Bertemunya Pakar, Praktisi Kecantikan dengan Pengguna Demi Gengsi Potensi Lokal

03.40.00 wawaraji 6 Comments

Sumber foto: Akun Instagram Beauty Voyage

Dunia perempuan rasanya takkan bisa lepas dari penampilan, baik busana ataupun produk kecantikan. Setipis apa pun bedakyang dioleskan ke wajah, sedikit apa pun lipstik atau pelembab bibir sekalipun yang diaplikasikan, si perempuan tetap saja memerhatikan dandanannya. Begitu pun dengan busana, dengan banyaknya pilihan dan beragam selera,  pasti ada tipe busana tertentu yang dipilih mewakili kepribadiannya.


Sebagian perempuan berpenampilan barangkali untuk mencari perhatian, lawan jenis atau bahkan sejenis sekadar untuk menunjukkan eksistensinya. Sebagian lagi berpenampilan untuk menjadi dirinya sendiri, memilih mana yang nyaman untuknya sehingga membuat dia merasa lebih leluasa bergerak yang akhirnya membuatnya percaya diri.


Apa pun tujuan dan pilihannya, perempuan tak terpisahkan dari urusan penampilan. Inilah yang membuat industri fashion dan kecantikan tak pernah mati bahkan terus berinovasi. Pelaku industri fashion dan produk kecantikan pun makin beragam menyediakan banyak pilihan. Akhirnya, perempuan pun harus mengedukasi dirinya agar tak menjadi pengguna yang impulsif, dan memahami kebutuhan tubuhnya.


Untuk dua urusan ini, busana dan produk kecantikan, industrinya pun penuh dengan persaingan antara produk lokal dan asing. Label internasional leluasa masuk ke mal ternama dan memperkuat brandingnya, dan bagi sebagian perempuan dengan memiliki satu atau bahkan lebih koleksinya, adalah sebuah kepuasan atau bahkan mungkin kebutuhan. Sementara geliat pelaku industri fashion dan kecantikan lokal pun terus berkembang, berusaha mendapat tempat di negaranya sendiri. 
Bedanya, kalau dunia fashion sudah semakin memberikan ruang untuk karya desainer atau UKM fashion lokal dengan konsep gaya personal, belum demikian dengan produk kecantikan.


Saya mendapati sebagian fakta ini dari perempuan muda, Dwimayu Budinastiti. Di usianya, 25 tahun, perempuan muda ini memilih berkarier mengelola startup web fashion mengangkat produk lokal. Katanya, dibandingkan fashion yang sudah berhasil menaikkan gengsi produk lokal, produk kecantikan masih harus meningkatkan gengsinya di mata konsumen lokal.


“Sebenarnya produk kecantikan lokal sudah mulai digemari dua tahun terakhir, namun belum seperti produk fashion lokal yang sudah semakin berkembang,” katanya di sela festival kecantikan inisiatifnya, Beauty Voyage, yang berlangsung empat hari (4-7 Februari 2016) di Grand Indonesia West Mall, Jakarta.


Mayu adalah penggerak dari total tujuh perempuan muda seusianya yang berani menggebrak dunia kecantikan dengan festival kecantikan Beauty Voyage. Saya pun mengingat kembali ketika dulu menjadi pewarta media lifestyle, belum pernah ada ajang kecantikan yang mempertemukan pelaku bisnis dan konsumennya bahkan pakar dalam satu festival kecantikan. Kalau pun ada satu gelaran besar kecantikan, hubungannya sangat mengedepankan bisnis, mempertemukan produsen dengan distributor,pengguna sebatas menikmati saja.Jadi, bagi saya, inisiatif perempuan muda ini menyegarkan. Pakar kecantikan, dr Nenden, SpKK juga mengakui bahwa festival kecantikan ini mempertemukan pegiat kecantikan yang biasanya berjalan sendiri-sendiri.


Pakar kecantikan berbasis ilmu medis harus berupaya mengedukasi mengenai masalah kecantikan yang muncul lantaran salah aplikasi make up atau kurang teredukasinya perempuan tentang produk kecantikan di tengah serbuan produk impor dan lokal. Praktisi kecantikan pun berjalan dengan caranya mengedukasi mengenai cara memoles mata, alis, pipi, hidung, bibir semua bagian wajah yang bisa diaplikasikan dengan make-up untuk memaksimalkan penampilan. 


Beauty Voyage mempertemukan semua unsur industri kecantikan, bahkan pemerintah yang dihadiri Euis Saedah, Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian pun memberikan dukungan dan apresiasinya. Bukan sekadar mendukung, Euis Saedah pun mengajak kalangan muda untuk mendiskusikan kebutuhan dunia kecantikan mulai pelatihan, dukungan teknologi dan promosi.


Apalagi inisiatif Mayu yang digerakkan bersama timnya ini juga punya cita-cita bahwa pelaku industri kecantikan bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak dalam memilih profesi.


“Industri kecantikan makin energik namun belum ada wadahnya, kami ingin membuat ekosistem bahwa industri kecantikan Indonesia untuk maju, saling mendukung, ada apresiasi untuk pelaku industri kecantikan Indonesia, juga membangun make up artist pun bisa menjadi cita-cita profesi bagi anak-anak,” kata Mayu


Dandan dan Wawasan

Free Make Up Beauty Voyage, Photo Doc Wawaraji

Perempuan yang menjadi sasaran utama festival kecantikan ini, pada akhirnya menikmati beragai perawatan tubuh gratis dari ujung kaki hingga ujung rambut. Sekaligus mempromosikan produknya, brand kecantikan mengaplikasikan langsung produk dan jasanya ke pengunjung Beauty Voyage. 


Pengalaman personal menjadi tujuan utama, agar pengguna produk kecantikan bisa merasakan bedanya “dirawat” oleh berbagai produk dan jasa kecantikan. Mulai produk styling rambut, hingga perawatan kuku kaki.
Puas merawat tubuh gratis, dengan tetap membayar tiket masuk area festival tentunya sebesar Rp 15.000, pengunjung festival juga bisa menambah wawasan kecantikan dengan kelas make up berbagai tema, menghadirkan make up artist Indonesia yang berkiprah dengan karakter khasnya. 


Di antaranya Vizzily Vizzya dengan kelas Eye Make Up 101 dan inspirasi make up lainnya untuk perayaan Imlek, Valentine juga make up ala Korea.Wawasan perempuan soal kecantikan juga didapati dari diskusi bareng pakar kecantikan dr Nenden mengenai Sehat, Cantik & Awet Muda Tanpa Operasi. Selain inspirasi kecantikan dari selebriti Maia Estianty .


Maia Estianty berbagi rahasia cantiknya, sumber foto: Akun Instagram Beauty Voyage

Yang juga menarik adalah, meski baru berlangsung perdana, Beauty Voyage memberikan apresiasi untuk para pegiat kecantikan antara lain: Beauty Influencer (Beauty Blogger) Sasyachi, Make up Artist Bubah Alfian, dan Bridal Make up Artist, Irwan Riady.


Kegiatan paling seru di Beauty Voyage adalah perawatan gratis pijat punggung, manicure-pedicure, make up dari Go Glam. Hanya dengan menggunakan aplikasi jasa kecantikan, pengunjung Beauty Voyage bisa bersantai merawat tubuh tanpa membayar lagi.


Para praktisinya pun semangat melayani seperti Alessandra Indigo Keyla dr Make Up by Indigo, perempuan muda yang memilih menekuni make up dan sekolah make up artist serta menjemput pelanggan lewat aplikasi Go Glam. 
Serupa dengan ahli pedicure Sri Wahyuni juga dari Go Glam yang bersemangat merawat kaki pelanggannya hingga malam hari lantaran banyak peminatnya di hari pertama Beauty Voyage. Saya yang kebagian mencoba perawatannya pukul 21:00 pun mendapatkan pengalaman lebih. Sri dengan santunnya memberikan kiat perawatan kuku kaki. Baginya, memberikan perawatan bukan hanya melayani permintaan tapi memuaskan pelanggan dengan berbagi pengalaman.


Festival ini pun mencapai tujuannya, membuat pengguna lebih kenal produk dan potensi lokal, wawasan kecantikan pun bertambah dari talkshow, seminar, kelas make up hingga obrolan santai dengan praktisi kecantikan yang terlibat. Bahkan dari produk make up seperti seperangkat kuas pun saya mendapatkan banyak update tren kecantikan. 


Dean Hengki, Direktur sebuah perusahaan distributor kuas make up pun berbagi pengalamannya menggeluti bisnis kecantikan. Untuk kuas riasan wajah saja misalnya jenisnya bisa lebih dari 20. Tren make up dan kreativitas make up artist dalam menciptakan riasan wajah untuk berbagai kebutuhan, pada akhirnya menuntut produsen alat make up untuk berinovasi memudahkan perias  dan pengguna produk mendapatkan hasil riasan maksimal.


Sayangnya, soal kuas riasan wajah, Jepang masih menjadi produsen andalan dengan kecanggihan riset dan teknologinya. Indonesia pun patut berbangga, karena produksi bulu mata palsu yang menjadi salah satu andalan perempuan modern dalam merias wajah, berasal dari Indonesia, tepatnya Purbalingga. Dari sini lah bulu mata palsu diproduksi memenuhi kebutuhan pasar domestik dan internasional.


Apa pun itu, tren dan produk kecantikan nyatanya telah memberikan kesempatan berkreasi dan berdaya bagi banyak tenaga kreatif di Indonesia. Mulai make up artist, terapis spa, dan praktisi lainnya. Indonesia pun punya banyak potensi kreatif bidang kecantikan, yang jika difasilitasi secara tepat akan lebih cepat bergerak menaikkan gengsi produk/jasa kecantikan lokal di mata pengguna untuk mempercantik dirinya, sekaligus merespons serbuan produk kecantikan merek internasional terutama untuk riasan wajah dan perawatan tubuh.

#BeautyVoyage

#BloggerView #BloggerCrony 


You Might Also Like

6 comments:

Efi Fitriyyah mengatakan...

AKu juga dandan untuk membuat diri jadi nyaman aja, Mbak. Meskipun ga secetar para beuaty blogger sih hehehe. Bneran, kalau rasa nyaman itu membantu menaikan percaya diri.

chae rani mengatakan...

Perempuan merawat diri itu harus yah mba. Biar suami senang. Eh tapi gw tuh paling males lama2 di salon. Sukanya yang home salon and spa.

wawaraji mengatakan...

iyah...sepolesan lipstik juga udah bikin segerr yaa...aku jg gak bs full make up krn mata sensitif bgt klo macem2 make upnya...eh beauty blogger emang cm yg dandan abis ya anggapannya teh? kalau bs nulis kecantikan dan isinya bermanfaat utk kecantikan bukankah kyknya beauty blogger jg ya kan...hehe

wawaraji mengatakan...

iyah...sepolesan lipstik juga udah bikin segerr yaa...aku jg gak bs full make up krn mata sensitif bgt klo macem2 make upnya...eh beauty blogger emang cm yg dandan abis ya anggapannya teh? kalau bs nulis kecantikan dan isinya bermanfaat utk kecantikan bukankah kyknya beauty blogger jg ya kan...hehe

LIz Prayitno mengatakan...

Lengkapnya tulisan mbak Wawa, aku jadi minder. Tanda-tandanya harus edit lagi nih

windah mengatakan...

Aku dandan cuma untuk diri sendiri jadi kalo ga mood ya ga dandan. Tapi kalo rajin ya make up lengkap. Hehehe