Voucher Hadiah yang Bikin Bahagia

19.00.00 wawaraji 10 Comments

voucher belanja photo by @wawaraji 


Bersyukur, jika pekerjaan yang kita geluti memberi kita kesempatan mendapatkan imbalan setara. Rejeki bentuknya bisa beragam rupa, tak harus melulu uang tunai yang kerap selalu dianggap menjadi solusi segala kesulitan. Bisa juga rejeki hadiah barang bernilai, yang sesuai dengan usahanya. Bentuknya bisa beragam juga, tergantung kemampuan si pemberi hadiah dan memang disepakati bersama, atas dasar suka sama suka.

Nah, kalau memang hadiah itu diberikan sebagai tanda hormat, ungkapan bahagia, yang tidak mengharapkan imbal balik apa pun, sudah semestinya si penerima hadiah menerimanya sepenuh hati. 


Bagi saya, tak santun berkata, “Ah, seandainya, hadiahnya …..”. 

Mendapatkan perhatian dari orang lain, yang sebenarnya bisa saja dia bagi perhatiannya itu ke banyak daftar temannya tapi malah memilih kita, itu sudah rejeki. Artinya kita punya arti lebih baginya. Sekali lagi, ini kalau memang pemberian hadiah tidak mengharapkan imbal balik apa pun.

Beda lagi kondisinya, jika hadiah diberikan karena ada hubungan kerjasama. Ada ekspektasi dari si pemberi hadiah, kepada yang diberi hadiah.

Kalau satu pekerjaan dengan saya, sebagai digital content creator dan blogger, kalangan yang sudah optimasi medsos dan blog untuk mendapatkan keuntungan materi (apapun bentuknya), pasti pernah merasakan pengalaman ini.

Kembali ke soal memberi hadiah karena ada imbal baliknya. Ada ya memberi hadiah kok mengharap imbal balik? Ya ada, kalau dalam dunia aktivasi digital mengandalkan medsos (Twitter, Facebook, Instagram) dan blog untuk kebutuhan branding. Sekali lagi, branding bukan selling. Ini penting.


Perlu dipahami terlebih dahulu bahwa pemilik akun medsos dan pemilik blog pribadi, membangun brandingnya di berbagai platform tersebut dengan proses panjang, bahkan sangat high effort.Pada akhirnya akun medsosnya mendapatkan followers berlimpah, atau blognya kebanjiran views dengan trafik tinggi, semua berproses, tidak instan, bahkan ada yang butuh bertahun tahun membangunnya. Ini penting.

Jika kemudian para content creator di ranah digital ini mendapatkan peluang kerjasama, mutual benefit, saling menguntungkan, sah saja. Namun memang banyak yang harus dipertimbangkan dari kedua belah pihak, baik penerima manfaat maupun pemberi manfaat (yang juga sebenarnya menerima manfaat darinya).


Sebelum mengerucut ke mutual benefit, satu hal menurut saya, content creator juga harus memikirkan followersnya. Bagaimana pun keberhasilannya menggaet peluang, ada faktor pendukung followers, secara tidak langsung. Sesekali bagi rejeki ke followers juga boleh, dengan giveaways atau bagi pulsa dengan kuis iseng berhadiah misalnya.

Oke kembali ke mutual benefit. Pertimbangan lain yang sebenarnya saya maksudkan dengan mutual benefit, adalah skema barter dengan hadiah voucher.

Content creator (medsos) juga blogger SEBAGIAN pekerjaannya adalah membantu branding, brand awareness sebuah brand/campaign. Modelnya bisa endorsement atau review berdasarkan user experience dengan ciri khas masing-masing content creator atau blogger. Bagi saya, ini adalah pekerjaan kreatif di ranah digital marketing. 


Pekerjaannya lebih MIRIP kepada native ads kalau istilah di media mainstream. Memang pekerjaannya membantu strategi komunikasi Public Relation atau Marketing Communication, namun bukan terang terangan beriklan atau boleh lah dibilang soft promotion yang sangat samar (seharusnya). Unik, khas dan kreatif, kalau saya kategorikan pekerjaan terkait konten yang dilakukan oleh blogger atau buzzer.

Nah, kalau sudah begitu, artinya mutual benefit, hadiah atau reward yang diberikan, jelas meminta imbal balik. Bukan lantas pemberi hadiah memberikan begitu saja, tentu ada harapan atau ekspektasi di sana. Harapannya, dengan bantuan content creator/blogger, pesan/key message dari sebuah campaign tersampaikan lebih meluas lewat medsos, dengan gaya bahasa natural, khas masing-masing pembuat kontennya. Bukan bahasa iklan tapi menulis kreatif di berbagai platform digital dengan tujuan memberikan referensi dan membantu pembaca membuat keputusan. REVIEW ELEGAN kalau saya bilang, seperti prinsip di BloggerCrony Community.

Lalu di mana sih bagian hadiahnya?

Sampai di sini, memberi hadiah dengan berharap imbal balik berbeda dengan memberi hadiah karena kasih sayang tanpa mengharapkan apa pun di baliknya.

Kalau memberi hadiah/reward berupa voucher misalnya, tak masalah. Memberi hadiah kan memang bergantung kemampuan si pemberinya. Tak melulu soal pekerjaan berbalas uang.

Namun, kalau ada imbal balik yang diharapkan di balik hadiah itu, sebaiknya mempertimbangkan kebutuhan si pengguna. Kalau hadiah voucher misalnya, yang berguna itu ya voucher yang mendukung kebutuhan sehari-hari baik kebutuhan utama maupun hiburan.

Ini nih, hadiah voucher yang berhasil bikin saya bahagia apalagi di tanggal tua. Eh, pekerja mandiri enggak kenal tanggal tua sih, di momen kritis saat tabungan makin menipis tepatnya. 


Ini soal tipe vouchernya ya, kalau value nya, kembali kepada rejeki masing-masing aja sih. Pertimbangannya setidaknya usahakanlah sesuaikan hak dan kewajiban saja. Imbal baliknya seberapa butuh usahanya, ringan, sedang atau berat, hadiahnya bisa menyesuaikan.

Voucher Hipermarket


Voucher belanja di hipermarket nilainya sudah seperti uang. Voucher hadiah itu bisa untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, bisa di hypermarket atau minimarket. Saya sih menganggap sama minimarket dan hipermarket, namun kadang, demi alasan lebih lengkap, hipermarket akan lebih membahagiakan si penerima hadiah.

Buat kaum ibu dan ayah dengan balita, voucher hadiah ini sangat berguna untuk beli aneka rupa kebutuhan harian anak. Dari popok sampai susu, itu pengeluaran terbesar loh dalam sebulan, dan voucher belanja sangat menyelamatkan. Kalau buat lajang, bisa untuk beli segala kebutuhan skincare, kosmetik bahkan sampai camilan untuk menemani kesendiran, eh. Bisa juga dihadiahkan lagi, diberikan kepada orangtua untuk membeli berbagai kebutuhan rumah tangga.

Buat pasangan menikah, voucher belanja bisa menghemat anggaran rumah tangga. Beli pembersih lantai, pemutih pakaian, pengarum baju, pelicin setrika, deterjan, sabun cuci piring, sabun cuci tangan, dan segala rupa bisa pakai voucher belanja. 

Bersyukur saja, saat uang menipis tapi masih punya voucher belanja di hipermarket, rasanya legaaaaa... kalau saya sih begitu, enggak tau deh kalau kamu.

Voucher MAP



Voucher MAP untuk Starbucks photo by @sattoraji 

Awalnya saya enggak gitu suka dengan voucher ini, tapi ya seperti saya bilang, hadiah diterima dan syukuri saja. Menurut saya voucher MAP agak terbatas penggunaannya, apalagi jika valuenya kecil, karena harga belanjaan dengan voucher ini terbilang lebih tinggi.

Tapiiiii, semua berubah ketika saya mulai punya Starbucks card dan nemu pizza enak di Domino. Soal Starbucks, bukannya sok kekiniaan. Saya kan freelance tak berkantor, alias mobile working. Yaa, di Jakarta, tempat paling asik berlama-lama buka laptop atau ngobrol cari insight yaa Starbucks. Bukan soal kopinya paling yahuuuud, tapi soal fasilitas dan pelayanan serta promo yang sering bikin girang. Enggak pernah dibikin enggak nyaman karena dah kelamaan. Soal wifi sih relatif, saya pakai internet pribadi soalnya, lebih karena enggak mau ribet tanya password dan lebih aman saja. 


Nah, belakangan lagi suka banget pakai voucher MAP untuk beli Domino Pizza, rasanya enak, pizzanya bisa dibiking tipis kering mengenyangkan. Variasi menunya juga banyak,dan Domino mulai banyak cabangnya makin dekat dengan rumah. Bisa delivery dan kalau telat satu menit ajah, bisa dikirimi lagi voucher makan. Ini kejadian, dan aku senaaaaaang.

Voucher CGV



Voucher CGV photo by @wawaraji 

Berhubung saya suka banget nonton di bioskop, apalagi film Indonesia (yang menurut saya bagus), jadi kalau dapat hadiah nonton senang bukan kepalang. Apalagi tiketnya dua kan bisa sama pasangan. 

Nah, yang pernah saya dapat itu voucher CVG dan Flix. Senangnyaaaaa, saat butuh hiburan dan dana menipis, voucher bikin bahagia. Karena, menonton di bioskop film kesukaan, sudah sukses bikin saya senang. Bahagia itu sederhana bukan?

Voucher Treatment dan Butik



Facial Rejuve Skin Lab Kemang 


Nah ini cocok banget buat perempuan yang peduli penampilan. Eh emang ada yang enggak peduli penampilan? Ada sih, dan itu hak mereka, sah aja. Jadi kalau mereka dapat voucher ini barangkali akan dihibahkan atau diabaikan.


Kalau bagi saya penampilan penting. Barangkali menurun dari ayah saya yang necis banget urusan pakaian dan penampilan luar. Sarung dan baju koko nya saja banyak koleksinya, dan dirawat sendiri, kalau mencuci dan setrika, penuh penjiwaan jadi ketika dipakai, rapi necis terawat bikin beda penampilannya, padahal usianya sudah 82 tahun.

Treatment seperti facial, pijat, spa atau perawatan kulit bahkan pelangsingan itu sangat mendukung penampilan. Kalau dapat hadiah voucher (bernilai uang bukan diskon apalagi bersyarat dengan transaksi tertentu) perawatan, sungguh bikin bahagia. 

Begitupun voucher belanja di butik, indah nian bisa pilih baju sesuai selesai, dengan nilai yang sudah disepakati bersama. Tambah deh koleksi OOTD bisa untuk postingan di Instagram. Ini penting buat content creator yang butuh branding di medsos dan bahkan butuh outfit untuk hadiri beragam undangan kerjasama.


Tiffany Kenanga Hijab Photo by @wawaraji




Totok Aura Dian Kenanga Photo by @wawaraji 


Voucher Makan
Saya pernah mendapatkan voucher makan di restoran ternama juga restoran cepat saji. Paling bahagia sih restoran cepat saji, karena harganya yang terjangkau dan nilai vouchernya lumayan, jadi bisa dipakai berkali-kali apalagi masa berlakunya lama. Satu lagi anggaran makan terpangkas berkat voucher makan hadiah. Dan ini penting karena menyangkut perut. Kalau lapar bisa kurang kendali pikiran alias enggak konsentrasi melakukan pekerjaan. Lagipula ini kebutuhan primer, kalau kebutuhan primer bisa diterpenuhi dengan voucher hadiah, apalagi nilainya sepadan dengan pekerjaan, senang lah hati ini.



Voucher Makan Domino Pizza Photo by @wawaraji 


Voucher Hotel
Nah, ini kesukaan saya. Tak selalu mudah mendapatkan voucher hotel namun saya beruntung beberapa kali mendapatkannya. Hadiah setelah cukup kerja keras menyelesaikan pekerjaan dengan value barter, atau karena keberuntungan datang ke acara dan mendapatkan doorprize. Saya dan suami memang hobi staycation, butuh waktu rehat di hotel yang semua fasilitas tersedia. Ya santai, makan, berenang, atau jalan-jalan di sekitar area hotel. Menurut saya, voucher hadiah ini yang paling setara dan semua senang. Pihak hotel senang, apalagi saya dan keluarga. Eh, bukan hanya bersenang-senang dengan keluarga kecilku, saya pun bisa menggunakan hadiah untuk rehat bersama sahabat kesayangan. 

Voucher Hotel by @wawaraji 


Itu dia daftar hadiah voucher yang bikin bahagia buat saya. Bahagia ala saya.  

Eh tapi ada juga hadiah yang bikin kurang bahagia. Baiknya sih saat mendapat tawaran enggak usah diterima dan sampaikan sebaik-sesantunnya.

Yang tidak bikin bahagia adalah kalau hadiah vouchernya pakai ketentuan dan syarat yang bikin cemberut bahkan geleng kepala. Contohnya, voucher hanya bisa digunakan di tempat tertentu yang tidak selalu datang atau melewati wilayah itu. Contoh lain, voucher Rp 100,000 berlaku untuk pembelian minimal Rp 500,000, jadi harus keluarin uang Rp 450,000 (atau selisih yang lebih kecil tapi harus membayar lebih dari nilai vouchernya). Contoh lagi, voucher hanya berlaku untuk pembelian produk A di situs belanja online B, hadiah yang dibatasi. Voucher berlaku sampai dengan tanggal sekian, yang tersisa waktunya hanya hitungan hari saja dari sejak diterima/diberikan. 


Apa lagi ya, barangkali kamu punya pengalaman yang lebih ekstrem dari saya? eh tapi jangan jadi lahan mengeluh yaa. Ini lebih kepada TAWARAN imbalan voucher atas pekerjaan kita, tidak sepadan dengan apa yang harus kita upayakan untuk membantu (baca: bekerja) untuk si pemberi hadiah. Jadi, kalau sudah sepakat menerima ya jangan mengeluh meski jadinya enggak bahagia. 

Kalau dirasa tidak nyaman, baiknya jangan terima kesepakatan kerjasama barter hadiah voucher, daripada jadi bikin enggak bahagia. Bukan cuma kita loh, tapi juga si pemberi hadiah jadi enggak bahagia karena awalnya bilang sepakat tapi akhirnya mengeluh terbuka di ranah dunia maya.

Itu sebab, di awal membuka peluang kerjasama, bicarakan segala sesuatunya di awal. Terus terang dan prinsip keterbukaan, suka sama suka, dan disepakati bersama dengan jelas sebelum mengawali pekerjaan apa pun. Be clear at the beginning, and then decide, take it or leave it. Simply happy to all. 






You Might Also Like

10 comments:

dekcrayon tata mengatakan...

Pernah dapat voucher hotel. Semoga bisa kayak mbak wawa mencicipi voucher lainnya. Yup, apapun bentuk rezeki tetap harus disyukuri.

Anjar setyoko mengatakan...

memang high effort mbak wa buat bangun branding blog atau medsos, tapi jujur kalau kita menikmati proses itu jadi berjalan saja tak jadi beban, rezeki pun bisa datang tak di duga2, bukan hanya fokus ke uang tapi rezeki jga dapat berupa teman yg saping mendukung dan menguatkan

wawaraji mengatakan...

Iyaaa dong mba kita syukuri nanti datang lagi hehe.

Banget Anjar. Usaha banget semoga berbuah manis terus yaaaah kalaupun pahit yaa segera digantikan lagi sm yg manis2

Maya Siswadi mengatakan...

Paling ga enak kalau dpt voucher yang pakai syarat dan minimal belanjanya besar, jatuhnya kita disuruh merogoh kocek, bukan dikasih hadiah *ehh.

Kalau si pemberi voucher menyebutkan syarat dan ketentuannya dan kita sepakat mungkin ga masalah, tapi kalau ternyata si pemberi voucher ga sounding masalah ini dan kita baru tahu belakangan, bagaimana ya?

Amallia Sarah mengatakan...

Voucher belanja dari hadiah atau event kalau buat aku penyelamat dikala paceklik mba. Ngebantu banget deh, apalagi buat belanja kebutuhan pokok..

Indri mengatakan...

Selain bikin bahagia pocer juga jd penyelamat saat genting (baca : susu anak habis)

cendekia channel1 mengatakan...



Bagi saya, tak santun berkata, “Ah, seandainya, hadiahnya …..”.

*note to self*

Maria Margaretha mengatakan...

Kalau Maria mbak, apapun hadiahnya seneng aja. Yang ngga kepake ya bagi bagi. Eh seneng juga. Asyik bisa bikin orang seneng... dan thanks for sharing. ������

Lya Amalia mengatakan...

Kalau aku sih dapet hadiah apa aja diterima mbak, seneng, tapi yang bikin nggak seneng kayak yg diceritain mbak wawa, Dapet potongan voucher tp harus beli barang minimal yang lebih besar dari potongannya sendiri >,<. tapi kalo yang kasih mbak wawa, gak nolak. ahahaha

Keke Naima mengatakan...

Saya suka kalau dapat voucher. Apalagi kalau gak ada minimum transaksi. Paling suka kalau dapat voucher MAP atau Carefour :D