Ngekos Sehari Saat Jenuh WFH Tapi Butuh Privasi Paket Hemat

15.00.00 wawaraji 0 Comments





Ini cerita Duoraji yang tertunda dari tahun lalu, persisnya pertengahan November 2021. Setelah drama kecil di rumah orangtua, saya memutuskan keluar rumah ikut suami bekerja. Sebenarnya banyak alasan memberi jarak dengan rumah orangtua, saya butuh PRIVASI dan mulai JENUH WFH, ditambah lagi sudah dua pekan Duoraji "LDR"-an, butuh aja berduaan. Meski menurut suami, berlebihan bilang LDR karena hanya ditinggal pekerjaan pemotretan 3 hari 2 malam di Cikarang. Dengan dana terbatas alias berhemat, ide yang muncul di kepala adalah sewa kosan seharian, sambil menunggu suami pulang. Misi utamanya supaya bisa bekerja di ruang privasi tapi enggak boros dibandingkan di cafe (lagipula seharian di cafe yang sama kalau gak repeat order ya malu kalau saya mah). 

Omong-omong perkara LDR, mungkin benar kata suami yang menganggap saya berlebihan pisah kamar tiga hari. Jujur saya enggak kuat kalau harus LDR karena enggak bisa berkomunikasi dengan baik. Saya salut kepada pasangan menikah yang bertahan LDR baik karena pilihan atau memang mau tidak mau dijalankan karena tugas negara misalnya. 

Nah, akibat "LDR" inilah, saat suami lanjut bekerja di pekan kedua dengan lokasi di Jakarta, akhirnya saya ikut suami pergi bekerja pagi-pagi, menembus jalan raya di hari kerja jadi nostalgia masa-masa berkarier pekerjaan kantoran dahulu kala. Tiba di lokasi, tentu saja saya memisahkan diri, mencari kedai kopi di lobby gedung pemotretan, mengerjakan pekerjaan saya sendiri, work from anywehere. 

Lalu apa yang terjadi ketika pagi-pagi ngopi dan sarapan sehat roti tuna? Saya sakit perut dan toilet hanya ada di dalam gedung. Sebenarnya enggak masalah bolak balik gedung meski harus dua kali scan aplikasi Peduli Lindungi sebagai prosedur kesehatan pandemi, tapi saya memilih pindah tempat kerja. Pindah ke mana? Ini dia cerita ngekos sehari. 

WFA di Kosan Seharian 
Saat ngopi dan sarapan di kedai kopi sebuah gedung perkantoran, pikiran melayang dan mendarat di Marketplace. Pikiran saya saat itu, enggak mungkin sih seharian di kedai kopi ini, jadi ke mana lagi ya yang hemat karena jajan di kedai ini dah lumayan mengurangi jatah belanja saya. Lantaran ingin berhemat, dipikir-pikir daripada ke cafe atau kedai kopi untuk makan siang yang bisa merangkap jadi tempat bekerja, kenapa gak check in hotel murah meriah ajah. Tiba-tiba perut bergejolak, sebelum benar-benar tak tertahankan langsung aja berpikir cepat. Setelah pilah-pilih, itung-itung, dan mulai pakai feeling tempat mana yang cocok dari segi harga, lokasi, rute, dan biaya transporasi ke tempat tujuan, akhirnya memilih hyegiene verified guest house di Patal Senayan. Jaraknya dekat dari lokasi pemotretan suami di Wisma 46 Jakarta. Jadi, hitung ongkos taksi, cukup 20.000 rupiah sudah termasuk tips. 

Berhubung sakit perut tak tertahankan, mampir sebentar di pom bensin terdekat. Sambil beli cemilan di minimarket untuk persiapan WFA di Guest House. Tiba di tujuan, berubah lagi rencana karena masih pagi belum waktunya check in, dan tidak ada ruang kerja di lobby. Baiklah, nambah biaya supaya bisa langsung masuk kamar, total biaya Rp 250.000 untuk kos seharian. Kenapa seharian, enggak bermalam? Niatnya bermalam, namun ternyata harus reservasi di awal untuk jatah parkir mobil. Alhasil, pulang deh agak malam, biar enggak merasa rugi (padahal sih ya rugi sih). 

Masuk kamar, nyaman bersih, lumayan lahhh untuk privasi dan WFA cari suasana beda dari rumah (maklum serumah dengan orangtua sepuh dan jatah kamar macam apartemen studio ruang gerak terbatas ajah). Mulai buka laptop, kerja, dan menikmati bisingnya lalu lintas jalan raya dan pemandangan menara sebuah gedung mantan kantor media ternama. 


Perut mulai lapar, berhubung berada di daerah yang enggak asing buat saya, keluar kamar jalan kaki mencari nasi padang. Ketemu dengan mudah, bungkus, jajan lagi di minimarket, balik ke kamar kosan. Nikmatnya makan sendirian dan camilan aman. Lanjut kerja, sampai akhirnya suami menjemput di malam hari. 

Kalau dihitung, pengeluaran seharian. WFA dari pagi sampai malam, dengan ruang kerja yang aman karena sendirian (maklum pandemi saya agak overthinking kalau di keramaian), total Rp 350.000 di pusat kota Jakarta. Masih boros sih kalau buat saya, tapi hemat dibandingkan check-in hotel low budget pun, atau daripada seharian berpindah beberapa cafe untuk WFA. Saya masih bisa berhemat dengan cara ini, ditambah lagi gak khawatir ketemu banyak orang. Benar-benar bekerja tenang dengan privasi, sendiri, dan bisa rebahan, serta suasana seperti anak kosan yang lagi WFH. 

Menurut saya sih, di Jakarta kita bisa memilih mau memilih lifestyle seperti apa, berapa pun anggaran harian, bisa kok menikmati apa yang kita suka sesuai selera dan kemampuan loh ya. Kebutuhan makan yang enggak menghabiskan uang banyak juga bisa, karena warteg tersebar di mana-mana, nasi padang Rp 10.000 juga ada, yang penting enggak lapar. Hotel sederhana sampai mewah juga ada, jadi ya semua balik ke pilihan pribadi dan sesuaikan kemampuan pastinya. Mencari kesenangan enggak harus mahal, saya sih sedang berlatih hidup seperti itu ya. Selain memang bukan orang kaya, enggak punya banyak uang, tapi cukup dan selalu dicukupkanNYA. Pas mau sedikit kelayapan, pas cukup uang, jadi memang ya perlu berhemat juga  supaya bisa lebih sering kelayapan dengan beragam caranya.

Nanti, kalau ada cerita seru (mudah-mudahan terasa serunya), boleh ya cerita lagi. Sambil baca, jangan lupa seruput teh atau kopi, toss ahh. 




 





You Might Also Like

0 comments: