5 Resolusi Pribadi 2017 "Start Strong" Punya Tujuan

11.00.00 wawaraji 6 Comments


Sebelas hari sudah di 2017, belum terlambat ucapkan ini di laman blog ku kan, Selamat Tahun Baru 2017! Apa RESOLUSI kamu?

Apa pun kondisi kita mengakhiri 2016 menyambut 2017, berbahagia lah karena masih ada umur. Semoga usia berkah dan menjadi lebih produktif bermanfaat untuk orang lain. Sungguh saya ucapkan ini bukan semata kata.

Nah, tahun baru identik dengan resolusi. Rasanya saya jarang membuat resolusi untuk diri sendiri. Dulu sih sering menulis untuk media online, tips seputar resolusi. Tapi rasanya enggak pernah menulis untuk diri sendiri, menyusun resolusi pribadi bukan jadi kebiasaan saya.

Di awal tahun 2017, saya  beranikan diri membuat resolusi, atas impian yang selama ini tertunda, atas kebiasaan yang selama ini hilang.

Resolusi 2017 bagi saya adalah doa, harapan, impian, bukan ambisi tapi perlu ikhtiar maksimal mencapainya. Ketika dituliskan dan diamini, seperti dreamboard yang semoga saja berwujud, waktunya kembalikan semuanya pada kehendakNYA. Sesungguhnya, rencana kita tak ada apa-apanya, penyerahan diri sepenuhnya menjadi yang utama dari setiap rencana.

Saya menuliskan resolusi 2017, lima hari terakhir 2016. Iseng tapi terencana. Lima hari sebelum 2016 berakhir, menulis lima resolusi. Satu resolusi per harinya. Bikin status Facebook pendek berisi resolusi supaya aplikasi berwarna di layar status Facebook itu berfungsi. Biar kece aja warna-warni sekece  Facebook yang selalu berinovasi.

Ada harapan besar di balik resolusi saya. Tak sengaja, suatu malam saya nonton acara TV, pengganti acara motivasi, yang para pembicaranya dipanggil coach. Saat itu pembicaranya Coach Bong Chandra. Nama ini sudah tak asing bagi saya, karena dulu pernah ikut teman wawancara dia, tapi sebagai pengusaha properti. Belakangan setelah itu saya baru tahu kalau dia adalah coach, life coach, career coach, yang intinya self improvement.

Balik ke acara TV yang tak sengaja saya tonton itu, saya kok jadi makin termotivasi dengan resolusi 2017 saya setelah menontonnya.

Satu kata yang saya ingat betul adalah START STRONG!

Ya, resolusi 2017 bisa dimulai tapi bagaimana cara memulainya itu akan berdampak pada hasilnya. Sekuat apa kita memulainya dan terus ikhtiar mewujudkannya sampai tahun berakhir, itu yang harus diupayakan.

Saya juga punya catatan lain dari tayangan TV itu, bahwa tak apa kok memajang resolusi di media sosial. Karena itu bisa menjadi cara untuk kita menuliskan impian, membaginya dengan harapan dan tujuan memotivasi diri sendiri. Dengan dilihat oleh orang lain, kita akan termotivasi untuk mewujudkannya. Bukan soal malu kalau tidak tercapai (kalaupun iya tak apa sih) tapi intinya motivasi mewujudkannya jadi lebih besar. Ada dorongan moral dari dalam diri dan luar diri kita dengan tertulisnya resolusi itu di media sosial.

Satu lagi soal tujuan. Resolusi akan terwujud dan berdampak kalau tujuannya memang kuat sejak awal sehingga kita punya alasan, reason bukan excuse! Ketika menuliskan resolusi tersebut, ada alasan kuat yang menyertainya sehingga kuat juga tekad mewujudkannya.

Okeh, saya jadi bersemangat. Apa saja resolusi 2017 saya dan makna dibaliknya?



1. Umroh (impian yang tertunda)
Ketika pertama kali menuliskan Umroh sebagai resolusi 2017 di Facebook, saya benar-benar bertekad mewujudkannya.

Umroh bukan keinginan yang datang tiba-tiba. Saya sangat merindukan tanah suci, sejak gagal berangkat Februari 2013 silam. Bersemangat Umroh ketika keajaiban datang ke keluarga dengan berangkatnya ayah ibu saya ke tanah suci dengan biaya penuh kakak dan bibi ibu saya. Semakin kuat tekad setelah anak perempuan saya dipanggil kembali pemiliknya. 

Pada 2013, dua bulan setelah saya melahirkan anak prematur yang butuh perhatian ekstra, dalam kondisi cuti kerja, atasan menghubungi saya bahwa ada kesempatan umroh dari rekanan.

