Ada Kok Cara Legal Dukung Film Indonesia Selain Nonton di Bioskop

17.39.00 wawaraji 4 Comments



Saya dan suami, belakang saya branding kami berdua dengan sebutan #DuoRaji adalah penggemar dan pendukung film Indonesia. Maklum deh kami berlatar pecinta seni teater dan suami punya angan-angan jadi kru film bahkan sutradara. 

Namun memang tidak semua film Indonesia kami tonton, tetap ada seleksi. Film horor vulgar, film yang mengeksploitasi kekerasan, eksploitasi tubuh perempuan apalagi ada konten pornografi sudah kami coret dari daftar tontonan kami, buang waktu. Biasanya #DuoRaji seleksi tontonan bioskop dari siapa sutradara dan rumah produksinya. Seleksi khusus kalau kami bayar sendiri loh ya, kalau nobar gratisan sih hayuk aja sekaligus untuk belajar perbandingan film satu dengan lainnya asalkan bukan film vulgar seks dan kekerasan.

#DuoRaji tak punya anggaran khusus untuk nonton film Indonesia di bioskop tapi kami rela dan memprioritaskan bahkan mengalihkan dana lain-lain untuk dukung film Indonesia.

Nah, kadang, sering barangkali ada saja film Indonesia yang sudah turun layar dan tidak sempat kami tonton. Sedih tapi mau bagaimana, banyak faktornya. Bisa jadi saat film diputar di bioskop kami sedang tak punya budget nonton. Atau mirisnya lagi, film Indonesia memang hanya sebentar aja nangkring di layar bioskop, tergeser dengan film asing atau film lain yang mungkin lebih “menguntungkan” berbagai pihak. Bagaimana pun dunia film adalah juga dunia bisnis hiburan. Mana yang lebih membawa banyak profit film itu lah yang punya usia tayang lebih panjang.

Kecuali, tentu ada kecuali, pada film Indonesia tertentu yang fenomenal, yang memang mendapat dukungan murni dari penonton sehingga bisa berusia panjang. Pengelola bioskop tentu akan dengan senang hati memperpanjang usia tayang karena memang penonton selalu membludak tak ada habisnya.
Itulah yang terjadi pada film Indonesia karya Mira Lesmana dengan sutradara Riri Reza, film fenomenal Ada Apa dengan Cinta atau AADC2.

AADC2 memang fenomenal dan penuh nostalgia, saya menilainya nostalgia seperti di tulisan saya sebelumnya ini.

AADC 1 lahir saat perfilman Indonesia sedang bangkit dan apresiasi publik tinggi dengan karya anak bangsa. Ceritanya pun ringan dan berkesan sehingga ketika muncul 14 tahun kemudian, seri keduanya, banyak yang bernostalgia. Bahkan generasi Y pun ikutan terbawa suasana dan ikut menyaksikan meski tak tahu versi awalnya.

#DuoRaji sempat ke bioskop, beli tiket dan nonton AADC2 bahkan saya pun menuliskannya di blog tanpa siapa pun yang meminta sebagai bentuk dukungan terhadap film anak negeri.

Namun ada beberapa film Indonesia yang saya pribadi ingin saksikan langsung di bioskop namun kadung turun layar. Kalau sudah begitu, pilihannya menunggu tayang di televisi atau jujur kalau memang sangat penasaran ya beli DVD bajakan yang murah meriah. Selain berusaha juga cari info ke rumah produksi dan berharap bisa kolaborasi dengan komunitas untuk membuat nobar. Tapi usaha yang terakhir itu belum tentu mendapatkan jalan yang lancar. Akhirnya DVD bajakan lah jalan pintasnya.

Saya sadar apa pun yang berbau “bajakan” dari produk kreatif orang Indonesia adalah salah. Tapi mau bagaimana kalau memang semua serba ada dan tersedia, dekat dengan kita. Jujur saja ini sudah menjadi rahasia umum. Meski pun tentunya kita perlu mengerem keinginan menikmati segala produk kreatif dengan mental gratisan dan instan.

Aplikasi untuk Pendukung Film Indonesia

Datang memenuhi undangan  media gathering aplikasi Hooq di Anomali Coffee Menteng, 26 Juli 2016, merupakan keberuntungan dan kehormatan buat saya, sebagai blogger. Sayang saya tak bisa mengajak teman-teman komunitas blogger, tapi tak apa, saya pun bertemu beberapa blogger beruntung lainnya di sana.

Aplikasi yang menyediakan fasilitas streaming online/offline menonton film lokal dan asing ini bagi saya solusi. Sekaligus bentuk dukungan untuk sineas Indonesia. Bukan sok nasionalis, tapi memang faktanya ada pihak yang merugi, orang-orang kreatif yang memproduksi hasil karya seni lalu produknya bisa dijual bebas dengan harga murah tanpa ada imbal balik kepada mereka. Kalau mereka sudah cukup berhasil mengembalikan modal produksi dan membiayai seluruh kru mungkin bukan jadi soal, tapi bagaimana yang masih pas-pasan? Miris juga sebenarnya.

Hooq, aplikasi nonton film yang bisa diakses dengan smartphone berjaringan internet atau smart TV yang terkoneksi  smartphone dengan alat khusus, lalu membayar langganan Rp 49.500 per bulan, flat untuk seluruh konten yang ada, sebenarnya sih solusi hemat. Tentunya bagi yang memang penggemar film. Atau yang mengaku pendukung film Indonesia.

Guntur Siboro, Country Head of Hooq Indonesia mengatakan ada sekitar 3.500 judul film dan serial TV dan lebih dari 35.000 jam film Hollywood dan program lokal populer, tersedia di aplikasi Hooq. 

Hooq sebagai layanan video-on-demand adalah perusahaan joint-venture antara Singtel, Warner Bros Entertainment, dan Sony Picture Television. Jadi bisa diprediksi sendiri, film seperti apa yang bisa ditonton lewat aplikasi ini.

Belum lama, Hooq juga menerima penghargaan Best Mobile App kategori Media, Film,TV, Video dalam Global Mobile (GLOMO) Awards 2016 di Barcelona. Pengakuan taraf internasional ini tentunya bisa meyakinkan penggunanya.

Kalau penasaran silakan coba sendiri unduh Hooq untuk pengguna iOS dan Android. Kalau sudah langganan, pembayaran bulanan bisa melalui lima provider Hutchison 3G, Indosat Ooredoo, Smartfren Telecom, Telkomsel, XL Axiata dan kartu kredit.





Nah, penggemar AADC terutama AADC2 bisa melanjutkan nostalgianya melalui Hooq ini. Karena Hooq secara resmi sudah berkolaborasi dengan Mira Lesmana.

Mira Lesmana pun merespons positif inovasi teknologi ini karena memang terbukti bisa mendukung rumah produksi dan membuka jalan untuk memperpanjang usia film. Pada akhirnya film Indonesia lebih banyak meraup apresiasi masyarakat luas. Bahkan masyarakat yang tak terakses atau minim akses bioskop tapi punya smartphone dan koneksi internet.

Logis juga, karena coba deh teliti, di kampung dekat gunung saja sudah bisa terakses internet dengan teknologi 4G. Saya merasakan sendiri saat pulang kampung ke ujung Jawa Timur Lebaran lalu. Jadi kalau warga punya smartphone dan koneksi internet, aplikasi ini memudahkan warga menyaksikan film karya anak bangsa. Sementara bioskop, perlu perjalanan minimal satu jam dari kampung ke kota misalnya, belum lagi ongkos bensin, makan minum , di luar tiket nonton.

Selain mempermudah akses menonton film bioskop, aplikasi ini juga memfasilitasi penggemar setia film, lokal atau asing. Kalau Nicholas Saputra mengaku bisa memperhatikan detil film dan  menggali lebih dalam setiap adegan film dengan menonton ulang film lewat streaming. Kalau Dian Sastrowardoyo bilang nonton ulang film Indonesia lewat aplikasi streaming bisa jadi hiburan di jalan menembus kemacetan kota besar.

Kalau saya sih, alternatif kalau ketinggalan nonton di bioskop atau mau nostalgia dengan film lama. Kalau kamu apa?

#DukungFilmIndonesia

4 comments:

Bekali Diri Cerdas Menyikapi Vaksin Palsu

13.00.00 wawaraji 2 Comments



Berbekal informasi dari sumber terpercaya, melalui talkshow kesehatan bersama BPOM lima hari jelang Idul Fitri, saya merasa tercerahkan untuk menyikapi vaksin palsu.

Talkshow BPOM #PeduliVaksin bersama blogger dan komunitas Sahabat Ibu Indonesia, menghadirkan Drs. Arustiyono, Apt, MPH selaku Direktur Pengawasan Distribusi Produk Terapetik dan PKRT Badan POM RI.

Dua pelajaran penting saya dapatkan dari talkshow BPOM ini, yakni antisipasi dan menjadi orangtua lebih cerdas.

Antisipasi Vaksin Palsu
BPOM berusaha meyakinkan masyarakat untuk tidak perlu panik, takut dan upayakan tidak tergiring opini yang membuat cemas atau meresahkan. Yakin bahwa pemerintah sedang mengatasi masalah vaksin palsu, dan jaminan dari Kementerian Kesehatan bahwa imunisasi ulang bisa dilakukan, setidaknya mengurangi kekhawatiran.

Sambil pemerintah bekerja sesuai porsinya, warga pun perlu melek informasi yang benar. BPOM menjelaskan vaksin didapat dari distributor resmi tersertifikasi. Produsen vaksin yang diakui secara internasional, oleh WHO, adalah Biofarma, sebagai produsen termasuk BPOM sudah diaudit oleh WHO. Pemerintah menjamin vaksin melalui jalur resmi bermutu tinggi atau asli.

Nah, mengenai vaksin palsu, ini bukan kali pertama terjadi. Peredaran vaksin palsu pernah terjadi pada 2008, 2013, 2014 dengan modus berbeda. Kalau dulu modusnya, vaksin yang sudah kadaluarsa diganti label baru. Yang terjadi sekarang lebih tak bermoral, berdasarkan keterangan Bareskrim POLRI, pemalsu mengoplos sendiri di rumah, ditambah antibiotik dan air keran.

Bahayanya adalah, oplosan antibiotik, pada anak yang alergi bisa menyebabkan shock dan berisiko kematian. Sementara vaksin palsu yang diisi air keran yang tidak steril, dengan kondisi udara mengandung jutaan bakteri dan kuman, pemalsuan vaksin di rumah dan tempat terbuka berisiko terkontaminasi kuman dan bakteri.

Tambah khawatir memang kalau mendengar kabar ini. Saya menonton berita TV, Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia mengatakan bahwa JIKA BENAR pemalsuan vaksin dilakukan dengan menambahkan antibiotik dan air, dan dilakukan secara tidak steril, bisa saja menimbulkan risiko.

Artinya, berita bahwa oplosan antibiotik dan campuran air masih perlu dipantau terus menerus, untuk memastikan sebenarnya vaksin palsu itu berisi apa dan sejauh apa risikonya terhadap anak yang menjadi korban imunisasi dengan vaksin palsu.

Di sisi lain, Kemenkes berupaya menjelaskan pernyataan bahwa vaksin dasar dari jalur resmi dengan harga kurang dari 1 dolar, aman dari pemalsuan. Karena pemalsuan vaksin hanya terjadi pada vaksin berharga mahal yang sangat memungkinkan diperdagangkan dengan keuntungan besar. Vaksin mahal ini merujuk pada vaksin tambahan atau pilihan bukan vaksin untuk imunisasi dasar. Imunisasi dasar wajib diberikan kepada bayi sebelum usia satu tahun.

“Yang beredar vaksin palsu itu, banyaknya vaksin pilihan, sedangkan vaksin wajib tak palsu,” kata Arustiyono.

Hasil pemeriksaan BPOM di 9 provinsi di Indonesia, vaksin palsu didapati di sebagian besar RS Swasta dan Klinik Swasta, kalangan menengah atas. Sedangkan sarana kesehatan pemerintah dengan pelayanan gratis seperti posyandu, puskesmas, RS pemerintah umumnya aman dari vaksin palsu.

Balai Besar BPOM seluruh Indonesia juga sudah melakukan segel semua vaksin RS Swasta dan apotek. Hal lain yang bisa dilakukan BPOM untuk antisipasi adalah inspeksi lebih rutin ke sarana pelayanan kesehatan untuk memastikan mekanisme pemusnahan kemasan vaksin.

Berdasarkan permenkes, kemasan vaksin yang sudah digunakan di RS/ klinik harusnya dihancurkan. Biang masalahnya terletak pada oknum yang memulung atau mengumpulkan kemasan bekas pakai dan dijual. Lalu botol bekas kemasan ini digunakan lagi dengan pemalsuan vaksin.

“Ke depan, kami akan melakukan inspeksi lebih rutin ke sarana pelayanan kesehatan dan mengecek mekanisme pemusnahan itu sudah dilakukan dengan baik atau tidak,” jelas Arustiyono.

Inspeksi lebih intens ini menjadi penting karena selalu ada pihak yang memanfaatkan karena secara ekonomi menguntungkan. Meski laporan kemasan vaksin sudah dimusnahkan, jalur ilegal tetap ada dan ini adalah tindakan kriminal. Kepolisian punya andil dalam kasus pelanggaran peraturan mengenai pemusnahan kemasan vaksin bekas pakai ini.

BPOM juga akan mengupayakan bisa memberikan sanski kepada sarana kesehatan, dan ini harus didukung oleh regulasi, supaya BPOM tidak hanya bisa merekomendasi Dinas Kesehatan tapi juga bisa memberi sanksi kepada sarana pelayanan kesehatan yang melanggar aturan.

Jadi Orangtua Cerdas

Pada akhirnya, sebagai orangtua kita harus lebih tegas dan berani bertanya kepada tenaga medis. Mencari dokter atau tenaga medis yang komunikatif memang tantangan besar, karena tak mudah menemukannya. Namun pastikan yang terbaik untuk anak kita, setidaknya kita memilih sarana dan pelayanan kesehatan yang paling nyaman, memudahkan komunikasi sehingga kita tidak menjadi pasien pasif.

Ayu Dyah Pasha dari Sahabat Ibu Indonesia mengatakan prinsip kehati-hatian sebagai konsumen perlu lebih ditegaskan. Selain juga perlu ada informasi dan edukasi kepada konsumen untuk bisa membaca label vaksin baru atau bukan, palsu atau tidak, dan bagaimana mengetahui pembandingnya.

Soal imunisasi, memang memprihatinkan ketika orangtua yang ingin memberikan terbaik untuk anak, dengan imunisasi pilihan, bukan hanya dasar dan lanjutan, namun justru vaksin pilihan yang disalahgunakan.

Ayu Dyah Pasha mengatakan sebagai ibu yang ingin memberikan terbaik untuk anaknya, ibu memberikan vaksin pilihan untuk memberikan rasa aman bagi anak. Tapi kejadiannya justru vaksin pilihan itu yang menjadi sasaran untuk dipalsukan.


Perlu diketahui bahwa imunisasi dasar yang wajib dijalankan tertera pada buku panduan tumbuh kembang anak, yang orangtua dapatkan setelah melahirkan. Orangtua bisa memantau tumbuh kembang anak, termasuk jadwal imunisasi lewat buku Kesehatan Ibu dan Anak yang biasanya diterbitkan oleh Rumah Sakit atau Klinik/Bidan tempat melahirkan.

Bagi saya, imunisasi adalah hak kesehatan anak. Saya pun memastikan anak sejak lahir sudah mendapatkan imunisasi dasar, juga lanjutan, sesuai jadwal yang diberikan dokter. Dengan kondisi lingkungan yang makin tak sehat, dan kondisi anak saya yang lahir prematur, membuat saya merasa harus memproteksi si kecil dengan pelayanan kesehatan maksimal.

Dari informasi yang saya dapat melalui berbagai ruang diskusi kesehatan, imunisasi pilihan juga menjadi perhatian. Namun memang harga imunisasi pilihan sangat tinggi. Saya berpikir ulang untuk imunisasi pilihan. Sempat ingin “memaksakan” demi memberikan yang terbaik, namun urung karena memang harganya tak terjangkau. Akhirnya kami orangtua hanya kembali berserah, berusaha menyeimbangkan kesehatan anak dengan asupan sehat, pola hidup sehat, lingkungan sehat, di luar imunisasi dasar dan lanjutan yang sudah lengkap dilakukan.

Saya bersyukur karena batal imunisasi pilihan namun sekaligus miris, tak menyangka bahwa ada pihak yang memanfaatkan pemalsuan vaksin untuk imunisasi pilihan yang mahal ini. Vaksin mahal menjadi celah memenuhi hasrat serakah meraup uang. Padahal, tak sedikit orangtua yang rela mengeluarkan dana lebih untuk memastikan kesehatan anaknya optimal dengan vaksinasi.

Catatan Imunisasi Pribadi

Adalah pilihan untuk orangtua mau melakukan imunisasi sampai pada tahap mana. Kembali kepada informasi yang diserapnya dan kemampuan biaya. Bagi orangtua yang sudah sangat teredukasi mengenai imunisasi dasar hingga pilihan, mengeluarkan biaya tambahan demi proteksi anak dari risiko kesehatan ke depan, bukan jadi soal. Orangtua akan mengupayakan yang maksimal untuk anaknya.

Menjadi miris ketika upaya maksimal orangtua ini, dimanfaatkan pihak tak bermoral, untuk memperkaya diri. Tak terbayangkan bagaimana para orangtua korban vaksin palsu menahan amarahnya terhadap pemalsu.

Saya pun bisa memaklumi ketika sebagian orangtua korban vaksin palsu begitu gusar dan memprotes rumah sakit, karena apa yang diusahakan maksimal untuk anak justru berbuah masalah kesehatan untuk anak-anaknya. Sekali lagi, adalah pilihan untuk orangtua melakukan imunisasi pilihan dengan vaksin mahal, karena setiap anak tak sama kondisinya, tentu ada alasan mengapa orangtua tidak puas hanya dengan imunisasi dasar, lanjutan, dan melengkapinya dengan imunisasi pilihan.

Semoga para orangtua korban vaksin palsu mendapatkan pelayanan maksimal, demi anak-anak, generasi penerus yang lebih sehat optimal. Semoga pemerintah lebih gesit menangani masalah kesehatan yang sangat penting ini, karena tubuh anak yang sehat adalah bekal untuk bisa produktif menjadi pewaris penerus bangsa ke depan.

