Dakwah Damai “The Power of Love” Konflik Ayah dan Anak Lelaki



Konflik keluarga memang selalu membawa banyak hikmah dan menjadi cerita. Coba sebut saja keluarga mana yang tak ada sisipan konflik di dalamnya, kisah nyata pun dalam kisah film. Bagaimana konflik diterjemahkan dalam cerita dan gambar di film, nah ini kembali kepada kecerdasan penulis cerita dan sutradara pun campur tangan produser film.

Saya penggemar dan pendukung Film Indonesia, terutama drama keluarga dan drama komedi, pokoknya Film Indonesia apa pun asal bukan horor.

Jadi, keputusan untuk memilih beli tiket ke bioskop nonton film Indonesia, selain pertimbangan genre yang sesuai selera pribadi, saya juga bawa misi. Misi untuk menggali film Indonesia terbaru apa yang menarik, berkesan, membawa pulang banyak pesan atau kadang tidak membawa pesan apa pun.

Kesan apa pun yang saya tangkap dari sebuah film, selalu ada cerita yang bisa jadi bahan diskusi seru dengan suami, yang juga pendukung film Indonesia.

Nah, sebelum Ramadan, saya memang butuh hiburan usai disibukkan dengan pekerjaan. Butuh rehat dan biasanya saya dan suami nonton ke bioskop. Cek online film terbaru jadi rutinitas kami. Nah, saya pribadi penasaran dengan film “212, The Power of Love”. Meski memang pada awalnya saya dan suami tak terlalu antusias ke bioskop beli tiket film ini. Bukan apa, konteks politik memang sangat kental terasa dan saya paling malas berurusan dengan dunia politik apalagi kalau cuma debat kusir. Namun saya coba kosongkan pikiran ketika akhirnya, memutuskan menonton film The Power of Love ini, sendiri, tanpa suami.

Satu hal yang pasti, saya belum baca review film ini di mana pun. Bahkan mengikuti perkembangannya di linimasa pun tak saya lakukan, karena memang balik ke kesan awal itu tadi, kental konteks politik. Saya pilih sibuk dengan yang lain saja, sampai akhirnya saya menonton sendiri film ini.

Kosongkan pikiran, itu yang paling bisa kita lakukan untuk menilai sesuatu, termasuk ketika akhirnya memutuskan menulis review ala saya tentang film ini.

Dakwah bisa dengan cara apa saja, yang penting caranya baik, dan membawa pesan damai. Itu kesimpulan saya usai menonton film 212, The Power of Love.

Seorang teman bilang ke saya, film ini membawa pesan damainya Islam. Saya tak mau langsung sepakat apa kata orang, lalu memutuskan menonton sendiri, mengambil kesimpulan sendiri, dan membawa kesan pribadi dengan sebelumnya mengosongkan pikiran.

Pada bagian tertentu ya saya sepakat, film ini membawa pesan damai. Bagaimana Kyai Zainal, ayah dari tokoh utama film ini, Rahmat (seorang jurnalis radikal), menyikapi perbedaan sikap dalam keluarganya. Bagaimana keduanya berkonflik kemudian menata hati dan memaafkan. Bagiaman seorang guru mengamalkan sendiri ucapannya sebagai seorang kyai di hadapan umat, lalu berdamai dengan anak lelakinya yang membangkang. Pesan damai dari ayah dan anak, atas nama kekuatan cinta.

Jujur saya merasakan kekuatan cinta itu, bahwa bagaimana pun seseorang pernah berbuat kesalahan, maka maafkan, dan berdamailah. Berdamai dengan diri sendiri utamanya, untuk kemudian bisa melembutkan hati memaafkan orang lain.

Pesan damai lainnya saya dapati dari ayah yang keras kepada anak yang juga tak kalah keras kepalanya. Bagaimana seorang kyai ternama di Ciamis, menerima pilihan profesi anaknya sebagai jurnalis media yang digambarkan berusaha kritis dan netral memandang peristiwa. Ucapan sang ayah sungguh membawa pesan damai sesungguhnya dari agama mana pun. Yakni tentang kebaikan, tentang berbuat baik apa pun pekerjaan kita.

Saya tak ingat persis kata-katanya, yang pasti kyai Zainal mengucap di depan makam istrinya, pun di depan anak lelakinya usai konflik mereda. Seorang ayah berkata tulus bahwa ia tak memaksakan kehendak agar anak lelaki satu satunya yang masih hidup, yang pernah dimasukkan sekolah di pesantren karena “kenakalan” semasa anak dan remaja, untuk menjadi guru agama sepertinya. Menurutnya, dengan menjadi jurnalis yang menulis baik, sudah membanggakannya. Momen yang sebenarnya menurut saya klimaks dan membawa pesan damai kebaikan. Sebenarnya saya bilang, karena jawaban sang anak ternyata, menurut saya, SEDIKIT mengubah pesan damai itu. Sang anak berkata, mungkin suatu saat akan mengikuti jejak bapak, mungkin katanya tanpa bermaksud meyakinkan.

