Buka Lahan Baru (Lagi) Saja


Sejak memutuskan menjadi pekerja mandiri/independent worker akhir 2015, saya sudah bersiap dengan berbagai rencana. Membuka lahan baru dengan bekal pengetahuan, pengalaman, jejaring,  dan reputasi/personal branding positif serta tentunya restu orangtua dan pasangan hidup. 

Banyak yang bilang saya ini perfeksionis.  Barangkali saya tak sadar karena kadang tak merasa demikian.  Barangkali karena saya pernah punya pengalaman yang bisa menjadi pembanding, ada orang yang lebih perfeksionis daripada saya.  

Satu hal yang selalu saya pegang dalam bekerja adalah tanggungjawab.  Bahwa saya harus menuntaskan tanggungjawab sebaiknya.

Tanggungjawab adalah amanah.  Menjaga amanah adalah juga menjaga kepercayaan.  Menjaga kepercayaan berdampak pada reputasi diri.  Karakter yang selalu saya pegang meneladani baginda nabi: shiddiq, amanah, tabligh, fathonah. 


Bertanggungjawab bagi saya adalah memaksimalkan kerja, menjalani proses sebaik baiknya.  Niscaya hasilnya baik dan membawa manfaat kebaikan. Soal apresiasi jangan jadi tujuan.  Karena betapa pun kita berbuat sebaiknya belum tentu berbuah apresiasi. Yang terpenting apa yang kita kerjakan sebaik baiknya bisa memudahkan orang lain yang membutuhkan tenaga/pikiran kita,  dan membawa kebaikan untuk sebanyak mungkin orang. 

Barangkali, karena begitu cara berpikir saya,  lantas banyak orang bilang saya perfeksionis. 

Baiklah,  tak ada salahnya berpendapat demikian.  Saya bisa salah.  Kamu juga bisa salah.  Jadi silakan berpendapat asal tak merasa paling benar sendiri saja. 

Nahhh,  berbekal karakter yang memegang tanggungjawab itu lah saya memulai perjalanan sebagai pekerja mandiri. Pertimbangan matang dan berserah menjadi langkah awal bekerja mandiri.  Self employed/independent worker/freelanceer apa pun sebutannya yang pasti saya berdiri di atas kaki sendiri, namun bukan untuk diri sendiri. 

Tentu bukan keputusan mudah untuk meninggalkan zona nyaman bekerja di perusahaan ternama dengan gaji cukup. 

Namun kebebasan waktu, finansial, pengambilan keputusan,  mengembangkan ide dan kreativitas menurut saya sudah bisa menandingi zona nyaman itu. 

Benar saja,  saya bahagia.  Bahagia menjadi pekerja mandiri yang semoga diberkahi jalannya karena tujuannya bukan untuk memperkaya diri.  

Ya!  Sejak awal bekerja mandiri,  mengawali dengan community development,  lalu pekerjaan kreatif lainnya terkait penulisan, blogging,  social media, content creator,  creative digital content,  digital ads juga digital marketing,  semua dijalankan dengan prinsip kesejahteraan bersama. 

Bekerja dengan berpikir bagaimana caranya semakin banyak orang/talenta menikmati kesempatan berpenghasilan dari dunia digital tak berbatas. Tentu saja dengan prinsip bekerja penuh tanggungjawab dan kehati hatian serta memegang teguh etiket. Bekerja dengan attitude positif, bekerja berakhlak. 

Kalau saja saya memikirkan diri sendiri,  bisa saja. Pekerjaan semuanya saya lakukan sendiri.  Penghasilan semua masuk ke pundi pribadi.  Tapi bukan itu tujuan saya bekerja mengawali perjalanan kemandirian ekonomi. 

Kalau bisa bergerak dan bertumbuh bersama kenapa tidak?  

Dua tahun berjalan, misi kebersamaan ini berjalan baik-baik saja.  Sampai akhirnya datang suatu keadaan. 

Keadaan di mana apa yang kita tanam belum tentu kita tuai.  Keadaan di mana lahan yang sudah dibuka dan digarap untuk kepentingan bersama,  ternyata menggoda pihak lain yang ingin menggarapnya.  

Barangkali muncul juga persepsi bahwa ketika saya memutuskan membiarkan lahan digarap bersama, dengan prinsip sejahtera merata sesuai porsi kerjanya,  rupanya dipersepsikan bahwa saya tidak bisa menggarap lahan. 

Keputusan untuk menggarap bersama,  mengajak mereka yang memang punya kompetensi,  mengatur dan mengarahkan,  untuk akhirnya semua kalangan dari pemula sampai pakarnya,  bisa menggarap lahan bersama,  tentu sesuai porsi,  adalah keputusan dengan penuh pertimbangan. 

Pertimbangan bahwa hidup saya bukan tentang diri sendiri tapi tentang kesejahteraan bersama.  Membagi kesempatan seluasnya.  Itulah prinsip community development,  community entrepreneurship,  social entrepreneurship, versi saya, di ranah digital. 

Sejahtera merata. Mirip prinsip koperasi tapi bedanya ini tidak ada iuran dan pembagian dividen.  Namun hasil kerja menggarap lahan bersama dibagi merata sesuai porsi dan kompetensi. 

Membagi pekerjaan kepada banyak orang bukan lantas menunjukkan ketidakmampuan saya bekerja. Saya profesional yang punya kemampuan/kompetensi,  dan saya bukan makelar. 

Keadaan yang bisa muncul kapan saja ini ternyata datang di tengah kesibukan.  Tuhan seperti sedang menegur untuk rehat sejenak di akhir tahun.  Pikir ulang bahkan mungkin juga mengajak saya memikirkan diri sendiri saja.  Pikirkan kesehatan mental dengan rehat dan piknik barangkali. 

Tapi akal saya tak bisa diajak berhenti berpikir.  Rehat sudah pasti karena saya sedang merencakan perjalanan wisata jiwa. Namun tentu ide kreatif dan semangat baru takkan bisa terbendung.

Waktunya berpikir menggarap lahan baru lagi. Lahan lain yang belum banyak tersentuh. 

Bukankah manusia dilengkapi akal untuk berpikir? Berpikir membuka lahan yang lebih menantang. 

Ah jadi ingat kisah ibuku puluhan tahun silam tentang lahan tanah di kampung halaman. Ibuku pernah mendapatkan lahan luas untuknya.  Lalu dengan penuh suka cita digarapnya lahan itu.  Dibuatnya menjadi lahan produktif.  Cantik katanya.  Sudah bagus dan potensial.  Susah payah mengurusnya.  Lalu tetiba saja lahan itu dijual tanpa sepengetahuannya.

Ibuku sudah membekaliku cerita tentang pedihnya bersusah payah menggarap lahan namun tak bisa menikmati hasilnya.  Bekal hidup keikhlasan dan keberserahan untuk kemudian melanjutkan hidup tanpa melihat ke belakang. 

Sekarang hanya ibuku yang masih memiliki utuh sisa lahan miliknya di kampung halaman itu. Selebihnya lahan sudah berpindah tangan ke pendatang. Hanya ibu dan ayahku yang bertahan eksis dengan keberserahan dan kerja kerasnya. 

Ibuku sudah membekaliku.  Serahkan semua urusan hanya kepada sang pemilik kuasa.  Serahkan DIA mengaliri kekuatannya kepada kita untuk bertahan dan menjadi lebih baik tanpa ambisi, berhasil membawa manfaat tanpa berusaha adu kuat apalagi dengan niat unjuk diri atau mengalahkan pihak lain.  

Baiklah,  jelang pergantian tahun,  barangkali waktunya buka lahan (lagi). 

Selamatkan Nyawa dengan 47K Kantong Darah “Blood Angel” Bakti BCA



Aksi donor darah menjadi cara yang sering dipilih untuk berkontribusi kepada lingkungan sosial. Baik lingkungan terkecil di tingkat kelurahan, di kampus atau sekolah, sampai ke pertokoan juga hotel, hingga ke aksi korporasi.

Niatan baik mengumpulkan orang untuk mendonorkan darah, tentu secara sukarela, sudah pasti berarti. Namun akan lebih berarti dan layak saja mendapat apresiasi, jika aksi sosial donor darah, berlangsung konsisten, dengan komitmen yang terjaga dan terfasilitasi dengan baik, hingga bisa menyumbangkan ribuan kantong darah.

Saya percaya, dari beberapa kejadian yang langsung ditemui dari orang terdekat, sekantung darah amat sangat berharga nilainya, bahkan tak ternilai.

Pasien di rumah sakit, apa pun kondisinya, yang membutuhkan transfusi darah bisa terselamatkan dengan sekantung darah yang sesuai untuknya.

Semakin banyak kantung darah terkumpul, maka semakin besar peluang menyelamatkan manusia yang membutuhkan.

Donor darah menjadi salah satu cara sederhana berkontribusi, yang meski belum tentu semua orang bisa melakukannya, terkait kondisi kesehatan. 

Saya sulit donor darah karena tensi cenderung sering rendah. Suami saya beberapa kali berhasil donor darah. Manfaatnya bukan hanya melegakan karena bisa menyumbangkan darah, namun menyehatkan tubuh. Pasalnya, darah yang dikeluarkan lewat donor, diproduksi kembali secara alami oleh tubuh. Sirkulasi inilah yang kemudian menyehatkan tubuh pendonor darah.

Jika sesekali saja mendonorkan darah bisa menyehatkan tubuh, bagaimana sehatnya tubuh pendonor yang rutin menyumbangkan darahnya.


Blood Angel
Saya takjub dengan empat orang yang diberi apresiasi Bank BCA dalam kegiatan Donor Darah ke-100 di Jakarta. 

Empat  pria berusia matang ini rutin ikut kegiatan Donor Darah Bakti BCA, dan sudah mendonorkan darah lebih dari 50 kali.

Terbayang betapa sehat tubuhnya, karena darah dalam tubuh terus terbarukan. Belum lagi berkahnya bisa menyumbang darah melalui PMI dari kerjasama dengan Bakti BCA. Sudah selayaknya pendonor yang diberi sebutan Blood Angel mendapatkan apresiasi dari BCA.

Pemberian apresiasi kepada pendonor dilakukan bersamaan dengan pengakuan sekaligus penyerahan Rekor Dunia MURI kepada Bakti BCA.

Jaya Suprana sengaja datang dari Surabaya, untuk menyatakan bahwa BCA melalui program CSR Bakti BCA Kesehatan, berhasil memecahkan rekor dunia MURI.

Sejak 1991, BCA bekerjasama dengan PMI untuk mengadakan kegiatan donor darah di kantor cabang se-Indonesia. Bukan hanya karyawan, nasabah dan warga pun ikut terlibat menjadi pendonornya. Hingga November 2017, telah berlangsung 100 kali kegiatan donor darah. Dari kegiatan tersebut terkumpul 47.000 kantung darah. Kegiatan donor darah Bakti BCA biasanya berlangsung 3-4 kali setahun.

Atas komitmen dan konsistensinya, BCA mendapatkan anugerah Rekor MURI sebagai “Bank Swasta Nasional Pertama yang Menyelenggarakan Kegiatan Donor Darah ke-100”.








BCA berhasil mengadakan donor darah ke-100, berlangsung pada 3 November 2017 di Pelataran Ramayana Kempinski Hotel Indonesia. Ratusan karyawan/nasabah/masyarakat di sekitar kantor BCA, berbondong-bondong donor darah, sejak pagi hari memenuhi pelataran hingga ruangan donor darah.

Dalam acara penyerahan Rekor MURI, Direktur BCA, Lianawaty Suwono, bersama Sapto Rachmadi, juga menyerahkan secara simbolis satu unit mobil operasional kepada Kepala UTD PMI DKI Jakarta, Salimar Salim.


Dalam sambutannya, Lianawaty dan Salimar Salim menyampaikan harapan yang sama. Keduanya berharap kegiatan Donor Darah Bakti BCA, menginspirasi individu untuk tetap rutin donor darah. Kalau Lianawaty berharap karyawan dan pendonor lainnya tetap rutin melanjutkan donor darah di luar kegiatan Bakti BCA. Sementara Salimar Salim mengapresiasi konsistensi BCA dalam mengadakan donor darah, dan berharap bank lain juga mengadakan kegiatan serupa, secara rutin.

Donor darah, kata Salimar Salim, adalah bakti kemanusiaan yang besar pengaruhnya kepada masyarakat, kepada pasien mendapatkan darah, untuk memperpanjang kehidupannya.

Dengan bantuan satu unit kendaraan operasional  dari BCA, Salimar juga berharap jangkauan penyebaran kantung darah juga kegiatan donor darah, bisa lebih meluas.

Semoga lebih banyak lagi kantong darah terkumpul dan tersebar lebih luas melalui PMI, atas dukungan berbagai pihak swasta dan warga yang peduli sesama. 





Ririn Rinura Membuka Sekolah Wujudkan Impian Menjadi Desainer



Berkiprah pertama kalinya di panggung mode pada 2010 di Plaza Senayan, dengan koleksi perdana, setelah menyelesaikan pendidikan mode, Ririn Rinura tak berhenti berkreasi.

Nama desainer mode Ririn Rinura menjadi bagian dari industri fashion, dengan segmen khusus kalangan public figur. Koleksi cocktail dress rancangannya, disukai kalangan sosialitas dan selebriti, untuk momen spesial.



Perempuan asal Pangandaran, Jawa Barat, ini berhasil mewujudkan impiannya menjadi fashion designer. Passion yang dimilikinya di dunia mode, mendorongnya untuk membekali diri terjun ke bisnis fashion.

Sekolah mode di Lembaga Pengajaran Tata Busana Susan Budihardjo menjadi langkah awalnya untuk memulai karier sebagai perancang busana. Selanjutnya, kreativitas Ririn Rinura tak terbendung. Segmentasi koleksi busananya yang menyasar kalangan public figur pun membuatnya sibuk melayani pesanan busana setiap bulannya.

Fokus dan konsisten menjadi kunci keberhasilan Ririn Rinura di dunia fashion. Ririn banting setir dari profesi lamanya di bidang marketing. Keberhasilannya berkarier di ranah Investments Financial Marketing, membekali Ririn untuk ciamik memainkan perannya sebagai pengusaha mode.

Pengalaman sebagai pebisnis mendukung passionnya di bidang mode. Hasilnya, ilmu desain mode dilengkapi ilmu bisnis dan pengalaman sebagai pengusaha, membuatnya semakin fokus berkiprah di industri fashion.



Panggung fashion kalangan sosialitas dan selebriti, menjadi tempatnya memamerkan koleksi busana, juga memenuhi permintaan pelanggannya.

Untuk memenuhi permintaan pelanggan, Ririn memilik butik di Jakarta dan membangun workshop di Pangandaran untuk produksi, memberdayakan warga di kampung  halamannya. Ada misi pemberdayaan yang dijalankan Ririn Rinura dari bisnis fashionnya.



Membangun Sekolah

Menjalani impian sebagai desainer busana, itulah yang Ririn Rinura lakukan saat ini. Menyadari bahwa banyak orang yang memiliki passion sama dengannya, belajar bahwa menjalani bisnis fashion membutuhkan bekal lengkap, juga mengakui bahwa pengembangan bisnis fashion harus terus bergerak dinamis, Ririn menciptakan terobosan.

Perencanaan yang diikuti dengan pelaksanaan, menjadi cara Ririn mewujudkan segala mimpinya. Seperti tak ingin membuang waktu, desainer dan pengusaha mode ini tak ingin berlama-lama menahan impiannya.

Belajar dari pengalaman pribadi, tentang pentingnya sekolah mode, tentang pengalaman sebagai praktisi mode ditambah pengetahuan bisnisnya, Ririn mengaku semua skill tersebut jika digabungkan menjadi satu konsep pendidikan mode, akan mendukung desainer pemula untuk mengembangkan bisnisnya.

Mulai 2017, Founder and Chairman Glamour Indonesia Company ini mewujudkan impiannya lagi di dunia mode. Setelah sukses dengan Rinura Model Management dan Rinura Fashion Designer beralamat di Jl Danau Laut Tawar No 60A, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Ririn membangun Rinura School of Desain atau RSD.


RSD menghadirkan program sekolah singkat 7 hari dalam jangka waktu 1 bulan 
untuk memperdalam bagaimana menjadi fashion desainer yang sukses dan profesional. RSD juga memiliki dua pilihan kelas: Regular Class dan Private Class.


Selain sekolah singkat, Rinura School of Design juga rutin mengadakan seminar. Dalam seminar berkala tersebut peserta mendapatkan Buku Fashion Designer, Alat Fashion Designing, Suvenir, Coffee Break 2x dan Makan Siang.



Lantas apa beda atau keunggulan RSD?
* Di selenggarakan dalam jangka waktu yang relatif singkat 
sehingga tidak membuang waktu
* Mengajarkan Spesifikasi ilmu yang di butuhkan
* Berbagi pengalaman dengan para pelaku 
Dunia Fashion dan bisnis fashion
* Dapat di lakukan secara Group atau Private
* Jadwal pelajaran dapat di pilih sesuai waktu yang di sepakati
* Siswa yang berprestasi akan di promosikan sebagai icon 
Branding Fashion Designer



Sebagai gambaran, berikut pengetahuan yang diajar di RSD: History Fashion Design, Anatomical Basis, Drawing Technique, Colour Theory, Quick Fashion Sketching, Technical Drawing, Basic Art and Design, Fabric and Mix and Match, Fashion Style.

Bukan hanya ilmu dasar desain, pengetahuan bisnis fashion juga jadi materi ajar di RSD: Bussines Fashion Design, Financial Management, Personal Planer, Marketing Strategy, Fashion Advertising.

Nah, untuk praktiknya, desainer pemula wajib mengikuti training dengan rangkaian materi ini:  Patern Maker and Sew, Mini Collection, Portfolio, Preparing Fashion Show

Lengkap kan? Bagi kamu yang punya mimpi menjadi fashion designer, sekolah mode Ririn Rinura ini bisa jadi pilihan. Wujudkan impian, jalankan passion seperti Ririn Rinura yang sukses mewujudkan impiannya, dan bahkan membantu orang lain mewujudkan impian serupa.




Cantik Resik Merawat Organ Reproduksi



Perempuan, untuk tampil cantik, selalu cari referensi ke mana saja bahkan sampai perawatan kulit ala gadis Korea. Saking terlena dengan banjirnya informasi kecantikan, umumnya perempuan hanya bicara soal urusan rambut dan wajah, atau setidaknya kulit yang tampak dari luar saja. Padahal, ada urusan lain, yang penting jadi perhatian bahkan perempuan harus lebih serius merawatnya, sedari dini.

Saya bakal banyak bicara soal organ reproduksi. Sederhananya, organ reproduksi perempuan dimulai dari vagina-serviks (leher rahim)-ovarium (indung telur)-rahim.



Sederhananya, itu lah organ yang wajib jadi perhatian perempuan. Namun di vagina sendiri banyak bagiannya, yang pasti ada fungsi, juga bisa menimbulkan gangguan kalau kita tidak apik resik merawat diri. 

Reproduksi selalu menarik bagi saya, untuk menelusuri dan membagi pengetahuan juga pengalaman pribadi. Saya tidak banyak punya pengalaman, namun setidaknya punya perjalanan dari yang bikin pilu hingga gagal fokus, dengan berbagai masalahnya.

Soal hamil misalnya, saya termasuk golongan perempuan yang sulit sekali punya anak.  meski berhasil dua kali hamil, namun perjalanannya sungguh luar biasa dengan ikhtiar yang lebih dari biasanya perempuan, meski belum luar biasa usahanya sampai keluar uang ratusan juta.

Biasanya, soal kehamilan, kita yang hidup dalam lingkungan agamis, akan mengembalikan semua urusan kepada Tuhan. Itu sudah benar, tidak terbantahkan. Namun kadang, kita manusia berakal perlu melihat kondisi dari berbagai sisi. Berserah tentu wajib hukumnya, namun berikhtiar termasuk mencari tahu penyebab dan mencari solusi terbaiknya, juga merawat diri untuk hidup sehat secara utuh (bukan hanya permukaan saja), adalah juga keharusan.

Banyak faktor penyebab sulit hamil misalnya, dan ini ada kaitannya juga dengan organ reproduksi. Saya pun awalnya tidak pernah terpikir, urusan sulit hamil bisa dipengaruhi faktor kebersihan area V, masalah yang tidak disadari di area genital perempuan, kebiasaan yang tak sadar bisa menyebabkan infeksi bahkan radang vagina. 

Sebut saja pemakaian celana dalam dari bahan nylon, bukan bahan katun. Celana yang ketat, bukan hanya jeans slim fit yang bikin pemakainya merasa seksi dan percaya diri, tapi juga celana ketat tipis semacam legging yang bikin lembab area V. Belum lagi bicara gatal pada vagina akibat keputihan atau kelembaban yang tak terjaga dengan baik. Lain lagi soal penggunaan pembalut saat haid, yang tidak dibarengi kebiasaan sehat menggantinya per 3-6 jam tergantung volume haid.

Saya sulit hamil, tapi memang tak sadar kalau kebiasaan pakai celana ketat, keputihan yang tidak tertangani dengan baik, bisa berdampak. Saya juga belum menyelidikinya, apakah benar ada kaitan semua hal itu, dengan sulitnya saya hamil.

Ketika berhasil hamil, makin tak percaya lah saya dengan semua faktor kebiasaan buruk itu. namun ketika saya mengalami keguguran, harus kuret, kemudian ada risiko infeksi pada area V akibat kuret yang tak sempurna, saya kembali berpikir. Berlanjut dengan terjadinya pendarahan pada kehamilan kedua, yang membuat saya harus operasi dan melahirkan anak lewat Caesar di usia kehamilan delapan bulan.

Semua hal ini terjadi begitu saja, dan semuanya berurusan dengan organ reproduksi saya. Tak ada yang mengkhawatirkan sebenarnya. Toh saya sehat-sehat saja. 

Soal keputihan, data sudah menunjukkan 75 persen perempuan mengalami keputihan. Jadi rasanya wajar kalau saya keputihan. Namun menjadi tak wajar kalau keputihan bikin gatal tak tertahankan di area V. 

Saya pernah mengalaminya, dan saya mengatasi keputihan dengan cairan pembersih vagina. Sembuh memang tapi ternyata dampaknya jangka panjang karena tidak dibarengi dengan kebiasaan sehat.

Kalau dibilang tidak merawat tubuh, saya menolak jika disebut demikian. Saya sangat peduli soal perawatan tubuh namun memang tidak memeriksakan secara khusus. Misal, setelah menikah dan rutin berhubungan seks, saya harusnya papsmear sebagai bentuk pemeriksaan rutin kesehatan reproduksi. Namun saya tidak melakukannya selama bertahun-tahun.

Padahal, saya punya risiko, dengan berbagai masalah yang saya pernah alami pada organ intim (vagina). Apalagi saya juga pernah menjalani gaya hidup urban, yang berhubungan dengan organ V. Misal, saya pernah waxing aneka bentuk, bahkan sampai mencukur halus rambut area V. Tak sadar, semua gaya hidup itu ada dampaknya pada kesehatan organ reproduksi. Rambut area vagina ada karena fungsinya menimalisasi kotoran masuk ke dalam vagina. Namun memang perlu dirawat agar tak terlalu lebat, karena kalau kotoran haid menempel lama tidak bersih sempurna, risiko infeksi tetap ada.  

Tanpa sadar, saya merasa baik-baik saja. Sampai akhirnya, saya dihadapkan pada satu kondisi yang berhasil bikin gagal fokus. Konsentrasi bekerja menurun, pikiran melayang terlalu jauh. Hanya berpikir positif dan meredam stres yang bikin saya berhasil melampaui kondisi tak menyenangkan itu.

Kondisi yang baru terjadi sebulan belakangan, saat pemeriksaan IVA menyatakan saya mengalami servisitis atau radang serviks, yang kalau secara teori tidak tertangani dengan baik, risiko jangka panjangnya bisa mengarah kepada kanker serviks.

Berusaha memahami kondisi ini, saya kembali belajar soal kesehatan reproduksi. Soal kesehatan vagina, kebiasaan keliru yang kerap dilakukan perempuan tanpa sadar bahkan acuh. Paham kalau perempuan menikah harus papsmear tapi abai dan lagi-lagi, acuh.

Lalu saya belajar lagi soal radang pada vagina, yang bisa berawal dari keputihan. Infeksi pada vagina bisa menyebar lebih luas dan ke dalam organ salah satunya keputihan. Infeksi vagina bisa terjadi akibat jamur (kandida), bakteri berbahaya, juga parasit yang disebut trikomoniasis. Infeksi pada vagina bisa menjalar ke serviks bahkan ovarium.

Memang benar, keputihan ada yang normal. Ini tak perlu dikhawatirkan tapi tetap perlu dikenali, mana yang normal mana yang tidak. Saat keputihan disertai rasa gatal yang tak biasa, bau busuk, kemerahan, bahkan muncul rasa panas dan nyeri, waktunya waspada.

Apa penyebab infeksi? Banyak sekali, di antaranya organ intim terlalu lembab yang menjadi ladang bertumbuhnya jamur, mencuci organ intim dengan sabun yang bisa menimbulkan risiko, juga penggunaan vaginal douch yang ternyata baru saya ketahui bisa menimbulkan infeksi vagina.

Semua informasi ini saya dengar langsung dari dokter lewat seminar dan konsultasi langsung. Satu fakta yang membuka mata saya adalah infeksi pada leher rahim, bahkan radang pun, bisa menyebabkan sulit hamil karena sperma gagal menembus leher rahim untuk mencapai indung telur. Jangankan membuahi telur yang sudah matang, mencapainya saja sulit karena ada infeksi serviks yang diawali dari infeksi vagina. Infeksi serviks pun bisa disebabkan karena faktor keputihan yang tidak tertangani dengan baik.

Kondisi ini yang saya dapati, dan sempat galau karena merasa tak yakin dengan penjelasan dokter saat seminar. Sempat mendapatkan diagnosis servisitis, membuat saya galau mendekati kalut. 

Inikah dampak dari keputihan yang pernah saya alami tapi tak tertangani dengan baik, inikah dampak dari kuret tak sempurna yang menimbulkan luka pada organ reproduksi saya, inikah akibatnya saya pernah pakai celana ketat, inikah dampak dari stres yang tak dikelola dengan baik (baik dulu saat kerja dalam tekanan tinggi maupun saat harus berusaha keras healing setelah kehilangan anak semata wayang).

Galau karena merasa tak mendapatkan informasi kesehatan yang akurat. Bahkan bertemu dengan dokter kandungan pun tak membawa hasil memuaskan.

Kalau soal merawat diri, sejak lama saya sudah mengikuti kebiasaan ibu yang turun temurun, merebus daun sirih. Lalu saya gunakan untuk membersihkan atau mencuci organ intim. Saya juga seringkali teredukasi mengenai cairan pembersih vagina, dengan PH yang aman dan sesuai untuk organ kewanitaan. Saya pengguna cairan pembersih vagina karena memang merasa lebih resik merawat organ intim dengannya.

Papsmear akhirnya menjawab semuanya. Bertemu dokter kandungan yang tepat di rumah sakit yang tepat, menjawab semua pertanyaan itu. Hasil papsmear menunjukkan saya  memiliki organ reproduksi sehat. Hasil USG pun menunjukkan rahim saya sehat. Semua organ reproduksi saya dinyatakan sehat.

Pengalaman pribadi ini yang membuat saya jadi makin resik kepada diri sendiri. Saya ganti celana dalam dengan bahan katun. Tak seksi memang tapi sehat lebih baik daripada sekadar menunjukkan seksi di depan suami.

Vaginal douch, yang pernah disarankan dua dokter karena saya dianggap terkena radang serviks, saya stop. Saya sudah curiga, sebenarnya dokter kandungan pernah bilang douch tidak baik karena bisa menyebabkan infeksi. Konfirmasi dari dokter kandungan saat saya papsmear menjadi dasar kenapa saya stop vaginal douch.

Penggunaan celana ketat mulai saya kurangi. Sambil menyerap hikmah, itu sebab perempuan disarankan memakai yang longgar, bisa celana kulot atau rok, atau dress, bukankah makin banyak model modis dalam berbusana untuk perempuan berhijab seperti saya.

Banyak kebiasaan yang mulai saya perbaiki dari pengalaman ini. Termasuk soal mengelola stres dan bahkan hubungan intim dengan suami pun harus diperhatikan, nah soal ini saya bahas terpisah saja ya.

Kebiasaan lainnya adalah membersihkan area V dengan cairan pembersih yang tepat. Pemilihan PH sangat penting. Pastikan PH cairan pembersih vagina dalam batas normal area kewanitaan yakni PH 3-4.

Kalau dulu saya punya kebiasaan merebus daun sirih, sekarang mulai saya tinggalkan karena selain tidak praktis, tidak efisien waktu, sudah ada produk cairan pembersih yang bisa memenuhi kebutuhan saya. Wangi sirih itu selalu bikin saya merasa bersih, barangkali karena terbiasa sejak belia melihat kebiasaan ibu. Selain saya memang sudah merasakan langsung manfaat daun sirih sebagai antiseptik alami.



Cairan pembersih organ kewanitaan, Resik V Godokan Sirih, berlabel halal, bikin tenang jadinya karena perawatan area V jadi lebih praktis dan higienis. Dalam satu botol kemasan 100 ML, praktis bisa dibawa ke mana saja untuk merawat organ intim.

Daun Sirih terbukti mengandung antiseptik, antibakteri, antioksidan. Berkat teknologi, daun sirih bisa diolah menjadi cairan pembersih wanita Resik V Godokan Sirih, dengan PH sesuai (3-4), dan teruji secara Mikrobiologi dapat membunuh jamur Candida Albicans penyebab keputihan. Setifikasi MUI bikin tambah tenang pakai cairan pembersih Resik V ini.

Semoga cukup saya yang galau karena diagnosis yang entah benar atau salah itu. pastinya, semua bisa dicegah, banyak caranya, diawali dengan kebiasaan baik resik merawat organ reproduksi.








Budaya Kerja Baik untuk Hasil Terbaik dari Karawang Plant I TMMIN


Seharian (18/10/2017) mengunjungi pabrik mobil, Plant I PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawang, menumbuhkan rasa dan pengalaman baru atas sebuah brand Toyota. 

Pertama kalinya buat saya mengunjungi pabrik mobil, namun bukan kali pertama saya mengunjungi pabrik tempat manusia dan mesin berkolaborasi demi menghasilkan produk tepat guna untuk publik.

Kunjungan pabrik mobil ini bikin saya lebih menghargai pekerja dan semua SDM yang punya peran dalam memelihara sistem dan budaya kerja, untuk memenuhi kebutuhan berkendara yang aman dan nyaman, di dalam maupun luar negeri.

Di balik bisingnya suara mesin yang mengalahkan suara manusia, juga suhu ruang kerja yang tak biasa untuk manusia biasa semacam saya, ada etos dan budaya kerja yang harmonis antara manusia dan mesin di pabrik Toyota. Tepatnya pabrik TMMIN Plant I Karawang, Jawa Barat.

Etos dan budaya kerja ini terpelihara oleh sistem dan dipelihara oleh manusia yang sanggup bekerja dalam kawasan pabrikan kendaraan. Hasilnya, kita bisa lihat sendiri bagaimana Toyota Fortuner dan Kijang Innova melenggang bangga di jalan raya. Saya pun jadi punya mobil idaman baru, Fortuner.

Bersama rombongan Mobil123.com Portal Otomotif Nomor 1 dan komunitas blogger ISB, saya memperhatikan proses kerja pabrik mobil Plant 1 TMMIN Karawang. Saya berusaha memahami setiap penjelasan dari pengarah per tahapan produksi mobil di pabrik TMMIN.

Beberapa sangat teknis sekali, seperti bagaimana gulungan besi baja, diolah menjadi lempengan besi baja,, kemudian diproduksi menjadi part mobil dari kap mobil, pintu, body kendaraan. Semua saya perhatikan detil, sedetil para pekerjanya memastikan seluruh proses produksi berjalan sesuai prosedur.



BUDAYA KERJA
Sambil saya memperhatikan sekeliling pabrik, mayoritas memang mesin dan part kendaraan, sampai berbentuk mobil yang siap dikirim ke dealer. Namun saya juga melihat dan menjadi saksi mata, bagaimana keamanan dan kenyamanan bekerja, juga semangat kerja terpelihara dengan baik di pabrik ini.

Zero Defect, kata kata ini saya lihat terpajang jelas lewat spanduk yang juga menampilkan foto pimpinannya. Toyota lewat pabriknya seperti sedang mengingatkan pekerjanya, bahwa meski pimpinan tak ada, mereka hadir di sana lewat kata penyemangat, yang saya rasakan seperti menularkan semangat bukan motivasi yang mengintimidasi.  

Sambil mendengarkan penjelasan dari para pengarah, benar saja, semangat Zero Defect itu tertular ke cara kerja mereka. Semua sangat dipastikan tidak ada kesalahan sekecil apa pun. Sistemnya bekerja, manusianya pun bekerja maksimal untuk menghasilkan produk sesuai rencana.

Sepanjang saya berada dalam pabrik, menyaksikan bagaimana para pekerja otomotif menuntaskan pekerjaan sesuai prosedur keamanan kerja, banyak insight yang saya dapat. 
Saya jadi paham bagaimana harga sebuah mobil bisa mewakili proses produksi yang memang dipikirkan dan dipastikan kualitas terbaiknya.

Saya pun jadi paham bagaimana para pekerja otomotif ini punya andil besar terciptanya ribuan produk mobil yang mendorong industri otomotif Indonesia.

Pasalnya, produksi mobil Totoya Fortuner dan Kijang Innova dari TMMIN Plant I Karawang ini bukan hanya untuk kebutuhan lokal. Sekitar 60 persen mobil yang diproduksi adalah untuk memenuhi pasar luar negeri. TMMIN Plant 1 Karawang ekspor kendaraan ke Timur Tengah dan negara lainnya.

TMMIN yang memiliki total empat pabrik di Indonesia (Karawang dan Sunter), memang sudah ekspor mobil sejak 1987 ke lebih dari 80 negara.

Saat saya berada di pabrik pun, banyak sekali mobil dengan posisi setir kiri dengan tampilan yang berbeda. Rupanya, mobil siap di ekspor ke Filipina yang meminta Toyota untuk mengirimkan kendaraan kepada mereka.

Selain Zero Defect, kata-kata yang jadi pusat perhatian saya di dalam pabrik adalah ini: Good Thinking Good Product: dari pikiran yang baik, menghasilkan produk yang baik.
Melihat rangkaian huruf berwarna putih dengan latar hijau, berisi kalimat itu di dalam pabrik seperti pemandangan hijau yang menjernihkan pikiran.



BICARA ANGKA
Lalu saya kembali sibuk mencerna penjelasan singkat dari instruktur dalam pabrik. Proses produksi dari stamping, welding, assembly, QC Final yang kalau dihitung waktunya total menghabiskan 22 jam untuk produksi satu unit mobil.  

Nah, dari 22 jam pembuatan satu mobil itu, dari mulai besi baja sampai jadi satu unit mobil, kalau dihitung, setiap 1,5 menit Plant I TMMIN Karawang ini mengeluarkan produk mobil baru (Fortuner dan Innova).  Sebagian besar untuk ekspor. Per harinya, pabrik ini memproduksi sekitar 300-350 unit per shit. Sehari ada dua shift, jadi rata-rata produksi harian 600-650 unit mobil. Pekerja di Plant I Karawang ini berjumlah lebih dari 400 orang per shift.  

Kalau dihitung lagi, dalam setahun TMMIN Plant I Karawang memproduksi 130.000 unit Fortuner dan Kijang Innova. Dengan angka-angka tersebut,  PT TMMIN menegaskan sampai September 2017, produksi mobil mencapai 3,3 juta unit hanya dari Plant I Karawang.
Dengan proses produksi yang begitu dinamis, kita sebagai end-user, kalau pesan produk harus menunggu 22-59 hari untuk menyelesaikan seluruh prosesnya. Termasuk proses administrasi bukan hanya produksi saja.

HASIL TERBAIK
TMMIN Plant I Karawang yang dinamis dan produktif, menurut saya, membawa hasil maksimal karena pekerjanya bekerja dengan memelihara sistem. Lebih dari itu, pabrik memiliki budaya kerja dan etos kerja yang terpelihara dan dipelihara pekerjanya.

Zero Defect, Good Thinking Good Product,  termasuk Bad News First di bagian Assembly di bawah pimpinan Nandi Julyanto adalah budaya dan etos kerja yang berhasil saya rangkum dari TMMIN Plant I Karawang.



Sistem dan budaya kerja yang diciptakan, membuat pekerjanya berusaha memberikan maksimal, dari segala lini.  Pikiran baik dan jernih, membangun budaya dan etos kerja yang mengajak pekerjanya melihat segala masalah sebagai tantangan yang harus dipecahkan dengan solusi.

"Bad news" memberikan kesempatan untuk menjawab tantangan dan mencari solusinya. Kalimat ini saya pelajari dari bagian Assembly.

Dari bagian produksi lempengan besi baja, sampai QC akhir, saya mendapatkan pengalaman berharga tentang produksi kendaraan. Tentang sebuah mobil yang pastinya mendukung kerja kita di kota besar bahkan di daerah pelosok, mengantarkan/menghubungkan manusia satu dengan manusia lainnya.

Sepanjang tur pabrik, saya juga menyaksikan sendiri lingkungan yang dirawat bersih. Selalu ada cleaning setiap jam karena memang dipastikan tidak ada bercak debu yang menempel pada produk. Pabrik harus bersih agar steril dari debu.

Prosedur keamanan bukan hanya memikirkan supaya produk tidak lahir cacat, tapi juga mementingkan keamanan pekerjanya. Semua pekerja menjalankan prosedur keamanan salah satunya “Stop Point Confirmation” selalu menunjuk arah kanan kiri depan sebelum melintas. Hal sederhana yang berdampak besar untuk keberhasilan kerja setiap harinya.



Di akhir perjalanan dalam pabrik mobil TMMIN Plant I Karawang, saya mendapatkan akhir yang makin menegaskan kualitas kerja. QC final test serba terkomputerisasi sebagai bentuk legitimasi kualitas produk. 

Para ahli otomotif yang bekerja di bagian final test ini bikin saya makin meyakini produknya. Ada lima post yang harus dilewati mobil jadi sebelum siap diantar ke dealer.

Final test menguji performa kendaraan dan semua fiturnya berfungsi jika dikendarai dalam kecepatan tinggi, 120KM per jam. Abnormal atau tidak sebuah kendaraan, apakah lampu berfungsi akan teruji di sini. Pengecekan rem juga jadi bagian final test. 

Pengujinya, Driver QC, adalah para pakar otomotif yang sudah teruji kepekaan mata dan telinganya.  Ada quality gate, jembatan kualitas tiap posnya untuk memastikan setiap unit mobil sudah teruji dan layak jual.

Dengan proses produksi ada di Indonesia, bisa dipastikan mobil Fortuner dan Innova memiliki kandungan lokal 75-85 persen, dibuat oleh ratusan pekerja Indonesia, dengan sistem dan budaya kerja yang baik. Tidak Sekadar menjalankan peraturan, namun membentuk budaya kerja, demi kepentingam bersama, keselamatan bersama, dan hasil yang dinikmati bersama.

Pikiran Baik Lahirkan Hasil Baik.