Bantuan Operasi Katarak CSR BCA Tak Sekadar Donasi Alkes

CSR BCA www.wawaraji.com 

Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) bisa beragam bentuk dan biasanya menyentuh pendidikan dan kesehatan. Alasannya tentu karena sebagian besar warga yang menerima manfaat paling membutuhkan bantuan di kedua sektor tersebut. Faktornya juga bisa beragam, bukan hanya soal biaya namun akses dan lokasi tempat tinggal yang masih sulit terjangkau sehingga butuh sinergi berbagai pihak. 

Inilah juga yang menjadi sasaran program CSR PT Bank Central Asia Tbk (BCA) yang dikenal dengan Bakti BCA. Uniknya, CSR BCA tidak hanya rutin memberikan donasi melalui kemitraan dengan berbagai lembaga, namun melakukan pemantauan untuk memastikan manfaat yang diberikan membawa dampak kepada masyarakat yang membutuhkan. Artinya donasi tak berhenti pada penyerahan sumbangan namun diperhatikan mendetil sampai pelaksanaan dan pascatindakan, apakah manfaatnya benar-benar membawa dampak kepada masyarakat. 

Foto @cicidesri

Perbincangan singkat saya bersama Executive Vice President CSR BCA, Inge Setiawati, membuka lebih luas bagaimana CSR BCA berjalan berkelanjutan dan membawa dampak maksimal untuk penerima manfaatnya. 

Usai mengikuti penyerahan donasi Bakti BCA untuk sektor kesehatan, senilai total Rp 1,3 Miliar di Menara BCA pada 24 September 2018, justru saya mendapati ada nilai lebih di balik sumbangan. Sumbangan Bakti BCA sendiri berupa donasi alat operasi katarak dan sarana pengambilan darah donor. 

Donasi ini berlangsung dengan sinergi lintas lembaga, yakni Seksi Penanggulangan Buta Katarak (SPBK) Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) dan Palang Merah Indonesia (PMI).

CSR-BCA www.wawaraji.com

Direktur BCA Suwigyo Budiman menyerahkan langsung secara simbolis donasi dua mikroskop kepada Ketua SPBK Perdami Pengurus Pusat, Dr Umar Mardianto, SpM(K), lalu satu mikroskop kepada Ketua SPBK Perdami Cabang DKI Jakarta, dr Rio Rhendy, SpM. Sementara untuk donor darah, Bakti BCA menyerahkan secara simbolis donasi 4 set Blood Scale & Mixer kepada Ketua Pengurus Provinsi PMI DKI Jakarta, Muhammad Ali Reza.

CSR-BCA www.wawaraji.com 

Di balik penyerahan donasi alat kesehatan ini, ada upaya dari pihak swasta dalam hal ini bank swasta terbesar di Indonesia yang secara berkelanjutan memastikan masyarakat bisa hidup sehat optimal. Selayaknya CSR, tentunya program ini adalah bentuk giveback, mengembalikan manfaat kepada warga yang sudah berkontribusi terhadap keberlangsungan usaha dalam hal ini Bank BCA. 

Bagian dari 3 Pilar Bakti BCA (CSR BCA)
Bakti BCA sendiri punya tiga pilar yakni Solusi Bisnis Unggul (pembinaan ekonomi komunitas seperti desa binaan, UKM, petani), Solusi Cerdas (pembinaan pendidikan akuntansi dan teknologi informasi, beasiswa, sekolah binaan), Solusi Sinergi (Kesehatan, Lingkungan, Budaya). 

Tiga pilar ini berjalan berkesinambungan dalam setahun. Program yang sudah rutin berjalan adalah di sektor kesehatan. Bakti BCA paling sering mengadakan donor darah, tepatnya tiga bulan sekali dan melibatkan hampir seluruh cabang. Itu sebab salah satu bantuan yang diberikan adalah sarana pengambilan darah donor untuk mendukung peningkatan kualitas layanan kesehatan. 

Program lain Bakti BCA yang juga berjalan rutin setahun lima kali adalah operasi katarak. Ibu Inge mengatakan kebutuhan operasi katarak memang besar terutama di daerah pesisir atau pelosok yang sulit terjangkau. 

Mereka yang mendapatkan bantuan operasi katarak bukan hanya usia manula namun penderitanya makin bergeser ke usia produktif. Faktor utamanya karena paparan sinar ultraviolet terutama warga daerah pesisir. Itu sebab operasi katarak rutin berkala dilakukan dan menyasar hingga ke Kalimantan bukan hanya di Pulau Jawa. 

Target pasien operasi katarak pun tak sedikit, minimal 100 orang dalam sekali pelaksanaan operasi katarak. Nah, untuk menyukseskan pelaksanaannya, Bakti BCA yang sepenuhnya merupakan program kantor pusat, bergerak bersinergi bersama kantor cabang dan dokter mata setempat di daerah yang menjadi lokasi operasi, dibantu Perdami Pusat. 

Kantor cabang BCA juga punya andil untuk pelaksanaan operasi katarak ini. Mulai publikasi, penyediaan tempat hingga konsumsi untuk peserta operasi katarak. 

Tak berhenti sampai di situ, usai pelaksanaan operasi katarak, Bakti BCA melakukan pemantauan sejauh mana tindakan berdampak. Salah satu caranya adalah dengan pemantauan apakah peserta operasi katarak sudah kembali produktif sehingga bisa mencari nafkah secara maksimal terutama bagi usia produktif. 

Untuk mendapatkan informasi operasi katarak Bakti BCA, informasinya bisa didapatkan di kantor cabang BCA terutama untuk daerah pelosok di luar pulau Jawa. Berlangsung lima kali dalam setahun, operasi katarak Bakti BCA ini diawali dengan pendaftaran melalui kantor cabang, lalu pemeriksaan awal atau screening untuk mengetahui apakah benar pasien membutuhkan operasi katarak atau punya gangguan kesehatan mata lainnya. Setelah dinyatakan benar membutuhkan operasi katarak maka dilakukan penindakan dan setelahnya ada pemantauan. 

Kenapa Operasi Katarak dan Donor Darah?
Bantuan operasi katarak dan sarana donor darah ini selain memang berdasarkan kebutuhan warga, juga dilandaskan data dan fakta valid dari Kementerian Kesehatan RI dan WHO. 

WHO mencatat, di Indonesia terdapat sekitar 3,5 juta orang mengalami kebutaan kedua belah mata, dengan 50% nya atau sekitar 1,5 juta orang buta karena katarak. Sementara Kemenkes RI mencatat per 30 Agustus 2018, kebutaan di Indonesia hampir 60 persen dengan sumbangan terbesarnya dari katarak. Situs Kemenkes RI juga menyebutkan, berdasarkan data WHO, pada Juli 2017, jumlah kebutuhan minimal darah di Indonesia sekitar 5,1 juta kantong darah per tahun atau 2% dari jumlah penduduk Indonesia. 

Kebutuhan inilah yang membuat Bakti BCA terus komitmen mengajak warga dan nasabah juga karyawan mendonorkan darah dan menyumbangkannya melalui PMI, setiap tiga bulan sekali. Tepat saat Bakti BCA mencapai 100 kali kegiatan donor darah pada November 2017, terkumpul 47.000 kantung darah. Angka ini tentunya terus bertambah seiring berjalannya donor darah Bakti BCA setiap tahun 3-4 kali. 

Sedangkan untuk katarak, hingga semester kedua 2018, BCA dan SPBK Perdami sudah melakukan 32 kali operasi katarak di berbagai daerah di Indonesia dengan hampir 3.000 mata telah dioperasi. 

Sampai di sini, para nasabah BCA tentunya menjadi bagian penting dari keberlangsungan program CSR BCA. Keberhasilan Bakti BCA tentunya tak lepas dari kontribusi nasabah yang pada akhirnya dikembalikan kepada masyarakat.

Rompis, Cinta LDR Remaja yang Enggak Picisan





Selalu senang ketika film Indonesia muncul di bioskop dengan berbagai genre dan cerita. Film tentang cinta remaja memang selalu sukses bikin nostalgia untuk penonton yang tak lagi berusia muda. Namun bagi anak muda tetap jadi tontonan menyenangkan kekinian yang semoga sih mewakili usianya.

MNC Pictures kembali hadir dengan film remaja terbaru yang bisa jadi tontonan untuk anak usia 13 tahun ke atas. Film remaja yang menyegarkan ini garapan sutradara Monty Tiwa, penulis Haqi Achmad dengan Production Executive Valencia Tanoedoedibjo serta jajaran produser Toha Essa, Lukman Sardi, Ferry Ardian juga Didi Ardiansyah.


Kenapa menyegarkan? Bintang muda aktor aktrisnya memainkan peran dengan mulus, natural dan tetap menjaga realitas remaja kekinian. Namun kalau soal jatuh cinta, polanya sama saja dari zaman dahulu kala. Sulit mengungkapkan rasa dan tanpa ada ucapan tetapi rasa terjaga sampai harus terpisah benua sekalipun. Urusan hati dan cemburu selalu sukses jadi bumbunya. Perihal cinta, rasanya takkan pernah berubah ceritanya.

Bagaimana pemeran utama film ini membawa cerita Rompis menjadi seru menyenangkan dan menyentuh tanpa berlebihan, itu istimewanya.

Saya sendiri yang sudah lebih layak disebut "tante" bagi seluruh pemain utama film ini masih bisa menikmati percikan cinta remaja dalam cerita Rompis. Lewat film ini, sebagai "tante" saya jadi menyimak gaya anak muda kekinian dan cara mereka berkomunikasi ala millenials. Kalau bagaimana opini millenials bisa baca ulasan Rizki Doel dan Egi Sukma nih.

Menurut saya, bintang muda Arbani Yasiz (Roman), Adinda Azani (Wulan), Umay Shahab (Sam), Cut Beby Tshabina (Meira) sukses bikin film remaja ini terasa ringan, romantis tapi enggak picisan, diselingi humor yang enggak garing.


Satu hal yang juga kuat dari film ini adalah inspirasi berpuisi. Senang rasanya ketika puisi diperkenalkan lagi kepada remaja melalui film. Saya selalu menikmati lomba puisi di kalangan remaja. Kemampuan merangkai kata dan mengucapkannya lantang dengan berirama dan ekspresif adalah bakat yang pastinya akan berguna nantinya. 




Cerita film yang disadur dari novel best seller memang selalu kuat. Film ini juga berangkat dari novel Roman Picisan karya Eddy D Iskandar setelah sebelumnya juga dibuatkan versi serial drama di RCTI pada 2017. 

Eits, jangan dikira film ini bakal jadi kayak sinetron. Saya bukan penonton sinetron meski masih menyimak sekadar ingin tahu. Kalau kata saya sih, film ini enggak terasa seperti sinetron. 

Selain cerita dan pemeran yang kuat, latar negeri Belanda pun melengkapi film ini. Memang ya nuansa beda selalu berhasil membangkitkan suasana. Meski begitu latar film di negeri asing bukan jadi andalannya. Bagi saya cerita dan pembawaan pemeran film yang bikin sukses. 

Menyenangkan juga ketika tahu kalau film ini masih bertengger di layar bioskop dalam negeri. Maklum, film asing masih tetap jadi andalan di negeri sendiri. Tapi kalau saya sih, penggemar dan pendukung Film Indonesia yang selalu rela beli tiket bioskop. Jadi, kalau lihat beberapa film Indonesia bertengger lama di bioskop itu rasanya menyenangkan. 







Film Rompis masih bisa ditonton di sejumlah bioskop di Jakarta sejak rilis 16 Agustus 2018 lalu. Di luar kota juga ada seperti di Bandung.

Yuk ah nonton di bioskop. Dukung terus film Indonesia. 



Si Doel Sukses Bikin Girang dan Gregetan



Official Trailer Si Doel The Movie - Falcon Pictures Youtube Channel 

Tontonan yang mengajak bernostalgia selalu sukses bikin bahagia. Apalagi jika merasa punya kedekatan cerita atau latar peristiwa. Seperti sinetron Si Doel yang jadi teman setia masa sekolah dahulu kala, saat TV Swasta pun masih terbatas pilihannya, hanya RCTI saja.

Bertahun-tahun cerita anak Betawi Si Doel melekat dan merasa jadi bagian darinya. Jadi, ketika serial di layar kaca ini diangkat di layar lebar, saya tak sudi melewatkan. Bayangkan sejak tayang pertama tahun 1994, kemudian kisahnya beberapa kali ditayangkan ulang, akhirnya dibikin versi kekinian.

Sudah niat mau nonton ke bioskop bareng mantan pacar yang sudah 10 tahun jadi suami, dasar rejeki, malah kebagian nobar bareng tokoh film festival Sandec Sahetapy. Bersama Bloggercrony Community, saya ikuti keseruan bernostalgia Si Doel bersama enam komunitas lainnya. Serunya lagi, baru pertama kali ini saya ke bioskop pakai baju kebaya dan batik, karena memang dresscodenya "Betawi Punya Gaye".






Girang dan "Gregetan"
Satu hal yang enggak berubah dari Si Doel adalah konsisten dengan sikapnya, yang katanya sih berprinsip, tapi di sisi lain seperti banyak pertimbangan untuk bersikap, malah cenderung terkesan kurang tegas. Tapi itulah Doel atau Kasdullah nama pemberian ayahnya, Sabeni (alm. Benyamin Sueb) dan Mak Nyak (Aminah Cendrakasih).

Ciri khas ini dipertahankan dalam film layar lebar Si Doel. Jadi, kalau berharap Doel berubah menjadi sosok pria matang mapan kekinian yang berbeda dengan karakter masa lalunya, penonton pasti kecewa. 

Kalau saya sih menikmati saja Doel apa adanya dia. Malah justru ceritanya realistis karena Mak Nyak (sesuai kondisi di dunia nyata) sudah lumpuh dan buta karena menderita glaukoma. Kondisi Mak Nyak ditampilkan apa adanya. Saya sih bisa paham sebagai anak yang ingin membahagiakan orangtua sepuh yang lumpuh, tinggal bersama ibu di rumah orangtua, dan memilih bekerja mandiri bukan mengejar karier, adalah pilihan hidup. 


Official Trailer Si Doel The Movie - Falcon Pictures Youtube Channel 


Pilihan hidup ini yang saya lihat dari Doel, di balik kegagalan pernikahannya. Jadi, cerita di film Si Doel ini memang melanjutkan akhir kisah di sinetron. Tahu dong, kalau Doel menikah dengan Sarah (Cornelia Agatha)? Nah, akibat peristiwa yang lagi-lagi melibatkan Zaenab (Maudy Kusnaedi), mereka berpisah 14 tahun lamanya. Tepatnya Doel ditinggalkan Sarah ke Belanda. 

Cerita di layar kaca maupun layar lebar sama-sama bikin "gregetan". Tetep dong, konflik utamanya ya apalagi kalau bukan pilih Zaenab atau Sarah? 

Sebenarnya sih bukan lagi soal memilih siapa. Toh Doel akhirnya menikah dengan Zaenab setelah ditinggalkan Sarah. Eh, ini spoiler ya? 



Official Trailer Si Doel The Movie - Falcon Pictures Youtube Channel 


Namun kisah cinta Doel yang kompleks dengan Sarah dan Zaenab ini sepertinya jadi misteri sepanjang masa. Bagaimana enggak gregetan dibuatnya coba? Akhirnya memang jadi ada kubu, hayo siapa kubu Zaenab? Siapa kubu Sarah?

Kalau saya sih memilih enggak berkubu, tapi sukses dibikin gemes dengan sikap patuh tapi miris ala Zaenab. Sama gemesnya dengan sikap berani, penuh tantangan, dan berisiko ala Sarah. Keduanya mewakili sekali perempuan Indonesia. Perempuan lugu seperti Zaenab masih ada loh di nusantara. Pun perempuan yang tak takut bersikap seperti Sarah rasanya semakin banyak.

Jadi, saya bisa bilang film Si Doel ini realistis sekali. Pun ketika Doel diundang Hans ke Belanda mengajak Mandra. Sah saja teman baik memberi hadiah liburan ke luar negeri. Saya punya teman yang pernah merasakan kenikmatan seperti itu kok.

Nah, di Belanda inilah konflik kembali terjadi. Campur aduk rasanya perjalanan Doel di Belanda. Ada sedih, haru, lucu, gemes, dan mengejutkan.

Kalau soal lucu, tetap juaranya adalah sosok Mandra. Rasa yang sama, lucu campur gregetan karena noraknya Mandra enggak berubah. Mandra yang bikin suasana jadi girang sumringah. Penonton berhasil dibuat senyum sampai terbahak-bahak karena kelakuannya.






Celetukan Atun (Suti Karno) yang masih aja lugu meski sudah beranak satu dari pernikahan dengan Karyo (Basuki-almarhum), juga mengundang tawa.

"Rela tapi mewek" celetukan Atun untuk Zaenab, yang kesannya tak berperasaan ini memang apa adanya ala adiknya Doel. Apa adanya yang bikin cerita Si Doel The Movie jadi makin mantul alias mantap betul bernostalgia. 


Tadi saya dah bilang kalau film ini memang bikin girang bernostalgia. Rupanya bukan hanya saya yang merasa begitu. Buktinya apa? Nih, di hari ke-20 penayangan di bioskop, layar Si Doel masih bertahan dan penontonnya mencapai 1 juta 681 ribu. 




Saya paling senang kalau film Indonesia bertengger lama di bioskop yang mendominasi se-Indonesia raya itu. Artinya, peluang bersaing layar dengan film luar makin kompetitif. Seperti Si Doel The Movie yang masih tayang pada 22 Agustus 2018, sejak rilis di bioskop 2 Agustus 2018.

Yuk ah nonton film garapan Falcon Pictures dan Karnos Film ini, mumpung masih ada di bioskop. Beda loh sensasinya nonton film yang aman untuk remaja mulai usia 13 tahun, bareng kesayangan di bioskop. Eh, kesayangan itu banyak maksud loh ya, bisa jadi teman baik, sahabat, kerabat. Asal jangan bingung memilih aja, macam Si Doel yang lagi-lagi harus bersikap antara Sarah atau Zaenab.





ASEAN Car Free Day, Virus CFD dari Indonesia Menular ke Asia Tenggara



Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara atau ASEAN kini beranggotakan 10 negara, dengan Kamboja yang terakhir bergabung pada tahun 1999. Indonesia punya andil besar atas pendirian ASEAN pada 8 Agustus 1967. Sejak awal pendirian ASEAN, Indonesia terlibat aktif dengan tokoh Menteri Luar Negeri Adam Malik menjadi bagian penting dalam catatan sejarah.


Jadi ketika pada 5 Agustus 2018, di Jakarta, berlangsung peluncuran ASEAN Car Free Day (ASEAN CFD) tak mengherankan jika Indonesia kembali berkiprah. 

Lagi-lagi, Indonesia menjadi bagian penting dalam perjalanan ASEAN. Kali ini terkait dengan upaya promotif kesehatan. Bicara kesehatan banyak pihak semakin fokus pada preventif dan promotif, alih-alih kuratif. Mencegah jauh lebih baik dan efisien daripada mengobati, itu sudah pasti. 

Nah, untuk mewujudkan hidup sehat, para Menteri Kesehatan negara anggota ASEAN sepakat berkomitmen mengajak warga lintas bangsa bergaya hidup sehat. Hari Bebas Kendaraan Bermotor atau akrab disebut CFD menjadi salah satu caranya. 

www.wawaraji.com


Berikut kutipan rilis resmi ASEAN: 

Para Menteri Kesehatan ASEAN pada pertemuan dua tahunan (ASEAN Health Ministers Meeting/AHMM) pada bulan September 2017 di Brunei Darussalam membahas inisiatif untuk memperkuat komitmen Sektor Kesehatan ASEAN dalam mempromosikan gaya hidup sehat dan mengatasi ancaman yang utamanya ditimbulkan oleh penyakit tidak menular, seperti diabetes, kanker, penyakit kardiovaskular dan pernapasan, melalui ASEAN Car Free Day. Diharapkan ASEAN Car Free Day juga dapat menjadi sarana untuk menyatukan masyarakat serta berbagai sektor dan pemangku kepentingan, untuk bekerja sama dalam mengatasi masalah kesehatan masyarakat dan yang terkait, termasuk pengendalian polusi, promosi olahraga, keterlibatan pemuda dan masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan yang berwawasan kesehatan sangat diperlukan untuk menyehatkan masyarakat. 





Komitmen lintas negara ASEAN ini sejalan dengan program pemerintah kita untuk mengajak warga hidup sehat melalui GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat). 

Kembali ke ASEAN CFD, Indonesia bukan hanya jadi tuan rumah atau host country untuk peluncuran ASEAN CFD. Dengan bangga, saya bisa sampaikan, Indonesia tercatat sebagai negara pertama di ASEAN yang menjalankan CFD pada 2002. CFD di Indonesia diadopsi oleh Brunei Darussalam 2-3 tahun terakhir, menyusul Malaysia dan pada 27 Juli 2018 lalu Singapura juga mulai menjalankan CFD versinya. 


www.wawaraji.com 


Peluncuran ASEAN CFD ini menjadi satu lagi catatan sejarah kiprah Indonesia di tingkat Asia Tenggara. Kegiatan ini sekaligus merayakan hari jadi ASEAN ke-51, berbarengan dengan pemecahan Rekor MURI untuk Tari Poco-Poco Terbesar berlangsung di Jakarta. Ada sekitar 65.000 peserta terlibat dalam pemecahan Rekor MURI Tari Poco-Poco ini.


www.wawaraji.com

Hadir meresmikan ASEAN CFD di Ruang Heritage Kementerian Koordinasi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK): Menteri Kesehatan RI Prof Dr dr Nila Farid Moeloek SpM (K) , Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan Kemenko PMK RI dr Sigit Priohutomo, MPH, Secretary General of ASEAN HE Dato Lim Jock Hoi, Kepala Biro Kerjasama Luar Negeri Kemenkes RI Acep Soemantri, SIP, MBA. 


Menularkan “Virus CFD”

Sejak awal kemunculan CFD di Jakarta, saya sebagai warga Tangerang yang tinggal di perbatasan Jakarta, menyambut suka cita. Akhirnya, Jakarta tempat saya mencari nafkah, yang padat kendaraan, bisa bebas lega bernafas satu hari dalam sebulan. Warga Jakarta Raya seperti mendapat rejeki angin segar. Setidaknya sekali dalam sebulan bisa melenggang lega di jalan utama Sudirman-Thamrin, jantung kota Jakarta. 

Di CFD, warga berlari, jalan kaki, bersepeda berkumpul dengan tujuan sama, olahraga. Meski pada praktiknya, makin ke sini makin banyak tukang jualan dan jajanan, yang sebenarnya “merusak” makna olahraga dan hidup sehat. CFD di Jakarta pun akhirnya berlangsung seminggu sekali dan menular ke kota besar lain. 

Ternyata, menularnya "virus CFD" ini tak hanya di dalam negeri. Melalui ASEAN, pemerintah Indonesia juga mempelopori CFD di tingkat Asia Tenggara. 

Menkes RI Nila F Moeloek menyatakan tegas bahwa Indonesia yang pertama menjalankan CFD dan diadopsi negara lain seperti Brunei. 

Perwakilan negara anggota ASEAN lainnya, seperti Thailand juga mengakui CFD sebagai salah satu contoh aktivitas gaya hidup sehat yang bisa diterapkan di negaranya. Ini disampaikan saat peluncuran ASEAN CFD di Jakarta.

Selain sebagai wadah olahraga, CFD juga bisa menjadi ajang temu budaya. Peluncuran ASEAN CFD ditandai dengan pelaksanaan Tari Poco-poco yang bikin semangat dan mewakili budaya nusantara. 

Ke depan, kata Menkes RI, bisa jadi ASEAN CFD bisa dipadukan dengan tarian lintas bangsa negara anggota ASEAN. Wah, kebayang bakalan seru, ASEAN CFD bukan hanya jadi ajang olahraga tapi pertemuan budaya lintas bangsa Asia Tenggara.

Blogger Indonesia siap dukung? Yuk, kita bisa berkontribusi merekam jejak digital lewat konten positif di blog dan media sosial. 


Foto: Ono 

Mengenal Aset Digital Bitcoin Lewat Luno

 



Teknologi finansial atau Fintech makin canggih. Perkembangan fintech bukan lagi tentang uang atau transaksi elektronik dengan barcode misal, atau aktivitas cashless lainnya. Investasi pun sekarang sudah mengarah pada aset digital. Satu di antaranya adalah cryptocurrency yang sedang naik daun, Bitcoin. 

Kalau bicara investasi, umumnya masyarakat yang sudah melek investasi akan memilih sesuai tingkat risikonya. Investasi dengan risiko tertinggi atau high risk adalah saham. Sementara untuk investasi berisiko lebih rendah pilihannya reksadana, deposito, logam mulia, emas. 

Saya pribadi sudah pernah menjalankan investasi reksadana dan logam mulia, yang lainnya belum berani. Semakin tinggi risiko investasi biasanya akan memberikan high return atau keuntungan yang juga tinggi, namun sekali lagi risikonya pun tinggi. 

Nah, di era digital, investasi makin canggih lagi. Bentuknya bukan lagi bicara mata uang konvensional namun sudah digital atau digital currency. 

sumber: www.wawaraji.com 


Sistem dan perangkat teknologi yang makin canggih, dioperasikan oleh operator yang juga melek teknologi, menghasilkan pilihan investasi kekinian yang serba digital. Sasarannya tentu saja kalangan muda millennial yang gadget savvy. 

Ketika ponsel sudah menjadi benda kesayangan yang tak lepas dari genggaman, di situlah aplikasi jadi serba memudahkan. Cashless society makin kentara di kalangan millennial. Isi dompetnya bisa jadi kosong, namun semua uang tersimpan rapi di berbagai jenis aplikasi keuangan dan layanan digital. Celah inilah yang ingin digarap penyedia investasi digital currency termasuk Bitcoin yang mendunia.

LUNO 






Lewat Influencer Class yang diadakan Luno di Jakarta, saya jadi lebih mengenal bitcoin. Jujur, sesungguhnya saya awalnya menaruh curiga karena peraturan Bank Indonesia melarang Bitcoin untuk transaksi pembelian. Namun, setelah mempelajarinya bersama Vijay Ayyar, General Manager Luno dan Claristy, Operations/Growth Lead Luno Indonesia, wawasan saya tentang Bitcoin, sebagai salah satu digital aset, jadi bertambah. 

Bank Indonesia sebagai regulator keuangan resmi di Indonesia jelas melarang digital currency sebagai alat beli. Semua mematuhi ini dan pelaku investasi cyptocurrency pun memahaminya dan menghormati kebijakan ini. Sri Mulyani, Menteri Keuangan, menegaskan tidak ada larangan di Indonesia yang membatasi orang untuk investasi cryptocurrency, sebagai instrumen investasi. Artinya bebas saja ke pilihan masing-masing individu jika ingin mencoba investasi Bitcoin. Sekali lagi sebagai instrumen investasi bukan sebagai alat beli. 




Pada praktiknya, setiap negara memang menerapkan aturan atau kebijakan berbeda terkait Bitcoin. Kalau Indonesia melarang Bitcoin sebagai alat beli kopi misalnya di warung kopi, beda kondisinya dengan di Jepang misalnya yang membolehkan Bitcoin sebagai alat bayar. Setiap negara punya pertimbangan masing-masing, jadi tugas sebagai warga negara ya mematuhi ketentuan regulator saja. 

Nah, kalau berani investasi Bitcoin, Luno dengan aplikasinya bisa membantu. Saya sendiri sudah mencoba register dan akses aplikasi Luno. Interface nya memudahkan pengguna pemula seperti saya. Aplikasikanya mudah digunakan, user friendly, dan bisa dengan mudah memahami informasi di dalamnya. 

Luno adalah perusahaan global di bidang aset digital dengan dua juta pelanggan di 40 negara di dunia, dengan tim lebih dari 100 orang, berbasis di London dan memiliki kantor regional di Singapura dan Cape Town. Lewat Luno, pelanggannya bisa membeli, menyimpan, mempelajari aset digital seperti Bitcoin dan Ethereum. Dua aset digital ini paling populer se-dunia. 

Sejak awal 2016, Luno resmi menghadirkan layanannya di Indonesia. Dulu, namanya BitX kemudian berganti atau re-branding menjadi Luno. Pada 18 Januari 2018, Luno mendirikan Asosiasi Blockchain Indonesia, dengan tujuan menjadi wadah pelaku industri yang membangun kemitraan dengan pemerintah, untuk sukseskan era industri 4.0 melalui regulasi, inovasi, dan kolaborasi. 

Mengetahui bahwa ada perusahaan yang menaungi investasi aset digital di Indonesia, setidaknya menambah kepercayaan diri calon investor. Pasalnya, aset digital ini masih hal baru meski di negara maju sudah menjadi pilihan investasi era digital. 

Nah, kalau sudah merasa nyaman lantaran ada perusahaan penyedia layanan dan asosiasinya, sebagai calon investor wajib juga memahami apa itu Bitcoin. Saya sendiri masih terus belajar tentang Bitcoin, dan baru sekali ikut kelas edukasinya. 

Penjelasan dari Vijay Ayyar yang paling mengena di Influencer Class by Luno adalah investasi Bitcoin mirip seperti investasi logam mulia versi digital. Kalau pernah investasi logam mulia, tentu tahu ya, kita membeli logam mulia dengan jumlah gram tergantung dana investasi, dan harga per gram logam mulia bisa berubah, naik atau turun, banyak faktornya. Namun, investasi logam mulia dianggap dan dipercaya paling aman dan minim risiko karena tidak terlalu fluktuatif seperti saham atau investasi high risk lain. Menjual kembali logam mulia dengan harga yang menguntungkan juga sangat mungkin dilakukan. Syaratnya, sabar dan jadikan investasi logam mulia sebagai investasi jangka panjang.

Investasi Bitcoin mirip dengan logam mulia namun bentuknya tidak berwujud seperti emas batangan. Kalau saya menafsirkan, Bitcoin bentuknya data, big data, semua serba digital dan terkomputerisasi. Nilai investasi Bitcoin per 1 Bitcoin memang sangat tinggi, sekarang nilainya bisa mencapai lebih dari Rp 100 juta. Namun, investor pemula bisa membeli Bitcoin mulai Rp 100.000 atau 0,0001 Bitcoin. 

Sekali lagi, jika berani investasi Bitcoin, ini adalah bentuk investasi jangka panjang. Jadi jangan berharap untung maksimal dalam waktu dekat. Sebaiknya, gunakan dana khusus untuk investasi, bukan dana untuk kebutuhan sehari-hari jika ingin investasi Bitcoin. Harga Bitcoin sangat fluktuatif karena termasuk high risk high return investment. Harga Bitcoin sangat ditentukan oleh permintaan dan penawaran.

Jika berani investasi Bitcoin, perhatikan beberapa hal ini: 
1. Pilih perusahaan aset digital yang terpercaya.
2. Kenali tim di perusahaan aset digital apakah cukup handal.
3. Perhatikan sistem keamanan dari perusahaan aset digital tersebut, cari tahu seperti apa sistem pengamanannya.
4. Pastikan platform yang digunakan mudah dan user friendly, informatif dan mudah dipahami. 





Jika penasaran dengan Bitcoin bisa cari tahu tentang Satoshi Nakamoto, yang menjadi pelopor Bitcoin. Informasinya bisa didapatkan di www.bitcoin.org 

Itu dia yang saya pahami tentang aset digital, Bitcoin dan Luno sebagai penyedia layanan investasi aset digital. Kalau kamu punya informasi tambahan bisa share di komentar, seberapa kenal kamu dengan aset digital? Sekali lagi aset digital sebatas untuk investasi bukan alat tukar.