Bersihkan Makam Ganti Bunga Segar Sungguh Jadi Terapi

00.02.00 wawaraji 47 Comments


Sejak Agustus 2016, saya punya kebiasaan baru. Kebiasaan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Tak ada satu pun ibu mau bertukar tempat dengan saya. Kebiasaan datang ke makam, bersihkan makam, menyapu, mengganti bunga segar di pot kecil, menabur bunga, berkomunikasi.

Saya menerima dan menjalani ketentuan Allah dengan terus belajar ikhlas yang tak selamanya mudah. Ya, 6 Agustus 2016, anakku Dahayu dimakamkan di tanah pemakaman keluarga besar ibuku, neneknya, di sebuah jalan bernama Jl. Pemuda, Kreo Selatan, Larangan, Tangerang, Banten, Indonesia. Saya mau cerita soal makam ini dulu sebelum cerita kebiasaan baru itu. 

Dahayu, anakku, usianya 3,5 tahun barangkali jadi yang termuda di makam bersemanyam dari 10 pendahulunya. Area makam itu sudah ada sejak saya kecil barangkali. Tanah keluarga ibuku. Investasi masa depan keluarga kami. Ada kakekku, ayah ibuku, sepuh dan tokoh di kampung kami, kampung Betawi Kreo. Ada nenekku, pamanku, bibiku, semua dari garis keluarga ibuku. Ada juga sepupu tertua kami yang sangat kami segani. Dari garis keluarga terdekat, ada dua anak kecil dimakamkan di sana, kakak Dika, anak sepupuku, meninggal di usia lima tahun setelah berjuang dengan Cerebral Palsy. Lalu menyusul anakku, Dahayu Hadiya Raji meninggal atas kehendak Allah melalui penyakit Syok Septik (sepsis). 

Masih ada beberapa tempat, semoga tersisa untukku, disamping Dahayu nanti. Ini bukan pesimisme atau bukan bentuk tak bersyukur atas karunia hidup. Tapi kita semua menunggu waktu pulang bukan? Aku hanya berharap tempat itu tersisa untukku, di samping Dahayu agar kubisa memeluknya di bumi dan di langit nanti.

Kebiasaan yang Jadi Terapi Diri
Pemakaman keluarga itu biasanya hanya kudatangi setahun dua kali, Idul Fitri dan Idul Adha. Kami rutin berziarah ke kakek nenek bersama seluruh saudara, cucu dan cicitnya. Kebiasaan atau tradisi barangkali yang selalu kami jalani.

Berdoa memang bisa di mana saja, namun datang ke makam sebenarnya mengingatkan kita yang masih diberi hidup untuk berbuat baik di dunia. Sebagai pengingat bahwa semua dari kita akan mati, terkubur di sana, tak berdaya, dan kembali urusan pribadi mempertanggungjawabkan semua ucapan, perbuatan, niatan kita. Allah Maha Tahu, tak ada yang bisa saling menghakimi siapa lebih berat pahalanya dari siapa. Hanya Tuhan yang tahu semoga kita tidak masuk dalam golongan orang sok tahu yang saling menuding, merasa paling tahu paling benar bahwa dirinya yang diberkati Tuhan. Tak ada yang tahu sebenarnya, semoga kita bisa menjaga diri untuk tidak menilai sesama karena penilaian hanya milik Allah semata.

Kembali ke kebiasaan baru. Datang ke makam anakku. Saya tidak melakukannya setiap hari. Alhamdulillah Allah alirkan kekuatan kepada saya dan Satto Raji, suamiku. Kami saling menguatkan. Allah izinkan energi kebaikan mengalir ke dalam diri kami. Kami kuat menerima ketentuan kami masih diberikan kekuatan mengatasi kesedihan, kepiluan kami lebih tepatnya. Berpisah, bukan kehilangan, dengan anak kami semata wayang. Anak yang kami tunggu dengan sabar kehadirannya, sekitar empat tahun dari pernikahan kami. 

Kami masih kuat untuk mengatasi rindu dengan berbagai cara. Datang ke makam salah satunya. Cara lain beribadah di rumah, berkumpul keluarga, bersilaturahim dengan teman dan kerabat yang tak hentinya memberikan dukungan sampai seminggu masa berduka.




