Dahayu, Malaikat Pengingat

15.44.00 wawaraji 0 Comments



Dahayu, ibu rindu. 

Ibu selalu merindu, hanya saja kalau sedang berbaring lemah karena sakit, ibu makin tak bisa mengendalikan pikiran. 

Ibu istirahatkan badan di rumah. Tak ingin berobat. Tak perlu lah lagi antibiotik itu masuk ke tubuh ibu. Cukup istirahat, banyak minum air putih hangat, minum asupan herbal dan wedang uwuh. 

Gejalanya seperti penyakit langganan ibu, nak, thypus. Semoga tidak ya, semoga hanya kelelahan saja. Kalau sampai kambuh, berarti kali ketiga ibu kambuh sejak 16 bulan kamu berpulang, Dayu.

Ibu kelelahan, maaf ya nak. Ibu terlalu sibuk dan menyibukkan pikiran supaya tetap waras. Ibu tahu diri, kalau istirahat saja di rumah, berdiam diri, apalagi berbaring lalu terjaga, pikiran melayang. Ibu selalu mengingatmu, terserang rindu, tersiksa rasanya.

Semoga Dayu mengerti, kenapa ibu kerap istirahat malam saat tubuh memang sudah lelah, dan mata sudah mengantuk, setelah sibuk seharian. 

Tiada yang bisa mengerti rasanya ketika terjaga lalu rindu menyerang. Ibu terbayang wajahmu saat sedang senang, namun bayanganmu saat di rumah sakit, selalu berhasil mengendalikan pikiran. Terbayang enam hari di rumah sakit itu nak. Terbayang Dahayu saat diare hebat. Terbayang Dahayu saat kejang tanpa panas. 

Ibu tersiksa mengingat wajahmu Dahayu, wajahmu yang cantik itu, sesaat sebelum kejang. Wajah bersinar, dengan tatapan nanar. Bola matamu bulat cerah, seperti sedang menatap cahaya. Ibu bahkan bisa bercermin di matamu. Bibirmu seperti senyum tapi tidak terlihat bergerak. Kamu bahkan tak bisa mengangkat kepala. 

Ibu memanggil namamu, tapi kamu diam. Entah momen apa itu nak, ibu ingat kamu terlihat cantik namun dalam diam. Ibu mulai khawatir hingga tak beberapa lama kemudian, kamu kejang tanpa ada gejala apa pun sebelumnya. Sekejap saja terjadi. Tenaga medis itu tak ada yang bisa menjawab pertanyaan cemas ibu. 

Ibu bahkan belum sempat mengatur pikiran dan perasaan, semua terjadi begitu cepat. Wajahmu yang cantik dengan pandangan nanar itu, berubah seketika menjadi Dahayu yang tak sadar diri, diam, bisu, tanpa suara kecuali alat bantu nafas dan lendir yang terus keluar dari mulut dan hidung. 

Ingatkah nak, ketika ibu berusaha mencari perawatan terbaik untukmu, ketika ibu menuntut penjelasan dari tenaga medis, ketika ibu berusaha sebisanya memindahkanmu ke tempat perawatan terbaik.

Dahayu, kalau ibu berbaring dan terjaga, saat merindumu, semua bayangan itu muncul begitu saja. Sulit sekali mengendalikannya. Baru belakangan ibu bisa perlahan menafsirkan berbeda. Bisa jadi, sebenarnya, tatapan nanar yang cantik itu, adalah pertemuanmu dengan cahaya Tuhan. Barangkali malaikat sudah menjemput Dahayu menuju Allah. Indah ya nak, indah sekali, sekilas ibu melihat keindahan itu, meski dalam cemas. 

Surga untukmu Dahayu. Seindah itukah surga nak, secantik apa yang ibu lihat di wajahmu. 

Ibu bahagia, dengan Dahayu berbahagia di sisi Tuhan. Namun ibu manusia biasa nak, manusia rapuh, ibu yang rapuh. Ibu yang rindu anak yang pernah dititipkanNYA.

Sebatas rindu nak, yang menantang ibu tetap menjaga kewarasan. Bukan tak ikhlas, meski sampai sekarang ibu masih terus melatih ilmu ikhlas. Tiada daya, semua milikNYA, berhak diambil kembali oleh sang pemilik. Tiadalah ibu berdaya. 

Dahayu, barangkali kamu minta ke Tuhan ya nak, agar bisa menjaga ibu dalam petunjukNYA. Terima kasih ya nak, inikah sebabnya ibu merasa bersyukur. Dengan Dahayu berada di surga, ibu masih bisa bersyukur. Ibu bersyukur dengan Dahayu di surga, karena ibu jadi punya malaikat pengingat yang sangat kuat. 

Entahlah apa ibu layak menikmati surgamu nak, begitu banyak dosa di dunia. Entahlah apa ibu bisa membawa cukup bekal kebaikan untuk pulang, dengan banyaknya dosa di dunia nak.

Tapi ibu bersyukur punya Dahayu di sisi Tuhan, karena ibu jadi punya pengingat. Pengingat untuk ibu tak terbuai dunia, karena semua fana, dan nanti kita akan berkumpul di sana. Pengingat untuk hidup demi akhirat. Pengingat untuk lebih banyak lagi berbagi bermanfaat. Pengingat untuk menjaga diri dari perbuatan buruk, demi hidup dalam kebaikan, agar Tuhan merestui ibu bisa bersamamu di surga. 

Dahayu menjadi pengingat untuk ibu bersiap membawa bekal kebaikan sebanyak-banyaknya, dalam antrian untuk pulang, pada waktunya. 


#writingforhealing

You Might Also Like

0 comments: