dan minuman, jangan dimakan. Silakan saja menerimanya, mungkin tak enak hati, tapi tidak harus mengonsumsinya kan. Bawa makanan sendiri, sediakan secukupnya, kalau bisa siapkan saja di dalam kendaraan jadi tak perlu sering jajan.

4. Tidak buang air kecil/besar sembarangan.
Kondisi mudik memang berbeda, tak selalu sempurna. Inginnya sih buang air kecil/besar di toilet yang bersih, tapi kadang keinginan buang air tak selalu bertepatan dengan kondisi jalan dan fasilitas umum. Kalau pun terpaksa buang air di tempat yang kurang bersih, sekali lagi persiapkan segala keperluannya. Air mineral untuk bersih-bersih dan sekali lagi cuci tangan pakai sabun. Stok air mineral memang harus banyak saat mudik ya.
Sebisa mungkin berhentilah di tempat yang aman, SPBU atau masjid. Sekalian bisa istirahat, solat, dan bersih-bersih. Kalau saat mudik, dua tempat ini paling nyaman untuk istirahat sejenak, selain rumah makan ya.


5. Konsumsi makanan yang bersih dan sehat
Nah, ini kembali ke persiapan mudik. Siapkan makanan sehat atau camilan sehat dari rumah yang tahan lama dikonsumsi selama berkendara. Kalau bisa seimbangkan buah dan sayur. Salad misalnya atau buah potong. Atau makanan yang memang bisa kita jamin kesehatannya. Jangan asal makan atau jajan. Menahan diri untuk tidak berlebihan “jajan” saat mudik memang tantangan tersendiri. Sebisa mungkin pastikan asupan selama mudik cukup baik.

6. Buang sampah pada tempatnya
Ini kembali kepada kebiasaan. Kalau saya pengepul sampah. Saya paling rajin mengumpulkan sampah sampai akhirnya menemukan tempat sampah dan membuangnya. Jadi siapkan plastik sampah lebih banyak saat berkendara mudik. Jangan asal buang sampah di mana pun, apalagi di jalan raya.

Bayangkan bagaimana kotornya jalan atau fasilitas umum jika semua pemudik buang sampah sembarangan. Dan sampah mengundang penyakit. Jangan sampai mudik bikin orang lain sakit karena kebiasaan buang sampah sembarangan.

7. Gunakan masker melindungi dari asap dan debu
Perlindungan memang penting, dengan kondisi jalan dan perjumpaan dengan pemudik lain yang kita tak tahu kondisinya seperti apa, masker menjadi pelindung paling sederhana untuk pemudik.

Apalagi bagi penderita asma seperti saya, yang sensitif terhadap debu dan asap, masker wajib dipakai. Jadi masukkan masker dalam list barang yang wajib selalu tersedia saat mudik.


Nah, kalau kamu, punya tips mudik sehat apa? Yuk bagi tipsnya di komentar ya

Lintas Komunitas Blogger Berbagi di Panti Yayasan Amal Wanita Ciputat


Setiap pribadi bisa, bahkan sangat bisa, meringankan tangan untuk membantu sesama. Sikap peduli sangat bisa dimunculkan dalam diri, lalu bergerak mandiri, melakukan sesuatu yang berarti untuk orang lain. Setiap individu bisa melakukan perbuatan baik, sendiri, sebagai bentuk peduli.

Jika setiap orang berbagi ke satu orang atau banyak orang, bisa dibayangkan tak ada orang miskin atau orang lapar di negeri kita.

Berbagi memang bisa dilakukan siapa saja, membawa dirinya sendiri atau bersama-sama. Meski begitu, saya meyakini, perbuatan membantu sesama, akan lebih besar dampaknya dan pengaruhnya jika dilakukan bersama, dengan semangat kolaborasi.

Inilah yang terjadi dalam BloggerCare ISBxBCC yakni kolaborasi lintas komunitas blogger (Indonesian Social Blogpreneur dan BloggerCrony Community) pada 12 Juni 2017.


Gerakan kolaborasi #BloggerCare yang bermaksud menggalang dana untuk panti asuhan Yayasan Amal Mulia, Ciputat, sudah berlangsung sejak 3 Juni 2017.  Dua komunitas blogger menyebar eflyer di akun Instagram, yang kemudian direspons blogger, dengan turut menyebarkan informasi gerakan sosial komunitas blogger ini.

Pesan pun menyebar, bahwa lintas komunitas blogger sedang menggalang dana untuk membantu panti asuhan memenuhi berbagai kebutuhannya. Informasi yang didapatkan penggagas ISB, Ani Berta, menyebutkan bahwa panti sangat membutuhkan dana untuk perbaikan rumah tinggal. Maka itulah yang mendasari blogger untuk saling bantu, saling menyebar pesan lewat media sosial, untuk menggalang dana.



Blogger solid dan peduli, itulah kesan yang saya tangkap dalam waktu 10 hari menggalang dana. Hingga 10 Juni 2017 terkumpul total dana Rp 10.075.000. Alhamdulillah tiada terkira kami ucapkan kepada seluruh donatur, blogger dan nonblogger, yang peduli dan percaya #BloggerCare kali ini.

Ini bukan #BloggerCare pertama, sebelumnya lintas komunitas blogger juga pernah menggalang dana untuk bencana banjir Garut. Bala bantuan berupa materi, barang yang diperlukan korban bencana, datang terus menerus tiada putus, dan berhasil kami salurkan langsung ke posko-posko darurat bencana di Garut.

Sungguh, buat saya, blogger punya kekuatan dahsyat apalagi jika soal berbagi di media sosial dan bahkan berbagi rejeki.


Panti Asuhan
Kali ini, kami memilih panti asuhan, karena memang meyakini mereka butuh bantuan. Panti asuhan yang dikelola Yayasan Amal Mulia berbasis keluarga. Adalah sebuah keluarga yang turun temurun merawat panti, mengasuh anak yatim piatu dan dhuafa, dari lingkungan sekitarnya hingga anak-anak lintas kota, yang butuh asuhan dan melanjutkan hidup yang lebih baik.

Ibu Upik, generasi penerus Yayasan, anak dari pendiri Yayasan, mengatakan sudah banyak alumni panti yang berhasil dalam hidupnya, mandiri dan berdaya bahkan tetap peduli rumah tinggal yang pernah menjadi tempatnya bernaung. Bahkan ada lulusan panti yang sudah seusinya, lebih dari 50 tahun, karena memang ibu Upik tumbuh besar bersama anak-anak panti, yang diasuh orangtuanya.

Ibu Upik (kedua dari kanan sisi depan)


Keberhasilan Yayasan dan anak panti yang diasuhnya, menyebar ke kota lain, sehingga semakin bermunculan anak-anak yang ingin mengubah hidupnya lebih baik, dengan segala keterbatasan keluarganya di daerah. Yayasan Amal Mulia menerima dengan tulus dan sekarang ini Yayasan mengasuh 35 anak panti, sebagian darinya adalah yatim piatu.
Anak-anak disekolahkan hingga SMA, kalau ada yang cemerlang prestasinya, akan dibantu Yayasan untuk dicarikan donatur untuk melanjutkan kuliah.

Sungguh mulia apa yang dilakukan para perempuan yang mengelola Yayasan Amal Wanita ini. Bantuan memang terus berdatangan, namun saya meyakini kebutuhan harian untuk seluruh penghuni rumah lebih dari 30 orang tentu bukan perkara mudah.

Menyambangi langsung panti asuhan saat buka puasa bersama lintas komunitas blogger, membuat saya merasa belum berbuat apa-apa. Mengintip dari jendela kaca, ruangan tidur anak-anak panti,kasur tingkat yang berjejer, dalam ruangan besar, sungguh menyentuh hati. Membayangkan bagaimana anak-anak itu tidur bersama, di satu ruangan, dengan kasur bertingkat, jangankan bicara privasi, mereka harus berbesar hati lapang dada menjalani kehidupan yang sudah menyelamatkannya dari kesusahan.

Maka membantu mereka adalah tanggungjawab pribadi dan sosial kita. Dengan apa apun yang kita mampu bahkan sekadar waktu pun untuk datang dan menyebarkan pesan tersirat dari panti.

Membekali Mandiri
Sekitar 20 blogger hadir di panti pada 12 Juni 2017 untuk buka puasa bersama dan menyalurkan langsung bantuan dari para donatur.

Kami datang bukan sekadar menyerahkan bantuan, atau buka puasa bersama anak panti. Kami datang dengan niatan berbagi pengetahuan kami, membekali anak panti untuk berdaya dan mandiri dengan soft skills.

Berkat bantuan berbagai pihak, acara berlangsung dengan baik dan semua kebutuhan terpenuhi. Untuk makanan, dari takjil sampai makanan utama, dan bahkan bingkisan untuk anak-anak juga hadiah tersedia, semua berkat kebaikan para sponsor dan donatur.

@rolaslunchbox photo by @sattoraji


Kami ucapkan terima kasih untuk Rolas Lunch Box (@rolaslunchbox) untuk nasi bakar hidangan buka puasanya. Juga takjil es kacang hijau dari Gula Jawa (@gula_jawa_sweet), takjil kurma dari @gerai.humaira dan brownies Dapur Ukhti (@dapurukhti) milik Devi.

@gula_jawa_sweet photo by +Satto Raji 


Hadiah-hadiah dari Tiffany Kenanga Hijab, Agung Han, dan penyanyi (idol) Windy Ghemary yang datang bukan hanya berbagi kisah hidupnya yang inspiratif, tapi juga membagikan bingkisan, bersedekah, dan suaranya yang indah menghibur kami semua.

@tiffanykenangahijab photo by +Satto Raji








Terima kasih tak terhingga juga untuk para pemateri yang membagi waktu, tenaga, keahliannya bahkan hadiah.  Penulis buku Wylvera bukan hanya berbagi ilmu menulis tapi juga membagi buku. 

Photo by @wawaraji


Blogger Zata Ligouw pun berbagi dan memotivasi anak-anak untuk menulis dan menyerap manfaat dari keterampilan menulis. 

Photo by @wawaraji


Yang juga seru adalah workshop membuat praline kurma bersama Chef & Food Stylist Asykur (@asykur_foodstylist) yang berkenan mengajarkan membuat praline ke anak panti. Harapannya, mereka bisa berkreasi membuat cokelat, bisa untuk konsumsi pribadi atau membuka peluang usaha rumahan nantinya.



Photo by +Satto Raji 




Sumbangan kurma dari blogger Windah memungkinkan workshop ini berlangsung dengan sukacita. Terima kasih juga donatur yang menyumbang sembako, blogger Ety Budiharjo, serta blogger Alfan Renata dengan berbagai bantuannya termasuk susu kotak untuk anak-anak panti.

Semua acara berlangsung penuh semangat kebersamaan, terima kasih untuk MC Blogger Agatha Mey yang memandu seluruh kegiatan kali ini.



Barakallah. Masih banyak lagi  bantuan lain dari teman-teman blogger yang mohon maaf tidak disebutkan satu per satu. Pastinya bantuan dana sungguh luar bisa dan membuat pengelola panti senyum merekah. Maka biarlah Allah SWT yang menghitung pahala, kita serahkan semua sedekah harta dan lainnya, menjadi ladang amal dan bekal kita menambah lagi satu kebaikan di bumi. Allah SWT yang akan membalas semua kebaikan dengan caraNYA yang terbaik, mengabulkan semua doa para donatur, aamiin.







PROFIL PANTI ASUHAN YAYASAN AMAL WANITA
Panti Asuhan Amal Wanita yang dipimpin oleh Drs. H. Haidar RS berada di bawah naungan Yayasan Amal Wanita Jakarta yang beralamat di Jl. RE Martadinata No. 37 RT05/04 Ciputat dengan No telepon 7402208 dan Sekretariat Yayasan Amal Wanita Jl. Wijaya Timur Dalam VI Rt 05/02 No. 32 Kel. Petogogan Kec. Kebayoran Baru Jakarta Selatan dengan No telp 021 7402208/7429657.

