“Titipkan” Orangtua ke Panti Milik Negara Bukan untuk Kita, Sebuah Doa

02.29.00 wawaraji 6 Comments


Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Sosial, punya tugas memastikan Warga Negara Indonesia yang tidak mampu dan berusia lanjut untuk hidup layak dan optimal. Adalah tugas Negara memastikan tidak ada lansia yang hidup terlantar. Peran ini sudah dijalankan oleh Kementerian Sosial dengan mengelola panti sosial untuk lansia, peruntukkannya adalah para orang tua berusia lanjut yang keluarganya tidak sanggup menanggung hidupnya. Keluarga, baik anak atau menantu, yang hidupnya saja sudah susah, sehingga para orang tua tak terawat dengan layak.

Dengan segala keterbatasan panti sosial untuk lansia, ternyata masih ada saja warga, para anak yang berkehidupan mapan, yang ingin “memanfaatkan” fasilitas negara ini untuk orangtuanya. 

Bahasa “menitipkan” orangtua dengan berapa pun biaya yang harus dikeluarkan, sungguh membuat saya miris mendengarnya. Apalagi Dewi Kania, Kepala Seksi Program dan Advokasi Sosial Panti Sosial Tresna Werdha Budi Dharma Bekasi yang berkali-kali mendapati fakta seperti ini. 

Kata Dewi Kania, menitipkan itu bahasa halus dari membuang, bagi orang yang sebenarnya mampu merawat orangtuanya yang sudah lansia, namun tak mau “direpotkan” atau merasa seakan terbebani.

Pertemuan saya dengan Ibu Dewi Kania, perempuan berlatar pendidikan Kesejahteraan Sosial STKES Bandung ini sungguh berkah tak terhingga. 

Bagi saya, Ibu Dewi Kania adalah sosok perempuan, juga pejabat negara yang berdedikasi, tegas dan konsisten dengan prinsip yang dipegangnya. Latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang sangat sejalan, menjadikanya sosok pekerja yang menjalankan tugas dengan penuh passion. 

Mengelola panti lansia bukan pekerjaan mudah, termasuk untuk meladeni anak-anak dari kalangan mampu yang berani-beraninya datang “menitipkan” orangtua ke panti milik negara untuk kalangan tak mampu ini.



Di sela kegiatan bakti sosial peringatan milad dua tahun Hijabersmom Community (HMC) Bekasi, saya beruntung bisa berbincang dengan ibu Dewi Kania. Perbincangan singkat penuh makna, melengkapi pengalaman saya dua jam mengikuti kegiatan bersama para orang tua berusia 60 tahun ke atas.

Sebelum datang ke acara ini, saya pernah membatin, ingin berkegiatan bersama komunitas di bulan Ramadhan, yang berbeda. Silaturahim ke panti asuhan sudah biasa. Buka puasa bersama dengan anak yatim sudah pernah. Kali ini saya ingin melakukan hal beda, ingin ke panti jompo. Rupanya keinginan saya didengar. Berkat iseng baca timeline Facebook jejaring pertemanan saya, perhatian saya langsung tertuju pada satu e-poster HMC Bekasi yang dibagikan teman baik Chaera Lee. Tanpa pikir panjang saya langsung berkomentar, bertanya, bolehkah ikut serta. Saya yakin pasti boleh apalagi ini bukan kali pertama saya berpartisipasi dalam kegiatan HMC meski bukan member. Hanya saja sebagai orang luar komunitas, saya hanya merasa harus minta ijin dan konfirmasi, sekadar menjalankan etiketnya.  


Saya kemudian ajak beberapa blogger di komunitas yang saya kelola dalam satu program #BloggerCare. Alhamdulillah responnya positif, hanya saja karena memang ini ide spontan beberapa tak bisa hadir. 

Saya selalu yakin dalam suatu pertemuan akan ada manfaat yang dibawa pulang, sekecil apa pun itu. Pasti ada pembelajaran dari suatu pertemuan, dari silaturahim, apalagi ini kegiatan yang sedikit berbeda. 

HMC Bekasi pun baru kali pertama mengadakan baksos ke panti jompo. Ketua HMC Bekasi, Dedeh Sutisna mengatakan sebagai pribadi yang pra-lansia, dan rasanya kita semua pun begitu akan menjadi lansia suatu saat (semoga umur panjang dan berkah ya), kegiatan ini seperti pengingat dan memang tujuannya ingin berbagi kebahagiaan. Ide awal berasal dari Chaera Lee yang sebelumnya pernah mengadakan baksos semacam ini. Mom Dedeh, begitu biasa ia dipanggil, langsung mengiyakan dan terkumpullah donasi dari anggota HMC Bekasi untuk kegiatan ini. 

Hasil donasi dibelikan produk yang bermanfaat untuk para orang tua di panti, mulai diapers dewasa, hingga snack yang dikemas layaknya suvenir ultah anak-anak. Karena memang kegiatan ini merupakan bagian dari perayaan HUT 2 Tahun HMC Bekasi. Cara inspiratif merayakan hari jadi datang dari  komunitas ibu berhijab ini.

Apa pun donasi yang diberikan, sebenarnya yang dibutuhkan para orang tua di panti ini adalah perhatian. Saya melihat sendiri bagaimana para orang tua merasa senang usai kegiatan, dengan berkali-kali mengucapkan terima kasih dan menyalami kami yang lebih muda, sambil membawa bingkisan snack. Saya bisa merasakan bagaimana orang tua membutuhkan perhatian sekecil apa pun. Orangtua saya pun di rumah, ibu berusia 73 dan ayah berusia 78, sangat haus perhatian. Meski rumah kami tak berjauhan, mereka sangat butuh bertemu anak perempuannya, sekadar bertanya kabar saja. Kadang saya yang justru kerap lupa, terlalu sering berkejaran dengan waktu, sehingga tak sempat berbincang lebih lama dengan mereka.

Dewi Kania pun mengatakan demikian. Para lansia membutuhkan perhatian, terutama dari anak-anak mereka. Faktanya, yang bikin miris, justru anak-anak dari kalangan menengah bawah, yang memang kondisi memaksa mereka untuk merelakan orangtuanya dirawat di panti, lebih perhatian dan rajin membesuk orangtua mereka. 

Bukan keinginan mereka memiliki orangtua yang sudah lansia berada di panti. Kondisi ekonomi dan kehidupan memprihatinkan yang membuat anak-anak dari lansia di panti ini membuat mereka terpaksa rela terpisah dari orangtuanya. Sebagian besar lansia di PSTW Budi Dhama Bekasi ini berasal dari Jawa Barat. Sebagian “diselamatkan” dari kehidupan keluarga kurang layak, sebagian dari kehidupan serba terlantar di jalan,  sebagian dikirimkan oleh aparat atau masyarakat yang mendapati para lansia hidup di jalanan, sebagian ada juga orang hilang, lansia yang meninggalkan rumah dan tak ingat pulang.




PSTW Budi Dharma Bekasi milik negara, dikelola Kementerian Sosial, dibiayai APBN. Awalnya panti ini berada di Margaguna Radio Dalam Jakarta, berdiri sejak 1971. Namun karena penggusuran lahan, panti dipindahkan di Bekasi sejak 1981. Gedung panti ini milik Pemda DKI, namun lahan milik Jawa Barat, di bawah Kementerian Sosial. Ini adalah satu-satunya panti jompo milik negara yang melayani kebutuhan nasional. Lantaran lahannya berada di Bekasi, maka panti memberikan prioritas kepada penerima manfaat dari Jawa Barat.

Kapasitas panti sebanyak 120, dengan perawatan maksimal yang diberikan kepada setiap penerima manfaatnya, dari ujung rambut hingga ujung kaki terpenuhi kebutuhannya. Saya pun melihat sendiri bagaimana lingkungan panti ini terawat dengan baik. Ruang makan hingga ruang tidurnya terawat baik berkat kerja maksimal para PNS dan honorer yang luar biasa bagi saya dedikasinya. 

