4 Tahun Dahayu dengan Pesan Istimewa

02.38.00 wawaraji 32 Comments



HARI INI, empat tahun lalu, 28 Februari 2013, DAHAYU, anakku, lahir atas kehendak Allah dengan bantuan dokter kandungan yang “berjihad di jalan sepi”. Dia membantu banyak ibu melahirkan dengan tidak membebani biaya yang memberatkan. Dia menjadi perantara Tuhan menyelamatkan ibu dan Dahayu, dari risiko kematian, akibat pendarahan dengan kondisi plasenta previa. 



Hari ini, empat tahun kemudian, Dahayu bahagia di Surga, dan semakin banyak pesan yang “dititipkan” kepada kami orangtuanya, terutama kepada ibu.

Ini cara saya, ibu yang memperingati hari jadi anaknya di surga. Cara yang istimewa, rasanya takkan ada yang mau bertukar peran dengan saya. Peran yang harus saya jalani dan semoga dimampukan meski kadang iman naik dan turun dengan mudahnya. Atas izinNya, doa untuk selalu diberi petunjuk menuju jalan lurus, memudahkan untuk menaikkan kembali iman dan kadang menurun dengan drastisnya. Allah maha membalikkan hati, dan itu nyata terjadi pada saya.

Ini cara saya, sekadar berbagi apa yang dirasa, pengalaman ibu #CeritaIbu, yang barangkali ada manfaatnya. Catatan perjalanan yang barangkali ada manfaatnya, sekecil apa pun itu, untuk sesama ibu dengan takdir yang sama, atau setidaknya untuk membantu berempati terhadap ibu yang berpisah dengan anaknya. Sungguh, bukan masa yang mudah dijalani, tidak mudah.

#CeritaIbu
Dahayu, 24 Februari 2017, Ibu menulis di laman #CeritaIbu. Spontan saja menulisnya, hanya menumpahkan isi kepala yang rasanya semakin berat.

Menuliskan perasaan dan pengalaman bukan hal baru. Ibu sudah menjalaninya sejak usia dini. Begitu banyak buku diary di rumah nenek dan rumah kita, berisi catatan perjalanan dan pengalaman ibumu ini nak. Membacanya kembali sungguh meneguhkan bahwa memang menulis adalah cara ibu terapi diri. Jika tidak, barangkali saat ini entah apa jadinya ibu dengan rasa yang terpendam tak tersalurkan.



Jumat, empat hari lalu, ibu menulis tentang kakek Dahayu. Menulis apa yang dirasa dari kejadian yang terekam di kepala sekian waktu, digabung dengan peristiwa yang terjadi beberapa hari sebelumnya. Ibu sakit lagi nak. Maafkan kalau Dahayu tak suka dengan ibu yang keliru merawat diri. Tak mudah menjalani hari tanpa anak ibu, kesayangan semata wayang. Rasanya tiada satu hari pun ibu tak memikirkan Dahayu. Bahkan kadang, tangis meledak hanya karena pikiran melayang dan terpicu nyanyian syahdu yang tak ada kaitannya dengan Dahayu. Tangisan yang hanya didengar oleh ayahmu yang penyabar, tak ada orang lain yang mendengarnya. Tak ada.

Kejadian antara ibu dan kakek saat ibu sakit, sungguh membuka mata. Ibu melemah seminggu sebelum hari jadi mu Nak. Ada kah pesan di balik itu? Pasti ada, karena ibu menemukan banyak makna. Februari adalah bulan spesial kita, saat Tuhan berkata, kalian berdua diperpanjang kontraknya, dengan kita berhasil hidup di masa kritis kelahiranmu. Hidup kita adalah anugerah. Karena itulah ibu memutuskan berhijab sebagai bentuk syukur atas perpanjangan umur. Nah kan, Dahayu ibu melantur. Begitu banyak pesan yang kamu “titipkan” kadang membingungkan harus mulai bercerita dari mana.

Ibu menulis tentang kakek yang begitu khawatir dengan kondisi ibumu, Nak. Ibu bisa paham, rasanya menjadi orangtua yang khawatir saat anaknya sakit. Kejadian itu, membuat ibu ingin membahagiakan kakek dan nenek sebisa ibu.

Selang tiga hari, ibu punya cerita baru. Seminggu di rumah saja mengistirahatkan tubuh, membuat ibu sempat singgah ke rumah nenek. Ibu membongkar sisa barang lama di rumah nenek, mencari buku atau apa pun yang barangkali penting untuk dibawa pulang.
Ibu selalu percaya nak, selalu ada alasan di balik kejadian. Sakitku membawaku pulang ke rumah nenek, sedikit berbincang dan membereskan kamar kita dulu Dahayu. Tangan ibu digerakkan ke laci lalu ke box yang masih bertumpuk di kamar yang sekarang ditempati kakek. Kakek selalu istirahatkan tubuhnya di ranjang kita nak. Tapi maaf ya, foto mu tak lagi dipajang. Tak apa ya nak, kasihan kakek yang tak bisa menahan rindunya bahkan ketika tak sengaja melihat foto itu.



Dari sebuah boks, ibu temukan satu buku agenda tahun 2007. Ibu memang selalu suka mencatat kejadian hari per hari. Beruntung, sejak dulu bekerja menjadi pewarta, selalu saja mendapatkan buku agenda dengan mudahnya, gratis, bonus dari bekerja.
Ibu bawa pulang buku itu. Ibu baca di sofa merah kita, di depan ayah. Tak ada satu lembar pun yang ibu lewati. Buku itu bercerita tentang perjalanan ibu menekuni pekerjaan impian sebagai wartawan. Bagaimana perjalanan ibu mewujudkan impian itu, perlahan dan bertahap, panjang sekali prosesnya. Sampai akhirnya ibu menemukan tulisan, tentang nenek.

Ibu tidak bercerita apa adanya tentang nenek. Tapi cerita perjalanan ibu sebagai anak perempuan, adik perempuan, satu-satunya di keluarga dengan dominasi enam laki-laki, tentang pergulatan anak perempuan, tentang perjuangan menafkahi diri, tentang perjuangan untuk keluarga dan cinta.

Nak, dari rangkaian cerita itu, ibu menyimpulkan melalui tangisan menjadi di kamar mandi. Bahwa ibu, atas kehendak Allah, dilahirkan dari rahim nenek, untuk dipersiapkan menjadi ibu Dahayu. Menjadi ibu dalam 3,5 tahun saja. Menjadi ibu yang kuat karena lahir dari rahim nenek yang sangat kuat.

Dahayu belum bisa paham kalau ibu ceritakan, tentang kakak pertama ibu yang “sakit” lebih dari 20 tahun lamanya. Nenek, atas kehendak Allah, kuat bertahan dengan iman yang justru semakin naik tingkat. Nenek, menjalani takdirnya, merawat dan berikhtiar yang terbaik mental dan materi, untuk kesembuhan anak pertamanya. Lebih dari 20 tahun Dahayu, bayangkan. Ibumu ini menjadi bagian dari proses penyembuhan itu. Menjadi bagian dari “sakitnya” itu. Dan sungguh tak mudah menjadi anak perempuan untuk tumbuh dengan kondisi keluarga yang diuji mental dan materi, lebih dari 20 tahun.
Entahlah bagaimana menceritakannya nak. Hanya Allah yang tahu. Tapi ayahmu tahu Dahayu. Dia lah teman setia ibu, soulmate ibu sejak kami pertama kali bertemu tahun 2000. Dia paham kesulitan yang ibu hadapi sedari dulu.

Dahayu, jelang hari jadimu, ibu mendapatkan pesan baru. Bahwa kalau bukan karena nenek yang memberi contoh bagaimana menjadi ibu yang tangguh dan menjalani hidup dengan iman, ibu takkan bisa menjadi seperti sekarang.

Nenekmu sangat hebat. Ibu yang luar biasa hebat. Bertahan dalam iman untuk mendapatkan ridha Allah dengan mengurus tujuh anaknya yang hidup, satu meninggal saat bayi. Mengurus keluarga dengan menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah. Membaca Al-Quran ketika hatinya gundah. Berdoa bertahun-tahun dan berikhtiar untuk kesembuhan anak pertamanya. Dan Allah mengabulkan doanya, lebih dari 20 tahun berikhtiar. Allah memberi juga hadiah, dengan dimampukan Umrah atas kebaikan hati bibi dan adiknya. Nenek tak mampu menabung untuk Umroh apalagi Haji Dahayu karena hartanya dipakai terus menerus untuk pengobatan anak pertamanya, untuk kesehariannya.

Ibumu ini, belum banyak memberi. Ibumu ini berupaya mencari nafkah dengan terus mencari pekerjaan yang layak gajinya, untuk membantu nenek sebisanya. Ibu pernah menjadi anak perempuan yang sangat memikirkan bagaimana beban nenek lebih ringan. Meski tak pernah memberikan seluruh gaji, setidaknya ibu hidup mandiri untuk tidak pernah membebankan segala kebutuhan ibu kepada nenek. Bagaimana kakek dan nenek berikhtiar keras membayar uang kuliah sampai meraih gelar sarjana sudah cukup menjadi modal bagi ibu. Setelah itu, hidup mandiri dan berusaha membantu menjadi fokus hidup anak perempuan yang belum banyak memberikan bantuan ini.

Nenekmu Dahayu, melahirkan ibumu ini  dengan memberikan contoh senyatanya, bahwa hidup atas kehendak Allah, harus dijalani dengan kekuatan iman, sesulit apa pun itu. Merekam jejak Nenek, apa yang ibu jalani ini rasanya belum apa-apa, meski tak bisa serta merta dibandingkan. Nenek pernah kehilangan anak perempuan. Nenek berjuang untuk kesembuhan anaknya puluhan tahun lamanya. Nenek, adalah alasan lain untuk ibu bangkit setiap kali terpuruk.



Dahayu, empat tahunmu, membawa begitu banyak pesan. Bahwa kita punya teladan kehidupan dengan penyerahan sepenuhnya kepada Allah. Teladan itu, Kakek dan Nenek. Mereka ada untuk menularkan kekuatannya kepada ibu. Bahwa adalah takdir ibu untuk hanya merawatmu tiga tahun saja, sudah digariskan. Bahwa ibu lahir dalam keluarga yang berjuang dalam hidupnya,sudah digariskan. Karena ketika kini, ibu harus menjalani hidup terpisah alam dengan Dahayu, ibu menjadi kuat, karena ada Kakek dan Nenek sebagai pengingat bahwa takdir harus dijalani dengan ridha. Ikhlas memang tak mudah, tapi Kakek dan Nenek sudah mencontohkannya, dan ibu hanya perlu menirunya.

Pesan sahabat Ibu yang seperti saudara, Mila, juga menguatkan ibumu Nak, “she only have happiness, and she wants her parent do to!....she isn’t dissapear but u just only can’t see... she always beside you closer than you think...”


Dahayu, “selamat ulang tahun” Nak. Bahagia di surga. 


You Might Also Like

32 comments:

Vita Pusvitasari mengatakan...

MasyaAllah mbak Alloh selalu menguji kita sesuai kemampuan kita, dan betul itu dengan imanlah kita bisa kuat setegar batu karang yang diterjang ombak

Uli Hape mengatakan...

Mbak wa...kalo ketemu mbk wa ingin memeluk tapi pas ktmu orgnya duh she is strong, kenapa hrs aku peluk dan kuatkan ? Selalu begitu ! Inshaallah waktu akan menguatkan mbk..selamat ulang tahun day sayang..

Dita Indrihapsari mengatakan...

Mba Wawaaa huuug.. Sehat2 terus ya mbaaa, keep strong.. Dahayu cantik pasti bahagia di sana..

Windhu mengatakan...

Mbak Wa, terima kasih Berbagi dalam tulisan.

Nunung Yuni Anggraeni mengatakan...

Salut untuk ibu-ibu tangguh Mbak Wawa dan nenek. Semoga Dahayu bahagia di sana ...

Inne R. A. mengatakan...

pagi2 baca ini jadi mbrebes mili,mbak. saya yakin bahwa Allah menakdirkan jalan mbak Wawa untuk menjadi teladan bagi perempuan lain. Bahwa di dunia yang hanya sementara ini, kita hanya menjalankan amanah, ga lebih...terima kasih karena telah berbagi kekuatan,mbak...doa terbaik untuk Dahayu,mbak Wawa dan keluarga... :*

Tati Suherman mengatakan...

Dahayu... ikhlas ibumu melepas kepergianmu..
Senyum mu bagaikan sebuah isyarat
Bahwa kelak engkau yang mengantar ibu dan ayahmu menuju surga Sang Kholik.

Wawaraji mengatakan...

Iya mbak vita.. Hy dengan iman..tawakkal..penyerahan diri dg sabar dan shalat penolongnya

Wawaraji mengatakan...

Thaanks yaaaa... Hugs

Wawaraji mengatakan...

Amiiiiiiin.... Saat ketemuan aku gak membaws serta perasaan pribadiku mbaak hhehehe... Cukup lewat tulisan aja.. Tp pelukan kan gpp dong hehehe

wawaraji mengatakan...

Thanks for reading. Aku sempet ragu mbak... Malu gak yah nulis pribadi bgt hahaha... Kalau d rmh setumpukan buku isi kepala ku... Smoga ada manfaatnya ya. Ada alasan knp tulisan ini ada.

wawaraji mengatakan...

Amin tx ya mbaaaaak

wawaraji mengatakan...

Amiin ya Allah Amin thx bgt apresiasinya mbak.. Semoga ada secuil manfaat

wawaraji mengatakan...

Amin ya Allah Amin

mira utami mengatakan...

Setiap bacaaku selalu meneteskn air mata, terharu dan merasa beruntung kenal ibu-ibu yg selalu menguatkn. Serius buat aku jd termotivasi n gk gmpang nyerah..

Tika mengatakan...

Hiks... Hiks... Selalu meneteskan air mata tiap kali membaca tulisan Ibu Dahayu...

Mba Wawa, kita hidup hanya sementara didunia ini adik Dahayu mendahului karena kecintaannya kepada Tuhan. Semakin diteguhkan dalam kasih dan iman ya Mba...

Evi mengatakan...

Semoga imannya tambah dikuatkan ya Mbak Wawa. Sekalipun Dahayu tak bisa digantikan oleh apapun Semoga Mbak Wawa sekeluarga juga dibukakan jalan untuk segera mendapat adik buat Dahayu. Aku ikut sedih membacanya Mbak. Semoga rahmat dan kasih sayang dari atas bertaburan untukmu. Amin

Lisna Ardhini mengatakan...

Peluk erat mbak wawaaaa.. Aku baca ini di kantor dan nangis di meja, huhuhu. Semoga mba wawa, mas sato, dan bapak ibu mba wawa slalu diberikan rahmat oleh Allah swt yaaaaa.. Peluk lagiiiii..

Ayaa mengatakan...

Mataku basah, hidungku kendat baca ini. Semoga Dahayu bahagia di syurga dan kelak bisa berkumpul dengan mas satto dan mbak wawa ya. Dan semoga sehat selalu untuk bapak ibu. Amin allahunna aamiin

wawaraji mengatakan...

Mbak Mira Utami, kamu itu ibu hebat! alhamdulillah jika bermanfaat, kamu pun mbak byk cerita mu yg pasti bermanfaat utk ibu lainnya

Mbak Tika, anak kita yg masih usia mingguan dalam kandungan semoga berteman di surga ya

mbak Evi berkah Allah utkmu juga

mbak Lisna, peluk, nanti teman kantormu bingung mbak....wudhu yah

Hai Ayaa... amiiiin ya allah amin, doa kesehatan yang sama utk keluarga mbak

mutie adnu mengatakan...

Mba Wawa dn mas satyo adlh orgtua pilihan yg InsyaAllah sdh mempunyai Angel di surga,,, Smoga nti cpt d percaya lg mndpt amanah yg lbh cantik Sholeh/ah yg bs menemani smp hr tua,,,

Heni Prasetyorini mengatakan...

terima kasih banyak atas sharingnya mbak Wawa.
ketika mendadak melahirkan anak prematur, dan harus menunggu sore itu dia hidup atau tidak, bahkan sampai usianya di tahun ke-10 sekarang ini, dia sehat dan besar, tak pernah sekalipun air mataku tidak menetes saat menceritakannya ulang.

menuliskan kembali yang saya alami pun, masih begitu.
bagaimana mbak Wawa menyelesaikan tulisan ini, tak terbayangkan.

dalam senyummu yang begitu tulus dan ceria, pintaku hanyalah semoga mbak wawa sekeluarga selalu dalam lindungan_Nya, itu saja. Karena segala sesuatunya dari mbak Wawa, sudah sedemikian baiknya.

wawaraji mengatakan...

@Mutie Adnu, barakallah, amin

@Heni Prasetyorini
Dahayu pun prematur mbak, 8 bulan, inkubator seminggu dan kami terpisah, sy d rumah pemulihan dia di RS. Kita takkan bisa melupakan anugerah Allah utk hidup mbak dan pasti menangis karena itu. Saya menuliskan ini dengan perjuangan. Juga utk memnuhi janji saya ke Dahayu utk menulis, selain sebagai terapi diri, juga utk bercerita bahwa hidupnya Dahayu membawa pesan utk semua, bukan hanya kami orangtuanya. Kami yakini itu.

Doaku untukmu mbak, salam utk anakmu yaaah, Allah lindungi keluarga mbak dan semua yang membaca dan komentar tulisan ini, semoga ini ada manfaatnya semoga Allah ridha

Elisa Koraag mengatakan...

Gak mampu komen tapi saya tahu kamu kuat. Lihat foto Day, selalu ada energi hangat mengalir. Walau cuma beberapa kali bertemu, saya tahu, Day itu istimewa. Bersyukur bisa mengenal kel. Wawarajji

Sadewi Handayani mengatakan...

Mba wawa makasih yah sudah berbagi tulisan.
Aku merasakan apa yang mba wawa rasakan karena kehilangan anak pertama.

wawaraji mengatakan...

Terimakasih buncha... Terima kasih

Nunu Amir mengatakan...

Bikin mewek...
Baca tulisan mbak wawa jd ikut merasakan apa yg dirasakan.
Selamat hri jadi Daahayu. Bahagia selalu disisiNya. Aamiin

Wawaraji mengatakan...

Wah kita senasib..smoga kt selalu dikuatkan ya mbak

wawaraji mengatakan...

Amiiiin tx yaaah

fitzata mengatakan...

kangen Dayu... btw, selalu seneng baca tulisan mba wawa yang mengalir meski pun yang ini bikin mata bengkak, huhuhuu...

wawaraji mengatakan...

maafkan aku kak Zata fitzata.... bikin bengkak matanya

Amanda Ratih mengatakan...

Mba aku ga kuat baca ini..ga kuat buat ngelanjutkan T_T