Film Chrisye: Inspirasi dari Musisi Visioner Pencari Tuhan

13.00.00 wawaraji 5 Comments



Dua kali menonton film Chrisye, saat Press Screening MNC Pictures bersama Vito Global Visi, dan beli tiket nonton bareng sekaligus meet and greet sehari sebelum tayang di bioskop, sukses membuat saya terbawa pergulatan emosi Chrisye.






Hampir setahun lamanya menanti film Chrisye tayang di bioskop tanah air. Perjalanan film ini sudah saya ikuti sejak Februari 2017 dan tuntas maksimal di Desember 2017.

Berkat kak Cindy di MNC Pictures, saya dan blogger dari komunitas BloggerCrony bangga jadi bagian dari perjalanan film drama biopic ini. Bangga karena cerita dan pesan dari film Chrisye ini sungguh menginspirasi, berhasil memainkan perasaan dari ceria, bahagia, haru hingga syahdu.



Bagaimana tidak syahdu, ketika pencarian musisi visioner akan kebesaran Tuhan, berhasil membawa pesan akhirnya tentang kehidupan. Inspirasi hidup penuh makna yang terwakili dari perjalanan musikus kenamaan Indonesia, Chrisye.

Jujur saya bukan fans berat Chrisye, tapi saya menikmati karyanya. Jadi menonton film Chrisye membuka pandangan sekaligus menyegarkan ingatan tentang musisi bernama lengkap Chrismansyah Rahadi ini.

Semakin berkesan, karena sosok Chrisye diperankan maksimal oleh aktor Vino G Bastian,  diperkuat dengan lakon aktris Velove Vexia yang sukses memerankan Damayanti Noor (istri Chrisye).

Saya menikmati film Chrisye, mengambil banyak inspirasi kaya makna dari film dengan penulis skenario Alim Sudio berdasarkan sudut pandang Damayanti Noor ini. Termasuk nostalgia dengan toko kaset yang masih saya alami era 90-an, dan menikmati Jakarta tempo dulu.

Visioner
What’s next? Bagi saya kata-kata itulah yang mewakili sosok Chrisye yang visioner. Perjalanan kariernya diceritakan mengalir dari awal film garapan sutradara Rizal Mantovani ini. Musisi yang visioner tergambar jelas di berbagai adegan, dalam percakapannya dengan istri tercinta, Damayanti Noor, juga para koleganya.

Film Chrisye membawa banyak makna bagi penonton lintas generasi. Bagi saya generasi yang besar di era 90-an, di era MTV, musik Indonesia sudah menjadi teman yang menghibur dari radio dan televisi.

Namun saya tak banyak tahu tentang perjalanan sosok Chrisye. Bahwa lagunya sangat hits di masanya, era 70-80-an, dan pernah menggelar konser tunggal pada tahun 1994 di JCC dengan dukungan PH bersama koleganya, Erwin Gutawa dan Jay Subiakto,  Guruh Soekarno Putra dan kisah sukses lainnya.

Menonton film Chrisye, saya jadi kilas balik musik zaman kakak dan orangtua. Pastinya, jadi lebih menghargai musikus dalam negeri, dengan kiprah dan perjuangan tak mudah di eranya.

Dari Film Chrisye saya jadi mengenal sosok musisi tanah air yang visioner. Seperti saya bilang di awal, “What’s Next” adalah dua kata yang mewakili sisi visionernya. Setiap kali sukses menelorkan karya, Chrisye tak terbuai dengan ketenarannya. Chrisye memikirkan karya apa lagi yang akan dihasilkan ke depan, dengan siapa akan berkolaborasi.

Totalitas
Dalam berkarier, bekerja,  bahkan dalam kehidupan pribadinya, totalitas menjadi karakter kuat dari sosok Chrisye. Karakter yang layak ditiru. Totalitas saat memutuskan bermusik setelah melewati penolakan ayahnya, hingga mendapat restu keluarga. Totalitas dengan Gipsy Band sampai akhirnya solo karier dengan dorongan dari kolega di Prambors. 

Juga totalitas dalam berkarya, berkolaborasi bersama musisi lainnya yang berkualitas dan mendukung musiknya seperti dengan Adie MS misalnya. Termasuk totalitas ketika memutuskan menjadi mualaf, atas restu orangtuanya.

Spiritual
Film Chrisye bukan film religi, namun kaya dengan makna mendalam perjalanan spiritual sosok Chrisye yang layak menjadi inspirasi. Film ini berkisah pencariannya akan kebesaran Tuhan, untuk kembali pulang kepada pemiliknya. 

Arahan sang sutradara Rizal Mantovani dengan Vino sebagai pemeran utama, berhasil membawa penonton terbawa pergulatan spiritual Chrisye.

Banyak adegan berisi perjalanan spiritual, namun puncaknya terjadi saat penciptaan lagu “Ketika Tangan dan Kaki Berkata”, ditulis oleh penyair Taufik Ismail. Lirik lagu yang diserap dari surat Yasin ayat 65, mewakili pencarian Chrisye akan kebesaran Tuhan.

Sungguh mendalam maknanya, bagi saya, karena saya paham rasanya ketika Tuhan berkehendak mengambil apa yang menjadi miliknya. Sungguh itulah kebesaran Tuhan, yang takkan sanggup kita ucapkan sekalipun. 

Kaku dan kelu ketika kita bisa merasakan kebesaran Tuhan, sekelu bibir Chrisye yang tak bisa mengucap sebait pun lirik lagu itu. Drama spiritual sungguh menggugah tak berlebihan di bagian cerita ini. Pesannya sangat mendalam, tentang manusia yang tiada daya.

Teladan Keluarga
Film Chrisye bercerita keteladanan sosok Chrisye sebagai ayah dan suami. Pembagian kerja rumah tangga yang setara tergambar jelas dalam kehidupan Chrisye dalam sebuah film. Bagaimana Chrisye, meski sudah menjadi pemusik ternama, masih sudi membersihkan kamar mandi. Keharmonisan rumah tangga, dan ikhtiar Chrisye untuk memberikan yang terbaik untuk anak istri, tergambarkan dengan romantis, harmonis, layak menjadi teladan keluarga Indonesia.



Rendah Hati
Tak silau dengan ketenaran, masih mau makan di pinggir jalan, masih mengerjakan pekerjaan rumah tangga berbagi peran dengan istri, adalah beberapa karakter rendah hati Chrisye, yang terceritakan di film ini.

Banyak lagi kerendahan hati Chrisye yang terekam di film ini. Puncaknya adalah kutipan Chrisye yang menyatakan, "Saya ingin menorehkan setitik tinta di sejarah musik Indonesia untuk diteruskan oleh generasi muda ...."

Bagi saya, "setitik tinta" adalah pernyataan paling rendah hati dari seorang musisi legendaris kebanggaan Indonesia. Bukan sekadar kata, karena terasa nyawa dari Chrisye dari kalimat itu, tentang sosok kreatif yang produktif, namun tak silau dunia. 

Kerendahan hati juga lah yang membuat banyak sahabat Chrisye terus berada di dekatnya dulu, dan mengenangnya kini.



Catatan:
Tonton Film Chrisye di Bioskop! Dukung film Indonesia mulai 7 Desember. Jangan lupa bawa tisu atau sapu tangan karena air mata bisa menetes begitu saja. Orangtua boleh ajak anak di atas usia 13 tahun. Ada beberapa adegan merokok di film ini, yang perlu jadi catatan bimbingan orangtua jika ingin mengajak anak-anaknya ikut menonton. Satu-satunya adegan yang menurut saya semestinya bisa dipotong. Meski mungkin ada kaitannya, di prolog film dijelaskan Chrisye meninggal karena kanker paru. Sukses Film Chrisye semoga bisa tembus angka satu juta penonton, dan tayang lama di layar bioskop Indonesia, bersanding dengan film asing.




You Might Also Like

5 comments:

Helena mengatakan...

Masya Allah alm. Chrisye sangat low profile ya. Saya suka beberapa lagu mendiang meski waktu itu masih Remaja. Makin kagum membaca ulasan Mbak Wawa tentang sisi lain Chrisye.

Ucig mengatakan...

Sosok legend ya mba ternyata meski seorang star tetap injak bumi. Mau bersihin kamar mandi, pasti sayang sama anak2 yaa almarhum. Moga filmnya bisa jadi bermanfaat dan contoh yg baik ��

Fanny f nila mengatakan...

Rencana besok mau nonton film ini. Sbnrnya lbh krn aku fans berat vino nya, bukan crisye nya :D. Tp hrs aku akuin jg, lagu2 crisye itu bagus dan ga prnh bosen didengerin bhkan zaman skr

Maria Margaretha mengatakan...

Lagunya juga masih enak dinikmati. Asli keren. 😊 film yang asyik banget

Nurul Dwi Larasati mengatakan...

Aku ya mewek juga meski udah nonton 2 kali. Vino berhasil memerankan sosok sang visioner ya...