Anak Cerdas,Mandiri, Gembira di Sekolah dengan Filosofi Montessori

10.37.00 wawaraji 18 Comments


Bisa kah sekolah membangun pribadi anak menjadi bukan hanya cerdas, tapi mandiri dan selalu riang gembira termasuk ketika datang dan belajar di sekolah? Bisa.

Bisa kah anak belajar life skill, kemampuan dasar, dari batita hingga usia prasekolah, secara mandiri dengan pengawasan orang dewasa, tanpa dikte dari guru atau orangtunya? Bisa.

Bisa kah anak memiliki kemampuan berbahasa, terlatih motorik kasar dan halusnya, sejak dini, tanpa “dipaksa” dengan kewajiban harus mampu membaca, menghitung, menulis dengan pensil yang diajarkan gurunya? Bisa.

Bagaimana saya bisa menjawab bisa untuk semua pertanyaan itu? Bisa, karena saya semakin meyakini dampak dari sistem pendidikan Montessori.

Kurikulum dan filosofi Montessori tak asing bagi saya, karena sudah mengenalnya sejak teman baik di Bali, Win Wan Nur namanya, pernah panjang lebar bercerita tentang pengalaman menyekolahkan anak pertamanya, Qien Mattane Lao, di sekolah Montessori.
Saya terkesima dengan penjelasannya, selain memang metode belajar Montessori ini menurut saya “canggih”, cara mas Win bercerita memang membuat saya terbawa dengan alurnya.

Sudah sangat lama cerita tentang Montessori yang saya dapati dan membekas di pikiran. Hingga kemudian, undangan datang dari teman baik yang mengajak menghadiri Open House Ceria Montessori di Jl Sinabung 2 No. 1 Jakarta Selatan.



Saya datang dan berbincang langsung dengan salah satu guru, bernama Berlian Agustina, menyaksikan sendiri wujud dan fasilitas sekolah berkurikulum Montessori, dan saya jadi tambah yakin untuk menjawab “Bisa” untuk semua pertanyaan di awal tulisan ini.
Mengapa Montessori?

Sekilas, istilah Montessori terkesan terkait dengan kepercayaan tertentu, padahal tidak demikian. Montessori merupakan metode pendidikan anak yang dikembangkan oleh Maria Montessori, tokoh pendidik asal Italia. Menurut Maria Montessori, semua anak dilahirkan dengan potensi luar biasa. Potensi anak akan berkembang jika ada orang dewasa yang mengasuhnya, memberikan stimulasi tepat di tahun-tahun pertama kehidupan anak.

Montessori sebagai sistem pendidikan, kemudian diaplikasikan oleh banyak pendidik yang meyakini sistem ini. Untuk bisa mengaplikasikan sistem Montessori, pendidik harus belajar khusus. Banyak lembaga pendidikan Montessori, di Jakarta maupun di negara tetangga. Butuh ekstra dana untuk bisa mempelajari dan menguasai sistem pendidikan ini, untuk kemudian dipraktikkan di sekolah yang menerapkan sistem pendidikan Montessori. 

Pendidik yang sudah mengeyam pendidikan Montessori, memiliki sertifikat.  Siapa saja yang berminat dan bertekad ingin mempelajari metode pendidikan ini, bisa memilih dan mencari lembaga pendidikan untuk guru Montessori.

Artinya, sistem pendidikan Montessori bisa dipelajari oleh pendidik, untuk kemudian berpraktek di sekolah Montessori.Nah, rupanya sekolah Montessori pun sudah banyak pilihannya. Ada yang menerapkan penuh atau tradisional Montessori, ada juga sekolah yang mengadopsi sistem Montessori pada kurikulumnya.



Saya berkesempatan berkunjung ke sekolah Cerita Montessori untuk usia prasekolah. Umur sekolah Ceria Montessori sudah 21 tahun. Kehadirannya sejak 1996 menjadikan sekolah Ceria Montessori ini tercatat sebagai sekolah Montessori tertua di Jakarta.

Ceria merupakan kepanjangan Cerdas, Mandiri & Gembira. Tiga kata yang memang mewakili sistem pendidikan Montessori. Kurikulum Ceria Montessori School atau CMS fokus pada pengembangan motivasi mandiri anak melalui peningkatan konsentrasi, pengembangan kontrol diri, menghargai sesama teman, alam sekitar dan menumbuhkan rasa cinta pada proses belajar.

Belum terbayang seperti apa ya? Baiklah, saya coba gambarkan apa yang saya dapati dari perbincangan bersama ibu guru Berliana, dan pengamatan saya terhadap siswa CMS.