Panti Asuhan Amal Wanita didirikan oleh Hj. Raimah Raib dan Hj. O. Loekman sejak tahun 1964, dan sampai sekarang masih tetap eksis untuk menjalankan misi sosialnya sebagaimana tujuan awal didirikan panti ini. Hingga sekarang, anak asuh yang telah menamatkan pendidikannya di panti berjumlah 700 orang lebih.
Panti Asuhan Amal Wanita yang bergerak di bidang sosial penyantunan anak-anak yatim piatu, terlantar dan tidak mampu yang tinggal di asrama ini pernah menjadi panti binaan WIC pada tahun 1976 sampai 1998.

Anak asuh mendapatkan pendidikan formal di luar asrama, mulai dari SD hingga perguruan tinggi, yang seluruh biayanya menjadi tanggung jawab panti/yayasan. Adapun pendidikan non formal/ketrampilan diberikan di panti seperti menjahit, beternak, berkebun dan mengetik/komputer. Di samping itu anak asuh juga mendapatkan bimbingan kedisiplinan organisasi, keagamaan, seperti shalat berjamaah, mengaji, berceramah , qiraah, latihan pidato dan lain-lain.



Imam Perempuan Shalat Tarawih di Kampungku



Kampungku tak jauh dari pusat kota Jakarta. Letaknya memang di perbatasan Jakarta Selatan dan Jakarta Barat-Tangerang-Tangerang Selatan. Lahir dan tinggal di lingkungan warga Betawi asli Kreo Tangerang, membawa banyak kenangan dulu dan kesan hingga kini. Meski sempat berpindah saat kuliah dan menikah, pada akhirnya kukembali lagi ke tanah kelahiran, demi orangtua yang makin sepuh.

Banyak tradisi yang masih dipelihara di kampungku. Kebiasaan yang dipelihara warganya, yang menurutku sudah selayaknya dihargai dan dilanjutkan. Salah satunya adalah saat shalat tarawih dengan imam perempuan. 

Setiap Ramadhan ada kebiasaan yang selalu bikin kangen di rumahku. Ya, rumah ibu bapakku yang sudah ditinggalinya lebih dari 50 tahun. Rumah di pinggir jalan raya yang masih dijaga hingga kini sampai nanti, meski sudah berkali kali berubah bentuknya.

Rumah yang dibagi beberapa persennya untuk lingkungan, untuk kegiatan keagamaan. Ayah ibuku mewakafkan lahan untuk kepentingan bersama. Ibuku diwarisi kemampuan mengajar mengaji dari nenek ayahku, bahkan bisa dibilang dipaksa mengajar mengaji. Maka digunakanlah lahannya menjadi ruangan khusus mengaji. Ruang pengajian aku menyebutkan sejak kecil. Dulu ruangannya panjang dan luas, jadi tempat mengaji anak-anak, dengan ibuku sebagai pengajarnya. Mengaji baca Alquran untuk anak-anak dan remaja.

Saat ku kecil dulu, kuingat betul selepas maghrib, rumahku penuh dengan anak-anak dan remaja yang disuruh orangtuanya mengaji di rumah ibu. Kami membaca bersamaan bacaan Juzamma sebelum akhirnya kami bergiliran satu per satu membaca Al-Quran sesuai bacaan kami. 

Bagi mereka yang bisa cepat membaca tanpa banyak koreksi maka bacaannya semakin banyak halamannya. Kalau mereka yang kesulitan membaca, dan memang banyak dikoreksi pengajar, mau tau mau harus bersabar kalau bacaannya masih berulang belum bisa lanjut ke halaman berikutnya.

Bertahun-tahun, malamku seperti itu. Rindu kalau ingat ruang pengajian itu. Kini, masih ada ruang pengajian, tapi fungsinya sudah berbeda. Beberapa kali sudah beralih fungsi, pernah menjadi TKA/TPA diasuh kakak-kakakku, juga pernah kujadikan sanggar anak yang lebih modern, RUMI namanya, kependekan dari Rumah Ilmu.

Kini, ruangan itu hanya berfungsi satu, yang tak berubah dari puluhan tahun lalu. Ruangan untuk ibadah shalat Tarawih.

Bedanya, tarawih di aula rumah ini hanya untuk perempuan. Jamaah perempuan yang diimami perempuan.

Uniknya, jamaahnya setia sejak puluhan tahun silam. Ada seorang jamaah yang rumahnya persis di depan musholah tempat jamaah laki-laki dan sebagian perempuan ibadah. Bahkan ayahku dan kakak adikku sholat tarawih di sana. Tapi ibu ini justru memilih berjalan lima menit menuju aula rumah, untuk beribadah bersama jamaah perempuan lainnya.

Akhirnya kembali ke pilihan tempat ibadah. Barangkali dia merasa nyaman sholat tarawih dengan jamaah perempuan dan bersama teman sebayanya.

Shalat tarawih dengan imam perempuan, rasanya hanya kudapati di aula rumah. Sebagian besar wajah lama, dari dulu kami kecil sampai kini kami sudah menikah dan punya anak. Tetangga rumah yang shalat bersama menuntaskan 23 rakaat setiap malam Ramadhan.
Rumah kontrakanku pun sekarang dekat musholah, tapi aku tetap melangkah menuju aula rumah. Niatku beda, aku ingin memelihara kebiasaan yang unik ini. Lagipula tak ada larangan bukan kita mau sholat tarawih dengan imam perempuan atau di aula bukan musholah atau masjid?

Lalu kumulai berpikir, dengan ibuku yang sudah sakit-sakitan, dan imam lain seusianya yang juga mulai terganggu kesehatannya, dan hanya satu penerus yang masih lebih muda. Bagaimana nasib majelis taklim ini?

Aku malu, karena aku belum bisa melafalkan bacaan dengan baik. Tak sanggup kalau harus menggantikan peran imam perempuan dalam shalat tarawih.

Regenerasi. Itu yang kupikirkan kini. Entah siapa yang akan melanjutkan majelis ini. Majelis yang bikin rindu. Bukan hanya soal tradisi tapi soal sejarah di baliknya. Bahwa ibuku membangun majelis taklim, semata untuk bertumbuh belajar bersama. Kalau bisa belajar mengaji bersama orang lain kenapa harus sendirian. 

Ibuku bercerita, membangun pengajian wanita bagi ibuku adalah impiannya, agar bisa memanggil penceramah untuk menambah ilmunya. Tapi kalau bisa menambah ilmu bersama-sama kenapa harus sendiri. Alhasil dibangunlah majelis taklim olehnya, dengan harapan, bisa memanggil ustazah, memberi tausiyah, yang sebenarnya untuk menambah ilmu bagi dirinya tapi tak ingin dinikmati sendiri melainkan bisa dibagi kepada orang lain jamaah majelis taklim.

Membangun komunitas mengaji bukan perkara mudah. Perawatan aula, tikar, Al-Quran, meja, dan lainnya harus dipikirkan. Tak perlu menjelaskan bagaimana ibuku mencari dananya. Yang pasti, bantuan warga pasti ada, sumbangan datang dari mana saja, pun dari rejeki ibuku sebagai guru mengaji keliling musholah, yang tak pernah menetapkan tarif untuknya. 

Ibuku membangunnya dengan sepenuh jiwa, untuk literasi Al-Quran di kampungku. Ketika saat ini aku bisa mengaji, maka ada sejarah panjang di balik itu.


Semoga panjang umur majelis taklim ini, Allah ridha atasnya. Semoga selalu ada imam perempuan yang bisa melanjutkan shalat tarawih, satu-satunya kegiatan keagamaan yang masih berlangsung lebih dari 40 tahun lamanya. Yang pasti bukan aku, karena aku masih harus memperbaiki lafal bacaan. Kuhanya bisa menuliskan, semoga saja Allah membukakan jalan.