Kontrol “Baper” di Media Sosial dengan “Kopdar” Berkualitas




Setiap kata yang kita tuliskan ada pertanggungjawaban. Ini sudah menjadi prinsip saya, dan membuat saya sangat berhati-hati menulis, di media sosial, bahkan pesan singkat aplikasi chat apa pun, apalagi menulis di blog. 

Saya pernah menulis soal pentingnya kehati-hatian dalam blogging, belajar dari narasumber terpercaya, dan dari pengalaman pribadi. Karena itulah ketika menuliskan ini, saya sudah benar-benar yakini, bahwa sudah waktunya menulis, menyerap dari berbagai ilmu yang saya cari dan dapatkan begitu saja, juga dari analisis dan observasi postingan netizen di media sosial. 

Netizen saya bilang, termasuk blogger di dalamnya, juga nonblogger yang makin “candu” dengan media sosial dalam menyampaikan apa pun yang terlintas di kepalanya.

Ada teman saya bilang, di sebuah komentar di media sosial, bahwa tuliskan apa yang saya pikirkan tentang suatu kasus. Waktu itu tentang suatu kasus etiket dan attitude. Saya sudah sampaikan, saya akan menuliskan setelah merasa siap menuliskan, merasa sudah dibekali berbagai pengetahuan. Karena menulis hanya karena momentum atau menulis hanya karena ingin cepat merespons, apalagi dikuasai emosi, hasilnya hanya akan memperuncing. 

Menulis sebaiknya memang bermotif, dan alangkah lebih baik jika motifnya untuk memberi manfaat, meski pun pada akhirnya akan kembali kepada masing-masing persepsi yang menyerapnya, dengan berbagai latar dan pengalamannya.

Untuk menulis dengan motif memberi manfaat, bekalnya harus banyak atau setidaknya merasa cukup dibekali dengan berbagai contoh kasus dan referensi bacaan atau pengetahuan yang bisa dipertanggungjawabkan.  Nanti ya, di tulisan berikutnya saya bahas soal attitude (mudah-mudahan sudah cukup bekalnya).

Dan inilah satu tulisan berbekal pengetahuan dan fenomena media sosial belakangan. Tulisan media sosial, dari saya, yang masih newbie di dunia media sosial, yang masih terus belajar. 

Pendatang baru yang memberanikan menyebut diri sebagai Social Media Strategist, karena memang itulah yang saya kerjakan bersama Toska PR, memikirkan strategi media sosial dengan  pengetahuan dan pengalaman yang saya punya, yang ternyata ada manfaatnya untuk sebagian mereka yang masih belum memaksimalkan bahkan belum memulai fungsi media sosialnya.

Banyak sekali praktisi yang lebih mahir dari saya, namun setiap orang ada porsinya dan setiap porsi ada peluangnya. Mereka yang sudah lebih mahir, punya porsi dan peluang lebih besar. Kalau mau membuka mata dan wawasan kita, dunia digital sangat berkembang pesat, begitu banyak peluang dan kesempatan, untuk mereka yang mau belajar dan berani mengambil tantangannya juga jeli melihat peluang.

Baiklah, prolog saja sudah banyak paragraf. Kita mulai bincangkan “baper” dan “kopdar” lewat tulisan, judul yang saya pilih, saat bangun tidur di suatu pagi dan digerakkanNYA menulis ini.

“Baper” dan “Kopdar”
Saya beri tanda petik pada kedua kata itu, karena seperti kata guru bahasa saya, Anwari Natari, gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan beri tanda baca yang tepat, karena bisa jadi tulisan kita dibaca oleh berbagai lapisan masyarakat, yang belum tentu semua paham istilah yang barangkali sudah  dipahami sekelompok orang tapi tidak oleh kelompok yang lain. 

Berilah keleluasaan pada tulisan kita, dengan pengunaan bahasa yang baik dan benar, antisipasi saja kalau-kalau tulisan kita dibaca sampai Papua, yang belum semua paham apa sih “baper” dan “kopdar”. Tanda petik menunjukkan itu adalah kata khas yang umum digunakan di kalangan urban, belum tentu semua orang paham (meski mungkin hanya sebagian kecil saja yang tak paham).




Oke, kembali ke topik. Bawa perasaan atau disingkat baper, belakangan makin marak diperbincangkan, bahkan jadi pilihan judul tulisan media online, dengan tujuan supaya cepat ditangkap mesin pencari dan SEO berjalan dengan maksimal. Kopi darat atau kopdar, barangkali sudah sangat umum, apalagi bagi kalangan komunitas yang merujuk pada makna kumpul, pertemuan, tatap muka yang dilakukan berkala oleh sekelompok orang karena kesamaan kesukaan/hobi atau apa pun motif di baliknya.

Saya, sebagai pendiri dan pengelola komunitas, yang juga punya jabatan social media strategist di Toska PR (sebagai associate), punya tugas wajib (yang saya ciptakan sendiri), untuk memantau media sosial. Apa yang sedang ramai diperbincangkan, apa yang sedang menjadi perhatian, bahkan apa yang sedang menjadi krisis media sosial. 

Juga lewat media sosial, saya menganalisis penggunanya, bukan untuk menilai apalagi menghakimi, tapi sekadar menjadi bahan pembelajaran yang kemudian bisa saja menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan, sikap, apa pun itu yang terkait dengan pekerjaan profesional atau bahkan referensi pribadi.

Dari netizen saya banyak belajar. Boleh lah dibilang praktisi, yang memang saya terjun bebas ke ranah media sosial, setelah belasan tahun berjibaku dengan dunia media mainstream sebagai jurnalis profesional . 

Tak puas belajar dari netizen, saya pun mencari guru untuk belajar soal media sosial, terutama terkait etiket. Dari buku saya pun belajar soal media sosial. Workshop adalah sarana paling tepat untuk menambah pengetahuan, dan mencari workshop media sosial itu memang tantangan. Rata-rata training dan workshop media sosial itu mahal ongkosnya, wajar saja karena memang ilmunya sedang naik daun.

Kembali ke soal “baper” media sosial. Dengan berbagai pengalaman personal berselancar di dunia maya, dan mencari ilmunya inilah saya bisa lebih siap menyikapi media sosial dan dampak juga imbasnya.




Dari pembicara workshop (#BloggerHangout) Ferri Yuniardo, dari Channel Dikidi.com di BloggerDay 2017 inisiasi BloggerCrony Community (BCC), saya makin yakin dengan apa yang saya belajari otodidak soal media sosial. 

Bersyukur bisa berkolaborasi dengan @omferri  (akun Instagramnya) yang berkenan berbagi, untuk workshop komunitas, untuk people development, program BCC #BloggerHangout, jauh-jauh ke Bogor dari Bintaro.