Mbak Rofi Eka Shanty, penggagas World Muslimah Beauty, mengajak saya ikut para pemenang kompetisi Duta Muslimah itu menikmati hadiahnya, yakni Umroh.

Allahu Akbar, sungguh saya takjub, kesempatan itu datang. Semua dibiayai, pikir saya. Lalu saya membayangkan anak perempuan saya, yang masih harus menyesuaikan dengan kondisi dengan kelahiran prematurnya.

Tanpa berpikir lama, saya langsung ucapkan, saya tidak bisa ambil kesempatannya. Silakan wakilkan oleh wartawan lainnya di kantor. Saya pun menghubungi langsung mbak Eka Shanty, mohon maaf tidak bisa memenuhi undangannya. Beliau dengan santunnya menguatkan saya, "Kamu fokus 'Umroh' untuk anakmu" Aku bayangkan, kami sama-sama tersenyum dalam percakapan singkat lewat ponsel itu. Kami saling mendoakan. Ya, saya akan berjuang seperti Siti Hajar berjuang untuk anaknya Ismail. Tak apa gagal Umroh, akan datang waktunya nanti, pikir saya. Saya pun tenang, dan menikmati masa indah bersama anakku sampai dia bisa tumbuh dengan keistimewaannya sampai usia 3,5 tahun.

2014, keajaiban datang di keluarga kami. Hadiah terindah dari Allah lewat adik ibuku dan adik kakekku dari pihak ibu. Ayah dan ibuku pergi Umroh atas biaya keluarga. Kami anak-anaknya merasa malu sekaligus bersyukur. Kami belum bisa membiayai, tapi ada kerabat yang menjadi perantara Allah memberikan rejeki kepada ayah ibuku. 

Ayahku, pensiunan pedagang yang tak punya tabungan Umroh/Haji. Ibuku guru membaca Al-Quran yang selalu berjuang keras memenuhi kebutuhan sehari-hari, mendampingi dan melengkapi ayahku yang kadang niaganya tak selalu mulus. Mereka pasangan yang mencinta karena ketaatan pada Allah. Mereka mendapatkan hadiah yang indah, Umroh bersama, setelah bertahun-tahun berjuang untuk keluarganya.

Agustus 2016, tak pernah menyangka perjalanan hidup anakku berakhir. Anakku, milik Allah, diminta kembali kepada pemiliknya. Apa daya, tak ada daya apa pun kami orangtuanya. Tak ada daya kecuali minta kekuatan Tuhan untuk kami mengikhlaskannya. Sejak itu, hubunganku lebih kuat dengan Allah dan seperti selalu terhubung dengan Rasulullah dan keluarganya. Aku begitu rindu dengan Allah dan Rasulullah. Aku ingin menemui mereka meminta kekuatan dalam doa. Menuju tanah suci bertemu dan berziarah ke makan nabi dan keluarganya. Kabah selalu ada dalam pikiranku, merasa ingin dekat untuk selalu bisa menguatkan imanku. Satu per satu cerita Umroh berdatangan ketika kusampaikan niatku untuk Umroh. Satu per satu jalan terbuka setidaknya bagaimana mulai menabungnya, bacaan-bacaan,keilmuan. Banyak nama yang mendukungku tak mungkin kusebutkan satu per satu. Bunda Intan Rosmadewi begitu kuat mendukungku. Beliau berikan buku untuk bacaan, kain ihram pun diberikan kepadaku. Aku punya 2 kain ihram, satu dari ayahku, satu lagi dari bunda Intan. Kupeluk kain itu sebagai harapan semoga segera tiba waktunya kami beribadah berziarah ke Mekkah-Madinah.

Semoga Allah mampukan!




2. Menulis Buku (Buku sendiri bukan menuliskan buku orang lain)
Berani-beraninya saya menulis ini. Tapi tak apa, lagi-lagi ini bukan tiba-tiba saja tercetus.
Ada alasan di baliknya. Profilku di Kompasiana saja sudah kutuliskan, aku ini blogger newbie yang punya pengalaman menulis di media, dan sedang berupaya menulis buku.

Aku pernah menulis buku sejak 2007-2008. Saat itu menjadi freelance di Transmedia Pustaka. Cari saja di Google "Minimarket Wardah Fazriyati" akan muncul data Perpusnas dengan judul buku dan ISBN nya. 

Itu adalah buku pesanan, dengan judul yang sudah ditentukan, tugasku adalah menciptakan kontennya mulai membuat outline dan merancang isinya, termasuk mencari menggali sumber untuk mengumpulkan konten dan mengolah kata menjadi buku panduan untuk berbisnis minimarket. Saat itu pengalamanku bekerja di media menjadi wartawan ekonomi menjadi alasan di balik lahirnya buku itu. Aku dengan pengalamanku akhirnya berkesempatan menulis buku itu. Cetak ulang sekali, buatku adalah prestasi. 

Beberapa kali menjadi ghost writer juga memberikan pengalaman beda menulis buku.  

Puaskah? Belum. Karena aku ingin punya buku dari pengalaman pribadi atau setidaknya pemikiran sendiri yang kutahu harus bisa membaca selera pasar jika mau laku dibeli.

Kusimpan impianku menulis buku sendiri, karena sibuk bekerja sebagai jurnalis. Lalu kukembangkan diriku menjadi pendiri dan pengelola komunitas BloggerCrony. Kemudian memberanikan diri menjadi pekerja mandiri dalam dunia kepenulisan dan blogging juga media sosial berkaitan dengan Public Relations Consultancy.

Akhir 2016, BloggerCrony berkesempatan menciptakan event Blog to Book bersama editor/penulis/blogger Ang Tek Khun bersama Moka Media. Penerbit yang ternyata satu grup dengan penerbit buku minimarket-ku dulu.

Lalu muncullah ide mentoring menerbitkan buku. Segera kuwujudkan untuk memfasilitasi bloggers yang punya impian sama denganku.

Berproses saja, masih ada waktu 11 bulan untuk wujudkan resolusiku, terbitkan buku! Sekaligus tunaikan janjiku ke diri sendiri bahwa cerita Dahayu, anakku takkan berhenti. Barangkali dia hadir, malaikat utusan, yang punya cerita tentang pernyerahan diri, bersyukur, keikhlasan, kekuatan cinta, perjuangan hidup, anak istimewa dan banyak cerita lainnya yang bisa dituliskan menjadi, buku.



3. Membaca Buku/Kitab Suci/Blog setiap hari 

Nah kalau ini ringan saja. Sebenarnya siapa pun bisa mewujudkan resolusi sederhana ini. Bagaimana bisa konsisten itu tantangannya.

Niatan ini muncul karena kumulai lelah membaca timeline media sosial, yang lebih banyak negatif daripada positifnya. Begitu banyak bertebaran asumsi, kebencian, prasangka, yang membunuh perlahan energi positif kalau dibiarkan.

Lalu kubuat resolusi itu, batasi timeline, hanya baca cepat pilih yang baik, berlama-lama dengan yang baik, sebarkan, sudah. Jangan terpancing menelusuri bacaan timeline yang penuh dengan prasangka.

Nah kalau media sosial dibatasi, maka pilihan terbaiknya adalah membaca tumpukan buku yang tak tersentuh itu selama 2016. Juga baca Al-Quran perlu lebih sering digiatkan, juga membaca artinya agar tenang pikiran.

Membaca blog atau Blogwalking adalah cara lainnya. Tujuannya? Salah satunya supaya Alexa Rank ramping katanya. Bebas saja pilih tujuannya, tak usah berdebat. Saya juga mau kok rampingkan rangking Alexa untuk blog pribadi kalau memang blogwalking salah satu caranya, harus lebih rajin aja. Alasan utama Blogwalking adalah saya memang mau lebih banyak membaca artikel blog teman-teman komunitas. Membaca bukan sekadar baca tapi melihat tanda-tanda. Mana yang mungkin perlu diperhatikan untuk dibantu tingkatkan, mana yang bisa direkomendasikan, sambil juga meninggalkan jejak. 

Kadang saya hanya baca tanpa tinggalkan jejak. Kalau sangat terinspirasi bukan mustahil saya share artikel itu di laman Facebook pribadi,meski tidak selalu komentar di dalamnya. Biarlah Alexa Rank saya bengkak, risiko yang harus ditanggung karena saya memang belum disiplin menulis, membaca dan komentar meninggalkan jejak. Yang penting saya baca dan mencari tanda!






4. Me Time lebih sering dengan musik (smartphone, headphone dan aplikasi sudah siap dukung)

Tahun 2016 saya nonstop bekerja sebagai pekerja mandiri. Ternyata sama saja sibuknya tapi saya jauh lebih bahagia, meski jujur secara finansial pasti berbeda ada perubahan meski tak terlalu drastis. Soal ini sepertinya harus dibahas lain waktu.

Yang pasti sepanjang tahun saya merasa tak punya cukup me time. Saya suka musik tapi nyaris tidak pernah mendengarkan musik. Kalau sudah bekerja, lupa saja dengan semua perangkat itu. Dari 2 Ipod yang saya punya keduanya tak tersentuh. Headphone baru pemberian suami lah yang menjadi stimulannya. 

Saya jadi suka dengar musik lagi. Nekat "ngutang" smartphone juga menjadi cara lain supaya bisa pakai aplikasi lebih leluasa dengan performa ponsel pintar yang beneran cerdas.

Headphone, smartphone, makin mendekatkan saya dengan musik, sebagai me time.

