Surat Cinta untuk Kartini: Cerita Cinta yang Menyertai Perempuan Pejuang Pendidikan

21.00.00 wawaraji 5 Comments

SCUK Trailer MNC Pictures
Film fiksi berlatar sejarah selalu menjadi tontonan favorit saya. Bagi penyuka sejarah, tentu akan menarik menggali sejarah dengan perspektif berbeda. Perspektif yang diciptakan oleh orang kreatif dengan berbagai keahliannya mulai menulis naskah, bermain peran, dan tentunya peran sutradara film yang mengatur keseluruhan proses kreatif sebuah film layar lebar.

Film Surat Cinta untuk Kartini produksi MNC Pictures menjadi salah satu film fiksi berlatar sejarah terbaik, menurut saya, setidaknya di awal tahun 2016 ini.


Penilaian saya ini tak lepas dari imej Kartini yang melekat kuat di pikiran saya. Tentang perempuan, tentang perjuangan perempuan dalam bidang pendidikan dan sosial budaya, yang memang menjadi perhatian dan role model bagi saya. Jadi, penilaian positif yang sangat personal muncul dari penggemar film macam saya sangat dipengaruhi cara berpikir saya soal isu yang diangkat di film ini, yakni perjuangan perempuan dalam berbagai siklus kehidupannya.


Beruntung saya mendapatkan kesempatan menonton film SCUK ini saat pemutaran perdana sesi akhir, atas undangan aktris Ayu Dyah Pasha, pemeran ibu kandung Kartini di film ini. Menghadiri Gala Premiere Surat Cinta untuk Kartini pada 11 April 2016, di sesi pemutaran film ketiga usai Press Screening adalah keberuntungan yang diberikan kepada komunitas blogger jaringan  Sahabat Grup.


Berkumpul dalam kerumunan undangan khusus, bersama para pemain dan kru film, untuk menyaksikan bersama film Indonesia ini menjadi kesenangan tersendiri. Kesempatan bertemu para pemain usai menonton, bahkan berbincang hingga larut malam sampai lampu lobby bioskop mulai dimatikan, adalah kepuasan tak terbayarkan.
Dari obrolan itulah saya menyimpulkan, bahwa meski SCUK adalah film fiksi, rasa sejarahnya kental sekali. Produser film SCUK, Lukman Sardi, kepada kerumunan wartawan mengatakan film SCUK 30 persen kontennya adalah sejarah, 70 persen fiksi. Saya mendapati fakta ini sebelum masuk ke studio 2 untuk menyaksikan film berdurasi 90 menit ini.


Mengikuti alur cerita dari awal hingga akhir, pikiran saya dibawa kepada cerita-cerita sejarah tentang Kartini. Saya tidak sedang mencocokkan buku sejarah dengan cerita film ini tentunya. Hanya saja saya menemukan sejarah yang diceritakan ulang dengan bahasa film. Terasa sekali bagaimana perjuangan Kartini untuk perempuan Indonesia yang lebih teredukasi. Bagaimana perjuangan perempuan Jawa untuk membuka mata dunia, mengangkat derajat perempuan di seluruh nusantara, bukan hanya Jawa.


Kisah Kartini yang Dikemas Kreatif


Raden Ajeng Kartini adalah satu di antara banyak pahlawan perempuan Indonesia yang bergerak di bidang pendidikan. Membuka jalan, menerangkan langkah perempuan Indonesia untuk berdiri setara, memiliki hak yang sama atas pendidikan, atas kesempatan belajar mengembangkan potensi dirinya.


Film SCUK menyadarkan kembali kita para perempuan modern, bahwa tanpa “pengorbanan” Kartini atau sebutlah kontribusinya, perjuangannya, takkan ada wanita modern yang bisa leluasa bepergian ke mana pun dia mau, menuntut ilmu setinggi-tingginya, mengejar impiannya secara merdeka, bahkan mungkin takkan ada perempuan yang bisa mencapai posisi puncak dalam karier di korporasi. Karena semua hal itu takkan ada kalau perempuan terkendala mengakses pendidikan sebagai modal utama mencapai impian.