Kata-kata @omferri yang paling mengena adalah (dalam penafsiran saya) jangan baper di media sosial karena sejatinya media sosial bukan dunia yang sebenarnya, bisa jadi yang disajikan adalah palsu, bukan sesungguhnya nyata persona pemilik akun itu, bisa jadi si pemilik akun medsos memang sedang melakukan pekerjaan dengan medsosnya, dengan memaksimalkan benefit dari jumlah followers yang dikumpulkannya susah payah. Bisa jadi apa yang disajikan benar adanya. 

Jadi, jangan “baper” apalagi mudah menyimpulkan segala sesuatunya. Lihat kondisi dan sikap saling mendukung satu sama lain, akan lebih baik diciptakan daripada mengomentari dengan nada negatif lantaran mungkin kita tak kebagian kesempatan pekerjaan itu, atau mungkin kita merasa tak memiliki apa yang sedang ditampilkan di media sosial. Sekali lagi “No Baper” di media sosial, begitu banyak makna dan semua kembali kepada pemahaman dan pengalaman masing-masing kita dalam mencerna maknanya.

Sebagai penikmat juga pegiat media sosial, saya lalu menyimpulkan, kita hanya perlu memilah mana yang asli dan palsu. Bagaimana bisa memilih dan memilahnya? Inilah alasan yang kemudian saya jadikan judul tulisan. 

Saya menjadi lebih yakin bahwa perjumpaan menjadi penting. Kebiasaan lama kita, “kopdar” yang mulai diambil alih teknologi dengan berbagai kreativitas inovasi dalam bentuk aplikasi dan lain sebagainya, perlu dipertahankan bahkan ditingkatkan, kualitas dan kuantitasnya.

Pertemuan, silaturahim/gathering, apa pun itu penyebutannya jelas punya dampak dan manfaatnya. Kita bisa saling kenal bukan hanya nama dan wajah, tapi juga pribadinya. 

Benar apa yang dikatakan @omferri bahwa media sosial itu palsu (maknai dengan melihat konteksnya loh ya). Bahwa apa yang kita baca di status medsos teman kita, teman baru, apalagi baru kenal di medsos, apa yang kita lihat dan rasa, tidak sepenuhnya demikian adanya.

Kita sungguh bisa lebih memaklumi dan tidak terpancing apalagi menambah keruh opininya di medsos, jika kita paham siapa dia. Pertemuan langsung dengan orang-orang yang kita sapa dan komentari di medsos, akan menambah pemahaman kita tentang apa yang dituliskannya. 

Kita menjadi orang yang tidak mudah merespons reaktif dan akan menyaring ulang apa yang akan kita sampaikan, karena kita sebenarnya paham, apa yang dimaksudkannya. Sebenarnya, jika dia sedang menulis sesuatu yang rasanya kok tidak sepantasnya menurut kita, maka karena kita sudah mengenalnya langsung, kita akan tidak mudah menghakimi dan cenderung akan memakluminya. Atau cara lainnya, tanda kita sayangi dia, adalah dengan menegurnya langsung, sekadar mengingatkan atau memberikan pembelajaran kalau memang kita punya kompetensi untuk itu dan kalau sudah sangat kenal baik. Jangan sampai juga niat baik malah salah makna dan bikin hubungan malah jadi runyam. Atau pilihan lainnya, lebih baik diam jika memang tak sepenuhnya paham dan tidak ada kepentingan. 

Hanya dengan kenal langsung, tatap muka, jabat tangan, berbincang mengenal pribadinya, lewat “kopdar” kita bisa memahami seseorang. Bukan dari statusnya di media sosial. Bukan dari kicauannya, bukan dari opini pribadinya yang kadang mungkin bablas tidak terkontrol olehnya. Namanya manusia, tiada yang sempurna, terkadang mungkin saja kita lupa bukan?




Hanya dengan kenal langsung, pernah menjabat tangannya, pernah berbicara atau setidaknya menyapa lewat “kopdar” kita jadi lebih mudah menyikapi apa pun postingan medsosnya. Bahkan kita bisa lebih bijak menyikapi postingannya. Yang pada akhirnya membuat media sosial bukan menjadi ajang perselisihan dan gosip, atau ajang saling menjatuhkan dan saling tunjuk, tapi menjadi ajang untuk kita saling memperluas jangkauan silaturahim dengan energi positif yang menyebarluas.

Sampai di sini saya jadi berpikir, ah mungkin memang kekisruhan di media sosial sengaja dibentuk atau sengaja diciptakan. Saking sederhananya, saya pernah menyimpulkan, oooh barangkali bikin “rame” dengan apa pun model  postingan medsos menjadi cara paling ampuh menarik perhatian dan traffic

Sama seperti media online tertentu yang kadang pakai judul bombastis atau sensasional agar target pageview tercapai. Tujuannya, tentu saja traffic tinggi. Kalau pengguna medsos, mungkin bisa menambah Klout Score sebagai salah satu penanda seberapa aktif seseorang di media sosial. Skor yang kadang (ulangi, kadang) jadi pertimbangan agensi dalam menyeleksi pengguna medsos mana yang tepat menjadi influencer untuk sebuah kampanye atau aktivasi media sosial, yang dilibatkan dalam pekerjaan profesional alias berbayar.

Saya sih percaya, menebar kebaikan di medsos juga bisa meningkatkan traffic. Kalau balik ke ajaran agama, bukankah sudah dituliskan untuk kita berlomba dalam kebaikan. Dan bukankah sudah dituliskan dan dijanjikanNYA bahwa dengan berbuat baik maka serahkan segala urusan kepada NYA karena DIA akan melipatgandakan kebaikan dengan caraNYA, bukan cara kita yang tiada daya, caraNYA yang akan mengangkat derajat kita dan memberikan balasan lebih dari yang kita kira, dengan terpenuhinya segala urusan dan rejeki tiada putus.

Maaf yaa diselipi “ceramah”. Saya memang tergerak untuk menyampaikan walau satu ayat, dengan cara saya, termasuk di media sosial. Tentu ada alasan di balik sikap saya itu, pasti ada alasan di balik segala sesuatu. Sekadar selipan, alasannya adalah almarhumah anak balita saya yang mengubah cara pandang saya atas dunia. Sudah itu saja.

Lanjut ke topik. Mengenal pribadi yang lebih sering berinteraksi dengan kita di medsos, lewat kopdar, sungguh bisa jadi bekal dalam kita bersikap/berkata/merespons apa pun postingannya di medsos. Akhirnya, kita bisa mengontrol rasa “baper” ber-medsos-ria karena sebenarnya “baper” itu bagian yang tak terpisahkan di medsos. Bahkan dengan kita sudah mengenal persona di medsos saja, sudah pernah menjabat tangannya, ketika sesuatu disampaikan di medsos, akan tetap muncul asumsi/prasangka yang membuat kita punya persepsi tertentu kepadanya. Bisa saja kita jadi menarik diri darinya karena postingannya itu, karena merasa “tersinggung” atau merasa tak nyaman lagi dengannya. 

