Ibu Bijak Pengendali Keuangan Keluarga

12.45.00 wawaraji 11 Comments


Siap menjadi ibu? Jangan dipikir mudah jadi ibu dari anak-anak kita dan istri dari pasangan yang kita pilih untuk hidup selamanya. Eh, tapi jangan juga jadi ketakutan atau khawatir enggak bisa jadi ibu yang baik. Tak ada manusia sempurna, pun tak ada perempuan sempurna, semua pasti punya kelemahannya.

Saya berani mengakui, kelemahan saya adalah disiplin mempraktikkan perencanaan keuangan. Jangan tanya sudah berapa kali saya ikuti talkshow dari para financial educator. Berkali-kali mengikuti edukasi keuangan atau financial literacy penting bagi saya, meski ilmunya dan teorinya sama saja, namun datang menghadiri kegiatan literasi finansial seperti memberikan pengingat sekaligus “wake up call” lalu refleksi diri, apa yang  salah dan kurang saya jalani.

Dalam beberapa kegiatan literasi finansial selalu menekankan pemeriksaan keuangan atau financial check up. Menulis ulang, lagi dan lagi, berapa pemasukan bulan dan pengeluaran rutinya. Lalu pembagian pengeluaran yang biasanya terdiri atas Sedekah (5%), Biaya Hidup (30%), Cicilan Utang (30%), Gaya Hidup (10%), Dana Darurat (10%), Investasi (15%).
Berkali-kali pembagian ini dibahas dalam edukasi finansial keluarga. Termasuk dalam program “Ibu Berbagi Bijak” Visa Financial Literacy Series Financial Check Up di Jakarta. Bersama Prita Gozie, Visa mengedukasi kaum ibu untuk lebih bijak mengelola keuangan terutama dalam keluarga.

IG/Twitter @wawaraji


Ilmu perencanaan keuangan ini memang penting dipahami kaum ibu karena mengurus keluarga dengan berapa pun penghasilan suami atau ditambah penghasilan istri, sungguh bukan perkara sepele.

Pencatatan pemasukan apalagi pengeluaran menjadi penting. Bagi yang suka berjibaku dengan aplikasi Excel, akan sangat memudahkan mengurus pemasukan dan pengeluaran, lebih tertata rapi. Bagi yang suka mencatat manual di buku silakan saja. Kalau kata Prita Gozie, apa pun caranya, pencatatan arus keuangan itu bisa membantu kita mengendalikan keuangan.

Selain mencatat pengeluaran dan pemasukan, bahkan kalau perlu simpan bon untuk memantau pengeluaran, yang juga penting adalah pembagian jatah pengeluaran. Banyak metodenya yang sudah sering disampaikan para financial educator.

Pernah dong mendengar sistem amplop? Biasanya kaum ibu yang belum mengikuti kelas literasi finansial pun sudah menjalani ini. Amplop bisa bermakna amplop dalam arti sebenarnya atau dompet. Jadi, bagi anggaran pengeluaran. Amplop/Dompet A untuk biaya hidup seperti listrik, air, pulsa, makan, transport, dll yang merupakan kebutuhan wajib atau biaya hidup, porsi idealnya 30 persen dari penghasilan rutin. Amplop berikutnya untuk kebutuhan lain seperti cicilan utang, sedekah, dana darurat yang perlu disiapkan apalagi untuk freelancer agar bisa “hidup” membiayai biaya hidup minimal tiga bulan ke depan, investasi seperti reksadana, deposito, logam mulia, lalu sisakan untuk gaya hidup, bahkan kalau perlu menekan gaya hidup seperti belanja tas, sepatu, ngopi di café dengan anggaran 10 persen maksimal dari penghasilan.

Cara lain adalah buka rekening di luar arus kas utama. Rekening belanja kerap disebut para financial educator. Siapkan rekening khusus di bank, hanya untuk belanja. Alokasikan dana maksimal 10 persen saja setiap bulan. Jika uang di rekening tersebut habis, maka kita tidak berhak belanja. Jangan pakai uang biaya hidup apalagi jatah bulanan untuk sedekah, hanya karena tergiur diskon di mal.

Kalau perlu ada rekening lain khusus untuk investasi, untuk dana darurat sehingga kita kaum ibu ini bisa lebih bijak mengendalikan keuangan keluarga.

Ilmu literasi finansial keluarga seperti ini sudah sangat sering disampaikan. Jujur, mempraktikkannya sungguh tak mudah, karena disiplin diri memang musuh terbesar kita, atau setidaknya saya pribadi.

Menekan gaya hidup agar semua pengeluaran on track, sungguh perjuangan apalagi dengan mobilitas tinggi dalam aktivitas harian kita, eh saya. Kalau kata Prita Gozie, korbankan gaya hidup bukan lantas menghilangkannya kok. Kita hanya perlu mengendalikan gaya hidup bukan tidak memiliki lifestyle sama sekali seperti ngopi di café sambil curhat sama sahabat misalnya. Perlu juga curhat kan supaya enggak depresi karena pengeluaran tak seimbang dengan pemasukan.

Karenanya, menurut saya, mengingatkan diri sendiri bersama pakar keuangan sungguh siraman rohani. Kita diingatkan lagi dan belajar lagi. Seperti saya belajar hal baru di Visa Financial Literacy Series bersama Prita Gozie, bahwa pemeriksaan keuangan perlu dilakukan setahun sekali, wajib!

Cek kembali seberapa sehat keuangan kita. Kalau aset bertambah 10 persen tandanya positif. Biasanya pemeriksaan keuangan tahunan ini dilakukan Januari di awal tahun, atau jika sudah punya anak usia sekolah, saat anak masuk sekolah sekitar bulan Maret.
Financial Check Up bisa dilakukan sendiri dengan parameter yang baik dan benar, pakai rumus yang sudah dijelaskan (30%+30%+5%+15%+10%+10%) juga bisa. Sudah disiplin kah kita menerapkannya? Atau kalau memang kondisi keuangan sudah sangat memprihatinkan, rasanya perlu juga minta bantuan financial educator.

Meski memang harus membayar jasa keuangan, tapi kalau sangat perlu untuk menyehatkan keuangan kenapa tidak? Apalagi kalau sudah menyangkut utang piutang.
Dalam buku Saku Ibu Bijak oleh Visa disebutkan di bab3: Utang Piutang. Ilmu penting yang harus dikuasai kaum ibu agar lebih bijak mengendalikan keuangan.

Saya ringkas yaaa  ilmunya. Dijelaskan bahwa yang namanya utang di dunia itu ada banyak jenisnya. Paling umum adalah pinjaman pribadi, utang modal ke bank, utang biaya sekolah, KPR, kredit kendaraan bermotor. Kalau utang perseorangan biasanya untuk urusan biaya sekolah anak, kartu kredit, liburan dan lainnya.

Nah dalam rumus, sudah dijelaskan biaya utang ini hanya boleh maksimal 30% dari pemasukan, kalau mau dikategorikan sehat keuangannya. Kalau lebih besar dari itu, yaaaa silakan analisa sendiri saja.

Buku Saku Ibu Bijak dri Visa ini juga memberikan tipsnya. Namun yang perlu dipahami dari utang adalah prinsipnya utang harus dilunasi sesegera mungkin agar tidak menjadi beban di kemudian hari. Jika jumlahnya besar seperti KPR, penting untuk membuat perencanaan pembayaran utang yang terstruktur dan sistematis.

Ilmu baru yang saya dapati dari buku saku Ibu Bijak dari Visa ini adalah cara terbebas dari utang yakni dengan menggabungkan semua utang sehingga bisa terkontrol berapa sisa utang dan kapan harus melunasi, serta konseling utang dan hak nasabah.

Hak nasabah saya pahami sebagai utang kita terkait KPR, kredit motor/mobil, kartu kredit. Nah, kita sebagai nasabah punya hak loh. Pemberi kredit tidak ada hak menekan kita yang berutang apalagi jika urusannya dengan bank. Penagihan utang yang fair adalah salah satu hukum di bank yang akan melindungi nasabah. Kita punya hak mengajukan keberatan apabila penagih utang sudah mulai intimidatif, tindak kriminal, ancaman, kalimat kasar, menggunakan koneksi palsu, berkomunikasi di tempat dan waktu yang tidak biasa, berkomunikasi lewat pihak ketiga tanpa persetujuan debitur.

Kalau sudah tidak nyaman, segera hubungi langsung pihak bank kalau perlu datang langsung ke kantor. Konsultasikan dengan financial planner juga bisa untuk membantu.
Ilmu ini penting setidaknya buat saya yang masih berutang kendaraan roda empat.  Yuk ah, lebih bijak lagi mengelola keuangan, supaya keluarga tak terbebani dengan masalah keuangan lantaran kita kurang melek finansial. Belajar literasi finansial memang menyelamatkan setidaknya menjadi pengingat kita yang seringkali lupa.

 
Twitter/IG @wawaraji


11 comments:

Menjadi Ibu, Bersiap untuk Perjalanan “Extraordinary” dari Hamil Hingga Menyusui

23.43.00 wawaraji 8 Comments


Setiap perempuan dilahirkan untuk bersiap dengan perjalanan menakjubkan, menjadi ibu. Apa dan bagaimana pun perjalanannya, yang pasti akan berbeda dan takkan persis sama, perempuan pasti menjadi ibu. Bahkan ketika pun perempuan belum hamil, melahirkan, menyusui, merawat anaknya sendiri, dia sudah menjadi ibu, dengan naluri keibuannya menjadi pengasuh dan pengasih untuk orang lain di sekitarnya. Terlebih lagi perempuan yang dititipkan amanah menjadi ibu dari anak yang dikandung, dilahirkan dan disusui sampai tumbuh dan berkembang optimal.

Saya selalu percaya, perempuan dilahirkan untuk selalu siap menjalani berbagai tantangan dalam siklus hidupnya. Sejak kecil, remaja, dewasa hingga berusia matang, siklus hidup perempuan membentuk dirinya menjadi sosok kuat menjalankan satu peran besar dalam hidupnya, menjadi ibu.

Demi mempersiapkan perempuan menjadi ibu, banyak hal yang memang harus perempuan perhatikan.  Dari urusan kebiasaan, perawatan fisik, sikap mental, sampai urusan nutrisi dari makanan yang masuk ke dalam tubuh.

Namun seperti saya katakan di awal, setiap perempuan punya perjalanan masing-masing yang berbeda satu dengan lainnya. Menyeimbangkan dan mempersiapkan segalanya agar bisa menjadi ibu optimal dengan perjalanan “extraordinary”, menjadi urusan penting perempuan. Berbekal pendapat/nasehat orang tua, juga diperkaya dengan pengetahuan dan wawasan yang perlu terus perempuan tambah dari lingkarannya, support systemnya.

Selalu ada hal yang harus diperhatikan lebih jeli oleh kalangan perempuan di berbagai siklus hidupnya. Misalnya saja, saat mulai haid, sebaiknya perempuan resik merawat diri. Perawatan area reproduksi yang baik dengan kebiasaan baik, sejak muda, akan mempengaruhi kesehatan reproduksinya di kemudian hari. Lalu ketika mulai dewasa apalagi tumbuh lebih matang dan mulai bersiap memikirkan berumahtangga, apalagi semakin mendekati pernikahan, banyak lagi yang dipersiapkan, fisik mental. Pun ketika menikah dan berencana punya anak, semakin kompleks lagi persiapannya. Perempuan mau tak mau harus memahami kondisi tubuhnya, kebutuhan fisiknya, lebih peka dengan dirinya, dan harus cerdas menjaga dirinya, karena dari rahim perempuan lah akan lahir (atas izinNYA), generasi baru yang kualitasnya bergantung dari seberapa siap perempuan menjadi ibu.

Sungguh tak mudah menjadi ibu. Tantangannya tak bisa dianggap sepele. Barangkali secara naluriah, bisa saja, bahkan sangat bisa, semua perempuan menjadi ibu, diawali dari menjadi istri lalu bertumbuh secara alami menjadi ibu. Namun, menjadi ibu dengan kualitas seperti apa, baik dari segi kesehatan fisik yang pastinya berdampak pada anak, pun secara mental yang berdampak pada psikis dan kemampuan anak, akan kembali kepada kemampuan perempuan mempersiapkan dirinya dengan baik.

Tantangan menjadi ibu semakin besar, apalagi jika mengalami berbagai hal di luar perkiraan. Bisa saja saat hamil, melahirkan, menyusui, merawat anak. Semua siklus hidup ibu ini bisa sangat unik, berbeda, dan masing-masing ada tantangannya. Hanya dengan kesiapan ibu, support system yang baik, dan wawasan yang terus bertambah dan ditambah, perempuan bisa setidaknya menjawab tantangan lebih baik lagi.
Perjuangan dan perjalanan “Extraordinary” menjadi ibu saya yakini akan dialami setiap perempuan. Bagaimana pun kondisi dan situasinya.

Rupanya apa yang saya yakini ini, juga tertuang dalam hasil studi. Ketika apa yang saya yakini itu dikuatkan oleh riset yang melibatkan sembilan kelompok ibu (ibu rumah tangga, profesional, pekerja, wirausaha), saya jadi punya pembenaran.

Adalah Fonterra Brands Indonesia dengan Anmum lewat studi  2017 bertajuk “Tantangan yang Dialami Ibu Hamil dan Menyusui Indonesia”  membeberkan faktanya. Studi ini menyebutkan ibu pada umumnya mengalami tantangan fisik dan psikis di masa kehamilan dan menyusui. Andriani Ganeswari, Corporate Communications Manager Fonterra Brands Indonesia menyampaikan hasil studi ini. 




Fonterra lewat studi ini membuktikan bahwa ibu hamil mengalami tantangan umum seperti morning sickness dan kelelahan. Tantangan lainnya adalah kesehatan mental seperti kecemasan, stres, gejala depresi, perubahan mood bahkan sampai masa menyusui, dan bahkan baby blues juga post partum depression.

Studi ini juga mengungkap fakta bahwa kaum ibu sangat membutuhkan support system, berharap suami dan anggota keluarga proaktif memberikan dukungan, termasuk menyediakan informasi yang bermanfaat untuk ibu dalam menangani perubahan fisik dan psikis.

Dengan berbagai tantangan menjadi ibu, terutama saat hamil, melahirkan, menyusui, sudah semestinya perempuan mempersiapkan diri dengan berbagai pengetahuan. Menjadi perempuan cerdas yang mampu membawa, menjaga, memelihara diri adalah langkah awalnya. Untuk kemudian perempuan jadi paham bagaimana seharusnya dia mempersiapkan dirinya fisik mental, demi kebaikan di masa depan.

Fakta perjalanan “Extraordinary” menjadi ibu inilah yang juga ingin disampaikan Anmum Indonesia. Bukan lantas “menakuti” perempuan untuk nantinya mengalami perjalanan penuh tantangan besar. Justru Anmum Indonesia lewat kampanye terbarunya “Celebrate The Extraordinary” menjadi pengingat dan penyemangat, juga memotivasi perempuan, calon ibu dengan semua lingkaran pendukungnya. Perempuan tetap harus merayakan perjalanan luarbiasanya menjadi ibu, takkan bisa tergambarkan bagaimana menakjubkannya menjadi ibu. Kisah perjalanan dua ibu yang diangkat oleh Anmum Indonesia saat peluncuran kampanye “Celebrate The Extraordinary” sudah sangat mewakili.



Pesannya jelas, bahwa menjadi ibu butuh perjuangan dan umumnya ibu akan berjuang maksimal untuk anaknya. Maka rayakanlah perjalanan “extraordinary” dengan mempersiapkan segalanya lebih baik, dengan pengetahuan yang lebih matang.

Dalam temu media dan blogger di Jakarta, sekaligus merayakan Pekan ASI Dunia, Anmum Indonesia, membantu mempersiapkan perempuan menjadi ibu. Banyak kisah dan pengetahuan medis diberikan, membuka wawasan dan memberikan inspirasi.


Bersama ibu "Extraordinary" Cynthia Lamusu dan Febria Silaen dari Mothers On Mission

Hadir Cynthia Lamusu bersama suami Surya Saputra, yang kita tahu perjalanannya luar biasa menjadi orangtua. Program anak dengan bayi tabung, lalu melahirkan anak kembar prematur. Sungguh saya bisa memahami tantangan besar pasangan selebriti ini.

Bagaimana berjuang memberikan ASI, dan pada akhirnya tak bisa Cynthia berikan kepada anak laki-lakinya karena kondisi. Bagaimana harus mencari dan memberikan donor ASI sebagai langkah terbaik untuk anak. Juga bagaimana merawat bayi prematur yang membutuhkan perhatian ekstra dan tak biasa. Saya bisa merasakan tantangannya, karena saya dan suami pun mengalami kondisi hampir sama, melahirkan anak prematur yang akhirnya membutuhkan donor ASI. Bagaimana kami berjuang memastikan bayi minum ASI yang baik, berkualitas baik, dan bagaimana menjaga nutrisi ibu terpenuhi demi anak yang masih sangat bergantung pada nutrisi ibunya yang diberikan dari ASI.Perjuangan yang berat namun membahagiakan, saya sangat bisa merasakan apa yang diceritakan Cynthia dalam sesi bincang-bincang bersama blogger.



Lain lagi kisah Maria Leonnyta Sastra Wijaya, ibu pejuang ASI. ASI perahnya berlimpah dan memenuhi lemari es/freezer di rumahnya. Namun bukan berarti semua didapatkan tanpa perjuangan. Kekuatan pikiran dan kemauan kuat ibu demi memberikan terbaik untuk anaknya, menjadi cerita dari perjalanan Maria.

Cerita mereka makin menguatkan pesan bahwa berjuang memberikan yang terbaik untuk anak, berbekal pengetahuan yang baik, adalah tantangan terbesar ibu. Tanpa support system yang baik, tantangan bisa saja dilampaui namun penuh dengan perjuangan luar biasa. Kalau support system berjalan baik, maka ringanlah langkah ibu, dan hasilnya saya yakin akan lebih optimal. Misal ASI lebih lancar, ibu sehat fisik dan psikis, sehingga menurunkan kebahagian, ketenangan, kebaikan untuk si kecil.

Kehadiran para ibu hebat memang melengkapi kampanye “Celebrate The Extraordinary” dari Anmum Indonesia ini. Namun tak lengkap jika mombloggers berkumpul tanpa mencerna informasi dari pakar. Hadir Dr dr Ali Sungkar SpOG (K) Ketua Perkumpulan Perinatologi Indonesia dan Anggota Dewan Penasehat Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia DKI Jakarta.




Catatan penting dari dr Ali buat saya adalah, 1000 hari pertama anak adalah masa sangat penting, dan kembali kepada ibu yang melahirkannya. Seribu hari pertama bukan hanya dimulai saat hamil apalagi lahir, tapi sudah bisa dipersiapkan sebelum hamil.

Nutrisi yang baik untuk calon ibu, saat menjalankan program hamil, lalu berlanjut jaga nutrisi saat hamil, sampai melahirkan, pun saat menyusui akan berdampak pada masa depan anak. Salah satu kebutuhan nutrisi ibu hamil bisa didapati dari susu. Anmum Materna mengandung nutrisi makro dan mikro dengan Ganglioside (GA) dan DHA. 




Tercukupinya nutrisi ibu sejak menjadi calon ibu, menjadi urusan penting. Anmum Indonesia melihat kebutuhan ini dengan inovasi susu bernutrisi untuk mendukung masa kehamilan dan menyusui, memberi pesan bahwa nutrisi penting jadi perhatian ibu dalam perjalanan “motherhood” nya. Dukungan yang diberikan Anmum dilengkapi dengan hadirnya susu kehamilan (Anmum Materna) dan susu saat menyusui (Anmum Lacta) dengan rasa cokelat yang manisnya pas dilidah.




Semoga dengan berbagai dukungan dari lingkarannya, support system, semakin banyak ibu bahkan calon ibu yang bisa mengoptimalkan kesehatan dirinya. Tentunya ibu sehat dengan nutrisi baik, akan berdampak baik untuk janin dalam kandungan, juga bayi yang mendapatkan ASI untuk tumbuh kembang optimal.

Selamat merayakan perjalanan ibu yang “Extraordinary”!

8 comments: