Mencari Berkah Belanja Online di Dunia Halal


Urusan berdagang bisa membawa keberkahan bagi si penjual, juga si pembeli, jika setidaknya dua hal diperhatikan. Pertama, produknya dipastikan halal, dan cara menghasilkan produk juga cara mendapatkan termasuk cara bertransaksinya pun halal. Sertifikasi halal memang penanda paling nyata dan menyakinkan bahwa suatu produk halal, namun ada hal lain yang juga perlu diperhatikan.

Peluncuran ecommerce berbasis halal, produk asli Indonesia, Dunia Halal, membuka pandangan saya mengenai dunia halal dalam belanja online. Pada akhirnya, memang keberkahan yang ingin kita cari dalam hidup bukan? Ketika mencari berkah dan Tuhan ridha atas kita, maka semua urusan membawa manfaat dan kebaikan untuk kita.

Catatan penting saya dari peluncuran Dunia Halal adalah pernyataan Prof. Dr. KH Ahmad Satori Ismail, MA, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan DAI Indonesia dan Pakar Ekonomi Syariah. Hadir sebagai narasumber dalam peluncuran Dunia Halal, Prof Satori mengatakan membuat produk dengan cara yang halal, bisa saja menjadi tidak halal.




Artinya, produk halal pun bisa menjadi tidak halal karena berbagai faktor. Seperti cara kita membelinya atau cara transaksinya.

Dua faktor ini, produk halal dan cara transaksi memang menjadi pembeda ecommerce Dunia Halal dari PT Galaksi Dunia Halal, perusahaan Indonesia yang digerakkan tim berpengalaman di bidang teknologi informasi. Bukan hanya itu, riset enam bulan sebelum menjalankan Dunia Halal sejak tahun lalu, juga menguatkan posisi Dunia Halal dalam jajaran ecommerce Indonesia. Lebih lagi, Dunia Halal melibatkan pakar syariah dalam membuat keputusan produk maupun cara transaksinya.




Ndang Sutisna, Presiden Direktur PT Galaksi Dunia Halal/www.duniahalal.com menyebutkan ada Divisi Syariah di Dunia Halal, yang berdiskusi bahkan beradu argumen untuk membuat keputusan terkait produk dan traksaksi di Dunia Halal.

Nah, soal sertifikasi halal, kalau coba unduh aplikasi Dunia Halal, bisa dilihat barang yang dijual sekilas sama dengan ecommerce lain. Terutama bagian groceries, barangnya sama seperti yang dijual di minimarket atau hypermarket online yang ada di Indonesia. Soal kehalalal, Ndang Sutisna memastikan bahwa di Dunia Halal, tidak ada produk yang tidak mengarah pada sertifikasi halal.

Meski ada produk yang masih dalam proses sertifikasi halal, misal produk UKM, Dunia Halal masih mengakomodasi selama ada komitmen halal dari produsennya.

Dunia Halal memang menyediakan produk bermerek atau yang sudah terdaftar, dan produk UKM. Khusus produk UKM, yang jadi perhatian saya adalah daging. Dunia Halal menyadari kebutuhan makanan halal sangat penting bagi umat Islam. Jadi, untuk memastikan dagingnya halal, Dunia Halal berhubungan langsung dengan produsen daging, memastikan proses produksinya pun halal, sampai daging dijualbelikan.

Mengenai cara transaksi halal, Agung Sr, Managing Director Dunia Halal mengatakan transaksi dengan Kartu Kredit ditiadakan di Dunia Halal. Tak ada salahnya dengan Kartu Kredit, namun utang berbunga akibat pembayaran kartu kredit yang tidak disiplin, atau tertundanya pembayaran cicilan utang kartu kredit ini bisa menyebabkan transaksi belanja menjadi tidak halal.

Dengan adanya Dunia Halal yang memfasilitasi, saya jadi merasa terbantu meninggalkan segala hal yang mengarah pada ketidakhalalan, demi mendapatkan keberkahan.

Peduli Masjid
Satu catatan lagi yang juga penting dari peluncuran Dunia Halal di Jakarta, 6 September 2017 lalu adalah program untuk masjid. Melalui Dunia Halal, umat bisa mendapatkan informasi seputar masjid dan pengelola masjid pun bisa saling bertukar informasi, yang pada akhirnya berdampak positif kepada kebutuhan informasi umat.

Loyalty Program selalu jadi bagian tak terpisahkan dari produk, dalam hal ini Dunia Halal. Bagi para pengurus masjid, menurut saya, Dunia Halal memberikan solusi untuk penyediaan berbagai kebutuhan masjid, dari mulai kebersihan masjid hingga fasilitas pendukung lainnya.

Dunia Halal bukan hanya memberikan informasi mengenai kegiatan masjid, referensi masjid termasuk terkait fitur Wisata Halal. Ada beberapa program yang mengakomodasi kebutuhan masjid. Pengurus masjid bisa membeli berbagai kebutuhan rutin masjid, melalui loyalty program ini. Manfaatnya, selain mempermudah juga tersedia penawaran harga khusus.


Segera telusuri sendiri Dunia Halal dengan mengunduh aplikasinya atau boleh dengan berselancar di https://duniahalal.com/. Silakan menemukan sendiri keberkahan yang saya maksud, pastinya beberapa fitur ini paling menarik perhatian saya di Dunia Halal: Ibadah dan Wisata Halal. Selamat berselancar di Dunia Halal, bisa cari makanan/minuman halal sampai buku Islami, juga perlengkapan ibadah seperti mukena, sajadah, Al-Quran, perlengkapan Haji dan Umrah di situs belanja halal ini, yuk intip.









Blogger BloggerCrony Community dalam peluncuran dan konferensi pers Dunia Halal di Jakarta (6/9/2017). Terima kasih Kendilima Strategic Communication, atas undangannya.










Masak Olahan Daging Lebih Praktis Pakai Sharp Healsio



Olahan daging perlu ada dalam menu harian keluarga, mengimbangi kebutuhan protein hewani. Nah, kalau stok daging sudah aman di lemari pendingin, urusan berikutnya adalah mengolahnya, memasaknya menjadi hidangan nikmat untuk keluarga.

Jujur, saya tidak jago masak, tapi suka eksperimen di dapur dan suka koleksi buku resep. Sadar kalau saya enggak mahir masak, buat saya, alat masak pendukung penting banget untuk membantu saya menghasilkan masakan sesuai harapan.

Alat masak yang saya beli pertama kali saat berumah tangga, dengan alasan kepraktisan, multifungsi adalah alat pemanggang berupa pan. Benar saja, sangat membantu dari membuat roti panggang, makaroni, sampai panggang ikan/ayam dan pas untuk penghangat tanpa minyak.

Namun alat masak yang awet meski sudah berumur sembilan tahun itu, tidak bisa untuk memasak daging. Alias tidak bisa berfungsi seperti alat masak presto atau high pressure cooker

Jadi, kalau tanya sudah berapa kali saya masak daging seperti rendang atau semur daging? Jawabnya, belum pernah. Biasanya saya selalu nebeng di ibu yang ahli memasak rendang atau semur. Nebeng menikmati saja maksudnya. Ibu pun memasak dengan penggorengan biasa saja untuk menghasilkan olahan daging nikmat. Beda sama ibu mertua (almarhum) dulu yang memasaknya dengan alat masak presto.

Harus diakui, kaum ibu yang bisa bikin masakan lezat dengan alat masak seadanya, sungguh punya kehebatan tak tertandingi. Kalau saya bukan golongan itu, saya termasuk tipikal orang praktis yang ingin memasak dengan lebih mudah, matang sempurna, rasa enggak kalah, tapi prosesnya lebih mudah dengan alat canggih.

Meski memang pada akhirnya, dengan kebutuhan saya itu, butuh investasi lebih untuk beli alat masak khusus. Hal itu sudah saya alami dengan membeli alat pemanggang yang saya ceritakan di awal, cukup mahal harganya kala itu.





Produk Terbaru Sharp
Rupanya, alat masak makin canggih. Saya pikir, dengan memiliki alat pemanggang multifungsi itu sudah cukup. Ternyata, makin banyak alat masak canggih lainnya. Saya pernah ingin beli slow cooker, yang menurut saya juga sangat membantu ibu baru yang sibuk bekerja namun ingin memaksimalkan MPASI. Namun, saya akhirnya memilih memasak dengan peralatan yang ada di rumah untuk MPASI.

Bicara soal slow cooker, ternyata fungsinya tak hanya terkait memasak untuk MPASI. Menghadiri acara "SHARP Cooking Battle with Chef Deny Gumilang" di Signature Park Apartemen Cawang, bikin saya kenal alat masak yang fungsinya sebenarnya mirip slow cooker, namun lebih canggih fungsinya dari itu.

Di sela acara, saya yang penasaran, sempat berbincang dengan Chef Deny Gumilang. Sebelumnya, Chef Deny memperagakan dua alat masak yang jadi perhatian saya. Nama alat masaknya, Healsio Automatic Cookware. Dari namanya saja, sudah jelas alat masak ini berfungsi otomatis. Mengenal Healsio dari Sharp lewat demo memasak bersama Chef Deny Gumilang, bikin saya penasaran. 

Alat masak ini berfungsi dengan otomatis, lewat pengaturan awal yang serba digital. Masak otomatis, ada timer, dan memasak tanpa air. Tentunya membutuhkan listrik, kebutuhannya sekitar 600 Watt dengan kapasitas 2,4 liter.

Seperti alat masak canggih lainnya, butuh investasi khusus memang untuk memiliki alat bantu masak yang menyasar kalangan urban ini. Harganya sekitar 7 Juta rupiah, saat saya tanyakan kepada pihak Sharp di lokasi acara.

Kalau menurut Chef Deny, Healcio yang masuk kategori pressure cooker ini memiliki fungsi slow cooking. Pastikan dulu mau memasak apa, lalu buat pengaturan digital, biarkan alat masak yang memasak otomatis bahan masakan yang kita masukkan ke dalamnya. Sambil menunggu matang, kita bisa mengerjakan hal lain. Cocok untuk ibu bekerja, baik bekerja kantoran maupun bekerja di rumah yang butuh bagi perhatian dan multitasking.

Chef Deny memperagakan memasak rendang di sesi demo memasak bersama Sharp (26/8/2017). Dalam waktu 90 menit, daging yang dimasukkan dengan bumbu rendang, cukup dengan santan bubuk (bukan santan cair seperti biasa), rendang matang otomatis menggunakan alat masak Sharp Healcio. Daging matang tanpa menggunakan campuran air sedikitpun dengan Healcio. Sepanjang acara berlangsung, Healcio memasak otomatis rendang dengan hasil empuk, bumbu meresap dengan daging yang juicy.








Bukan hanya Healcio yang bikin saya kepincut. Saya memang sedang berburu rice cooker, dan di acara Sharp bersama Signature Park, dan JD.id Online Shopping, Chef Deny juga memperagakan Apple Rice Cooker yang mungil berkapasitas 0,8 lt.

Saat sesi Sharp Cooking Battle, terbukti rice cooker mungil dari Sharp ini bisa difungsikan juga untuk memasak nasi goreng. Multifungsi memang jadi kata kunci untuk dua alat masak Sharp yang menarik perhatian saya pribadi.




Bukan sekadar multifungsi, desain juga jadi perhatian. Cocok dengan selera saya yang seringkali melihat alat rumah tangga bukan hanya berfungsi, kalau bisa juga cantik dipajang atau bahkan bisa langsung dipakai sebagai alat saji. Praktis bukan, alat masak dari dapur bisa langsung dipajang di meja makan, dan mengambil langsung makanan darinya.

Pantas saja apartemen Signature Park Grande menggandeng Sharp untuk melengkapi unit apartemennya. Hunian kalangan urban dengan mobilitas tinggi, cocok dengan alat masak yang memang menunjang gaya hidup kalangan urban. Praktis, multifungsi, dan memungkinkan penggunanya mengerjakan hal lain, lantaran harus cerdas membagi waktu dengan berbagai aktivitas harian yang menyibukkan.  Signature Park Grande yang berlokasi di MT Haryono,berdiri di atas lahan seluas 4,4 hektar, memang memposisikan sebagai superblok untuk menunjang gaya hidup urban yang dinamis. Selaras dengan Healcio Automatic Cookware dan Apple Rice Cooker, alat masaknya kaum urban yang dinamis.


Masih penasaran dengan Healcio atau Apple Rice Cooker? Kita bisa loh cari tahu langsung di cooking demo produk Sharp Healcio di Best Denki, setiap Jumat, Sabtu, Minggu sepanjang September mulai pukul 15:00 - 16:00 Info lebih lengkap di http://www.bestdenki.co.id/

Tips memasak dari Sharp juga bisa dicari tahu di sini:
SHARP Cooking Club
Fanpage FB: https://web.facebook.com/sharpcookingclub
Website: www.sharp-indonesia.com 

Ibu Bijak Pengendali Keuangan Keluarga


Siap menjadi ibu? Jangan dipikir mudah jadi ibu dari anak-anak kita dan istri dari pasangan yang kita pilih untuk hidup selamanya. Eh, tapi jangan juga jadi ketakutan atau khawatir enggak bisa jadi ibu yang baik. Tak ada manusia sempurna, pun tak ada perempuan sempurna, semua pasti punya kelemahannya.

Saya berani mengakui, kelemahan saya adalah disiplin mempraktikkan perencanaan keuangan. Jangan tanya sudah berapa kali saya ikuti talkshow dari para financial educator. Berkali-kali mengikuti edukasi keuangan atau financial literacy penting bagi saya, meski ilmunya dan teorinya sama saja, namun datang menghadiri kegiatan literasi finansial seperti memberikan pengingat sekaligus “wake up call” lalu refleksi diri, apa yang  salah dan kurang saya jalani.

Dalam beberapa kegiatan literasi finansial selalu menekankan pemeriksaan keuangan atau financial check up. Menulis ulang, lagi dan lagi, berapa pemasukan bulan dan pengeluaran rutinya. Lalu pembagian pengeluaran yang biasanya terdiri atas Sedekah (5%), Biaya Hidup (30%), Cicilan Utang (30%), Gaya Hidup (10%), Dana Darurat (10%), Investasi (15%).
Berkali-kali pembagian ini dibahas dalam edukasi finansial keluarga. Termasuk dalam program “Ibu Berbagi Bijak” Visa Financial Literacy Series Financial Check Up di Jakarta. Bersama Prita Gozie, Visa mengedukasi kaum ibu untuk lebih bijak mengelola keuangan terutama dalam keluarga.

IG/Twitter @wawaraji


Ilmu perencanaan keuangan ini memang penting dipahami kaum ibu karena mengurus keluarga dengan berapa pun penghasilan suami atau ditambah penghasilan istri, sungguh bukan perkara sepele.

Pencatatan pemasukan apalagi pengeluaran menjadi penting. Bagi yang suka berjibaku dengan aplikasi Excel, akan sangat memudahkan mengurus pemasukan dan pengeluaran, lebih tertata rapi. Bagi yang suka mencatat manual di buku silakan saja. Kalau kata Prita Gozie, apa pun caranya, pencatatan arus keuangan itu bisa membantu kita mengendalikan keuangan.

Selain mencatat pengeluaran dan pemasukan, bahkan kalau perlu simpan bon untuk memantau pengeluaran, yang juga penting adalah pembagian jatah pengeluaran. Banyak metodenya yang sudah sering disampaikan para financial educator.

Pernah dong mendengar sistem amplop? Biasanya kaum ibu yang belum mengikuti kelas literasi finansial pun sudah menjalani ini. Amplop bisa bermakna amplop dalam arti sebenarnya atau dompet. Jadi, bagi anggaran pengeluaran. Amplop/Dompet A untuk biaya hidup seperti listrik, air, pulsa, makan, transport, dll yang merupakan kebutuhan wajib atau biaya hidup, porsi idealnya 30 persen dari penghasilan rutin. Amplop berikutnya untuk kebutuhan lain seperti cicilan utang, sedekah, dana darurat yang perlu disiapkan apalagi untuk freelancer agar bisa “hidup” membiayai biaya hidup minimal tiga bulan ke depan, investasi seperti reksadana, deposito, logam mulia, lalu sisakan untuk gaya hidup, bahkan kalau perlu menekan gaya hidup seperti belanja tas, sepatu, ngopi di café dengan anggaran 10 persen maksimal dari penghasilan.

Cara lain adalah buka rekening di luar arus kas utama. Rekening belanja kerap disebut para financial educator. Siapkan rekening khusus di bank, hanya untuk belanja. Alokasikan dana maksimal 10 persen saja setiap bulan. Jika uang di rekening tersebut habis, maka kita tidak berhak belanja. Jangan pakai uang biaya hidup apalagi jatah bulanan untuk sedekah, hanya karena tergiur diskon di mal.

Kalau perlu ada rekening lain khusus untuk investasi, untuk dana darurat sehingga kita kaum ibu ini bisa lebih bijak mengendalikan keuangan keluarga.

Ilmu literasi finansial keluarga seperti ini sudah sangat sering disampaikan. Jujur, mempraktikkannya sungguh tak mudah, karena disiplin diri memang musuh terbesar kita, atau setidaknya saya pribadi.

Menekan gaya hidup agar semua pengeluaran on track, sungguh perjuangan apalagi dengan mobilitas tinggi dalam aktivitas harian kita, eh saya. Kalau kata Prita Gozie, korbankan gaya hidup bukan lantas menghilangkannya kok. Kita hanya perlu mengendalikan gaya hidup bukan tidak memiliki lifestyle sama sekali seperti ngopi di café sambil curhat sama sahabat misalnya. Perlu juga curhat kan supaya enggak depresi karena pengeluaran tak seimbang dengan pemasukan.

Karenanya, menurut saya, mengingatkan diri sendiri bersama pakar keuangan sungguh siraman rohani. Kita diingatkan lagi dan belajar lagi. Seperti saya belajar hal baru di Visa Financial Literacy Series bersama Prita Gozie, bahwa pemeriksaan keuangan perlu dilakukan setahun sekali, wajib!

Cek kembali seberapa sehat keuangan kita. Kalau aset bertambah 10 persen tandanya positif. Biasanya pemeriksaan keuangan tahunan ini dilakukan Januari di awal tahun, atau jika sudah punya anak usia sekolah, saat anak masuk sekolah sekitar bulan Maret.
Financial Check Up bisa dilakukan sendiri dengan parameter yang baik dan benar, pakai rumus yang sudah dijelaskan (30%+30%+5%+15%+10%+10%) juga bisa. Sudah disiplin kah kita menerapkannya? Atau kalau memang kondisi keuangan sudah sangat memprihatinkan, rasanya perlu juga minta bantuan financial educator.

Meski memang harus membayar jasa keuangan, tapi kalau sangat perlu untuk menyehatkan keuangan kenapa tidak? Apalagi kalau sudah menyangkut utang piutang.
Dalam buku Saku Ibu Bijak oleh Visa disebutkan di bab3: Utang Piutang. Ilmu penting yang harus dikuasai kaum ibu agar lebih bijak mengendalikan keuangan.

Saya ringkas yaaa  ilmunya. Dijelaskan bahwa yang namanya utang di dunia itu ada banyak jenisnya. Paling umum adalah pinjaman pribadi, utang modal ke bank, utang biaya sekolah, KPR, kredit kendaraan bermotor. Kalau utang perseorangan biasanya untuk urusan biaya sekolah anak, kartu kredit, liburan dan lainnya.

Nah dalam rumus, sudah dijelaskan biaya utang ini hanya boleh maksimal 30% dari pemasukan, kalau mau dikategorikan sehat keuangannya. Kalau lebih besar dari itu, yaaaa silakan analisa sendiri saja.

Buku Saku Ibu Bijak dri Visa ini juga memberikan tipsnya. Namun yang perlu dipahami dari utang adalah prinsipnya utang harus dilunasi sesegera mungkin agar tidak menjadi beban di kemudian hari. Jika jumlahnya besar seperti KPR, penting untuk membuat perencanaan pembayaran utang yang terstruktur dan sistematis.

Ilmu baru yang saya dapati dari buku saku Ibu Bijak dari Visa ini adalah cara terbebas dari utang yakni dengan menggabungkan semua utang sehingga bisa terkontrol berapa sisa utang dan kapan harus melunasi, serta konseling utang dan hak nasabah.

Hak nasabah saya pahami sebagai utang kita terkait KPR, kredit motor/mobil, kartu kredit. Nah, kita sebagai nasabah punya hak loh. Pemberi kredit tidak ada hak menekan kita yang berutang apalagi jika urusannya dengan bank. Penagihan utang yang fair adalah salah satu hukum di bank yang akan melindungi nasabah. Kita punya hak mengajukan keberatan apabila penagih utang sudah mulai intimidatif, tindak kriminal, ancaman, kalimat kasar, menggunakan koneksi palsu, berkomunikasi di tempat dan waktu yang tidak biasa, berkomunikasi lewat pihak ketiga tanpa persetujuan debitur.

Kalau sudah tidak nyaman, segera hubungi langsung pihak bank kalau perlu datang langsung ke kantor. Konsultasikan dengan financial planner juga bisa untuk membantu.
Ilmu ini penting setidaknya buat saya yang masih berutang kendaraan roda empat.  Yuk ah, lebih bijak lagi mengelola keuangan, supaya keluarga tak terbebani dengan masalah keuangan lantaran kita kurang melek finansial. Belajar literasi finansial memang menyelamatkan setidaknya menjadi pengingat kita yang seringkali lupa.

 
Twitter/IG @wawaraji


Menjadi Ibu, Bersiap untuk Perjalanan “Extraordinary” dari Hamil Hingga Menyusui


Setiap perempuan dilahirkan untuk bersiap dengan perjalanan menakjubkan, menjadi ibu. Apa dan bagaimana pun perjalanannya, yang pasti akan berbeda dan takkan persis sama, perempuan pasti menjadi ibu. Bahkan ketika pun perempuan belum hamil, melahirkan, menyusui, merawat anaknya sendiri, dia sudah menjadi ibu, dengan naluri keibuannya menjadi pengasuh dan pengasih untuk orang lain di sekitarnya. Terlebih lagi perempuan yang dititipkan amanah menjadi ibu dari anak yang dikandung, dilahirkan dan disusui sampai tumbuh dan berkembang optimal.

Saya selalu percaya, perempuan dilahirkan untuk selalu siap menjalani berbagai tantangan dalam siklus hidupnya. Sejak kecil, remaja, dewasa hingga berusia matang, siklus hidup perempuan membentuk dirinya menjadi sosok kuat menjalankan satu peran besar dalam hidupnya, menjadi ibu.

Demi mempersiapkan perempuan menjadi ibu, banyak hal yang memang harus perempuan perhatikan.  Dari urusan kebiasaan, perawatan fisik, sikap mental, sampai urusan nutrisi dari makanan yang masuk ke dalam tubuh.

Namun seperti saya katakan di awal, setiap perempuan punya perjalanan masing-masing yang berbeda satu dengan lainnya. Menyeimbangkan dan mempersiapkan segalanya agar bisa menjadi ibu optimal dengan perjalanan “extraordinary”, menjadi urusan penting perempuan. Berbekal pendapat/nasehat orang tua, juga diperkaya dengan pengetahuan dan wawasan yang perlu terus perempuan tambah dari lingkarannya, support systemnya.

Selalu ada hal yang harus diperhatikan lebih jeli oleh kalangan perempuan di berbagai siklus hidupnya. Misalnya saja, saat mulai haid, sebaiknya perempuan resik merawat diri. Perawatan area reproduksi yang baik dengan kebiasaan baik, sejak muda, akan mempengaruhi kesehatan reproduksinya di kemudian hari. Lalu ketika mulai dewasa apalagi tumbuh lebih matang dan mulai bersiap memikirkan berumahtangga, apalagi semakin mendekati pernikahan, banyak lagi yang dipersiapkan, fisik mental. Pun ketika menikah dan berencana punya anak, semakin kompleks lagi persiapannya. Perempuan mau tak mau harus memahami kondisi tubuhnya, kebutuhan fisiknya, lebih peka dengan dirinya, dan harus cerdas menjaga dirinya, karena dari rahim perempuan lah akan lahir (atas izinNYA), generasi baru yang kualitasnya bergantung dari seberapa siap perempuan menjadi ibu.

Sungguh tak mudah menjadi ibu. Tantangannya tak bisa dianggap sepele. Barangkali secara naluriah, bisa saja, bahkan sangat bisa, semua perempuan menjadi ibu, diawali dari menjadi istri lalu bertumbuh secara alami menjadi ibu. Namun, menjadi ibu dengan kualitas seperti apa, baik dari segi kesehatan fisik yang pastinya berdampak pada anak, pun secara mental yang berdampak pada psikis dan kemampuan anak, akan kembali kepada kemampuan perempuan mempersiapkan dirinya dengan baik.

Tantangan menjadi ibu semakin besar, apalagi jika mengalami berbagai hal di luar perkiraan. Bisa saja saat hamil, melahirkan, menyusui, merawat anak. Semua siklus hidup ibu ini bisa sangat unik, berbeda, dan masing-masing ada tantangannya. Hanya dengan kesiapan ibu, support system yang baik, dan wawasan yang terus bertambah dan ditambah, perempuan bisa setidaknya menjawab tantangan lebih baik lagi.
Perjuangan dan perjalanan “Extraordinary” menjadi ibu saya yakini akan dialami setiap perempuan. Bagaimana pun kondisi dan situasinya.

Rupanya apa yang saya yakini ini, juga tertuang dalam hasil studi. Ketika apa yang saya yakini itu dikuatkan oleh riset yang melibatkan sembilan kelompok ibu (ibu rumah tangga, profesional, pekerja, wirausaha), saya jadi punya pembenaran.

Adalah Fonterra Brands Indonesia dengan Anmum lewat studi  2017 bertajuk “Tantangan yang Dialami Ibu Hamil dan Menyusui Indonesia”  membeberkan faktanya. Studi ini menyebutkan ibu pada umumnya mengalami tantangan fisik dan psikis di masa kehamilan dan menyusui. Andriani Ganeswari, Corporate Communications Manager Fonterra Brands Indonesia menyampaikan hasil studi ini. 




Fonterra lewat studi ini membuktikan bahwa ibu hamil mengalami tantangan umum seperti morning sickness dan kelelahan. Tantangan lainnya adalah kesehatan mental seperti kecemasan, stres, gejala depresi, perubahan mood bahkan sampai masa menyusui, dan bahkan baby blues juga post partum depression.

Studi ini juga mengungkap fakta bahwa kaum ibu sangat membutuhkan support system, berharap suami dan anggota keluarga proaktif memberikan dukungan, termasuk menyediakan informasi yang bermanfaat untuk ibu dalam menangani perubahan fisik dan psikis.

Dengan berbagai tantangan menjadi ibu, terutama saat hamil, melahirkan, menyusui, sudah semestinya perempuan mempersiapkan diri dengan berbagai pengetahuan. Menjadi perempuan cerdas yang mampu membawa, menjaga, memelihara diri adalah langkah awalnya. Untuk kemudian perempuan jadi paham bagaimana seharusnya dia mempersiapkan dirinya fisik mental, demi kebaikan di masa depan.

Fakta perjalanan “Extraordinary” menjadi ibu inilah yang juga ingin disampaikan Anmum Indonesia. Bukan lantas “menakuti” perempuan untuk nantinya mengalami perjalanan penuh tantangan besar. Justru Anmum Indonesia lewat kampanye terbarunya “Celebrate The Extraordinary” menjadi pengingat dan penyemangat, juga memotivasi perempuan, calon ibu dengan semua lingkaran pendukungnya. Perempuan tetap harus merayakan perjalanan luarbiasanya menjadi ibu, takkan bisa tergambarkan bagaimana menakjubkannya menjadi ibu. Kisah perjalanan dua ibu yang diangkat oleh Anmum Indonesia saat peluncuran kampanye “Celebrate The Extraordinary” sudah sangat mewakili.



Pesannya jelas, bahwa menjadi ibu butuh perjuangan dan umumnya ibu akan berjuang maksimal untuk anaknya. Maka rayakanlah perjalanan “extraordinary” dengan mempersiapkan segalanya lebih baik, dengan pengetahuan yang lebih matang.

Dalam temu media dan blogger di Jakarta, sekaligus merayakan Pekan ASI Dunia, Anmum Indonesia, membantu mempersiapkan perempuan menjadi ibu. Banyak kisah dan pengetahuan medis diberikan, membuka wawasan dan memberikan inspirasi.


Bersama ibu "Extraordinary" Cynthia Lamusu dan Febria Silaen dari Mothers On Mission

Hadir Cynthia Lamusu bersama suami Surya Saputra, yang kita tahu perjalanannya luar biasa menjadi orangtua. Program anak dengan bayi tabung, lalu melahirkan anak kembar prematur. Sungguh saya bisa memahami tantangan besar pasangan selebriti ini.

Bagaimana berjuang memberikan ASI, dan pada akhirnya tak bisa Cynthia berikan kepada anak laki-lakinya karena kondisi. Bagaimana harus mencari dan memberikan donor ASI sebagai langkah terbaik untuk anak. Juga bagaimana merawat bayi prematur yang membutuhkan perhatian ekstra dan tak biasa. Saya bisa merasakan tantangannya, karena saya dan suami pun mengalami kondisi hampir sama, melahirkan anak prematur yang akhirnya membutuhkan donor ASI. Bagaimana kami berjuang memastikan bayi minum ASI yang baik, berkualitas baik, dan bagaimana menjaga nutrisi ibu terpenuhi demi anak yang masih sangat bergantung pada nutrisi ibunya yang diberikan dari ASI.Perjuangan yang berat namun membahagiakan, saya sangat bisa merasakan apa yang diceritakan Cynthia dalam sesi bincang-bincang bersama blogger.



Lain lagi kisah Maria Leonnyta Sastra Wijaya, ibu pejuang ASI. ASI perahnya berlimpah dan memenuhi lemari es/freezer di rumahnya. Namun bukan berarti semua didapatkan tanpa perjuangan. Kekuatan pikiran dan kemauan kuat ibu demi memberikan terbaik untuk anaknya, menjadi cerita dari perjalanan Maria.

Cerita mereka makin menguatkan pesan bahwa berjuang memberikan yang terbaik untuk anak, berbekal pengetahuan yang baik, adalah tantangan terbesar ibu. Tanpa support system yang baik, tantangan bisa saja dilampaui namun penuh dengan perjuangan luar biasa. Kalau support system berjalan baik, maka ringanlah langkah ibu, dan hasilnya saya yakin akan lebih optimal. Misal ASI lebih lancar, ibu sehat fisik dan psikis, sehingga menurunkan kebahagian, ketenangan, kebaikan untuk si kecil.

Kehadiran para ibu hebat memang melengkapi kampanye “Celebrate The Extraordinary” dari Anmum Indonesia ini. Namun tak lengkap jika mombloggers berkumpul tanpa mencerna informasi dari pakar. Hadir Dr dr Ali Sungkar SpOG (K) Ketua Perkumpulan Perinatologi Indonesia dan Anggota Dewan Penasehat Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia DKI Jakarta.




Catatan penting dari dr Ali buat saya adalah, 1000 hari pertama anak adalah masa sangat penting, dan kembali kepada ibu yang melahirkannya. Seribu hari pertama bukan hanya dimulai saat hamil apalagi lahir, tapi sudah bisa dipersiapkan sebelum hamil.

Nutrisi yang baik untuk calon ibu, saat menjalankan program hamil, lalu berlanjut jaga nutrisi saat hamil, sampai melahirkan, pun saat menyusui akan berdampak pada masa depan anak. Salah satu kebutuhan nutrisi ibu hamil bisa didapati dari susu. Anmum Materna mengandung nutrisi makro dan mikro dengan Ganglioside (GA) dan DHA. 




Tercukupinya nutrisi ibu sejak menjadi calon ibu, menjadi urusan penting. Anmum Indonesia melihat kebutuhan ini dengan inovasi susu bernutrisi untuk mendukung masa kehamilan dan menyusui, memberi pesan bahwa nutrisi penting jadi perhatian ibu dalam perjalanan “motherhood” nya. Dukungan yang diberikan Anmum dilengkapi dengan hadirnya susu kehamilan (Anmum Materna) dan susu saat menyusui (Anmum Lacta) dengan rasa cokelat yang manisnya pas dilidah.




Semoga dengan berbagai dukungan dari lingkarannya, support system, semakin banyak ibu bahkan calon ibu yang bisa mengoptimalkan kesehatan dirinya. Tentunya ibu sehat dengan nutrisi baik, akan berdampak baik untuk janin dalam kandungan, juga bayi yang mendapatkan ASI untuk tumbuh kembang optimal.

Selamat merayakan perjalanan ibu yang “Extraordinary”!

Modifikasi "Lifestyle", Tantangan Sehat dengan Superfood Herbilogy


Rumus makan sehat dengan seimbangkan 3J: Jumlah, Jenis, Jadwal, sudah berkali-kali disampaikan dalam berbagai diskusi kesehatan. Namun memang praktik tak semudah mendengarkan teorinya. Paham sih kalau kita harus memastikan asupan harian tetap seimbang, namun godaan jenis makanan yang merusak niat makan sehat memang terlalu besar dan kuat “memborbardir” setiap harinya. Adalah tantangan untuk bisa konsisten menjalankan rumus makan sehat.

Kalau bicara godaan makanan, sebut saja gorengan yang sudah sangat jelas mudah mendatangkan penyakit, apalagi bagi penderita kolesterol tinggi seperti saya. Sadar kalau gorengan mengundang bahaya, namun tetap saja makanan yang sangat mudah menggoda selera dengan beragam bentuknya ini, masih saja tak terelakkan. Akhirnya, penyakit kolesterol kambuh, badan menjadi tak sehat dan kembali berobat. Padahal kalau saja bisa mencegah kolesterol tinggi, saya tak perlu mengeluarkan uang untuk berobat, belum lagi harus mengalami gangguan kebugaran sebagai efek kolesterol tinggi.

Itu kalau kita bicara makanan gorengan, masih banyak lagi jenis makanan lain yang merusak niatan mengubah kebiasaan makan. Lalu soal jumlah, kalau dihitung dalam sehari, porsi makanan sehat rasanya masih kalah jumlah dengan makanan yang mengundang risiko penyakit. Karbohidrat misalnya, dalam sehari, kalau saya sih masih lebih banyak daripada serat (sayur dan buah) misalnya. Artinya asupan harian masih belum seimbang. Dari rumus 3J, barangkali hanya “jadwal” yang masih bisa saya atur dan konsisten jaga.



Nah, ternyata rumus 3J tak cukup. Saya mendapatkan satu rumus lagi saat ikuti talkshow kesehatan bersama Herbilogy yang menghadirkan dokter spesialis gizi, Dr dr Samuel Oetoro, MS, SpGK. Dr Samuel menyebutkan 4J yakni Jumlah, Jenis, Jadwal, dan Jurus Masak.

Jurus masak juga sangat menentukan sehat tidaknya makanan yang kita makan setiap harinya. Kalau tadi saya bicara gorengan sudah jelas aneka jenis makanan dimasak dengan cara digoreng, yang sebenarnya berisiko untuk kesehatan saya.  Masak makanan dengan rebus/kukus sebenarnya paling tepat untuk saya, namun sungguh bukan perkara mudah untuk saya bisa konsisten mengasup makanan serba rebusan. Namun setidaknya, saya bisa mengurangi cara masak menggoreng dengan tidak memasak makanan dalam rendaman minyak. Cara paling aman adalah dengan tumisan, menggunakan sedikit saja minyak.
Soal jurus masak ini memang satu tantangan lagi yang harus saya patahkan demi mengubah pola makan lebih sehat. Saya ingat betul Dr Samuel menyebutkan dua kata yang paling mengena saat sesi talkshow kesehatan bersama bloggers di Jakarta, yakni “Modifikasi Lifestyle”.

Pada akhirnya, jika memang ingin hidup lebih sehat, maka harus terima tantangan untuk memodifikasi gaya hidup, termasuk memodifikasi pola makan. Apalagi gangguan kesehatan sudah mulai mengintai. Saya sudah memperingati diri sendiri, untuk segera mengubah pola hidup setidaknya memodifikasi, karena kalau dihitung indeks massa tubuh, saya masuk kategori obesitas.

Dalam pemeriksaan kesehatan bersama Kementerian Kesehatan RI dalam suatu acara kesehatan di Lombok, beberapa hari sebelum kegiatan Herbilogy, dokter sudah menyebutkan saya termasuk kategori obesitas.

Saya harus olahraga rutin minimal 30 menit per hari, ringan saja seperti jalan kaki, atau bisa modifikasi dengan berenang seminggu sekali. Hal lain adalah disiplin mengubah pola makan. Dalam satu piring, harus dibagi empat porsi: karbohidrat, protein (nabati/hewani), serat (buah dan sayur). Kurangi karbohidrat dan perbanyak serat.

Perlahan saya terima semua tantangan modifikasi pola makan dan aktivitas fisik ini. Namun ternyata memang tak selalu berhasil terutama untuk asupan makanan. Selagi berproses memodifikasi gaya hidup, saya “dipertemukan” dengan Herbilogy.

Awalnya saya tak begitu paham apa itu Herbilogy. Saya memang tak terlalu percaya dengan suplemen makanan dengan iming-iming kesehatan. Saya termasuk tipe konvensional yang hanya percaya makanan alami dan mengubah pola makan dengan disiplin tinggi.




Meski begitu, saya berusaha menyerap informasi dari Debora Gondokusumo, owner dan penggagas Herbilogy. Debora yang terlihat sehat bugar dengan tubuh ideal dalam kondisi fisik hamil sembilan bulan, menjelaskan apa bedanya Herbilogy.

Upayanya menciptakan Herbilogy dengan bantuan teknologi canggih adalah caranya mencari solusi praktis, aman, sehat, alami untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan keluarga dan ibu, seperti daya tahan tubuh,  nafsu makan anak, kesehatan kulit, gangguan metabolisme, kelancaran ASI, kesehatan janin dan berbagai masalah kesehatan lainnya dalam keluarga.  

Berkat teknologi canggih, Debora bisa menciptakan ekstrak tanaman, alami, berupa bubuk superfood yang dapat dikonsumsi setiap hari. Sumber superfood Herbilogy pun berasal dari tanah Indonesia, tanaman lokal, yang diproses tanpa mengurangi manfaatnya namun justru memaksimalkan manfaat zat aktif dalam tanaman, untuk diolah menjadi bubuk superfood yang praktis dikonsumsi kapan saja.

Apa sih Herbilogy? Herbilogy merupakan makanan super (superfood) extract powder pertama di Indonesia, sebagai bahan tambahan imbang nutrisi untuk melengkapi menu makan, solusi praktis bagi mereka yang ingin wujudkan hidup sehat dan alami. Herbilogy 100 persen alami karena tidak menggunakan pengawet, pewarna, perasa, pemanis tambahan atau bahan kimiawi lainnya. Dengan kemasan modern, Herbilogy diproses dengan Good Manufacturing Practices (GMP) memenuhi standar minimum industri makanan dan kemasan, sesuai keamanan pangan, kualitas dan ketentuan hukum. Herbilogy sudah memperoleh sertifikasi Halal MUI dan BPOM sebagai jaminan keamanan konsumsi.

Penjelasan Debora mengenai Herbilogy, ditambah paparan Dr Samuel, bagi saya menjawab persoalan pribadi untuk modifikasi pola hidup menjadi lebih sehat. Dalam catatan saya, superfood memiliki therapeutic effect yang berfungsi baik untuk tubuh. Superfood merupakan satu jenis makanan yang diekstraksi zat aktifnya dan akan memberikan efek menyehatkan bagi tubuh. Makanan super ini tetap menjadi makanan bukan obat, namun dengan penggunaan rutin, setidaknya dalam satu bulan terus menerus dikonsumsi, maka efeknya akan terasa di tubuh.

Menyerap berbagai informasi superfood ini, ditambah dengan paparan “mengerikan” dari risiko penyakit akibat kegemukan dan obesitas, saya makin semangat menantang diri sendiri.

Selain sudah mulai tantangan modifikasi pola makan, dengan membagi empat porsi seimbang setiap kali makan lengkap, lalu mulai menerapkan 4J (setidaknya berproses untuk terus menyempurnakannya), saya ingin membuktikan kekuatan superfood ini.
Tantangan terbesarnya adalah, Jurus Masak. Saya harus lebih rajin memasak sendiri di rumah supaya asupan bisa terkontrol. Kalau pun belum berhasil memasak rutin makanan harian, setidaknya saya harus kembalikan kebiasaan lama, membuat jus sayur dan buah. Hal paling sederhana yang bisa kita lakukan di rumah bukan? Membuat jus buah dan sayur, nah makin sempurna dengan campuran bubuk superfood Herbilogy.

Saya memang belum banyak eksperimen aneka resep Herbilogy menggunakan lebih dari 10 varian Herbilogy yang bisa saya dapatkan di http://herbilogy.com/  selain di marketplace seperti Tokopedia dan Lazada, atau di outlet Kem Chick, Natural Farm dan lainnya.
Setidaknya saya mulai dari cara sederhana, membuat jus buah dengan campuran Herbilogy, untuk memvariasikan asupan buah harian. Kalau bosan makan buah potong segar, saya bisa minum jus tanpa gula dengan campuran Herbilogy. Selain bikin kenyang sehat, setidaknya saya bisa menambah asupan buah harian, dan perlahan mengurangi camilan yang bikin berat badan bertambah termasuk gorengan.

Resep Herbilogy ala Wawaraji ini berdasarkan kebutuhan saya untuk menambah energi sekaligus rileksasi. Melon saya yakini sebagai buah yang bisa menambah energi dengan manis alami dan kandungan air yang tinggi. Sedangkan Herbilogy Cinnamon yang saya pilih sebagai campuran jus tanpa air dan gula ini, mengandung zat aktif yang bisa membantu mengurangi kadar kolesterol dan aromanya diyakini mengurangi stress dan membantu rileksasi. Maklum, beberapa hari belakangan, saya banyak menghabiskan energi, beraktivitas dengan mobilitas tinggi, dan pekerjaan yang menguras pikiran dan tenaga. Hari Minggu waktunya bersantai dan menikmati segelas jus segar dengan Herbilogy. Sederhana saja resepnya sebagai langkah awal memulai modifikasi makanan harian.





Herbilogy Cinnamon "Relax Energize"
Potongan buah melon (jumlah sesuai selera)
2 sdt Herbilogy Cinnamon
Masukkan ke blender buah potong tanpa air (buah melon sudah mengandung banyak air) haluskan dengan blender ditambahkan 2 sdt Herbilogy Cinnamon.


Saya masih punya varian lain Herbilogy seperti Green Coffee, Pomegranatte  Peel, Cogon Grass, Rosella, Green Tea, yang siap dicampurkan dengan aneka resep rumahan. 

Tantangan modifikasi lifestyle bisa dimulai dari membuat aneka resep minuman dengan Herbilogy, selain tentunya mengatur pola makan dengan rumus 4J, dan menjalankan saran dokter untuk saya pribadi, yakni olahraga jalan kaki dan berenang.

Aneka resep dari Instagram @herbilogy ini bisa jadi inspirasinya

Nah kalau ini resep aneka minuman dengan Herbilogy saat blogger gathering dipandu Chef Eddrian Tjhia


Berbagai inspirasi resep Herbilogy bikin makin penasaran untuk kreasikan berbagai varian Herbilogy. Kalau saya sih lebih suka membuat aneka minuman sehat dengan buah-buahan, segar dan bikin kenyang sehat.




Pastinya, saya punya alasan kuat menjawab berbagai tantangan Herbilogy ini. Saya mau hidup sehat produktif dan mengurangi kegemukan atau obesitas. Pengalaman merawat ibu saya, di usia sepuhnya (77 tahun) dengan kondisi obesitas dan harus menjalani operasi batu empedu, juga berbagai cerita serangan stroke pada orang muda usia 30-an, saya makin prihatin urusan kesehatan tubuh ini.

Batu empedu merupakan salah satu risiko penyakit akibat kegemukan dan obesitas. Sedangkan stroke bisa berawal dari hipertensi juga penyakit lain seperti kolesterol tinggi tak bisa dianggap sepele. Setiap orang tentu punya alasan untuk memodifikasi pola hidupnya. Saya sudah punya alasan dan perlu terus menyemangati diri mewujudkan tantangan ini. Kalau kamu, apa yang membuatmu merasa harus segera memodifikasi lifestyle? Yuk berbagi dan saling menyemangati, karena saya pun pasti butuh semangat dari orang lain, karena sadar mengubah kebiasaan bukan perkara mudah.