Jika masalah kesehatan dari vaksin palsu ini masih berulang dan tak juga tuntas, kita bisa mempertanyakan, ada apa sebenarnya di balik konspirasi tenaga medis ini? Kalau mau berasumsi, adakah sebuah skenario besar yang ingin membuat bodoh generasi kita dengan sumber daya yang penyakitan sehingga tak produktif? Ini hanya kecurigaan dan asumsi, semoga saja tidak terjadi dan segera tuntas isu vaksin palsu ini.

Semoga edukasi kesehatan untuk keluarga juga semakin intens sehingga para orangtua menjadi lebih cerdas, dan masyarakat pun lebih aktif mengambil perannya sebagai konsumen cerdas.

2 comments:

Memberantas Vaksin Palsu, Apa Peran Kita?

02.13.00 wawaraji 0 Comments


Isu vaksin palsu masih jadi pemberitaan di media, dan masih ramai di media sosial. Kekhawatiran bahkan ketakutan dialami banyak orangtua terutama dengan anak balita yang rutin terjadwal melakukan imunisasi. Kecaman juga terus muncul berjamaah mengutuk pelaku produsen vaksin palsu, oknum tenaga medis yang serakah mendulang untung dari ketidakmengertian masyarakat awam mengenai sumber vaksin untuk imunisasi.

Serakah saya bilang, ini murni asumsi pribadi, sekadar menyimpulkan sendiri motif dari pelaku membuat dan mengedarkan vaksin palsu ini. Serakah karena kesan awalnya, para pelaku jelas tergiur uang berlimpah dari jual beli vaksin palsu, dengan jaringan tenaga medis tak bermoral yang semuanya serakah ambil jalan pintas menjadi kaya. Sekali lagi ini asumsi, karena memang belum jelas, apa sebenarnya motif pelaku, ada apa di balik peredaran vaksin palsu ini, siapa dalangnya? Yang pasti ada motif ekonomi di balik pemalsuan vaksin ini.

Terlalu banyak pertanyaan di kepala mengenai vaksin palsu. Namun satu hal pasti, semua orang mengutuk para pelaku pembuat dan pengedar vaksin palsu. Pasalnya, isu kesehatan ini menimbulkan keresahan, tentang bagaimana kesehatan anak-anak, generasi ke depan, dan kita masyarakat awam pun jadi merasa terancam karena tenaga medis ternyata bisa leluasa melakukan aksi tak bermoral ini.

Namun apa gunanya terus mengutuk kalau tidak ada solusi dan bagaimana mengantisipasi masalah ini dan memutus rangkaian masalah agar tak berkelanjutan.

Menghadiri talkshow beberapa hari jelang Hari Raya Idul Fitri bersama BPOM dan Sahabat Ibu Indonesia, sungguh mencerahkan dan setidaknya mengurangi kekhawatiran para orangtua. Setidaknya, masyarakat melalui peran blogger, mendapatkan informasi dari sumber terpercaya mengenai vaksin palsu dan peredarannya.

Sepekan usai Lebaran, ternyata vaksin palsu masih menjadi isu penting di media. Selalu ada perkembangan penanganan pemerintah mengenai masalah kesehatan ini. Namun yang pasti, saya pribadi merasa lebih teredukasi dan mengurangi sedikit khawatir serta bisa berbagi informasi saat silaturahim bersama keluarga saat liburan lebaran lalu. Isu vaksin palsu ini pun menjadi topik hangat di lingkungan keluarga.

BPOM #PeduliVaksin
Menghadirkan Drs. Arustiyono, Apt, MPH selaku Direktur Pengawasan Distribusi Produk Terapetik dan PKRT Badan POM RI, talkshow #pedulivaksin bersama BPOM memberikan edukasi dan pencerahan.

BPOM sendiri sudah melakukan tindakan pengamanan  dengan melokalisir penyebaran vaksin palsu dengan melibatkan 32 balai POM di seluruh Indonesia, melalui inspeksi.

Kondisinya, sudah terdeteksi penyebaran vaksin palsu ini di 9 provinsi serta di 37 titik bukan hanya Rumah Sakit tapi juga Klinik, Apotek, bahkan praktek bidan.

Pemerintah sedang memproses secara hukum terkait kasus vaksin palsu ini. Berita terbaru menyebutkan bahkan pemerintah akan menindak dari sektor keuangan untuk mengatasi isu kesehatan ini.

Presiden Jokowi juga sudah menegaskan bahwa pemalsu vaksin harus dihukum berat. Kemenkes bersama BPOM juga bersinergi memastikan agar sarana pelayanan kesehatan tak membeli vaksin dari jalur ilegal.

Sumber foto: news.detik.com

Ke depannya, BPOM akan lebih mengintensifkan melakukan pemeriksaan di sarana-sarana pelayanan kesehatan dan pelayanan kefarmasian, apakah tedapat vaksin palsu atau tidak juga produk ilegal lainnya.

Soal isu peredaran produk ilegal di sejumlah toko obat, BPOM menanggapinya bahwa BPOM tidak memiliki kewenangan melakukan tindakan. Faktanya, pada 2015, BPOM sudah merekomendasikan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota bahwa ada sekitar 7600 toko obat dan apotek yang disinyalir menyalurkan  produk ilegal. Namun apa daya, BPOM tidak bisa menerapkan sanksi karena memang bukan wewenangnya. Adalah wewenang Pemda untuk menindak dari informasi yang diberikan oleh BPOM.

Di Surabaya, BPOM pernah merekomendasikan Walikota Ibu Risma untuk mencabut izin beberapa apotek, dan hampir 100 persen ditindaklanjuti.

BPOM juga sudah memberikan saran kepada jajaran Gubernur untuk menindak apotek, toko obat yang direkomendasikan dari hasil inspeksi BPOM. Namun tindakan tetap menjadi wewenang pemerintah daerah. Termasuk soal vaksin palsu yang memang kesulitannya adalah membedakan mana asli dan palsu lantaran kemasan sangat rapi.

Dengan berbagai upaya pemerintah bersama BPOM ini apakah warga masih tetap khawatir? Bagi saya, wajar kalau warga masih khawatir selama informasi yang diterima masih simpang siur, dan edukasi serta sosialisasi masih minim.

Yang pasti, kekhawatiran juga perlu diimbangi dengan tindakan. Warga juga bisa lebih kritis terhadap tenaga medis, apalagi jika urusannya terkait kesehatan bayi.

Arustiyono mengatakan masyarakat punya andil dan bisa mengantisipasi setidaknya dengan lebih memerhatikan kedaluwarsa pada kemasan vaksin. Warga perlu berani bertanya kepada tenaga kesehatan, termasuk bila ragu mengenai vaksin, tanyakan apakah vaksin yang diberikan saat imunisasi asli atau palsu.

Rasanya masih sulit memang bagi warga biasa untuk memastikan vaksin palsu atau tidak selain kritis mempertanyakan dan menyikapi. Selain memastikan keterangan kadaluwarsa vaksin, hal lain yang mungkin bisa dilakukan adalah kritis memastikan pemusnahan kemasan vaksin. Barangkali kita bisa minta kemasan vaksin usai imunisasi, lalu benar-benar kita musnahkan sendiri. Meski mungkin ini jarang sekali terjadi, karena begitu bertemu tenaga medis, kita cenderung menyerahkan segala urusan kepada tenaga medis di Rumah Sakit atau Klinik, tak pedulikan lagi sumber obat/vaksin atau produk kesehatan lainnya.

Semoga saja pemerintah dan berbagai pihak yang peduli juga bisa menyeimbangkan kasus vaksin palsu dengan edukasi kesehatan lebih intens kepada warga. Juga membangun kebiasaan baru di sarana kesehatan, dengan memberikan lebih banyak akses informasi kepada pasien. Tenaga kesehatan rasanya juga perlu belajar lebih mendalam cara berkomunikasi dengan pasien, supaya pasien merasa tenang dan nyaman terinformasikan dengan baik atas produk kesehatan yang dibelinya melalui tangan-tangan "penuh kuasa" dari tenaga kesehatan kita.


0 comments:

Siap Belanja Bayar Pakai QR Code? Inovasi Teranyar Era Fintech

11.18.00 wawaraji 0 Comments



Hidup di era digital memberikan kita pilihan untuk terus update perkembangan termasuk inovasi teknologi finansial atau Financial Technology (Fintech) yang memudahkan aktivitas keseharian. Pilihan, saya bilang, karena faktanya masih banyak kok orang yang memilih tidak menjadi bagian dari dunia digital termasuk fintech. Mulai tidak bermedsos, juga tidak memiliki berbagai fasilitas yang erat kaitannya dengan gaya hidup mobilitas tinggi terkait transaksi keuangan. Misal, ada kok yang memilih tidak punya akun Facebook atau Twitter, atau Instagram. Ada juga yang memilih tidak mau pakai ATM, mobile banking, apalagi aplikasi mobile payment (e-wallet) digital bank dan lainnya.

Meski begitu, tak sedikit juga orang yang melek teknologi, dan ikuti bahkan menjadi pengguna berbagai aplikasi untuk berbagai tujuannya. Kalau saya sih, memilih untuk jadi bagian perkembangan jaman era digital ini. Tidak ada paksaan lebih karena suka dan memang terbukti memudahkan.

Saya pengguna aktif media sosial, dan selalu mencari kepraktisan, kemudahan, juga benefit dari berbagai fasilitas digital. Saya pengguna marketplace, e-commerce, untuk memudahkan saya berbelanja dan bertransaksi. Sekadar cerita, saya semakin aktif menjadi pengguna e-commerce sejak melahirkan. Kondisi anak saya yang lahir prematur, butuh perawatan ekstra, membuat saya sulit bepergian karena memang harus mengawasi anak di rumah dan tidak nyaman ke mana-mana, semua perhatian tercurah untuk anakku. Semantara banyak keperluan bayi yang saya butuhkan. E-commerce menyelamatkan saya, cukup klik, belanja sesuai kebutuhan, bertransaksi melalui internet banking, maka terpenuhilah semua kebutuhan sehari-hari terutama untuk anak.

Makin ke sini, selain kebutuhan belanja yang praktis, setelah pekerjaan saya sangat berhubungan dengan dunia digital, dan sering transaksi terkait transfer pulsa dan uang, saya semakin butuh kemudahan. Pilihan saya masih marketplace dan internet banking. Namun saya merasakan masih ada kendala teknis, masih belum nyaman dengan prosesnya yang panjang, terlalu banyak yang di-klik. 

Berkesempatan mengikuti perkenalan dengan inovasi terbaru mobile payment, saya merasa tercerahkan. Sebelumnya saya sudah mengikuti Gerakan Nasional Non Tunai. Bank Indonesia yang mendorong warga untuk beralih ke transaksi nontunai atau kata lainnya mulai menggunakan e-money, tidak lagi mengisi dompet dengan uang kertas. Rasanya, era digital dengan berbagai inovasi teknologi, penggunaan e-money sangat mungkin. Hanya saja perubahan gaya hidup, kebiasaan, masih menjadi pekerjaan rumah yang besar untuk peralihan ini.

Saya pun mendapati banyak sekali aplikasi mobile payment tersedia. Sebut saja e-wallet sepertti Uangku, Dompetku, Doku, dan lainnya. Semuanya memudahkan, bagi saya, yang sudah merasakan nikmatnya transfer pulsa dengan Uangku.

Nah, terbukti, orang Indonesia itu kreatif. Anak-anak muda yang bergabung dalam PT Dimo Pay, perusahaan teknologi finansial bidang mobile payment punya inovasi terkini. Dimo menciptakan pilihan solusi pembayaran yang berbeda, bahkan satu-satunya.
Saat yang lain masih berinovasi dengan mobile payment, Dimo menciptakan teknologi yang mendukung nontunai, atau teknologi Quick Response Code (QR Code) yang bisa bersinergi dengan aplikasi mobile payment yang ada.

Dimo sebagai pencipta platform Pay by QR ini sudah bekerjasama dengan e-wallet  Uangku-Smartfren, Simobi-Sinarmas, Dompetku-Indosat dan Zimplepay-El John Digital Finance. Sedangkan merchant yang sudah bekerjasama dengan Dimo untuk menerapkan Pay by QR sudah mencapai lebih dari 300 merchant antara lain HappyFresh, Dompet Dhuafa, Lazada, dan lainnya.



Pengalaman menyenangkan yang pernah saya coba langsung adalah bersedekah melalui Dompet Dhuafa hanya dengan scan QR Code. Berbagi dengan cara praktis.

Pay by QR



Platform Pay by QR yang diciptakan oleh DIMO, dengan tenaga andal anak-anak muda Indonesia, merupakan terobosan yang juga sudah diakui Bank Indonesia.

Brata Rafly, CEO Dimo, berbagi cerita bahwa ia dan timnya sudah dua kali dilibatkan Bank Indonesia dalam berbagai kegiatan edukasi gerakan nontunai, memasyarakatkan e-money kepada khalayak. Brata juga mengklaim, Pay by QR adalah platform pertama yang mengintegrasikan smartphone sebagai alat bayar dan memanfaatkan kode QR saat bertransaksi, di Indonesia yang menjadi bagian dari mobile payment.

Bagaimana caranya? 

Untuk bisa menikmati fasilitas fitur Pay by QR ini, pengguna harus download terlebih dahulu aplikasi e-wallet/mobile payment, misal Uangku. Di aplikasi Uangku tersedia fitur Pay by QR. Pengguna hanya perlu mengaktifkan smartphone, lalu mencari merchant yang sudah bekerjasama atau bisa menerima pembayaran dengan pemindaian kode QR, lalu gunakan smartphone untuk memindai QR Code di merchant tersebut, klik OK, transaksi belanja pun selesai dalam hitungan detik. Transaksi makin nyaman kalau rajin mengisi saldo di e-wallet kita tentunya ya. Nah soal isi saldo ini, lantaran kita menggunakan uang elektronik yang tak terlihat fisiknya, perlu lebih disiplin alokasi dana belanja, jangan sampai bablas loh ya saking praktisnya bertransaksi.



Sementara untuk para merchant, cukup melakukan penagihan dengan QR Code melalui print out pada mesin Electronic Data Capture (EDC) yang sudah ada, monitor komputer, stiker tempel, maupun langsung pada monitor smartphone.

Prinsipnya, fitur Pay by QR ini bisa diterapkan siapa pun, baik pengguna punya atau tidak punya rekening bank, juga oleh merchant dari toko dari brand ternama, UKM, hingga kantin pun bisa menerapkan model transaksi belanja dengan memindai kode QR ini. 

Brata mengatakan kantin konvensional di perkantoran Sinarmas sudah menerapkan Pay by QR. Pada akhirnya, edukasi memang menjadi kunci penting keberhasilan inovasi teknologi ini. Edukasi untuk pengguna juga untuk merchant. Dimo juga masih memproses kerjasama dengan perbankan untuk berkolaborasi mengaplikasikan fitur ini di mobile payment yang sudah ada.




Nantinya, masa depan belanja ada di tangan pengguna, dengan berbekal smartphone dan internet tentunya. Hanya dengan membawa smartphone yang sudah dilengkapi e-wallet dengan fitur Pay by QR, pengguna bisa berbelanja kapan saja, di mana saja, cukup dengan scan QR Code.

Menciptakan cashless society kemudian menjadi agenda penting Dimo bekerjasama dengan berbagai pihak terutama Bank Indonesia. Tanpa masyarakat yang mau beradaptasi, melek internet dan teknologi terkini bertransaksi, inovasi secanggih apa pun akan kesulitan diterapkan. 

Yang pasti Dimo optimistis peluang terbuka lebar untuk masa depan fitur Pay by QR di era mobile payment. Dua tahun berjalan Dimo mencatat 8000 transaksi per detik dan sudah menyediakan pop box di 33 titik untuk memudahkan pengguna mengaplikasikan belanja hanya dengan scan QR Code.

Optimisme Dimo berdasarkan data dan fakta ini bahwa Indonesia punya peluang besar untuk pertumbuhan mobile payment. Melihat bahwa nilai transaksi mobile payment di Indonesia masih rendah dan dipercaya akan bertumbuh, seiring dengan berjalannya edukasi cashless society yang juga dilakukan Dimo bersama Bank Indonesia.


Jadi, sudah siap beradaptasi di era Fintech, berbelanja hanya dengan pemindaian kode QR? Saya sih siap, semoga merchant dan perbankan juga banyak yang siap ya supaya bisa bayar dengan scan QR Code di mana aja, termasuk ojek online misalnya atau bayar tol hanya dengan scan QR Code. Kalau sampai terjadi, bebas deh dari kartu e-money yang makin menumpuk di dompet.









0 comments:

“Titipkan” Orangtua ke Panti Milik Negara Bukan untuk Kita, Sebuah Doa

02.29.00 wawaraji 6 Comments


Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Sosial, punya tugas memastikan Warga Negara Indonesia yang tidak mampu dan berusia lanjut untuk hidup layak dan optimal. Adalah tugas Negara memastikan tidak ada lansia yang hidup terlantar. Peran ini sudah dijalankan oleh Kementerian Sosial dengan mengelola panti sosial untuk lansia, peruntukkannya adalah para orang tua berusia lanjut yang keluarganya tidak sanggup menanggung hidupnya. Keluarga, baik anak atau menantu, yang hidupnya saja sudah susah, sehingga para orang tua tak terawat dengan layak.

Dengan segala keterbatasan panti sosial untuk lansia, ternyata masih ada saja warga, para anak yang berkehidupan mapan, yang ingin “memanfaatkan” fasilitas negara ini untuk orangtuanya. 

Bahasa “menitipkan” orangtua dengan berapa pun biaya yang harus dikeluarkan, sungguh membuat saya miris mendengarnya. Apalagi Dewi Kania, Kepala Seksi Program dan Advokasi Sosial Panti Sosial Tresna Werdha Budi Dharma Bekasi yang berkali-kali mendapati fakta seperti ini. 

Kata Dewi Kania, menitipkan itu bahasa halus dari membuang, bagi orang yang sebenarnya mampu merawat orangtuanya yang sudah lansia, namun tak mau “direpotkan” atau merasa seakan terbebani.

Pertemuan saya dengan Ibu Dewi Kania, perempuan berlatar pendidikan Kesejahteraan Sosial STKES Bandung ini sungguh berkah tak terhingga. 

Bagi saya, Ibu Dewi Kania adalah sosok perempuan, juga pejabat negara yang berdedikasi, tegas dan konsisten dengan prinsip yang dipegangnya. Latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang sangat sejalan, menjadikanya sosok pekerja yang menjalankan tugas dengan penuh passion. 

Mengelola panti lansia bukan pekerjaan mudah, termasuk untuk meladeni anak-anak dari kalangan mampu yang berani-beraninya datang “menitipkan” orangtua ke panti milik negara untuk kalangan tak mampu ini.



Di sela kegiatan bakti sosial peringatan milad dua tahun Hijabersmom Community (HMC) Bekasi, saya beruntung bisa berbincang dengan ibu Dewi Kania. Perbincangan singkat penuh makna, melengkapi pengalaman saya dua jam mengikuti kegiatan bersama para orang tua berusia 60 tahun ke atas.

Sebelum datang ke acara ini, saya pernah membatin, ingin berkegiatan bersama komunitas di bulan Ramadhan, yang berbeda. Silaturahim ke panti asuhan sudah biasa. Buka puasa bersama dengan anak yatim sudah pernah. Kali ini saya ingin melakukan hal beda, ingin ke panti jompo. Rupanya keinginan saya didengar. Berkat iseng baca timeline Facebook jejaring pertemanan saya, perhatian saya langsung tertuju pada satu e-poster HMC Bekasi yang dibagikan teman baik Chaera Lee. Tanpa pikir panjang saya langsung berkomentar, bertanya, bolehkah ikut serta. Saya yakin pasti boleh apalagi ini bukan kali pertama saya berpartisipasi dalam kegiatan HMC meski bukan member. Hanya saja sebagai orang luar komunitas, saya hanya merasa harus minta ijin dan konfirmasi, sekadar menjalankan etiketnya.  


Saya kemudian ajak beberapa blogger di komunitas yang saya kelola dalam satu program #BloggerCare. Alhamdulillah responnya positif, hanya saja karena memang ini ide spontan beberapa tak bisa hadir. 

Saya selalu yakin dalam suatu pertemuan akan ada manfaat yang dibawa pulang, sekecil apa pun itu. Pasti ada pembelajaran dari suatu pertemuan, dari silaturahim, apalagi ini kegiatan yang sedikit berbeda. 

HMC Bekasi pun baru kali pertama mengadakan baksos ke panti jompo. Ketua HMC Bekasi, Dedeh Sutisna mengatakan sebagai pribadi yang pra-lansia, dan rasanya kita semua pun begitu akan menjadi lansia suatu saat (semoga umur panjang dan berkah ya), kegiatan ini seperti pengingat dan memang tujuannya ingin berbagi kebahagiaan. Ide awal berasal dari Chaera Lee yang sebelumnya pernah mengadakan baksos semacam ini. Mom Dedeh, begitu biasa ia dipanggil, langsung mengiyakan dan terkumpullah donasi dari anggota HMC Bekasi untuk kegiatan ini. 

Hasil donasi dibelikan produk yang bermanfaat untuk para orang tua di panti, mulai diapers dewasa, hingga snack yang dikemas layaknya suvenir ultah anak-anak. Karena memang kegiatan ini merupakan bagian dari perayaan HUT 2 Tahun HMC Bekasi. Cara inspiratif merayakan hari jadi datang dari  komunitas ibu berhijab ini.

Apa pun donasi yang diberikan, sebenarnya yang dibutuhkan para orang tua di panti ini adalah perhatian. Saya melihat sendiri bagaimana para orang tua merasa senang usai kegiatan, dengan berkali-kali mengucapkan terima kasih dan menyalami kami yang lebih muda, sambil membawa bingkisan snack. Saya bisa merasakan bagaimana orang tua membutuhkan perhatian sekecil apa pun. Orangtua saya pun di rumah, ibu berusia 73 dan ayah berusia 78, sangat haus perhatian. Meski rumah kami tak berjauhan, mereka sangat butuh bertemu anak perempuannya, sekadar bertanya kabar saja. Kadang saya yang justru kerap lupa, terlalu sering berkejaran dengan waktu, sehingga tak sempat berbincang lebih lama dengan mereka.

Dewi Kania pun mengatakan demikian. Para lansia membutuhkan perhatian, terutama dari anak-anak mereka. Faktanya, yang bikin miris, justru anak-anak dari kalangan menengah bawah, yang memang kondisi memaksa mereka untuk merelakan orangtuanya dirawat di panti, lebih perhatian dan rajin membesuk orangtua mereka. 

Bukan keinginan mereka memiliki orangtua yang sudah lansia berada di panti. Kondisi ekonomi dan kehidupan memprihatinkan yang membuat anak-anak dari lansia di panti ini membuat mereka terpaksa rela terpisah dari orangtuanya. Sebagian besar lansia di PSTW Budi Dhama Bekasi ini berasal dari Jawa Barat. Sebagian “diselamatkan” dari kehidupan keluarga kurang layak, sebagian dari kehidupan serba terlantar di jalan,  sebagian dikirimkan oleh aparat atau masyarakat yang mendapati para lansia hidup di jalanan, sebagian ada juga orang hilang, lansia yang meninggalkan rumah dan tak ingat pulang.




PSTW Budi Dharma Bekasi milik negara, dikelola Kementerian Sosial, dibiayai APBN. Awalnya panti ini berada di Margaguna Radio Dalam Jakarta, berdiri sejak 1971. Namun karena penggusuran lahan, panti dipindahkan di Bekasi sejak 1981. Gedung panti ini milik Pemda DKI, namun lahan milik Jawa Barat, di bawah Kementerian Sosial. Ini adalah satu-satunya panti jompo milik negara yang melayani kebutuhan nasional. Lantaran lahannya berada di Bekasi, maka panti memberikan prioritas kepada penerima manfaat dari Jawa Barat.

Kapasitas panti sebanyak 120, dengan perawatan maksimal yang diberikan kepada setiap penerima manfaatnya, dari ujung rambut hingga ujung kaki terpenuhi kebutuhannya. Saya pun melihat sendiri bagaimana lingkungan panti ini terawat dengan baik. Ruang makan hingga ruang tidurnya terawat baik berkat kerja maksimal para PNS dan honorer yang luar biasa bagi saya dedikasinya. 

Bayangkan saja, merawat orangtua sendiri saja butuh kesabaran ekstra, apalagi ini merawat orangtua lain, orangtua dari anak-anak yang kurang beruntung hidupnya. Bagi saya, para pekerja panti adalah orang hebat yang diberikan kelebihan untuk mendedikasikan waktunya. Para pekerja panti bahkan tinggal di komplek satu kawasan dengan panti. Jadi kapan pun para orang tua di panti yang mendadak butuh penanganan, mereka siap sedia. Pantas saja, kompleks panti begitu luas, saat masuk pertama kali saya kebingungan mencari lokasi acara. Rupanya bukan hanya panti yang menampung lansia, para perawatnya pun tinggal di kawasan yang sama.




Dewi Kania mengatakan, begitu orang tua yang berakal sehat atau tidak gila masuk dan dirawat di panti, maka seluruh hidupnya menjadi tanggungan. Para lansia berusia 60-85 hidup dan beraktivitas di panti sampai akhir hidupnya. Hingga Mei 2016, tujuh penerima manfaat meninggal dunia. Ada yang berusia hingga 100 tahun. 

Hidup di panti, bagi para lansia dari keluarga prasejahtera menjadi nikmat. Mereka betah dan bahagia. Ada yang bahkan menemukan jodohnya di panti. Banyak yang betah dan tak mau pulang meski anak-anaknya bersedia menerima. Alhasil anak-anak yang harus datang membesuk. 

Beraktivitas bersama teman sebaya, di usia tua, menjadi kebahagiaan tersendiri bagi para penerima manfaat ini. Program pemerintah ekonomi kreatif untuk lansia membuat para lansia ini pun jadi produktif. Mereka bisa menciptakan barang-barang layak jual, aksesori, yang bukan hanya cantik namun fungsional, dan terlebih lagi ada cerita di balik setiap benda tersebut. Bagaimana para lansia bisa menggunakan waktunya melakukan aktivitas kreatif, bermanfaat, menghasilkan, sekaligus melatih memori agak tak pikun termakan usia, merupakan semangat hidup yang saya pribadi melihatnya di produk berlabel Yang Putri Creative ini.



Jadi, kalau Anda menemukan produk Yang Putri Creative di pameran, jangan sungkan beli. Karya para orang tua ini layak kok dibeli, dan berkah rasanya membeli barang yang dibuat dari orang tua dengan semangat hidup positif di masa tuanya. Negara membiayai aktivitas ekonomi kreatif ini. Dewi Kania mengatakan, meski anggaran diberikan lebih, pihaknya hanya menerima setengahnya bukan tak mau, tapi karena melihat kemampuan para lansia, produktivitasnya hanya sanggup menghasilkan karya dengan menyerap setengah dari anggaran yang dialokasikan. 

Daripada dana terserap tak sesuai peruntukkan, selain mubazir soal pertanggungjawaban pun menjadi pertimbangan mengapa panti tak menyerap seluruh anggaran. Meskipun sebenarnya panti sangat membutuhkan dana operasional yang tinggi.

Namun bagi Dewi Kania, menyerap dana sesuai peruntukkan lebih utama. Kalau peruntukkannya untuk program ekonomi kreatif, ia tak mau mengambil dana untuk kebutuhan lain. Lalu dana operasional yang besar didapat dari mana? Ia menjawab, dikelola semaksimalnya dari APBN. 

Bagi saya, panti menjalankan amanah APBN dengan baik. Lingkungan panti begitu terawat, para penerima manfaat juga bahagia. Donasi dari masyarakat punya andil. Namun demi menjaga amanah dan transparansi, donasi dalam bentuk barang yang dibutuhkan penerima manfaat lebih sering didapat, meski tak menutup juga kemungkinan donasi berupa uang yang akan dikelola untuk operasional. Donasi berupa uang berapa pun berharga. Biasanya dana akan dibagikan kepada seluruh penerima manfaat. Jangan salah, para orang tua juga masih suka jajan. Kalau diberi uang, para lansia ini akan pamit ke pengelola panti, pergi bersama temannya, untuk membeli es krim kesukaan ke minimarket terdekat misalnya. Perilaku para orang tua ini kembali seperti anak-anak. 

Panti ini juga punya trauma center, berkapasitas 48 orang. Tujuannya memulihkan psikis lansia yang diantarkan atau dibawa ke panti dari jalanan. Mereka yang hidupnya terlantar diselamatkan dan dirawat di tempat ini. Butuh waktu bervariasi tergantung kondisi lansia saat dibawa ke panti, untuk bisa pulih dan dipindahkan ke program reguler. Ada yang butuh seminggu bahkan lebih. 

Dengan kondisi kekurangan tenaga perawat, terutama perawat PNS, panti ini bagi saya sudah maksimal menjalankan fungsinya. Saya salut dengan Ibu Dewi Kania, yang dengan tegas mempertahankan fungsi panti sesuai amanat negara. 

Penolakannya terhadap permintaan sejumlah orang mampu yang ingin sekali “menitipkan” orangtuanya, sungguh sebuah dedikasi yang layak mendapatkan apresiasi. Meski memang masih tersisa tiga lansia dari keluarga yang membayar jasa perawatan, dari program lama yang sudah tidak dijalankan lagi oleh PSTW Budi Dharma Bekasi di bawah pimpinan Dewi Kania. Bukan lagi soal uang bicara tapi moral. Panti sosial milik negara jelas untuk mereka yang kesusahan, untuk anak-anak yang mau tak mau harus terpisah dari orangtua karena untuk hidup sendiri saja serba susah. Panti ini menyelamatkan hidup banyak keluarga. 

Jadi, jangan pernah “titipkan” orang tua selama kita masih bisa merawatnya. Kalau membayar cicilan mobil atau kartu kredit saja kita bisa, apa susahnya membayar perawat pribadi untuk menjaga orangtua kita di rumah, atau kalau kata Dewi Kania, datang saja ke panti swasta yang banyak sekali jumlahnya, bukan ke panti sosial ini.


Hadir dalam baksos HMC Bekasi di bulan Ramadhan di panti jompo ini menjadi pengingat diri. Sungguh pengalaman dan perjalanan penuh makna. Semoga kita menjadi golongan anak-anak yang mampu merawat orangtua sendiri dan kita dimampukan untuk memberikan perawatan terbaik untuk orang tua kita. Semoga saat kita lansia nanti, kita dimampukan untuk merawat diri dan punya keluarga yang peduli. Semoga kita tidak menjadi anak yang lupa atas kasih orang tua yang menjadikan kita seperti sekarang ini.



#HMCBekasi #BloggerCare #BloggerCrony #BaktiSosial 

6 comments: