Film “Lima” untuk Millenial Memaknai Pancasila

21.54.00 wawaraji 5 Comments




Tepat 1 Juni 2018, Hari Lahir Pancasila, film “Lima” tayang di bioskop nasional. Mengawali penayangannya, film yang diproduseri oleh Lola Amaria ini muncul dalam pemberitaan terkait batasan usia. Kalau pihak rumah produksi mengkategorikan 13+,  lain lagi dengan Lembaga Sensor Film yang akhirnya menentukan kategori umur mulai 17 tahun.  

Kalau menurut saya sih, film ini cocok menjadi edukasi anak usia sekolah SD sekalipun. Namun memang ada dua adegan yang mungkin menjadi kekhawatiran jika dipertontonkan kepada usia belia.

Setelah menonton film “Lima” di hari pertama penayangannya, bersama komunitas BloggerCrony Community, yang mendapat kesempatan nobar dari Shopback, saya bisa memahami batasan usia itu. Namun saya juga bisa memahami mengapa Lola Amaria menginginkan film ini ditonton usia muda.

Ada pesan ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, kebijaksanaan, dan persatuan yang disampaikan melalui sebuah keluarga dalam film “Lima”. Pesan yang menurut saya perlu dipikirkan bagaimana caranya bisa mengena ke kaum muda.

Menyampaikan pesan melalui film, bagi saya, menjadi saluran efektif dan kreatif. Pun pada akhirnya penonton dibatasi usianya, saya yakin film “Lima” yang karakternya lebih masuk ke kategori “festival film” alih-alih film populer, akan tetap bisa menemukan takdirnya.

Film “Lima” bisa menjadi alat komunikasi di sekolah-sekolah tentang Pancasila. Sesuai dengan momen peluncuran film ini di Hari Lahir Pancasila. Bahkan film ini bisa menjadi pemantik diskusi. Seperti halnya kami beberapa blogger yang usai menonton, akhirnya jadi diskusi, pada bagian mana dari film yang merepresentasikan nilai-nilai dasar negara, Pancasila.

Baiklah, ini cara saya memaknai Pancasila dari film “Lima” semoga enggak jadi spoiler ya. Saya penganut review film no spoiler kok. Soal dua adegan yang menurut saya akhirnya membatasi usia penonton, akan coba saya kulik juga di sini.

LIMA
Film “Lima” diawali dengan persoalan agama dalam sebuah keluarga.  Tentang keluarga yang terdiri dari lima orang, ayah (almarhum) dan ibu, mereka beda keyakinan, serta tiga anak (yang juga beda keyakinan). 

Dari kisah mereka, saya menangkap banyak pesan.  Jujur, pesan paling kentara adalah betapa sulitnya hidup dalam keluarga beda keyakinan, lebih kepada bagaimana persepsi orang di luar rumah atas keluarga. Jika pun dalam keluarga damai dan saling menghargai, lain halnya dengan lingkungan yang memiliki persepsi masing-masing. Selalu ada friksi pun sampai pada menguburkan jenazah almarhumah, ibu yang muslim apakah boleh dimakamkan oleh anak yang non muslim.

Saya tidak akan dan tidak mau terjebak pada perbedaan persepsi. Seperti apa kata Pancasila, pertama, KETUHANAN YANG MAHA ESA, saya memaknai, setiap orang berhak memilih apa pun keyakinannya. Setiap warga negara Indonesia berhak hidup dengan apa pun pilihan agamanya. Tugas kita di muka bumi adalah saling menghargai dan tidak menghakimi. Persoalan ada keinginan untuk mengajak orang kesayangan kepada keyakinan yang kita yakini paling benar, boleh saja, namun tanpa paksaan.

Saya punya role model, di agama saya, Nabi Muhammad SAW, yang berjuang sekuat tenaga dengan penuh kasih dan damai untuk mengajak pada kebenaran yang diyakini. Semua berjalan dengan penuh kasih, bukan hujatan dan bahkan beliau cukup mendoakan ketika sudah kehabisan cara mengajak pada apa yang diyakini sebagai kebenaran. 
Pada akhirnya, saya memaknai film “Lima” sedang mengajarkan kita untuk terus belajar, menggali ilmu, bukan sekadar meyakini sesuatu karena “katanya”.  

Seperti  dalam keluarga di film “Lima” ini, ketika Aryo, anak non muslim dalam memakamkan ibunya yang muslim. Saya perlu belajar lagi banyak hal bahkan tentang agama saya. Tak perlu mendebatkan keputusan anak perempuan sulung di keluarga ini, Fara, yang akhirnya mengizinkan Aryo turun ke liang lahat.

“Biar dosa kami yang tanggung,” kata Fara ketika akhirnya Aryo yang memakai kalung salibnya turun ke liang lahat memakamkan ibunya.

Kedua, KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB, pesan ini disampaikan secara kontradiktif. Terkait fakta yang kerap kita temui di masyarakat. Adi, anak bungsu di keluarga dalam film “Lima” ini, adalah siswa SMA yang memiliki seorang teman pelaku bully. Teman Adi ini digambarkan penuh dengan kemarahan.  Selain melampiaskan dengan merokok, teman Adi ini juga kerap mudah terpancing emosi.

Adi yang tengah berduka sepeninggal ibunya, sepulang sekolah singgah ke kediaman teman (atau mungkin studio musik atau toko musik) untuk bermain alat musik kesukaannya, piano.  Diskusi yang meresapi pikiran Adi terjadi di sana. Dalam perjalanan pulang ke rumah, Adi dihadapkan pada kondisi yang menguji sikapnya. Adi terjebak dalam pengejaran maling oleh warga yang main hakim sendiri kepada si maling tanpa beri ampun,  apalagi kesempatan membela diri.

Teman Adi, yang kebetulan ada di lokasi, terlibat dalam aksi main hakim sendiri hingga menghabisi nyawa orang lain. Sebagai saksi, Adi memilih tidak diam dan melaporkan apa yang dilihatnya.

Kalau saja warga memaknai sila kedua Pancasila, bukan aksi penuh emosi dan luapan kemarahan yang terjadi menyikapi dugaan pencurian. Bukankah siapa pun yang bersalah, punya kesempatan membela dirinya? Buktikan kesalahan melalui ranah hukum bukan main hakim sendiri. Apalagi jika ternyata perkaranya bukan hal besar, si korban diduga mencuri buku untuk adiknya.

Ketiga, PERSATUAN INDONESIA, pesan ini disampaikan lebih kuat di film “Lima”. Fara, si sulung dalam keluarga adalah atlet yang berprofesi sebagai pelatih renang. Dua muridnya, orang Indonesia beda suku, punya potensi yang sama untuk bisa bertanding sebagai atlet nasional dan masuk Pelatnas. Fara pasang badan untuk satu kandidat yang berkualitas. Namun kepentingan kalangan elit punya pilihan lain. Kata pribumi dan non pribumi menjadi sumber konflik.

Jika banyak orang Indonesia seperti Fara, yang katanya idealis, melawan praktik korup, Indonesia bakal maju. Pernyataan ini yang disampaikan Fara dengan tegas di depan atasannya. Memilih atlet yang kurang kompeten hanya karena dia dianggap pribumi, hal konyol bagi Fara. Bukankah seharusnya kompetensi lebih utama dalam membela nama Indonesia di panggung kompetisi olahraga dunia? Itu kalau tujuannya adalah membela negara, bukan membela kepentingan sekelompok orang demi eksistensi, ego atau urusan uang.

Bersatu untuk Indonesia, buang jauh-jauh ego pribadi atau urusan perut saja, pesan yang menjadi harapan. Semoga saja pelan-pelan karakter ini terbangun di kalangan muda yang memang jadi harapan bangsa.

Keempat, KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN DAN PERWAKILAN. Saya pribadi, dalam keluarga, diajarkan mengenai musyawarah. Karakter ini terbangun dan ketika akhirnya saya memimpin komunitas, musyawarah selalu menjadi cara mengambil keputusan. Bisa saja kita menjadi ototiter, yang memang terkesan tegas, namun kita tidak mendengarkan orang lain dan hanya memandang cara kita paling baik.

Musyarawah juga saya dapati dari role model saya, Nabi Muhammad SAW. Beliau selalu mendengarkan orang lain. Meski mungkin sudah membuat keputusan, beliau masih mendengarkan pendapat orang lain. Bahkan istrinya Khadijah, menjadi penasehat utama, selalu berbagi pendapat dan saling mendengarkan dengan pasangan hidupnya.

Kasus pencurian kakao oleh anak sulung bi Ijah (asisten rumah tangga keluarga Fara), ingin memberikan pesan ini. Beri kesempatan rakyat jelata membela diri di meja hijau. Pesan lainnya, jadilah penegak hukum yang punya jiwa musyawarah dan kebijaksanaan optimal.  Jangan urusan kecil jadi besar, urusan besar diperlakukan kecil bahkan menjadi tak berarti di meja persidangan.

Kelima, KEADILAN SOSIAL BAGI RAKYAT INDONESIA. Pesan ini masih samar bagi saya, hingga akhirnya obrolan di meja makan memberikan inspirasi. Sebenarnya kisah di persidangan bisa membawa pesan ini. Namun saya melihat hal lain dari keluarga Fara yang akhirnya memboyong keluarga bi Ijah, dengan dua anaknya tinggal satu rumah di Jakarta.
Saya jadi ingat pengasuh anak yang pernah bekerja untuk keluarga kami. Meski upah sudah dibayar layak, tinggal di rumah dengan perlakukan yang setara sebagai bagian dari keluarga, tetap saja mereka punya kehidupan yang susah di kampungnya.

Rasanya tak adil, ketika hidup enak di Jakarta, sementara ada anak yang susah payah di kampung. Kita sebagai pemberi kerja bukankah juga harus memikirkan mereka yang sudah membantu meringankan hidup kita di kota.

Rasa adil menjadi urusan bersama, bukan soal nasib. Kalau bi Ijah membantu keluarga Fara sampai sukses berkarier, lalu apa yang harus dilakukan keluarga Fara untuk anak-anak bi Ijah yang miskin? Keadilan adalah soal kita memperlakukan orang lain setara, dan berupaya semaksimal kita bisa membuat orang lain merasa hidupnya diselimuti rasa keadilan.

Jadi, masih ada yang meragukan lima dasar negara? Saya pikir pemimpin bangsa sudah sangat menyadari potensi perpecahan dari keberagaman di nusantara. Para pemimpin negara Indonesia juga sudah berupaya maksimal mencari dasar negara, untuk menjadi panduan bersama.  Panduan yang bukan sekadar dihapal, namun diterjemahkan dalam praktik hidup sebagai warga negara.  

Film “Lima” sedang mengingatkan lagi, kita, soal praktik nilai Pancasila. Itu, kata saya.

Oh ya soal dua adegan yang mungkin berujung pada pembatasan usia penonton. Adegan merokok yang menurut saya tak perlu ada, barangkali menjadi pertimbangan LSF. Saya sepakat soal pembatasan akses tayangan merokok ke kalangan muda.  Kalau adegan main hakim sendiri, menurut saya bisa menjadi bahan diskusi sebagai pembelajaran oleh millenials soal moral.

Sutradara film ini sudah berusaha menutupi aksi brutal dengan adegan simbolis. Namun memang film ini tipikal film pemantik diskusi usai menontonnya. Jadi tepat kalau dijadikan alat komunikasi edukasi nilai moral di kalangan siswa di sekolah. 

Setelah menonton, jadikan pesan film untuk bahan diskusi di sekolah misalnya, rasanya akan seru. Itu, kata saya.










You Might Also Like

5 comments:

Maria Margaretha mengatakan...

Dalam sekali mbak Wawa ulasannya. Saya setuju banget dengan poin poin dari tulisan ini.

wardah fajri mengatakan...

iya nih jadi meresapi Pancasila yah

Dian Anthie mengatakan...

Film yang sangat menarik ya Mba Wawa, semoga bisa membuka pemikiran Kita semua bagaimana Pelaksanaan Kelima sila Pancasila dalam kehidupan Kita sehari-hari

wawaraji mengatakan...

ilmu praktis ya mbak Dian, menyenangkan pula sambil nonton bareng temen duduk santai sambil silaturahim paket lengkap deh bikin hepi

Valka mengatakan...

Film yang menarik dan edukatif. Suka banget sama film ini walaupun konfliknya agak datar. Oya, kita punya perbedaan pandangan dalam hal penerapan sila dalam film nih mbak hihi. Kalau saya memaknai sila keempat itu tergambar pada Aryo saat bermusyawarah dalam membahas warisan sedangkan sila kelima yang keadilan sosial itu tergambar saat Bi Ijah beserta keluarga Fara menuntut keadilan agar anaknya bi Ijah dibebaskan dari persidangan.