Saya selalu ajak suami 2-3 hari sekali ke makam. Tanahnya masih basah. Kami hanya ingin "bertemu" saja. Mengganti bunga segar yang kadang memang hanya tahan 2-3 hari saja. Bunga sedap malam kesukaaan saya wajib beli. Ditambah bunga segar lain yang indah warnanya. Lalu bunga tabur yang menghiasi makam kecil itu.

Menghias makam mengatasi sedihku. Selain kami berdoa. Saya hampir jarang menangis di makam. Saya malu menangis di depan umum. Namun jangan tanya kalau saya sedang sendiri, di kamar, atau di kamar mandi, tangisan pilu takkan bisa tergambarkan lewat tulisan apa pun.

Saya jadi punya kebiasaan bersih-bersih makam. Menyapu makam dari sampah daun kering. Saya jadi punya pandangan lain tentang makam. Saya melihat pemakaman sebagai tempat yang sejuk. Tempat yang mengingatkan kita akan waktunya saat kita tak berdaya dan Allah lah penguasa jiwa.

Sampai 14 hari kebiasaan itu terus saya jalani. Keluarga mungkin maklum, saya masih rindu. Bahkan tempatku berbagi nun jauh di sana, Bunda Intan Rosmadewi di Bandung, yang punya pengalaman mirip tapi tak sama dengan saya, mengatakan, "Kalau memang itu bisa membantu tak apa" kalau tidak salah waktu itu sedang bercerita tentang kebiasaan mengganti bunga segar di makam anakku.

Sekitar 40 hari aktivitas di luar rumah makin tinggi. Saya mulai mengisi hari dengan aktivitas bekerja karena terlalu lama di rumah, membuat saya yang aktif, mulai merasa tak nyaman. Kebiasaan ke makam makin berkurang seminggu sekali. Saya mencari bunga yang tahan seminggu. Langganan saya seorang nenek penjual bunga di TPU Joglo. Dia baik, suka memberi saya bonus sedap malam. Tak pernah bertanya untuk siapa tak pernah bertanya makam siapa. Sepertinya dia memahami kepedihan hati saya.

Saya makin sibuk, menyibukkan diri, dengan pekerjaan yang sebenarnya pengalih perhatian. Sampai akhirnya lebih dari seminggu tidak ziarah makam. Ditambah lagi sakit tak berdaya, 12 hari lamanya, tak sanggup membawa badan kecuali hanya bolak balik kamar dan toilet saja.

Sakit fisik yang saya yakin ditambah psikis. Rindu Dahayu seperti tak tertahankan. Entah bagaimana menggambarkannya. Yang pasti saya kerap tak bisa menahan tangis kadang tangisan itu meledak dan tak bisa berhenti. Entah di mana akal sehat. Hanya doa dan ingat Allah yang menyebuhkan meski tak hilang  pedih hati.

Sehari setelah merasa lebih baik, sehari setelah pulang dari Rumah Sakit, saya ke makam, sendirian. Sengaja tak mengajak suami yang harus menuntaskan pekerjaan tertunda. Saya beli bunga sendiri, bunga tabur,  kalau bunga pot saya menggantinya dengan bunga imitasi karena tahu akan meninggalkan makam lebih dari seminggu. 

Benar saja, sampah daun kering menutupi makam anakku. Aku juga beli sapu di pasar. Senang melihat makam bersih, rapi, dengan taburan bunga segar. Kali ini saya menangis. Saya menangis di makam sambil membersihkan daun kering. Tapi saya merasa nyaman dekat keluarga di makam itu. Kembali saya teringat, semua akan sama nasibnya, takdirnya, kembali ke pemilik jiwa, hanya perlu sabar menunggu waktunya.

Ya, kalau saya, untuk kondisi saya saat ini, saya memilih kata sabar menunggu waktu saking inginnya bertemu Dahayu. Meski tak ada jaminan saya bisa segera bertemu, saya  belum tentu pantas menuju surga tempat anakku berada. Siapa lah saya bisa menikmati surga dengan mudahnya.

Makam itu membuat saya kembali dekat dengan Tuhan. Bacaan di buku panduan ziarah kembali mengingatkan. Ziarah makam sebenarnya memang itu tujuannya, tiada lain kecuali membuat kita merunduk malu, apa yang sudah kita perbuat, sudah siapkah ketika waktunya datang, maka berbuatlah baik, bicaralah baik, bersikaplah baik, karena waktu itu rahasia Tuhan yang tak ada satupun dari kita tahu.

Sungguh, kebiasaan ini menjadi terapi ampuh. Saya bisa melepas sedikit saja kepedihan yang beberapa hari belakangan begitu menguasai diri. Mengingat pemilik jiwa dan sudah menjadi haknya mengambil miliknya, dengan datang ke makam, sungguh menjadi terapi. 

Dan kebiasaan lain saya adalah membaca dua doa ini:

Doa Waktu Mendapat Musibah Kematian

Innaalillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Allahumma 'indaka ahtasibu mushiibatii fa-ajurnii fiiha wa abdiinii minhaa khairan.

Sesungguhnya kita ini adalah kepunyaan Allah dan sesungguhnya kita akan kembali kepadaNYA. Ya Allah,, di hadapan Tuhan lah aku memperhitungkan musibahku, maka berilah aku pahala karena musibah tadi dan berikan pula sesuatu lebih baik sebagai gantinya.

Doa Ziarah Kubur

Yang artinya
Keselamatan semoga atas saudara saudara semua wahai ahli (penghuni) perumahan kubur dari golongan orang-orang yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan, dan beragama Islam, semoga Allah memberikan rahmat kepada orang-orang yang meninggal terdahulu dan terbelakang dan sesungguhnya kami In Sya Allah pasti akan menyusul saudara-saudara. Aku mohon kepada Allah keselamatan untuk kami (yang hidup) dan untuk saudara-saudara kalian telah mendahului kami dan kami pasti akan mengikuti kalian. Ya Allah janganlah engkau menghalangi pahala mereka pada kami dan jangan pula Engkau menyesatkan kami sepeninggal mereka.




Saya mencerna begitu banyak ilmu dari dua doa itu tentang penyerahan diri, tentang keimanan, tentang bersyukur, tentang harapan, tentang pertolongan Allah kepada orang yang ditinggalkan agar ikhlas menjalani ketentuanNYA tidak "tersesat" menjadi orang-orang yang menjauh dari Tuhan, tidak "tersesat" menjadi orang yang hidup bukan atas kemauan Tuhan. Sekaligus menjadi pengingat bahwa saya, dengan kepedihan hati, harus terus menyemangati diri untuk bisa berjalan atas kehendak Allah, mencari berkahnya, supaya semakin mulus jalan menuju keabadian yang nikmat bertemu anakku suatu waktu.












You Might Also Like

47 comments:

Mira utami mengatakan...

Terima kasih mba wawa penyampaiannya sangat menyentuh hati...Mengingatkan saya pribadi sebagai orang tua. Semoga manfaat dan inspirasi bisa memberikan kekuatan untuk mba wawa. ��

Zata mengatakan...

Abis baca artikel ini pelan2, sendirian di kamar, sambil netesin air mata... mba Wawa, kalimat "berpisah, bukan kehilangan" mengena banget rasanya. Dua kali berpisah ayah dan kaka laki2 aku, rasanya sdh sangat luar biasa, apalagi mba Wawa yg berpisah dari Dahayu.

Bener banget mba Wawa, aku bisa ngerasain saat area pekuburan justru menjadi tempat yg nyaman dan menenangkan, padahal dulu aku takut banget sama kuburan. Saat papaku meninggal aku malah sempat pingin tidur di kuburan, di samping makam beliau...

Lingga mengatakan...

Mba..tulisannya menyentuh hati banget..berpisah bukan kehilangan..semoga Allah selalu menguatkan

Ibrahim Fawwaz mengatakan...

Tulisan yang sangat menyentuh mbak, terima kasih telah berbagi

Yayat mengatakan...

