Koleksi 1 Mainan Stimulasi 3 Keterampilan Anak, Caranya?

11.00.00 wawaraji 4 Comments


Mainan anak bukan sekadar hiburan atau “senjata” orangtua untuk bikin anteng anaknya. Mainan anak, semestinya sih punya fungsi yang dapat membantu merangsang keterampilan anak, baik motorik halus, motorik kasar, koordinasi, bahkan kemampuan sosialisasi. Kok bisa? Ya bisa, kalau orangtua mau aktif kreatif  bersama anak, dan berkenan“berinvestasi” dengan mainan anak untuk dukung tumbuh kembang buah hati.

Investasi mainan? Ya, mainan sebagai investasi. Layaknya investasi, memang butuh modal lebih banyak untuk mendapatkan hasil maksimal di kemudian hari. Artinya, membeli koleksi mainan anak yang harganya lebih tinggi, tapi lebih tahan lama, bernilai lebih, dan yang paling penting bisa mendukung tumbuh kembang si kecil lebih maksimal.

Saya cukup bawel soal mainan anak. Dulu, saya kadang suka beda pendapat dengan suami yang lebih ingin berhemat. Kalau sudah begitu, ya akhirnya saya mencari cara supaya bisa mengoleksi mainan sebagai “investasi” tadi. Sisihkan rejeki tak terduga atau cari momen diskon. 

Bisa membeli koleksi mainan yang membantu stimulasi tumbuh kembang anak bagi saya adalah hadiah istimewa. Karena saya merasa memberikan maksimal untuk si kecil, kala itu. Ya kala itu, di tiga tahun pertama anak saya, yang kini sudah bahagia di surga (amin).

Nah kalau soal berkreasi, mainan yang makin banyak pilihannya akhirnya pun menuntut orangtua untuk aktif berkreasi bahkan bergairah supaya anak-anak pun bisa mendapatkan manfaat lebih dari mainannya. Sebenarnya mainan dengan harga murah sampai tertinggi sekali pun, pada akhirnya kembali ke orangtua yang memaksimalkan fungsinya. Bagaimana orangtua berkreasi dengan mainan itu supaya anak bisa terbantu proses stimulasi tumbuh kembang. Akhirnya, persoalan mainan dan stimulasi tumbuh kembang ini kembali ke peran orangtua yang mau tak mau ikut aktif memikirkan caranya.

Bagaimana caranya?
Ketika sudah menjadi orangtua, pastinya banyak perubahan kebiasaan karena ada peran baru mengasuh anak agak pertumbuhan dan perkembangannya maksimal. Setidaknya kita jadi sibuk memastikan tumbuh kembang anak sesuai dengan usianya. Kalau dalam kursus parenting, biasanya sering disebut-sebut Milestones Tumbuh Kembang Anak.

Seperti saya bilang sebelumnya, saya cukup cerewet  soal mainan anak, karena memang saya juga bawel urusan tumbuh kembang. Bisa dibilang saya mungkin kebanjiran informasi mengenai pengasuhan anak dan tumbuh kembang. 

Dengan terbukanya wawasan dari berbagai workshop parenting, saya jadi semakin jeli memperhatikan persoalan tumbuh kembang. Saya memang sangat memperhatikan perkembangan kemampuan anak saya kala itu. Usia berapa harusnya anak bisa apa. Barangkali terkesan ribet  atau terlalu serius memikirkan segalanya. Tapi justru dari kebiasaan baru saya sebagai orangtua, saya bisa mengetahui ada keterlambatan tumbuh kembang pada Dahayu (almarhum) sejak usianya enam bulan kala itu.

Soal keterlambatan saya sudah pernah menyinggungnya di tulisan saya sebelumnya. Di sini saya mau cerita soal bagaimana caranya orangtua bisa memaksimalkan tumbuh kembang lewat mainan, dengan mengetahui milestone tumbuh kembang anak.

Saya mengutip dari sebuah jurnal Tracking Your Child’s Developmental Milestones dari Centers for Diseases Control and Prevention Act Early Campaign. Inilah yang dimaksud dengan milestone tumbuh kembang anak.


Orangtua perlu jeli mengetahui kemampuan motorik halus hingga kasar seperti apa yang anak biasanya sudah kuasai di usia tertentu. Memang setiap anak berbeda, tidak lantas panduan milestone ini menjadi baku dan kaku. Setiap anak punya proses tumbuh kembang yang tak sama, saya percaya itu. Namun dengan memahami milestones orangtua bisa mengoptimalkan tumbuh kembang anak.

Susah jadi orangtua? Enggak juga menurut  saya apalagi dengan banjirnya informasi di internet juga dengan bantuan pihak luar yang peduli urusan keluarga, terutama anak dan orangtua.

Siapa sih pihak luar? Banyak. Bisa komunitas atau lembaga psikologi yang rajin mengadakan workshop parenting, juga brand. Nah soal brand, saya dulu punya hiburan khusus, di waktu tertentu mencari kesenangan di toko.

Bagi yang suka jalan-jalan ke mal dan pernah belanja baju dan mainan anak di Mothercare dan ELC pasti tahu maksud saya. Biasanya saya rajin cuci mata di musim diskon. Umumnya jelang Hari Raya, atau akhir tahun. Nah, kalau ada penawaran khusus, cepat-cepat deh cek anggaran belanja untuk membeli beberapa saja koleksinya, dari pakaian sampai mainan. Bagi saya, datang ke toko belanja baju dan mainan anak itu hiburan tak tergantikan. Saat menjadi orangtua saya hampir tak pernah memanjakan diri belanja baju dan sepatu untuk diri sendiri, bahkan ke salon pun sudah tak menarik lagi. Tapi datang ke toko mainan dan baju anak, jadi kesenangan yang menghibur hati.

Nah ketika saya mendapatkan undangan khusus untuk mendapatkan informasi terbaru soal rekomendasi mainan anak dari ELC Indonesia (Kanmo Retail Group yang juga mengelola Mothercare) saya senang meski sedih juga sih karena tak ada lagi anak yang bisa saya manjakan dengan mainan. Tapi, saya sih tetap merasa terhibur karena informasi terkini soal rekomendasi mainan bisa saya bagi ke keluarga dan teman yang punya anak balita.

Bertemu langsung dengan pihak ELC bikin saya makin melek info. Saat media/blogger gathering di Resident’s Lounge Morissey Hotel, saya serasa masuk ke rumah teman yang nyaman. Teman yang mau bagi-bagi hadiah mainan anak, sekaligus mau sharing pengetahuan soal pentingnya memilih mainan sesuai kebutuhan anak (usia dan tumbuh kembangnya).

Saya melihat banyak mainan ELC yang biasa saya lihat di toko di dalam mal ternama di Jakarta. Katanya sih mainan ELC sudah tersebar di 38 toko di Indonesia. Saya belum pernah kunjungi toko ELC di kota lain kecuali Jakarta. Jadi percaya saja sewaktu tuan rumah mengatakan demikian.

Tidak banyak yang baru dari mainan ELC yang dipajang saat itu. Jadi sebenarnya ELC tidak sedang mengenalkan mainan baru. Tapi saya jadi punya banyak wawasan baru.
Jelang Natal dan liburan akhir tahun, ELC atas persetujuan kantor pusatnya di London, merekomendasikan 52 mainan anak. termasuk di dalamnya mainan yang dijual dengan harga khusus, diskon sampai 50 persen, dari harga normal mulai Rp 200.000  sampai 1 juta rupiah per mainannya.

Mahal? Boleh saja kalau bilang begitu, karena memang mainan ini fungsinya memperhitungkan aspek tumbuh kembang anak. Seperti saya bilang di awal soal investasi orangtua untuk anaknya, bisa dibilang mainan rekomendasi skala global ini sebagai bentuk investasi.

Saya dapat informasinya langsung dari Moch Sihabuddin, Marketing Manager Kanmo Retail Grup, bahwa satu mainan bisa menstimulasi minimal tiga keterampilan anak, seperti social skill, motorik (halus dan kasar), dan koordinasi.

Tentunya mainan harus menyesuaikan usia anak. Anak berusia di bawah tiga tahun tentunya punya kebutuhan stimulasi motorik kasar dan halus yang berbeda dengan anak usia 4-5. Akhirnya kembalikan lagi rumus dasarnya kepada milestone tumbuh kembang.
Dari obrolan santai bersama ELC ini saya jadi tahu, soal social skill, ada satu mainan yang bisa dimainkan maksimal empat anak. Dengan begitu, anak-anak bisa belajar bermain bersama, kalau menurut milestone tumbuh kembang anak, usia tiga tahun anak-anak sudah mulai bermain bersama teman. Mainan bisa menjadi wadah anak bermain sekaligus mengikuti proses tumbuh kembang sesuai usianya. Bagaimana anak bisa bermain bersama temanya, menggunakan satu mainan seru, menurut saya sih membantu orangtua atau bahkan meringankan tugas orangtua karena aspek sosialisasi anak bisa terpenuhi dengan bantuan mainan tersebut.

Lalu untuk melatih motorik halus pada anak usia tiga tahun seperti kemampuan menuang air dari teko bisa juga dilatih lewat mainan alat masak misalnya. Sedangkan melatih motorik kasar untuk bayi 10-12 bulan, yang sedang belajar berjalan, bisa dengan mainan yang membantu menstimulasi tumbuh kembangnya di usia itu.

Artinya, beda usia beda juga mainan dan bagaimana mainan itu bisa membantu anak memaksimalkan proses perkembangannya. Nah, menariknya, ada juga  mainan yang bisa dimainkan lintas usia, hanya perlu kreativitas orangtua saja untuk memaksimalkan fungsi mainan. Misalnya menggunakan mainan bayi dengan banyak warna untuk mengajarkan anak batita bicara dan mengenal warna. Akhirnya, secanggih apa pun mainan kembali kepada perhatian dan kreativitas orangtua untuk bisa memaksimalkan mainan tersebut sehingga value dan fungsinya bertambah.

Mainan bahkan bisa punya nilai lebih dari sekadar stimulasi tumbuh kembang dasar, tapi juga membangun kebersamaan. Ya, kebersamaan anak dan orangtua, termasuk mengurangi penggunaan gadget pada anak, dengan lebih banyak waktu bermain bersama dengan aneka mainan “pintar”.



Jika mau tahu mainan apa yang sesuai dengan kebutuhan si kecil, datang saja sendiri ke ELC, karena mulai 23 November 2016 puluhan mainan rekomendasi bakal tersedia di toko. Bagi yang merayakan Natal, bisa juga menelusuri serunya liburan dengan ragam aktivitas di toko ELC mulai 12-25 November 2016. Atau bisa jadi momen belanja untuk kado akhir tahun juga. 

Oya, bicara soal mainan sebagai investasi, barangkali informasi ini bisa lebih meyakinkan. Kata Moch Sihabuddin, ELC jarang produksi mainan baru. Dalam enam bulan, hanya akan ada 1-2 produk baru. Kenapa? Karena proses penciptaan mainan memang makan waktu dengan riset mendalam menyesuaikan kebutuhan anak sesuai usia. Investasi dalam menciptakan mainan juga enggak tanggung-tanggung, Rp 2 miliar dalan 2 tahun prioduksi 1 mainan.

Bisa dibayangkan bagaimana seriusnya produk ini mencipta mainan dengan nilai dan fungsi yang dipikirkan mendalam. Selain itu, jika mainan rusak pun bisa reparasi di toko, syaratnya bawa struk. Jadi meski sudah berbulan-bulan usia mainan, selama masih simpan struk pembelian, maka bawa saja ke toko dan mainan bisa diperbaiki karena memang komponen mainannya tersedia.

Mengoleksi 52 mainan rekomendasi ELC rasanya sih memang tidak mungkin dilakukan dalam satu waktu ya, tapi kalau bisa mengoleksi satu atau dua, rasanya untuk anak tercinta, ada kepuasan tersendiri bagi orangtua atau bagi tante ke keponakannya. Ah, saya jadi ingin beli kado untuk sahabat yang akan merayakan Natal sebentar lagi. Sekadar berbagi kebersamaan dan kesenangan, boleh kan?





You Might Also Like

4 comments:

Amanda Ratih mengatakan...

Saya dan suami sepakat beli mainan yg mahal buat anak. Sebab mainan ini selain bisa diwariskan, bahannya nggak luntur juga awet. Jd bisa dimainkan trus. Ga papa mahal yg penting ga kebuang. Drpd murah kebuang2 dan rusak ini lbh buang2 duit kayaknya hehe

Nike Dwi V mengatakan...

Saya termasuk yg suka sama kualitas mainan elc.. Saya udh membuktikanya sendiri.. Beli mainan masak2an udh skitar 6thn an masih bagus walau mahal yg penting bisa jdi dimainkan turun ke adik adiknya jadi cukup worth it lahbdi banding beli mainan murah yg umurnya cuma bentaran ajah

wawaraji mengatakan...

iya mbak Amanda...soal pewarna i tu jg penting yah. tar ada zat bahaya malah bikin anak sakit. biaya kesehatan lbh mahal yah . tx dah mampir yah

wawaraji mengatakan...

mainan masak2an awet 6 th mbak Nike? hebaaat.iyaah jd beli sekali bs utk kakak adik ya. kalau sy beli kado biasanya...worth it bgts...