Di CMS, siswa dibagi kelas sesuai usia. Mulai kelas usia 2-3 tahun, lalu 3-4 tahun, dan 4-6 tahun. Penyatuan usia anak dengan rentang 1-2 tahun dalam satu  kelas tentu ada tujuannya. 

Dari sini lah sistem Montessori berjalan. Bahwa, anak dengan perbedaan usia 1-2 tahun, belajar dalam satu kelas yang sama, bertujuan untuk memberikan pengalaman kepada siswa bagaimana rasanya menjadi yang paling muda, usia tengah, dan paling tua. Sistem Montessori mulai berjalan di sini. Siswa yang lebih tua menjadi terlatih untuk belajar bertanggungjawab, membimbing anak-anak yang lebih muda. Begitu pun yang muda, belajar dan mencontoh dari siswa yang lebih tua. Pada akhirnya, semua siswa punya pengalaman langsung, dengan proses belajar, tanpa arahan guru hanya sebatas pengawasan ala Montessori, untuk menjadi sosok yang memimpin dan dipimpin.

Sampai di sini, semoga sudah tergambar seperti apa sistem pendidikan pembangunan karakter anak di sekolah Montessori tradisional. Jika belum, baiklah, berlanjut kepada kegiatan sekolah.

Di setiap kelas Montessori, 80 persen kegiatan adalah belajar mandiri. Meski CMS mengklaim sebagai sekolah Montessori tradisional, yang seratus persen menerapkan sistem pendidikan Montessori, proses belajarnya berbeda dengan sekolah konvensional, di mana guru mengajar di depan kelas sementara siswa mendengar dan mengikuti arahan. Ini tidak akan terjadi di sekolah Montessori tradisional.

Berliana, guru di CMS yang berpengalaman satu tahun mengajar, bercerita bahwa begitu masuk kelas masing-masing (sesuai usia), siswa CMS duduk di kursi dengan meja belajar yang memiliki beragam kegiatan berbeda. Tidak ada keharusan, siswa mengikuti pelajaran yang terjadwal. 

Siswa diberikan fasilitas untuk pengembangan karakter dan kemampuan, sesuai usianya, dengan pengawasan guru, bukan arahan guru. Tidak ada guru yang mengarahkan siswa untuk belajar apa dan bagaimana caranya. Siswa dibiarkan memilih sendiri apa yang ingin dipelajarinya. Pada akhirnya siswa bereksplorasi dengan berbagai alat belajar yang sudah dipersiapkan dan dirancang kegunaannya untuk melatih keterampilan anak.

Lalu apa fungsi guru? Hanya mengawasi tanpa mengarahkan? Bisa dibilang benar begitu. Namun jangan dikira guru sekolah Montessori tradisional memiliki tugas ringan. Justru guru CMS misalnya, harus mengamati perilaku anak di kelas. Guru melakukan observasi kegiatan anak, menyesuaikan dengan milestone tumbuh kembang anak, membantu anak berproses tapi tidak dengan mengarahkan apalagi menyampaikan benar salah kepada anak.

“Anak-anak dilibatkan dalam konflik, dan memecahkan konflik atau masalah yang dialaminya,” kata Berliana.

Konflik atau masalah apa? Apa pun. 

Misal anak batita, masih belajar sambil bermain, dengan alat bermain belajar memasang kancing seperti sedang berproses mengancingkan baju. Anak dibiarkan bermain dan belajar sendiri, anak menemukan masalah, kesulitan, guru akan membiarkan sambil mengamati. Guru akan membantu, tapi bukan dengan memberi tahu, tapi dengan bertanya, menajak anak mencari tahu letak masalahnya, dan pilihan solusinya, untuk kemudian anak menemukan jawabnya. 

Ketika anak didampingi dalam prosesnya menemukan jawaban dari kesulitannya, di sinilah anak belajar dan menyerap pengetahuan baru. Anak akan merasa senang dan bangga berhasil memecahkan masalah, dan guru berhasil mendampingi mengawasi tapi bukan mengajari atau memberi tahu tanpa melibatkan anak dalam menemukan jawaban atas masalahnya.

Berliana mengatakan, untuk bisa efektif mengawasi siswa, maka satu kelas CMS berisi 16 murid dengan 3 guru. Di CMS ada total 20 guru dengan total 106 siswa. Guru melakukan evaluasi setiap hari atas anak didiknya. Guru pun harus membuat laporan observasi yang akan menjadi “rapot” untuk orangtua. Jangan berpikir rapot ini berisi angka, bukan. Laporan ini lebih kepada hasil observasi guru dan analisis atas kemampuan anak sesuai tumbuh kembangnya.

Kalau saya bilang, laporan itu bisa menjadi rujukan orangtua saat membawa anaknya konsultasi ke dokter anak, untuk sekadar memantau apakah tumbuh kembang anak sudah sesuai milestone atau tidak. Dengan begitu, orangtua bisa mengetahui apakah anaknya sudah memiliki keterampilan sesuai usianya. Jika ada keterlambatan akan sangat mudah diketahui dan dicari solusinya.

Yang menarik dari CMS adalah anak-anak merasa bahagia ke sekolah, justru menanti-nanti kapan waktunya sekolah. Bagaimana anak-anak berproses menggali keterampilan dirinya, di sekolah, dengan sistem Montessori menjadikan sekolah seperti ruang bermain, surganya anak-anak.



Di CMS pun “surga” ini diciptakan, dengan adanya fasilitas permainan anak. Sebut saja, segala bentuk permainan anak di wahana bermain di mal misalnya, tersedia di CMS, bahkan kolam renang pun. Kasur pun tersedia untuk batita, karena jika anak merasa mengantuk, anak akan dibiarkan saja tidur, tidak dipaksakan belajar. Apa pun aktivitas anak akan masuk dalam pengamatan dan laporan guru kepada orangtua.



Dengan masa belajar 4-5 jam per hari, anak-anak di sekolah Montessori berproses menemukan keterampilan dasar dirinya, yang perlahan berdampak pada peningkatan berbagai kemampuan diri.

Pertanyaan saya adalah, apakah dengan sistem belajar seperti ini, anak-anak kemudian bisa menulis, membaca, berhitung? Ternyata, bisa!

Usia empat tahun, kata Berliana, anak bisa membaca. Life skills yang dilatih dengan proses per harinya dengan sistem Montessori ini, perlahan melatih berbagai keterampilan anak, termasuk membaca, menulis, berhitung, semuanya melalui alat ajar sistem Montessori.

Ada lima area belajar di CMS yang berhasil membuktikan bahwa anak pada akhirnya bisa memiliki berbagai keterampilan yang umumnya diharapkan orangtua. Area EPL atau Exercise Practical Life, Language, Sensorial, Culture, Math.

Alat belajar ini bisa membantu anak berproses belajar tentang berbagai hal terutama kemampuan pasang baju sendiri dan lainnya (life skills) 

EPL misalnya, ketika anak menumpahkan air dalam gelas, lalu lantai menjadi basah, anak akan dihadapkan pada masalah. Air tumpah lalu dia berbuat apa? Siswa Montessori sudah terlatih untuk melihat masalah dan menemukan solusinya dengan berproses bukan diajarkan apalagi didikte. Anak akan berproses belajar mengeringkan lantai yang basah dengan lap pel, belajar dengan sendirinya, dengan bantuan teman sekelasnya, diskusi dengan guru, tapi bukan diperintah apalagi memerintah.

Semoga tergambarkan seperti apa sistem Montessori ini. Jika masih penasaran, baiknya konseling saja langsung ke sekolah yang menerapkan Montessori, terutama yang menerapkan sistem utuh atau tradisional.

Oya, fakta lainnya adalah, sekolah Montessori umumnya menerapkan bahasa Inggris sebagai bahasa harian. Seperti di CMS yang sebagian siswanya memang dari keluarga ekspatriat. Bukan negara barat, tapi Jepang, yang juga mau tak mau harus belajar bahasa Inggris. Faktanya lagi, anak yang awalnya sama sekali tidak bicara bahasa Inggris, perlahan akan paham dan bisa berbahasa asing, karena lingkungan membentuknya.

Jika sudah mulai tergambar seperti apa sistem pendidikannya, barangkali mulai bertanya, berapa biayanya? Di CMS, biaya pendidikan untuk mencetak anak cerdas, mandiri, gembira dengan kemampuan berbahasa juga bahasa asing, biaya paling minimalnya adalah Rp 8 juta per tiga bulan masa sekolah, untuk kelas paling dasar usia 2-3 tahun.

Hasil didikan sekolah Montessori, umumnya mencetak anak yang memiliki kemandirian tinggi dan logika berpikir dengan problem solving yang juga berkembang baik. Satu hal lagi, “respect” adalah hasil positif lain yang terbentuk dalam diri anak-anak Montessori. 

Saya menyaksikan sendiri, saat open house, anak balita yang begitu suportif kepada temannya yang sedang tampil di depan panggung. Mendengarkan, menyaksikan, memberi tepuk tangan, bahkan pelukan tanda dukungan kepada temannya yang sedang tampil. Anak yang memeluk orangtuanya atas inisiatif sendiri, bukan diminta, juga saya lihat sendiri. “Respect” bagi saya adalah nilai tertinggi dari akhlak seseorang, yang rasanya makin hilang. Ketika anak sudah belajar menghargai sejak dini, rasanya bekal dia sudah cukup baik, meski pada akhirnya dunia setelahnya begitu menantang pribadi untuk tetap memelihara “respect” atau menghancurkannya.

Apakah sekolah tipe ini yang Anda cari untuk buah hati? Kalau pun ternyata masih sebatas impian, semoga Anda menjadi orangtua yang dimampukan untuk memberikan pendidikan terbaik untuk anak, demi menyiapkannya menjadi generasi bisa diandalkan bertahun-tahun ke depan, dengan persaingan sumber daya manusia yang semakin kompetitif. Semoga.










You Might Also Like

18 comments:

Faisol Abrori mengatakan...

Baru tau sih mbak, ada sekolah CMS itu. Hehehehe, semoga lancar jaya

wardah fajri mengatakan...

Iyah memang belum banyak yang ngeh sih dengan sistem pendidikan asal Italia ini. thanks dah mampir

Intan Rosmadewi mengatakan...

Di Fakultas Keguruan ada di sentuh tentang teori penddkn M ini . . . memang aspek pendukung jadi prioritas

Helena mengatakan...

aku tertarik dengan sistem Montessori yang ajarkan practical life skill ke anak. Jadi ingin ikut open house supaya bisa mengenal dekat sistem pembelajaran di sana. Thanks infonya Mbak Wawa

Syarifani mengatakan...

Sekolah Montessori ini sekarang lagi ngetren cuma beda sekolah penerapannya juga beda ternyata (hasil curhat temen). Di CMS masuk tiap hari mba?

Ika Maya Susanti mengatakan...

Pas di bagian yang anak punya aktivitas sendiri-sendiri di mejanya, saya kok jadi ingat buku Totto Chan ya Mbak.
Wah beneran baru tahu ada sekolah ini. Apalagi usianya ternyata sudah 21 tahun. Hihihi, telat banget tahunya!
Makasih banyak Mbak. Jadi ada gambaran. Selama ini saya masih suka bingung sebetulnya Montessori itu yang seperti apa.

Ima mengatakan...

Metode montessori kayanya bisa di terapkan di rumah, ya? Kadang saya sebagai ibu suka cepat pingin bantu yang sedang dikerjakan anak dan masih belajar cara "mengajak" biar anak mandiri.

Wardah Fajri mengatakan...

Iya ada juga sekolah Islam yg mempraktikkan montessori bunda

Wardah Fajri mengatakan...

Coba nanti aku ajukan yaa ke sekolahnya... Siapa tau bs ajak School Tour

Wardah Fajri mengatakan...

Senin sd Jumat pagi sd siang.. Ada yg lanjut sd sore daycare krn ortu kerja

Wardah Fajri mengatakan...

Iyaaa Toto Chan... Alhamdulillah jk bermanfaat

Wardah Fajri mengatakan...

Bisa aja sih.. Tp kalau mau tau lbh detil kt bisa kursus dulu.. Sekolah utk tenaga pendidiknya jg ada di Jakarta dan Singapura. Jd bs tau detil Ilmuny.

Evi Fadliah mengatakan...

Sekolah montessori, baru tau juga saya Mbak. Metodenya bisa diterapkan dirumah juga ini.

Thanks for share Mbak Wawa

Yilan G mengatakan...

sekolahnya sesuai dengan pemahaman saya tentang arti pendidikan mbak😊

wardah fajri mengatakan...

mbak Evi iyaaa padahal dah 21 th yaaa CMS hehe

Iyah Yilan, pendidikan yg holistik yah, salam kenal thanks dah mampir ya

Lia Lathifa mengatakan...

dari dulu sering denger istilah pendidikan Montessori, pengeen bgt masukin anak2 sekolah spt ini, pengen juga andaikan sekolah2 di Indonesia punya konsep belajar spt ini, jadinya anak gak bakal stress ya

Ya Yat mengatakan...

fasilitas sekolahnya enak.. feel like home

wardah fajri mengatakan...

hai mbak Lia, iyaaah aku pun penasaran, dan ada kok sekolah Islam yg juga mengadopsi sistem pendidikan Montessori. Kita pun bs kalau mau praktekkan.

Mbak Yat, hooh, berasa main di rumah sama temen2 gitu yaaa, gak kayak sekolah. anak2 seneng banget pasti