Makjleb mbak...buat saya.. ya sangat jarang ke makam adik dan ibu

Elisa Koraag mengatakan...

Hanya bisa mengaminkan. Semoga kita yg msh hdp utk tetap ingat, akan ada waktu utk pulang. Be strong!

Elisa Koraag mengatakan...

Hanya bisa mengaminkan. Semoga kita yg msh hdp utk tetap ingat, akan ada waktu utk pulang. Be strong!

shita mengatakan...

Mbak Wawa bagus tidak menggugat Tuhan tp memilih pasrah dan iklash... itu terapi jiwa. Mmg berat tp itu yg kita bisa. Waktu akan menyembuhkan pelan2. Selalu sehat y mbak wawa

Arni mengatakan...

Mbak.....
Saya nangis bacanya. Bener2 hanyut
Dahayu mendapatkan tempat terbaik disana, diiringi doa indah dan penuh cinta mbak wawa dan mas satto

Intan Rosmadewi mengatakan...

Kita sebagai hamba Yang DIA cintai sehingga pandangan kita tentang dunia segera dipaling ketempat yang Pasti ABADI.
Prosesnya masih panjang

R Windhu mengatakan...

Allah maha tahu yang terbaik. Terima kasih sudah berbagi dan mengingatkan arti ikhlas, jika segala sesuatunya memang milik Allah. yakin, mbak wa semakin kuat

suria riza mengatakan...

*pelukk

Memez mengatakan...

Mba Wawa... #Peluk

Aku juga merasakan hal yang sama Mbak. Ibuku meninggal 2,5 tahun silam. Sampai sekarang pergi ke makamnya adalah salah satu cara aku untuk menuntaskan rindu (selain mendoakannya tentu saja)

Setiap mau ke makam, aku sengaja beli bunga segar, membersihkan keramik nisannya, menyirami tanahnya dengan air yang sengaja dibawa dari rumah.

Keke Naima mengatakan...

Mbak Wawa, saya tercekat membacanya. tulisannya sangat menyentuh *Speechless* *peluk*

wawaraji mengatakan...

kita saling menginspirasi yaaa #CeritaIbu Babam jg pasti luarbiasa

wawaraji mengatakan...

peluk mbak Zata. beda ya mbak sensasi kuburan kalau ada org kesayangan.

wawaraji mengatakan...

hanya cara saya mengatasi sedihnya berpisah

wawaraji mengatakan...

terima kasih sudah mengapresiasi

wawaraji mengatakan...

yuk aku anter mbak dmn makamnya?

wawaraji mengatakan...

sekuat dirimu ya mbak

wawaraji mengatakan...

apa hak kt ya mbak menggugat Tuhan. tx mbak

wawaraji mengatakan...

maafkan bikin nangis

wawaraji mengatakan...

jalan bareng ya bunda

wawaraji mengatakan...

amiiiiiin tx ya mbak tx sudah berkenan baca

wawaraji mengatakan...

iyaaaaa sama banget..tp aku bawa2 sapu hehehe

wawaraji mengatakan...

peluk mbak tx sudah singgah

wawaraji mengatakan...

peluk tx sudah sudah singgah ya mbak

lubena ali mengatakan...

Mbak.. terima kasih sudah menginspirasi, kalau aku ga pernah ketemu dirimu pastilah aku enggak terlalu terpengaruh tulisan ini.
Aku sering ngerasa kalau anak2ku adalah mutlak milikku, ga ada yang boleh mengambilnya, bahkan sang "empunya" sekalipun, pemikiran cekak yang suatu saat bisa berubah jadi possesiv, tapi kenal Mbak wawa dan mas satto koq aku jadi sedikit2 belajar ikhlas...thanks, Dahayu pasti bangga punya orang tua seperti kalian.

mutie adnu mengatakan...

Ikt sedih mba,, tapi si kecil adlh kunci surga buat k2 orgtuanya tinggal qt mningktkn ibadahnya

Dwi Permitasari mengatakan...