Baper akan selalu menyertai aktivitas kita di media sosial. Namun saya percaya, dengan kita pernah bertatap muka, yang bukan sekadar kenal nama dan wajah, tapi berinteraksi langsung lewat momen silaturahim apa pun, kita akan lebih bijak mengontrol baper di media sosial.

Jika masih belum terkontrol bapernya, bisa jadi kualitas pertemuan di ajang kopdar belum maksimal. Tugas kita adalah menjadi pribadi yang lebih ramah dan hangat, sehingga saat kopdar, ajang yang sebenarnya sering terjadi, kita bisa berinteraksi lebih baik. Berkenalan dan berbincang, tulus, bukan berpura-pura atau formalitas semata. 

Tancapkan niatan, kita ingin mengenal lebih dekat, supaya bisa saling kenal, menjadi cara kita untuk menjadi pribadi lebih baik lagi karena punya niatan ingin mengontrol “baper”. Hanya jika percaya bahwa “baper” di medsos hanya akan merusak diri sendiri. Ya, hanya jika percaya demikian. 

Jika tidak, atau punya persepsi lain, silakan menjalani apa yang diyakini masing-masing, senyamannya. Kalau saya sih percaya, dengan kita mengenal pribadi secara langsung, berusaha kenal lebih dekat dengan setidaknya berbincang tentang pribadinya, kita bisa menumbuhkan pertemanan dan hubungan baik. 

Teman dan relasi yang terpelihara dari ajang silaturahim inilah yang saya yakini, menjadi harta termahal, karena kita tidak akan pernah tahu suatu waktu kita akan saling membantu dan membutuhkan, bukan atas dasar mencari keuntungan, tapi bagi saya, teman itu berharga dan dengan menjaga hubungan baik ada waktunya saat kita membutuhkan dukungan semangat, mereka yang akan datang dengan suka cita, tanpa diminta. 

Adakah yang lebih berharga dari hubungan baik yang terpelihara? Bukankah sudah menjadi rahasia umum bahwa silaturahim mendatangkan banyak rejeki, apa pun bentuknya, tak melulu soal uang.

Nah, soal kopdar. Saya sempat membaca sebuah postingan di medsos. Posting berupa komentar tersebut menjadi sebuah harapan sebenarnya, dalam persepsi saya. Harapan atau barangkali juga kritik, tentang kualitas kopdar masa kini. Dalam hal ini konteksnya dunia blogger.

Komentar sederhana dan singkat tersebut, bagi saya, menggambarkan kondisi atau fenomena dunia blogger bahwa kopdar yang terjadi sekarang ini kebanyakan karena suatu acara atau event. Bukan kopdar seperti blogger era lama, yang bisa saya pahami, kondisinya berbeda dan semangatnya memang beda. Saya pahami ini karena saya pernah berdiskusi dengan salah satu blogger yang mengikuti perkembangan dunia blogging dari jaman ke jaman.

Saya persepsikan begini, dulu, di masanya para penggagas blogging, era para pelopor blogging, kopdar murni silaturahim. Semangat kebersamaan yang tinggi, kumpul saja tanpa ada maksud apa-apa. Kopdar selayaknya banyak komunitas lakukan.

Kini, di saat blogger makin menjadi incaran agensi, brand, dan menjadi partner kerja profesional, kopdar lebih sering terjadi karena adanya sebuah event, bukan kopdar murni inisiatif beberapa atau sekelompok orang karena merasa perlu berkumpul berkala.

Bagi saya, semua terjadi sudah atas kehendakNYA. Sesederhana itu saja menyikapinya. Semua terjadi karena ada alasan, pasti ada sebabnya. 

Benar bahwa kopdar blogger era kini lebih banyak terjadi karena event, tapi saya juga melihat, di luar itu masih ada yang berkumpul dengan caranya masing-masing. Masih ada sekelompok kecil blogger yang kumpul, nongkrong sampai lupa waktu, sekadar rujakan atau ngopi bareng memanfaatkan "buy 1 get 1". Masih ada kok blogger yang silaturahim mendatangi satu per satu, ngobrol, saling mengenal apa pun motif dan tujuannya. Masih ada hanya memang tak terlihat karena tertutup oleh seringnya event yang mempertemukan blogger lintas generasi lintas masa lintas platform.

Kopdar murni atau kopdar event untuk blogger berjalan mengalir begitu saja. Semua terjadi ada asal muasalnya. Panjang lagi kalau mau membahas ini. Yang pasti eranya memang sudah berkembang dan bagaimana kita menyikapi perubahan, itu yang semestinya menjadi perhatian bersama, jika kita peduli dan mau bersusah payah memikirkan ini.

Seperti saya sebutkan sebelumnya, kualitas atau kuantitas kopdar, itu yang perlu jadi perhatian bersama. Sekali lagi, jika memang peduli dan mau memperbaiki keadaan ini.
Kuantitas kopdar blogger misalnya, menurut saya, banyaaaak dan sering, meski memang masih terpusat di ibukota. Bahkan kota besar lain di luar Jakarta saja masih bisa dihitung jari event/kegiatannya. Padahal, teman baik saya di Lombok bilang, blogger makin berkembang di Lombok. Kondisi yang sebenarnya perlu dipikirkan, komunitas,  agensi, brand, korporat jika mau mengembangkan sayapnya adalah dengan lebih mempertimbangkan jelajah kota seluruh Indonesia, bukan hanya Jakarta.

Namun memang kualitas kopdar, itu yang menjadi perhatian bersama. Memanfaatkan kopdar event untuk lebih mengenal sesama teman blogger, itu menjadi cara paling mudahnya. 

Saya sendiri sudah mempraktekkan ini sewaktu menjadi jurnalis baru di perusahaan media besar ternama pada 2010 lalu. Meski nama besar media saya sudah menguntungkan, tak sulit untuk membranding diri atau mengenalkan diri agar bisa membaur dalam lingkungan jurnalis di lapangan, bersama para senior atau sesama jurnalis baru. Namun, bagaimana sikap kita saat bertatap muka, bagaimana pembawaan diri (dengan tetap menjadi diri sendiri namun menyesuaikan lingkungan baru), dan cara kita berinteraksi akan menentukan keberhasilan kita membranding diri dan menjadi bagian dari komunitas tersebut. Sehingga akhirnya berhasil membaur, dikenal, dan memiliki banyak teman baru dan membina relasi positif sehingga mendatangkan kebaikan untuk kita, apa pun bentuknya. 

Saya bisa bilang, dengan sangat percaya diri bahwa relasi positif yang kita bangun dan jaga bertahun-tahun, akan berdampak dan membawa manfaat untuk kita kemudian hari. Saya yakini dan bisa yakinkan itu.

Kopdar blogger adalah ajang untuk membangun hubungan baik itu. Pada akhirnya, kita pun bisa mengenal baik setiap pribadi blogger. Jadi, ketika dia mungkin ada kalanya terselip lidah, posting sesuatu yang bikin “baper”, kita bisa kontrol diri, tak mudah terhasut dan bisa menyikapinya cukup dengan senyum atau komentar tanpa menunjukkan “baper”.

Saya jadi membayangkan apa jadinya kalau netizen termasuk blogger bisa lebih bijak dan matang dalam menggunakan medsos. Rasanya tak perlu khawatir traffic akan menurun drastis lantaran tak ada lagi “drama” dan “baper”.  Barangkali akan tercipta satu kondisi medsos tetap riuh ramai, karena energi positif menyebar, semua saling dukung beri likes dan komen tanpa “baper”. 

Seperti kata @omferri kalau orang Indonesia pelit kasih like atau retweet, beda dengan orang Malaysia yang meski followers tak seberapa tapi rajin mengapresiasi dengan like  saja misalnya. Saya merasakan sendiri soal ini, memiliki teman baru di Malaysia, berkat kesempatan luar biasa menjadi peliput Malaysia Fashion Week, lalu hubungan berlanjut di media sosial, memang benar, mereka rajin beri like di postingan Instagram dan Facebook. Saya jadi malu, karena saya masih termasuk orang Indonesia kebanyakan yang enggak rajin beri likes.  Barangkali saya masih gagap, karena belum sebegitunya memantau postingan teman. Yang pasti jangan sampai kita enggan beri like karena “baper” apa pun itu alasannya silakan tafsirkan sendiri.

Demikian. Panjang lebar tulisan yang saya sadari ada pertanggungjawabannya dalam menyampaikan setiap katanya. Semoga ada manfaatnya, dan semoga enggak pakai “baper” ya membacanya. Kalau masih “baper” yuk kenalan lagi sama saya, kita ngopi ajah, tapi saya pesannya cukup teh ajah yah (yang kenal saya pasti tahu saya bermasalah dengan kopi). Yuk, kopdar! Salam hangat.











4 Tahun Dahayu dengan Pesan Istimewa



HARI INI, empat tahun lalu, 28 Februari 2013, DAHAYU, anakku, lahir atas kehendak Allah dengan bantuan dokter kandungan yang “berjihad di jalan sepi”. Dia membantu banyak ibu melahirkan dengan tidak membebani biaya yang memberatkan. Dia menjadi perantara Tuhan menyelamatkan ibu dan Dahayu, dari risiko kematian, akibat pendarahan dengan kondisi plasenta previa. 



Hari ini, empat tahun kemudian, Dahayu bahagia di Surga, dan semakin banyak pesan yang “dititipkan” kepada kami orangtuanya, terutama kepada ibu.

Ini cara saya, ibu yang memperingati hari jadi anaknya di surga. Cara yang istimewa, rasanya takkan ada yang mau bertukar peran dengan saya. Peran yang harus saya jalani dan semoga dimampukan meski kadang iman naik dan turun dengan mudahnya. Atas izinNya, doa untuk selalu diberi petunjuk menuju jalan lurus, memudahkan untuk menaikkan kembali iman dan kadang menurun dengan drastisnya. Allah maha membalikkan hati, dan itu nyata terjadi pada saya.

Ini cara saya, sekadar berbagi apa yang dirasa, pengalaman ibu #CeritaIbu, yang barangkali ada manfaatnya. Catatan perjalanan yang barangkali ada manfaatnya, sekecil apa pun itu, untuk sesama ibu dengan takdir yang sama, atau setidaknya untuk membantu berempati terhadap ibu yang berpisah dengan anaknya. Sungguh, bukan masa yang mudah dijalani, tidak mudah.

#CeritaIbu
Dahayu, 24 Februari 2017, Ibu menulis di laman #CeritaIbu. Spontan saja menulisnya, hanya menumpahkan isi kepala yang rasanya semakin berat.

Menuliskan perasaan dan pengalaman bukan hal baru. Ibu sudah menjalaninya sejak usia dini. Begitu banyak buku diary di rumah nenek dan rumah kita, berisi catatan perjalanan dan pengalaman ibumu ini nak. Membacanya kembali sungguh meneguhkan bahwa memang menulis adalah cara ibu terapi diri. Jika tidak, barangkali saat ini entah apa jadinya ibu dengan rasa yang terpendam tak tersalurkan.



Jumat, empat hari lalu, ibu menulis tentang kakek Dahayu. Menulis apa yang dirasa dari kejadian yang terekam di kepala sekian waktu, digabung dengan peristiwa yang terjadi beberapa hari sebelumnya. Ibu sakit lagi nak. Maafkan kalau Dahayu tak suka dengan ibu yang keliru merawat diri. Tak mudah menjalani hari tanpa anak ibu, kesayangan semata wayang. Rasanya tiada satu hari pun ibu tak memikirkan Dahayu. Bahkan kadang, tangis meledak hanya karena pikiran melayang dan terpicu nyanyian syahdu yang tak ada kaitannya dengan Dahayu. Tangisan yang hanya didengar oleh ayahmu yang penyabar, tak ada orang lain yang mendengarnya. Tak ada.

Kejadian antara ibu dan kakek saat ibu sakit, sungguh membuka mata. Ibu melemah seminggu sebelum hari jadi mu Nak. Ada kah pesan di balik itu? Pasti ada, karena ibu menemukan banyak makna. Februari adalah bulan spesial kita, saat Tuhan berkata, kalian berdua diperpanjang kontraknya, dengan kita berhasil hidup di masa kritis kelahiranmu. Hidup kita adalah anugerah. Karena itulah ibu memutuskan berhijab sebagai bentuk syukur atas perpanjangan umur. Nah kan, Dahayu ibu melantur. Begitu banyak pesan yang kamu “titipkan” kadang membingungkan harus mulai bercerita dari mana.

Ibu menulis tentang kakek yang begitu khawatir dengan kondisi ibumu, Nak. Ibu bisa paham, rasanya menjadi orangtua yang khawatir saat anaknya sakit. Kejadian itu, membuat ibu ingin membahagiakan kakek dan nenek sebisa ibu.

Selang tiga hari, ibu punya cerita baru. Seminggu di rumah saja mengistirahatkan tubuh, membuat ibu sempat singgah ke rumah nenek. Ibu membongkar sisa barang lama di rumah nenek, mencari buku atau apa pun yang barangkali penting untuk dibawa pulang.
Ibu selalu percaya nak, selalu ada alasan di balik kejadian. Sakitku membawaku pulang ke rumah nenek, sedikit berbincang dan membereskan kamar kita dulu Dahayu. Tangan ibu digerakkan ke laci lalu ke box yang masih bertumpuk di kamar yang sekarang ditempati kakek. Kakek selalu istirahatkan tubuhnya di ranjang kita nak. Tapi maaf ya, foto mu tak lagi dipajang. Tak apa ya nak, kasihan kakek yang tak bisa menahan rindunya bahkan ketika tak sengaja melihat foto itu.



Dari sebuah boks, ibu temukan satu buku agenda tahun 2007. Ibu memang selalu suka mencatat kejadian hari per hari. Beruntung, sejak dulu bekerja menjadi pewarta, selalu saja mendapatkan buku agenda dengan mudahnya, gratis, bonus dari bekerja.
Ibu bawa pulang buku itu. Ibu baca di sofa merah kita, di depan ayah. Tak ada satu lembar pun yang ibu lewati. Buku itu bercerita tentang perjalanan ibu menekuni pekerjaan impian sebagai wartawan. Bagaimana perjalanan ibu mewujudkan impian itu, perlahan dan bertahap, panjang sekali prosesnya. Sampai akhirnya ibu menemukan tulisan, tentang nenek.

Ibu tidak bercerita apa adanya tentang nenek. Tapi cerita perjalanan ibu sebagai anak perempuan, adik perempuan, satu-satunya di keluarga dengan dominasi enam laki-laki, tentang pergulatan anak perempuan, tentang perjuangan menafkahi diri, tentang perjuangan untuk keluarga dan cinta.

Nak, dari rangkaian cerita itu, ibu menyimpulkan melalui tangisan menjadi di kamar mandi. Bahwa ibu, atas kehendak Allah, dilahirkan dari rahim nenek, untuk dipersiapkan menjadi ibu Dahayu. Menjadi ibu dalam 3,5 tahun saja. Menjadi ibu yang kuat karena lahir dari rahim nenek yang sangat kuat.

Dahayu belum bisa paham kalau ibu ceritakan, tentang kakak pertama ibu yang “sakit” lebih dari 20 tahun lamanya. Nenek, atas kehendak Allah, kuat bertahan dengan iman yang justru semakin naik tingkat. Nenek, menjalani takdirnya, merawat dan berikhtiar yang terbaik mental dan materi, untuk kesembuhan anak pertamanya. Lebih dari 20 tahun Dahayu, bayangkan. Ibumu ini menjadi bagian dari proses penyembuhan itu. Menjadi bagian dari “sakitnya” itu. Dan sungguh tak mudah menjadi anak perempuan untuk tumbuh dengan kondisi keluarga yang diuji mental dan materi, lebih dari 20 tahun.
Entahlah bagaimana menceritakannya nak. Hanya Allah yang tahu. Tapi ayahmu tahu Dahayu. Dia lah teman setia ibu, soulmate ibu sejak kami pertama kali bertemu tahun 2000. Dia paham kesulitan yang ibu hadapi sedari dulu.

Dahayu, jelang hari jadimu, ibu mendapatkan pesan baru. Bahwa kalau bukan karena nenek yang memberi contoh bagaimana menjadi ibu yang tangguh dan menjalani hidup dengan iman, ibu takkan bisa menjadi seperti sekarang.

Nenekmu sangat hebat. Ibu yang luar biasa hebat. Bertahan dalam iman untuk mendapatkan ridha Allah dengan mengurus tujuh anaknya yang hidup, satu meninggal saat bayi. Mengurus keluarga dengan menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah. Membaca Al-Quran ketika hatinya gundah. Berdoa bertahun-tahun dan berikhtiar untuk kesembuhan anak pertamanya. Dan Allah mengabulkan doanya, lebih dari 20 tahun berikhtiar. Allah memberi juga hadiah, dengan dimampukan Umrah atas kebaikan hati bibi dan adiknya. Nenek tak mampu menabung untuk Umroh apalagi Haji Dahayu karena hartanya dipakai terus menerus untuk pengobatan anak pertamanya, untuk kesehariannya.

Ibumu ini, belum banyak memberi. Ibumu ini berupaya mencari nafkah dengan terus mencari pekerjaan yang layak gajinya, untuk membantu nenek sebisanya. Ibu pernah menjadi anak perempuan yang sangat memikirkan bagaimana beban nenek lebih ringan. Meski tak pernah memberikan seluruh gaji, setidaknya ibu hidup mandiri untuk tidak pernah membebankan segala kebutuhan ibu kepada nenek. Bagaimana kakek dan nenek berikhtiar keras membayar uang kuliah sampai meraih gelar sarjana sudah cukup menjadi modal bagi ibu. Setelah itu, hidup mandiri dan berusaha membantu menjadi fokus hidup anak perempuan yang belum banyak memberikan bantuan ini.

Nenekmu Dahayu, melahirkan ibumu ini  dengan memberikan contoh senyatanya, bahwa hidup atas kehendak Allah, harus dijalani dengan kekuatan iman, sesulit apa pun itu. Merekam jejak Nenek, apa yang ibu jalani ini rasanya belum apa-apa, meski tak bisa serta merta dibandingkan. Nenek pernah kehilangan anak perempuan. Nenek berjuang untuk kesembuhan anaknya puluhan tahun lamanya. Nenek, adalah alasan lain untuk ibu bangkit setiap kali terpuruk.



Dahayu, empat tahunmu, membawa begitu banyak pesan. Bahwa kita punya teladan kehidupan dengan penyerahan sepenuhnya kepada Allah. Teladan itu, Kakek dan Nenek. Mereka ada untuk menularkan kekuatannya kepada ibu. Bahwa adalah takdir ibu untuk hanya merawatmu tiga tahun saja, sudah digariskan. Bahwa ibu lahir dalam keluarga yang berjuang dalam hidupnya,sudah digariskan. Karena ketika kini, ibu harus menjalani hidup terpisah alam dengan Dahayu, ibu menjadi kuat, karena ada Kakek dan Nenek sebagai pengingat bahwa takdir harus dijalani dengan ridha. Ikhlas memang tak mudah, tapi Kakek dan Nenek sudah mencontohkannya, dan ibu hanya perlu menirunya.

Pesan sahabat Ibu yang seperti saudara, Mila, juga menguatkan ibumu Nak, “she only have happiness, and she wants her parent do to!....she isn’t dissapear but u just only can’t see... she always beside you closer than you think...”


Dahayu, “selamat ulang tahun” Nak. Bahagia di surga. 


Ada yang Bisa Saya Bantu?


“Hai, Apa yang bisa kubantu?”

Pertanyaan macam ini, barangkali sudah mulai jarang disampaikan, ketika memulai suatu pertemuan/percakapan baik dengan kawan lama, apalagi teman baru.

Sebenarnya pertanyaan ini muncul saat aku dalam perjalanan beraktivitas, kalau tak salah perjalananku waktu itu baru memasuki kawasan Senayan, melewati TVRI, menuju Gatot Subroto. Berada dalam kendaraan, dengan suara penyiar Desta-Gina yang jadi backsoundnya, menelusuri jalan raya di bawah rindangnya pepohonan hijau, di sampingku pasangan hidupku dengan setia menemaniku ke mana saja kalau waktunya bisa.

Pikiranku memang kerap menerawang ke mana saja, memaknai apa yang terjadi kemarin, hari ini, atau apa saja yang bisa memunculkan inspirasi. Memaknai setiap peristiwa yang terjadi, sekecil apa pun itu, buatku menyenangkan, untuk lebih memaknai hidup dan tidak membuat nafasku sia-sia termakan emosi/amarah, tapi justru memikirkan apa yang sebenarnya Tuhan mau aku pelajari dari setiap peristiwa yang mau tak mau harus kujalani.

Aku sebenarnya lupa, apa yang menjadi stimulan dari munculnya pertanyaan itu. Yang kuingat, aku sedang memikirkan sesuatu, dari berbagai pertemuan-pertemuan, dari berbagai urusan harian, sampai muncul pertanyaan-pertanyaan ini:

Kenapa yaaa makin banyak orang yang sulit sekali bertanya dengan santun, atau menyapa atau bertanya atau berkata dengan santun, ketika ada orang lain yang membutuhkannya?

Kenapa ya segala sesuatu itu harus serba diperhitungkan? Sebenarnya bisa saja sebuah pertemuan sebuah urusan diawali dengan kata “Ada yang bisa kubantu?”

Kenapa yaa manusia sudah begitunya perhitungan? Ada kah pengalaman buruk yang pernah dialaminya sehingga sebegitunya bersikap? 

Apakah memang sikap melayani membantu sesama untuk kebaikan bersama memang sudah tak lagi penting dan semua jadi serba berjarak, hubungan jadi begitu transaksional?

Entahlah. Tapi dari pengalamanku bertemu beragam tipe manusia. Belajar dari pertemuan-pertemuan. Memahami makna hidupku dengan perjalananku yang berat (menurutku) terutama sejak perpisahan selamanya dengan anakku, aku belajar.

Semua pertanyaan-pertanyaan itu, yang menari-menari di kepalaku, kujawab dengan tulisan sederhana ini, yang kubuat dalam perjalanan dalam kendaraan hari itu. Ini kataku, dan rasanya ingin sekali kubagi dengan pembaca blogku, siapa pun kamu…

Apa yang bisa kubantu?
Yakininilah dengan segenap jiwamu, bahwa apa pun kesibukan kita, selama diawali dengan niat baik, dilakukan dengan cara baik, maka DIA ridha atasmu. Yakinilah berkah melimpah akan datang dengan caraNYA dari segala penjuru dan berbagai cara.

Tapi tunggu dulu, jangan berharap dengan begitu hidupmu akan selalu nyaman. Akan tetap datang kesulitan, tapi yakinilah kemudahan kemudian datang menggantikan. Berapa lama waktunya? Tergantung kehendakNYA atasmu.

Jika ingin DIA berkehendak cepat mengatasi masalahmu, maka berbuatbaiklah kepada sesama. Setahuku, DIA akan senang ketika kita berhasil menjadi pemimpin yang baik untuk diri sendiri dan orang lain.

Rasa kasih yang kita pelihara, tanpa memandang bulu, akan memunculkan rasa cinta yang membuat kita semakin tunduk malu kepadaNYA. Membuat kita lebih mampu bersujud dengan sepenuh hati, merindu dan mencinta NYA. Cinta itu lah yang menyelamatkanmu, dalam hidup, kini dan nanti.

Jadi, ada kah yang bisa kubantu? Bukankah meringankan/menyenangkan orang lain menjadi bekal hidup yang membawa berkah tiada putus karena DIA menyukainya.

Hamil Sehat dengan Telaten Merawat Gigi dan Kulit


Kehamilan membawa perubahan hormonal pada perempuan. Setiap perempuan punya perjalanannya masing-masing, tidak pernah ada satu pun cerita sama persis dalam kehamilannya. Bagaimana tubuh merespons kehamilan, perubahan hormonal seperti apa dan bagaimana dampaknya ke fisik dan psikis perempuan, tak pernah ada yang sama. Bagaimana cara baik dan benar merawat tubuh selama hamil juga penting diperhatikan supaya kehamilan sehat dan risiko kehamilan yang bisa saja terjadi dapat terhindari.

Kalau soal cerita kehamilan, saya yang pernah dua kali hamil, perubahan hormonal membawa perubahan yang justru baik untuk kulit misalnya. Barangkali karena impian punya anak yang terwujud membuat saya sangat bahagia. Maklum, butuh perjuangan untuk bisa hamil, menunggu hampir dua tahun dari setiap kehamilan. Ketika hamil, kebahagiaan luar bisa rupanya berdampak pada tubuh saya fisik dan mental.

Soal kulit misalnya, dulu saya bermasalah dengan kulit wajah dengan jerawat yang sangat menganggu. Entah berapa kali ganti dokter kulit untuk merawat jerawat yang sangat meruntuhkan kepercayaan diri saya. Ajaibnya, ketika hamil, saya tidak berjerawat, kulit saya cenderung baik, dan setelah melahirkan pun saya justru tidak lagi mengalami masalah besar di kulit wajah. Masalah fisik lainnya, seperti kelebihan berat badan rasanya lumrah untuk perempuan berpostur besar seperti saya yang mudah sekali gemuk dan sulit turun berat badannya.

Masalah kulit yang umum dialami ibu hamil seperti stretch mark juga tak saya alami. Saya sempat berpikir barangkali karena saya dulunya rajin pakai skincare, memulas lotion pada tubuh, bikin tubuh saya lebih terjaga kelembabannya. Sehingga saat terjadi perubahan kondisi kulit saat hamil, dengan janin semakin membesar, maka guratan kulit selama kehamilan tidak saya alami. Ternyata bukan hanya soal itu, banyak faktor terjadinya stretch mark.

Dari literatur yang saya baca terutama dari situs Bidanku, stretch mark pada ibu hamil terjadi karena faktor hormonal dan sebagian juga karena faktor genetik. Artinya memang ada perempuan yang secara genetik akan lebih besar kemungkinannya mengalami stretch mark. Umumnya bahkan sampai 90 persen perempuan hamil akan mengalami stretch mark tapi memang ada juga yang tidak. Banyak faktornya, salah satunya menjaga pertambahan berat badan selama kehamilan agar tidak berlebihan juga berpengaruh. Sebaiknya jangan berlebihan, dan asupan juga perlu diperhatikan seperti air putih dan vitamin, juga perawatan kulit pun ternyata penting diperhatikan.

Seperti saya katakan sebelumnya, tidak pernah ada kondisi kehamilan yang sama antara satu perempuan dengan yang lainnya. Baik soal masalah kulit yang dialami saat hamil, termasuk soal kesehatan mulut dan gigi.

Nah kalau soal kesehatan mulut dan gigi, saya memang memberikan perhatian lebih. Saya jarang sakit gigi, tapi sering bermasalah dengan gusi. Ini sudah menjadi perhatian saya sejak masa kehamilan 5 tahun lalu. Jika dalam keadaan tidak hamil, gusi kerap bermasalah seperti berdarah saat sikat gigi, perempuan perlu lebih waspada. Peringatan ini saya dapati kembali saat menghadiri Pembukaan Amara Skin & Aesthetic Center RSU Bunda Jakarta.

Opening Amara Skin & Aestethic Center RSU Bunda Jakarta


Klinik yang memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut, kulit dan kelamin, ini sudah beroperasi sejak 2016 dan resmi dibuka 2017. Dengan tenaga medis RSU Bunda yang multispecialist, klinik ini memudahkan pasiennya untuk mengkonfirmasi kondisi kesehatannya. Dari pemeriksaan awal, jika memang diperlukan pemeriksaan spesialis lain, akan lebih mudah bagi Amara Skin & Aesthetic Center untuk segera merujuk ke unit lain di RSU Bunda Jakarta.

Risiko Kehamilan
Perawatan tubuh ibu hamil bukan hanya berdampak pada fisik yang jadi lebih terawat dan bukan semata urusan kecantikan. Ibu hamil yang telaten merawat anggota tubuhnya, dengan cara baik dan benar, ternyata berdampak pada kesehatan dirinya, kehamilannya, dan meminimalisasi risiko kehamilan.

Penjelasan drg Mira Madjid, MPH Sp Perio membuka kembali ingatan saya soal kesehatan mulut dan gigi saat hamil. Bahwa masalah gigi dan mulut yang tidak tertangani dengan baik bisa menimbulkan risiko infeksi pada ibu hamil, yang bisa berdampak infeksi pada janin, kemudian berpengaruh pada kelahiran prematur.

Tanpa sadar, kebiasaan tak sehat seperti tidak rutin membersihkan mulut dan gigi, baik kumur atau pun sikat gigi, berdampak pada kesehatan perempuan.

Perempuan memang harus terawat, bukan perkara kecantikan, tapi soal kesehatan. Jika pada akhirnya perawatan tubuh dengan alasan kesehatan, berdampak pada kecantikan, itu bonusnya.

Urusan kesehatan perempuan kadang memang kerap dipandang sepele, padahal dampaknya luas, apalagi saat hamil.

Seperti dikatakan drg Mira Madjid, ibu hamil misalnya kerap mengalami pembengkakan gusi bahkan pendarahan gusi. Kenapa bisa terjadi? Lagi-lagi ini dampak perubahan hormon pada ibu hamil. Terjadi pelunakan dari jaringan daerah gusi akibat peningkatan hormon saat hamil, kadang timbol benjolan berwarna kemerahan pada gusi, dan gusi berdarah.

Kalau kondisi seperti ini diabaikan, dan menjadi lebih serius, infeksi pada gigi ibu hamil bisa menginfeksi janin dalam kandungan. Pada banyak kasus jika kondisi seperti ini tak tertangani dengan baik dapat berkontribusi terhadap terjadinya berat bayi kurang saat lahir dan kelainan dini termasuk kelahiran prematur.

Langkah sederhana supaya ibu hamil telaten merawat kesehatan mulut dan gigi antara lain:

Sikat gigi teratur dua kali sehari, lakukan dengan cara yang baik dan benar bukan asal sikat gigi.

Jika suka mual kalau sikat gigi, setidaknya berkumurlah dengan air garam hangat. Cara sederhana ini bisa meminimalisasi risiko radang gusi. Karena semasa hamil dengan perubahan hormon pada perempuan membuat gusi cenderung lebih sensitif.

Pemeriksaan gigi rutin, tiga bulan sekali, termasuk saat hamil untuk pembersihan gigi dari penumpukan plak sekaligus memastikan tidak ada risiko radang gusi. Karena kalau gusi mudah berdarah atau sikat gigi seringkali berdarah itu sudah petanda terjadinya radang gusi.

Waspada Radang Gusi 


Lain lagi soal kulit. Perempuan yang kurang telaten merawat kulit, apalagi saat hamil, dengan banyaknya perubahan kondisi akibat perubahan hormonal, juga bisa menimbulkan berbagai risiko masalah kulit seperti kulit berjerawat (umumnya ibu hamil rentan berjerawat karena perubahan hormon). 

Kenapa merawat diri penting? Karena memang ibu hamil terutamanya cenderung mengalami masalah jerawat dan flek saat hamil. Ibu hamil juga cenderung mengalami bercak kulit yang lebih gelap karena hiperpigmentasi akibat perubahan hormonal. Tak heran jika kulit jadi lebih gelap karena ada peningkatan produksi melanin di kulit. Semua masalah ini bisa diatasi dengan perawatan kulit ibu hamil yang aman asal menghindari beberapa bahan kosmetik tadi yang menimbulkan pengelupasan.

Mitos mengenai perempuan tidak boleh pakai perawatan kulit saat hamil menjadi penyebab lain yang membuat perempuan khawatir merawat diri menggunakan skincare tertentu saat hamil.

Dr Rachel

Soal ini, dr Rachel Djuanda SpKK mengatakan memang ada beberapa  bahan kosmetik yang dilarang digunakan yakni kandungan Asam linoleic dan hidrokuinon. Namun kalau untuk perawatan kulit dengan pelembab dengan kandungan AH, DHA, masih aman digunakan ibu hamil.

Soal perawatan kulit bukan hanya semata urusan sepele, kecantikan saja. Masalah kulit pada beberapa kasus, menurut dr Rachel, membutuhkan penanganan dokter spesialis. Artinya, masalah kulit pada perempuan terutama saat hamil bisa dihindari dengan perawatan yang baik dan abaikan mitos yang mengatakan ibu hamil tidak boleh menggunakan produk perawatan kulit. Nah, sebaiknya memang konsultasikan ke dokter kulit jika ingin lebih yakin soal pemilihan produk perawatan wajah.

Di balik semua perawatan fisik ini, yang tujuannya adalah menjaga kesehatan tubuh, menjaga asupan makanan dan minuman tentunya penting bagi ibu hamil termasuk olahraga ringan.

Makanan yang Menunjang Kesehatan Gigi dan Mulut


Honestbee Bikin Hemat Tenaga Berkat "Asisten" Belanja

Tunggu Saja di Rumah, Belanjaan Akan Datang Dikirim Asisten Belanja

Soal belanja kebutuhan rumah tangga, inginnya sih serba hemat. Ya hemat uang, hemat waktu, hemat tenaga.

Hadirnya belanja online, juga minimarket yang makin dekat dengan perumahan warga, memang sudah memberikan solusi. Namun ternyata, kreativitas di era digital melahirkan banyak lagi pilihan solusi belanja.

Saya menemukan satu lagi solusi belanja, terutama untuk kebutuhan rumah tangga dengan hadirnya Honestbee di Indonesia.

Honestbee? Masih belum familiar ya? Sama, saya juga. Sampai akhirnya saya menghadiri undangan Media Launch Honestbee di Jakarta.  

Media Launch Honestbee di Jakarta 2017

Honestbee adalah merek dari sebuah penyedia layanan belanja dan pengiriman online, berbasis di Singapura, yang sudah beroperasi di kota besar di Asia sejak 2015. Nah, setelah berhasil beroperasi di Singapura, mulai 2017, Honestbee ekspansi ke Indonesia. Selain layanan ini pun sudah tersedia di Hong Kong, Taiwan, Jepang, Malaysia, Thailand. Enggak ketinggalan dong Indonesia dengan negara Asia lain yang sudah lebih maju. 

Di Indonesia, untuk belanja kebutuhan keseharian, barang-barang penting untuk rumah tangga, Honestbee resmi bekerjasama dengan jaringan Transmart Carrefour se-Jadetabek.

Kalau soal belanja online,  menurut riset Markplus Insight dan Majalah online Marketeers, dari 74,6 juta pengguna internet di Indonesia, baru 20 persennya berbelanja online. Meski begitu, saya rasa sebenarnya sih belanja online bakal tetap berkembang. Belanja melalui bantuan aplikasi dan internet di situs belanja apa pun platformnya, sudah pasti memudahkan, hemat waktu, hemat tenaga, dan kadang penawarannya pun bikin hemat biaya.

Bedanya Honestbee
Lalu apa sih bedanya Honestbee? Saat Chris Antonius, Country Director Honestbee Indonesia memberikan paparannya di Media Launch Jakarta, saya merasa pernah mendapati gaya belanja yang sama dari Carrefour beberapa tahun lalu.

Dulu, Carrefour, punya layanan Click & Drive, yang memudahkan pelanggannya untuk memesan kebutuhan harian dengan bantuan asisten di toko, lalu pelanggan hanya perlu datang ke toko untuk ambil barang.

Saya pikir layanannya sama namun ternyata setelah saya kenali lebih jauh, Honestbee berbeda. Bedanya terletak pada kecanggihan teknologi. Honestbee mengembangkan aplikasi dan website untuk makin memudahkan konsumen berbelanja.



Cukup download aplikasinya (honestbee) atau akses situsnya https://id.honestbee.com/ konsumen seperti sedang belanja langsung di supermarket. Dalam hal ini kalau mau belanja kebutuhan rumah tangga dengan mitra Honestbee, Transmart Carrefour.

Saya lebih suka menelusuri belanjaan di website daripada aplikasi, karena lebih merasa puas melihat barang dalam layar lebih lebar di laptop. Akhirnya dua kali mencoba belanja di Honestbee, saya lebih suka mengaksesnya lewat website.

Memang lebih ringan rasanya tugas saya sebagai nyonya rumah, untuk cek barang di dapur atau kamar mandi, perlengkapan apa yang harus dibeli cukup melangkah sebentar saja, cek di website, pilih barang, masukkan keranjang belanja. Atau cukup lihat daftar belanja, pilih-pilih barang di website/aplikasi Honestbee, masukkan keranjang belanja, klik, proses pembayaran, barang siap diantar.

Saya bisa mengerjakan berbagai urusan rumah tangga lainnya, sambil menuntaskan pekerjaan yang memang kadang saya kerjakan dari rumah. Sederhana ya hidup di era digital, yang penting paket data selalu siap siaga.

Belanja model Honestbee meringankan tugas saya karena saya hanya perlu duduk manis di depan laptop, pilih barang, transaksi, dan menunggu dengan manis di rumah.

Asisten Belanja Honestbee

Serunya, Honestbee ini menyediakan jasa asisten belanja. Jadi, ketika saya pilih barang-barang tadi, sebenarnya ada asisten di Transmart Carrefour yang sedang belanja, memilih barang persis sama dengan pilihan saya di website/aplikasi. Asisten ini terlatih dan enggak sembarangan pilih. Mereka berseragam dengan warna khas Honestbee, kuning.

Asisten belanja inilah yang membelanjakan semua kebutuhan saya di Transmart Carrefour, di toko sesungguhnya. Jadi, model belanja online Honestbee itu gabungan belanja online dan offline. Beda dengan kalau kita belanja dengan aplikasi lain, di mana “asisten”nya tidak terlatih khusus untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.

Asisten belanja dari Honestbee ini memastikan barang yang diambilnya sesuai kebutuhan pembeli. Saya sendiri sempat dihubungi “asisten” tersebut, menanyakan untuk mengganti barang yang saya pesan karena barang tersebut habis. Saya jadi berkomunikasi di telepon, saya minta “asisten” untuk menggantinya dengan jenis barang sama, harga setara. Selesai deh persoalan pesanan tisyu wajah saya. Asisten ini memastikan pesanan pelanggannya tidak salah beli. Jeda beberapa jam, sesuai dengan waktu  antar yang saya pilih, satu kantong besar barang sampai di rumah. Senangnya, saya tidak perlu buang waktu ke supermarket, barang disiapkan oleh asisten dan diantarkan ke depan pintu.

Pengalaman kedua belanja dengan Honestbee, saya batalkan karena saya gagal memasukkan kode promo. Cukup hanya dengan menghubungi asisten, pesanan dibatalkan dan saya pesan ulang. Saya kembali pilih waktu antar, dan barang pun sampai di rumah tanpa cela.

Pilih Waktu Antar


Bisa pilih waktu antar? Ya! Saat proses belanja online di Honestbee untuk Transmart Carrefour, ada pilihan pilih waktu antar dengan biaya antar flat Rp 10.000. Waktu antar paling sibuk adalah pukul 11-12 siang. Beberapa kali saya tidak kebagian waktu antar ini.
Teknologi canggih semestinya memang bisa dimanfaatkan untuk memudahkan aktivitas harian. Inilah keberhasilan Honestbee sejauh ini menurut saya. Meski mungkin layanan antar belanja harian sudah pernah ada sebelumnya, saya merasa terbantu karena barang yang biasa saya beli di supermarket, bisa didapatkan dengan mudahnya.

Saat waktu terbatas, tenaga juga sudah terkuras dengan berbagai aktivitas dan rutinitas, cara ini tentunya meringankan. Kecuali jika saya kangen, punya waktu lebih luang, untuk jalan-jalan ke supermarket, tentu saya akan sempatkan belanja sendiri tanpa bantuan “asisten”.


Tapi dengan kemacetan yang sedemikian makan waktu, dan saya pun merasa tak cukup bertenaga untuk keliling supermarket belanja kebutuhan dapur, cukuplah “asisten” berseragam kuning yang membantu. 

Belanja dengan aplikasi ini sebenarnya juga mendukung misi Honestbee membuka lapangan pekerjaan kepada para asisten belanja juga asisten pengantar barang belanjaan. Kalau mau bersedekah memberi tip antar juga tak apa, karena toh satu tugas kita sudah tuntas dengan bantuan mereka bukan? Sementara waktu bisa kita maksimalkan untuk yang lain, pekerjaan dan yang terpenting adalah punya lebih banyak quality time bersama orang tersayang.