Tak Sekadar Konflik Cinta Sahabat Sejati di Filosofi Kopi 2

22.37.00 wawaraji 34 Comments


Setuju dong kalau bicara cinta maknanya universal. Cinta bukan hanya urusan kemesraan berpasangan, cinta juga menyentuh hubungan persahabatan, kecintaan akan profesi, kecintaan akan hasil dari profesi seperti barista dengan kopi racikannya.

Cinta dan konfliknya dihadirkan dalam film drama Filosofi Kopi 2, yang menurut saya, disampaikan dengan drama yang tidak berlebihan atau saya menyebutnya no overshared drama. Atau kalau mau dibikin bahasa sederhananya, enggak “sinetron” tanpa bermaksud menyatakan semua sinetron tak bermutu meski kebanyakan begitu.



Film Filosofi Kopi 2, bagi saya, sukses mengadaptasi bahkan jauh mengembangkannya menjadi cerita menarik dan kuat dari karakter novel Filosofi Kopi karya Dee atau Dewi Lestari, berkat arahan sutradara Angga Dwimas Sasongko. Sutradara muda multitalenta yang saya “kepoin” sejak Festival Film Pendek Indonesia Kompas TV, dengan Angga sebagai jurinya. Kata Angga yang ditemui saat Special Screening bersama Plaza Indonesia di Jakarta, 5 Juli 2017, FilKop 2 adalah film ke delapannya.



Film sekuel tentang duo sahabat pemilik kedai kopi Filosofi Kopi, Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto) memiliki cerita yang kuat, dan alur yang matang. Saya, jujur, menikmati salah satu film Indonesia yang turut meramaikan studio bioskop sepanjang Juni – Juli 2017 ini.  Barangkali karena saya memang sudah memiliki novel perdananya sejak 2006, lalu menonton film Filosofi Kopi (pertama), sayangnya di televisi. Lalu berlanjut berkesempatan hadir menjadi bagian dari komunitas BloggerCrony bersama 30 blogger lainnya yang beruntung bisa menyaksikan film sebelum tayang untuk umum, bersama Plaza Indonesia dan Visinema Pictures.




Cerita di novel, sama kuatnya dengan cerita di film pertama, meski ada beberapa modifikasi di versi filmnya. Saya pikir wajar saja, karena film perlu membangun emosi penonton dengan cara film, bukan cara novel. Bagi saya, film drama yang layak rekomendasi adalah film yang bercerita tentang kehidupan yang tak jauh dari realita, dekat dengan kita sebagai penontonnya, logis, dan membawa pesan secukupnya tidak kebanyakan, tapi bermakna.

Saya mendapatkannya dari FilKop 1 terutama dengan latar kopi “Tiwus” dan kuatnya persahabatan Ben dan Jody, yang sewajarnya, terasa nyata.

Lanjut ke Filosofi Kopi 2, layaknya perjalanan hidup, tentunya dinamis. Kalau dulunya hanya tentang persahabatan, kali ini ada perasaan cinta pasangan. Selayaknya kehidupan dua sahabat pria, lalu hadir sosok-sosok perempuan inspiratif yang memang menarik, sah saja percikan cinta muncul. Konflik cinta inilah yang hadir namun tidak dihadirkan membabi buta dalam film Filosofi Kopi 2. Kekuatan hubungan sahabat, kecintaan akan profesi, cinta pada pekerjaan yang dijalani penuh gelora jiwa sebagai barista dan pengusaha kedai kopi, bercampur menjadi konflik cinta di Filosofi Kopi 2.




Kehadiran Brie (Nadine Alexandra – Puteri Indonesia 2010) sebagai barista muda dan Luna Maya (Tarra) yang menjadi investor baru Filosofi Kopi 2, memang membawa konflik tersendiri. Alur cerita dan akting yang natural dari keduanya, bikin saya masih bisa menikmati film penuh “perang rasa” ini. Tenang saja, suasana yang dimunculkan bukan kisah cinta cengeng bikin “mewek”. Bagaimana dua pria bersahabat menyelesaikan konflik rasa cinta ini, apik “dimainkan” Angga D Sasongko dan dituliskan para penulis skenario (termasuk Angga), Jenny Jusuf dan Irfan Ramly.