Tetap kuat, tetap ⓢ⒠ⓜ⒜ⓝ⒢ⓐ⒯ ♡, teriring do'a.. ananda Dahayu sang pemberi syafaat dan kelak mampu menjadi saksi.. bahwa Syurga sungguh dekat bagi keikhlasan Ayah dan Bunda, .. kekutan cinta kasih smg mampu menjadi penolong dunia - akhirat..sentiasa selalu, Aamiin YRA.... 😇

#salambelasungkawa

Santi Rahmawati mengatakan...

Assalamu'alaykum mba wawa...
Ini anthy...

Sbg ibu... Ikut ngerasain apa yg mba wawa rasain...
Mba wawa dan bang satto...
Kalian adalah org tua hebat yg Alloh pilihkan untuk ananda dahayu...
Kalian hebat....
In syaa Alloh Dahayu akan menjadi syafaat buat kalian kelak di yaumil akhir...

Hani S. mengatakan...

Mba Wawa, aku baca ini menjelang tidur sambil sesekali nengok ke sebelah karena ada Alfath yg sudah tidur duluan, rasanya sesak banget. Salut dengan ketabahan dan cara Mba Wawa beserta suami mengatasi rasa kehilangan, saya banyak belajar dari tulisan ini.

Sehat selalu dan tetap kuat ya Mba. Peluk jauh.

Sally Fauzi mengatakan...

Speechless aku bacanya. Terima kasih sudah berbagi ya mba, peluk mba Wawa...

Ririn Rosaline mengatakan...

Tidak pernah bisa mengungkapkan dengan kata2 apa yg ada di hati. Maafkan Wa, bukan krn nggak ikut bersedih bersamamu; tp menyadari bahwa walau sepaham apapun kukatakan, tetap akunya nggak bisa picturing rasa di hati Wawa dan Satto. Sakit dan sedihnya. Tp kami semua mendoakan smg Wawa dan Satto selalu dianugerahi kekuatan dan kekuatan dan kekuatan. ..

Risalah Husna mengatakan...

Proud to know you mba.. Dari kamu, aku belajar ikhlas. Bahwa apapun yang miliki di dunia ini, ternyata cuma titipan. Titipan yang harus ikhlas kita kembalikan jika sang Pemilik memintanya kembali.

Fie Andini mengatakan...

Mengingat mati...itu intinya ya mba. trimakasih untuk tulisan ini yg bikin saya meleleh dan jadi ingat kematian yg pasti. big hug buat mba wawa...dayu sangat bangga punya ibu hebat kyk mba wawa...love you mba..:*

wawaraji mengatakan...

aku pun speecless bc komen2 termasukmu mbak tx yaaaa

wawaraji mengatakan...

ah mbak Rin kamu ada bersama kami lewat cara lain yg bikin hati senang...mjd teman kami aja udah sgt membantu. doanya apalagi

wawaraji mengatakan...

kita belajar bareng ya ci

wawaraji mengatakan...

hugs jg utk malaikat kecilmu y mbak

wawaraji mengatakan...

hugs jg utk malaikat kecilmu y mbak

Lisna Ardhini mengatakan...

Beruntung aku kenal mba wawa dari blogging. Baca cerita ini dan ga terasa jadi mewek, huhuhu. Btw suamiku juga dulu di kompas.com, katanya kenal mba wawa, hohoho.

Widya Candra Dewi mengatakan...

Hixhixhix. Sedih baca ini, :'(

Ina Inong mengatakan...

Turut berduka Mbak Wawa dan terima kasih sharingnya

Syaifuddin sayuti mengatakan...

Rahayu pasti bangga memiliki kedua orang tua yg sangat menyayanginya... Sesungguhnya ia tak pernah pergi, karena ia ada di hati orang2 yg mengasihinya.. *masih ingat dg jelas saat di RS Sari Asih, melihat Rahayu tidur dg tenangnya*

Fidia Wati mengatakan...

Terimakasih mba..sudah berbagi cerita ini. Sampai nangis bacanya.

Roswitha Jassin mengatakan...

Mba wawa. Kuat sekalii. Aku kalau kemakam seringkali nangis. Kalau dirumah juga masih nangis tiba tiba di kamar. Kalau sudah begitu tarik nafas dalam istighfar dan baca Al Fatihah saja. Peluukk mba wawa.