Kenapa menurut saya SEDIKIT mengubah pesan? Karena untuk penggambaran seorang anak yang kecewa, butuh pengakuan dan diakui ayahnya, dan radikal karena perjalanan hidupnya membawanya ke sana, keras kepala, rasanya tak semudah itu mengubah haluan meski semuanya mungkin-mungkin saja. Tak ada yang tak mungkin.

Sepengalaman saya menjadi jurnalis (pengalaman yang masih hijau belum layak dibanggakan juga), wartawan memang “terlatih” untuk skeptis. Tak mudah begitu saja percaya karena setiap informasi harus digali dan dikroscek berkali-kali untuk disampaikan kembali kepada pembaca dari tulisan wartawan. Cara jurnalis bekerja mau tak mau merasuk dalam keseharian, tak mudah percaya pun tak mudah terlena, kesannya mungkin selalu curiga namun bukan dalam makna negatif tapi lebih kepada kehati-hatian demi pertanggungjawaban apa yang jurnalis tuliskan sebelum disebar seluasnya.

Ah tapi itu kan kata saya, yang kadang terlalu serius menanggapi segalanya. Ini kan hanya film yaaa, sebatas memberikan pesan. Harap maklum saja, saya tipikal penonton film Indonesia yang masih mencari kelogisan dari sebuah film dan makna mendalam atau setidaknya berkesan. Sehingga film yang sebenarnya tujuannya hiburan bisa juga menambah makna untuk perjalanan saya hari itu.

Saya bisa merasuki dunianya Rahmat karena ceritanya mirip meski tak bisa dibandingkan dengan kehidupan nyata saya. Saya lahir dari keluarga agamis, ibu saya guru ngaji, dan saya anak perempuan satu-satunya dibebaskan memilih oleh orangtua yang membiayai pendidikan. Ibu saya mendukung pilihan saya untuk belajar jurnalistik dan menjadi jurnalis. Orangtua yang cukup modern dalam beberapa hal padahal sangat konvensional dalam kehidupannya. Saya bangga jadi anak ayah ibu saya yang tak lulus SD itu tapi pikirannya moderat soal pendidikan.

Ayah ibu saya tak pernah memaksa saya meneruskan jejak mereka, menjadi orang terpandang di kampung karena bekal agamanya.

Namun jiwa atau boleh lah dibilang “darah” dakwah takkan hilang begitu saja. Dakwah bisa dilakukan dengan cara apa saja, asal baik, sesuai tuntunan. Dengan cara damai, tidak memaki, tidak membenci, penuh cinta seperti keteladanan Nabi Muhammad SAW, yang pemaaf dan pendoa, pun mendoakan mereka yang sudah menyakitinya. Tak mudah memang mencontoh sang teladan, namun bukan berarti kita tak mampu mencobanya semaksimal mungkin.

Saya dan tokoh Rahmat dalam film ini, pun sosok Rahmat lain dalam kehidupan nyata, sungguh bisa berdakwah lewat “rute” mana saja, asalkan tujuan sama menuju Tuhan dengan cara yang diridhai-Nya.

Film ini mengingatkan tentang dakwah damai penuh cinta. Menjadi pesan untuk anak muda dari kalangan mana saja, mereka yang memilih berkutat dengan ilmu agama, maupun ilmu umum yang melandasi praktiknya dengan nilai agama penuh kedamaian.

Saya menangkap pesan itu dari film ini, meski memang ada beberapa bagian yang jujur tak bisa lepas dari konteks latar peristiwa di balik film ini. Sulit melepaskan konteks sosial politik dari peristiwa yang menginspirasi film ini. Apalagi di beberapa bagian ada potongan video dari peristiwa nyata. Menurut saya, lagi-lagi ini kata saya yang awam dan amatir, potongan video itu tak harus dimunculkan tapi cukup dikonstruksi untuk menghidupkan film ini. Eh tapi pendapat saya berlaku kalau memang tujuan film ini ingin menjangkau semua kalangan dan menyentuh hati penonton dengan pesan dakwah damai. Kecuali film ini memang ditujukan untuk mengenang kebersamaan dan kuatnya persaudaraan pada peristiwa nyata, maka akan sangat terasa kental kekuatan cintanya. Saya yakin yang menontonnya akan terbawa haru biru.

Persaudaraan dan kebersamaan membawa pesan damai saya rasakan dari kisah kyai Zainal di Ciamis, dan kesantunan jamaahnya. Sungguh inilah kedamaian sejatinya. Kata-kata kyai Zainal di mimbar juga sungguh kuat pesan cinta, tentang memaafkan dan penerimaan, bahwa siapa saja bisa melakukan kesalahan. Ampuni dan perbaiki kesalahan untuk menjadi pribadi lebih baik lagi. Belajar dari konflik keluarga, kisah ayah dan anak lelaki yang keras kepala namun akhirnya kembali kepada fitrah, saling menerima, memaafkan dan melembutkan hati.
















Suntikan Semangat dari GWRF Wujudkan Impian Menulis Buku




Berkumpul bersama teman atau orang lain sehobi selalu menyenangkan. Salah satunya datang menghadiri pameran atau festival yang berkaitan dengan gerakan literasi, seperti pameran buku atau festival penulis dan pembaca buku. Bagi penggemar buku dan hobi membaca, kegiatan literasi selalu berhasil mengisi hati. Kegiatan literasi bahkan sangat ampuh menjadi motivator untuk para penulis yang bermimpi menerbitkan buku. 

Jadi, ketika ada kesempatan menghadiri undangan Gramedia Writers and Readers Forum 2018, saya tak sia-siakan. GWRF pertama kalinya digelar sebagai cara meningkatkan literasi di Indonesia. Kegiatan ini merupakan kolaborasi Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia, Badan Ekonomi Kreatif, Komite Buku Nasional, Gramedia.

Kegiatan dua hari yang berlangsung di Perpusnas RI di Jalan Medan Merdeka Selatan no 11 Jakarta, mendatangkan warga yang hobi membaca dan menulis, menghidupkan perpustakaan. Saya pun akhirnya menyempatkan diri membuat kartu Perpusnas RI yang antriannya tak pernah sepi, meski sudah dibatasi 500 pendaftar per hari.

Datang ke Perpusnas pada hari kedua GWRF, tepatnya di pelataran gedung sebelum pintu masuk, pengunjung sudah disajikan dengan pameran Toko Buku Gramedia. Diskon buku 10 persen sudah cukup memancing penasaran buku apa saja yang dijual di area Gramedia Exhibitions ini. 

Setelah registrasi, saya pun langsung menuju pameran buku dan membeli 4 buku antara lain Menulis dan Berpikir Kreatif karya Ayu Utami, Wiji Thukul Teka Teki Orang Hilang (KPG dan Tempo Publishing), RE: dan perempuan karya Maman Suherman.

Lantas kapan menulis buku sendiri?

Hobi membaca dan mengoleksi buku sudah berlangsung lama, sejak remaja. Masa remaja saya diisi dengan bacaan OLGA dan LUPUS. Membaca memang menjadi bekal menulis. Wawasan tercerahkan dan selalu menemukan kosakata baru bertambah kaya lagi koleksi kata-kata. 

Lalu bagaimana dengan menulis buku? Saya masih dalam tahap menulis buku pesanan dan membantu orang lain menulis buku. Buku pesanan pertama adalah ide penerbit untuk menghasilkan buku tentang bisnis minimarket. Mereka mencari penulis yang istilahnya dibayar putus, kemudian menulis buku sesuai outline yang dibuat oleh penulis berdasarkan arahan penerbit. Satu buku tentang bisnis minimarket berhasil dicetak dua kali oleh penerbit. Proses kreatif menulis buku bisnis kala itu berkaitan dengan latar belakang saya sebagai wartawan ekonomi. 

Begitu pindah bidang menjadi wartawan lifestyle dan dunia perempuan, ada tiga buku yang saya bantu tuliskan. Satu buku tentang fashion, satu lagi tentang motivasi diri dan kepemimpinan, serta buku biografi tokoh di Karawang. 

Semua buku orang lain, bukan pemikiran sendiri. 

Menulis buku selalu menjadi resolusi tahunan yang tak kunjung berwujud. Berprofesi sebagai wartawan online yang dikejar target tulisan, selalu jadi alasan saya tak kunjung sempat membuat outline buku sendiri. Profesi wartawan pun saya tinggalkan dan memutuskan fokus menjadi blogger dan bisnis kecil-kecilan di ranah konten digital. Ternyata kesibukan masih menjadi alasan kenapa saya tak juga kunjung menulis buku sendiri. 

Datang ke GWRF dan mengikuti berbagai kelas yang menghadirkan para master kepenulisan dan literasi, memberikan suntikan semangat buat saya. Saya mendapat insight dari sesi bincang-bincang dengan penulis millenials: Almira Bastari, Elvira Natali, dan Rain Chudori. 

Saya yakin, peserta yang duduk dalam majelis memiliki impian yang sama, menulis buku. Kebanyakan peserta adalah Gen Z dan millenials, hanya beberapa saja yang sudah berusia matang seperti saya. Anggap lah saya millenials juga karena punya semangat yang sama.

Membuka wawasan bisa di mana saja dan dari siapa saja, termasuk saat mengikuti perbincangan dan tanya jawab di sesi millenials ini. Betapa semangat menulis begitu tinggi, dan semuanya haus ilmu sehingga ingin terus menggali dari mereka yang sudah terlebih dahulu sukses mewujudkan impiannya, menulis buku. 

Seperti halnya belajar bahasa yang sangat mungkin multitafsir, begitu pun belajar menulis. Semakin banyak kita mengikuti kelas menulis, mendengar langsung pengalaman penulis, pengetahuan semakin banyak, terasa kaya karena wawasan makin luas. Pada akhirnya, kepercayaan diri pun muncul dan semangat terpompa untuk mewujudkan impian menulis buku. 

Saya paling terkesan dengan paparan Almira Bastari penulis buku berjudul “Resign” genre Metro Pop. Tekad menulis buku diwujudkannya dengan menyempatkan menulis di mana saja. Sesi penulis dan pembaca millenials ini bikin saya segera menuju pameran buku dan membeli novel “Resign”. 



Di GWRF saya juga sempat berbincang singkat bersama penulis dan pegiat literasi, kang Maman Suherman. Pria berlatar belakang jurnalis ini selalu lihai bicara dengan banyak muatan berisi menambah pengetahuan.

Dari berbagai pertemuan di GWRF saya pun belajar beberapa hal yang menjadi bekal untuk mewujudkan impian menulis buku.

1. Produktif Menyicil Tulisan

Dari Almira saya diingatkan lagi untuk lebih fleksibel demi lebih produktif menulis. Saya selalu beralasan tak cukup waktu dan lain-lain karena urusan pekerjaan. Padahal waktu menulis bisa kita ciptakan sendiri di mana dan kapan saja. Mengubah kebiasaan yang selalu mengandalkan laptop untuk menulis juga bisa jadi cara lain. Inilah yang dilakukan Almira menuntaskan bukunya. Usai jam kerja, di parkiran sambil menunggu waktu ganjil genap berakhir, dia menulis di smartphone, di dalam mobilnya, dan menghasilkan 1-2 bab bukunya. Jadi, produktif menulis menciptakan waktu menulis di mana saja menggunakan alat se-minimalis mungkin, tetap bisa menghasilkan tulisan. Tak ada lagi alasan.

2. Batasi Stalking di Medsos

Salah cara produktif menulis untuk mewujudkan impian menerbitkan buku adalah batasi penggunaan medsos. Ini tantangan buat saya yang pekerjaannya sangat mengandalkan medsos. Saya mengelola akun medsos partner bisnis, saya pun harus terus memantau medsos komunitas, saya pribadi membranding diri sebagai influencer mikro yang setiap hari harus update medsos. Agak berat memang tapi wajib dicoba untuk membatasi dan menggantikan waktu stalking dengan menulis di smartphone. Inilah yang dilakukan Almira, mengurangi penggunaan medsos dan produktif mencicil tulisan novelnya.

Catatannya adalah, batasi waktu akses medsos dibutuhkan saat sedang proses menulis buku. Nah, ketika bukunya sudah dicetak dan waktunya pemasaran, menurut saya penulis harus optimalkan media digital. Medsos menjadi cara jitu untuk mempromosikan buku dan merancang aktivasi digital lainnya dalam rangka branding dan pada akhirnya pemasaran buku.

3. Tujuan Menulis Buku dan Literasi

Obrolan dengan kang Maman selaku pegiat literasi membuka wawasan saya. Perjuangan literasi sungguh tak mudah. Tak usah membahas minat baca yang rendah, masyarakat yang buta huruf saja masih banyak. Pun ada gerakan literasi membagikan buku gratis saja masih banyak penolakan atau tantangan yang tak bisa ditembus.

Lantas apakah kondisi ini membuat calon penulis buku jadi mundur? Tentu tidak. Di kelas GWRF hari kedua, Elvira membuat pertanyaan sekaligus pernyataan, untuk apa kita bikin buku? Untuk diri sendiri atau komersial? Bebas saja jawabnya. Jika pun tujuannya komersial, artinya sangat memikirkan marketing dan jumlah eksemplar terjual, yang akhirnya terkait dengan daya beli pembaca. Sementara kondisi literasi di Indonesia masih berjuang untuk terus dikuatkan. Memproduksi bahan bacaan menurut saya justru akan terus mengerakkan literasi. Jangan khawatir tidak akan ada pembacanya. Menulis saja intinya, produktif, nanti tulisan itu akan menemukan takdirnya, kalau kata orang bijak.

4. Tambah Wawasan dari Forum Penulis

Mengikuti kelas menulis dan berkumpul dalam forum kepenulisan, buat saya, memberi tambahan gizi penulis dan calon penulis buku. Serap pengetahuan dan pengalaman dari para penulis buku yang sudah berpengalaman mau pun yang sedang berjuang memasarkan bukunya. Silaturahim di forum penulis menjadi salah satu cara ampuh membangkitkan gairah menulis. Paling tidak kita jadi lebih tersadarkan untuk segera menerbitkan buku seperti penulis lainnya. Mereka bisa kenapa kita enggak?

5. Mulai Membuat Outline

Sudah terbuka wawasan dari GWRF, selanjutnya, membuat outline buku sendiri. Saya termasuk tipikal penulis yang membutuhkan outline buku. Ada juga yang tidak membutuhkan outline, langsung menulis saja. Sekarang, waktunya mulai, tentukan mau menulis apa dari bank ide yang sudah menumpuk itu, dan membuat outline buku.


Semoga GWRF tahun depan saya sudah memproduksi buku, minimal dalam proses kreatif penulisan, bukan hanya masih tersimpan di bank ide seperti sekarang ini.







Bunga untuk Kuatkan Bonding Keluarga



Kuatnya hubungan tak muncul begitu saja. Perlu usaha untuk menjaga dan memelihara hubungan sampai menjadi kuat sehingga selalu siap berhadapan dengan tantangan apa pun kini dan nanti. Seberapa kuat dan bagaimana menguatkannya, termasuk bonding dalam keluarga? Bunga tak terbantahkan bisa jadi perekat hubungan selamanya. 

Saya selalu percaya kekuatan bunga untuk kuatkan bonding. Terutamanya untuk suami istri, bahkan ibu dan anak. Bunga menjadi simbol pernyataan perasaan yang kadang tak bisa terucapkan. Tersambungnya rasa, saya selalu yakini, akan menguatkan hubungan dalam keluarga.

Lihat saja setiap peringatan hari ibu. Bunga kerap menjadi simbol ucapan kasih dari anak ke ibu mengambil momen hari ibu. Setangkai bunga pun punya banyak arti bahkan mewakili hati dan pikiran yang kadang tak bisa terucapkan.

Perayaan hari jadi pernikahan juga kerap menjadi momen menguatkan bonding, dengan salah satu caranya dengan menghadirkan bunga. Entah diberikan dalam bentuk buket bunga, atau menjadi bagian dari dekorasi sebuah perayaan hari pernikahan.

Bonding dalam keluarga, orangtua dan anak, suami dan istri, bisa lebih lekat berkat bunga. Bahkan menghadirkan rangkaian bunga di rumah, menjadi bagian dari dekorasi rumah saja bisa bikin suasana berbeda. Suasana rumah yang hangat, bagi saya bisa membuat penghuninya makin akrab dan dekat.

Saya termasuk tipikal perempuan, ibu dan istri, fans berat bunga. Selain nama depan saya, Wardah, artinya bunga mawar merah, saya memang sangat tergila-gila dengan bunga. 




Sebagai satu-satunya perempuan di keluarga, urusan menata rumah selalu jadi bagian saya. Sejak remaja salah satu hobi saya membeli bunga plastik untuk menghias mempercantik ruangan di rumah. Saya ingat betul saat liburan kelulusan SMA, saya dan satu sahabat, Lidia namanya, kami ke Bandung. Oleh-oleh yang saya bawa pulang adalah kerajinan bunga yang unik menurut saya.

Berbagai jenis bunga imitasi berkali-kali saya beli dan berganti saat mulai bosan. Setiap kali lebaran, bunga segar selalu wajib masuk daftar belanja untuk mempercantik suasana.

Bunga juga menjadi bagian dari pernikahan saya. Bunga mawar segar menjadi hiasan hairdo yang disematkan Make Up Artist, sahabat saya sendiri, Mila. Bunga sedap malam dengan aroma khas yang segar, sengaja saya beli dalam jumlah banyak untuk mengharumkan kamar pengantin. Sederhana saja, tapi bunga menimbulkan rasa yang kuat.

Kesukaan saya akan bunga dan bagaimana bunga menguatkan bonding di keluarga saya sendiri, makin menjadi setelah sepeninggalnya anak semata wayang, Dahayu Hadiya Raji, di usia 3,5 tahun.

Setahun terakhir sepeninggalnya, bunga menjadi penghubung kuat antara kami. Saya, suami dan almarhumah Dahayu. 


Bunga bahkan menjadi terapi jiwa. Meski terpisahkan abadi, bonding tetap nyata lewat bunga. Membeli bunga segar menjadi kebiasaan rutin baru buat saya sepeninggal Dahayu.

Rasanya lega, dan menguatkan rasa ketika membeli bunga terbaik, baik bunga tabur maupun bunga potong segar. Membawa bunga warna warni terbaik ke makam menjadi terapi jiwa. Lega rasanya menjaga bonding lewat kiriman bunga. Meski bunga segar harus saya tinggalkan di makam, ada rasa lega luar biasa usainya. Bunga menghubungkan kami, menguatkan bonding beda dunia.

Luar biasa saya pikir kekuatan bunga ini. Seringkali sisa bunga segar dari makam saya bawa pulang. Koleksi guci tanah liat menjadi wadah terbaik bunga segar. Rumah menjadi lebih indah dengan hiasan bunga. Saya pun merasa terhubung dengan anak saya. Meski berpisah abadi, ada rasa kuat yang terwakili dengan bunga. Ini sangat saya rasakan dan bahkan menuliskannya betapa bunga menjadi penghiburan dan penguatan bonding saya dan suami, pun anak kami di sana.

Setahun berlalu, membeli bunga segar masih menjadi kebiasaan baru dan rutin bagi saya dan suami. Bunga tetap menjadi simbol kekuatan bonding dalam keluarga kami.

Beragamnya jenis dan warna bunga membuat hati terhibur. Membawa aneka bunga segar ke makam secara berkala, menjadi penghiburan sekaligus menguatkan hubungan. Kerelaan suami mengantar saya mencari dan membeli bunga segar terbaik, juga memberi warna baru dalam pernikahan yang sudah kami bina 10 tahun. 


Ada rutinitas baru bagi kami, mencari toko bunga dan memilih bunga bersama, membawanya ke makam untuk Dahayu. Rutinitas yang tak lazim namun ada hubungan yang sedang kami pelihara di sana. Bukan hanya untuk anak kami tapi bagi kami berdua, interaksi yang terjadi sepanjang prosesnya, menciptakan bonding pasangan hidup dengan cara unik. 



Andalkan Toko Bunga Online

Saya termasuk tipikal penggemar bunga yang merasa puas kalau bisa membawa pulang bunga dari toko, setelah menyentuhnya, mengelusnya, dan memastikan kesegarannya.

Namun belakangan, dengan jadwal pekerjaan yang makin menyibukkan dan menyita waktu, sempat beberapa kali agenda beli bunga terlewati begitu saja.

Benar saja, ada rasa bersalah karena tak menjaga bonding keluarga kami. Barangkali terdengar tak biasa tapi itulah yang saya rasakan.

Rasanya memang bunga ini mewakili kekuatan hubungan kami yang terpisahkan. Tak terbantahkan karena memang ketika terlewati kebiasaan membeli bunga, saya merasa berjarak.

Berkat informasi dari teman, saya kemudian jadi berkenalan dengan toko bunga online. Awalnya saya pikir apakah bisa memuaskan beli bunga di toko bunga online? Maklum, saya sempat kapok belanja online karena kecewa setelah membeli tas di toko online.

Namun akhirnya pun saya dan suami coba membeli bunga saat liburan panjang akhir pekan lalu. Momennya tepat saat kami memang tak ada agenda apa pun berduaan, dan bunga sudah bisa menjadi penghiburannya.

Kami membeli bunga di toko bunga online Flower Chimp. Rupanya toko bunga online Flower Chimp Indonesia ini bagian dari Flower Chimp Malaysia. Pilihan bunganya beragam, kalau dari jenisnya ada mawar, lili, gerbera, anyelir, tulip, aster, dan bunga matahari. Model bunganya ada yang keranjang, kotak, papan, buket, juga keranjang buah. Sementara harga mulai Rp 249.000 untuk buket bunga dan ongkos kirim gratis.

Membuka situs Flower Chimp saja sudah bikin hati senang. Tampilan laman simpel dan clean, warna putih sebagai latar dengan beragam pilihan jenis bunga, warna dan stylenya. Browsing bunga di toko bunga online saya kok merasa senang dan terhibur, apalagi bisa membawa pulang salah satunya.

Takkan tahu bagaimana dampaknya kalau tidak dicoba, lantas mulai jari bergerak browsing. Sengaja, suami saya biarkan memilih dan membeli bunga di toko bunga online. Suami memilih bunga mawar merah sesuai anggaran. Banyak pilihan bunga, warna, tampilan sepadan dengan harganya.

Proses pembelian dan pembayaran juga mudah, via transfer dan jangan berharap COD ya. Untuk memastikan bunga sampai sesuai kebutuhan, saya dan suami bahkan bisa dengan mudahnya berkomunikasi lewat fitur chat, baik di situs maupun terhubung langsung ke aplikasi whatsapp.

Customer service Flower Chimp Indonesia juga responsif. Kalau pesan beli bunga sebelum pukul 13:00, bunga akan dikirim pada hari yang sama. Namun karena menyesuaikan waktu di rumah, akhirnya kami memilih waktu pengiriman saja.

Sehari setelah pesan, bunga sampai ke rumah persis sesuai foto di situsnya. Pengantarnya perempuan dan memastikan dengan santun bunganya bisa sampai kepada kami sesuai harapan. Sampailah bunga mawar di rumah, praktis, tinggal klik, duduk manis menunggu bunga cantik datang. Menerima kiriman bunga memang bikin hati senang.

Pengalaman beli bunga online ini bikin saya jadi punya solusi jikalau tak cukup waktu ke toko. Rutinitas beli bunga jadi lebih mudah semoga lebih kuat lagi bondingnya.

Obati TBC Demi Indonesia Tekan Beban TB Tinggi Kedua di Dunia



Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melaporkan, Indonesia tercatat sebagai negara dengan beban TB tinggi kedua di dunia. Posisi Indonesia setelah India sebelum China dan Filipina. Kejadian TBC di Indonesia per tahunnya mencapai 1.020.000 kasus dengan angka kejadian TBC 391 per 100.000 penduduk.

Angka kejadian TBC sudah memprihatinkan. Lebih memprihatinkan lagi data Kemenkes RI berikut ini. Dari 1 juta 20 ribu kasus, 60 persennya atau 659.435 kasus belum dilaporkan. Dari kasus yang belum dilaporkan itu, 369.435 kasus TBC di Indonesia sudah diobati sementara selisihnya 290.000 belum terdeteksi. Sedangkan kasus TBC di Indonesia yang sudah dilaporkan jumlahnya hanya 360.565 kasus.



Saya sengaja menyalin angka-angka yang menjadi fokus perhatian dari pertemuan langsung dengan pihak Kemenkes RI di Lokakarya Bloggers "Peduli Tuberkulosis, Indonesia Sehat". TBC masalah penting yang bukan hanya jadi beban negara. Ada peran warga di sana, untuk menekan angka kejadian dan penularannya. TBC menjadi beban bersama, karena memang tak mudah menjalani pengobatannya sampai tuntas, tapi sangat mudah menularkannya.

Tuberkulosis atau TBC adalah penyakit yang sudah tua umurnya. Penemuan kuman TB (mycobacterium tuberculosis) diumumkan 24 Maret 1882. Penemunya Robert Koch (1843-1910). Itu sebab setiap tanggal 24 Maret diperingati sebagai Hari TB Sedunia.

Bukan hanya penemuan kumannya saja yang sudah terjadi lebih dari 100 tahun lalu. Banyak tokoh penting dunia pun Indonesia yang mengidap TB. Sebut saja Nelson Mandela, Jenderal Sudirman, Chairil Anwar dan BJ Habibie yang terkena TB Tulang.

Obati untuk Tekan Beban TB Tinggi Kedua di Dunia




TBC adalah penyakit menular langsung, disebabkan oleh kuman TB, yang bisa disembuhkan namun memang membutuhkan proses pengobatan yang intensif dan jangka panjang. Penyakit TB tak melulu berkaitan dengan kemiskinan, siapa pun bisa terkena dengan berbagai faktor risiko. Meski begitu penyakit infeksi ini bisa diobati, dengan minum obat teratur selama 6-8 bulan hingga sembuh.

Untuk TB Sensitif Obat atau TB SO masa pengobatannya 6-8 bulan. Sedangkan jika kuman resisten, TB Resisten Obat atau TB RO pengobatan bisa di atas 8 bulan. Beda lagi jika sudah TB Multidrug Resisten, pengobatan butuh waktu lebih lama.

Seperti Edi Junaedi yang berjuang mengobati TB selama 21 bulan dengan berbagai tantangannya, fokus pengobatan juga mengatasi dirinya dan stigma yang melekat padanya. Sampai akhirnya Edi sembuh total dan mendapatkan sertifikat tanda sembuh pengakuan resmi dari USAID, TBCare, KNCV.

Tak sedikit pasien TB menyerah dalam pengobatan karena banyak faktor, mulai kendala biaya hingga efek samping obat, juga persoalan sikap mental termasuk rasa malu menerima penyakit menular ini.

Perlu diketahui, sebagian besar kuman TBC menyerang paru. Kuman TBC bisa juga mengenai organ lain seperti tulang, kelenjar, kulit. Semoga ini bisa menjawab pertanyaan yang belum sempat saya jawab di linimasa Twitter. Jelas bahwa kuman yang sama bisa menyerang berbagai organ tubuh manusia.

Mengutip penjelasan Pandu Riono dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dan Jejaring Riset TB Indonesia, penyakit paru sama dengan penyakit TBC. Namun banyak faktor yang membuat pasien sungkan menyebutnya TBC.

Penolakan atas penyakit, pun stigma dari lingkungan, bisa membebani pasien. Menjalankan pemeriksaan dan pengobatannya saja sudah sangat perjuangan. Jika ditambah lagi dengan lingkungan yang tidak mendukung pada kesembuhan dan pengobatan sampai sembuh, mustahil TB tereliminasi.

Lebih membahayakan jika TB tidak ditemukan atau ada kejadian namun diabaikan atau tidak dilaporkan. Bisa jadi, ada orang di sekitar kita terkena TB namun tidak memeriksakan diri atau tidak melaporkan kepada tenaga kesehatan, kuman kemudian menyebar.

Penderita TB menularkan penyakit ke lingkungannya, tanpa sadar. Penularan bisa terjadi melalui udara. Itu sebab mengapa batuk ada etiketnya. Batuk tanpa menutup mulut, atau tanpa menggunakan masker, bisa jadi cara penularan TB.

Memeriksakan diri ketika menemukan gejala seperti batuk tak sembuh dua minggu lamanya, berkeringat saat malam, dan nafsu makan terus turun, menjadi langkah awal mengenali TB. Penegakkan diagnosis diawali dengan berbagai pemeriksaan baik rontgen/xray, Tes Cepat Molukuler dengan tes dahak, juga tes pemeriksaan lainnya yang lebih canggih. Jika sudah memeriksakan diri dan melaporkan kondisi, maka petugas kesehatan bisa mencatatkan kondisi. Apakah positif menderita TB atau tidak.

Tantangan inilah yang dihadapi kita, negara dengan beban TB tertinggi kedua setelah India. Minimnya pelaporan, miskinnya edukasi, kemudian membuat TB terus tinggi angka kejadiannya di Indonesia. 



TOSS TB atau Temukan Obati Sampai Sembuh Tuberkulosis menjadi kampanye kesehatan yang digencarkan pemerintah didukung berbagai pihak. Dengan menemukan kasus TB (lewat pemeriksaan kesehatan warga tentunya), lalu obati bagi yang memang sudah terdiagnosis tegak TB, kemudian patuh dan kukuh pada pengobatan sampai sembuh seperti perjuangan Edi Junaedi.

Harapannya, TOSS TB menekan penularan penyakit infeksi ini, menyembuhkan penderitanya. Tujuan akhirnya, eliminasi TB, mewujudkan Indonesia lebih sehat. 



















Beda Usia Sama Cantiknya Berbagi Energi Positif Bareng Natur-E


Peringatan Hari Perempuan Internasional 8 Maret 2018 lalu menjadi pengingat, bahwa kita, perempuan bisa menebar dan menyebar energi positif. Perempuan beda usia sama cantiknya untuk saling dukung dan menginspirasi, berbuat apa pun hal luar biasa, di lingkaran kecil atau besar.

Ini pesan penting dari Natur-E yang mempertemukan perempuan beda usia sama cantiknya, sekaligus mengenalkan kampanye terbarunya “Bring Out The Beauty Inside” dengan gerakan #BerbagiEnergiCantik.

Perempuan muda berusia 18 tahun yang diwakili Vanesha Precilla hingga perempuan usia matang di atas 35 tahun, diwakili Presiden Direktur PT Darya-Varia Laboratoria Tbk - Marlia Hayati Goestam berbagi inspirasi. 




Siapa tak kenal Vanesha yang hits dengan “Milea” di film remaja terlaris tahun 2018 “Dilan 1990”. Sikap lugunya menunjukkan Vanesha sebagai gadis remaja yang sedang asyik dengan dunianya. Tak sungkan, Vanesha mengakui dirinya sempat merasa tak yakin dengan talenta dan potensinya. Dukungan sang kakak yang sukses berkiprah di dunia film, Sissy Priscillia, membuat Vanesha mantap dengan dunianya kini.

Menemukan potensi diri bukan perkara mudah, saya amini itu. Apalagi buat perempuan muda yang belum memahami utuh dirinya. Dukungan dari perempuan dewasa yang membuka wawasan dan membangun kepercayaan diri menjadi penting. Begitu pun Vanesha yang butuh dorongan dari luar dirinya untuk bisa mantap berkiprah dengan segala potensinya.

Beda lagi dengan sosok perempuan lain yang ditampilkan Natur-E untuk membawa pesan Berbagi Energi Cantik. Sebut saja Putri Athira (Founder HerDreams), Ainun Chomsun (Founder Akademi Berbagi), Dr. Elisna Syahruddin SpP (Dokter Spesialis Paru RS Persahabatan). Mereka perempuan beda usia sama cantiknya yang menginspirasi.

Mengutip Marlia Hayati, banyak keputusan penting yang diambil perempuan di usia 25-35 tahun. Setiap perempuan akan punya perjalanan masing-masing untuk memunculkan apa yang terbaik dari dalam diri, menunjukkan kekuatan dan kecantikan dari dalam diri perempuan.

Putri misalnya, memutuskan melakukan gerakan sosial untuk memotivasi remaja mewujudkan atau setidaknya menjaga impiannya. Cerita luar biasa lainnya datang dari Ainun Chomsun yang pada usia 35 mendirikan Akademi Berbagi, sebagai wadah untuk belajar bersama, mempertemukan praktisi dengan para pembelajar dari berbagai daerah di Indonesia, kalangan mahasiswa dan pekerja.

“Di usia berapa pun kita bisa melakukan hal luar biasa,” kata Ainun yang saya catat dan ingat kuat.

Cerita menarik juga datang dari dr Elisna. Sebagai dokter, katanya, punya tugas untuk membangkitkan energi cantik. Caranya, menularkan energi positif dengan tubuh sehat. Dokter bukan hanya membantu mencarikan solusi sehat tapi juga membangkitkan semangat sehat dari pasien, apa pun penyakitnya.

Kalau saya, memutuskan resign dari perusahaan besar dan menjadi pekerja mandiri di usia 35. Bagi saya itu luar biasa dan butuh keberanian ekstra. Dua tahun berjalan, semua terasa luar biasa, begitu banyak kesempatan besar datang dan perjalanan makin seru juga menantang. Terbukti sudah, memang banyak hal penting yang kita putuskan di usia dewasa muda hingga matang. 



Beda Usia Sama Cantiknya  

Apa pun perjalanannya, dari keputusan penting di usia berapa pun, makin lengkap kalau kecantikan dan perawatan diri terjaga sepanjang usia. Beda usia beda kondisi juga masalah kulitnya, pun menyesuaikan dengan aktivitas lebih banyak luar ruang atau di dalam ruangan ber- AC misalnya yang bisa berjam-jam terpapar ke kulit.

Saya sudah merasakan semua masalah kulit dari berjerawat hingga kering karena terpapar AC di ruangan juga terpapar sinar matahari di luar ruang. Kalau sekarang sudah mulai berhadapan dengan penuaan dini, kerutan makin banyak.

Saya mau coba buktikan bagaimana Natur-E Advanced dengan fungsi Skin Firming bisa atasi masalah kulit saya di usia lewat 35. Tanda penuaan makin banyak, saya butuh hand & body lotion yang bisa mengatasi kulit kering, melembabkan, sampai regenerasi kulit untuk kurangi kerutan. Semoga saja kandungan Vitamin E, Astaxanthin yang kaya antioksidan, dan kandungan Lycopene di produk ini bisa beri solusi cantik untuk kulit, dibarengi dengan suplemen vitaminnya.

Sertifikasi halal semua produk Natur-E bikin saya merasa tenang. Ditambah lagi Natur-E adalah produk dari Darya-Varia yang sudah berpengalaman memproduksi perawatan kulit perempuan sejak 1978.

Nah beda lagi untuk perempuan usia 18-24 dengan masalah kulit kusam dan berjerawat. Natur-E 100 IU namanya, dengan kemasan warna hijau untuk lotion dan suplemen vitamin. Tambah lagi usia, 25-34 beda lagi masalahnya seperti kulit kering dan warna kulit tak merata, produknya Natur-E 300 IU dengan kemasan oranye, lotion dilengkapi suplemen vitamin.

Kalau terawat baik, beda usia sama cantiknya, buktikan bareng yuk!