Gejala Diabetes Anak Cegah dengan Rumus 5210



Penyakit kencing manis atau Diabetes Melitus (DM) kerapkali dianggap penyakit orang tua atau orang dewasa. Faktanya, anak bayi hingga usia 18 tahun juga bisa terkena diabetes. Mengenali gejalanya bisa menjadi salah satu antisipasi, segera periksa kadar gula darah anak jika curiga anak terkenda DM.

Gejala DM Pada Anak:
Banyak makan Anak dengan DM akan merasa lapar terus menerus. Rasa lapar ini didorong jumlah insulin yang tidak memadai sehingga gula tidak dapat diolah jadi energi.
Banyak minum Anak sering merasa haus dan minum terus menerus karena tubuh tidak mampu memproduksi hormon insulin sehingga tubuh dehidrasi.
Banyak kencing dan mengompol Karena sering haus dan minum, sementara tubuh tidak mampu menyerap cairan dengan baik, Anak dengan DM akan lebih sering buang air kecil. Kondisi ini cenderung tidak normal termasuk di malam hari bahkan bisa mengompol padahal usianya sudah terbilang lewat dari masa mengompol.
Penurunan berat badan drastis dalam 2-6 minggu Anak sering minta makan dan makan banyak namun tubuh tidak bertambah gemuk. Anak justru kehilangan berat badan dalam jumlah signifikan. Ini diakibatkan tubuh tidak mampu menyerap gula darah sehingga jaringan otot dan lemak menyusut.
Kelelahan dan mudah marah Anak mudah lelah karena kurang energi akibat tubuh tidak mampu menyerap gula dari makanan. Dampaknya pada perubahan emosi anak menjadi lebih cepat marah dan murung.
Tanda darurat Jika mengalami semua gejala di atas, waspadai juga jika anak sesak nafas, dehidrasi, syok. 



Perlu dipahami bahwa DM memang tidak bisa disembuhkan namun DM bukan penyakit menular dan dengan perawatan tepat, pengidap DM bisa hidup optimal. Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebutkan angka kejadian DM pada anak usia 0-18 tahun mengalami peningkatan 700 persen selama jangka waktu 10 tahun. '

Dr dr Aman Bhakti Pulungan, Sp.A(K), Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI mengatakan riset kesehatan di Indonesia masih terbilang minim. Angka kejadian belum menunjukkan fakta realnya. Ia menyebutkan salah satu data pada tahun 2013, riset anak usia SD di Menteng Jakarta Pusat, bahwa dari 92 anak,sekitar 38% atau 35 orang anak resistensi insulin atau kondisinya pre-diabetes. 

Menurutnya, mengetahui anak mengidap diabetes bak kiamat kecil. Ada keluarga yang berhasil bertahan menghadapinya dan mengoptimalkan hidup anak. Namun ada juga keluarga yang tak mampu bertahan berujung pada perpisahan orangtua. Kekuatan keluarga dalam menghadapi anak dengan diabetes akan berdampak pada proses perawatan dan keberlangsungan hidup anak secara optimal. 

Meski begitu, mencegah tetap lebih baik. Memahami penyakit, melakukan tindakan preventif tetap lebih baik. Edukasi terus menerus menjadi tanggungjawab bersama bukan hanya pemerintah. 

dr. Cut Putri Arianie, MH.Kes – Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kemenkes RI bahkan berharap edukasi dilakukan oleh media dan blogger. Pasalnya, informasi yang disampaikan melalui media lebih bisa mengena kepada masyarakat, beda kalau regulator yang menyampaikan pesan kesehatan. 

Sebagai pencegahan, dr Aman mengajak masyarakat mengubah perilaku sehat di rumah cegah diabetes. 

Rumus 5210 Cegah Diabetes:
5x makan buah sayur
2 jam waktu maksimal duduk di luar duduk di kendaraan
1x olahraga per hari min 30 menit
0 atau no sugar no added sugar no energy drink 

Foto: Inke Maris Associate (IMA)


ANAK HIDUP OPTIMAL Ketika anak terdiagnosa diabetes, tak ada pilihan selain menerima takdir dan keluarga saling menguatkan menjalankan hidup optimal. Kisah penyintas DM Tipe 1, Fulki Baharuddin Prihandoko (12 tahun), putra bungsu dari Aisyah dan Konang Prihandoko membuktikan bagaimana anak penyintas DM bisa hidup optimal. 

Fulki dinyatakan mengidap DM pada usia 9 tahun dengan kondisi gula darah mencapai 750. Dengan penerimaan tepat baik Fulki dan terutama keluarga, anak lelaki yang aktif di sekolah ini menjalankan perawatan maksimal untuk hidup optimal. 

Kebersamaan dan kekompakan keluarga untuk memberikan perawatan terbaik, membantu Fulki menjalani rutinitas berbeda dari anak lainnya. Ketika beraktivitas di sekolah atau di luar rumah, Fulki harus menyuntik insulin ke tubuhnya, tanpa bantuan orangtua. Pola makan pun teratur dan disiplin menyesuaikan kebutuhan kalori harian. 

Fulki yang hidup dengan diabetes menjadi penyintas yang membuktikan bahwa penyakit tak menghalanginya menjalankan aktivitas yang sama dengan anak tanpa diabetes lainnya. Penanaman nilai dari orangtua, juga dengan dukungan perawatan medis yang tepat, mengoptimalkan hidup Fulki yang harus setiap hati menyuntik insulin ke tubuhnya.

Nah, jika sudah mengetahui gejala, pencegahan dan mendapatkan inspirasi dari Fulki dan keluarga, jangan berhenti menambah wawasan tentang kesehatan dan penyakit. Edukasi diri dan keluarga terus menerus berjalan karena risiko penyakit selalu mengintai. Sumber informasi beragam dan salah satunya bisa ikuti update di Twitter Kemenkes RI misalnya dan informasi kesehatan lainnya.

Untuk DM, berikut yang perlu diketahui:
- Diabetes Melitus atau DM adalah gangguan metabolisme yang timbul akibat peningkatan kadar gula darah di atas normal yang berlangsung secara kronis.

- DM disebabkan karena adanya gangguan pada hormon insulin yang dihasilkan kelenjar pankreas.

- Insulin berfungsi mengatur penggunaan glukosa oleh otot, lemak atau sel lain di tubuh.

- Produksi insulin yang berkurang akan menyebabkan tingginya kadar gula dalam darah serta gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, protein.

- DM terbagi dua tipe: DM Tipe-1 dan DM Tipe-2

- DM Tipe-2 disebabkan oleh pankreas yang tidak memproduksi cukup insulin.

- DM Tipe-2 disebabkan oleh gangguan kerja insulin yang disertai kerusakan pada sel pankreas

Yuk kita bantu sebarkan informasi kesehatan termasuk pencegahan diabetes. Semoga tak bertambah jumlah penyintas dan anak Indonesia selalu sehat tumbuh kembangnya menjadi manusia produktif yang berkualitas.

foto: IMA

Fakta Gangguan Kesehatan Mental Remaja


image by canva


Kesehatan mental makin menjadi perhatian dunia. WHO selalu aktif mengkampanyekan topik ini, pun Kemenkes RI sebagai regulator kesehatan di Indonesia. Bahkan PBB pun memberi ruang untuk anak muda mengkampanyekan kesehatan mental dengan kampanye publik #LoveMySelf.

PBB bahkan menunjuk boyband BTS asal Korea untuk aktif mengkampanyekan pesan positif #LoveMySelf. Kim Nam Joon anggota BTS mewakili pesan ini di PBB dan mendapat kesempatan berpidato di forum internasional PBB, mengajak anak muda mencintai diri sendiri. Mencintai diri bukan soal narsisme, tapi melakukan hal positif termasuk berbahagia, mengakui kelemahan diri namun fokus pada kekuatan.

Setiap tahun, Hari Kesehatan Jiwa Sedunia diperingati setiap 10 Oktober, Kemenkes RI ikut aktif mensosialisasikan pentingnya mengenali dan mengatasi masalah kesehatan mental. Baik mengenali depresi dan mengatasinya, juga pada 2018 yang fokus pada kesehatan mental remaja.

Kesehatan Jiwa menurut UU No.18 2014 adalah kondisi di mana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial, sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya.

Pada peringatan HKJS 2018 fokusnya adalah kalangan remaja. Butuh keterlibatan banyak pihak, termasuk kita, para orangtua dan orang dewasa, untuk lebih peduli dan memahami secara tepat cara mengatasi gangguan kesehatan mental remaja.

Berikut fakta seputar kesehatan mental kalangan remaja yang semakin memprihatinkan, bersumber dari Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Ditjen P2P 2018 dan Eka Viora, Ketua Umum Perhimpinan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia.