Bayangkan saja, merawat orangtua sendiri saja butuh kesabaran ekstra, apalagi ini merawat orangtua lain, orangtua dari anak-anak yang kurang beruntung hidupnya. Bagi saya, para pekerja panti adalah orang hebat yang diberikan kelebihan untuk mendedikasikan waktunya. Para pekerja panti bahkan tinggal di komplek satu kawasan dengan panti. Jadi kapan pun para orang tua di panti yang mendadak butuh penanganan, mereka siap sedia. Pantas saja, kompleks panti begitu luas, saat masuk pertama kali saya kebingungan mencari lokasi acara. Rupanya bukan hanya panti yang menampung lansia, para perawatnya pun tinggal di kawasan yang sama.




Dewi Kania mengatakan, begitu orang tua yang berakal sehat atau tidak gila masuk dan dirawat di panti, maka seluruh hidupnya menjadi tanggungan. Para lansia berusia 60-85 hidup dan beraktivitas di panti sampai akhir hidupnya. Hingga Mei 2016, tujuh penerima manfaat meninggal dunia. Ada yang berusia hingga 100 tahun. 

Hidup di panti, bagi para lansia dari keluarga prasejahtera menjadi nikmat. Mereka betah dan bahagia. Ada yang bahkan menemukan jodohnya di panti. Banyak yang betah dan tak mau pulang meski anak-anaknya bersedia menerima. Alhasil anak-anak yang harus datang membesuk. 

Beraktivitas bersama teman sebaya, di usia tua, menjadi kebahagiaan tersendiri bagi para penerima manfaat ini. Program pemerintah ekonomi kreatif untuk lansia membuat para lansia ini pun jadi produktif. Mereka bisa menciptakan barang-barang layak jual, aksesori, yang bukan hanya cantik namun fungsional, dan terlebih lagi ada cerita di balik setiap benda tersebut. Bagaimana para lansia bisa menggunakan waktunya melakukan aktivitas kreatif, bermanfaat, menghasilkan, sekaligus melatih memori agak tak pikun termakan usia, merupakan semangat hidup yang saya pribadi melihatnya di produk berlabel Yang Putri Creative ini.



Jadi, kalau Anda menemukan produk Yang Putri Creative di pameran, jangan sungkan beli. Karya para orang tua ini layak kok dibeli, dan berkah rasanya membeli barang yang dibuat dari orang tua dengan semangat hidup positif di masa tuanya. Negara membiayai aktivitas ekonomi kreatif ini. Dewi Kania mengatakan, meski anggaran diberikan lebih, pihaknya hanya menerima setengahnya bukan tak mau, tapi karena melihat kemampuan para lansia, produktivitasnya hanya sanggup menghasilkan karya dengan menyerap setengah dari anggaran yang dialokasikan. 

Daripada dana terserap tak sesuai peruntukkan, selain mubazir soal pertanggungjawaban pun menjadi pertimbangan mengapa panti tak menyerap seluruh anggaran. Meskipun sebenarnya panti sangat membutuhkan dana operasional yang tinggi.

Namun bagi Dewi Kania, menyerap dana sesuai peruntukkan lebih utama. Kalau peruntukkannya untuk program ekonomi kreatif, ia tak mau mengambil dana untuk kebutuhan lain. Lalu dana operasional yang besar didapat dari mana? Ia menjawab, dikelola semaksimalnya dari APBN. 

Bagi saya, panti menjalankan amanah APBN dengan baik. Lingkungan panti begitu terawat, para penerima manfaat juga bahagia. Donasi dari masyarakat punya andil. Namun demi menjaga amanah dan transparansi, donasi dalam bentuk barang yang dibutuhkan penerima manfaat lebih sering didapat, meski tak menutup juga kemungkinan donasi berupa uang yang akan dikelola untuk operasional. Donasi berupa uang berapa pun berharga. Biasanya dana akan dibagikan kepada seluruh penerima manfaat. Jangan salah, para orang tua juga masih suka jajan. Kalau diberi uang, para lansia ini akan pamit ke pengelola panti, pergi bersama temannya, untuk membeli es krim kesukaan ke minimarket terdekat misalnya. Perilaku para orang tua ini kembali seperti anak-anak. 

Panti ini juga punya trauma center, berkapasitas 48 orang. Tujuannya memulihkan psikis lansia yang diantarkan atau dibawa ke panti dari jalanan. Mereka yang hidupnya terlantar diselamatkan dan dirawat di tempat ini. Butuh waktu bervariasi tergantung kondisi lansia saat dibawa ke panti, untuk bisa pulih dan dipindahkan ke program reguler. Ada yang butuh seminggu bahkan lebih. 

Dengan kondisi kekurangan tenaga perawat, terutama perawat PNS, panti ini bagi saya sudah maksimal menjalankan fungsinya. Saya salut dengan Ibu Dewi Kania, yang dengan tegas mempertahankan fungsi panti sesuai amanat negara. 

Penolakannya terhadap permintaan sejumlah orang mampu yang ingin sekali “menitipkan” orangtuanya, sungguh sebuah dedikasi yang layak mendapatkan apresiasi. Meski memang masih tersisa tiga lansia dari keluarga yang membayar jasa perawatan, dari program lama yang sudah tidak dijalankan lagi oleh PSTW Budi Dharma Bekasi di bawah pimpinan Dewi Kania. Bukan lagi soal uang bicara tapi moral. Panti sosial milik negara jelas untuk mereka yang kesusahan, untuk anak-anak yang mau tak mau harus terpisah dari orangtua karena untuk hidup sendiri saja serba susah. Panti ini menyelamatkan hidup banyak keluarga. 

Jadi, jangan pernah “titipkan” orang tua selama kita masih bisa merawatnya. Kalau membayar cicilan mobil atau kartu kredit saja kita bisa, apa susahnya membayar perawat pribadi untuk menjaga orangtua kita di rumah, atau kalau kata Dewi Kania, datang saja ke panti swasta yang banyak sekali jumlahnya, bukan ke panti sosial ini.


Hadir dalam baksos HMC Bekasi di bulan Ramadhan di panti jompo ini menjadi pengingat diri. Sungguh pengalaman dan perjalanan penuh makna. Semoga kita menjadi golongan anak-anak yang mampu merawat orangtua sendiri dan kita dimampukan untuk memberikan perawatan terbaik untuk orang tua kita. Semoga saat kita lansia nanti, kita dimampukan untuk merawat diri dan punya keluarga yang peduli. Semoga kita tidak menjadi anak yang lupa atas kasih orang tua yang menjadikan kita seperti sekarang ini.



#HMCBekasi #BloggerCare #BloggerCrony #BaktiSosial 

You Might Also Like

6 comments:

chae rani mengatakan...

Alhamdulillah kita diberi kenikmatan berbagi dengan para lansia. Semoga keberkahan selalu melimpah untuk kita semua. Aamiin

wawaraji mengatakan...

Alhamdulillah, makasih yaaaa mom Chae yg inspiratif bgt. barakallah utk Chae dan keluarga. semoga kita jadi anak yang mampu merawat orangtua ya.

kornelius ginting mengatakan...

Wah seru acaranya.. Mba wawa.. Semakin ke sini blogger semakin banyak keahlian tidak hanya dalam menulis... Ya..

Salut untuk bloger2 kreatif

wawaraji mengatakan...

thanks mas Kornelius. saya sih selalu percaya blogger punya banyak skill lain, tinggal didongkrak aja hehe

Maria Sedner mengatakan...

Halo,
Apakah Anda secara finansial turun? mendapatkan pinjaman sekarang dan bisnis Anda menghidupkan kembali, kami adalah pemberi pinjaman yang handal dan kami mulai program pinjaman untuk memberantas kemiskinan dan menciptakan peluang bagi orang yang kurang beruntung untuk memungkinkan mereka untuk mengembangkan diri dan menghidupkan kembali bisnis mereka. Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami melalui email: (mariasednerloanfirm@gmail.com). informasi debitur mengisi formulir di bawah ini:

Nama lengkap: _______________
Negara: __________________
Sex: ______________________
Umur: ______________________
Jumlah Pinjaman Dibutuhkan: _______
Pinjaman Durasi: ____________
Pinjaman bunga: _____________
Nomor telepon: ________

silahkan mengajukan permohonan perusahaan yang sah.

warg sehat mengatakan...

rukunseniorliving.com panti jompo elit