Beruntung dan Bersyukurlah Perempuan yang Leluasa Menulis Apalagi Ngeblog

17.35.00 wawaraji 5 Comments

Sumber ilustrasi foto: Kompas.com

Bicara soal perempuan, entah kenapa, selalu ada saja yang bisa diperbincangkan. Semakin sering kita menyentuh kehidupan perempuan, semakin banyak pertemuan-pertemuan dengan perempuan dari berbagai kalangan dan profesi, selalu ada kisah di balik sosoknya. Kompleks. Hidup perempuan sangatlah kompleks. Tak heran saya kalau komunitas yang hadir karena keperempuanannya selalu hidup karena perempuan memang butuh saling menyemangati, mendukung, membesarkan hati dan dirinya, karena hidupnya terlalu kompleks.


Lihat saja, dari perkara yang tak pernah tuntas dibahas, tentang ibu bekerja baik kantoran dan ibu rumah tangga. Bagi saya, semua ibu itu bekerja. Kembalikan saja makna bekerja yang tidak selalu diasosiasikan dengan kantor atau perusahaan. Perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga juga bekerja. Bekerja dengan pikiran dan tenaganya, memastikan semua urusan hari itu terselesaikan dengan baik. Bukankah itu sebenarnya prinsip bekerja, urusan tuntas per harinya. Baik perempuan yang bekerja kantoran, wirausaha, pebisnis online, internet marketer, menulis di kantor dan di rumah atau di mana saja dia bisa, ibu rumah tangga semua bekerja. Perkara yang satu ini saja banyak pro-kontranya, banyak adu argumen yang bisa terjadi kalau diangkat di forum diskusi. Saya sendiri tidak membahas soal perkara ini di tulisan ini. Saya punya isu lain, yang mungkin tak semua perempuan merasakan.


Merasakan betapa pedihnya ketika kita ingin sekali bercengkerama dengan kata-kata, dengan ide di kepala yang mengalir deras, namun tak bisa tertuangkan dalam tulisan. Baik tulisan tangan apalagi menulis di layar komputer yang butuh persiapan ini itu. 


Meski fasilitas untuk menulis atau bahkan blogging ada, laptop, PC, wifi, modem, namun ketika keleluasaan tak didapatkan, tak ada artinya semua harta pendukung itu. Harta yang berharga adalah waktu yang fleksibel, ketika kita sudah dianugerahi kemampuan merancang kata di kepala yang siap dituangkan ke dalam karya tulisan.


Saya menjadi saksi bagaimana ada perempuan yang saya tahu kemampuannya menulis tak diragukan, bagaimana ia bisa berpuisi dan menulis puisi. Saya tahu karena perempuan ini pecinta dan pembaca buku sejati. Membaca dan menulis adalah kesatuan yang tak terpisakan, saling memengaruhi. Saya tahu perempuan ini sangat mampu menulis, namun dia tak bisa karena waktu yang habis untuk rutinitasnya menyenangkan orang lain, karena tak adanya dukungan moral bukan material. Kondisi yang bukan mengada-ada, kondisi yang mungkin tak semua orang percaya apalagi yang berargumen menulis bisa kapan saja di mana saja, sesibuk apa pun pasti bisa menulis. 


Tidak kawan! Tidak semua kondisi seperti itu. Ada kondisi yang di luar nalar kita yang mungkin tak logis, tapi ada. Ada keterbatasan gerak dan waktu yang membuat perempuan dengan berbagai perannya sebagai istri, anak perempuan, tidak bisa menulis meski dia sangat ingin melakukannya.

Menghadiri HUT komunitas perempuan bahkan ibu yang hobi blogging, KEB, hari ini membuat saya kembali teringat fakta perempuan tadi. Bahwa ada perempuan di luar sana yang tak sanggup melawan keterbatasan untuk sekadar bisa menulis. Benar-benar terkondisikan tak bisa menembus batas itu. Bahwa kita para perempuan, kaum ibu yang leluasa menulis, leluasa menghadiri kegiatan di luar untuk bisa menambah bahan tulisan update blog pribadi, maka bersyukurlah kita, maka beruntunglah kita.

Kesempatan lapang berkegiatan dan menulis untuk perempuan adalah anugerah. Maka anugerah inilah yang harus kita syukuri dengan berbagai cara. Menulis dan menulislah, berbagilah ilmu dan pengalaman kepada siapa pun tanpa pandang bulu. Karena dengan ilmu yang tertinggal lewat tulisan, kita sudah menebar kebaikan. Karena ilmu yang diwariskan lewat tulisan adalah bekal kita menumpuk pahala untuk hari nanti. 

Menulislah sebagai bentuk syukur kita atas keleluasan waktu yang kita punya. Atas dukungan suami, dukungan keluarga, anak-anak kita yang manis-manis dan tahu ketika ibunya membuka laptop dan mengetik mereka paham dan mungkin ingin ikut mengetik bersama kita. Bersyukurlah kita dengan menulis yang bisa membawa manfaat untuk orang banyak. Menulislah untuk juga berkontribusi karena kita dianugerahi kemampuan menulis dengan leluasa. 

Untuk perempuan yang masih terbatasi, jangan menyerah. Ada waktunya untuk bisa menembus batas itu. Mungkin belum saat ini. Entahlah apa yang bisa kulakukan untuk membantu karena ranah itu terlalu sensitif, privasi yang kadang sulit untuk ditembus. Kompleks. Betapa pun banyak aktivis perempuan di luar sana yang lantang bersuara tentang kesetaraan, tentang perempuan yang punya hak sama untuk berkembang dan mengembangkan dirinya, betapa pun banyak buku dan kegiatan yang mendorong kesetaraan, faktanya tak semudah membalikkan telapak tangan mengubah keadaan.

Doaku untuk para perempuan yang masih terbatasi agar bisa menembus batasnya. Aku akan hadir dengan berbagai cara setidaknya untuk menghiburmu. Doaku untuk para perempuan yang leluasa melakukan apa saja yang ia suka, untuk menebar kebaikan dan kepedulian, kita saling menguatkan, sesama perempuan.

Tangerang-WAF-


You Might Also Like

5 comments:

Intan Rosmadewi mengatakan...

sebagai Ibu yang betapa sibuknya Bunda dengan 12 anak, ada skala prioritas . . .

Ada waktunya termasuk masalah fasilitas, semua Bunda alami
tulisan ini sepertinya Nasib Bunda bangets . . . saat masih perpeluh peluh mengasuh dan mendidik juga membesarkan.

Leyla Hana Menulis mengatakan...

Betul sekali, mba Wardah. Ada banyak perempuan yg mampu menulis tp hanya sampai pada status facebook :D

Sintamilia Rachmawati mengatakan...

tulisan yang sangat memotivasi. Terimakasih sdh diingatkan utk bersyukur mendapat anugerah berupa waktu utk menulis dan ngeblog :')

Ophi Ziadah mengatakan...

Dalam keterbatasan masing2... Senang bs "ngumpul" di komunitas yg bs saling menyenangati n berbagi inspirasi. Meski krn keterbatasan sy ngumpulnya baru di dunia maya saja.

wawaraji mengatakan...

Bunda Intan, iya bagi tipsnya dong mengatur waktu..

mbak Leyla Hana, yuk sebar virus ngeblog ke mereka, pelan-pelan supaya semua perempuan bisa merasakan nikmatnya menulis

Hai mbak Sinta terima kasih...iya kita bersyukur sekaligus berempati dg perempuan lain di luar sana yg msh terbatasi

Mbak Ophi..yg penting bsa free akses dunia maya aja dah bagus banget yaaa mbak...sementara ada yg sangat dibatasi keluarganya misalnya