Obati TBC Demi Indonesia Tekan Beban TB Tinggi Kedua di Dunia

21.23.00 wawaraji 4 Comments



Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melaporkan, Indonesia tercatat sebagai negara dengan beban TB tinggi kedua di dunia. Posisi Indonesia setelah India sebelum China dan Filipina. Kejadian TBC di Indonesia per tahunnya mencapai 1.020.000 kasus dengan angka kejadian TBC 391 per 100.000 penduduk.

Angka kejadian TBC sudah memprihatinkan. Lebih memprihatinkan lagi data Kemenkes RI berikut ini. Dari 1 juta 20 ribu kasus, 60 persennya atau 659.435 kasus belum dilaporkan. Dari kasus yang belum dilaporkan itu, 369.435 kasus TBC di Indonesia sudah diobati sementara selisihnya 290.000 belum terdeteksi. Sedangkan kasus TBC di Indonesia yang sudah dilaporkan jumlahnya hanya 360.565 kasus.



Saya sengaja menyalin angka-angka yang menjadi fokus perhatian dari pertemuan langsung dengan pihak Kemenkes RI di Lokakarya Bloggers "Peduli Tuberkulosis, Indonesia Sehat". TBC masalah penting yang bukan hanya jadi beban negara. Ada peran warga di sana, untuk menekan angka kejadian dan penularannya. TBC menjadi beban bersama, karena memang tak mudah menjalani pengobatannya sampai tuntas, tapi sangat mudah menularkannya.

Tuberkulosis atau TBC adalah penyakit yang sudah tua umurnya. Penemuan kuman TB (mycobacterium tuberculosis) diumumkan 24 Maret 1882. Penemunya Robert Koch (1843-1910). Itu sebab setiap tanggal 24 Maret diperingati sebagai Hari TB Sedunia.

Bukan hanya penemuan kumannya saja yang sudah terjadi lebih dari 100 tahun lalu. Banyak tokoh penting dunia pun Indonesia yang mengidap TB. Sebut saja Nelson Mandela, Jenderal Sudirman, Chairil Anwar dan BJ Habibie yang terkena TB Tulang.

Obati untuk Tekan Beban TB Tinggi Kedua di Dunia




TBC adalah penyakit menular langsung, disebabkan oleh kuman TB, yang bisa disembuhkan namun memang membutuhkan proses pengobatan yang intensif dan jangka panjang. Penyakit TB tak melulu berkaitan dengan kemiskinan, siapa pun bisa terkena dengan berbagai faktor risiko. Meski begitu penyakit infeksi ini bisa diobati, dengan minum obat teratur selama 6-8 bulan hingga sembuh.

Untuk TB Sensitif Obat atau TB SO masa pengobatannya 6-8 bulan. Sedangkan jika kuman resisten, TB Resisten Obat atau TB RO pengobatan bisa di atas 8 bulan. Beda lagi jika sudah TB Multidrug Resisten, pengobatan butuh waktu lebih lama.

Seperti Edi Junaedi yang berjuang mengobati TB selama 21 bulan dengan berbagai tantangannya, fokus pengobatan juga mengatasi dirinya dan stigma yang melekat padanya. Sampai akhirnya Edi sembuh total dan mendapatkan sertifikat tanda sembuh pengakuan resmi dari USAID, TBCare, KNCV.

Tak sedikit pasien TB menyerah dalam pengobatan karena banyak faktor, mulai kendala biaya hingga efek samping obat, juga persoalan sikap mental termasuk rasa malu menerima penyakit menular ini.

Perlu diketahui, sebagian besar kuman TBC menyerang paru. Kuman TBC bisa juga mengenai organ lain seperti tulang, kelenjar, kulit. Semoga ini bisa menjawab pertanyaan yang belum sempat saya jawab di linimasa Twitter. Jelas bahwa kuman yang sama bisa menyerang berbagai organ tubuh manusia.

Mengutip penjelasan Pandu Riono dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dan Jejaring Riset TB Indonesia, penyakit paru sama dengan penyakit TBC. Namun banyak faktor yang membuat pasien sungkan menyebutnya TBC.

Penolakan atas penyakit, pun stigma dari lingkungan, bisa membebani pasien. Menjalankan pemeriksaan dan pengobatannya saja sudah sangat perjuangan. Jika ditambah lagi dengan lingkungan yang tidak mendukung pada kesembuhan dan pengobatan sampai sembuh, mustahil TB tereliminasi.

Lebih membahayakan jika TB tidak ditemukan atau ada kejadian namun diabaikan atau tidak dilaporkan. Bisa jadi, ada orang di sekitar kita terkena TB namun tidak memeriksakan diri atau tidak melaporkan kepada tenaga kesehatan, kuman kemudian menyebar.

Penderita TB menularkan penyakit ke lingkungannya, tanpa sadar. Penularan bisa terjadi melalui udara. Itu sebab mengapa batuk ada etiketnya. Batuk tanpa menutup mulut, atau tanpa menggunakan masker, bisa jadi cara penularan TB.

Memeriksakan diri ketika menemukan gejala seperti batuk tak sembuh dua minggu lamanya, berkeringat saat malam, dan nafsu makan terus turun, menjadi langkah awal mengenali TB. Penegakkan diagnosis diawali dengan berbagai pemeriksaan baik rontgen/xray, Tes Cepat Molukuler dengan tes dahak, juga tes pemeriksaan lainnya yang lebih canggih. Jika sudah memeriksakan diri dan melaporkan kondisi, maka petugas kesehatan bisa mencatatkan kondisi. Apakah positif menderita TB atau tidak.

Tantangan inilah yang dihadapi kita, negara dengan beban TB tertinggi kedua setelah India. Minimnya pelaporan, miskinnya edukasi, kemudian membuat TB terus tinggi angka kejadiannya di Indonesia. 



TOSS TB atau Temukan Obati Sampai Sembuh Tuberkulosis menjadi kampanye kesehatan yang digencarkan pemerintah didukung berbagai pihak. Dengan menemukan kasus TB (lewat pemeriksaan kesehatan warga tentunya), lalu obati bagi yang memang sudah terdiagnosis tegak TB, kemudian patuh dan kukuh pada pengobatan sampai sembuh seperti perjuangan Edi Junaedi.

Harapannya, TOSS TB menekan penularan penyakit infeksi ini, menyembuhkan penderitanya. Tujuan akhirnya, eliminasi TB, mewujudkan Indonesia lebih sehat. 



















You Might Also Like

4 comments:

Mpo Ratne mengatakan...

Angka yg mengerikan, perlu gerak cepat karena penyakit menular dan perlu penangan khusus. Apalagi pengobatan lama, bikin cepat Bosen minum obat

wawaraji mengatakan...

Iyah serem angkanya. Semoga bisa turun peringkat lahh yaaa kita

Helena mengatakan...

Aku tuh sensi kalau ada orang batuk tapi ga menutup mulutnya. Rawan banget kumannya menyebar kemana-mana. Semoga kesadaran masyarakat akan TB meningkat sehingga Indonesia bebas TB 2050.

wardah fajri mengatakan...

amin mbak Helena, iyaa apa susahnya yaa kalau peduli sekitar sih harusnya gak usah diajarin yaa hal basic gitu