Perjalanan Masih Panjang? Cerita Duoraji Part 1

15.31.00 wawaraji 4 Comments

 


Duoraji, penamaan ini sebenarnya penggabungan dua nama akhir pasangan menikah Santo RAchmawan (Satto Raji nama bekennya) dan Wardah FajRI, RAJI. Meski menikahnya 13 tahun silam (Juli 2008), sejujurnya penamaan Duoraji itu resmi dipopulerkan sejak kami berduaan menjalani garis perjalanan yang DIA tetapkan, setelah anak kedua kami meninggal, 6 Agustus 2016 (anak pertama keguguran 2,5 bulan kandungan). Saya lebih suka menuliskannya Duoraji bukan Duo Raji, anggaplah ini merek atau keyword untuk menyingkat penyebutan Wawa dan Satto, RAJI.

Usia pernikahan belasan tahun, namun sejatinya sebagai pasangan mulai kenal hingga memutuskan jadi kekasih, putus nyambung dengan drama dan ujian, lalu akhirnya bersama sampai menikah, itu baru berjalan 21 tahun (sejak 2000). Tapi baiklah, mari kita awali Cerita Duoraji sejak menikah saja.

Ohya, tulisan ini bukan tips pernikahan. Sungguh, saya merasa miskin ilmu soal pernikahan. Bercermin dari ayah (85 th) dan ibu (80 th), yang usia pernikahannya Alhamdulillah lebih dari 60 tahun hidup berdampingan dengan 7 anak  (dari 8 yang dilahirkan). Saya sebagai anak perempuan satu-satunya di keluarga besar Achmad Sanusi bin Syuaib dan Sumiah binti H. Usman, warga asli Kreo Selatan, Kota Tangerang, sekarang Banten yang dulu pernah jadi warga Jawa Barat. Banyak kebaikan dari keduanya yang saya cerna dan coba terapkan dalam pernikahan, tentunya disesuaikan relasi kekinian (karena banyak juga pola relasi suami istri yang mereka jalani kurang relevan dengan kondisi sekarang). 

Orangtua saya bukan manusia sempurna, banyak kurangnya, namun bagi saya, ayah ibu contoh teladan utama yang terdekat. Tentu role model utama kami adalah junjungan nabi besar Muhammad SAW, manusia pilihan yang sempurna. Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad.

Saya memilih menulis Cerita Duoraji (biasanya menulis Cerita Ibu dan sudah lama sekali vakum), di bulan Ramadan 1442H/2021M, karena tergerak dari hati. Jelang 13 tahun pernikahan (angka favorit Satto Raji) dan di usia 40 tahun Satto serta jelang 40 tahun Wawa. Cerita hidup dimulai (lagi) usia 40 katanya. Selain karena lebih punya banyak waktu lantaran larangan ini itu dari pasangan dan ayah yang ikut-ikutan menjaga. Menjaga dari apa? Mari mulai ceritanya, bakal panjang dan pertanyaan ini belum terjawab di Part 1 dari cerita berseri ini. 


Cerita Duoraji – Pernikahan

Santo dan Wawa menikah di tanggal cantik hari Minggu, 6-7-8 (6 Juli 2008) di Kreo Selatan, rumah orangtua tepatnya aula majelis taklim ibu, Darussaadah. Akad nikah dan resepsi semua berlangsung di aula hasil perjuangan ayah ibu sebelum saya dilahirkan. 

Pernikahan satu-satunya anak perempuan yang seperti perayaan sekali selamanya, juga dipersiapkan maksimal oleh ayah ibu saya. Tentunya kemandirian Duoraji menyertai, sejujurnya saat belum ramai endorsement media sosial saat ini, 13 tahun lalu Duoraji sudah optimasi kekuatan konten dan relasi sebagai endorsement pernikahan. Bedanyaaaaa, kami tidak menerima GRATIS namun penghematan dan kebaikan relasi pekerjaan menulis sungguh membantu terselenggaranya pernikahan impian versi Duoraji.

Mungkin berlebihan kalau saya bilang pernikahan Duoraji sederhana. Kami paham apa itu pernikahan sederhana. Sejak tahun 2000 berkenalan dan berpacaran (ya, kami berpacaran semasa kuliah di Budi Luhur), kami enggak hanya sekadar jadi bucin. Duoraji mungkin memang sudah digariskan jadi couplepreneur bahkan sebelum istilah itu menjadi populer. Sejak bersama sebagai sejoli, hari-hari kami diisi kuliah, organisasi kampus, teater, fotografi, foya-foya ala anak muda kalangan pas-pasan, dan bisnis fotografi pernikahan.

Jadi, kalau pernikahan Duoraji disebut sederhana, memang agak berlebihan. Pekerjaan Duoraji tahun 2000 adalah membantu memotret akad nikah dan resepsi pernikahan, pasangan yang anggarannya seadanya namun ingin punya rekaman momen bersejarah dalam hidupnya. Kami paham seperti apa pernikahan sederhana dari perjalanan motret kawinan ala Duoraji kala itu.

Pernikahan Duoraji kental dengan nuansa Betawi, suku asli saya dan keluarga, berbalut nuansa religi. Urusan konsep pernikahan tentu hak saya yang punya sedikit impian pernikahan, dengan tetap mendengarkan kemauan harapan keluarga terutama orangtua.

Duoraji menabung dari hasil bekerja dengan segala ketidakpastiannya. Maklum, kami menikah saat pekerjaan belum ajeg, belum dikatakan sukses versi orang kebanyakan, namun kami bekerja sejak kuliah mencukupi kebutuhan kami di luar pemberian orangtua.

Dengan penyesuaian anggaran pernikahan, hubungan baik dengan relasi pekerjaan yang kebetulan berkaitan dengan dunia pernikahan membuat kami setidaknya bisa mewujudkan impian hari istimewa dengan banyak penyesuaian tentunya. Pelaminan bambu bertabur bunga, baju pengantin yang tak biasa (hitam ungu warna favorit saat itu), banyak kurangnya karena terbatas anggaran Duoraji tapi kami sumringah Bahagia menikmati hasil jerih payah. Tata rambut dan rias (saat itu belum berhijab), tentunya kuserahkan ke sahabatku MUA yang paham banget karakterku, Mila pemilik Mila Salon Jatibening. Bukan tata rias kebanyakan saat itu karena sangat simpel minimalis bahkan ada tamu di kampungku bilang, ala artis, suka dan ingin seperti itu saat menikah nanti (wow kami jadi inspirasi).

Keluarga Malang, Jawa Timur yang kental dari garis pasanganku, Satto, tentunya tetap diakomodasi. Organ tunggal dengan penyanyi yang siap menghibur dengan song list campur sari, bikin suasana Betawi dan Jawa berpadu seperti Duoraji menyatu. Duoraji juga sudah menyiapkan song list, Bossanova Java. Alangkah tak kuasanya pengantin yang sibuk haha hihi dengan tamu, ketika songlist tiba-tiba berubah jadi dangdutan, khas pernikahan warga Betawi. Wassalam dan pasrah saja, yang penting semua bahagia. Fokus utama saya kala itu, berbahagia di pelaminan menyambut tamu sekitar 500 undangan (Duoraji only). 

Semua sudah dipersiapkan maksimal, tenda, pelaminan, baju pengantin, hiburan, MUA, undangan, hantaran semua Duoraji siapkan mandiri. Orangtua tentu ambil peran, mereka ingin semuanya berlangsung sesuai versinya. Katering untuk 1500 undangan (bisa jadi yang hadir lebih dari itu) urusan orangtua. 

Bahkan orangtua saya enggak mau kalah seru, mereka menghadirkan palang pintu menyambut calon mantu sebelum akad nikah dan satu lagi yang khas, Sohibul Hikayat. Tradisi lisan Betawi yang biasa dihadirkan saat pernikahan atau khitanan, pertunjukkan seni tradisional, dipesan khusus oleh ibu dalam kemasan seperti ceramah agama namun menghibur. Terbukti, teman kerja merasakan kehangatan dan hiburan Sohibul Hikayat ini.

Saudara sekandung dan kerabat dekat Duoraji juga enggak mau ketinggalan kalah seru, mereka menyiapkan seragam. Duoraji khusus menyediakan seragam penerima tamu ala none Betawi dan seragam saudara laki-laki ala Jampang jagoan Betawi. Semua sibuk dengan impian pernikahannya masing-masing, tugas saya memadukan semuanya agar setiap orang merasa dilibatkan untuk kebahagiaan bersama. Soal hasil, saya pasrahkan saja. Hari itu, Duoraji bahagia. SAH!

Bersambung...

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


You Might Also Like

4 comments:

Didik Purwanto mengatakan...

Seru sekali menyimak perjalanan hidup kalian. Semoga menjadi pasangan yang mawaddah warahmah ya pak lur dan bu lur.

Wardah Fajri mengatakan...

Aaamiiin makasih dah mampir kak Didik...sekadar cerita ala Duoraji.

arigetas.com mengatakan...

Menyimak.. baca 2x.. kepleset baca Kreo Selatan jd Korea Selatan. 😀

Aku menikmati alur cerita nyata yg disampaikan Duoraji. Can't wait to read the next chapter of story 🥰

Wardah Fajri mengatakan...

Haha kak Arie...fans drakor yaa. Korea dan Kreo tipis bgt emang sih...tp sama2 hits haha