Meski tentu kalau bicara fakta, hanya sepersekian persen saja perempuan Indonesia yang berada di level merdeka mencapai impian. Tak perlu jauh-jauh ke pedalaman, di pinggiran kota saja masih banyak perempuan Indonesia yang tak punya pilihan untuk hidupnya namun setidaknya mereka masih bisa menulis dan membaca. Ya, menulis dan membaca, ajaran Kartini kepada anak-anak perempuan didikannya, yang menjadi perhatiannya kala itu.


Bagaimana Kartini membangun sekolah untuk anak perempuan diceritakan dengan bahasa film yang ringan dan meresap. Bagaimana semangat Kartini dan kerja kerasnya, keteguhan pemikirannya digambarkan dengan sangat jelas. Pemeran Kartini, Rania Putri Sari, perempuan asal Surabaya keturunan Tionghoa sungguh meresapi peran Kartini.


“Saya mendalami peran hingga syuting dalam waktu dua bulan,” katanya saat saya temui usai Gala Premiere.


Kisah Kartini yang diceritakan dengan apik tak lepas dari pemerannya. Rania mendalami sosok Kartini dengan belajar semua hal untuk mengasah keterampilan perempuan Jawa, agar bisa meresapi sosok perempuan hebat dari Jepara ini.


“Saya sampai belajar membatik,” katanya lagi.


Peran sutradara dan penulis naskah juga tak kalah pentingnya. Sutradara film SCUK, Azhar Kinoi Lubis berhasil membawa penonton meresapi sejarah dengan kekuatan karakter para pemainnya. Soal naskah, penulis scenario Vera Varidia berhasil membuat rajutan cerita yang kuat untuk menyempurnakan film ini.
Trailer SCUK MNC Pictures
Tentang Ayah yang Jatuh Cinta


Sebenarnya film drama ini tidak banyak mengambil porsi cerita Kartini. Film ini lebih banyak menyorot cerita dua tokoh imajinatif yang diciptakan oleh pembuat film, yakni si pengantar surat Sarwadi dan anaknya, Ningrum.


Sarwadi bekerja sebagai pengantar surat di Jepara. Pekerjaannya ini mengantarkannya ke rumah Bupati Jepara, di mana Kartini tinggal di dalamnya. Rupanya sosok Kartini membuatnya jatuh hati. Sosok dan peran Kartini yang mengambil hati pria yang kehilangan istri setelah melahirkan anak tunggalnya.


Kisah cinta pengantar pos diceritakan secukupnya, tidak berlebihan. Tentu ada sedikit drama namun entah karena kekuatan cerita Kartini, sosok ibu kandungnya yang besar hati, dan kisah sejarah yang kuat, membuat cerita cinta hanya terasa sebatas bumbu saja.
Mengikuti alur cerita film SCUK menjadi keasyikan tersendiri. Kadang ada alur maju mundur, karena memang awalnya film ini berlatar masa kini, saat ada dua orang guru bercerita sejarah di kelas berisi anak usia SD.


Saya menangkap pesan, film ini punya cerita yang sangat kuat, dan selalu ada ketertaikan antara cerita satu dengan lainnya, sempurna relasinya.


Misalnya saja, bicara Kartini adalah bicara perjuangan kesetaraan. Ada adegan di kelas saat anak-anak mendengarkan cerita sejarah Kartini, seorang murid laki-laki (Vito) tak kuasa menahan emosi, dengan menangis hingga air matanya deras mengalir. Film ini punya pesan kuat dari segi cerita. Termasuk cerita Vitoi menangis.


 Saya ingat betul, dalam perjuangan kesetaraan, kita akan berhadapan dengan stereotip. Salah satunya, perempuan ditampilkan sebagai sosok lemah dan lelaki kuat. Jadi kalau perempuan tak apa menangis, namun laki-laki pantang mengumbar emosi apalagi mengeluarkan air mata. 


Ah, itu mungkin hanya pikiran saya saja yang terlalu mengaitkan segalanya. Namun saya jadi sangat menikmati film SCUK dan tak sanggup menahan gemuruh emosi saat menonton bagian tertentu film ini, dengan menitikkan air mata.
Bagian di mana perempuan dihadapkan dengan banyak keadaan tanpa ada piihan, adalah paling mengiris. Bagaimana Kartini bisa menghadapinya adalah contoh luar biasa. Bagian di mana perjuangan yang penuh pengorbanan berbuah manis, juga mengiris hati tapi lebih kepada terharu bangga.


Perjuangan Kartini, yang membuat pengantar surat jatuh hati dan ikut mendukung perjuangan perempuan, berbuah kebaikan. Cinta di film ini juga digambarkan dengan pengorbanan. Pengorbanan atas cinta Kartini terhadap pendidikan dan masa depan perempuan. Pengorbanan cinta pengantar surat terhadap perempuan bangsawan yang berujung pada kehilangan. Kehilangan sosok pejuang, dan kehilangan sosok perempuan idaman saat Kartini dihadapkan pada pernikahan yang diatur orangtua, pernikahan poligami yang ditentangnya.


Film ini sebenarnya berakhir bahagia, namun bukan sembarang bahagia. Kebahagiaan yang diceritakan dan digambarkan dengan penuh kemenangan, ketika muncul Kartini-kartini muda, para perempuan generasi penerus, yang memiliki semangat Kartini untuk berbagi pengetahuan. Termasuk Ningrum, murid Kartini yang mengawali ketertarikannya belajar lantaran bapaknya sedang jatuh cinta kepada gurunya.


Bagi saya, cerita tentang perempuan muda penerus Kartini menjadi akhir bahagia film ini. Kartini berhasil membentuk generasi baru, para perempuan yang bisa baca tulis, dan bahkan lebih dari itu.  Ibu Kartini berhasil menciptakan perempuan muda yang besar hati dan impiannya, untuk mengajak perempuan lain maju bersama.


Film Surat Cinta untuk Kartini, menjadi pengingat betapa kita, perempuan, harus berterima kasih kepadanya. Tak ada salahnya sesekali tampil berkebaya dengan sanggul khas Ibu Kartini, untuk mengenang kembali jasanya. Namun focus utamanya adalah semangat Kartini yang harus terus dijaga dalam pikiran semua perempuan Indonesia, semangat mengejar impian untuk berbagi dan membesarkan perempuan lain di sekitar kita yang mungkin membutuhkan perhatian karena tak seberuntung kita.


Ayu Dyah Pasha pun punya harapan untuk para penonton film ini. “Semoga inspirasinya Kartini menyemangati kita perempuan Indonesia dan para pria makin menghargai keberadaan perempuan sebagai manusia merdeka sama seperti mereka.”


Sebuah harapan yang patut kita amini bersama.












SURAT CINTA UNTUK KARTINI
Sutradara: Azhar Kinoi Lubis
Penulis Skenario: Vera Varidia
Pemain
Chicco Jerikho sebagai Sarwadi
Rania Putri Sari sebagai Kartini
Ayu Dyah Pasha sebagai Ngasirah

Christabelle Grace Marbun sebagai Ningrum

You Might Also Like

5 comments:

R Windhu mengatakan...

Mari, mbak Wawa. Saya setuju untuk selalu terus menjaga semangat Kartini dalam pikiran, sebagai perempuan Indonesia. Selalu bersemangat mengejar impian untuk berbagi dan membesarkan perempuan lain di sekitar kita yang mungkin membutuhkan perhatian karena tak seberuntung kita. Hidup perempuan Indonesia :)

wawaraji mengatakan...

setujuuuu hidup perempuan! selamat hari kartini

uni dzalika mengatakan...

Nggak ada review penokohannya ya mbak? Penasaran dengan penilaian tentang aktingnya rania bagus atau nggak. Dari kemarin mau nonton masih mikir hahaha

Bloggercrony Official mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
wawaraji mengatakan...

salah masuk akun utk komen hehehe

Mbak Uni Dzalika, hehehe aku jarang review film yg ke penokohan, lebih ke kekuatan cerita dan pesan film. Tapi ada yg kelupaan sih memang, mau nulis ini tadinya soal Rania: meski ini film layar lebar pertamanya, dia bisa meresapi sosok Kartini, kerasa emosinya, kerasa pergulatan batinnya memerankan perjuangan Kartini. Cukup bagus untuk debut perdananya mbak. Sebagian menilai kurang "Jawa" mukanya, keliatan modernnya, padahal ada tokoh lain yg "Jawa"banget dan mungkin lebih cocok utk Kartini. pemilihan Rania mungkin lebih ke kepentingan industri utk "jualan" tp so far saya sih menikmati aktingnya.