Lalu untuk apa? Untuk memberi waktu pada diri saya rileks menikmati waktu, untuk diri sendiri. Beda rasanya bekerja tanpa dan dengan mendengarkan musik. Atau sengaja benar-benar hanya menikmati musik di waktu tertentu jika memungkinkan. Atau menonton acara musik di TV kesayangan, Breakout-Net TV. Semoga tetap jaya yah acara musiknya.

Saya tidak menargetkan hal lain seperti nonton konser misalnya. Tapi kalau ada boleh juga.

Oya, ada satu momen saya dengan musik. Sepeninggal anakku, saya pernah datang hadiri konser musik dekat rumah. Acara roadshow musik ini menghadirkan KOTAK dan Steven Jam. Gratis! Dalam momen berduka, saya dan suami paksakan diri mencari hiburan lain. Kami datang tanpa ekspektasi apa pun. Tapi kami pulang dengan perasaan yang aneh. Aneh tapi kunikmati. Musik mulai mengisi hati. Apalagi vokal Tantri Kotak yang benar-benar bikinku terkesima. Dengan kondisi usai melahirkan, Tantri maksimal dengan performanya. Steven Jam pun memuaskan penampilannya. Saya punya memori pernah mewawancarainya 2006 silam. Ternyata usai manggung dia pun masih mengenali wajah saya. Senangnya bisa berkumpul bersama orang kreatif bermusik ini.

Musik! Datang lagi yaa ke hidup saya.





5. Mulai jualan, ikhtiar dengan cara baik.


Aku punya alasan untuk jualan, meski masih samar mau jualan apa. Sudah terbanyang beberapa produk. Tapi intinya dari apa pun rencana ikhtiar itu, harus selalu menjalankan dengan CARA BAIK. 

Spesialisasiku sebenarnya jasa. Aku lebih suka mencari nafkah dari usaha jasa. Tapi ingin rasanya punya produk untuk dijual. Beneran jualan barang.

Seperti ramalan zodiak Gemini 2017 (haha percaya?) Saya bakal bisa memilih dan memutuskan karier/pekerjaan di tahun ini. Saya punya kendali untuk memilih, begitu katanya.

Ada benarnya, karena saya dihadapkan pada beberapa pilihan yang datang begitu saja. Bukan tanpa alasan kesempatan datang, sudah digariskan Tuhan pastinya, atas apa yang sudah saya bangun bertahun-tahun dari pengalaman naik turun bekerja di berbagai perusahaan sejak 2005. Buah manisnya barangkali di tahun ini, semoga saja. 

Lalu saya berpikir untuk jualan jasa travel, mewujudkan impian lama, punya usaha travel. Ada memang jalannya tapi masih samar. Namun bisa diwujudkan dengan fokus dan sedikit modal.

Rencana boleh saja, sesuka hati manusia yang kadang dangkal ilmunya seperti saya. Tapi Tuhan maha punya rencana. Saya dipertemukan dengan banyak orang dalam empat hari saja di bulan pertama 2017.

Beberapa ide lama pun bertemu jalannya. Sungguh menggelontorkan ide itu ada baiknya. Ada orang lain yang mengingatkan dan ada jalan Tuhan dan kita hanya perlu siap menerima berbagai konsekuensinya. 

Sekali lagi rencana boleh saja, manusia bebas kok berencana, tapi membuka diri dengan rencanaNYA adalah sebaik-baiknya sikap. 

Semoga Tuhan ridha dan saya bisa membaca berbagai tanda dengan rahmatNYA. Apa saja jualan saya? Ikuti  Instagram @wawaraji (haha promosi) nanti infonya di sana ajah.

Sekian sudah cerita resolusi saya. Panjang ya ternyata. Kamu? Berani menuliskan resolusimu? (WAF)


You Might Also Like

6 comments:

Akbar Muhibar mengatakan...

Semoga semua resolusinya dapat dijalani dengan baik. Stay strong mba! 😂😂

Uwan Urwan mengatakan...

Aamiin aamiin ya Rabb. Semoga tercapai semua ya Mbak satu satu.

yos mo mengatakan...

resolusiku tahun 2017, menuntaskan resolusi yang belum tercapai di tahun 2016 :)
pengen punya usaha sendiri dibidang ecotourism, pengen punya website yang menghasilkan profit tinggi. Pengen membahagiakan keluarga, sahabat, dan relasi. hehehe

Maria Margaretha mengatakan...

Kiranya bisa tercapai semua resolusinya mbak Wardah. Keep tough and cheers.

Claude C Kenni mengatakan...

Semoga semuanya bisa tercapai ya Mbak, kita sama-sama berjuang hehehe

turiscantik.com mengatakan...

Semoga impian terwujud yaaa aminn