Ketika bisnis dan persahabatan dihadapkan pada pilihan dan fakta-fakta yang mengguncang jiwa, bagaimana Ben dan Jody menjalaninya, bagi saya bisa dinikmati tanpa berlebihan di film ini. Layaknya drama, tentu ada sisi emosional yang ditonjolkan, dan alur yang berjalan lambat. Namun dengan arahan sutradara, pemilihan karakter dan peran yang tepat dengan sosok tepat, juga soundtrack musik yang harmonis dengan adegan, serta lagi-lagi cerita yang kuat, konflik dan drama dalam Filosofi Kopi 2 buat saya masih disampaikan dengan mulus.

Ciri khas film tentang Ben dan Jody yang saya rasakan masih dipertahankan sejak film pertama 2015 lalu adalah perjalanan dalam arti sebenarnya. Filosofi Kopi mengajak kita menikmati keindahan nusantara dan kebun kopi di berbagai daerah di Indonesia. Kalau sebelumnya Ijen, Lampung, lalu bergeser ke Toraja. Filosofi Kopi punya misi dari filmnya, bukan hanya berkisah tentang konflik bisnis, sahabat, profesi, keluarga, juga pasangan, tapi mengantarkan kita lebih mencintai produk lokal, kopi dari petani, atau kalau saya pernah ngobrol dengan teman pemilik kedai kopi adalah produk kopi berbasis komunitas kopi Indonesia.

Bagaimana biji kopi dari petani lokal diolah, melibatkan anak muda, hingga menghasilkan rasa dan aroma dalam secangkir kopi yang nikmat, ini yang berhasil diangkat dalam sebuah film. Bahkan tak berhenti di film Filosofi Kopi 2, namun berlanjut ke komunitas sesungguhnya. Salah satunya kedai kopi Filosofi Kopi di Melawai yang menang asli ada. Penonton yang membeli tiket pada 13 Juli 2017 nanti pun berhak atas secangkir kopi, gratis, dengan menukarkan tiket ke kedai kopi di selatan Jakarta ini. Dengan membeli tiket menonton di bioskop, penonton Filosofi Kopi 2 juga berarti sudah berkontribusi untuk kebun kopi di Merapi. Satu tiket sama nilainya dengan satu benih biji kopi di Merapi.

Kalau saya ikuti cara reviewer film lain dalam menilai sebuah film, dengan memberi angka, maka saya akan memberi angka 4 dari 5. Namun buat saya, angka itu bisa berubah tergantung selera film kita, bagi yang tak suka drama, mungkin beda lagi angkanya. Latar belakang reviewer juga berdampak atas munculnya angka. Kalau tidak terlalu suka film Indonesia, angka barangkali bisa lebih kecil dari itu. Jadi, silakan datang ke bioskop dan beri penilaian versi Anda sendiri. Lalu tukarkan tiket dengan secangkir kopi di kedai Filosofi Kopi Melawai. Ajak teman karena sepi rasanya kalau sendirian di tengah keramaian. Dan sebaiknya tak usah mencari colokan, dan berlama-lama di meja, karena kasihan pelanggan lain yang juga ingin menikmati kopi di kedai yang berlatar Sahabat Sejati Ben dan Jody ini.





Sutradara : Angga Dwimas Sasongko

Penulis Skenario : Jenny Jusuf, Irfan Ramly, Angga Dwimas Sasongko
Produser : Anggia Kharisma, Chicco Jerikho, Rio Dewanto
Co Produser : Handoko Hendroyono, Ajeng Parameswari, Nurita Anandia, Ridla An-Nuur.
Cast : Chicco Jerikho, Rio Dewanto, Luna Maya, Nadine Alexandra, Ernest Prakasa, Tio Pakusadewo, Joko Anwar, Whani Darmawan, Aufa Dien Assagaf, Muhammad Aga, Westny Dj, Melissa Karim. 

You Might Also Like

34 comments:

farida mengatakan...

jadi penasaran juga pingin nonton film ini :)

Putu Sukartini mengatakan...

Aku penasaran banget sama film ini
Sejak baca bukunya lalu nonton filkop 1 sudah jatuh cinta
Wajib nonton nih

D. Pusupa mengatakan...

Si Angga itu orangnya low profile banget, tapi hasil filmnya rata-rata jempolan.

unggulcenter mengatakan...

Lunmay kayaknya lagi laris ya sekarang. Barusan doi katanya meranin di the Doll 2 . Eniwei nonton filosofi kopi 1 sepotong aja di tipi itupun. Ini juga nunggu masuk tipi aja ah daripada beli bajakan saya ga pernah (hampir) beli bajakan untuk film indonesia kecuali dah tayang lama

Marga Apsari mengatakan...

Wah, yang pertamanya aja seru sih Filosofi Kopi ini. Jadi penasaran sama sekuelnya :D

Desy Yusnita mengatakan...

Aku belum pernah nonton yg pertama. Baca ulasan ini jd kepengen nonton pertama lanjut kedua ini.

Uli Hape mengatakan...

ah, jadi pengen nonton deh, kadang memang sudah malasduluan nih aku kalo film indonesia, tp review mbak wa buat penasaran, smg minggu ini msh tayang deh

Andiyani Achmad mengatakan...

setuju mba.. konflik percintaannya pas Dan bikini greget

Oline mengatakan...

Aku belum nonton Filkop 1 malahan nih..

Intan Rosmadewi mengatakan...

Tulisan apik. Pengen coba segelss saja kopi panasnya

Dini mengatakan...

Udah baca novelnya beberapa tahun lalu, tapi belum nonton filkop 1 maupun 2. Bakal nonton.

Ibrahim Fawwaz mengatakan...

Sambil ngopi di filosofi kopi kayak e asyik mbak e, hehehe

Idfi pancani mengatakan...

sequel pertamanya sukses bikin akooh icip2 single origin kopi aseki indonesia. Sejak itu lah mulai dikit2 belajar ttg kopi indonesia. Film yang bagus. Mau nonton yg keduanya ah. Thanks buat review-nya.

Atisatya Arifin mengatakan...

Tya juga sudah baca novelnya dulu banget dan emang bagus alur ceritanya. Duh sedih nggak bisa ikutan screening film ini karena banyak yang bilang bagus.

Hebat ya tidak hanya sekadar menonton film tetapi juga ikut berkontribusi melestarikan kopi Indonesia. Salut untuk FilKop2. Kopi Indonesia emang the best deh!

Kapan kita ngopi bareng mbak Wawa?

Siti mudrikah mengatakan...

Aku blm ngikutin ceritanya baik novel ataupun film, jari penasaran mba. Mungkin mulai dlu dr baca filosofi kopi 1 biar berasa penjiwaany.

Timo mengatakan...

Duh blm sempet nonton filkop 2 nih, mungkin nti beli dvd nya aja huehe.
Btw, kayaknya kl diliat trailernya seru bgt ya, mobil keliling gitu ya jualannya.

Ngomong2 aku blm pernah ke filkop Melawai, malah yg di bintaro udah pernah hehe.

zata mengatakan...

cukup puas nonton filkop 2 kemarin, kurang lebih sesuai harapan lah..

wawaraji mengatakan...

Nonton dong msh tayang di bioskop tuh per 23 Juli kulihat di bintaro

wawaraji mengatakan...

Hayuk ke bioskop masih tayang tuh

wawaraji mengatakan...

Iyaah asik diajak ngobrol

wawaraji mengatakan...

Ke bioskop dongs..hehe #dukungfilmindonesia

wawaraji mengatakan...

Bioskop Bintaro msh tayang kak..buruaan

wawaraji mengatakan...

Hayuk ke bioskop per 23 Juli msh nangkring kok

wawaraji mengatakan...

Per hari ini msh tayang 23/7

wawaraji mengatakan...

Gak over drama yaaah

wawaraji mengatakan...

Gak nonton pun tak.apa sih tp akan lbh lengkap krn ada bagian yg berkesinambungan

wawaraji mengatakan...

Cari Tiwus.ke Ijen yuk Bunda

wawaraji mengatakan...

Buruaan ke Bintaro deket kan

wawaraji mengatakan...

Belum berhasil taklukkan kedainya nih.kita

wawaraji mengatakan...

Iya kaan jd cinta kopi Indonesia

wawaraji mengatakan...

Yuk ah ke melawai

wawaraji mengatakan...

Bisaaa.aku baca ulang novelnya emang jd makin greget sihh

wawaraji mengatakan...

Aku pernah ke Bintaro tp dah tutup.kan yaaa..yuk ke melawai

wawaraji mengatakan...

Tinggal datengin kedainya yaah..yg.Jogja apa ya? #nantangin