Depresi Usia 15-19 Waspada perilaku remaja pada usia 15-19 tahun karena secara global bunuh diri menjadi penyebab kematian ketiga terbesar pada kematian usia ini. Depresi merupakan salah satu penyebab penyakit dan disabilitas pada remaja. Depresi yang tak teratasi dengan tepat mengarah kepada usaha bunuh diri bahkan hingga mengakhiri hidup dengan bunuh diri.

Faktanya, separuh dari kondisi kesehatan jiwa dimulai pada usia 14 tahun. Namun sebagian besar kasus tidak terdeteksi dan tidak mendapatkan pengobatan.

Tidak Terdeteksi Diperkirakan 10-20 persen remaja di seluruh dunia pernah mengalami masalah kesehatan jiwa, namun tidak terdeteksi dan tidak mendapatkan pengobatan. Selain kurang pengetahuan, masalah kesehatan jiwa pada remaja juga memburuk karena kurangnya kesadaran di kalangan tenaga kesehatan dan stigma di kalangan remaja untuk mencari pertolongan. 




Kurang Pendampingan Kalangan milenial semakin sering terpapar dunia maya. Hal ini bisa berdampak pada kesehatan mental lantaran lebih berisiko mengalami kejahatan siber. Cyber bullying hingga video game bertema kekerasan yang tidak disadari berdampak pada kesehatan mental. Terutama jika remaja tidak mendapatkan pendampingan tepat oleh keluarga dalam hal ini orangtua sebagai orang terdekatnya.

Jika keluarga tidak memahami kondisi ini, gagal memberikan pendampingan yang proporsional kepada remaja, menyebabkan remaja tersebut gagal menghadapi tantangan zaman now.

Kalau remaja tak mampu menghadapi tantangan era milenial sangat memungkinkan mengalami masalah kesehatan jiwa. Nah, jika masalah kesehatan jiwa tidak terdeteksi dini dan tidak ditangani, risikonya timbuh gangguan jiwa. Akibatnya, angka percobaan bunuh diri dan penggunakan napza meningkat.

Gangguan Mental Emosional Gangguan mental emosional penduduk Indonesia terjadi pada usia 15 tahun ke bawah. Gangguan mental emosional pada remaja Indonesia berupa masalah pikiran, perasaan, perilaku yang membuat kesulitan menjalani peran dan kehidupan sehari-hari seperti sulit tidur, ketegangan sebagian besar tubuh, kurang semangat, kurang berenergi, kurang minat. Masalah terkesan tidak berat namun bisa memburuk jika ada pemberatan gejala. Gejala harus disadari sedari dini dan dikelola dengan tepat agar tidak menjadi lebih berat.

Film Komedi 3 Dara 2 Susahnya Jadi Bapak Rumah Tangga


Sikuel film 3 Dara produksi MNC Pictures masih bercerita tentang wanita, diperankan tiga pria berbeda karakter. Bagaimana film komedi menceritakan beratnya peran ganda kaum hawa? Sutradara Monty Tiwa membuat film ini punya daya tarik membawa pesan peran ganda, bapak rumah tangga dan tentang emansipasi. 

Persahabatan tiga pria, Afandi, Jay, Richard dengan cerita rumah tangganya masing-masing, kembali “beraksi” kali ini dengan menjadi bapak rumah tangga. Kalau di film pertamanya, ketiga sahabat ini dikutuk menjadi perempuan lantaran perilaku “bullying”, kali ini mereka terpaksa berganti peran dengan para istri. 



Masalah berawal dari obsesi Tora Sudiro sebagai Afandi, sosok ayah yang matang dan sukses berkarier, mengajak dua sohibnya untuk berbisnis mandiri demi mendapatkan pengakuan di mata keluarganya. Pengakuan dari mertua, Eyang Putri, diperankan dengan karakter kuat yang menjadi ciri khas Cut Mini. Padahal, Aniek (Fanny Fabriana) istri Afandi telah memilih menjadi istri yang melayani keluarga. Demi pembuktian diri, Afandi mengambil langkah berani berinvestasi yang akhirnya membawa sahabatnya masuk dalam masalah, mengorbankan keluarga. 

Cerita makin menarik karena Richard yang diperankan Tanta Ginting adalah menantu Afandi. Richard beristrikan Kasih (Rania Putri) yang adalah anak semata wayang Afandi dan Aniek, atau cucu Eyang Putri. Masalah makin kompleks dalam lingkaran keluarga ini.

Sementara Jay (Adipati Dolken), keluarga muda dengan satu anak beristrikan Grace (Ovi Dian) terseret dalam masalah. Ia pun harus berganti peran menjadi bapak rumah tangga akibat masalah yang dimunculkan oleh trio ini. 


Masalah keuangan membuat para istri memutuskan mengambil alih dengan bekerja. Sementara trio Afandi, Jay, Richard bertukar peran menjadi bapak rumah tangga. 

Pesan peran ganda perempuan dan emansipasi disampaikan dengan humor lewat film ini. Sejak awal saya menonton 3 Dara, film kedua ini membawa cerita lebih mengalir dan masih lebih nyaman dinikmati. Meski ada beberapa humor yang terkesan dipaksakan. Namun begitu, saya masih menikmati Film 3 Dara 2 yang konsisten membawa pesan tersirat membela kaum hawa. 

Saya juga jadi belajar psikologi keluarga dari peran psikolog Windy diperankan Rianty Cartwright. Menonton film komedi yang membawa pesan penting dan mendapat ilmu baru membuat film ini masuk dalam daftar tontonan saya. 

Film 3 Dara 2 juga lebih hidup dengan kehadiran Dwi Sasono (Pak Bowo) dan Soleh Solihun (Jentu) yang menjadi “musuh” trio Afandi, Jay, Richard. Siapakah Pak Bowo dan Jentu? Ini keseruannya. Nonton langsung yaa di bioskop. 


Bagi pendukung film Indonesia di Palembang akan ada Meet & Greet loh. Yuk, dukung terus Film Indonesia untuk berkembang lebih baik lagi ke depannya.


Bantuan Operasi Katarak CSR BCA Tak Sekadar Donasi Alkes

CSR BCA www.wawaraji.com 

Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) bisa beragam bentuk dan biasanya menyentuh pendidikan dan kesehatan. Alasannya tentu karena sebagian besar warga yang menerima manfaat paling membutuhkan bantuan di kedua sektor tersebut. Faktornya juga bisa beragam, bukan hanya soal biaya namun akses dan lokasi tempat tinggal yang masih sulit terjangkau sehingga butuh sinergi berbagai pihak. 

Inilah juga yang menjadi sasaran program CSR PT Bank Central Asia Tbk (BCA) yang dikenal dengan Bakti BCA. Uniknya, CSR BCA tidak hanya rutin memberikan donasi melalui kemitraan dengan berbagai lembaga, namun melakukan pemantauan untuk memastikan manfaat yang diberikan membawa dampak kepada masyarakat yang membutuhkan. Artinya donasi tak berhenti pada penyerahan sumbangan namun diperhatikan mendetil sampai pelaksanaan dan pascatindakan, apakah manfaatnya benar-benar membawa dampak kepada masyarakat. 

Foto @cicidesri

Perbincangan singkat saya bersama Executive Vice President CSR BCA, Inge Setiawati, membuka lebih luas bagaimana CSR BCA berjalan berkelanjutan dan membawa dampak maksimal untuk penerima manfaatnya. 

Usai mengikuti penyerahan donasi Bakti BCA untuk sektor kesehatan, senilai total Rp 1,3 Miliar di Menara BCA pada 24 September 2018, justru saya mendapati ada nilai lebih di balik sumbangan. Sumbangan Bakti BCA sendiri berupa donasi alat operasi katarak dan sarana pengambilan darah donor. 

Donasi ini berlangsung dengan sinergi lintas lembaga, yakni Seksi Penanggulangan Buta Katarak (SPBK) Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) dan Palang Merah Indonesia (PMI).

CSR-BCA www.wawaraji.com

Direktur BCA Suwigyo Budiman menyerahkan langsung secara simbolis donasi dua mikroskop kepada Ketua SPBK Perdami Pengurus Pusat, Dr Umar Mardianto, SpM(K), lalu satu mikroskop kepada Ketua SPBK Perdami Cabang DKI Jakarta, dr Rio Rhendy, SpM. Sementara untuk donor darah, Bakti BCA menyerahkan secara simbolis donasi 4 set Blood Scale & Mixer kepada Ketua Pengurus Provinsi PMI DKI Jakarta, Muhammad Ali Reza.

CSR-BCA www.wawaraji.com 

Di balik penyerahan donasi alat kesehatan ini, ada upaya dari pihak swasta dalam hal ini bank swasta terbesar di Indonesia yang secara berkelanjutan memastikan masyarakat bisa hidup sehat optimal. Selayaknya CSR, tentunya program ini adalah bentuk giveback, mengembalikan manfaat kepada warga yang sudah berkontribusi terhadap keberlangsungan usaha dalam hal ini Bank BCA. 

Bagian dari 3 Pilar Bakti BCA (CSR BCA)
Bakti BCA sendiri punya tiga pilar yakni Solusi Bisnis Unggul (pembinaan ekonomi komunitas seperti desa binaan, UKM, petani), Solusi Cerdas (pembinaan pendidikan akuntansi dan teknologi informasi, beasiswa, sekolah binaan), Solusi Sinergi (Kesehatan, Lingkungan, Budaya). 

Tiga pilar ini berjalan berkesinambungan dalam setahun. Program yang sudah rutin berjalan adalah di sektor kesehatan. Bakti BCA paling sering mengadakan donor darah, tepatnya tiga bulan sekali dan melibatkan hampir seluruh cabang. Itu sebab salah satu bantuan yang diberikan adalah sarana pengambilan darah donor untuk mendukung peningkatan kualitas layanan kesehatan. 

Program lain Bakti BCA yang juga berjalan rutin setahun lima kali adalah operasi katarak. Ibu Inge mengatakan kebutuhan operasi katarak memang besar terutama di daerah pesisir atau pelosok yang sulit terjangkau. 

Mereka yang mendapatkan bantuan operasi katarak bukan hanya usia manula namun penderitanya makin bergeser ke usia produktif. Faktor utamanya karena paparan sinar ultraviolet terutama warga daerah pesisir. Itu sebab operasi katarak rutin berkala dilakukan dan menyasar hingga ke Kalimantan bukan hanya di Pulau Jawa. 

Target pasien operasi katarak pun tak sedikit, minimal 100 orang dalam sekali pelaksanaan operasi katarak. Nah, untuk menyukseskan pelaksanaannya, Bakti BCA yang sepenuhnya merupakan program kantor pusat, bergerak bersinergi bersama kantor cabang dan dokter mata setempat di daerah yang menjadi lokasi operasi, dibantu Perdami Pusat. 

Kantor cabang BCA juga punya andil untuk pelaksanaan operasi katarak ini. Mulai publikasi, penyediaan tempat hingga konsumsi untuk peserta operasi katarak. 

Tak berhenti sampai di situ, usai pelaksanaan operasi katarak, Bakti BCA melakukan pemantauan sejauh mana tindakan berdampak. Salah satu caranya adalah dengan pemantauan apakah peserta operasi katarak sudah kembali produktif sehingga bisa mencari nafkah secara maksimal terutama bagi usia produktif. 

Untuk mendapatkan informasi operasi katarak Bakti BCA, informasinya bisa didapatkan di kantor cabang BCA terutama untuk daerah pelosok di luar pulau Jawa. Berlangsung lima kali dalam setahun, operasi katarak Bakti BCA ini diawali dengan pendaftaran melalui kantor cabang, lalu pemeriksaan awal atau screening untuk mengetahui apakah benar pasien membutuhkan operasi katarak atau punya gangguan kesehatan mata lainnya. Setelah dinyatakan benar membutuhkan operasi katarak maka dilakukan penindakan dan setelahnya ada pemantauan. 

Kenapa Operasi Katarak dan Donor Darah?
Bantuan operasi katarak dan sarana donor darah ini selain memang berdasarkan kebutuhan warga, juga dilandaskan data dan fakta valid dari Kementerian Kesehatan RI dan WHO. 

WHO mencatat, di Indonesia terdapat sekitar 3,5 juta orang mengalami kebutaan kedua belah mata, dengan 50% nya atau sekitar 1,5 juta orang buta karena katarak. Sementara Kemenkes RI mencatat per 30 Agustus 2018, kebutaan di Indonesia hampir 60 persen dengan sumbangan terbesarnya dari katarak. Situs Kemenkes RI juga menyebutkan, berdasarkan data WHO, pada Juli 2017, jumlah kebutuhan minimal darah di Indonesia sekitar 5,1 juta kantong darah per tahun atau 2% dari jumlah penduduk Indonesia. 

Kebutuhan inilah yang membuat Bakti BCA terus komitmen mengajak warga dan nasabah juga karyawan mendonorkan darah dan menyumbangkannya melalui PMI, setiap tiga bulan sekali. Tepat saat Bakti BCA mencapai 100 kali kegiatan donor darah pada November 2017, terkumpul 47.000 kantung darah. Angka ini tentunya terus bertambah seiring berjalannya donor darah Bakti BCA setiap tahun 3-4 kali. 

Sedangkan untuk katarak, hingga semester kedua 2018, BCA dan SPBK Perdami sudah melakukan 32 kali operasi katarak di berbagai daerah di Indonesia dengan hampir 3.000 mata telah dioperasi. 

Sampai di sini, para nasabah BCA tentunya menjadi bagian penting dari keberlangsungan program CSR BCA. Keberhasilan Bakti BCA tentunya tak lepas dari kontribusi nasabah yang pada akhirnya dikembalikan kepada masyarakat.

Rompis, Cinta LDR Remaja yang Enggak Picisan





Selalu senang ketika film Indonesia muncul di bioskop dengan berbagai genre dan cerita. Film tentang cinta remaja memang selalu sukses bikin nostalgia untuk penonton yang tak lagi berusia muda. Namun bagi anak muda tetap jadi tontonan menyenangkan kekinian yang semoga sih mewakili usianya.

MNC Pictures kembali hadir dengan film remaja terbaru yang bisa jadi tontonan untuk anak usia 13 tahun ke atas. Film remaja yang menyegarkan ini garapan sutradara Monty Tiwa, penulis Haqi Achmad dengan Production Executive Valencia Tanoedoedibjo serta jajaran produser Toha Essa, Lukman Sardi, Ferry Ardian juga Didi Ardiansyah.


Kenapa menyegarkan? Bintang muda aktor aktrisnya memainkan peran dengan mulus, natural dan tetap menjaga realitas remaja kekinian. Namun kalau soal jatuh cinta, polanya sama saja dari zaman dahulu kala. Sulit mengungkapkan rasa dan tanpa ada ucapan tetapi rasa terjaga sampai harus terpisah benua sekalipun. Urusan hati dan cemburu selalu sukses jadi bumbunya. Perihal cinta, rasanya takkan pernah berubah ceritanya.

Bagaimana pemeran utama film ini membawa cerita Rompis menjadi seru menyenangkan dan menyentuh tanpa berlebihan, itu istimewanya.

Saya sendiri yang sudah lebih layak disebut "tante" bagi seluruh pemain utama film ini masih bisa menikmati percikan cinta remaja dalam cerita Rompis. Lewat film ini, sebagai "tante" saya jadi menyimak gaya anak muda kekinian dan cara mereka berkomunikasi ala millenials. Kalau bagaimana opini millenials bisa baca ulasan Rizki Doel dan Egi Sukma nih.

Menurut saya, bintang muda Arbani Yasiz (Roman), Adinda Azani (Wulan), Umay Shahab (Sam), Cut Beby Tshabina (Meira) sukses bikin film remaja ini terasa ringan, romantis tapi enggak picisan, diselingi humor yang enggak garing.


Satu hal yang juga kuat dari film ini adalah inspirasi berpuisi. Senang rasanya ketika puisi diperkenalkan lagi kepada remaja melalui film. Saya selalu menikmati lomba puisi di kalangan remaja. Kemampuan merangkai kata dan mengucapkannya lantang dengan berirama dan ekspresif adalah bakat yang pastinya akan berguna nantinya. 




Cerita film yang disadur dari novel best seller memang selalu kuat. Film ini juga berangkat dari novel Roman Picisan karya Eddy D Iskandar setelah sebelumnya juga dibuatkan versi serial drama di RCTI pada 2017. 

Eits, jangan dikira film ini bakal jadi kayak sinetron. Saya bukan penonton sinetron meski masih menyimak sekadar ingin tahu. Kalau kata saya sih, film ini enggak terasa seperti sinetron. 

Selain cerita dan pemeran yang kuat, latar negeri Belanda pun melengkapi film ini. Memang ya nuansa beda selalu berhasil membangkitkan suasana. Meski begitu latar film di negeri asing bukan jadi andalannya. Bagi saya cerita dan pembawaan pemeran film yang bikin sukses. 

Menyenangkan juga ketika tahu kalau film ini masih bertengger di layar bioskop dalam negeri. Maklum, film asing masih tetap jadi andalan di negeri sendiri. Tapi kalau saya sih, penggemar dan pendukung Film Indonesia yang selalu rela beli tiket bioskop. Jadi, kalau lihat beberapa film Indonesia bertengger lama di bioskop itu rasanya menyenangkan. 







Film Rompis masih bisa ditonton di sejumlah bioskop di Jakarta sejak rilis 16 Agustus 2018 lalu. Di luar kota juga ada seperti di Bandung.

Yuk ah nonton di bioskop. Dukung terus film Indonesia.