Dakwah Damai “The Power of Love” Konflik Ayah dan Anak Lelaki

17.34.00 wawaraji 0 Comments



Konflik keluarga memang selalu membawa banyak hikmah dan menjadi cerita. Coba sebut saja keluarga mana yang tak ada sisipan konflik di dalamnya, kisah nyata pun dalam kisah film. Bagaimana konflik diterjemahkan dalam cerita dan gambar di film, nah ini kembali kepada kecerdasan penulis cerita dan sutradara pun campur tangan produser film.

Saya penggemar dan pendukung Film Indonesia, terutama drama keluarga dan drama komedi, pokoknya Film Indonesia apa pun asal bukan horor.

Jadi, keputusan untuk memilih beli tiket ke bioskop nonton film Indonesia, selain pertimbangan genre yang sesuai selera pribadi, saya juga bawa misi. Misi untuk menggali film Indonesia terbaru apa yang menarik, berkesan, membawa pulang banyak pesan atau kadang tidak membawa pesan apa pun.

Kesan apa pun yang saya tangkap dari sebuah film, selalu ada cerita yang bisa jadi bahan diskusi seru dengan suami, yang juga pendukung film Indonesia.

Nah, sebelum Ramadan, saya memang butuh hiburan usai disibukkan dengan pekerjaan. Butuh rehat dan biasanya saya dan suami nonton ke bioskop. Cek online film terbaru jadi rutinitas kami. Nah, saya pribadi penasaran dengan film “212, The Power of Love”. Meski memang pada awalnya saya dan suami tak terlalu antusias ke bioskop beli tiket film ini. Bukan apa, konteks politik memang sangat kental terasa dan saya paling malas berurusan dengan dunia politik apalagi kalau cuma debat kusir. Namun saya coba kosongkan pikiran ketika akhirnya, memutuskan menonton film The Power of Love ini, sendiri, tanpa suami.

Satu hal yang pasti, saya belum baca review film ini di mana pun. Bahkan mengikuti perkembangannya di linimasa pun tak saya lakukan, karena memang balik ke kesan awal itu tadi, kental konteks politik. Saya pilih sibuk dengan yang lain saja, sampai akhirnya saya menonton sendiri film ini.

Kosongkan pikiran, itu yang paling bisa kita lakukan untuk menilai sesuatu, termasuk ketika akhirnya memutuskan menulis review ala saya tentang film ini.

Dakwah bisa dengan cara apa saja, yang penting caranya baik, dan membawa pesan damai. Itu kesimpulan saya usai menonton film 212, The Power of Love.

Seorang teman bilang ke saya, film ini membawa pesan damainya Islam. Saya tak mau langsung sepakat apa kata orang, lalu memutuskan menonton sendiri, mengambil kesimpulan sendiri, dan membawa kesan pribadi dengan sebelumnya mengosongkan pikiran.

Pada bagian tertentu ya saya sepakat, film ini membawa pesan damai. Bagaimana Kyai Zainal, ayah dari tokoh utama film ini, Rahmat (seorang jurnalis radikal), menyikapi perbedaan sikap dalam keluarganya. Bagaimana keduanya berkonflik kemudian menata hati dan memaafkan. Bagiaman seorang guru mengamalkan sendiri ucapannya sebagai seorang kyai di hadapan umat, lalu berdamai dengan anak lelakinya yang membangkang. Pesan damai dari ayah dan anak, atas nama kekuatan cinta.

Jujur saya merasakan kekuatan cinta itu, bahwa bagaimana pun seseorang pernah berbuat kesalahan, maka maafkan, dan berdamailah. Berdamai dengan diri sendiri utamanya, untuk kemudian bisa melembutkan hati memaafkan orang lain.

Pesan damai lainnya saya dapati dari ayah yang keras kepada anak yang juga tak kalah keras kepalanya. Bagaimana seorang kyai ternama di Ciamis, menerima pilihan profesi anaknya sebagai jurnalis media yang digambarkan berusaha kritis dan netral memandang peristiwa. Ucapan sang ayah sungguh membawa pesan damai sesungguhnya dari agama mana pun. Yakni tentang kebaikan, tentang berbuat baik apa pun pekerjaan kita.

Saya tak ingat persis kata-katanya, yang pasti kyai Zainal mengucap di depan makam istrinya, pun di depan anak lelakinya usai konflik mereda. Seorang ayah berkata tulus bahwa ia tak memaksakan kehendak agar anak lelaki satu satunya yang masih hidup, yang pernah dimasukkan sekolah di pesantren karena “kenakalan” semasa anak dan remaja, untuk menjadi guru agama sepertinya. Menurutnya, dengan menjadi jurnalis yang menulis baik, sudah membanggakannya. Momen yang sebenarnya menurut saya klimaks dan membawa pesan damai kebaikan. Sebenarnya saya bilang, karena jawaban sang anak ternyata, menurut saya, SEDIKIT mengubah pesan damai itu. Sang anak berkata, mungkin suatu saat akan mengikuti jejak bapak, mungkin katanya tanpa bermaksud meyakinkan.

Kenapa menurut saya SEDIKIT mengubah pesan? Karena untuk penggambaran seorang anak yang kecewa, butuh pengakuan dan diakui ayahnya, dan radikal karena perjalanan hidupnya membawanya ke sana, keras kepala, rasanya tak semudah itu mengubah haluan meski semuanya mungkin-mungkin saja. Tak ada yang tak mungkin.

Sepengalaman saya menjadi jurnalis (pengalaman yang masih hijau belum layak dibanggakan juga), wartawan memang “terlatih” untuk skeptis. Tak mudah begitu saja percaya karena setiap informasi harus digali dan dikroscek berkali-kali untuk disampaikan kembali kepada pembaca dari tulisan wartawan. Cara jurnalis bekerja mau tak mau merasuk dalam keseharian, tak mudah percaya pun tak mudah terlena, kesannya mungkin selalu curiga namun bukan dalam makna negatif tapi lebih kepada kehati-hatian demi pertanggungjawaban apa yang jurnalis tuliskan sebelum disebar seluasnya.

Ah tapi itu kan kata saya, yang kadang terlalu serius menanggapi segalanya. Ini kan hanya film yaaa, sebatas memberikan pesan. Harap maklum saja, saya tipikal penonton film Indonesia yang masih mencari kelogisan dari sebuah film dan makna mendalam atau setidaknya berkesan. Sehingga film yang sebenarnya tujuannya hiburan bisa juga menambah makna untuk perjalanan saya hari itu.

Saya bisa merasuki dunianya Rahmat karena ceritanya mirip meski tak bisa dibandingkan dengan kehidupan nyata saya. Saya lahir dari keluarga agamis, ibu saya guru ngaji, dan saya anak perempuan satu-satunya dibebaskan memilih oleh orangtua yang membiayai pendidikan. Ibu saya mendukung pilihan saya untuk belajar jurnalistik dan menjadi jurnalis. Orangtua yang cukup modern dalam beberapa hal padahal sangat konvensional dalam kehidupannya. Saya bangga jadi anak ayah ibu saya yang tak lulus SD itu tapi pikirannya moderat soal pendidikan.

Ayah ibu saya tak pernah memaksa saya meneruskan jejak mereka, menjadi orang terpandang di kampung karena bekal agamanya.

Namun jiwa atau boleh lah dibilang “darah” dakwah takkan hilang begitu saja. Dakwah bisa dilakukan dengan cara apa saja, asal baik, sesuai tuntunan. Dengan cara damai, tidak memaki, tidak membenci, penuh cinta seperti keteladanan Nabi Muhammad SAW, yang pemaaf dan pendoa, pun mendoakan mereka yang sudah menyakitinya. Tak mudah memang mencontoh sang teladan, namun bukan berarti kita tak mampu mencobanya semaksimal mungkin.

Saya dan tokoh Rahmat dalam film ini, pun sosok Rahmat lain dalam kehidupan nyata, sungguh bisa berdakwah lewat “rute” mana saja, asalkan tujuan sama menuju Tuhan dengan cara yang diridhai-Nya.

Film ini mengingatkan tentang dakwah damai penuh cinta. Menjadi pesan untuk anak muda dari kalangan mana saja, mereka yang memilih berkutat dengan ilmu agama, maupun ilmu umum yang melandasi praktiknya dengan nilai agama penuh kedamaian.

Saya menangkap pesan itu dari film ini, meski memang ada beberapa bagian yang jujur tak bisa lepas dari konteks latar peristiwa di balik film ini. Sulit melepaskan konteks sosial politik dari peristiwa yang menginspirasi film ini. Apalagi di beberapa bagian ada potongan video dari peristiwa nyata. Menurut saya, lagi-lagi ini kata saya yang awam dan amatir, potongan video itu tak harus dimunculkan tapi cukup dikonstruksi untuk menghidupkan film ini. Eh tapi pendapat saya berlaku kalau memang tujuan film ini ingin menjangkau semua kalangan dan menyentuh hati penonton dengan pesan dakwah damai. Kecuali film ini memang ditujukan untuk mengenang kebersamaan dan kuatnya persaudaraan pada peristiwa nyata, maka akan sangat terasa kental kekuatan cintanya. Saya yakin yang menontonnya akan terbawa haru biru.

Persaudaraan dan kebersamaan membawa pesan damai saya rasakan dari kisah kyai Zainal di Ciamis, dan kesantunan jamaahnya. Sungguh inilah kedamaian sejatinya. Kata-kata kyai Zainal di mimbar juga sungguh kuat pesan cinta, tentang memaafkan dan penerimaan, bahwa siapa saja bisa melakukan kesalahan. Ampuni dan perbaiki kesalahan untuk menjadi pribadi lebih baik lagi. Belajar dari konflik keluarga, kisah ayah dan anak lelaki yang keras kepala namun akhirnya kembali kepada fitrah, saling menerima, memaafkan dan melembutkan hati.
















You Might Also Like

0 comments: