Ayah, Ibu Bahagia Menulis Jadi "Wife/Mom" Blogger, Ridha Yah?

18.40.00 wawaraji 9 Comments


Menikah dan berkeluarga adalah perjalanan belajar tiada akhir.  Tidak ada sekolahnya tapi ada banyak pengalaman yang bisa jadi pemandunya.  Pengalaman yang tertuang di buku.  Pengalaman yang kemudian ditelaah secara keilmuan oleh para pakar psikologi dan kemudian jadi modul jadi buku jadi referensi.  Selain tentunya, kalau umat beragama punya pedoman utama, kitab suci yang sudah pasti mengatur hubungan pernikahan dan keluarga. 

Sebelum dan sesudah menikah kehidupan tak selalu sama.  Bisa berubah bisa juga tidak tergantung bagaimana pasangan menikah berkomunikasi.  Termasuk urusan kesenangan pribadi seperti menulis misalnya. 

Bagi perempuan yang sebelum menikah punya hobi menulis misalnya dan begitu produktif dengan tulisannya entah di buku diary, di blog pribadi, sebagai kontributor media atau bahkan menulis buku, perjalanannya akan berbeda atau bisa jadi sama saja setelah menikah. 

Bagaimana perjalanan hidup bisa berubah atau tidak bergantung kondisi keluarga takkan ada yang sama persis satu dengan lainnya.  Karena perjalanan manusia kompleks takkan ada yang sama barangkali hanya serupa. 

Saya punya beberapa teman perempuan, penulis atau setidaknya hobi menulis,  yang hidupnya berubah dan tidak berubah (menyesuaikan)  setelah menikah. 

Kenapa tiba-tiba saya membahas ini?  Sebenarnya bukan tiba-tiba juga sih.  Ini adalah bagian dari tantangan yang saya ciptakan untuk diri sendiri sambil coba coba ajak blogger lain yang mau ikutan.  Saya sebut Most Wanted Blog Post Challenge alias #mwbpc yaaaa mirip cmiiw atau imho atau ntms yang entah dari mana munculnya singkatan itu.  Kalau orang lain bisa bikin singkatan kenapa saya enggak haha. 

Jadi,  dari obrolan di pesan singkat dengan beberapa blogger dari bahas papsmear, reproduksi,  saham,  investasi,  reksadana, sampai blogging dan perempuan akhirnya melahirkan ide.  Ide menantang blogger untuk menulis pengalaman pribadinya,  dari topik tadi,menjadi satu blog post dengan waktu menulis tiga hari dalam bentuk draft. posting kapan saja sesuka hati yang penting draft. 

Tujuannya,  merangsang menulis pengalaman atau pemikiran yang niatannya berbagi manfaat karena siapa tahu orang lain bisa belajar dari pengalaman kita atau setidaknya menambah wawasan atau sekadar untuk sharing.  saya sih percaya membaca pengalaman orang lain setidaknya akan membantu proses berpikir saya tentang suatu hal bahkan bisa membantu mengambil keputusan apa pun itu. Itulah dahsyatnya kekuatan tulisan. Syukur kalau bisa mencerahkan orang dengan tulisan kita. 

Tujuan lain #mwbpc ini adalah untuk membuktikan bahwa ide menulis blog sangat luas.  Sangat dekat dengan keseharian kita. Kalau mau lebih valid dan memperkaya tulisan perbanyak saja membaca supaya banyak referensi dan enggak malas cari rujukan bisa dari buku,  media online terpercaya. Nah,  saya menemukan banyak ide tulisan dari obrolan singkat itu.  Tapi saya memilih menulis soal blogging dan perempuan. 

Saya pernah menulis soal topik ini sebenarnya. Seingat saya pernah menulis tentang beruntungnya perempuan yang punya waktu atau bisa membagi waktu menulis.  Nah ini tulisan saya sebelumnya Beruntung dan Bersyukurlah Perempuan yang Leluasa Menulis Apalagi Ngeblog.

Sudah semestinya dia (perempuan penulis)  bersyukur karena tak sedikit di luar sana perempuan yang sangat ingin menulis tapi tak bisa.  

Banyak faktornya dan salah satunya adalah dukungan pasangan/suami. Ya, ada perempuan yang senang menulis tapi tak bisa menulis karena sibuk dengan pekerjaannya dan kalaupun ada waktu harus membagi perhatian dengan pasangannya sampai tak bisa duduk tenang,  fokus di depan komputer.  Tapi ada juga perempuan penulis yang sudah menjadi penulis sebelum menikah dan ketika menikah sudah bersepakat dengan pasangannya bahwa menulis adalah bagian hidupnya yang tidak akan berubah setelah menikah dan berkeluarga,  maka jadi lah ia momblogger yang eksis dengan dukungan suami dan mampu menjalankan multiperannya.  Ada juga pasangan yang sebelum dan sesudah menikah punya hobi menulis dan akhirnya eksis dengan kesibukan yang sama.  Bahkan bermunculan juga pasangan menikah yang memilih jalan serupa setelah,menulis, setelah menikah dengan beragam latar dan tujuannya. 

Banyak latar belakang dari setiap perjalanan menulis seseorang. Nah bagi perempuan penulis dengan keleluasaan gerak maka manfaatkanlah kesempatan yang belum tentu semua perempuan bisa.  Karena perempuan punya banyak cerita yang akan bermanfaat jika diceritakan kembali lewat tulisan dengan niatan berbagi pengalaman. 

Nah untuk para pria para suami dari perempuan penulis, bicaralah.  Apa yang membuat kalian tak mau si perempuan menulis atau apa yang membuat kalian tak nyaman?  Bicaralah karena kita ada untuk saling dukung satu sama lainnya bukan?  

Bukankah istri sudah menjalankan atau setidaknya berupaya keras menyeimbangkan semua peran yang melekat padanya?  Menjadi pasangan yang berusaha memenuhi kebutuhan, menjadi Nyonya Rumah yang selalu memastikan tempat tinggal selalu nyaman bebas lantai kotor bebas cucian pakaian kotor bebas piring kotor, menjadi ibu yang sigap dengan tugasnya memasak untuk anak mengantar ke sekolah memastikan anak anak belajar. 

Saya membayangkan indahnya kalau para ibu ini yang memang senang menulis punya waktu untuk dirinya.  Punya waktu untuk kesenangan dirinya,  menulis misalnya menjadi penghiburan dirinya.  Faktanya,  ya mereka punya waktu, tapi tidak selalu ada atau tidak selalu bisa memikirkan dirinya sendiri.  

Faktanya juga adalah mereka berjuang untuk punya waktu itu.  Menuntaskan masakan sebelum akhirnya kembali fokus dengan dunianya di depan layar monitor.  Menuntaskan urusan rumah tangga sebelum akhirnya asik dengan media sosial menambah pergaulan dan wawasan (semoga begitu ya) .

Akhirnya saya pun berandai-andai. Kalau saja semakin banyak pria mau berbagi peran domestik tidak lantas memberikan 100 persen pekerjaan rumahan kepada perempuan,  barangkali semakin banyak perempuan bisa terbuka wawasannya luas pergaulannya semata untuk menjadikannya lebih cerdas bukan untuk mengungguli satu dan lainnya.  

Saya sih percaya dari suatu proses menulis dari mengumpulkan bahan sampai menyebarkan tulisan blog misalnya penulisnya akan tercerdaskan belajar dari pengalamannya pergaulannya.  Bukankah senang seharusnya kalau pasangan kita makin cerdas apalagi menjadi ayah atau ibu yang cerdas untuk mengimbangi kecerdasan anak masa kini yang makin canggih. 

Wah saya jadi melantur ke mana-mana. Padahal sih saya menulis ini karena terinspirasi saja oleh para momblogger yang tetap sibuk masak,  bebenah rumah,  urus keluarga dan tetap menulis sebanyak-banyaknya yang dia suka, sesempatnya ia bisa bahkan kalau perlu memangkas waktu istirahatnya, untuk menulis. 

Momblogger yang saya kenal dan ketahui ceritanya langsung darinya berusaha seimbangkan pekerjaan rumah dan hobi menulisnya. Kalau memang itu membahagiakannya, sah saja bukan?

Akhirnya saya mau bertanya lagi saja ke para ayah.  Ayah,  ridha yah ibu jadi blogger? Ibu jadi penulis keluar rumah cari bahan tulisan dan pakai waktu beberapa jam di rumah untuk fokus menatap layar monitor dan menghasilkan karya,  tulisan.  

Kalau ayah ridha jalan ibu akan lebih ringan dan semoga membawa manfaat untuk keluarga apa pun itu bentuknya.  Setidaknya kalau ibu merasa senang bukankah ibu akan tambah bahagia.  Katanya sih orang bahagia jadi lebih produktif.  Ayah senang kan kalau ibu bahagia dan produktif?  Kalau memang kebahagiaan itu sederhana, datangnya dari menulis, apakah bisa kebahagiaan itu berwujud dengan memberi waktu kepada ibu untuk dirinya sendiri, untuk berkarya, menulis. Ayah, ridha yah....


#catatanjelanghariibu 

You Might Also Like

9 comments:

Intan Rosmadewi mengatakan...

Beruntungnya perempuan yang bisa dan pandai membagi waktu untuk menulis #mwbpc most wanted blog post challenge yuhuuu . . . .

wawaraji mengatakan...

kita dong beruntung bunda, alhamdulillah yah

Aida mengatakan...

Saya kenal banyak ibu rumah tangga yang aktif menulis di blog dan atau menerbitkan buku di komunitas blogger, berhenti dari pekerjaan tetap, lalu menjadi fulltime mommy dan pekerja paruh waktu sebagai penulis. Keren.

kornelius ginting mengatakan...

Ketika menulis masih dijadikan ajang perdebatan dirumah tangga, harusnya tulisan ini bisa mendinginkan dan mencairkan perdebatan yang ada.

wawaraji mengatakan...

hai Aida, iyaa keren ya mereka, bisa jadi seperti itu pastinya dia berjuang keras dan ridha suami menyertai yaaa

mas Kornelius, amiiiiin, iyaah semoga yaaaa amin.

April Hamsa mengatakan...

Alhamdulillah suamiku mendukung dan insyaAllah ridha :D

wawaraji mengatakan...

Alhamdulillah mbak April....sampaikan salam hormat utk suaminya....

Risalah Husna mengatakan...

Aku termasuk yang beruntung didukung sama suami. Dia tau kalau istrinya ini hobi nulis. Walau sempat ada beda pendapat, tapi aku tetap bahagai karena jalanku jadi blogger dimudahkan. And you too kan mba, si ayah selalu dukung kamu untuk tetap nulis kan :)

Wawaraji mengatakan...

Kami sih memang sama-sama penulis, jadi saling dukung dah pasti, tapi di situ tantangan barunya, jadi berdua sama-sama mau nulis gmn dong? hahaha akhirnya memang harus atur waktu, tekan ego, saling dukung meski sebenarnya kami sama-sama butuh waktu menulis. tricky tp ya itu tantangannya kalau jadi pasangan penulis. kalau soal dukung menulis sih udah pasti, tapi rebutan waktu menulis jadi tantangan berikutnya hehehe....menariknya lagi, kalau liputan yang sama dan sangat terinspirasi kami jadi kayak lomba cepet2an posting gitu, jadi kayak kompetisi aja berdua...kalau salah satu udah nulis jadi terpancing utk nulis juga, ini terjadi kalau liputan itu beda unik dan bener2 menginspirasi kayak merasa sayang banget kalau gak ditulis